cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008" : 30 Documents clear
Identifikasi Variabilitas Genetik Wani Bali (Mangifera caesia Jack.) dengan Analisis Penanda RAPD Rai, I Nyoman; Wijana, G; Semarajaya, C G A
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Wani Bali (Mangifera caesia Jack.) merupakan salah satu tanaman buah-buahan tropika tergolong kerabat mangga. Citarasa Wani Bali disukai konsumen karena daging buahnya memiliki aroma khas, rasanya manis, enak, dan daging buahnya tebal. Terdapat banyak kultivar Wani Bali dengan sifat spesifik buahnya masing-masing, tetapi secara genetik belum diketahui variabilitasnya. Penelitian ini betujuan mengidentifikasi variabilitas genetik Wani Bali dengan analisis penanda random amplified polymorphic DNA (RAPD). Penelitian dilakukan mulai bulan Februari sampai Desember 2006, berlokasi di seluruh sentra produksi Wani Bali di Bali. Pelaksanaan terdiri atas 3 tahap, yaitu (1) survei kultivar dilanjutkan dengan identifikasi karakter daun, bunga, dan buah, (2) pengumpulan sampel untuk analisis RAPD (biji dari kultivar yang telah diidentifikasi ditanam dalam polibag di rumah plastik, setelah bibit berumur 6 bulan, 5-6 lembar daunnya dipanen untuk sampel), dan (3) analisis penanda RAPD, dilakukan di Laboratorium Biomolekuler dan Immunologi, Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan, Bogor. Berdasarkan karakter buahnya (bentuk, rasa, ukuran, dan warna kulit) teridentifikasi 22 kultivar Wani Bali, tetapi kultivar-kultivar tersebut tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya berdasarkan habitus pohon, sifat percabangan, serta karakter daun dan bunga. Variabilitas genetik Wani Bali dianalisis dengan RAPD dengan keanekaragaman mencapai 43% terdiri atas 3 kelompok. Satu-satunya kultivar yang secara genetik sangat berbeda dengan yang lainnya adalah Wani Bali Ngumpen (kultivar tanpa biji) ditemukan di Desa Bebetin, Kabupaten Buleleng. Kultivar-kultivar yang berasal dari kabupaten yang sama dan atau pada 2 kabupaten yang berdekatan mengelompok pada kelompok yang sama, kecuali Wani Bali Ngumpen asal Desa Bebetin, Buleleng.ABSTRACT. Rai, I.N., G. Wijana, and C. G. A. Semarajaya. 2008. Identification of Genetic Variability of Wani Bali (Mangifera caesia Jack.) Using RAPD Analysis Marker. Wani Bali is one of tropical fruit which belongs to genus mangifera. Consumer prefers the fruit due to the specific flavor, sweet and delicious taste, and the thickness of edible pulp. There are many cultivars of Wani Bali with specific character. However, genetic variability has not been specified. The research was aimed to identify the genetic variability by random amplified polymorphic DNA (RAPD) marker. The research was conducted from February to December 2006, located at centrals of Wani Bali in Bali. It consisted of 3 steps (1) surveying of cultivars and identification of their leaf, flower, and fruit characters, (2) collecting sample for RAPD analysis (seed of identified cultivars grown in polybag at plastichouse and after 6 months seedling, 5-6 leaves were collected as sample), and (3) analyzing RAPD, which was conducted at Biomolecular and Immunology Laboratory, Research Unit of Plantation Biotechnology, Bogor. The results revealed that according to the fruit character (shape, taste, size, and skin color of fruit) had been identified 22 cultivars, but among cultivars could not be specified by plant shape, branch type, leaf and flower characters. There are 3 groups at 43% variability according to genetic variability of Wani Bali which was analyzed by RAPD. The sole cultivar genetically significantly different among the cultivars is Wani Bali Ngumpen (seedles cultivar) from Bebetin, Buleleng District. The cultivars that were planted at the same regency and/or at 2 neighbouring regencies genetically were clustered in 1 group, excluding Wani Bali Ngumpen from Bebetin, Buleleng District.
Pengaruh Cara Tanam dan Metode Pinching terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bunga Potong Anyelir Wuryaningsih, S; Budiarto, K; Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Anyelir merupakan salah satu tanaman penghasil bunga potong yang sangat penting dalam agribisnis florikultura di Indonesia. Peningkatan permintaan terhadap bunga potong ini menuntut perbaikan kualitas proses produksi yang menyangkut aplikasi teknik budidaya yang diharapkan meningkatkan produktivitas dan efisiensi pada skala usahatani. Perbaikan teknik budidaya ini antara lain perbaikan cara tanam (tata letak dan kerapatan tanaman) dan metode pinching. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh tata letak dan kerapatan tanaman serta metode pinching terhadap pertumbuhan dan produksi bunga potong anyelir. Penelitian dilakukan di bawah kondisi rumah plastik di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan September 2004 hingga Agustus 2005.  Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola split-split plot dengan 3 ulangan. Petak utama adalah tata letak tanaman, yaitu zig-zag dan lurus dalam barisan. Anak petak adalah kerapatan tanaman, yaitu 25 dan 36 tanaman/m2. Sedangkan yang bertindak sebagai anak-anak petak adalah metode pinching, yaitu tunggal, 1½, dan piching ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata letak tanaman dalam bedengan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi bunga anyelir. Tunas lateral lebih banyak tumbuh pada kerapatan tanaman yang lebih renggang. Namun demikian jumlah tanaman per satuan luas lebih banyak pada kerapatan tanaman yang lebih padat berkontribusi lebih nyata terhadap total produksi bunga. Perlakuan metode pinching yang diterapkan hanya berpengaruh pada jumlah tunas lateral dan panjang tangkai bunga yang dihasilkan. Metode pinching ganda memberikan jumlah tunas lateral dan panjang tangkai yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan metode 1½ dan pinching tunggal, namun tidak nyata pada parameter pertumbuhan dan parameter reproduktif yang lain.ABSTRACT. Wuryaningsih, S., K. Budiarto, and Suhardi. 2008. The Effects of Cultural Practices and Pinching Methods on the Growth and Flower Production on Carnation. Carnation is one of the important cut flowers in Indonesian floriculture trade. The demand of this commodity has increased significantly up to this moment. Improvement of cultural practices is needed to make the business more efficient and profitable. The research was conducted to find out the effect of plant arrangement, plant density, and method of pinching on growth and flower production of carnation. The experiment was carried out under plastichouse conditions at Segunung Research Station, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from September 2004 to August 2005. A split-split plot randomized completely block design with 3 replications was used. The main plot was plant arrangements, namely zig-zag and straight in row pattern. The subplot was planting densities of 25 and 36 plants/m2, while the sub-subplot was pinching methods, namely single, 1½, and double pinching. The results of the experiment showed that the growth and flower production of carnation were not influenced by plant arrangement. Number of axillary buds was increased with less planting density. However, due to the higher number of plants per unit area, the number of harvested flowers was higher in the treatment of 36 plants/m2. Compared to 1½ and single pinching methods, double pinching only gave higher number of axillary buds and stalk length, but was not significant affect other growth and reproductive parameters.
Penggunaan Pupuk Multihara Lengkap PML-A gro terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah Sutapradja, Holil
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang, dari bulan Mei sampai November 2005, dengan tujuan mendapatkan dosis dan formula pupuk tablet dan pupuk tepung PML-Agro yang tepat untuk meningkatkan hasil cabai merah dan efisiensi aplikasi unsur hara tanaman. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari bentuk pupuk PML-Agro sebagai petak utama, sedangkan dosis dan formula pupuk PML-Agro dan pupuk tunggal sebagai anak petak. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pupuk PML-Agro 2 (600 kg/ha) dan kombinasi pupuk PML-Agro 1 (150 kg/ha)+PML-Agro 3 (150 kg/ha) menghasilkan buah cabai merah tertinggi, meskipun tidak berbeda nyata dengan kombinasi pupuk tunggal (Urea, ZA, TSP, KCl, dan dolomit). Peningkatan hasil dari kedua pupuk tersebut masing-masing sebesar 16,38 dan 11,41%. Penggunaan pupuk tablet dan tepung tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Pemberian pupuk PML-Agro 1 (150 kg/ha)+PML-Agro 3 (150 kg/ha) baik dalam bentuk tablet maupun tepung dapat dianjurkan, karena lebih efisien dari penggunaan pupuk PML-Agro 2 (600 kg/ha) maupun pupuk tunggal (Urea, ZA, TSP, KCl, dan dolomit) dengan efisiensi penggunaan hara makro primer 25% lebih rendah daripada pupuk tunggal. Teknologi pemupukan yang dihasilkan ini lebih menguntungkan karena penggunaan pupuk yang efisien dan daya hasil meningkat.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. Application of PML-Agro Complete Multinutrient Fertilizer on Growth and Yield of Hot Pepper.This experiment was conducted at Wera, Subang Experimental Garden, started from May to November 2005, to find out the proper dosage and formulation of tablet and powder fertilizers to increase yield of hot pepper and nutrient efficiency. The experiment was arranged in a split plot design with 3 replications. The treatment consisted of PML-Agro fertilizer as main plot, and dosage formulation of PML-Agro fertilizer and combination of single fertilizers as subplot. The results showed that PML-Agro 2 fertilizer (600 kg/ha) and combination of PML-Agro 1 fertilizer (150 kg/ha)+PML-Agro 3 fertilizer (150 kg/ha) produced highest yield of hot pepper, although both treatments were not significanly different from the combination of single fertilizers (Urea, ZA, TSP, KCl, and dolomit). Yield increased due to the application of both fertilizers were 16.38% and 11.41% respectively. Application of tablet and powder fertilizers did not significantly affect the growth and yield of hot pepper. Combination of PML-Agro 1 fertilizers (150 kg/ha)+PML-Agro 3 fertilizer (150 kg/ha) in tablet and powder forms seemed to be more applicable for farmers, since they were more efficient than those of PML-Agro 2 (600 kg/ha) fertilizer and combination of single fertilizers (Urea, ZA, TSP, KCl, and dolomit) with efficiency of macro nutrient application about 25% lower than that of single fertilizer application. The use of PML-Agro fertilizer was more profitable due to its efficiency and yield improvement.
Keefektifan Teknik Perangsangan Pembungaan pada Kelengkeng Yulianto, -; Susilo, J; Juanda, D
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pengkajian ini bertujuan untuk memperoleh teknik perangsangan pembungaan pada tanaman kelengkeng yang efektif. Pengkajian teknik perangsangan pembungaan kelengkeng dilaksanakan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai bulan Juli hingga Desember 2005. Teknik perangsangan pembungaan yang dikaji meliputi (a) pemberian zat pengatur tumbuh paklobutrazol, (b) pemberian pupuk tambahan hara mikro, (c) perundukan dahan, (d) pemangkasan cabang dan tunas air, dan (e) tanpa perlakuan sebagai pembanding. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknik perangsangan pembungaan kelengkeng yang diintroduksikan mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga serta meningkatkan kerapatan bunga dan buah per pohon. Aplikasi paklobutrazol mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga paling banyak daripada perlakuan lainnya, tetapi kerapatan buah yang terbentuk lebih rendah daripada perlakuan lainnya. Kerapatan buah tertinggi dihasilkan dari tanaman-tanaman yang diperlakukan dengan perundukan dahan. Kerapatan buah yang tinggi berikutnya terjadi pada perlakuan pemangkasan, pemberian hara mikro, dan aplikasi paklobutrazol.ABSTRACT. Yulianto, J. Susilo, and D. Juanda. 2008. The Effectiveveness of Flowerwerwering Induction Techechechniques on Dragon’s Eye Fr uit. The objective of this experiment was to find out the effective flowering induction technique on dragon’s eye fruit. This study was conducted in Temanggung District from July to December 2005. The treatments were several flowering induction techniques i.e. (a) application of paclobutrazol growth regulator, (b) application of micronutrient fertilizer, (c) branches bent down, (d) pruning, and (e) without treatment (control). The assessment indicated that all of flowering induction techniques applied were able to induce flowering and increased yield per tree. Paclobutrazol application produced more flowers than other treatments, but gave less fruit density. The highest fruit density was produced on the trees with bent down branches, followed by pruning, addition of micronutrient, and paclobutrazol treatments.
Pengaruh Jarak Tanam dan Ukuran Umbi Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Varietas Granola untuk Bibit Sutapradja, Holil
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK . Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang, Balai Penelitian Tanaman Sayuran dengan ketinggian 1.250 m dpl dari bulan Juni sampai dengan September 2005. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Masing-masing perlakuan adalah (a) umbi bibit <2,5 g dengan jarak tanam 80x15 cm, (b) umbi bibit <2,5 g dengan jarak tanam 80x30 cm, (c) umbi bibit 2,6-5 g dengan jarak tanam 80x15 cm, (d) umbi bibit 2,6-5 g dengan jarak tanam 80x30 cm, (e) umbi bibit >5,1 g dengan jarak tanam 80x15 cm, dan (f) umbi bibit >5,1 g dengan jarak tanam 80x30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam dan ukuran umbi bibit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kentang varietas Granola untuk bibit. Jarak tanam 80x30 cm dengan ukuran umbi bibit <2,5 g memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan hasil kentang Granola dibandingkan perlakuan yang lain.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008.The Effect of Planting Dintance and Seed Size on the Growth and Yield of Granola Potato Variety for Seed Production. This experiment was conducted at Indonesian Vegetable Research Institute with the altitude of 1,250 m asl from June until September 2005. The experiment used a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. The treatments were (a) seed size <2.5 g with spacing of 80x15 cm, (b) seed size <2.5 g. with spacing of 80x30 cm, (c) seed size 2.6-5 g with spacing of 80x15 cm, (d) seed size 2.6-5 g with spacing of 80x30 cm, (e) seed size >5.1 g with spacing of 80x15 cm, and (f) seed size >5.1 g with spacing of 80x30 cm. The results indicated that planting distance and size of seed significantly affect the growth and tuber yield of potato for seed production. Planting distance of 80x30 cm and seed size <2.5 g gave the better yield of potato seed compare with others.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat Kultivar Intan dan Mutiara pada Berbagai Jenis Tanah Sutapradja, Holil
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu usaha peningkatan produksi tomat adalah dengan mencari kultivar unggul yang cocok pada berbagai lokasi dengan jenis tanah yang berbeda. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang dari bulan September sampai dengan Desember 2005, pada ketinggian 100 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial, terdiri dari 2 faktor (kultivar Intan dan Mutiara) dan 4 jenis tanah (Andosol Lembang, Latosol Jalancagak, Latosol Subang, dan Aluvial Sukamandi) di mana setiap perlakuan diulang 4 kali. Tujuan percobaan adalah, mengetahui pertumbuhan kultivar Intan dan Mutiara yang cocok dan berproduksi baik pada jenis tanah tertentu. Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara kultivar dan jenis tanah terhadap bobot buah. Kultivar tomat berpengaruh nyata terhadap perbedaan tinggi tanaman, jumlah cabang, diameter batang, jumlah bunga, dan buah. Kultivar Mutiara memperlihatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil yang lebih baik. Hasil tertinggi tomat Mutiara pada jenis tanah Andosol Lembang yaitu sekitar 1,8 kg/tanaman.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. The Growth and Yield of Intan and Mutiara Tomato Cultivar on Several Type of Soil. One of the effort to increase tomato production is the use of superior cultivar which is adaptive to various locations with different types of soil. The experiment was conducted at Wera, Subang Experimental Garden from September until December 2005, with the elevation 100 m asl. The experiment used a factorial completely randomized design, consisting of 2 factors, i.e. the cultivars (Intan and Mutiara) and soil types (Andosol Lembang, Latosol Jalancagak, Latosol Subang, and Aluvial Sukamandi), with 4 replications. The experiment was conducted to determine the tomato cultivars which gave highest yield for the certain soil type. The results showed that there was interaction between cultivar and soil type on fruit weight per plant. While cultivar was significantly affect plant height, branch number, stem diameter, cluster number, flower number, fruit weight, and fruit number per plant. Mutiara cultivar gave better growth and yield compare to Intan cultivar. The highest yield of Mutiara cultivar (1,8 kg/plant) was achieved by Lembang Andosol soil type.
Keefektifan Nematoda Entomopatogen Steinernema carpocapsae (Rhabditida:Steinernematidae) Isolat Lembang terhadap Mortalitas Larva Agrotis ipsilon Hufn. (Lepidoptera:Noctuidae) pada Tanaman Kubis di Rumah Kaca Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae isolat Lembang pada mortalitas larva Agrotis ipsilon pada tanaman kubis di rumah kaca. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah 5 macam perlakuan tingkat kepadatan populasi nematoda S. carpocapsae (325; 650; 1.300; 2.600; dan 5.200 JI/ml), pestisida sipermetrin 0,5 ml/l, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nematoda entomopatogen S. carpocapsae isolat Lembang mulai tingkat kepadatan 1.300 JI/ml efektif dalam mengendalikan larva A. ipsilon mengakibatlan mortalitas sebesar 56,11% dan mengurangi tingkat kerusakan tanaman kubis sebesar 47,50% pada 96 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2008. Effectiveness of Entomopathogenic Nematodes Steinernema carpocapsae (Rhabditida: Steinernematidae) Lembang Strain Against the Mortality of Agrotis ipsilon Hufn. (Lepidoptera: Noctuidae) on Cabbage in the Greenhouse. The purpose of this experiment was to study the effectiveness of entomopathogenic nematodes S. carpocapsae strain Lembang on the mortality of Agrotis ipsilon Hufn. larvae on cabbage in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Entomology and the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, in Lembang, District of Bandung. The experiment was arranged in a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. The treatments were 5 level of entomopathogenic nematodes population density, i.e. 325, 650, 1,300, 2,600, and 5,200 JI/ml, pesticide sipermethrine 0.5 ml/l, and control. The results of this research showed that entomopathogenic nematodes with population density of 1,300 JI/ml was effective to control A. ipsilon larvae, caused 56.11 % mortality and reduced damage up to 47.50% at 96 hours after treatment.
Bioefikasi Beberapa Isolat Nematoda Entomopatogenik Steinernema spp. terhadap Spodoptera litura Fabricius pada Tanaman Cabai di Rumah Kaca Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Agustus sampai Oktober 2003. Percobaan ini bertujuan mengetahui isolat dan tingkat kepadatan populasi entomopatogen yang efektif terhadap larva Spodoptera litura pada tanaman cabai. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 21 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu 5 macam isolat Steinernema spp. dari Jombang, Lembang, Medan, Solo, dan Yogyakarta. Masing-masing isolat dicoba dengan 4 tingkat kepadatan populasi nematoda, yaitu (200, 400, 800, dan 1.600 JI/ml serta kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan infektivitas antara Steinernema spp. isolat Jombang, Lembang, Medan, Solo, dan Yogyakarta. Isolat Lembang merupakan isolat yang paling infektif yang menyebabkan mortalitas tertinggi terhadap S. litura pada kepadatan 200, 400, dan 800 JI/ml, masing-masing sebesar 23,9, 51,1, dan 78,3% pada 120 jam setelah aplikasi dan LT50 yang terpendek yaitu 33,7565 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2008. Bioefficacy of Some Strains of Entomopathogenic Nematode Steinernema spp. Against Spodoptera litura Fabricius on Red Chili in the Greenhouse. The objective of this research was to study the infection capacity of entomopathogenic nematodes Steinernema spp. strains Jombang, Lembang, Medan, Solo, and Yogyakarta on Spodoptera litura on red chili in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Pest and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang, Bandung District, from August-October 2003. The experiment was arranged in a randomized block design with 21 treatments and 4 replications. The treatments were 5 strains of Steinernema spp. (strain Jombang, Lembang, Medan, Solo, and Yogyakarta) with 4 level of nematode population (200, 400, 800, 1.600 JI/ml), and control. The results showed that there were differences in the capacity of infection among the strain of Steinernema spp. tested. Strain Lembang was the most infectious, which caused the highest mortality on S. litura. Population of Steinernema spp. at 200, 400, and 800 JI/ml caused mortality of S. litura up to 23.9; 51.1; and 78.3% respectively, at 120 hours after application. The LT50 of strain Lembang was also the shortest (33.7565 hours after application).
Pengaruh Durasi Pemanasan terhadap Keberadaan Chrysanthemum Virus-B pada Tiga Varietas Krisan Terinfeksi Budiarto, K; Sulyo, Y; Rahardjo, B; Pramanik, D
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Chrysanthemum virus-B (CVB) merupakan salah satu jenis virus penting yang dapat menyebabkan degenerasi pertumbuhan pada tanaman krisan. Usaha eliminasi virus pada tanaman terinfeksi merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan kembali tanaman sehat dengan potensi genetik yang sesuai dengan varietas asalnya. Usaha eliminasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kombinasi metode pemanasan dan kultur meristem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi pemanasan terhadap kandungan partikel CVB pada plantlet 3 varietas krisan terinfeksi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan Februari hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah 3 varietas krisan yaitu Cut Nyak Dien, Sakuntala, dan Yellow Fiji. Faktor kedua adalah durasi terapi pemanasan dengan 3 taraf, yaitu 1, 2, dan 3 minggu pemanasan suhu 38-40oC. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan toleransi antarvarietas yang dicoba terhadap durasi suhu tinggi akibat perlakuan pemanasan. Pada ketiga varietas yang dicoba, jumlah plantlet hidup pascaperlakuan pemanasan menurun seiring dengan semakin lamanya durasi pemanasan. Persentase plantlet bebas virus semakin meningkat seiring dengan lamanya durasi pemanasan yang dilakukan dan perlakuan pemanasan selama 3 minggu yang diikuti kultur meristem secara efektif dapat membebaskan plantlet krisan dari infeksi CVB.ABSTRACT. Budiarto, K., Y. Sulyo, I.B. Rahardjo, and D. Pramanik. 2008. The Effect of Duration of Heat Treatment on Chrysanthemum Virus-B at Three Varieties of Infected Chrysanthemum. Chrysanthemum virus-B (CVB) is one of the important pathogenic viruses caused significant degeneration on chrysanthemum growth. Efforts have been made to get the healthy protocols by eliminating virus from the infected plants. One of the promising methods was the combination of heat treatments and meristem culture. The research was conducted to find out the influence of heat durations of meristem culture on the existence of CVB on infected chrysanthemum plants. The experiment was carried out in Tissue Culture Laboratory and Virology Laboratory of The Indonesian Ornamental Crops Research Institute from February until August 2005. A randomized completely block design with 5 replications was used. The first factor was 3 chrysanthemum varieties, namely Cut Nyak Dien, Sakuntala, and Yellow Fiji. The second factor was duration of heat treatments; 1, 2, and 3 weeks heat treatments at 38-40oC. The results of the experiment showed that different responses existed among varieties to heat durations. The plantlet survival rates also decreased in line with the length of heat duration. However, the percentage of virus-free plantlets increased along with the lengthened heat treatments. Three weeks heat treatment of meristem culture, effectively eliminated CVB from infected plantlets.
Vaksin CARNA 5 untuk Memproteksi Tanaman Krisan Varietas Reagent Orange dari Infeksi Virus Mosaik Mentimun Rahardjo, I B; Diningsih, E; Sulyo, Y
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu alternatif pengendalian CMV yang menginfeksi tanaman krisan adalah menggunakan vaksin CARNA 5. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh CARNA 5 pada umur tanaman yang berbeda untuk mengendalikan CMV pada varietas krisan Reagent Orange. Penelitian dilaksanakan di Rumahkaca dan Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung, Pacet, Cianjur, Jawa Barat, pada bulan Januari sampai Desember 2002. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan rancangan dasar acak kelompok dengan 3 ulangan. Sebagai petak utama adalah umur tanaman saat disambung, yaitu (1) 2 minggu setelah tanam (MST), (2) 4 MST, dan (3) 6 MST. Sebagai anak petak adalah perlakuan vaksin dan CMV, yaitu (1) perlakuan tanpa vaksin dan tanpa CMV, (2) perlakuan tanpa vaksin tetapi dengan CMV, (3) perlakuan dengan vaksin tetapi tanpa CMV, dan (4) perlakuan dengan vaksin + CMV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang diberi perlakuan vaksin dan tanaman kontrol tidak menunjukkan gejala mosaik. Umur tanaman krisan yang disambung 2, 4 dan 6 MST tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Tinggi tanaman, jumlah bunga, dan diameter bunga krisan Reagent Orange tidak memberikan respons yang nyata terhadap perlakuan CMV, walaupun nilai absorbansi virus pada perlakuan CMV berbeda nyata dibandingkan dengan tanpa perlakuan, perlakuan vaksin, dan perlakuan vaksin + CMV. Kualitas bunga krisan Reagent Orange pada perlakuan vaksin + CMV tidak menampakkan warna yang pecah , sedangkan perlakuan CMV menyebabkan tanaman krisan Reagent Orange menghasilkan bentuk bunga yang abnormal. Perlakuan vaksin dapat memproteksi CMV pada tanaman krisan.ABSTRACT. Rahardjo, I.B., E. Diningsih, and Y. Sulyo. 2008. CARNA 5 Vaccine to Protect Chrysanthemum Reagent Orange Variety Against Cucumber Mosaic Virus (CMV). One of the alternative to control CMV on chrysanthemum was the use of CARNA 5 vaccine. The objective of the experiment was to know the effect of application of CARNA 5 at different plant ages for controlling CMV on chrysanthemum var. Reagent Orange. The experiment was conducted in Virology Laboratory & Screenhouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute at Segunung, Pacet, Cianjur, West Jawa, from January to December 2002. RC BD Split-plot design with 3 replications was used. The main plots were graft inoculation on the plant at 2, 4, and 6 weeks after planting (WAP). The subplot was treatments of vaccine and CMV, i.e. (1) without vaccine and CMV, (2) CMV only, (3) vaccine only, and (4) vaccine + CMV. The results of the experiment showed that chrysanthemum treated with vaccine and control did not show any mosaic symptom. The graft inoculation at 2, 4, and 6 WAP did not show any significant different. Plant height, flower number, and flower diameter did not give significant response to CMV treatment, although virus absorbance value on CMV treatments was significantly different compared to control, vaccine treatment, and vaccine + CMV treatment. The quality of flower color on vaccine + CMV treatment did not show any color breaking, while on CMV treatment produced the abnormal flower form. The vaccine application was able to protect chrysanthemum plants against CMV infection.

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue