cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 3 (2009): September 2009" : 15 Documents clear
Efek Heterosis dan Heritabilitas pada Komponen Ukuran Buah Pepaya F1 Sukartini, -; Budiyanti, Tri; Sutanto, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah pepaya sebagai sumber vitamin, ketersediaannya dalam bentuk yang sesuai dengan permintaanmerupakan salah satu tujuan pemuliaan tanaman pepaya. Tujuan penelitian adalah mengetahui efek heterosis danheritabilitas pada komponen ukuran buah pepaya F1. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Aripan, Balai PenelitianTanaman Buah Tropika, Solok dari bulan Januari 2003 sampai Desember 2004. Rancangan percobaan yang digunakanadalah acak kelompok dengan 5 perlakuan genotip tetua, yaitu Semangko-01, Meksiko-01, Py-Rif- 90, Solo-01, danSmn-01 dengan 4 ulangan. Untuk memperkecil bias, data diambil dari 3 tanaman contoh/perlakuan/ulangan. Penelitiandilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap I (tahun 2003) dilakukan penanaman 5 tetua sampai panen dan tahap II (tahun2004) dilakukan penanaman 10 F1 sampai panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heterosis pada F1 yangberbeda menurut uji t 5% diakibatkan oleh aksi gen dominan negatif tidak sempurna dan dominan positif tidaksempurna. Nilai heritabilitas dalam arti luas untuk karakter bobot, panjang, dan lingkar buah berturut-turut adalah0,92 g, 0,91 cm, dan 0,75 cm. Tetua Semangko-01 yang mempunyai ukuran buah tergolong besar dan Py-Rif-90dengan ukuran buah tergolong kecil dapat digunakan untuk pembentukan hibrida dengan bobot, panjang, dan lingkarbuah yang berukuran sedang (konsumsi keluarga kecil).ABSTRACT. Sukartini, T. Budiyanti, and A. Sutanto. 2009. Heterosis Effect and Heritability on Fruit SizeComponents of F1 Papaya. The objectives of this study were to determine effect of heterosis and heritability of fruitcharacters of F1 papaya. The research was conducted at Aripan Field Station of Indonesian Tropical Fruits ResearchInstitute from January 2003 until December 2004. A randomized block design was used in this research where thetreatments was the genotypes, namely Semangko-01, Mexico-01, Py-Rif- 90, Solo-01, and Smn-01, with 4 replicationsand 3 samples of papaya plant/treatment/replication. The research was done in to 2 steps: first step (2003) 5 parents wasplanted until harvest and second step (2004) 10 F1 was planted until harvest. The results showed that heterosis valuesin F1 population showed significant different at 5% level of t test due to the negative and positive partial dominancegene action. In general, heritability for weight, length, and circumference of fruit characters were 0.92, 0.91, and0.75 respectively. Parental Semangko-01 with big size of fruit and Py-Rif-90 with small size of fruit can be used togenerate hybrid with medium size of weight, length, and circumference for small family consumption.
