cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009" : 24 Documents clear
Induksi Mutasi Kecombrang (Etlingera elatior) Menggunakan Iradiasi Sinar Gamma Dwiatmini, Kristina; Kartikaningrum, Suskandari; Sulyo, Yoyo
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Etlingera elatior merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi untuk dijadikan sebagai bunga potongbernilai komersial. Penelitian untuk mendapatkan keragaman yang luas telah dilaksanakan di Pusat Penelitian danPengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Pasar Jumat Jakarta dan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung daribulan Juni 2003 sampai Januari 2004 untuk mendapatkan variabilitas genetik kecombrang yang luas. Biji kecombrangdiiradiasi sinar gamma dengan dosis 0, 20, 40, 60, 80, dan 100 Gy, dengan laju dosis 2,044437 KGy/jam. Pengamatandilakukan pada jumlah tanaman yang tumbuh serta banyaknya tanaman normal dan abnormal. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa LD50 adalah 62,074 Gy. Makin tinggi dosis, pertumbuhan tanaman makin terhambat. Pada dosis20-40 Gy, sebagian tanaman mengalami perubahan bentuk dan chimera, sedangkan dosis 60 Gy menyebabkan seluruhtanaman menunjukkan perubahan bentuk. Dosis anjuran iradiasi pada biji kecombrang adalah 20-40 Gy.ABSTRACT. Dwiatmini, K., S. Kartikaningrum, and Y. Sulyo. 2009. Mutation Induction of Etlingera elatiorUsing Gamma Ray Irradiation. The torch ginger (Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith) is believed native to Indonesia,and has the potential for commercial cut flower. The experiment was conducted at Indonesian Isotope Technologyand Radiation Researh Institute, Pasar Jumat Jakarta and Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunungfrom June 2003 until January 2004. The aim of the experiment was to obtain a wide torch ginger genetic variability.The torch ginger seeds was irradiated by gamma ray at 6 levels of 0, 20, 40, 60, 80, and 100 Gy, under 2.044437KGy/h dosage rate. Number of survival plants, normal and abnormal plants were evaluated. The results showed thatthe LD50 was at 62.074 Gy. The higher the dosage, the more restricted the growth. Dosages of gamma rays between20-40 Gy, resulted in chimeras for some plants. While 60 Gy dosage, all plants showed chimeras. Recomended dosagegamma ray irradiation for torch ginger seed was at the range of 20-40 Gy.
Kemampuan Regenerasi Kalus Segmen Akar pada Beberapa Klon Bawang Putih Lokal Secara In Vitro Devy, Friyanti Nirmala; Hardiyanto, Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Regenerasi tanaman bawang putih dapat dilakukan menggunakan kalus sebagai bahan. Namun metodeini dapat juga digunakan untuk perbanyakan, terutama pada produksi tanaman bebas virus. Tujuan penelitian ialahmemperoleh komposisi media yang sesuai untuk pertumbuhan kalus dan regenerasi beberapa klon bawang putih.Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika mulaiMaret 2005 sampai dengan Agustus 2006. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap faktorial dengan 2perlakuan dan 6 ulangan. Induksi kalus dilakukan pada segmen apikal akar bawang putih yang ditanam secara invitro. Persentase jumlah eksplan yang berkalus cukup tinggi, berkisar antara 70-100% pada media MS+0,2 g/l CH +1 ppm 2.4 D maupun media MS + 1 ppm 2.4 D + 0,1 ppm IAA. Meskipun demikian, hanya 2 klon yang memberikanrespons pertumbuhan dan regenerasi kalus yang lebih baik dibandingkan klon lainnya, yaitu Lumbu Kuning danTawangmangu. Pada fase regenerasi menggunakan media MS + 1 ppm kinetin dan MS + 1 ppm IAA + 10 ppm 2-ip,kalus embrionik dari 2 klon tersebut menghasilkan persentase akar yang paling tinggi, masing-masing sebesar 60dan 70% dengan kisaran jumlah akar/eksplan mencapai 2-6 buah. Jumlah planlet berkisar antara 5-10 buah. Padafase perkembangan selanjutnya umbi mikro terbentuk sempurna.ABSTRACT. Devy, N.F. and Hardiyanto. 2009. Regeneration Capacity of Callus-derived from Root Segmentsof Several Local Garlic Clones. The regeneration of garlic using callus as explants is usually used for breedingprogram such as genetic transformation activities. However, this method can also be used as propagation method,especially for virus-free planting maerials. The experiment was carried out at Tissue Culture Laboratory, IndonesianCitrus and Subtropical Fruit Research Institute from March 2005 to August 2006. The experiment was arranged ina factorial randomized complete design with 2 treatments and 6 replications. The callus induction was derived fromgarlic apical root segment via in vitro. The percentage of total explants that produce callus was very high (70-100%)on both medium MS+0.2 g/l CH + 1 ppm 2,4 D and MS + 1 ppm 2, 4 D + 0.1 ppm IAA. Nevertheless, it was only2 clones that gave better callus growth and regeneration responses than others, these were Lumbu Kuning andTawangmangu. On the subculture medium (MS + 1 ppm kinetin and MS + 1 ppm IAA + 10 ppm 2-ip), the percentageof rooted embryogenic callus of both Lumbu Kuning and Tawangmangu were also high, i.e. 60 and 70% respectivelywith 2-6 roots/explant. Shoots grew as a mass, with total shoots number of 5-10 per a mass. Normal micro bulbletswere produced in the next development phase
Pengaruh Pemotongan Akar dan Umur Bibit terhadap Pertumbuhan dan Jenis Seks Tanaman Pepaya Triatminingih, Rahayau
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Persilangan antartanaman menghasilkan populasi segregasi dengan proporsi seks yang berbeda-beda.Dalam persilangan tanaman, identitas varietas menjadi kunci utama. Di sisi lain teknik identifikasi seks sejak fase benihsangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensi dalam uji persilangan. Tujuan penelitianadalah mengetahui tipe seks yang terjadi akibat pengaruh perlakuan pemotongan akar dan umur bibit pada pepaya.Penelitian dilaksanakan di Probolinggo, Jawa Timur, pada bulan April sampai dengan Desember 2001. Penelitianmenggunakan rancangan petak terpisah dengan 4 ulangan. Petak utama adalah varietas yang dikombinasikan denganumur bibit, dan anak petak adalah akar yang tidak dipotong dan dipotong. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperlakuan pemotongan akar tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup dan persentase tanaman berbunga.Umur bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup, tetapi berpengaruh nyata terhadap persentaseberbunga. Pemotongan akar mempengaruhi persentase tanaman sempurna dan persentase tanaman betina, tetapi tidakberpengaruh nyata terhadap persentase tanaman berbunga jantan. Untuk meningkatkan persentase tanaman sempurnapada varietas Dampit, bibit ditanam pada umur 3 minggu setelah di polibag. Pemotongan akar pada varietas Sarironaumur bibit 3 minggu dalam polibag menyebabkan penurunan persentase tanaman betina secara nyata. Persentasetanaman sempurna pada varietas Dampit berbeda nyata dengan varietas Sarirona.ABSTRACT. Triatminingsih. R. 2009. The Effects of Root Cutting and Seedling Age on the Growth and SexType of Papaya. Out crossing the plant produces population segregation with variation of sex types in differentproportion. In plant crossing, identity of variety is the main key. On the other hand, sex identification technique atearly seedling stage is needed in order to accelerate generation cycle and to increase efficiency on crossing assessment.The objective of this research was to determine the influence of root cutting and seedling age on the growth and sextype of papaya. The research was conducted in Probolinggo, East Java, from April to December 2001. The split plotdesign with 4 replications was used in this experiment, where combination of variety and seedling age as the mainplot, and root cutting as the subplot. The results of this experiment showed that root cutting did not significantly affectthe percentage of survival and the flowering plant. Seedling age significantly affected the percentage of floweringplant, but not on the percentage of survival. Root cutting at seedling stage could affect the percentage of femaleflower and hermaphrodite flower. Root cutting on papaya seedling Sarirona variety at 3 weeks after transplantingin the polybag could decrease the percentage of female flower. While Dampit variety transplanted after 3-week inthe polybag without root cutting gave higher percentage of hermaphrodite flower. The percentage of hermaphroditeflower on Dampit variety was significantly different from Sarirona variety.
Respons Tanaman Tomat terhadap Penggunaan Pupuk Majemuk NPK 15-15-15 pada Tanah Latosol pada Musim Kemarau Subhan, -; Nurtika, Nunung; gunadi, Nikardi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan bertujuan mendapatkan dosis pupuk majemuk NPK 15-15-15 yang optimal untuk pertumbuhandan hasil, serapan N, P, dan K pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada tanah Latosol milik petani di DesaSukaresik (700 m dpl), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada bulan Mei sampai November 2005. Perlakuan pupukmajemuk NPK 15-15-15 dosis 0, 250, 500, 750, 1.000, dan 1.250 kg/ha disusun dalam rancangan acak kelompokdengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk majemuk NPK 15-15-15 dosis 1.000 kg/hamemberi pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman, serapan N, P, dan K, bobot basah dan kering tanaman serta hasilbuah tomat. Kebutuhan pupuk untuk tanaman tomat pada tanah Latosol di Sumedang adalah 213,07 kg N/ha, 28,51kg P/ha, dan 35,69 kg K2O/ha.ABSTRACT. Subhan, N. Nurtika, and N. Gunadi. 2009. Response of Tomato Plant to Compound FertilizerNPK 15-15-15 in Dry Season. An experiment was set up to determine the optimum dosage of compound fertilizerNPK 15-15-15, and uptake of N, P, and K on tomato grown in Latosol soil type. The experiment was conducted atfarmer’s field in the village of Sukaresik Sumedang District (700 m asl), West Java from May until November 2005.The treatments were dosages of compound fertilizer NPK 15-15-15, i.e. 0, 250, 500, 750, 1,000, and 1,250 kg/ha,arranged in a randomized block design with 3 replications. The results showed that dosage of NPK 15-15-15 at 1,000kg/ha gave the best results to the plant height, N, P, K uptake, wet and dry weight of tomato plant, as well as yield oftomato. It could be recommended that fertilization on tomato on latosol soil type in Sumedang was 213.07 kg N/ha,28.51 kg P/ha, and 35.69 kg K2O/ha.
Aplikasi Jenis Bahan Baku Utama dan Bahan Aditif terhadap Kualitas Media Bibit Induk Jamur Shiitake Sumiati, Ety; Sopha, Gina A
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Aplikasi media bibit induk jamur shiitake yang berkualitas merupakan salah satu persyaratan pentingyang perlu diperhatikan agar pertumbuhan miselium bibit berlangsung cepat. Penelitian dilakukan di LaboratoriumEkofisiologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.) dari bulan Agustus sampai Desember 2005.Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan jenis bahan baku utama serta jenis suplemen untuk media bibit induk/spawn jamur shiitake yang terbaik. Kualitas media bibit dinyatakan dalam satuan waktu, yaitu berupa waktu yangdibutuhkan oleh miselium bibit tumbuh memenuhi botol/wadah media bibit. Rancangan percobaan menggunakanpetak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama, berupa jenis bahan baku utama media bibit jamur shiitake yang terdiriatas 7 faktor, yaitu millet, SKG kayu keras, jerami padi, bagas tebu, millet + SKG kayu keras 1:1, millet + bagas tebu1:1, dan millet + bagas tebu 1:1. Anak petak berupa jenis suplemen media bibit, terdiri atas 7 faktor, yaitu bekatul,tepung tapioka, tepung jagung, tepung beras merah, tepung terigu, bekatul gandum, dan pakan ayam DOC masingmasing5%. Bibit jamur shiitake menggunakan Lentinus edodes strain No. MES 02089-XR berasal dari AppliedPlant Research, Belanda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahan baku utama untuk menyusun formula mediabibit jamur shiitake yang terbaik adalah bagas tebu yang cocok dikombinasikan dengan ketujuh jenis suplemen yangditeliti. Media bibit memberikan pertumbuhan awal dan akhir miselium yang tercepat dengan waktu pencapaianpersentase pertumbuhan maksimum (100%) miselium bibit jamur shiitake yang paling singkat, yaitu antara 15-17,5hari setelah inokulasi bibit kultur murni pada media bibit induk.ABSTRACT. Sumiati, E. and G.A. Sopha. 2009. The Application of Main Raw Materials and Supplementson Mother Spawn Quality of Shiitake. The application of good quality of mother spawn media is an importantrequirement to get faster growth of shiitake mycelium. The experiment was conducted at the Ecophysiology Laboratory,Indonesian Vegetables Research Institute, in Lembang (1,250 m asl.) from August to December 2005. The goal ofthis experiment was to find out the best raw material in combination with the proper supplement of spawn media forshiitake. Criteria of the best quality of spawn media was expressed by the duration needed by shiitake mycelium tofully covered spawn media. A split plot design with 3 replications was set up. The main plot was 7 main raw materialsof mother spawn media, comprised of millet, sawdust of hardwood, rice straw, sugarcane bagasse, millet + sawdust ofhardwood (1:1), millet + rice straw (1:1), and millet + sugarcane bagasse (1:1). While the subplot was 7 supplements,comprised of rice bran, cassava flour, corn flour, red rice flour, wheat flour, wheat bran, and a day old chicken feedwith the dosage of 5% each. Shiitake applied was Lentinus edodes strain No. MES 02089-XR from Applied PlantResearch, The Netherlands. Research results revealed that the best main raw materials for mother spawn media wassugarcane bagasse in combination with all kinds of supplements applied in this research (7 kinds of supplements).It gaves the fastest growth of shiitake mycelium with the shortest duration of maximum mycelium growth (100%)varies from 15 to 17.5 days after inoculation of pure culture to mother spawn media.
Pengaruh Pembenaman Residu Tanaman Penutup Tanah Kacang-kacangan dan Mulsa Jerami terhadap Hasil Cabai Merah dan Kesuburan Tanah Andisol Sumarni, Nani; Rosliani, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) Lembang,dari bulan November 2004-Maret 2005. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh residu tanaman penutup tanahkacang-kacangan dan mulsa jerami yang dibenamkan ke dalam tanah terhadap hasil cabai merah dan kesuburan tanahAndisol Lembang. Rancangan percobaan digunakan acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas 9 perlakuanpembenaman residu-residu tanaman kacang tanah, kacang jogo, dan mulsa jerami, serta 1 perlakuan pemberian pupukkandang sebagai kontrol. Pada semua perlakuan (kecuali kontrol) ditanami kembali kacang tanah dengan jarak tanam50 x 30 cm sebagai tanaman penutup tanah. Tanaman cabai merah varietas Hot Beauty ditanam pada petak-petakpercobaan dengan jarak tanam 50 x 60 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian residu-residu kacang tanah,kacang jogo, mulsa jerami, dan pemberian pupuk kandang tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhandan hasil cabai merah, serta kesuburan tanah Andisol Lembang. Pembenaman residu tanaman penutup tanah kacangtanah sebanyak 7 t/ha + residu mulsa jerami 5 t/ha dengan penanaman kembali kacang tanah sebagai tanaman penutuptanah merupakan perlakuan paling baik untuk memelihara kesuburan tanah Andisol-Lembang dan hasil cabai merah.ABSTRACT. Sumarni, N. and R. Rosliani. 2009. The Effect of Buried Leguminosae Cover Crops and RiceStraw Mulch Residues in the Soil on the Yield of Hot Pepper and Fertility of Andisol Soil. This experiment wasconducted at Experimental Garden of Indonesian Vegetables Research Institute from November 2004 until March2005. The objectives of this experiment were to evaluate the effects of leguminosae cover crops and rice straw mulchresidues which were buried in the soil on yield of hot pepper and fertility of Andisol soil-Lembang. A randomized blockdesign with 3 replications was used in this experiment. The treatments were 9 buried cover crop residues, consistedof peanut, red bean, and rice straw mulch, and 1 treatment of stable manure as a control. Peanut cover crops withplanting distance of 50 x 30 cm were replanted in all experimental plots (except control). Hot pepper var. Hot Beautywas used in this experiment with planting distance of 60 x 50 cm. The results showed that the buried residues of peanutcrops, red bean crops, rice straw mulch, and stable manure application did not significantly affect the growth and yieldof hot pepper, and fertility of Andisol soil. Peanut cover crops residue 7 t/ha + rice straw mulch residue 5 t/ha, withreplanted peanut crop as cover crops was the best treatment to maintain fertility of Andisol soil and yield of hot pepper.
Pemanfaatan Mikoriza, Bahan Organik, dan Fosfat Alam terhadap Hasil, Serapan Hara Tanaman Mentimun, dan Sifat Kimia pada Tanah Masam Ultisol Rosliani, Rini; Hilman, Yusdar; Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilakukan di lahan petani di daerah Kabupaten Lebak, Banten. Jenis tanah Ultisol dengankandungan P rendah dan karakteristik fisik yang buruk. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh inokulasicendawan mikoriza arbuskula, penyediaan bahan organik dari pupuk kandang domba, dan dosis fosfat alam terhadapserapan P oleh tanaman, hasil mentimun, dan kandungan hara tanah masam Ultisols. Penelitian dilaksanakan daribulan Juli sampai Oktober 2004. Perlakuan terdiri atas 3 dosis fosfat alam, pupuk kandang domba, dan inokulasimikoriza. Kombinasi perlakuan seluruhnya ada 12 dengan 3 ulangan yang disusun dalam rancangan acak kelompokfaktorial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang domba meningkatkan efisiensi penggunaanfosfat alam, bobot buah, dan serapan hara. Interaksi antara mikoriza dengan pupuk P dan bahan organik denganpupuk P berpengaruh nyata terhadap serapan P. Tanpa pupuk kandang domba maupun tanpa mikoriza, dosis P yangdibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun adalah 200 kg P2O5 /ha, sedangkan dengan pupuk kandang dombamaupun dengan mikoriza dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun yang sama hanya 100 kgP2O5 /ha dan kombinasi perlakuan tersebut meningkatkan ketersediaan P tanah. Inokulasi mikoriza tanpa bahanorganik menurunkan pH tanah. Penggunaan fosfat alam pada dosis tinggi dengan adanya bahan organik meningkatkansenyawa Ca-P pada tanah Ultisols. Teknologi yang diperoleh dari penelitian ini sangat berguna untuk pengembangantanaman sayuran pada tanah-tanah masam atau lahan marginal seperti Ultisols.ABSTRACT. Rosliani, R. , Y. Hilman, and N. Sumarni. 2009. The Effect of Rock Phosphate Fertilizer and SheepManure Application, and Arbuscular Mycorrhizae Fungi Inoculation on the Growth and Yield of Cucumberin Ultisol Acid Soil. The experiment was conducted at the farmer field in Lebak District of Banten Province. Thesoil was Ultisols with low available P and poor physical property. The objectives of this experiment was to study theeffect of rock phosphate and sheep manure application, and arbuscular mycorrhizae fungi inoculation on the growth,P uptake, and yield of cucumber in acid soil. The treatments consisted of 3 levels of rock phosphate, 2 levels of sheepmanure, and 2 levels of mycorrhizae inoculation. All treatment combinations were arranged in factorial randomizedblock design with 3 replications. The results showed that sheep manure supply could increased the efficiency ofrock phosphate application, growth, yield of cucumber, and nutrient uptake. The effect of mycorrhizae inoculationwas more clear when accompanied by sheep manure supply. Interaction of sheep manure and rock phosphate ormycorrhizae inoculation and rock phosphate significantly increased P uptake. Without sheep manure supply andwithout mycorrhizae inoculation, 200 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed compare with sheep manure supplyand mycorrhizae inoculation, which only required 100 kg P2O5/ha of rock phosphate to reach the same productivity ofcucumber fruit, and these treatment combination P availability were also increased. Mycorrhizae inoculation withoutsheep manure could decrease the soil pH. Rock phosphate at high dosage with sheep manure could increase Ca-Pon Ultisols acid soil. The results of the experiment could be benefit for the development of vegetables on acid soilsor marginal land such as Ultisols.
Jenis Suplemen Substrat untuk Meningkatkan Produksi Tiga Strain Jamur Kuping Sumiati, Ety
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Daya hasil jamur kuping (Auricularia spp.) masih perlu diperbaiki. Penelitian bertujuan untukmendapatkan jenis suplemen substrat jamur kuping yang sesuai. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisahdengan 3 ulangan. Petak utama strain jamur kuping, yaitu Auricularia sp-7, Auricularia sp-11, dan Auriculariasp-12. Anak petak terdiri atas 12 jenis suplemen substrat, yaitu bekatul beras 10%, tepung jagung 10%, tepungsingkong/tapioka 10%, ekstrak toge 100 g/l, tepung kacang hijau 10%, kaldu daging sapi 10 g/l, air kelapa segar,NPK 15-15-15 0,1 g/l, asam humik /bionature 0,1 ml/l, ZPT Atonik 0,1 ml/l, PPC Multitonik 0,1 ml/l, dedak 10%,dan kontrol (tanpa suplemen). Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.),Jawa Barat dari bulan Desember 2004 sampai Juli 2005. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada umumnyaaplikasi suplemen alamiah dan sintetik meningkatkan hasil jamur kuping. Bobot segar jamur kuping yang tertinggiberasal dari Auricularia sp11 yang dibudidayakan pada substrat dengan penambahan suplemen NPK 15-15-15 0,1g/l (827,0 g/kg substrat basah), atau PPC Multitonik 0,1 ml/l (899,9 g/kg substrat basah), dan dari Auricularia sp-12 yang dibudidayakan pada substrat dengan penambahan suplemen kaldu daging sapi (872,3 g/kg substrat basah).Bobot segar jamur kuping tertinggi tersebut diperoleh dalam kurun waktu berproduksi selama 124-146 hari denganpanen sebanyak 21-23 kali.ABSTRACT. Sumiati, E. 2009. The Application of Substrate Supplement to Increase the Productivity of ThreeEar Mushroom Strains. The yield of ear mushroom (Auricularia spp.) was necessary to be improved. The goal ofthis experiment was to find out the proper supplements for substrate of ear mushrooms. A split plot design with 3replications was set up. The main plot was 3 strains of ear mushrooms, viz. Auricularia sp-7, Auricularia sp-11, andAuricularia sp-12. While the subplot was supplements, comprised of 12 kinds of supplements, viz. rice bran 10%,corn flour 10%, cassava flour 10%, extract of mungbean sprouts, mungbean flour 10%, beef extract, fresh coconutwater, NPK (15-15-15) 0.1 g/l, humic acid/bionature 0.1 ml/l, PGR Atonik 0.1 ml/l, essential microelements solution0.1 ml/l , rice hulls 10%, and control (without supplement). Research activity was carried out at Indonesian VegetableResearch Institute in Lembang (1,250 m asl) West Java, from December 2004 to July 2005. Research results revealedthat in general the application of those supplements mentioned could increase ear mushroom productivity. The highestyield was gained from Auricularia sp-11 cultivated on substrate + NPK (15-15-15) 0.1 g/l (827.0 g/kg substrate), orsubstrate+essential microelements Multitonic of 0.1 ml/l (899.9 g/kg substrate), and from Auricularia sp-12 cultivatedon substrate + beef extract (872.3 g/kg substrate). These highest yield was collected within a productive period from124 to 146 days with total harvesting times of 21 to 23.
Pengaruh Ukuran Batang Bawah dan Batang Atas terhadap Pertumbuhan Durian Monthong, Hepe, dan DCK-01 Sudjijo, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulaibulan Februari sampai dengan Oktober 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh sambung pucuk dariberbagai ukuran batang bawah dengan 3 varietas batang atas durian. Perlakuan terdiri dari berbagai ukuran diameterbatang bawah, yaitu ukuran kecil (KCL= 0,35-0,40 cm), sedang (SDN= 0,45-50 cm), dan besar (BSR= 0,55-60cm). Varietas lokal DCK-01 digunakan sebagai batang bawah, selanjutnya batang bawah tersebut disambung denganmenggunakan batang atas Monthong (MNT), Hepe (HP), dan DCK-01. Batang bawah berasal dari semaian biji durianlokal DCK-01 yang berumur 2 bulan, sedangkan batang atas berasal dari pucuk durian varietas Monthong dan Hepeyang berasal dari koleksi plasma nutfah Balitbu Tropika. Rancangan percobaan menggunakan acak kelompok dengan3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Parameter yang diamati meliputi ukuran diameter sambungan,jumlah tunas yang keluar, jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah daun dalam tunas, dan bobot kering akar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa varietas lokal DCK-01 ukuran sedang (0,45-0,55 cm) dan ukuran besar (0,55-0,60cm) dapat dipergunakan sebagai batang bawah dalam penyambungan dengan batang atas varietas Monthong, Hepe,dan DCK-01. Kompatibilitas penyambungan terbaik terjadi antara batang bawah DCK-01 ukuran besar (0,55-0,60cm) dengan batang atas Hepe menghasilkan diameter sambungan 1,00 cm, jumlah tunas 2,93, tinggi tanaman 32,07cm. Hasil penelitian ini bermanfaat dalam upaya perbaikan sistem perbenihan tanaman durian.ABSTRACT. Sudjijo. 2009. The Influence of Rootstok Sizes on the Growth of Scion Monthong, Hepe, andDCK-01 Durian Varieties. The research was conducted at Sumani experimental field of ITFRI from February toOctober 2007. The objective of this research was to know the influence of rootstock diameter sizes on the growth ofscion of 3 durian varieties. The treatments consist of several diameter sizes of rootstock namely of small sizes 0.35-0.40 cm, medium 0.45-0.50 cm, and big 0.55-0.60 cm. Local variety of DCK-01 was used as rootstock. The rootstockswas grafted on scion of DCK-01, Hepe (HP), and Monthong (MNT). The rootstocks were originally from 2 monthseedlings of local variety DCK-01 meanwhile scions were from germplasm collection of ITFRI. Randomized blockdesign with 3 replications was used in this research, hence, there were 10 plants in each treatments. The parametersobserved were grafting diameter, bud break number, flush number, leaves number, plant height, leaves numberon flush, and root dry weight. The results showed that medium and big diameter size of local variety DCK-01 couldbe used as rootstock on the grafting with Monthong, Hepe, and DCK-01 scion. The best compatibility of graftingwas showed by big diameter size of DCK-01 rootstock (0.55-0.60 cm) on Hepe scion, with grafted diameter 1.00cm, number of flush 2.93 and height of plant 32.07 cm. This research was useful for improving the availability ofdurian seedling.
Hubungan Dinamika Populasi Tungau Panonychus citri dengan Kandungan Senyawa Atsiri pada Buah Jeruk Manis dan Jeruk Besar Istianto, Mizu
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Panonychus citri adalah salah satu hama jeruk yang secara ekonomis penting di Indonesia. Salah satukunci sukses untuk mengendalikan populasi P. citri adalah memahami interaksi hama ini dengan inangnya. Senyawalimonen dan linalool telah diketahui mempengaruhi biologi dan kemampuan reproduksi tungau P. citri pada kondisilaboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh kandungan senyawa atsiri kulit jeruk terhadapdinamika populasi P. citri pada kulit buah jeruk di lapangan. Penelitian dilakukan pada pertanaman jeruk besarNambangan di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, dan pertanaman jeruk manis Pacitan di KusumaAgrowisata, Batu, Malang. Waktu penelitian mulai April sampai September 2004. Pengamatan dilakukan terhadapdinamika populasi P. citri dan kandungan senyawa atsiri dominan pada kulit buah jeruk besar dan jeruk manis. Datayang diperoleh dianalisis dengan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan kandungan senyawa limonen danlinalool mempunyai pengaruh kuat terhadap dinamika populasi P. citri. Pada tanaman jeruk manis, pengaruh senyawalimonen dan linalool memberikan nilai adjusted r square yang tinggi, yaitu 0,943 dengan persamaan regresi Y=218,829 - 2,412 X1+ 5,987 X2 (X1=limonen, X2=linalool). Senyawa limonen memberikan efek negatif, sedangkanlinalool memberikan efek positif terhadap P. citri. Pada tanaman jeruk besar, populasi P. citri rendah dan konstandengan kandungan limonen tinggi dan kandungan linalool rendah sehingga efek negatif limonen terhadap P. citrilebih dominan. Hasil penelitian ini dapat memberikan alternatif pengembangan teknologi pengendalian tungau P.citri pada tanaman jeruk melalui manipulasi kandungan metabolit sekunder dalam tanamanABSTRACT. Istianto, M. 2009. Relationship Between Population Dynamic of Panonychus citri and VolatileCompounds on Sweet Orange and Pummelo Fruit. Panonychus citri is one of the important citrus pests in Indonesia.One of the key success for controlling the population of this pest is understanding the relationship between this miteand its host. Previous study showed that limonene and linalool influenced the biology and reproductive capacity of P.citri. The objectives of this research were to understand the relationship between population dynamic of P. citri andfluctuation content of dominant volatile compounds on sweet orange and pummelo. The research was conducted onpummelo orchard in Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute, and sweet orange orchard in KusumaAgrowisata Batu Malang from April to September 2004. Observation was carried out to find out the dynamic of P.citri population and the content of dominant volatile compounds of sweet orange and pummelo. The data obtainedwere analyzed with multiple regression. The results showed that limonene and linalool have highly influence onpopulation dynamic of P. citri. On sweet orange, the effect of limonene and linalool indicated high value at adjustedr square with value of 0.943 with regression equation Y= 218,829 - 2,412 X1+ 5,987 X2 (X1=limonene, X2= linalool).Limonene showed negative effect while linalool showed positive effect to P. citri population. Population of P. citriwas lower and steady on pummelo with higher content of limonene and lower content of linalool, so that negativeeffects of limonene to P. citri were more dominant. These results give an alternative technologies to control P. citripopulation by manipulating secondary metabolite content inside the plant.

Page 1 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue