cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007" : 24 Documents clear
Keragaman Genetik Pamelo Indonesia berdasarkan Primer Random Amplified Polymorphic DNA Agisimanto, D; Supriyanto, Arry
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Analisis keragaman genetik diperlukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan 18 varietas jeruk pamelo Indonesia. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman genetik beberapa varietas pamelo berdasarkan primer RAPD. Daun dari tunas muda berumur 20-25 hari diekstrak untuk mendapatkan bulk DNA. Setiap sampel DNA dari setiap varietas diamplifikasi menggunakan 15 primer RAPD dan diseparasi menurut metode elektroforesis. Hasil visualisasi fragmen pita DNA dihitung berdasarkan ada dan tidaknya pita DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 primer RAPD, yaitu OPN14 dan OPN16 membedakan varietas pamelo yang dianalisis. Tiga kelompok besar pamelo telah terkelompok dan menunjukkan kekerabatan yang dekat serta memperlihatkan kesamaan yang tinggi menurut daerah asal dan karakter buah.ABSTRACT. Agisimanto, D. and A. Supriyanto. 2007. Genetic Diversity of Pummelo Based on Primer Random Amplified Polymorphic DNA. Genetic variablitiy is needed to understand relationship among 18 pummelo varieties in Indonesia. The objective of the research was to characterize genetic diversity of some pummelo varieties in Indonesia based on RAPD primer. Leaves from young flush, 20-25 days, were extracted and amplified by 15 RAPD primers. Bands of DNA were scored based on their presence and absence. Two primers of OPN 14 and OPN 16 were selected to visualize band pattern of pummelo varieties. At least, 3 groups of pummelos were clustered that showed closely relationship and highly similarity by place of origin and fruit characteristics.
Pengaruh Media Regenerasi terhadap Pembentukan Tunas Aksiler dan Adventif pada Philodendron c.v. Moon Light Winarto, Budi; Rianawati, S; Herlina, Deborah
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Philodendron merupakan tanaman hias daun yang menarik dan banyak digemari oleh konsumen, tetapi pengembangan tanaman ini secara komersial masih dihadapkan pada masalah perbanyakan benih. Studi ini bertujuan mengetahui pengaruh beberapa media regenerasi terhadap induksi tunas aksiler dan adventif, penyiapan plantlet, dan aklimatisasinya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan November 2004 hingga Mei 2005. Bahan tanaman adalah philodendron c.v. Moon Light. Sebagian percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MR-2 yang mengandung 0,2 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA + 15 g/l sukrosa dan 15 g/l glukosa merupakan media regenerasi yang terbaik pada perbanyakan philodendron cv. Moon Light secara in vitro. Media ini mampu menginduksi penggandaan tunas aksiler dan tunas adventif terbaik dibanding media regenerasi yang lain dengan persentase regenerasi mencapai 90% untuk tunas aksiler dan 50% untuk tunas adventif. Produksi tunas mencapai 6,2 tunas per eksplan untuk tunas aksiler dan 3,1 tunas per eksplan untuk tunas adventif. Dengan mengganti agar Swallow dengan gelrite, media ini juga menjadi media terbaik untuk penyiapan plantlet untuk tujuan aklimatisasi, terutama pada tunas yang telah mengalami 4-5 subkultur. Plantlet yang dihasilkan juga mudah diaklimatisasi pada media arang sekam dengan keberhasilan mencapai 94%.ABSTRACT. Winarto, B., S. Rianawati, and D. Herlina. 2007. Effect of Regeneration Media on Axillary and Adventitious Shoot Formation of Philodendron c.v Moon Light. Philodendron is one of fascinating ornamental foliage plants which has high preference from user, but for commercial development of the plant is still faced by big problem on its propagation. The study aimed to find out the effect of regeneration media on axillary and adventitious shoot induction, plantlet preparation, and its acclimatization. The research was conducted at Tissue Culture Laboratory and Glass-house of Indonesian Ornamental Crop Research Institute from November 2004 till May 2005. Philodendron cv. Moon Light was used as a donor plant. A part of the experiment was arranged in completely randomized design with 4 replications. Results of this study indicated that MR-2 medium was the appropriate medium for in vitro propagation of the plant. The medium was able to induce the highest axillary and adventitious shoot multiplication compared to others with high percentage of shoot regeneration up to 90% for axillary shoots and 50% for adventitious shoots. Shoot production was up to 6.2 per explant for axillary shoot and 3.1 per explant for adventitious shoot. By changing Swallow agar with gelrite was the best medium for plantlet preparation, especially in 4-5 subcultured-shoots for acclimatization purposes. Plantlets resulted from this experiment were easily acclimatized on burn-rice husk with 94% survivability.
Respons Pembentukan Tunas Aksiler dan Adventif pada Kultur Anthurium secara In Vitro Winarto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Perbanyakan bahan tanaman merupakan salah satu masalah penting dalam budidaya anthurium untuk tujuan komersial. Secara konvensional, tanaman ini diperbanyak melalui biji dan anakan, tetapi teknik ini memerlukan waktu dan proses yang lama hingga 3 tahun. Penelitian bertujuan mengetahui respons pembentukan tunas aksiler dan adventif pada kultur anthurium secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juli 2004 hingga Februari 2005. Variasi eksplan, seperti ruas batang kesatu dan kedua digunakan untuk induksi pembentukan tunas aksiler, sementara akar, hipokotil, dan daun muda digunakan untuk induksi tunas adventif. Eksplan-eksplan tersebut dipanen dari beberapa kultivar dan aksesi anthurium. Medium M2, M4, dan modifikasi medium M4 menggunakan 150 ml/l air kelapa, 2,5 mg/l 2,4-D, 2 g/l asam pantotenat, dan 50 ppm cefotaxim diuji dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kultur jaringan anthurium dipengaruhi oleh kultivar, jenis, dan kondisi eksplan, dan media tumbuhnya. Tiap eksplan dan kultivar/aksesi memiliki kompatibilitas yang berbeda dengan medium tumbuhnya. Induksi tunas adventif merupakan teknik perbanyakan yang lebih potensial dan sesuai dikembangkan pada anthurium dibandingkan induksi tunas aksiler. M4 merupakan medium dasar yang potensial dan sesuai untuk dikembangkan pada perbanyakan anthurium secara in vitro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengembangkan dan mengaplikasikan teknik kultur jaringan pada perbanyakan anthurium.ABSTRACT. Winarto, B. 2007. Response of Axillary and Adventitious Shoot Formation of In Vitro Anthurium Culture. Planting material propagation is one of important problems in anthurium cultivation for commercial purposes. Conventionally, the plant is generally propagated by seed and shoot, however those technique were time consuming. The objective of this experiment was to know response of axillary and adventitious shoot formation of in vitro anthurium culture. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from July 2004 to February 2005. Variation of explant such as first and second node was used for induction of axillary shoot formation, while young root, hypocotyl, and leaf were used for stimulating adventitious shoot regeneration. The explants harvested from several cultivars and accessions of anthurium. Media of M2, M4, and modified-M4 using150 ml/l coconut water, 2.5 mg/l 2,4-D, 2 g/l pantothenic acid, and 50 ppm cefotaxim were used in this experiment. Results of the study indicated that the success of anthurium tissue culture was affected by cultivars, explant type and condition, and growth medium. Each explant and cultivar had its compatibility to different growth media. Adventitious shoot formation was potential and suitable technique to be developed than axillary shoot proliferation. M4 was the appropriate and suitable basic medium that could be developed for in vitro propagation of anthurium. Results of this research could be expected as one of important consideration points in developing and applying tissue culture technique on anthurium propagation.
Pengelompokan Aksesi Pisang Menggunakan Karakter Morfologi IPGRI Sukartini, -
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan dan Kebun Percobaan Sumani dan Aripan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, pada bulan Desember 2000 sampai Juni 2001. Tujuan penelitian mengetahui jarak genetik dan hubungan kekerabatan aksesi pisang. Bahan penelitian adalah 26 aksesi pisang. Kegiatan identifikasi dilakukan terhadap 35 karakter yang terdiri dari 28 karakter kualitatif dan 7 karakter kuantitatif berdasar descriptor for banana IPGRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi pisang kepok Putih dan kepok Kuning mempunyai jarak genetik terkecil 0,0588 dengan kemiripan karakter morfologi paling banyak, yaitu 94,1176%. Sedangkan jarak genetik terbesar terdapat pada klaster aksesi pisang Monyet dengan semua pisang lainnya, yaitu sebesar 0,17 dengan kemiripan sifat morfologi paling sedikit, 83,1169%. Pisang Monyet dapat digunakan sebagai salah satu tetua untuk memperoleh variasi genetik yang lebih besar. Pisang kepok Putih dan kepok Kuning hampir mirip sehingga untuk efisiensi koleksi plasma nutfah tanaman pisang dapat dipilih salah satu.ABSTRACT. Sukartini. 2007. IPGRI Morphology Characters for Clustering of Musa spp. Accessions. The research was conducted at Purwodadi Botanical Garden Pasuruan, Sumani and Aripan Field Station of Indonesian Tropical Fruits Research Institute on December 2000-June 2001. The research objective was to know the genetic distance and relationship among the 26 banana accessions. The research material covered 26 banana accessions. Identification activity was done toward 35 characters constitute of 28 qualitative and 7 quantitative characters based on descriptor for banana IPGRI. The results showed that kepok Putih and kepok Kuning banana accession have the lowest genetic distance i.e. 0.0588 with the most maximum similar morphology characters of 94.1176%. Meanwhile, the highest genetic distance i.e. 0.17, was showed by banana Monyet cluster againt other banana accession with the minimum similarity morphological characters 83.1169%. Banana Monyet is better to be used as parental to obtain higher genetic variation. Banana kepok Putih and kepok Kuning could be chosen either one for efficiency on germplasm maintenance.
Aplikasi Pupuk Hayati Mikoriza untuk Meningkatkan Efisiensi Serapan Unsur Hara NPK serta Pengaruhnya terhadap Hasil dan Kualitas Umbi Bawang Merah Sumiati, E; Gunawan, O S
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu cara memperbaiki hasil dan kualitas umbi bawang merah, yaitu dengan aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dan pupuk hayati mikoriza. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl) dari Juli-Oktober 2001. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama pupuk NPK 15-15-15 dosis 0, 2,5, dan 5,0 g/tanaman. Anak petak pupuk hayati mikoriza dosis 2,5, 5,0, dan 7,5 g/tanaman. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dosis 2,5 g/tanaman yang dikombinasikan dengan pupuk hayati mikoriza dosis 2,5 g/tanaman meningkatkan persentase infeksi akar bawang merah oleh mikoriza. Jumlah spora yang terdeteksi pada rizosfer bawang merah yang terbanyak berasal dari aplikasi NPK 15-15-15 2,5 g/tanaman + pupuk hayati mikoriza 5 g/tanaman. Spesies mikoriza yang berasosiasi dengan tanaman bawang merah, yaitu Glomus sp., Glomus sp. hitam, dan Gigaspora sp.. Kandungan NPK tanaman serta pertumbuhannya meningkat oleh aplikasi NPK + pupuk hayati. Hasil umbi bawang merah nyata meningkat oleh aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dosis 2,5-5,0 g/tanaman atau oleh aplikasi pupuk hayati mikoriza dosis 2,5-5,0 g/tanaman. Aplikasi kedua jenis pupuk tersebut tidak meningkatkan kandungan bahan kering umbi bawang merah.ABSTRACT. Sumiati, E. and O.S. Gunawan. 2007. Application of Mycorrhizal Biofertilizer to Increase the Efficiency of NPK Uptake and its Effects on Yield and Quality of Shallot Bulbs. Yield and quality of shallot bulbs can be improved by application of NPK 15-15-15 in combination with mycorrhizal biofertilizer. Research was conducted at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang (1,250 m asl) from July to October 2001. A split plot design with 3 replications was arranged. Main plot was dosage of NPK 15-15-15, viz. 0, 2.5, and 5.0 g/plant. Subplot was dosage of mycorrhizal biofertilizer, viz. 2.5, 5.0, and 7.5 g/plant. Research results revealed that the application of 2.5 g/plant NPK 15-15-15 in combination with mycorrhizal biofertilizer 2.5 g/plant increased the percentage of root infected by mycorrhiza. While the highest number of mycorrhizal spores at shallot rhizosphere was gained from application of 2.5 g/plant NPK 15-15-15 + 5 g/plant mycorrhizal biofertilizer. Species of mycorrhiza which infected shallot roots were Glomus sp. black, Glomus sp., and Gigaspora sp.. NPK content and the growth of shallot were increased by application of NPK 15-15-15 and biofertilizer. The yield of shallot increased significantly by application of NPK 15-15-15 dosage of 2.5 to 5.0 g/plant or mycorrhizal biofertilizer dosage of 2.5 to 5.0 g/plant. Application of both NPK 15-15-15 and mycorrhizal biofertilizer did not increase the dry matter of shallot bulbs
Pengaruh Sistem Lanjaran dan Tingkat Kematangan Buah terhadap Mutu Markisa Asam Silalahi, F H; Hutabarat, R C; Marpaung, A E; Napitupulu, B
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Markisa Siu merupakan buah yang banyak diusahakan di daerah dataran tinggi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Buah yang dihasilkan dapat dikonsumsi segar maupun sebagai bahan baku untuk pembuatan sirup. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh sistem lanjaran dan waktu panen terhadap kuantitas dan kualitas buah markisa asam ungu. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tamanan Buah Berastagi mulai bulan Januari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah petak terpisah dengan 3 ulangan. Sebagai petak utama adalah sistem lanjaran yang terdiri dari para-para dan pucuk bambu. Sebagai anak petak adalah tingkat kematangan buah terdiri dari (50, 75, dan 100% ungu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sistem lanjaran dan interaksinya dengan tingkat kematangan buah tidak berpengaruh nyata terhadap bobot buah, bobot sari buah segar, padatan terlarut total, total asam, dan vitamin C. Tingkat kematangan buah berpengaruh nyata terhadap padatan terlarut total dan total asam, namun tidak berpengaruh nyata terhadap bobot buah, bobot sari buah, dan vitamin C pada buah petik segar. Buah markisa asam ungu sudah dapat dipanen pada tingkat kematangan 50% ungu untuk menghasilkan bobot buah, kandungan sari buah, padatan terlarut total, dan total asam yang tertinggi, masing-masing sebesar 54,73 g/buah, 29,87 g/buah, 12,12oBrix, dan 3,03%, namun kandungan vitamin C yang dihasilkan relatif rendah (71,28 mg/100 g bahan) dibandingkan dengan tingkat kematangan 75% (78,32 mg/100 g bahan) ungu dan 100% ungu (75,68 mg/100 g bahan).ABSTRACT. Silalahi, F.H., R.C. Hutabarat, A.E. Marpaung, and B. Napitupulu, 2007. The Effect of Trellis System and Fruit Maturity on Quality of Purple Passion Fruit. Purple passion fruit has been cultivated on highland in North Sumatera and South Sulawesi. The product is consumed as fresh fruit or syrup. The aim of this research was to find out the effect of trellis system and fruit maturity on quantity and quality of purple passion fruit. The research was conducted at Berastagi Experimental Garden on January to December 2004. Split plot design was used with 3 replications. The main plot was trellis system with 2 treatments para-para and bamboo shoot. The level of fruit maturity was used as subplot, purple 50, 75, and 100%. The results showed that the trellis system and it’s interaction with fruit maturity did not significantly affect fruit weight, juice content, total soluble solid, total acid, and vitamine C content of fresh fruit. The fruit maturity significantly affect total soluble solid, and total acid, but did not significantly affect fruit weight, juice, and vitamine C content of fresh fruit. Fruit maturity of purple 50% produced the highest fruit weight, fruit juice, total soluble solid, total acid content i.e. 54.73 g/fruit, 29.87 g/fruit, 12.12oBrix, and 3.03% respectively. Whereas the vitamine C content was lower (71.28 mg/100 g material) than fruit maturity of purple 75% (78.32 mg/100 g) and purple 100% (75.68 mg/100 g).
Penggunaan Pupuk Kalium Sulfat sebagai Alternatif Sumber Pupuk Kalium pada Tanaman Kentang Gunadi, Nikardi
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk kalium sulfat sebagai alternatif sumber pupuk kalium pada tanaman kentang telah dilaksanakan di lahan petani di Desa Padaawas, Kecamatan Pangalengan (1.400 m dpl), Kabupaten Bandung, Jawa Barat dari bulan Maret sampai Juni 2002. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah acak kelompok dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan terdiri dari kombinasi 2 faktor yaitu dosis pupuk kalium dan sumber pupuk kalium, yaitu (1) 0 kg K2O, (2) 50 kg K2O (KCl), (3) 100 kg K2O (KCl), (4) 150 kg K2O (KCl), (5) 200 kg K2O (KCl), (6) 250 kg K2O (KCl), (7) 50 kg K2O (K2SO4), (8) 100 kg K2O (K2SO4), (9) 150 kg K2O (K2SO4), (10) 200 kg K2O (K2SO4) dan (11) 250 kg K2O (K2SO4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun penggunaan pupuk kalium sulfat pada tanaman kentang dengan dosis 250 kg K2O per ha meningkatkan beberapa peubah pertumbuhan tanaman dan komponen hasil tanaman kentang, namun penggunaan pupuk kalium sulfat pada percobaan ini belum dapat menggantikan pupuk kalium klorida yang sudah umum digunakan petani. Penggunaan pupuk kalium sulfat pada penelitian ini hanya berpengaruh positif terhadap berat jenis, tetapi tidak terhadap kandungan gula tereduksi dan kandungan pati. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan sumber pupuk kalium dalam penanaman kentang.ABSTRACT. Gunadi, N. 2007. The Use of Potassium Sulphate as an Alternative Source of Potassium Fertilizer in Potato. An experiment to determine the effect of potassium sulphate as an alternative source of potassium fertilizer in potato was conducted at a farmer’s field in Padaawas Village, Pangalengan Subdistrict (1,400 m asl), Bandung District, West Java, from March to June 2002. Randomized completely block design with 3 replications was used in the experiment. The treatments consisted of combination of rate and source of potassium fertilizer (potassium chloride and potassium sulphate) i.e. (1) 0 kg K2O, (2) 50 kg K2O (KCl), (3) 100 kg K2O (KCl), (4) 150 kg K2O (KCl), (5) 200 kg K2O (KCl), (6) 250 kg K2O (KCl), (7) 50 kg K2O (K2SO4), (8) 100 kg K2O (K2SO4), (9) 150 kg K2O (K2SO4), (10) 200 kg K2O (K2SO4) and (11) 250 kg K2O (K2SO4). The results indicated that although the use of potassium sulphate in potato with a rate of 250 kg K2O per ha increased some growth parameters and yield components of potato, but it could not be easily replaced by the use of potassium chloride, which is commonly used by the farmers. The use of potassium sulphate affect positively only on specific gravity, but not on sugar reduction and starch content. The results could be used as a recommendation to select the source of potassium in potato production.
Distribusi Spesies Lalat Buah di Sumatera Barat dan Riau Muryati, -; Hasyim, Ahsol; de Kogel, W J
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi dan diversitas spesies lalat buah di Sumatera Barat dan Pulau Kundur Kabupaten Karimun, Riau. Penelitian dilakukan dengan metode survei mulai bulan Juni 2003 – Desember 2004. Lalat buah ditangkap menggunakan perangkap yang terbuat dari botol bekas air mineral yang di dalamnya digantungkan kapas yang telah dibasahi dengan metil eugenol dan cue lure. Lalat buah hasil tangkapan dibawa ke Laboratorium Proteksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok untuk diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi elektronik Cabikey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua lokasi penelitian diperoleh 45 spesies lalat buah (2 spesies belum teridentifikasi). Tiga spesies lalat buah ditemukan di semua lokasi penelitian, yaitu B. albistrigata, B. carambolae, dan B. papayae. Keragaman spesies lalat buah paling tinggi ditemukan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat dan Pulau Kundur, berturut-turut ditemukan 30 spesies dan 25 spesies lalat buah. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi terutama bagi karantina sebagai dasar untuk memperketat aturan mengenai keluar masuknya buah-buahan dari dan ke suatu daerah sehingga spesies-spesies yang ada di daerah tertentu terutama daerah yang mempunyai diversitas spesies tinggi tidak masuk ke daerah lain.ABSTRACT. Muryati, A. Hasyim, and W.J. de Kogel. 2007. Distribution of Fruit Fly Species at West Sumatera and Riau. The objective of the research was to understand the distribution and diversity of the fruit flies species at West Sumatera and Kundur Island. The research was done by survey method on June 2003 to December 2004. Fruit flies were trapped by using methyl eugenol and cue lure attractant that were hung inside of traps made from used bottle of mineral water. The fruit flies that were caught brought to the Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute for identification purpose by using electronic identification key Cabikey. Forty five fruit fly species spread on the whole research location (2 species were not yet identified). Three species of fruit fly found in the whole research locations, i.e. B. albistrigata, B. carambolae, and B. papayae. Solok Regency and Kundur Island had the most species diversity than other locations, which were found 30 and 25 species fruit flies, respectively. This information useful for quarantine regulation to prevent the spreading of fruit fly species to other areas.
Potensi Individu Amblyseius deleoni et Denmark sebagai Predator Hama Tungau Panonychus citri McGregor pada Tanaman Jeruk Setyobudi, L; Istianto, Mizu; Endarto, Oto
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Panonychus citri merupakan salah satu hama penting pada tanaman jeruk. Pengendalian terhadap populasi hama tungau ini perlu dilakukan untuk menekan kehilangan hasil pada tanaman jeruk. Salah satu alternatif pengendalian yang perlu dikembangkan adalah pemanfaatan musuh alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi individu A. deleoni pemangsa hama P. citri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 1999-Januari 2000 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuannya adalah A. deleoni diberi mangsa (1) telur, (2) larva, (3) nimfa, (4) imago, dan (5) campuran stadia P. citri, serta (6) tepungsari bunga pepaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. deleoni mampu memangsa P. citri. Individu A. deleoni mampu memangsa telur, larva, nimfa, imago, dan campuran stadia P. citri berturut-turut sebanyak 1,80-2,16 butir/hari, 1,08-2,22 ekor/hari, 0,70-1,52 ekor/hari, 0,47-1,08 ekor/hari, dan 1,15-2,93 ekor/hari. Lama stadia pertumbuhan A. deleoni pada stadia mangsa yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap tingkat pemangsaan. Jumlah telur yang diletakkan oleh A. deleoni dewasa terbanyak adalah pada perlakuan mangsa telur, yaitu 14,40 butir. Jumlah keturunan F1 terbanyak dari A. deleoni terjadi pada perlakuan mangsa telur, yaitu 11,52 ekor. Hasil ini menunjukkan adanya alternatif predator yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi P. citri pada tanaman jeruk.ABSTRACT. Setyobudi, L., M. Istianto, and O. Endarto. 2007. Individual Potency of Amblyseius deleoni et Denmark as Predator of Panonychus citri McGregor on Citrus. Panonychus citri is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. Controlling to this pest population is needed to suppress the crop losses of citrus production. One of the technologies to control mite population is by applying natural enemies. The objective of this research was to evaluate the individual potency of A. deleoni to prey P. citri. The research was arranged in a completely randomized design with 6 treatments and 10 replications This research was conducted from August 1999 to January 2000 in Laboratory of Entomology of Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute Tlekung. The treatments were A. deleoni put in the several stages of P. citri lifecycle i.e. (1) eggs, (2) larva, (3) nymph, (4) adult, (5) mixed stages of P. citri, and (6) pollens of papaya. The results showed that A. deleoni had a potency to prey P. citri. During the treatments, individual of A. deleoni was able to prey 1.80-2.16 eggs/day, 1.08-2.22 larvae/day, 0.70-1.52 nymphs/day, 0.47-1.08 adults/day, 1.15-2.93 mixed stages of P. citri/day. The treatments tended not to have significant influence to longevity of A. deleoni. The largest number of eggs and first generation of A. deleoni found in the treatment of eggs of P. citri as a prey i.e. 14.40 and 11.52 respectively. This results gives an alternative predator that can be used to control the population of P. citri on citrus.
Uji Patogenisitas Jamur Entomopatogen Hirsutella citriformis, Beauveria bassiana, dan Metarhizium anisopliae secara Eka dan Dwiinfeksi untuk Mengendalikan Diaphorina Citri Kuw. Dwiastuti, Mutia Erti; Nawir, W; Wuryantini, S
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pengendalian kimiawi terhadap hama D. citri, vektor penyakit CVPD sudah banyak dilakukan, namun ada beberapa kelemahan dan efek langsung yang terjadi, antara lain biaya besar, resistensi serangga, dan pencemaran lingkungan. Penggunaan agens hayati berupa patogen untuk mengendalikan D. citri merupakan salah satu pendekatan ekologi dalam mengatasi masalah ini. Entomopatogen H. citriformis merupakan salah satu pilihan, di samping entomopatogen M. anisopliae dan B. bassiana yang sudah dikenal lebih dulu. Beberapa pengamat hama di lapang menduga infeksi alami H. citriformis lebih cepat mematikan D. citri bila ada jamur entomopatogen lain yang sudah menginfeksi lebih dahulu. Tujuan penelitian adalah mengetahui patogenisitas H. citriformis terhadap imago D. citri dengan cara eka dan dwiinfeksi. Percobaan dilakukan di Laboratoium Mikologi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Tlekung dan kebun jeruk milik petani di Jombang. Perlakuan yang di uji adalah H. citriformis, B. bassiana, M. anisopliae, dan kombinasinya. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dwiinfeksi B. bassiana dan H. citriformis menunjukkan hubungan sinergisme dan menyebabkan persentase kematian D. citri lebih tinggi disusul dengan ekainfeksi H. citriformis.ABSTRACT. Dwiastuti, M.E., W. Nawir, and S. Wuryantini. 2007. Pathogenicity Test of Entomopathogens of Hirsutella citriformis, Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae with Single and Double Infection to Control Diaphorina citri Kuw. The chemical control of D. citri, CVPD disease vector’s was one of major method applied in the field, but it has several side effects, such as of insect resistance or environmental pollution. Control measures of D. citri by using biological agents have the potency to reduce insecticide application, especially the use of H. citriformis entomopathogen, besides M. anisopliae and B. bassiana, that were popular before. Several field pest observers indicated that natural infection of H. citriformis could accelerate the mortality of D. citri if combined with other entomopathogens. The objectives of this study was to measure entomopathogenicity of H. citriformis in controlling D. citri in combination with other entomopathogens. The research was conducted at the Micology Laboratory, Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute and Jombang citrus farmer field. The treatments tested were H. citriformis, B. bassiana, M. anisopliae and their combination. The randomized block design with 3 replications was used in this experiment. The results showed that double infection of B. bassiana and H. citriformis was most sinergism than others treatments, which caused highest mortality of D. citri, followed by single infection of H. citriformis.

Page 1 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue