cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020" : 11 Documents clear
Analisis Anggaran Parsial dan Usahatani Teknik Semai pada Budidaya Bawang Merah True Shallot Seed (Partial and Farm Budget Analysis of Some Sowing Techniques in TSS Cultivation) Adiyoga, Witono; Prathama, Mathias; Rosliani, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p97-106

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan informasi kelayakan ekonomis berbagai cara semai serta melakukan analisis usahatani budidaya true shallot seed (TSS). Percobaan dilakukan di Brebes, Jawa Tengah, April–September 2017. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan enam kombinasi perlakuan metode semai (sebar, garit, dan soil-block) dan umur semai (30 dan 45 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara semai soil-block umur 30 hari menghasilkan bobot umbi tertinggi. Produksi per hektar semai soil-block umur 30 hari adalah 29,3 ton/ha (bobot segar) atau 17,7 ton/ha (bobot kering). Indikator B/C ratio tertinggi (0,75) dan tingkat pengembalian marjinal tertinggi (27,769%) mengindikasikan bahwa cara soil-block umur 45 hari merupakan perlakuan yang paling ekonomis. Harga per semaian berkisar antara Rp37,6 – 42,6 sehingga biaya total semaian adalah Rp24,4 – 27,7 juta per hektar. Biaya sebesar ini berpotensi menghapus salah satu advantage penggunaan TSS karena tidak lebih murah dibanding biaya benih umbi per hektar. Walaupun menunjukkan potensi hasil cukup tinggi (18–29 ton/ha), namun karena efisiensi lahan rendah (54%) serta susut bobot tinggi (56%) maka probabilitas mengalami kerugian masih cukup tinggi. Hasil studi menyarankan penelitian lanjutan yang diarahkan untuk menekan biaya produksi semaian, meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi lahan, dan menurunkan susut bobot umbi.KeywordsBenih biji botani; Cara semai; Kelayakan ekonomis; Analisis anggaran parsial  AbstractThe study aimed to assess the economic feasibility of sowing methods and farm-budget of TSS cultivation. A trial was conducted in Brebes, Central Java (April–September 2017). RCBD with six treatment combinations of sowing method and sowing age, and four replications was employed. Results indicate that seedlings from soil block (30 days) produce the highest tuber weight. The fresh yield of using soil-block (30 days) is 29.3 tons/ha, while the dry yield is 17.7 tons/ha. Based on the highest B/C ratio and highest marginal rate of return, the soil-block (45 days) is assessed as the most feasible sowing method. The cost per seedling ranges from IDR 37.6 – 42.6, thus the total seedling cost is  IDR 24.4 – 27.7 millions/ha. This may potentially eliminate one advantage of using TSS because the seedling cost is not lower than the cost of purchasing seed bulbs. Producing high fresh yield (18 – 29 tons/ha) could not compensate low land efficiency (54%) and high weight loss (56%), so that the loss probability is still quite high. The study recommends further works needed to lower seedling cost, increase yield, increase land efficiency, and reduce the bulb weight loss.
Pengaruh Indeks Panen Terhadap Umur Simpan dan Mutu Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Selama Penyimpanan [Effect of Harvest Index on Shelf-Life and Quality of Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) During Storage] Leni Marlina; Bambang Hariyanto; nFN Jumjunidang; Irwan Muas
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p87-96

Abstract

Pengembangan buah naga (Hylocereus polyrhizus) masih mengalami kendala dalam aspek pascapanen, seperti rendahnya mutu buah di pasaran dan pendeknya umur simpan. Indeks panen yang tepat diharapkan dapat meningkatkan mutu buah naga di pasaran dan memperpanjang umur simpan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh indeks panen terhadap mutu dan umur simpan buah naga selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2015 di Laboratorium Kimia dan Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika), Solok, Sumatra Barat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu indeks I=kulit buah hijau  90–99% dan merah 1–10% (hijau semburat merah) jumbai hijau, indeks II=kulit buah hijau 60–89% dan merah 11–40% (hijau>merah) jumbai hijau, indeks III=kulit buah hijau 11–40% dan merah 60–89% (hijau<merah) jumbai hijau, indeks IV=kulit buah hijau 0–10% dan merah 90–100% (merah terang) jumbai hijau, dan indeks V=kulit buah merah gelap jumbai hijau, dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan indeks panen berpengaruh nyata terhadap warna kulit buah, kesegaran, padatan terlarut total, asam tertitrasi total, dan susut bobot. Perlakuan indeks panen yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap mutu dan umur simpan buah naga. Perlakuan yang menghasilkan mutu  terbaik selama buah disimpan adalah buah naga yang dipanen pada indeks III. Perlakuan terbaik yang menghasilkan umur simpan terlama adalah buah naga yang dipanen pada indeks II, yaitu 8 hari setelah panen. KeywordsIndeks panen; Mutu; Umur simpan; Buah nagaAbstractThe development of dragon fruit is still encountered some constraints in postharvest aspects i.e. low quality in the market and short self-life. The suitable harvest index is intended to improve quality and prolong the shelf-life of dragon fruit. The aim of the research was to determine the effect of harvest index on quality and shelf-life of dragon fruits during storage. The research was conducted from September to November 2015 at Chemistry and Postharvest Laboratory of Indonesian Tropical Fruits Research Institute (ITFRI), Solok. The study was used completely randomized design with five treatments were index I=peel color are green 90–99% and red 1–10% (green tinge of red), II=peel color are green 60–89% and red 11–40% (green>red), III=peel color are green 11–40% and red 60–89% (green<red), IV=peel color are green 1–10% and red=90–100% (light red), and V=peel color  is dark red with green scaled all of treatments, and five replications. The results showed that harvest index effected in peel color, freshness, total soluble solid, total titrable acidity, and weight loss. The treatment which produces the best quality during storage was  index III. The best treatment that prolongs the shelf-lfe of dragon fruit during storage was index II i.e. 8 day after harvesting. 
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Buah Naga (The Influence of Organic Fertilizer to Growth and Production of Dragon Fruit) Irwan Muas; nFN Jumjunidang; nFN Hendri; Bambang Hariyanto; Liza Oktariana
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p21-28

Abstract

Pemupukan merupakan salah satu aspek penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah naga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik terhadap pertumbuhan dan produksi buah naga. Penelitian dilaksanakan di kebun petani Nagari Aripan, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat, dimulai sejak Januari sampai dengan Desember 2014. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan, setiap unit perlakuan terdiri atas tiga tiang. Faktor pertama adalah takaran pupuk organik dengan tiga level, yaitu 5, 10, dan 15 kg/tiang. Faktor kedua adalah interval waktu pemberian pupuk organik terdiri atas empat level, yaitu 1, 2, 3, dan 4 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik secara nyata dapat meningkatkan pertumbuhan (jumlah cabang), jumlah produksi dan kualitas buah (grade/ukuran buah, TSS). Pemberian pupuk organik juga dapat meningkatkan kandungan hara pada tanah dan tanaman. Aplikasi pupuk organik dengan takaran 15 kg dan interval 1 bulan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (jumlah cabang), produksi, dan kualitas buah (grade/ukuran buah) tertinggi. Implikasi dari penelitian ini adalah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi buah naga perlu dilakukan aplikasi pupuk organik.KeywordsPupuk organik; Pertumbuhan; Produksi; Buah nagaAbstractFertilization is one of important aspect in improving the productivity and quality of dragon fruit. This study aims to determine the effect of organic fertilizer on the growth and production of dragon fruit. The research was conducted from January to December 2014 at farmer orchard in Solok District, West Sumatra. The study was prepared based on a Factorial RCBD with two factors and three replicates, each treatment consisting of three pillars. First factor  was organic fertilizer dose with three levels (5, 10, and 15 kg/pillar).  Second factor was the interval application of organic fertilizer consisting of four levels (1, 2, 3, and 4 months). The results showed that the provision of organic fertilizer can significantly increase the growth (number of branches), amount of production and quality of fruit (grade/fruit size,TSS). Provision of organic fertilizers can also increase the nutrient content of soil and plants. Application of organic fertilizer with a dose of 15 kg and 1 month interval gives the highest growth (number of branches), the highest number of fruit production and quality (grade/fruit size) are significantly. Implication of this research is to increase the growth and production of dragon fruit that needs to be done organic fertilizer application.
Potensi Insektisida Nabati dalam Mengendalikan Aphis gossypii pada Tanaman Gerbera dan Kompatibilitasnya dengan Predator Menochilus sexmaculatus Dedi Hutapea; Indijarto Budi Rahardjo; Budi Marwoto; Rudy Soehendi
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p75-86

Abstract

(The Potential of Botanical Insecticides to Control of Aphis gossypii on Gerbera and its Compatibility with Menochilus sexmaculatus)Kutu daun Aphis gossypii diketahui dapat menghambat peningkatan produksi gerbera. Upaya pengendalian hama ini masih mengandalkan penggunaan insektisida sintetik. Namun, pada beberapa kasus, praktik pengendalian hama tersebut seringkali kurang efektif. Insektisida nabati merupakan salah satu teknik pengendalian ramah lingkungan yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan formulasi insektisida nabati ekstrak daun suren (Toona sinensis) dan bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) dalam pengendalian A. gossypii pada tanaman gerbera serta kompatibilitasnya dengan Menochilus sexmaculatus. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Februari sampai November 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan ekstrak bunga piretrum dan daun suren serta campuran keduanya (Formula I, Formula II, Formula III) diuji keefektifannya terhadap nimfa A. gossypii pada tanaman gerbera koleksi plasma nutfah nomor 01200002. Pengujian dilakukan pada dua taraf konsentrasi 0,35% dan 0,40% (w/v) dengan metode semprot serangga dan residu pada daun. Uji kompatibilitas insektisida nabati terhadap M. sexmaculatus dilakukan dengan metode semprot serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan insektisida nabati memiliki aktivitas insektisida, namun hanya perlakuan konsentrasi 0,40% yang menunjukkan persentase kematian tertinggi hama target. Penyemprotan langsung insektisida nabati pada nimfa A. gossypii lebih efektif dibandingkan dengan residu pada daun gerbera. Perlakuan Formula III 0,40% menunjukkan mortalitas tertinggi, dan keefektifannya setara dengan imidakloprid dalam mengendalikan kutu daun di rumah kaca. Ekstrak insektisida nabati uji kompatibel dengan M. sexmaculatus, sementara imidakloprid bersifat toksik terhadap keduanya. Dengan demikian, penggunaan imidakloprid untuk pengendalian kutu daun pada tanaman gerbera perlu dibatasi.KeywordsGerbera jamesonii; Aphis gossypii; Chrysanthemum cinerariaefolium; Toona sinensis; Predator CoccinellidaeAbstractAphis gossypii is known as one of the most damaging aphid species in gerbera production. The botanical insecticide is one of the environmentally-friendly control techniques to overcome this pest. The objective of research was to examine the effectiveness of the botanical insecticide from Toona sinensis leaf and pyrethrum flowers extract to control gerbera aphids and its compatibility with Menochilus sexmaculatus. The research was conducted at Segunung Research Station from February to November 2017, using a Randomized Completed Design with 12 treatments and three replications. Extract of Toona leaf, and pyrethrum flowers, and mixture of both (Formula I, Formula II, Formula III) were tested for its effectiveness against A. gossypii nymphs on gerbera. Testing was arranged at two concentration levels of 0.35% and 0.40% (w/v) by insect spraying and leaf residual methods. The compatibility test against M. sexmaculatus was worked by using the insect spraying method. The results showed that all botanical insecticide had insecticidal activity, but only a concentration of 0.40% showed the highest target pests mortality. Direct spraying of A. gossypii is more effective than residue on the leaf. The Formula III 0.40% showed the highest mortality and equal to imidacloprid for controlling aphids in greenhouses. The botanical insecticide extract was compatible with M. sexmaculatus, while imidacloprid was toxic them both.
Pengaruh Aplikasi Pupuk Mikotricho pada Budidaya Bawang Merah dengan Pengurangan Dosis Pupuk N-P-K (The Effect of Mikotricho Fertilizer Application on Shallots Cultivation by Reducing the N-P-K Dose) Eny Rokhminarsi; Darini Sri Utami; nFN Begananda
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p47-56

Abstract

Bawang merah termasuk sayuran bumbu yang dibutuhkan oleh masyarakat dan harganya bersifat fluktuatif sehingga diperlukan kecukupan produksi untuk mendukung kestabilan harga. Kecukupan produksi dapat tercapai melalui pemanfaatan lahan marjinal seperti Ultisol yang masih luas dan perbaikan teknik budidaya, di antaranya melalui aplikasi pupuk Mikotricho. Tujuan penelitian adalah mengkaji pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian berupa percobaan lapang di lahan Ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama, dosis pupuk Mikotricho, yaitu 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman, faktor kedua, pengurangan dosis N-P-K berupa Urea, SP-36, KCl, dan ZA, yaitu 0, 25%, dan 50% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan, aplikasi pupuk Mikotricho meningkatkan jumlah daun (11,4%) dan bobot tanaman segar (49,1%) bawang merah secara linier positif dengan dosis terbaik 50 g/tanaman. Hasil umbi/rumpun dan per petak efektif (0,64 m2) dosis pupuk Mikotricho, 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman tidak berbeda. Pengurangan dosis N-P-K dari rekomendasi berpengaruh terhadap jumlah anakan dan bobot segar tanaman bawang merah dengan efek linier negatif, namun pengurangan 25% dosis N-P-K dapat dipilih. Pengaruh interaksi pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terjadi pada kehijauan daun dan luas daun. Pemberian pupuk Mikotricho dosis 10 g hingga 30 g/tanaman dengan pengurangan dosis N-P-K 25% hingga 50% dari rekomendasi meningkatkan kehijauan daun dan luas daun bawang merah. Implikasi dari penelitian ini adalah diperlukan sosialisasi pemanfaatan pupuk Mikotricho pada budidaya tanaman bawang merah atau tanaman sayuran lain untuk mengurangi pemakaian pupuk sintetik dan perlu dukungan industri pembuatan pupuk Mikotricho.KeywordsMikoriza; Trichoderma; N-P-K; Bawang merah; Lahan marginalAbstractShallots are a spice vegetable needed by the community. Adequacy of production can be achieved through the use of Ultisols with application of Mikotricho fertilizer. The aim of this research was to study the Mikotricho fertilizer with a reduced dose of N-P-K on growth and yield of shallots. The research was a factorial RCBD with three replications. The first factor, namely 10 g, 30 g, and 50 g/plant Mikotricho fertilizer dose, the second factor, namely 0, 25%, 50% N-P-K reduction of the recommendation.The results showed that Mikotricho fertilizer increased the number of leaves (11.4%) and fresh plant weight (49.1%) of shallots, the best dose of 50 g/plant. The yield bulbs/clump and per plot (0.64 m2) 10 g, 30 g, and 50 g Mikotricho fertilizer were not different. The 25% reduction in the N-P-K can be chosen to the number of tillers and fresh weight of shallots plants. Apply of Mikotricho fertilizer 10 g until 30 g/plant with a reduction in the N-P-K of 25% until 50% increases leaf greenish and leaf area. The implication was that socialization of Mikotricho fertilizer in cultivation of shallots or other vegetable crops to reduce the use of synthetic fertilizers and needs the support of the Mikotricho fertilizer manufacturing industry.
Lokus SSR Berasosiasi Karakter Tahan Penyakit Mati-Pohon Durian Berdasarkan Bulked Pseudo-Segregant Analysis (SSR Loci Associated to Resistance Traits to Durian Die-Back based on Bulked Pseudo-Segregant Analysis) Panca Jarot Santoso; I Nyoman Pugeg Aryantha; Sony Suhandono; Adi Pancoro
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p9-20

Abstract

Penyakit mati-pohon disebabkan cendawan Pythiaceae khususnya Phytophtora palmivora, Pythium vexans, dan Pythium cucurbitacearum menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya durian. Di antara upaya pengendaliannya adalah melalui pemuliaan dan seleksi tanaman tahan berbasis molekuler menggunakan marka SSR. Penelitian untuk mengidentifikasi lokus SSR yang berasosiasi dengan karakter tahan penyakit mati-pohon pada durian telah dilaksanakan di Laboratorium Genetika Tumbuhan SITH-ITB dari bulan April sampai dengan Desember 2014. Penelitian dilaksanakan secara bulked pseudo-segregant analysis dua pool DNA durian tahan dan rentan. Amplifikasi lokus SSR menggunakan 77 pasang primer mikrosatelit berlabel fluorescent. Produk amplifikasi dibaca menggunakan GeneMarker v.2.4.0., setiap puncak pancaran fluorescent yang memiliki nilai intensitas tinggi dipilih sebagai alel. Pembandingan panjang alel dilakukan di antara dua pool dan pembanding aksesi tahan. Lokus yang memiliki alel berbeda antara dua pool tetapi memiliki alel sama dengan pembanding dianggap sebagai marka yang berasosiasi dengan sifat tahan durian terhadap Pythiaceae. Hasil analisis ditemukan tiga lokus mDz03F10, mDz4B2, dan mDz3B1 dengan motif berturut-turut (GAA)3.A(GA)4, (GAGT)2ttGAGT, dan (TTTTATG)2(GCCC)2 teridentifikasi sebagai marka yang berasosiasi dengan karakter tahan Pythiaceae. Hasil analisis ini memerlukan satu langkah validasi untuk meyakinkan keterpautan marka dengan karakter target sebelum digunakan sebagai marka molekuler.KeywordsDurian; SSR; BpSA; Tahan; PythiaceaeAbstractDie-back disease caused by Pythiaceae especially Phytophtora palmivora, Pythium vexans, and Pythium cucurbitacearum is one of the obstacles in durian cultivation. An effort to control this disease is through breeding and selection of resistant plants based on molecular assays such as SSR markers. Research to identify SSR loci associated with durian die-back resistance was done at Plant Genetics Laboratory, SITH-ITB from April to December 2014. The research was conducted through bulked pseudo-segregant analysis of two DNA pools, resistance, and susceptible durians. Amplification of SSR loci was carried out by using 77 fluorescent labeled primers. Amplification products were analyzed using GeneMarker v.2.4.0. Fluorescent peak with high intensity was considered as a selected allele. Comparison of allele length was executed amongst two pools and resistance reference. A locus showed different allele between two pools, while it given the same allele to reference was considered as SSR marker associated with Phytiaceae resistance. The analysis were found three loci, mDz03F10, mDz4B2, and mDz3B1 with motif of (GAA)3.A(GA)4, (GAGT)2ttGAGT, and (TTTTATG)2(GCCC)2 recpectively identified as SSR markers associated to die-back resistance. This result, therefore, requires further validation to convince markers association to target traits before they are used as molecular markers.
Seleksi Marka SCAR untuk Identifikasi Dini Jenis Kelamin Tanaman Pepaya (The Selection of SCAR Markers for Early Sex Identification of Papaya) nFN noflindawati; Aswaldi Anwar; Agus Sutanto; nFN Yusniwati
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p1-8

Abstract

Identifikasi dini terhadap jenis kelamin tanaman pepaya merupakan hal penting yang dapat membantu petani dalam budidaya tanaman pepaya. Identifikasi kelamin pepaya berdasarkan marka morfologi dan fisiologi telah dilakukan, namun beberapa hasilnya masih bias karena faktor lingkungan. Identifikasi kelamin tanaman pepaya menggunakan marka molekuler bisa lebih cepat dan akurat. Penelitian tersebut telah banyak dilakukan, salah satu di antaranya adalah marka berbasis sequence characterized amplified region (SCAR) dan beberapa primer SCAR telah dihasilkan untuk identifikasi kelamin pepaya. Penelitian bertujuan untuk menyeleksi primer SCAR yang efektif dalam mengidentifikasi seks tanaman pepaya. Penelitian  dilakukan pada bulan November 2018 sampai Juni 2019 di Laboratorium Molekuler dan Uji Mutu Kebun Percobaan Sumani Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika di Solok. Primer SCAR yang diseleksi adalah W11,T12, PKBT5, Napf2, dan SDp. Tanaman referensi sebagai sampel umur 11–12 bulan  adalah tanaman betina, jantan, dan  hermaprodit masing-masing lima tanaman dari pepaya lokal dan Merah Delima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima primer SCAR yang diuji  hanya dapat membedakan tanaman betina dengan tanaman jantan dan hermaprodit tetapi belum dapat membedakan antara tanaman jantan dengan hermaprodit. Konsistensi pola amplifikasi dihasilkan dari primer SCAR W11, Napf2, dan T12 dengan posisi 800 bp. Primer SCAR W11, Napf2, dan T12 selanjutnya dapat digunakan sebagai marka untuk identifikasi kelamin tanaman betina dengan tanaman jantan dan hermaprodit.KeywordsSCAR; Identifikasi; Pepaya; Jantan, Hermaprodit AbstractThe determination of sex expression of papaya plants is important to farmers in its cultivation. The identification of papaya plant sex based on morphological and physiological characters have been previously carried out, however, the results were still biased due to environmental factors. Many studies have been carried out to identify this plant sex, such as the use of molecular and SCAR markers, based on sequence characterization on amplified regions. This research aims to select the SCAR primers that are effective in identifying papaya plant sex. The study was conducted from November 2018 to June 2019, at Laboratory of Molecular and Quality Testing of the Indonesian Tropical Fruit Research Institute in Solok. The selected SCAR primers were W11, T12, PKBT5, Napf2, and SDp, using a total of five female, male, and hermaphrodite plants are reference aged 11–12 month from local papaya and cv. Merah Delima. The five SCAR primers tested were only able to differentiate females from male and hermaphrodite plants. The consistency of the amplification pattern was obtained from the SCAR W11, T12, and Napf2 primers at 800 bp. In conclusion, SCAR W11, Napf2, and T12 primers are used as markers to distinguish female plants from male and hermaphrodite.
Application of Trichoderma-Enriched Compost on Shallot Productivity and Storability in East Lombok, West Nusa Tenggara (Pemanfaatan Kompos Diperkaya Trichoderma pada Produktivitas dan Daya Simpan Bawang Merah di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat) Lia Hadiawati; Ahmad Suriadi; Titin Sugianti; Fitria Zulhaedar
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p57-64

Abstract

Research on the benefits of Trichoderma-enriched compost (Tricho-compost) to improve soil fertility and yield of some vegetables has been widely reported. The objective was to study the effect of Tricho-compost application on productivity and storability of shallot. The experiment was laid out in a randomized block design at Labuan Lombok Village, Pringgabaya, East Lombok District, West Nusa Tenggara Province, during June to August 2017. There were five treatments with three replications, i.e., T1 = no fertilizer (control), T2 = 10 t/ha compost, T3 = NPK (250 kg/ha NPK, 150 kg/ha Urea, and 150 kg/ha SP-36), T4 = T3 + T2, and T5 =T3 + 10 t/ha Tricho-compost. The results showed that shallot with T5 treatment produced higher height at 20, 40 and 60 days after planting (DAP), fresh weight at 40 and 60 DAP, and dry yield. The plant height, fresh weight and dried yield were higher in T5 than those of plants in T4 for 3.7%, 8.7%, and 8.3%, respectively. Weight lost in T5 was 2.7% lower than T4 after storing for 90 days, indicating T5 shallot had better storability. These data indicated the potential of Tricho-compost to improve growth, yield, and storability of shallot.KeywordsAllium cepa ascalonicum; Productivity; Storability; Tricho-compost; Tropical drylandABSTRAKPenelitian terkait pemanfaatan kompos diperkaya Trichoderma sp. (Tricho-kompos) untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produksi berbagai sayuran telah  dipublikasikan secara luas. Tricho-kompos terbuat dari kompos organik yang diperkaya Trichoderma sp. yang telah diperbanyak dalam media beras. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemupukan menggunakan Tricho-kompos terhadap produktivitas dan daya simpan bawang merah di lahan kering Lombok Timur. Percobaan lapangan dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok  di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada bulan Juni sampai Agustus 2017. Terdapat lima perlakuan pemupukan dengan tiga ulangan, yaitu T1 = tanpa pupuk (kontrol), T2 = kompos 10 ton/ha, T3 = NPK (250 kg/ha NPK, 150 kg/ha Urea, dan 150 kg/ha SP-36), T4 = T3 + T2, dan T5 = T3 + Tricho-kompos 10 ton/ha. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bawang merah dalam perlakuan T5 menghasilkan tanaman yang lebih tinggi pada umur 20, 40, dan 60 hari setelah tanam (HST), berat berangkasan pada umur  40 dan 60 HST, dan berat kering eskip. Tinggi tanaman, berat berangkasan segar, dan berat kering eskip lebih tinggi dalam perlakuan NPK dan Tricho-kompos (T5) dibandingkan dengan perlakuan NPK dan kompos (T4), yaitu sebesar 3,7%, 8,7%, dan 8,3% secara berurutan, sedangkan susut bobot dalam T5 lebih rendah 2,7% daripada T4 setelah disimpan 90 hari, hal tersebut mengindikasikan bahwa daya simpan bawang merah lebih baik dalam T5. Hasil percobaan ini menunjukkan potensi pemupukan Tricho-kompos dalam meningkatkan pertumbuhan, produksi, dan daya simpan bawang merah yang ditanam di lahan kering tropis Kabupaten Lombok Timur. 
Penggunaan Mountain Microorganism pada Budidaya Cabai Merah Menggunakan Teknologi Input Produksi Rendah (The Using of Mountain Microorganism in Chilli Cropping System by Used of Low Input Technology) Liferdi Lukman; Muhammad Syakir; Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p29-40

Abstract

Mountain microorganism (MM) merupakan kumpulan dari berbagai mikrobe menguntungkan yang ditemukan pada tanah yang masih virgin pada serasah yang ada di pegunungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi MM sebagai bioactivator, biofermented, dan biopestisida untuk meningkatkan hasil cabai dengan menggunakan teknologi LEISA. Penelitian dilaksanakan di Ciamis, Jawa Barat mulai bulan Mei sampai dengan bulan Desember 2016. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak terpisah dengan empat ulangan. Faktor utama adalah pengelolaan hara (a = kompos + EM4) dan (a = kompos + MM + BF) 12. Subplot adalah dosis NPK (b = 1.000 kg/ha NPKdan b = 625 kg/ha NPK), dan sub-subplot adalah cara pengendalian OPT (c1= 12 konvensional dan c2 = biopestisida MM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MM pada kompos dapat meningkatkan pertumbuhan (tinggi dan lebar kanopi) tanaman cabai sebesar 2 – 8 cm, dapat meningkatkan jumlah buah, jumlah bunga, jumlah cabang, dan bobot buah serta mampu meningkatkan produktivitas cabai sebesar 7,20% hingga 12,5%. Pemberian kompos + MM dapat memperbaiki kesuburan kimia, sifat fisiko-kimia dan biologi tanah sehingga lebih sesuai untuk budidaya tanaman cabai merah. Pengurangan pupuk NPK sebanyak 37,5% tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan produktivitas cabai merah dan komponen hasil lainnya. Penggunaan MM sebagai biopestisida dapat menghambat perkembangan OPT dengan efikasi setara dengan penggunaan insektisida sintetik.KeywordsMikroorganisme pegunungan (MM); Pupuk kimia;, Biopestisida; Cabai; LEISAAbstractMountain microorganism (MM) is a collection of various beneficial microorganism that was found in virgin soils or forest decomposing organic matter, used in the preparation of bokashi, bioferments, and biopesticides. The objective of this experiment found the efficacy of MM as bioactivator, bioferments, and biopesticide to increase the yield of chili pepper under LEISA technology. The experiment was conducted in Ciamis, West Java from May to December 2016. The experiment arranged in a split-plot design with four applications. Main plot was nutrient management (a1 = compost + EM4) and (a2 = compost + MM + BF). Subplot were dose of NPK (b1 = 1,000 kg/ha of NPK, b2 = 625 kg/ha of NPK), and sub-subplot were control of pest and diseases (c1= conventional and c2 = biopesticide). Result of this experiment showed that the used of MM on compost can increase growth (height and width of the canopy) pepper plants of 2-8 cm, the amount of fruit, flower number, number of branches and fruit weight and increase production chili at 7.20% until 12. 15%. The use of compost + MM can improve the fertility of chemical, physicochemical properties, and biological soil, making it more suitable for the cultivation of chili pepper. Reduction of NPK fertilizer as much as 37.5% do not provide an effect on productivity improvement and the other components of yield. Efficacy of MM as biopesticide similar to synthetic pesticide and could reduce plant damage due to pest and diseases.
Pengaruh Magnesium, Boron, dan Pupuk Hayati terhadap Produktivitas Cabai serta Serangan Hama dan Penyakit (Effect of Magnesium, Boron, and Biofertilizers on Chili Pepper Productivity and Impact of Pests and Diseases) Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim; Bagus Kukuh Udiarto; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p65-74

Abstract

Penggunaan pupuk hayati dan unsur hara makro sekunder seperti magnesium (Mg) dan hara mikro boron (B) diketahui dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas hasil tanaman, meningkatkan unsur hara dalam tanah serta mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu penggunaan pupuk tersebut dapat mengurangi kebutuhan terhadap pupuk kimia sintetis. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh aplikasi Mg, B, dan kombinasinya dengan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil panen serta penekanan serangan hama dan penyakit. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat (1.250 m dpl.) dari bulan Juni 2018 sampai bulan Februari 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri atas delapan perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah aplikasi Mg, B, dan kombinasi dengan pupuk hayati serta teknologi konvensional sebagai pembanding. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan luas kanopi), komponen hasil dan hasil serta serangan hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Mg, B, dan pupuk hayati yang diaplikasikan sebanyak dua kali pada umur 30 HST dan 45 HST mampu meningkatkan produktivitas cabai sebesar 21,68 ton/ha atau meningkat sebesar 54,53% dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan produktivitas cabai terjadi karena adanya perbaikan dalam komponen hasil seperti jumlah bunga, jumlah buah, panjang, dan bobot buah serta adanya penekanan terhadap serangan hama dan penyakit seperti trips, antraknosa, lalat buah, dan penggerek buah sebesar 18,10% sampai 23,93%.KeywordsCapsicum annuum; Unsur hara makro; Pupuk hayati; Produktivitas; Organisme pengganggu tumbuhanAbstractThe use of biofertilizer and macro and micro nutrients enhanced the growth and development, yield quality of vegetable crops as well as nutrient status of soil to a greater extent and to increased on pests and diseases resistance. Organic sources of nutrients including biofertilizers also economize the use of chemical fertilizers. The objectives of this study were to determine the best combination of Mg, B, and biofertilizer that increase the growth and yield of chili pepper and the impact to pest and diseases on chili pepper. The field experiment was conducted at the experimental field of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, West Java from June 2018 to February 2019. The experiment was arranged in a Randomized Block Design with eight treatments and four replicated. The treatments were Mg, B, and their combinations with biofertilizer compared to the conventional technologies as a control. The observations were carried out on the growth parameters (plant height and leaf canopy), yield components, pest and diseases of chili pepper. The results showed that the combinations of Mg, B, and biofertilizer increased the yield of chili up to 21.68 ton/ha or positive interaction beside beneficial agent with Mg, B, and biofertilizer package on 54.53%. Increased productivity of chili occurs because of improvements in yield components such as the number of flowers, number of fruits, fruit length and fruit weight and reduction of pest and disease attacks such as thrips, anthracnose, fruit flies and, fruit borers by 18.10% to 23.93%.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue