cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Conservation
ISSN : 22529195     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
The Indonesian Journal of Conservation [p-ISSN 2252-9195] is a journal that publishes research articles and conservation-themed conservation studies, including biodiversity conservation, waste management, green architecture and internal transportation, clean energy, art conservation, ethics, and culture, and conservation cadres
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2015)" : 34 Documents clear
SEBARAN VEGETASI DAN KONSENTRASI GAS CO - Pb DI TAMAN KB, SIMPANG LIMA, DAN TUGU MUDA KOTA SEMARANG
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5159

Abstract

The warming temperatures are caused high gas escaping emissions in the air. Industrial activities and transport in the city led to increased gas CO, Pb, dust and noise. It needs the efforts to restructure and improve the environment through a city park. City park in addition to having a value of beauty is also able to absorb dust particles, gases CO, Pb and noise. This study aimed to vegetation distribution and gas concentration CO, Pb, dust, noise in the garden city of Semarang. The object of this study was the city park area in the district of Semarang and Semarang in the form of South Central. The research sample KB Park, Taman Simpang Lima and Garden Tugu Muda. The research variables include the type and amount of vegetation, species composition of vegetation, vegetation density and state of vegetation distribution, gas concentration CO, Pb, dust and noise. Data analysis techniques use quantitative descriptive analysis. The distribution of vegetation in the park KB, Simpang Lima Park and Garden Tugu Muda of aspects of the composition of the vegetation is very little to the value category ≤20,0%, aspects of the category of very rare vegetation density value ≤14,0%, and distribution of vegetation including the category of very ugly with ≤20,0% value. The concentration of air pollutants such as dust 409 μgr / m3 and 76.19 dBA noise both have exceeded the national ambient air quality standard. When compared to the air pollution in Taman Simpang Lima and Garden Tugu Muda higher than Taman KB. Semarang City Government needs to increase the number of trees in the Garden of KB to be effective in lowering the levels of CO, lead and noise. Memanasnya suhu di kota-kota besar disebabkan oleh tingginya gas emisi yang lepas di udara. Kegiatan industri dan transportasi di kota menyebabkan meningkatnya gas CO, Pb, debu dan kebisingan. Diperlukan usaha untuk menata dan memperbaiki lingkungan melalui taman kota. Taman kota selain mempunyai nilai keindahan juga mampu menyerap partikel debu, gas CO, Pb dan kebisingan. Tujuan penelitian mengetahui sebaran vegetasi dan konsentrasi gas CO, Pb, debu, kebisingan di taman Kota Semarang. Objek penelitian ini adalah kawasan taman kota di Kecamatan Semarang berupa Selatan dan Semarang Tengah. Sampel penelitian Taman KB, Taman Simpang Lima dan Taman Tugu Muda. Variabel penelitian meliputi jenis dan jumlah vegetasi, komposisi jenis vegetasi, kerapatan vegetasi dan keadaan sebaran vegetasi, konsentrasi gas CO, Pb, debu dan kebisingan. Teknik analisis data berupa analisis deskriptif kuantitatif. Sebaran vegetasi di Taman KB, Taman Simpang Lima dan Taman Tugu Muda dari aspek komposisi vegetasi kategori sangat sedikit dengan nilai ≤20,0%, aspek kerapatan vegetasi kategori sangat jarang dengan nilai ≤14,0%, dan sebaran vegetasi termasuk kategori sangat jelek dengan nilai ≤20,0%. Konsentrasi cemaran udara seperti debu 409 µgr/m3 dan kebisingan 76,19 dBA keduanya telah melebihi batas baku mutu udara ambien nasional. Kalau dibandingkan maka cemaran udara di Taman Simpang Lima dan Taman Tugu Muda lebih tinggi dari Taman KB. Pemkot Kota Semarang perlu menambah jumlah pohon di Taman KB agar efektif dalam menurunkan kadar CO, timbal dan kebisingan. 
KAJIAN GENANGAN AIR HUJAN PADA OULET EMBUNG DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI SEKITAR KAMPUS UNNES
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5155

Abstract

The aim of this study was to (1) determine the distribution of stagnant water around the outlet Embung Campus UNNES Semarang, (2) the effect of rainwater towards student activities UNNES, (3) knowing participation Village community have now in maintaining the cleanliness of the water channel (drainage) in Embung outlet UNNES around campus. Objects in the study were a puddle of water at the outlet Embung UNNES Campus, students UNNES and communities around the village have now Embung UNNES. Variabel outlet in the research study includes: distribution outlets Embung puddle, puddle influence on student UNNES, community participation around the village have now oulet Embung. Based on the results of this research is that waterlogging occurred at FIS, FE, FH, Science Faculty, FBS. Puddles disrupt the activities of students UNNES and until now there is no harm in the form of casualties. Village communities have now cared about the cleanliness of the water channel but lack of coordination between the students and the local community. Suggestions put forward in this study: (1) the waterway in the Campus UNNES improved with a larger size and more in adjustable slope and topography, (2) the guidance of the UNNES to local residents about the pattern of development is in side of the road like a home, business premises and parking of vehicles not built on channels. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui persebaran genangan air disekitar outlet Embung Kampus UNNES Semarang, (2) mengetahui  pengaruh  genangan  air  hujan  terhadap aktivitas mahasiswa UNNES, (3) mengetahui partisipasi masyarakat Kelurahan  Sekaran  dalam  menjaga kebersihan saluran air (drainase) di sekitar outlet Embung Kampus UNNES. Obyek dalam penelitian adalah genangan air di outlet Embung Kampus UNNES, mahasiswa UNNES, dan masyarakat Kelurahan Sekaran disekitar outlet Embung UNNES.Variabel penelitian dalam penelitian antara lain: sebaran genangan air di outlet Embung, pengaruh genangan terhadap mahasiswa UNNES, partisipasi masyarakat Kelurahan Sekaran sekitar oulet Embung. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa genangan air terjadi di FIS, FE, FH, FMIPA, FBS. Genangan air mengganggu aktifitas mahasiswa UNNES dan sampai saat ini belum ada kerugian berupa korban jiwa. Masyarakat Kelurahan Sekaran perduli terhadap kebersihan saluran air tetapi kurang koordinasi antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Saran yang diajukan dalam penelitian ini: (1) saluran air yang ada di dalam Kampus UNNES diperbaiki dengan ukuran yang lebih lebar dan lebih dalam disesuaikan kemiringan lereng serta topografi, (2) adanya pengarahan dari pihak UNNES kepada warga setempat tentang pola pembangunan yang berada di pinggir jalan raya seperti rumah, tempat usaha dan parkir kendaraan  tidak dibangun di atas saluran. 
ANALISIS PRIORITAS KEBIJAKAN PEMANFAATAN BURUNG HANTU (Tyto alba) SEBAGAI PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH YANG RAMAH LINGKUNGAN DI KABUPATEN SEMARANG
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5160

Abstract

The purpose of this study was to obtain a priority choice as decision making recommendations regarding the development of the use of owls as pest control field mouse so that the decision could provide more optimal results. Locations in District Banyubiru research that is currently being actively promoted by the District Government of Semarang. The method used is using AHP (Analytical Hierarchy Process). Retrieving data using questionnaires to various parties including BAPPEDA, BLH, Bakorluh, Academics, District, Department of Agriculture and Forestry Plantations and the breeding owls. The results of the analysis has been carried obtained as follows: 1) Among the factors that the criteria in determining policy directions obtained that technical factors are considered most important in assessing the development of the use of the owl in the pest control field mice, 2) Among the factors that need to be taken of policy recommendations found that the manufacture of quarantine owl is considered a most important choice in the development of future utilization of owls, 3) Results of the analysis of the final technical factors that are considered important because with the proper manufacture in accordance with the plan will produce output that is more efficient, effective and targeted. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh prioritas pilihan sebagai rekomendasi pengambilan keputusan mengenai pengembangan pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama tikus sawah sehingga keputusan tersebut dapat memberi hasil yang lebih optimal. Lokasi penelitian di Kecamatan Banyubiru yang saat ini sedang aktif digalakkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan adalah menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process). Pengambilan data dengan menggunakan kuisioner ke berbagai pihak antara lain Bappeda, BLH, Bakorluh, Akademisi, Kecamatan, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan serta pihak penangkaran burung hantu. Hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan sebagai berikut: 1) Diantara faktor-faktor yang menjadi kriteria dalam penentuan arah kebijakan diperoleh bahwa faktor teknis dianggap paling penting dalam menilai pengembangan pemanfaatan burung hantu dalam pengendalian hama tikus sawah, 2) Diantara faktor rekomendasi kebijakan yang perlu diambil diperoleh bahwa pembuatan karantina burung hantu  dianggap merupakan pilihan paling penting dalam pengembangan pemanfaatan burung hantu ke depan, 3) Hasil analisis akhir tersebut faktor teknis yang dianggap penting karena dengan pembuatan yang tepat sesuai dengan perencanaan akan menghasilkan output yang lebih efisien, efektif dan tepat sasaran.  
STUDI KARAKTERISTIK BENTUK PADA PERUMAHAN KOLONIAL SAGAN YOGYAKARTA
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5156

Abstract

Sagan is a residential estate ambtenaar (government officials) Dutch working in the governor's office (resident wooningen) and has a high historical value for the Indonesian people because during the United Republic of Indonesia became the area housing the home office ministers and high state officials. The purpose of this study is to assess aspects of form (form) as part of the overall aspects of the existing architecture in colonial housing in Sagan, so the idea of the architecture of the colonial housing in Sagan can be more complete to support the preservation of residential buildings of the colonial. This research uses the interpretative approach to historical research in which researchers used to reconstruct the shape of the initial interpretation of residential buildings colonial. Results researchers found that the principle of form in residential buildings in the colonial housing Sagan did not differ with the principle of spatial residential buildings in Sagan colonial and colonial residential buildings in general. It was seen from the separation of the owner with a housekeeper who is realized by division of residential buildings into the building core (hoofdgebouw), service building (bijgebouw) and breezeway that connects the two. Besides the principles of different structures on each part of the colonial residential buildings in Sagan believed to be the most essential thing to know the characteristics of the colonial forms of residential buildings in Sagan. Sagan merupakan kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residenwooningen) dan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek bentuk (form) sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan, sehingga ide arsitektur dari perumahan kolonial di Sagan dapat semakin lengkap guna mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretativehistoricalresearch dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi bentuk awal bangunan rumah tinggal kolonial. Hasil peneliti menemukan bahwa prinsip bentuk pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan prinsip tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan maupun bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya. Selain itu prinsip-prinsip struktur yang berbeda pada tiap-tiap bagian bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan diduga menjadi hal yang paling pokok untuk mengetahui karakteristik bentuk bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan. Sagan merupakan kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residenwooningen) dan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek bentuk (form) sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan, sehingga ide arsitektur dari perumahan kolonial di Sagan dapat semakin lengkap guna mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretativehistoricalresearch dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi bentuk awal bangunan rumah tinggal kolonial. Hasil peneliti menemukan bahwa prinsip bentuk pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan prinsip tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan maupun bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya. Selain itu prinsip-prinsip struktur yang berbeda pada tiap-tiap bagian bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan diduga menjadi hal yang paling pokok untuk mengetahui karakteristik bentuk bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan. 

Page 4 of 4 | Total Record : 34