Analisis Pola Segregasi dan Distribusi Beberapa Karakter Cabai Sofiari, Eri; Kirana, Rinda
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Capsicum chinense banyak dipakai sebagai sumber gen sifat ketahanan terhadap penyakit padaprogram pemuliaan cabai. Salah satu kelemahan penggunaan C. chinense yaitu bentuk buahnya tidak sesuai dengankeinginan konsumen. Persilangan antara C. annuum L. x C. chinense yang dilanjutkan dengan evaluasi pola segregasiketurunannya yang melibatkan generasi tetua (20 tanaman), F1 (20 tanaman), dan F2 (213 tanaman) dilakukan diRumah Kasa serta di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran mulai Oktober 2001 sampai Juni 2003.Tujuan penelitian adalah mempelajari tipe segregasi beberapa karakter kualitatif dan kuantitatif pada populasi keturunanpersilangan antara C. annuum x C. chinense. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua karakter kualitatifyang diamati (tipe tumbuh, bentuk daun, warna daun, jumlah bunga tiap nodus, posisi tangkai bunga, sudut antara bungadan tangkai bunga, serta posisi buah) pada populasi F1 termasuk ke dalam kategori sedang/intermediate, sedangkanuntuk karakter kuantitatif seperti umur berbunga, lebar buah, dan jumlah buah per tanaman cenderung menuju kearah C. annuum, tetapi untuk panjang buah lebih cenderung ke arah C. chinense. Bobot buah per tanaman populasiF1 berada pada nilai tengah kedua tetua. Tipe segregasi karakter kualitatif F2 mendekati C. annuum, kecuali bentukbuah cenderung mendekati C. chinense. Karakter kuantitatif hasil persilangan antara C. annuum dan C. chinensediduga dikendalikan oleh gen mayor dan minor sekaligus.ABSTRACT. Sofiari, E. and R. Kirana. 2009. Analysis of the Segregation and Distribution of Some Traits inHot Pepper. Capsicum chinense was used as a diseases resistant donor traits in pepper breeding program. However,C. chinense fruit shape is not preferable for Indonesian market. The interspecific crosses between C. annuum x C.chinense and continue with segregation evaluation of parents (20 plants), F1 (20 plants), and F2 (213 plants) wereconducted at screenhouse and in the field of Indonesian Vegetable Research Institute from October 2001 to June2003. The objectives of this study were to determine the segregation and distribution of 13 progeny characters ofC. annuum and C. chinense crossing. The results showed that there was intermediate type of all F1’s qualitativecharacters (growth habit, leaf shape, leaf color, flower number per node, pedicel position at anthesis stage, tip angle,and fruit position). The quantitative characters such as flowering date, fruit width, and fruit number per plant type ofF1 tended to C. annuum type, except fruit length type of F1 tended to C. chinense type. The qualitative characterson F2 except fruit shape were segregated to C. annuum type. The quantitative characters from C. annuum and C.chinense crossing were estimated due to all at once of major and minor genes.
Pengelompokan dan Jarak Genetik Plasma Nutfah Nenas Berdasarkan Karakter Morfologi Hadiati, Sri; Yuianti, Sri; Sukartini, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman nenas merupakan tanaman yang dapat diperbanyak secara vegetatif. Secara genetik tanamannenas mempunyai keragaman yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk menentukan pengelompokan dan jarak genetikantar-aksesi nenas berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika,Solok mulai bulan Januari 2005 sampai Desember 2006. Karakterisasi dilakukan terhadap 5 tanaman contoh darisetiap aksesi nenas menggunakan pedoman karakterisasi descriptor list of pineapple (IBPGR 1991). Data hasilkarakterisasi dianalisis dengan program biodiversity profesional version 2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwadari 83 aksesi dapat dikelompokkan menjadi 12 kelompok pada kemiripan genetik 75%. Untuk meningkatkan efisiensidan mempermudah pemeliharaan koleksi plasma nutfah, maka aksesi-aksesi yang mempunyai kemiripan genetik93,33% atau jarak genetik 0,07 dapat dipilih salah satu di antaranya untuk mewakili kelompoknya. Di samping itu,hasil penelitian juga bermanfaat untuk perakitan nenas tahan terhadap penyakit. Ananas bracteatus, A. bracteatusvariegata, dan A. lucidus dapat disilangkan dengan A. comosus.ABSTRACT. Hadiati, S., S. Yulianti, and Sukartini. 2009. Clustering and Genetic Distance of Some PineapplesGermplasm Collection Based on Morphological Characters. Pineapple is vegetatively propagated crop. However,the crop has high genetical variability. The objective of the study was clustering and determine the genetic distanceof inter-accessions of pineapples based on morphological characters. The research was conducted at the Aripan FieldStation of Indonesian Tropical Fruits Research Institute from January 2005 until December 2006. Five plants of eachpineapple accession were selected as samples for characterization using descriptor list of pineapple characterizationguidelines (IBPGR 1991). The data obtained from characterization were analyzed using profesional biodiversityprogram version 2.0. The results showed that from 83 accessions tested, 12 clusters were obtained at 75% of geneticsimilarity. For easy and efficient maintenance of germplasm collection, one of the accessions with genetic similarityof 93.33% or genetic distance of 0.07 can be choosen as a representative among the group. In addition, these resultsare useful also for pathogen resistance breeding, such as A. bracteatus, A. bracteatus variegata, and A. lucidus canbe crossed with A. comosus.
Evaluasi Daya Hasil Kultivar Lokal Bawang Merah di Brebes Sofiari, Eri; Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varietas lokal bawang merah di Kabupaten Brebes telah berkembang menjadi varian-varian baruyang merupakan hasil seleksi petani. Keberadaan varian-varian varietas tersebut perlu diuji untuk mengetahuikeunggulannya. Penelitian bertujuan mendapatkan kultivar bawang merah lokal yang sesuai ditanam di Slatri,Brebes. Jumlah kultivar yang diuji sebanyak 10 buah ditambah 2 kultivar pembanding, yaitu Tanduyung dan Ilokos.Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Populasi tanaman per plot terdiriatas 500 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kultivar yang sesuai di Slatri adalah kultivar KuningSidapurna dan Kuning Tablet yang memiliki potensi hasil sama baiknya dengan kultivar impor yang populer dipetani, yaitu kultivar Ilokos.ABSTRACT. Sofiari, E., Kusmana, and R.S. Basuki. 2009. Evaluation of Potential Yield of Local Varieties ofShallots at Brebes. Shallot local variety in Brebes has been developed to be more variations as a results of selectiondone by farmers. Superiority of this variances need to be evaluated. The objective of the research was to evaluate shallotcultivars which have high yielding at Slatri, Brebes. Twelve cultivars were used in this study, including 2 popularimport varieties as check, namely Tanduyung and Ilokos. Experimental design used was randomized complete blockdesign with 3 replications. Population per plot was 500 plants. The results indicated that cultivars Kuning Sidapurnaand Kuning Tablet performed high yielding at Brebes that were comparable to import variety of Ilokos
Uji Adaptasi Lima Varietas Bawang Merah Asal Dataran Tinggi dan Medium pada Ekosistem Dataran Rendah Brebes Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung; Kurniawan, H
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bawang merah umumnya ditanam di dataran rendah pada musim kemarau, karena pada musim hujanlahan dataran rendah yang biasa ditanami bawang dipergunakan untuk pertanaman padi. Penanaman serempakbawang merah dilakukan di musim kemarau. Penanaman secara bersamaan pada musim kemarau sering menyebabkankekurangan bibit, sehingga diperlukan pasokan bibit dari daerah dan sentra produksi di daerah dataran medium dandataran tinggi. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan varietas bawang merah asal dataran tinggi dan medium yangcocok ditanam pada agroekosistem dataran rendah Brebes. Lima varietas dataran tinggi dan medium ditambah 3varietas pembanding yang banyak dibudidayakan di Brebes, yaitu varietas Tanduyung, Ilokos, dan Bima Curut, diujidalam suatu percobaan yang ditata sesuai dengan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Populasi tanaman perplot sebanyak 500 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelima varietas yang diuji dapat beradaptasi diBrebes. Varietas yang berdaya hasil tinggi adalah Batu Ciwidey (27,3 t/ha berat basah), dengan potensi hasil yangsetara dengan varietas Tanduyung (26,8 t/ha berat basah), dan Bima Curut (24,9 t/ha berat basah). Varietas BatuCiwidey menghasilkan umbi ukuran besar yang nyata lebih besar dari varietas Bima Curut dan TanduyungABSTRACT. Kusmana, R.S. Basuki, and H. Kurniawan. 2009. Adaptation Trial of Five Shallots VarietiesOriginated from High and Mid Altitudes in Lowland Ecosystem Brebes. Shallots are mostly grown in lowlandelevation at dry season. At the rainy season the land are not fit because it was used for planting paddy. Growingshallots at the same time in the dry season causes insufficient of planting materials. Therefore, seed supply wasneeded from other mid and high elevation production areas. The objective of the research was to select mid and highelevation shallots varieties which were suitable in Brebes. Five mid and high elevation shallot varieties (MentengKupa, Maja, Bali Karet Maja, Batu Ciwidey, and Bali Karet Batu), and 3 local varieties from Brebes (Tanduyung,Ilokos, and Bima Curut) were planted in the field using cultivation technique applied by farmers. The experimentwas arranged in a randomized complete block design with 3 replications. The population was 500 hills per plot. Theresults indicated that the highest yield was obtained by variety Batu Ciwidey (27.3 t/ha) and did not significantlydifferent with Tanduyung (26.8 t/ha), and Bima Curut (24.9 t/ha). In addition, Batu Ciwidey variety had bigger tubersize compared to those of Bima Curut and Tanduyung varieties.
Pengaruh Formula Pupuk dan Jarak Tanam terhadap Hasil dan Kualitas Bunga Mawar Potong Tedjasarwana, Rahayu; Rahardjo, Indiarto Budi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Formula pupuk yang dipergunakan pada tanaman mawar di Indonesia perlu dikembangkan. Tujuanpenelitian untuk mengetahui formula pupuk yang sesuai bagi mawar potong pada beberapa jarak tanaman. Percobaandilaksanakan di dalam Rumah Plastik Kebun Percobaan Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias, di Desa CiherangCipanas, Pacet, Cianjur, Jawa Barat pada ketinggian 1.100 m dpl. pada bulan September 2003 - Januari 2004. Percobaanmenggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah formula pupuk yaitu komersial (JORO),Cipanas A1, dan Cipanas A2. Anak petak terdiri dari jarak tanam 30x30 cm, 30x20 cm, 30x15 cm, 40x20 cm, dan40x15 cm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa panjang tangkai bunga tertinggi (63,33 cm) dan produksi bungatertinggi (46,31 tangkai/petak) diperoleh pada jarak tanam rapat (30x15 cm). Jumlah petal bunga tertinggi (44,27petal/kuntum) diperoleh pada jarak tanam terlonggar (30x30 cm) yang sama dengan jarak tanam terapat (30x15 cm)sebesar 40,53 petal/kuntum. Lama kesegaran bunga tertinggi (4,77 hari) diperoleh pada jarak tanam 40x20 cm yangsama dengan jarak tanam lainnya, kecuali pada jarak tanam terlonggar (30x30 cm) lama kesegaran bunganya terendah(4,33 hari). Formula pupuk komersial, Cipanas A1 dan Cipanas A2 yang diuji menunjukkan hasil yang tidak berbedanyata. Oleh karena itu formula pupuk Cipanas A1 dan Cipanas A2 dapat sebagai pengganti formula pupuk komersial.Hasil penelitian ini dapat dipergunakan pengusaha dan petani bunga mawar potong untuk meramu pupuk–pupukyang diteliti secara tunggal menjadi 1 formula pupuk yang lengkapABSTRACT. Tejasarwana R. and I.B. Rahardjo. 2009. The Effect of Fertilizer Formulae and Plant Spacing onthe Yield and Quality of Rose Cut Flower. Fertilizer formulae for rose cultivation in Indonesia need to be developed.The objective of the experiment was to find out appropriate fertilizer formulae and plant spacing for rose cut flower.The experiment was conducted in Plastichouse at Segunung Field Trial of Indonesian Ornamental Crops ResearchInstitute, Cianjur, West Java (elevation 1,100 m asl.) from September 2003 to January 2004. Split-plot design with3 replications was used. The main plot was fertilizer formulae, i.e commercial (JORO), Cipanas A1, and Cipanas A2.While the subplot was plant spacing, i.e. 30x30 cm, 30x20 cm, 30x15 cm, 40x20 cm, and 40x15 cm. Results of theexperiment showed that the longest flower stalk (63.33 cm) and the highest flower production (46.31 stalks/plot)were obtained from plant spacing 30 x15 cm. The highest petal number/flower (44.27 petals/flower) were obtainedfrom plant spacing 30x30 cm that was similar with plant spacing 30x15 cm (40.53 petals/flower). The longest flowervaselife (4.77 days) was obtained from plant spacing 40x20 cm that was same with other treatments, except on spacingof 30x30 cm of having flower vase life the lowest (4.33 days). Fertilizer formulae of commercial, Cipanas A1, andCipanas A2 showed no significant different. Therefore fertilizer formulae of Cipanas A1 and Cipanas A2 could be usedas substitution for commercial fertilizer formulae. This result can be used by businessman and farmer to formulatethe fertilizer that have been studied singly to become a complete fertilizer formulae
Respons Tanaman Mentimun terhadap Penggunaan Tanaman Penutup Tanah Kacang-kacangan dan Mulsa Jerami Sumarni, Nani; Sumiati, Ety; Rosliani, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, dari bulan Juli-Oktober 2004. Tujuan penelitian untuk mendapatkan jenis dan kerapatan tanaman penutup tanah dan mulsa organikpaling baik untuk meningkatkan hasil mentimun dan kesuburan lahan Andisol, Lembang. Rancangan percobaan yangdigunakan adalah strip plot design dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 2 faktor, yaitu mulsa organik (tanpa dandengan mulsa jerami sebanyak 5 t/ha), serta jenis dan kerapatan tanaman penutup tanah (tanpa tanaman penutuptanah, kacang tanah dengan jarak tanam 50x30 cm, kacang tanah dengan jarak tanam 50x15 cm, kacang jogo denganjarak tanam 50x30 cm, dan kacang jogo dengan jarak tanam 50x15 cm). Tanaman mentimun ditanam di antara 2baris tanaman penutup tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara tanaman penutuptanah dan mulsa jerami terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun. Mulsa jerami tidak nyata berpengaruh terhadappertumbuhan dan hasil mentimun, sedangkan jenis dan kerapatan tanaman penutup tanah nyata berpengaruh terhadappertumbuhan dan hasil mentimun. Kacang tanah tumbuh menutupi permukaan tanah lebih lambat daripada kacangjogo. Namun kacang tanah dengan kerapatan 50x30 cm merupakan tanaman penutup tanah yang paling baik karenamenghasilkan sisa tanaman (bahan organik) lebih banyak dan tidak menurunkan pertumbuhan dan hasil mentimun.Pembenaman sisa tanaman penutup tanah dan mulsa organik 1 bulan setelah panen mentimun, banyak berpengaruhterhadap kesuburan kimia tanah Andisol.ABSTRACT. Sumarni, N., E. Sumiati, and R. Rosliani. 2009. Responses of Cucumber to Application ofLeguminosae Cover Crops and Rice Straw Mulch. The experiment was laid in a strip plot design with 3 replications.The research was aimed to find out kind and density of Leguminosae cover crops and rice straw mulch to improve soilfertility of Andisol soil Lembang and increase the yield of cucumber. The treatments consisted of 2 factors. The firstfactor was organic mulch viz: without mulch and with rice straw mulch (5 t/ha). The second factor was the combinationof kinds and densities of cover crops, viz: without cover crop, peanut cover crop (50x30 cm), peanut cover crop(50x15 cm), red bean cover crop (50x30 cm), and red bean cover crop (50x15 cm). Cucumber were planted between2 rows of cover crops. The results revealed that there were no interaction effect between cover crops and organicmulch on soil fertility and cucumber yield. Independently, plant growth and yield of cucumber were not affected byrice straw mulch. Whereas, kinds and densities of cover crops affected plant growth and yield of cucumber. Peanutgrew slower than red bean in covering soil surface. However, peanut cover crops with 50 x 30 cm planting distance,was better than other treatments. It did not affect plant growth and cucumber yield, and it provided more plant residue(organic matter) on soil surface. Burrying the residues of cover crops and rice straw mulch 1 month after harvestingcucumber could improve chemical characteristics of Andisol soils.
Anasir Lingkungan Penentu Produksi Kubis di Lahan Pasir Pantai Suparso, -; Tohari, -; Shiddieq, D; Setiadi, B
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mengkaji anasir lingkungan yang menentukan produksi kubis di lahan pasir pantai.Percobaan lapangan dilaksanakan di Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada musim hujan dan kemaraudari Januari-Agustus 2005. Musim hujan memiliki intensitas cahaya, suhu udara, dan suhu tanah lebih tinggi daripadamusim kemarau. Air pengatusan musim hujan lebih rendah daripada musim kemarau. Kadar prolin daun tidak berbedanyata antarmusim, yaitu 6,58 μmol/g. Laju pertumbuhan tanaman minggu ke-8-10 ditentukan oleh intensitas cahaya(ISMH) dan air pengatusan sesuai persamaan Ylpt 8-10 = 211,73-0,151 X ismh -0,244 Xatus (R2=0,923**). Bobot segarhasil kubis ditentukan oleh suhu tanah dan air pengatusan mengikuti model Ybsh= 151,66 -2,96X stnh -0,0171 X atus(R2=0,612*). Tanaman kubis dapat tumbuh baik di lahan pasir pantai pada musim hujan maupun musim kemaraudengan hasil berkisar 37-40 t/ha.ABSTRACT. Saparso, Tohari, D. Shiddieq, and B. Setiadi. 2009. Environment Elements Determinant forCabbage Yield in Coastal Sandy Land. The objective of this study was to examine environmental determinant forcabbage yield in coastal sandy land. Field experiment was carried out in Samas, Bantul, Yogyakarta Special Provincein the rainy and dry season from January up to August 2005. The rainy season had higher radiation intensity, airtemperature, and soil temperature than the dry season. Drainage water, therefore, was smaller than those drainagewater at the dry season. Proline leaf content was not significantly different between season, of 6,58 μmol/g. Plantgrowth rate was determined by radiation intensity and drainage according to equation Ylpt 8-10 = 211,73-0,151 Xismh -0,244 Xatus (R2=0,923**). The cabbage productiviy was determined by soil temperature and drainage as Ybsh =151,66 -2,96X stnh -0,0171 X atus (R2=0,612*). The cabbage crop grown well either in the rainy or dry season and itproduced 37,0-40,0 t/ha.
Pemanfaatan Mikoriza dan Aplikasi Pupuk Anorganik pada Tumpangsari Cabai dan Kubis di Dataran Tinggi Rosliani, Rini; Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Jawa Baratpada ketinggian tempat 1.250 m dpl. dari bulan Juni sampai September 2005. Jenis tanah percobaan Andisol. Tujuanpercobaan untuk mengetahui pengaruh mikoriza dan penggunaan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan, serapan hara,serta hasil tanaman cabai dan kubis yang ditanam secara tumpangsari di dataran tinggi. Perlakuan terdiri atas inokulasimikoriza Glomus sp. (dengan dan tanpa) dan dosis pupuk NPK (0, 250, 500, 750, dan 1.000 kg NPK/ha). Rancanganpercobaan menggunakan acak kelompok faktorial dengan 3 ulangan. Inokulasi mikoriza dilakukan di persemaiandengan cara mencampurkannya dengan media. Waktu tanam cabai di lapangan, yaitu 2 minggu sebelum tanam kubis.Hasil percobaan menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil kubis. namundapat meningkatkan persentase biji yang berkecambah dan pertumbuhan bibit cabai di persemaian, walaupun tidakmeningkatkan pertumbuhan tanaman cabai di lapangan. Aplikasi pupuk anorganik (NPK) meningkatkan pertumbuhantanaman serta hasil cabai dan kubis. Tanpa inokulasi mikoriza, aplikasi pupuk NPK 1.000 kg/ha menghasilkan bobotbuah sampel cabai tertinggi. Dengan inokulasi mikoriza, untuk menghasilkan bobot buah cabai yang tinggi hanyamembutuhkan pupuk NPK 250 kg/ha. Inokulasi mikoriza dapat mengurangi aplikasi pupuk NPK menjadi ¼ dosisstandar. Teknologi yang diperoleh dari penelitian ini sangat berguna untuk pengembangan usahatani cabai dan kubisyang efisien dan berkelanjutan di dataran tinggi.ABSTRACT. Rosliani, R. and N. Sumarni. 2009. Application of Mycorrhizae and Anorganic Fertilizer on theGrowth, Nitrient Uptake, and Yield of Hot Pepper and Cabbage Intercropping on the Highland. The experimentwas conducted at Indonesian Vegetable Research Institute Experimental Site, Lembang, West Java. The objectivewas to determine the effect of mycorrhizae inoculation and application of anorganic fertilizer on the growth, nutrientuptake, and yield of hot pepper and cabbage intercropping on the highland. The treatments consisted of 2 rates ofmycorrhizae inoculation (with and without) and NPK anorganic fertilizer (0, 250, 500, 750, and 1,000 kg NPK/ha).Overall, the experiment was arranged in a randomized block design comprises of 10 treatment combinations with 3replicates. Mycorrhizae inoculation was done by mixing with seedling media in nursery. Hot pepper was transplantedto the field 2 weeks before cabbage. The results showed that mycorrhizae inoculation did not increase the growthand yield of cabbage. In the nursery, mycorrhizae inoculation increased percentage of the germinated seed and thegrowth of hot pepper seedling, but it did not increase the growth of hot pepper in the field. Application of anorganicfertilizer increased the growth and yield of both hot pepper and cabbage. Without mycorrhizae inoculation, applicationof (NPK) anorganic fertilizer 1,000 kg/ha produced the highest fruit weight of hot pepper. While mycorrhizaeinoculation could reduce the use of anorganic fertilizer up to ¼ of standard dosage (250 kg NPK/ha). The results ofthis experiment was very beneficial for hot pepper and cabbage farming system in the highland since it was moreefficient and sustainable.
Analisis Jaringan Daun sebagai Alat untuk Menentukan Status Hara Fosfor pada Tanaman Manggis Liferdi, Lukman
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis jaringan daun yang diperoleh dari laboratorium dapat digunakan sebagai acuan dalammendiagnosis status hara dan menentukan rekomendasi pemupukan apabila telah dikalibrasikan dengan hasil tanamanyang dapat dipasarkan. Tujuan studi ini ialah mendapatkan suatu model regresi yang ideal untuk memprediksi statushara fosfor pada tanaman manggis dewasa (umur ±20 tahun) yang hasilnya dapat diinterpretasikan sebagai sangatrendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi yang terbaikuntuk menentukan hubungan antara konsentrasi P daun umur 5 bulan dengan produksi tanaman ialah model kuadratik.Menurut model ini status konsentrasi P daun kurang dari 0,11% termasuk kategori sangat rendah, konsentrasi P daunantara 0,11 sampai <0,21% adalah rendah, dan status konsentrasi P daun antara 0,21 sampai <0,31% adalah sedang.Untuk menaikkan konsentrasi P daun dengan status sangat rendah menjadi status sedang dibutuhkan pupuk P2O5kira-kira 1.886-3.314 g/tanaman/tahun pada tahun pertama. Untuk tahun kedua diperlukan P2O5 sekitar 1.100-2.100g/tanaman/tahun. Untuk mendapatkan produksi maksimum (23,80 kg) pada tahun pertama dibutuhkan dosis pupukP2O5 optimum sebesar 1.800 g /tanaman/tahun. Pada tahun kedua P2O5 yang dibutuhkan adalah 1.725 g /tanaman/tahun untuk mendapatkan produksi maksimum 42,07 kg. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalammenyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis yang telah berbuah (umur ±20 tahun).ABSTRACT. Liferdi, L. 2009. Leaf Analysis as a Tool for Diagnose of Phosphor Nutritional Status in Mangosteen.Laboratory leaf tissue analysis can be used as a guide to diagnose nutritional status and as a recommendation for fertilizerif it has been calibrated with marketable plant yield. The aims of this study were to find out the best regression modelto estimate phosphor status in mangosteen plant, so that a given certain leaf tissue analysis value can be interpreted asvery low, low, medium, high, or very high. The results showed that the best regression model for describing the relationbetween P concentration in the leaf of 5 months age and plant production was quadratic model. According to this model,the status of leaf with P concentration less than 0.11% was very low, P concentration 0.11 to <0.21% was low, and Pconcentration 0.21 to <0.31% was medium. To increase the P concentration of leaf with low status to medium status,1,886 - 3,314 g /plant/year P2O5 fertilizer was needed in the first year, and 1,110-2,100 g/plant/year P2O5 fertilizer for thesecond year. To gain the maximum production in the first year (23.8 kg), the optimum dosage of P2O5 was 1,800 g/plant/year. In the second year, 1,725 g/plant/year P2O5 was needed to get maximum production (42.07 kg). These researchresults can be used as a guide for appropriate P fertilizer recommendation in mangosteen

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue