cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008" : 26 Documents clear
Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Tanaman Salak Sudjijo, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salak merupakan salah satu jenis buah tropika asli Indonesia yang digemari masyarakat karena rasa daging buahnya khas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan karakteristik unggul beberapa aksesi tanaman salak yang digunakan sebagai tetua terpilih dalam perakitan varietas unggul baru. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, dari bulan November 2006 sampai Juni 2007 menggunakan rancangan acak kelompok dengan 8 aksesi salak sebagai perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tanaman menghasilkan bunga sempurna mandul. Tanaman salak indigenous Sumatera (SSDM-05 dan SSDP-06) menghasilkan buah dengan rasa manis kelat. Tidak ada aksesi tanaman yang menghasilkan buah ukuran besar (>61 g), sedangkan 4 nomor aksesi (SNJK-01, SPHK-03, SPHP-04, dan SSMT-07) menghasilkan buah dengan rasa manis. Dua aksesi (SPHP-04 dan SSMT-07) menghasilkan buah yang bersifat masir. Aksesi SPHP-04 berpeluang dikembangkan sebagai tetua terpilih, karena menghasilkan buah/dompol paling banyak (22 buah), rasa manis (PTT 16,77o Brix), bersifat masir, dan warna daging buah krem menarik.ABSTRACT. Sudjijo. 2008. Characterization and Evaluation of Several Accessions of Salacca edulis. Salacca is one of tropical fruits that was native of Indonesia and preferred by consumers due to the specific fruit flesh taste. The objective of the research was to obtain superior characteristics of salacca accessions potentially for parent lines in breeding programe of new superior varieties. The research was conducted at the Sumani Experimental Garden of Indonesian Tropical Fruits Research Institute from November 2006 to June 2007 using randomized block design with 8 salacca accessions as the treatments and 3 replications. The results showed that all the plants produced sterile hermaphrodite flowers. Indigenous accessions from Sumatera (SSDM-01 and SSDP-06) produced fruit with sweet and astringent, while accessions (SNJK-01, SPHK-03, SPHP-04, and SSMT-07) produced sweet fruit. No accessions produced big size of fruits (>61 g). Friable fruit texture was obtained from SPHP-04 and SSMT-07. Meanwhile SPHK-04 accession has the potency to be used as parent lines because it produced the highest number of fruits per cluster (22 fruits), with TSS 16.77o Brix, friable fruit texture, and creamy color fruit flesh.
Pengaruh Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Jaringan Meristem Kentang Kultivar Granola Karjadi, A K; Buchory, A
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran mulai bulan Maret sampai September 2004 Perlakuannya adalah penumbuhan jaringan meristem kentang varietas Granola pada media MS ditambah suplemen sukrose 30 g/l, air kelapa 100 ml/l, CaP 2 mg/l, myoinositol 100 mg/l, agar 6,5 g/l, pH 5,7, serta zat pengatur tumbuh NAA (0,01, 0,05, dan 0,10 mg/l), BAP/2-ip (0,01 dan 0,05 mg/l). Rancangan menggunakan acak lengkap dengan 19 perlakuan dan setiap perlakuan menggunakan 20 tabung reaksi kultur tanaman yang berisi 3 ml media sebagai ulangan. Hasil yang didapat, 18% jaringan meristem dapat tumbuh menjadi plantlet pada umur 15 minggu setelah tanam. Pertumbuhan jaringan meristem dipengaruhi oleh ketersediaan zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin yang ditambahkan ke dalam media. Penambahan NAA atau sitokinin (BAP, 2-ip) secara tersendiri pada berbagai konsentrasi yang tidak dikombinasikan, memberikan pengaruh yang kurang menguntungkan pada pertumbuhan jaringan meristem. Jaringan meristem kentang Granola tumbuh baik pada media yang berisi kombinasi NAA dan BAP.ABSTRACT. Karjadi, A.K and Buchory A. 2008. The Effect of Auxin and Cytokinin on the Growth of Potato Meristem cv. Granola. The experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute from March until September 2004. The treatments were MS medium with supplement of sucrose 30 g/l, coconut water 100 ml/l, CaP 2 mg/l, myoinositol 100 mg/l, agar 6.5 g/l, pH 5.7, and growth hormone of NAA (0.01, 0.05, 0.10 mg/l) and BAP/2-ip ( 0.01 and 0.05 mg/l). The experiment was arranged in a randomized complete design with 19 medium composition as treatments, and 20 replications of test tube culture with 3 ml medium each treatment. The results showed that 18% of meristem could develop plantlet within 15 weeks after planting. Meristem growth depended on the availability of auxin and cytokinin in the medium. The medium with NAA supplement or cytokinin (BAP, 2-ip) singly, gave negative effect on meristem growth. Granola potato meristem could develop well on combination media of NAA and BAP.
Penggunaan Pestisida Biorasional untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Kentang Suryaningsih, Euis
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan lapang dengan tujuan untuk mengendalikan hama dan penyakit penting pada tanaman kentang menggunakan pestisida biorasional dilaksanakan dari bulan April sampai Juli 2002 di Kebun Percobaan Margahayu (elevasi 1.250 m dpl), Lembang, Bandung, Jawa Barat, jenis tanah Andosol dan iklim tipe B1. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan berupa seperangkat formula pestisida biorasional Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, dan Agonal 866. Pestisida biorasional tersebut diuji dan dibandingkan efikasinya dengan insektisida sintetik Deltametrin 2.5 EC 0,2% dalam mengendalikan hama dan penyakit utama kentang. Hasil penelitian secara jelas mengindikasikan bahwa pestisida biorasional tersebut sama, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan Deltametrin 2.5 EC 0,2% dalam mengendalikan Thrips palmi dan Liriomyza huidobrensis. Di samping itu, beberapa pestisida biorasional juga menunjukkan indikasi mampu mengendalikan penyakit terpenting kentang yaitu Phytophthora infestans.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008. The Use of Biorational Pesticide for Controlling the Important Pests and Diseases on Potato. A field experiment to control important pests and diseases of potato was carried out from April to July 2002 at Margahayu Research Station (elevation 1,250 m asl), Lembang, Bandung, West Java on Andosol soil and B1 type of climate. A randomized block design with 12 treatments and 3 replications was employed. The treatments were a set of biorational pesticide formulas, namely Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, and Agonal 866. The biorational were tested and compared their efficacy with syntetic insecticide Deltamethrin 2.5 EC 0.2 % in controlling key pests and disease of potato. The results of the experiment clearly indicated that biorationals were as effective, and even more effective than Deltamethrin 2.5 EC 0.2% in controlling Thrips palmi and Liriomyza huidobrensis. In addition, some biorational pesticide were also showed good indication in controlling the most important disease of potato, namely late blight Phytophthora infestans.
Identifikasi Kekerabatan Genetik Klon-klon Bawang Putih Indonesia Menggunakan Isozim dan RAPD Hardiyanto, -; Devy, Nirmala Fiyanti; Martasari, Chaereni
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Beberapa klon bawang putih (Allium sativum L.) lokal di Indonesia umumnya diberi nama oleh petani berdasarkan nama daerah atau lokasi, sehingga klon yang secara genetik sama kemungkinan dapat berbeda namanya. Dengan demikian identifikasi klon bawang putih berdasarkan marka biokimia maupun molekuler sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai keragaman dan kekerabatan genetik klon bawang putih lokal. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banaran, Batu mulai bulan Juni sampai dengan November 2005, sedangkan untuk analisis isozim dan RAPD masing-masing dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, Universitas Brawijaya, Malang dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Berdasarkan metode isozim dan RAPD, kisaran nilai kekerabatan genetik yang dihasilkan hampir sama, masing-masing 0,53-0,91 dan 0,54-0,94. Tingkat kekerabatan genetik klon bawang putih lokal cukup rendah. Metode isozim dan 2 primer RAPD, yaitu OPG 18 dan OPN 06 dapat digunakan untuk identifikasi dan penamaan ulang klon bawang putih lokal.ABSTRACT. 2008 Hardiyanto, N.F. Devy, and C. Martasari. 2008 . Identification of Genetic Relationship among Indonesian Garlic Clones Using Isozyme and RAPD. Local garlic clones (Allium sativum L.) in Indonesia mostly was named by growers based on region or location, thus many genetically-identical clones may have different name. Therefore, identification of garlic clones through biochemical and molecular markers were needed. The aim of this research was to obtain the information of genetic variation and relationship of local garlic clones. This research was carried out at Banaran Experimental Garden Batu, from June to November 2005, whereas isozyme and RAPD analyses were conducted in Molecular Biology Laboratorium, Brawijaya University and Indonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research Institute, Bogor, respectively. The value of genetic relationship showed by isozyme and RAPD methods was almost the same, these were 0.53-0.91 and 0.54-0.94, respectively. Level of genetic relationship among local garlic clones was quite low.Isozyme and 2 primers of OPG 18 and OPN 06 were useful for identification and denomination of local garlic clones.
Pengaruh Ekstrak Bahan Nabati dalam Menginduksi Ketahanan Tanaman Cabai terhadap Vektor dan Penyakit Kuning Keriting Duriat, Ati Srie
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kuning keriting pada tanaman cabai yang disebabk an oleh virus Gemini merupakan penyakit yang epidemik di berbagai daerah. Percobaan untuk menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus dan vektor penyakit kuning keriting dengan mengg unakan ekstrak nabati telah dilakukan di Rumah Kasa Virologi dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang selama 6 bulan (Agustus 2003 – Februari 2004). Kegiatan dilakukan 2 tahap di rumah kasa dan di lapangan. Penelitian di rumah kasa mengg unakan rancangan petak terpisah, petak utama terdiri atas 11 perlakuan induksi dengan bahan nabati, yaitu eceng gondok, rumput laut, tembakau, nimba, bunga pagoda, lamtoro, bunga pukul empat, bayam duri, dan kecubung, benzotiadiazol (sebagai pembanding positif), dan kontrol tanpa perlakuan. Anak petak adalah waktu dilakukan infeksi (challenged) dengan virus Gemini pada 24 jam, 5, dan 10 hari setelah induksi dengan ekstrak nabati (perlakuan petak utama). Percobaan kedua di lapangan menggggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan induksi 11 macam ekstrak nabati seperti kegiatan di rumah kaca, dan tanaman cabai yang sudah diinduksi langsung ditanam di lapangan. Hasil penelitian menunjukk an bahwa (1) perlakuan ekstrak nabati umumnya dapat menaikk an tingg i tanaman, menurunkan preferensi serangg a Bemisia terhadap tanaman cabai, memperpanjang masa inkubasi gejala, menekan perkembangan penyakit, dan menaikk an hasil panen, (2) ekstrak nabati yang paling baik untuk menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini adalah berturut-turut bunga pukul empat (Mirabilis jalapa), bayam duri (Amaranthus spinosus), lamtoro (Leucaena glauca), dan bunga pagoda (Clerodendrum japonicum), masing-masing >50%, (3) masa retensi ketahanan sistemik pada tanaman cabai berbeda-beda, yang paling baik adalah 24 jam setelah induksi ekstrak. Makin lama jeda waktu antara induksi dengan terjadinya infeksi (challenging) virus makin rendah daya hambat induser terhadap serangan virus Gemini, dan (4) kecuali bunga pagoda, ekstrak tumbuhan lain meningk atkan hasil panen buah cabai antara 15-37 % di atas kontrol.ABSTRACT. Duriat, A.S. 2008. The Influence of Plant Extract for Inducing Resistance of Chili Pepper Plant Against Pathogen and Vector of Yellow Leafcurl Disease. Yellow leafcurl disease of pepper caused by Gemini virus was epidemic in various areas. An experiment to induce plant resistance on this disease using botanical extract was done in Lembang for 6 months (August 2003-February 2004). The trials were arranged in a split plot design for screenhouse experiment and in a randomized block design for field experiment. The main plot in screenhouse were 11 treatments of extract plant resistence inducer (Eichornia crassipes, Euchema alvarezii, Nicotiana tabacum, Azadirachta indica, Clerodendrum japonicum, Leucaena glauca, Mirabilis jalapa, Amaranthus spinosus, Datura stramoium, plant activator benzothiadiazole, and control). While the subplot consisted of 3 levels of challenging time of Gemini virus, namely: 24 hour, 5 days, and 10 days after inducing time. Field trial was done to determine the influence of extract inducing plant resistance to the yield of pepper pod. The results indicated that (1) extract inducing treatments increased plant height, influenced preference of vector, delayed incubation time of virus symptoms, suppressed virus symptoms, and increased yield of pepper pods, (2) the best botanical extract to suppress virus symptoms were M. jalapa, A. spinosus, L. glauca, and C. japonicum (> 50%), respectively, (3) the best influence of induced systemic resistance was shown at 24 hours after inducing, more time of virus infection would be lower the disease suppression, and (4) except C. japonicum, all botanical extracts increased pod pepper yield between 15-37 % above control.
Pengaruh Konsentrasi Benzil Adenin terhadap Kualitas Pascapanen Dracaena sanderiana dan Codiaeum variegatum Fuadi, Muhammad; Hilman, Yusdar
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh berbagai konsentrasi benzil adenin �B� � � (BA) terhadap kualitas Dracaena sanderiana dan Codiaeum variegatum pada saat simulasi pengangkutan melalui laut (di ruang gelap). Perlakuan terdiri dari konsentrasi BA: 0 (kontrol), 75, 150, 225, dan 300 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitias D. sanderiana dan C. variegatum pada parameter laju fotosintesis, konduktansi stomata, kadar klorofil, tinggi tanaman, dan kelas tanaman dipengaruhi oleh benzil adenin. Pada D. sanderiana laju fotosintesis (6,74 μmol/m2/det) dan kandungan klorofil tertinggi dicapai pada konsentrasi 300 mg/l, sedangkan pada C. variegatum tertinggi (5,40 μmol/m2/det) pada konsentrasi 150 mg/l. K� � � � Kadar fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kandungan klorofil. Kadar fotosintesis pada perlakuan ini 2 kali lipat bila dibandingkan dengan perlakuan lain. Konduktansi stomata, berat segar daun, dan kelas tanaman juga dipengaruhi oleh konsentrasi BA. Kadar fotosintesis dan kandungan klorofil pada D. sanderiana di mana tanaman yang diberi perlakuan 300 mg/l BA menunjukkan bahwa tanggap tanaman lebih baik dan kebutuhan C. variegatum memerlukan konsentrasi yang lebih rendah (150 mg/l BA). Kelas tanaman yang lebih baik seperti warna daun hijau gelap dan segar. Dracaena sanderiana dan C. variegatum masing-masing menghendaki konsentrasi BA 300 mg/l (4,50 = kualitas sangat baik) dan 150 mg/l (4,17 = kualitas sangat baik).ABSTRACT. Fuadi, M. and Y. Hilman. 2008. The Effect of Benzyl Adenine Concentration on Postharvest Quality of Dracaena sanderiana and Codiaeum variegatum. This study was carried out with the main objective of looking at the effects of benzyl adenine (BA) on the growth and quality retention of Dracaena sanderiana and Codiaeum variegatum during simulation of subsequent shipping conditions (in the dark chamber). Concentrations of BA applied were 0 (control), 75, 150, 225, and 300 mg/l. The results showed that the growth and plant quality of D. sanderiana and C. variegatum in terms of photosynthesis rate, stomatal conductance, chlorophyll content, plant height, and plant grade were significantly (p<0.05) affected by BA. The highest photosynthesis rate (6.74 μmol/m2/sec.) and chlorophyll content were found on D. sanderiana sprayed with 300 mg/l BA, while C. variegatum gave the highest photosyntesis rate (5.40 μmol/m2/sec.) at application of 150 mg/l BA. As expected, photosynthesis rate increased with higher chlorophyll content. The photosynthesis rate for both treatments were double compared to the other treatments. Stomatal conductance, leaf fresh weight, and plant grade were also significantly (p<0.05) affected with different concentrations of BA. Similar to the photosynthesis and chlorophyll content of D. sanderiana, plants sprayed with 300 mg/l BA showed a better growth response, while C. variegatum needs lower concentrations (150 mg/l BA). In order to obtain a good plant grade in term of leaf freshness, D. sanderiana and C. variegatum required BA concentration of 300 mg/l (4.50 = excellent quality) and 150 mg/l (4.17 = excellent quality) respectively
Idiotipe Durian Nasional Berdasarkan Preferensi Konsumen Santoso, Panca Jarot; Novril, -; Anwaludin syah, Muhamad Jawal
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Survei untuk menetapkan karakter idiotipe durian nasional berdasarkan preferensi konsumen terhadap karakter fisik dan citarasa (biofisik) dilakukan dari bulan November 2005 sampai Oktober 2006 di 7 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Tengah. Sampel dipilih menggunakan kaidah purposive random sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket dan wawancara terhadap 430 responden yang terdiri atas pegawai negeri sipil dan pensiunan, karyawan dan wiraswasta, pedagang buah, pekebun, penangkar bibit, pelajar, dan ibu rumah tangga. Hasil survei menunjukkan bahwa karakter biofisik dominan yang menjadi penentu responden memilih durian adalah ukuran buah sedang (1,6-2,5 kg), aroma kuat, daging tebal bertekstur lembut kering (pulen), dan rasanya manis legit, sedangkan bentuk buah lonjong, warna kulit hijau coklat, panjang duri sedang, warna daging kuning, serta biji berukuran kecil diidentifikasi sebagai karakter pendamping. Karakter-karakter biofisik dominan tersebut menggambarkan suatu karakter idiotipe durian nasional. Karakter ini disarankan sebagai acuan bagi pekebun dalam memilih varietas durian yang akan dikembangkan dan bagi pemulia tanaman durian untuk merakit atau menyeleksi varietas unggul baru.ABSTRACT. Santoso, P. J., Novaril, M. Jawal A. S., T. Wahyudi, and A. Hasyim. 2008. Idiotype of National Durian Based On Consumer’s Preference. A survey to determine idiotype characters of Indonesian durian based on consumer’s preference on fruit biophysic was conducted from November 2005 to October 2006 in 7 provinces of North Sumatera, West Sumatera, DKI Jakarta, Banten, West Java, East Java, and Central Kalimantan. Samples were determined using purposive random sampling. Data was collected through questioner distribution and interview on 430 respondents consisted of active and retirement government official, functionary and entrepreneur, durian trader, grower, nurseryman, student, and housewife. The results indicated that the predominant biophysic characters driving consumer to pick durian which denoting the idiotype of current Indonesian durian were medium fruit size (1,6-2,5 kg), strong aroma, thick flesh, fatty flesh texture, and deep-sweet flesh taste. Meanwhile, oblong shape, green brownish skin, medium spine, yellow aril, and small seeds are identified as co-idiotype characters. This idiotype was predicted persistent for next 10-20 years. It is, therefore, recommended as guidance for grower to choose the available durian varieties to be planted, and for durian breeder to establish or select new superior varieties.
Segmentasi Pasar dan Pemetaan Persepsi Atribut Produk Beberapa Jenis Sayuran Minor (Under-utilized) Adiyoga, Witono; Ameriana, Mieke; Soetiarso, Thomas Agus
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan penelitian survai konsumen dilaksanakan di Kelurahan Sukasari dan Lembang, Bandung, Jawa Barat pada bulan Agustus-November 2004. Responden dipilih menggunakan metode multistage cluster sampling. Responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dipilih secara acak dan proporsional dari kedua kelurahan tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Pada studi awal ini komoditas sayuran minor (under-utilized) yang dipilih adalah koro/roay jengkol, katuk, kecipir, dan labu siam. Untuk keperluan mempelajari posisi sayuran minor tersebut dipilih pula 4 komoditas lain yang dapat dianggap sebagai padanan atau substitusi, yaitu kacang jogo, bayam, kacang panjang, dan zukini. Atribut produk yang dipelajari meliputi (a) kandungan gizi tinggi, (b) berfungsi juga sebagai obat, (c) rasa enak, (d) tahan simpan, (e) harga mahal, dan (f) mudah diperoleh di pasar. Penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi segmentasi pasar dan memetakan persepsi konsumen menyangkut beberapa atribut produk sayuran minor. Hasil penelitian mengidentifikasi 2 klaster atau segmen konsumen untuk setiap komoditas dengan karakteristik yang berbeda. Jumlah anggota klaster 1 secara konsisten selalu lebih besar dibandingkan klaster 2 untuk semua komoditas, sehingga upaya perbaikan untuk semua komoditas sayuran minor disarankan lebih diarahkan ke segmen konsumen yang pertama. Sementara itu, berdasarkan perbandingannya dengan komoditas padanan/substitusi (kacang jogo, bayam, zukini, dan kacang panjang), atribut produk yang perlu diperbaiki adalah atribut rasa enak dan gizi tinggi (kacang koro/roay), fungsi sebagai obat dan ketahanan simpan (labu siam), serta ketersediaan (kacang koro/roay, katuk, dan kecipir).ABSTRACT. Adiyoga, W., M. Ameriana, and T. A. Soetiarso. 2008. Market Segmentation and Perceptual Mapping of Product Attributes of Some Minor/under-utilized Vegetables. Consumer surveys were carried out in Sukasari and Lembang Subdistrict, Bandung, West Java from August to November 2004. This study was aimed to identify market segmentation and consumer’s perceptual mapping regarding product attributes of some minor (under-utilized) vegetables. Multi-stage cluster sampling was used to select 50 respondents who were proportionally and randomly drawn from those 2 subdistricts. Data were gathered through interviews by using a structured questionnaire. In this preliminary study, 4 minor vegetables were chosen; those were lima bean, stragooseberry, winged bean, and chayote. For the purpose of examining the product positioning of these 4 minor vegetables, 4 other vegetables that were considered as their substitute (bean, spinach, yard-long bean, and zucchini) were also involved. Product attributes examined were (a) high nutrient content, (b) medicinal purpose, (c) taste good/delicious, (d) long shelf-life, (e) price/expensive, and (f) availability. Results have identified 2 clusters or 2 market segments with different characteristics for each commodity. Number of cases/respondents in cluster 1 was consistently larger than that in cluster 2 for all commodities. Hence, the effort for improvements was suggested to be more focus to cluster 1 or consumer segment 1. Meanwhile, based on the comparison with their substitutes, some attributes that should be considered for improvement were taste and nutrient content (for lima bean), medicinal purpose, and shelf-life (for chayote), and availability (for lima bean, stragooseberry, and winged bean).
Pengaruh Lama Penyimpanan Entris terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Beberapa Varietas Avokad Anwarudin syah, Muhammad Jawal
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kendala yang sering dihadapi dalam perbanyakan avokad secara sambung pucuk adalah jauhnya jarak antara pohon induk dengan lokasi pembibitan, sehingga dibutuhkan waktu agak lama mulai dari pengambilan entris sampai penyambungan. Selain itu jumlah bibit yang akan disambung sering dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak bisa disambung dalam waktu sehari dan entris yang belum tersambung harus disimpan untuk keesokan harinya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan entris terhadap keberhasilan sambung pucuk beberapa varietas avokad. Penelitian dilakukan di rumah pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok selama 6 bulan mulai Juni sampai Desember 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor perlakuan pertama adalah lama penyimpanan entris yang terdiri dari 3 taraf, yaitu entris tidak disimpan, entris disimpan selama 2 dan 4 hari, sedangkan faktor kedua adalah varietas avokad yang terdiri dari varietas Mega Murapi, Mega Gagauan, dan Aripan. Setiap unit perlakuan terdiri dari 5 tanaman yang disambung. Parameter yang diamati meliputi persentase keberhasilan penyambungan, persentase pecah tunas, panjang tunas, dan jumlah daun yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya penyimpanan entris mempengaruhi keberhasilan sambung pucuk dan panjang tunas, yaitu semakin lama entris disimpan semakin rendah tingkat keberhasilan sambung pucuk dan semakin pendek tunas yang terbentuk. Interaksi antara lama penyimpanan entris dengan varietas berpengaruh terhadap persentase pecah tunas dan pembentukan daun bibit sambung avokad.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah. 2008. The Effect of Scion Storage on Successfulness of Top Grafting of Some Avocado Varieties. Problems encountered in avocado top grafting multiplication was the long distance between mother plant and the nursery location, so that took some times for scion to be grafted. Beside that, in case of big quantity of seedling should be prepared, the work would not be finished within a day. Experiment was conducted in nursery house of Indonesian Tropical Fruits Research Institute Solok from June to December 2005, and arranged in a 3 x 3 factorial with 3 replications. The first factor was scion storage duration which consisted of 0, 2, and 4 days and the second factor was avocado varieties which consisted of 3 varieties: Mega Murapi, Mega Gagauan, and Aripan. Each treatment consisted of 5 grafted plants. Parameter observed were the percentage of top grafted successfulness, percentage of bud break, leaf number, and shoot length. The results showed that scion storage duration affected top grafting successfulness and shoot length of grafted avocado. There was an interaction between scion storage duration and avocado varieties on the percentage of bud break and leaf number of grafted seedling avocado.
Pengaruh Pemberian Zn dan P terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Varietas Japanese citroen pada Tanah Inseptisol Juliati, S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian untuk mempelajari status dan ketersediaan Zn dan P dengan teknologi isotop dan mengetahui pengaruh pemberian Zn dan P terhadap pertumbuhan tanaman jeruk fase bibit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor, menggunakan tanah Inseptisol dari Pasir Pangaraian, Riau. Perlakuan yang diberikan adalah kombinasi pemberian Zn (0, 10, 20, 30, dan 40 ppm) dan P (0, 0,5, 1, dan 1,5 x serapan maksimum P), dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Zn dan P secara nyata meningkatkan serapan Zn dan P. Sebaliknya, pemberian Zn dan P tidak memberikan pengaruh terhadap berat tanaman dan diameter batang. Serapan Zn total dan serapan P tanaman berkorelasi positif dengan berat kering tanaman, berturut-turut (r = 0,470**) dan (r = 0,836**). Sementara serapan P berkorelasi negatif dengan serapan Zn dari pupuk (r = -0,042) dan efisiensi serapan Zn pupuk (r = -0,012). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur Zn dan P mempunyai hubungan antagonis, untuk itu pada saat pemberian pupuk P harus juga mempertimbangkan ketersediaan unsur Zn. Penelitian ini juga mengindikasikan pentingnya unsur Zn pada tanaman jeruk fase bibit di samping unsur P, dalam meningkatkan berat kering tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2008. The Effect of Zn and P on the Growth of Japanese citroen (JC) Seedling in Inceptisol Soil. The objective of the research was to study the status and the availability of Zn and P using isotop technology, and to know the effect of Zn and P application on the growth of JC seedling. The research was conducted at the Department of Soil Science, Bogor Agriculture University using Inceptisol soil from Pasir Pangaraian, Riau. The treatments were combination of Zn ( 0, 10, 20, 30, and 40 ppm) and P (0, 0.5, 1.0, and 1.5 x max sorption of P), with 3 replications. The results showed that the treatment significantly increased Zn and P uptake. On the contrary, the application of Zn and P did not show any significant effect on plant height and trunk diameter. Positive correlations were recorded between Zn uptake and total dry matter (r = 0.470**) as well as between P uptake and total dry matter (r =0.836**). While P uptake had a negative correlation to Zn uptake (r = –0.042) and the efficiency of Zn uptake (r = -0.012). The results of this study described that Zn and P have an antagonistic correlation, so when applying P, the availability of Zn should be considered. The study also indicated that Zn was very important micronutrient besides P in increasing plant dry matter.

Page 1 of 3 | Total Record : 26


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue