cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 18581196     EISSN : 23553596     DOI : -
Core Subject : Health,
KEMAS Journal: Research Study in Public Health publishes the article based on research or equivalent to research results in public health or other disciplines related to public health that has not been loaded/published by other media. The journal contains articles about epidemiology and biostatistics, health policy and administration, public health nutrition, environmental health, occupational health and safety, health promotion, reproductive health, maternal and child health, and other related articles in public health. The journal can be used by health practitioners, health caregivers, teachers, medical students, and people who are interested in public health issues. The journal was first published in July 2005 and subsequently published twice a year, in July and January. KEMAS Journal is a peer review journal and can be accessed in http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas. Semarang State University (Unnes) is a leading university in Indonesia with the vision to become a world-class conservation university. The conservation vision is closely related to the study of public health sciences. Unnes also published high quality e-journal from various disciplines, integrated, and managed through Open Access Journals that can be accessed in http://journal.unnes.ac.id. The IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia/The Association of Indonesian Public Health Expert) is a non-profit membership association dedicated to advance public health as a scientific discipline and profession that serves public good for Indonesia and humanity.
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2015)" : 54 Documents clear
PENINGKATAN KADAR TIMBAL DARAH DAN MUNCULNYA PERILAKU ANTISOSIAL PENGRAJIN KUNINGAN
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3730

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh peningkatan kadar timbal (Pb) darah terhadap munculnya perilaku antisosial pada pengrajin kuningan. Disain penelitian  observasional analitik dengan studi cross sectional. Sampel terdiri dari 55 orang pengrajin kuni ngan, dengan kriteria inklusi pria atau wanita, minimal 17 tahun, telah bekerja di industri kuningan minimal 2 tahun, pendidikan minimal pernah SD. Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi kontaminasi Pb di lingkungan kerja industri kuningan. Kadar Pb darah pengrajin yang melebihi  nilai ambang batas40µg/dl mencapai 80%. Perilaku antisosial terukur masuk kategori sedang dan rendah. Terdapat hubungan linier antara kadar Pb darah dan perilaku antisosial dengan R2 0,353. Simpulan pajanan kronik Pb di lingku- ngan kerja industri kuningan menyebabkan peningkatan kadar Pb darah pengrajin dan berkontribusi memicu  munculnya perilaku antisosial. This study aimed to examine the effect of increased Blood Lead Levels (BLL) results of the emergence of antisocial behavior in brass craftsmen. The research designs used the analytic observational with cross sectional study. The sample consisted of 55 brass craftsmen, male or female a minimum of 17 years old, has worked in the brass industry at least for 2 years, and at least has a degree in the elementary school level. The results showed that there has been a lead contamination in the environment of brass industry. BLL that exceed the threshold value (40 μg/dl) reached 80%. The antisocial behavior measured was in the category of medium and low. There was a linear relationship between BLL and antisocial behavior with R2 0.353. In conclusion, chronic lead exposure to the brass industry environment led to an increase to blood lead levels BLL  in craftsmen contributed in the appearance of antisocial behavior.
FAKTOR DETERMINAN TOKSOPLASMOSIS PADA IBU HAMIL
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3459

Abstract

Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii yang merupakan golongan protozoa yang sifatnya parasite obligat intraseluler. Salah satu Provinsi terbesar di Indonesia yaitu Provinsi Riau terdapat kasus Toksoplasmosis yang menurut data dari rekam medis RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau toksoplasmosis merupakan penyakit peringkat 9 tertinggi dari 15 penyakit terbesar dalam kehamilan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor determinan terjadinya toksoplasmosis pada ibu hamil di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case control. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di rekam medik RSUD Arifin Achmad pada tahun 2012 dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang terbagi menjadi 30 orang sebagai kasus dan 30 orang sebagai kontrol (dengan teknik systematic random sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data analisis multivariat dengan uji multiple logistic regresion. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu variabel pekerjaan dengan p value (0,008) OR: 7,97 ; CI 95% (1,70-37,34)  dan status paritas dengan p value (0,029) OR: 5,33 ; CI 95% (1,18-24,18). Toxoplasmosis is a disease caused by Toxoplasma gondii is a protozoan group obligate intracellular parasite nature. Riau province there are cases of toxoplasmosis which according to data from medical records General Hospital of Arifin Achmad in Riau Province toxoplasmosis is a disease of the 15 highest ranked 9th largest disease in pregnancy. The purpose of this study to identify the determinants of the occurrence of toxoplasmosis in pregnant women at General Hospital of Arifin Achmad in Riau Province. This research uses quantitative research with case-control study design. The population were all pregnant women recorded in the medical record Arifin Achmad Hospital in 2012 with sample of 60 people divided 30 people as cases and 30 persons as control (with a systematic random sampling technique). Data collection was performed using multivariate analysis of data questionnaire with multiple logistic regresion test. The results presence of two variabels significantly associated job with p value (0.008) OR: 7.97; 95% CI (1.70 to 37.34) and parity status with p value (0.029) OR: 5.33; 95% CI (1.18 to 24.18). Results of the study are expected to health workers to inform about toxoplasmosis complete and CHL counseling and regular prenatal care in the prevention of toxoplasmosis.
KHASIAT JAMU CEKOK TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN PADA ANAK
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3522

Abstract

Anak usia di bawah lima tahun sering mengalami penurunan nafsu makan, yang mengakibatkan berkurangnya asupan nutrisi sehingga berat badan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui khasiat  ramuan jamu cekok terhadap peningkatan berat badan pada anak. Metode penelitian : penelitian kualitatif,  pengumpulan data dilakukan pada keluarga yang memberikan jamu cekok pada anak balitanya, dukun bayi/pembuat jamu, herbalis dan petugas kesehatan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juni  2014, di wilayah Puskesmas Selogiri dengan pendekatan kualitatif, Seluruh rangkaian dan cara kerja ataupun proses penelitian kualitatif ini berlangsung secara serentak dilakukan dengan  pengumpulan, pengolahan, menginterpretasikan sejumlah data dan fakta yang ada  selanjutnya disimpulkan dengan metode induktif. Hasil penelitian : ramuan jamu cekok berkhasiat meningkatkan berat badan adalah: temu ireng ( curcuma aeroginosa), temulawak (curcuma xanthorriza robx), kencur (kaempferla galanga L), Meniran (Phyllanthus niruri), lempuyang emprit (zingiber americans), daun pepaya (carica papaya l), kunyit (curcuma domestica val), sambiloto dan tempe busuk. Toodler get a decreasing of their appetite, that causes the reducing of nutrition so their weght reduce. This research purposes to know the function of cekok herbal and the benefits to weight gain in children. Research Method: qualitative research, Colleting data is got from the family that give the herbal medicine of cekok in toddler, herbal medicine maker, herbalist and paramedics. The study was conducted in March and June 2014 in the PHC Selogiri area by using qualitative approach. All of sequance or processing of qualitative research took place simultaneously. The result: The ingredients Cekok has function to promote the weight, there are : Curcuma aeroginosa, Curcuma xanthorriza robx, kaempferla galanga L, Meniran Phyllanthus niruri, Zingiber americans, Carica papaya l, (curcuma domestica val), bitter and rotten tempeh.
THE EFFECT OF ALL-TRANS RETINOIC ACID (ATRA) AND ZINC SULPHATE SUPPLEMENTATION ON PERIODONTITIS
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3512

Abstract

The study executed to know the effect of ATRA and Zn supplementations to periodontitis rat collagen treated with tetracycline.The experimental study with factorial design used 54 Wistar adult male rat. Periodontitis was resulted from porphyromonas gingivalis inoculation. Tetracycline 90 mg/kg and the supplementations were given for 7 days. Nine groups sample were randomly allocated. The independent variables were supplementation of ATRA 10; 5 mg/kg, Zn 2.5; 1 mg/kg, and their combinations. Dependent variable was collagen status i.e degradation and synthesis, consecutively measured by mRNA MMP-2 and mRNA P1CP, using reverse transcriptase polymerase chain reaction. Control was periodontitis group receiving tetracycline. T-test, ANOVA, Post Hoc Duncan and least significant differences (LSD) were used. High dose ATRA 10 mg/kg and Zn 2.5 mg/kg supplementations consecutivetly degraded (0.25 x of control) and increased collagen synthesis (4 x of control). High dose ATRA and Zn combined supplementation gave no effect to collagen degradation, but increased synthesis (3 x of control). The effect of high dose ATRA and Zn combined supplementation on collagen synthesis was the nearest to healthy condition.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi ATRA dan Zinc pada kolagen jaringan periodontium tikus periodontitis yang mendapat tetrasiklin. Studi eksperimental dengan desain faktorial dilakukan pada 54 tikus Wistar jantan dewasa. Periodontitis dihasilkan melalui inokulasi porphyromonas gingivalis. Tetrasiklin 90 mg/kg dan suplementasi diberikan selama 7 hari. Sembilan kelompok sampel terpilih secara alokasi acak. Variabel bebas adalah suplementasi ATRA 10; 5 mg/kg; Zn 2,5; 1 mg/kg; dan kombinasinya. Variabel tergantung adalah status kolagen meliputi degradasi dan sintesis, indikator mRNA MMP-2 dan mRNA P1CP, terukur dengan reverse transcriptase polymerizing chain reaction. Kontrol adalah kelompok periodontitis dan mendapat tetrasiklin. Analisis data menggunakan uji t, ANOVA, Post Hoc Duncan, dan LSD.  Suplementasi dosis tinggi ATRA 10 mg/kg dan Zn 2,5 mg/kg berturut-turut mendegradasi (0,25 x kontrol) dan meningkatkan sintesis kolagen (4 x kontrol). Kombinasi suplementasi dosis tinggi ATRA dan Zn tidak berefek pada degradasi kolagen, tetapi meningkatkan sintesisnya (3 x kontrol). Suplementasi kombinasi dosis tinggi ATRA dan Zn memberikan sintesis kolagen paling dekat dengan keadaan sehat.
PENGETAHUAN DAN TINDAKAN KADER POSYANDU DALAM PEMANTAUAN PERTUMBUHAN ANAK BALITA
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3473

Abstract

Hasil kajian gizi buruk di Kota Medan tahun 2011 menunjukkan bahwa anak balita yang tergolong gizi kurang dan berisiko gizi buruk masih cukup serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan dan tindakan kader dalam pemantauan pertumbuhan balita. Penelitian ini dilakukan di kota Medan tahun 2014,  jenis penelitian eksperimen semu (quasi experimental) dengan rancangan nonrandomized pre test-post test design. Penelitian ini dilakukan pada 28 orang kader posyandu di kota Medan pada tiga wilayah Puskesmas yaitu Puskesmas Sunggal,  Puskesmas Desa Lalang dan Puskesmas Tuntungan. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan dan tindakan  kader setelah diberikan pelatihan. Skor pengetahuan kader meningkat sesudah pelatihan sebesar 2,428 poin, demikian juga terjadi peningkatan rata-rata skor tindakan sebesar 1,071 poin setelah mengikuti pelatihan. Hasil uji statistik dengan uji beda Paired T Test diperoleh  perbedaan yang signifikan pada pengetahuan dan tindakan kader sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan tentang pemantauan pertumbuhan anak balita. Hal ini berarti ada pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan dan tindakan kader dalam menilai dan memantau pertumbuhan balita. The malnutrition research in Medan at 2011 showed that children under five years are classified as at risk of severe undernutrition are still quite serious. The aim of research was to analyze the effect of training on knowledge and action cadres in growth monitoring of under five years old. This research was a quasi-experimental study with nonrandomized design of pre-test-post-test design. This research was conducted 28 cadres in Medan city at 2014 in the work area Sunggal Health Center, Desa Lalang Health Center and Tuntungan Health Center. The results showed that an increase in the average score of knowledge and action after being given the training cadre. Knowledge scores increased after the training cadre 2,428 points, as well as an increase of action score in the average score of 1,071 points after training. The results of statistical tests with paired T test obtained significant differences in knowledge and action cadres before and after the training on growth monitoring of children under five years old. This means that there are influences of training  on knowledge and action cadres in the growth monitoring of under five years old.
PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DARI ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA PELAKSANA PELAYANAN KESEHATAN
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3462

Abstract

Jaminan kesehatan nasional (JKN) mulai beroperasi sejak 1 Januari 2014. Pelaksanaan jaminan kesehatan di Kabupaten Tabalong, masih mengalami beberapa permasalahan seperti SDM pelaksana pelayanan kesehatan yang masih belum mencukupi baik dari segi kuantitas, distribusi dan kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi program JKN dari aspek SDM pelaksana pelayanan kesehatan di Kabupaten Tabalong periode Januari-Juni 2014. Penelitian ini menggunakan mix method dengan desain urutan pembuktian sequential explanatory. Subjek penelitian berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong, RSUD H. Badaruddin, Puskesmas Kelua dan BPJS Kesehatan. Hasil evaluasi konteks, informan memahami mengenai batasan JKN, roadmap dan hambatan program. Hasil evaluasi input SDM pelaksana pelayanan kesehatan, kuantitas masih mengalami kekurangan 136 orang. Distribusi di Puskesmas Kelua sudah sesuai dengan standar ketenagaan di puskesmas tetapi kuantitasnya masih belum sesuai standar rasio per 100.000 jumlah penduduk. Distribusi di RSUD H. Badaruddin berdasarkan standar ketenagaan kesehatan di rumah sakit sudah sesuai, kecuali untuk dokter spesialis. Penilaian kualitas SDM di Puskesmas Kelua belum menggunakan standar Kepmenkes Nomor 857 Tahun 2009. Sedangkan di RSUD H. Badaruddin masih menggunakan penilaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3). Hasil evaluasi proses, kuantitas sudah meningkat tetapi masih mengalami kekurangan 82 orang. Distribusi di Puskesmas Kelua tidak ada perubahan. Distribusi di RSUD H. Badaruddin mengalami penambahan tenaga keperawatan. Penilaian kualitas SDM di Puskesmas Kelua tidak ada perubahan. Penilaian SDM di RSUD H. Badaruddin menggunakan Penilaian Prestasi Kerja Pegawai (PKP). Evaluasi output menunjukkan belum ada perubahan kuantitas, distribusi dan kualitas dari hasil evaluasi proses. Pelaksanaan JKN di Kabupaten Tabalong sudah berjalan, baik dari aspek peraturan perundangan, kepesertaan, pelayanan kesehatan, keuangan dan tata kelola organisasi. Ada beberapa hambatan seperti peraturan daerah masih kurang dan kurangnya jumlah SDM pelaksana pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penambahan kuantitas dan pemerataan distribusi SDM pelaksana pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Daerah dan upaya memaksimalkan jumlah dan kualitas SDM pelaksana pelayanan kesehatan yang tersedia. National health insurance (JKN) started operating on January 1, 2014. The implementation of health insurance in Tabalong, still have some problems such as health services workforce are still not enough in terms of quantity, distribution and quality. This study aims to evaluate the JKN program of health services workforce aspects in Tabalong period January to June 2014. This study used a mixed method design with sequential explanatory. Study subjects were from the Department of Health Tabalong, H. Badaruddin Hospital, Kelua Health Center and BPJS Health. The results of the evaluation context, informants understand the JKN restrictions, roadmap and program obstacles. The results of the evaluation of health services workforce inputs, the quantity is still deficient 136 people. Distribution in Kelua Health Center is appropriate with the standard for personnel in health centers but the quantity is still not appropriate with the ratio per 100,000 of population standard. Distribution in H. Badaruddin hospital based health workforce standards in hospitals is appropriate, except to specialists. Assessment of the quality of human resources in Kelua Health Center not using Kepmenkes No. 857 of 2009 standard. While in H. Badaruddin hospital still use assessment Implementation Assessment Work List (DP3). The results of the evaluation process, the quantity has increased but is still deficient 82 people. Distribution in Kelua Health Center no change. Distribution in H. Badaruddin hospital have additional for nursing staff. Assessment of the quality of human resources in the Kelua Health Center no change. Assessment of human resources in H. Badaruddin hospital using Employee Job Performance Assessment (PKP). Evaluation of the output shows no change in the quantity, distribution and quality of the results of the evaluation process. Implementation JKN in Tabalong already running, both from the aspect of legislation, participation, health care, financial and organizational governance. There are several obstacles such as local regulation are still lacking and the lack of workforce for the services of health. Therefore, efforts are needed to increase the quantity and distribution of health workforce by local government and maximizing the amount and quality of available health workforce.
POLA ASUH DALAM KESEHATAN ANAK PADA IBU BURUH PABRIK
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3543

Abstract

Kemajuan tingkat ekonomi dan pendidikan wanita membuat banyak ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah sehingga mempengaruhi pola asuh ibu terhadap anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pola asuh ibu dan aspek penting yang mempengaruhi serta proses pengembangan pola asuh kesehatan anak pada ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik di wilayah Cimanggis Depok pada tahun 2014. Penelitian ini menggunakan desain mixed methode yaitu gabungan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan kualitatif studi kasus intrinsik. Penelitian dilakukan di 3 pabrik dari Bulan Februari 2014 - Februari 2015. Jumlah sampel sebanyak 40 responden. Analisa data menggunakan analisa tematik dengan menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antarasosial ekonomi (nilai p 0,026), keadaan  keluarga (nilai p 0,024),  keadaan  kesehatan  keluarga nilai p 0,009),  dan  lingkungan keluarga (nilai p 0,045) terhadap pola asuh pada ibu buruh pabrik di wilayah Cimanggis Depok sedangkan  variabel  lainnya  tidak  berhubungan.  Simpulan penelitian ini adalah ada hubungan faktor sosial ekonomi, keadaan keluarga, keadaan kesehatan keluarga dan lingkungan keluarga dengan pola asuh pada ibu buruh pabrik dan selain itu komunikasi menjadi faktor terpenting. Diperlukan adanya pola komunikasi yang baik, sehingga dapat tercipta pola asuh yang ideal. Economic progression and educational level of women make housewives who work outside home affect parenting mother to child. This study aims to find a description of parenting mothers and important aspects that affect the development process of parenting and child health in women who worked in factories in the area Cimanggis Depok in 2014. This study used a mixed method design which combines quantitative research with cross-sectional design and intrinsic qualitative case-studies. The study was conducted in three factories in February 2014 - February 2015 with 40 respondents. Data were analyzed using thematic analysis using triangulation. The results showed no relationship between socioeconomic (p value = 0.026, OR 12.143), family circumstances (p-value = 0.024), the state of health of the family (p-value = 0.009), and the family environment (p value = 0.045) against maternal parenting factory workers in the area Cimanggis Depok. The result was there were relationship among socioeconomic factors, family circumstances, state of health of the family and the family environment with maternal parenting factory workers and besides communication becomes the most important factor. There needs to be a good communication pattern to create the ideal parenting.
ANALISIS PENYEBAB RESISTENSI OBAT ANTI TUBERKULOSIS
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3341

Abstract

Jumlah penderita TB Indonesia sekitar 5,8% total TB dunia dan menempati peringkat keempat dengan angka prevalensi 281/100.000 penduduk. Kendala program pemberantasan dan penanggulangan TB adalah Resistensi obat anti tuberkulosis, karena pengobatan lama, mahal, dan tingginya efek samping. Tujuan penelitian menganalisis penyebab resistensi OAT. Penelitian dilakukan pada tahun 2013 dengan rancangan penelitian menggunakan kasus kontrol. Sampel kasus penderita TB resisten dan sampel kontrol penderita TB yang sembuh masing-masing 26 orang. Data dari hasil pemeriksaan laboratorium dan catatan medik di RS Dr. HA. Rotinsulu Kota Bandung. Uji statistik dengan chi square dan besar risiko dari OR. Hasil penelitian didapatkan 80,8% kategori MDR-TB dan 19,2% XDR-TB. Penderita TB mengalami efek samping 42,3%, riwayat pengobatan tidak adekuat 96,2%, adanya kontak erat 30,8%, tempat pengobatan sebelumnya tidak menerapkan DOTS 15,4%. Penyebab resistensi OAT adalah riwayat pengobatan tidak adekuat (nilai p= 0,001; OR= 40,00, 95%CI: 4,66-343,14). Pencegahan resistensi OAT dengan penatalaksanaan TB komprehensif, menerapkan program DOTS agar pengobatan tidak terputus dan berkesinambungan. Number of case TB Indonesia approximately 5.8% total TB in world, was ranked fourth with prevalence rate 281/100,000 population. Anti-tuberculosis drug resistant become problem prevention and eradication TB programmes, because treatment for longer, expensive, and greater side effects. The purpose this study was analysis causes Anti-tuberculosis drug resistant. This research was conducted at 2013 with design using case control. Cases which TB patients drug resistance, control which patients were cured TB each one as 26 people. Data obtained from the results laboratory and medical records in  hospital Dr. HA. Rotinsulu Bandung. Statictic analyzed using chi-square test and risk factor from OR. Results showed 80.8% MDR-TB and 19.2% XDR-TB. TB patients who experience side effects 42.3%, inadequate treatment 96.2%, 30.8% close contact, not implementing DOTS 15.4%. The causes anti-tuberculosis drug resistance inadequate treatment (P value= 0.001; OR= 40.00, 95%CI: 4.66-343.14). Prevention of anti-tuberculosis drug resistance by comprehensive TB management, implementing DOTS program that uninterrupted and continuous treatment.
POLA KONSUMSI (FAKTOR INHIBITOR DAN ENHANCER FE) TERHADAP STATUS ANEMIA REMAJA PUTRI
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3516

Abstract

Laporan kegiatan Dinas Kesehatan Lombok Barat 2012 terhadap pemeriksaan kadar Hb remaja puteri diperoleh sebesar 83,16 % remaja puteri di Gunungsari  yang menderita anemia.Penelitian bertujuan mengetahui hubungan pola konsumsi (faktor inhibitor dan enhancerfe) dengan status anemia siswi. Penelitian dilakukan pada tahun 2014 bersifat observasional analitik, dari segi waktunya cross-sectional. Subjek penelitian adalah siswi Madrasah Aliyah Al-Aziziyah sebanyak 67 siswi yang diperoleh secara random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi nama, umur, kelas, status anemia dan pola konsumsi faktor inhibitor dan enhancer. Remaja yang anemia, sebanyak 10 orang (47,6%) termasuk kategori biasa mengkonsumsi makanan sumber inhibitor Fe dan sebagian besar (76,2%) kadang-kadang mengkonsumsi makanan sumber enhancer Fe. Ada hubungan pola konsumsi faktor inhibitor Fe dengan status anemia siswi, dan tidak ada hubungan pola konsumsi faktor enhancer Fe dengan status anemia siswi. Health Department Activity Report 2012 West Lombok The level of Hb girls of 83.16% girls in Gunungsari suffered from anemia . The research aims to determine the relationship patterns of consumption ( inhibitors factors and enhancers fe ) with anemia status schoolgirl. The study was conducted in 2014 with observational analytic study, in terms of time to cross-sectional. Subjects were students of Madrasah Aliyah Al-Aziziyah were 67 students who obtained random sampling..Data collected includes name, age, grade, status of anemia and consumption patterns factor inhibitors and enhancers. Teens are anemic, as many as 10 people (47.6%) including category inhibitor used to consume food sources Fe and most (76.2%) sometimes consume food sources enhancer Fe . There is a relationship consumption patterns inhibitor factor with anemia status Fe students, and there is no relationship enhancer factor Fe consumption pattern with anemia status of students.
KARAKTER GIZI REMAJA PUTRI URBAN DAN RURAL DI PROVINSI JAWA TENGAH
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3463

Abstract

Sejak tahun 2010 westernisasi menjadi kiblat remaja dalam berbagai bidang, diantaranya gaya hidup dan perilaku makan baik di daerah urban maupun rural. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakter gizi pada antara remaja putri urban dan rural. Rancangan cross sectional digunakan untuk mengumpulkan data dalam variabel karakter remaja gizi remaja putri urban dan rural. Lokasi penelitian ini di Kota Semarang dan Kabupaten Sragen. Responden yang diambil dari masing-masing wilayah sejumlah 48 orang. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur untuk variabel body image, pengetahuan gizi, dan perilaku makan. Instrumen untuk mengetahui status gizi adalah digital scale dan mocrotoise dan dikategorikan berdasarkan kategori Asia. Penelitian dilakukan selama Bulan Agustus dan September 2014. Analisis data menggunakan software SPSS. Uji statistik yang digunakan adalah independent t test dan mann whitney untuk mengetahui perbedaan karakter gizi pada remaja urban dan remaja rural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pada body image (p=0,28), pengetahuan gizi (p=0,87), dan perilaku makan (p=0,14), sedangkan pada status gizi ada perbedaan (p=0,0001).Since 2010 westernization be the center of a teenager in a her life, including lifestyle and eating behavior in both urban and rural areas. This study aims to determine the difference between the character of nutrition in urban and rural adolescent girls. Cross-sectional design was used to collect data in the variable character teenage girls nutrition urban and rural. The location of this research in Semarang City and Sragen. Respondents were drawn from each region some 48 people. Collecting data by interviews using a structured questionnaire for variable body image, nutrition knowledge and eating behavior. The instrument to determine the nutritional status were a digital scale and mocrotoise. Nutritional status categorized Asian. The study was conducted during the months of August and September 2014. Data were analyzed using SPSS software. The statistical test used was the independent t test and Mann Whitney to determine differences in the character of nutrition in adolescents urban and rural adolescents. The results showed that there was no difference in body image (p = 0.28), nutritional knowledge (p = 0.87), and eating behavior (p = 0.14), whereas this got difference in nutritional status (p = 0, 0001).

Filter by Year

2015 2015