cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015" : 8 Documents clear
PEMUPUKAN NPK DAN KELAYAKAN USAHATANI JERUK PAMELO DI KABUPATEN PANGKEP SULAWESI SELATAN Muh. Taufik; Ruchjaniningsih ,; Muhammad Thamrin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT The Fertilizing of NPK and the Feasibility of Pummelo’s Farming in Pangkep Regency, South Sulawesi. Pummelo Pangkep has more advantages over other citrus, such as, specific taste, sweet juicy, pink flesh, fair texture flesh, flavorful soft and almost no seeds. The purpose of this study was to (i) know the influence of fertilizers N, P and K in the production of pummelo; (ii) produce pummelo fertilizer recommendations based on the analysis of leaf tissue and define the nutrient adequacy levels and optimal dosage of pummelo; and (iii) analyze the feasibility of pummelo. Research was arranged in a randomized block design (RBD) with five treatments consisting of six replicates for each treatment. Each fertilizer (N, P and K) by 90 productive lifespan of pummelo trees less than 7 years old are selected with a relative uniform and healthy level. The treatment for N fertilizer dosage consists of: N= 0, 100, 200, 300, 400; P= 0, 100, 200, 300, 400 P2O5; K= 0, 150, 300, 450, 600 K2O/tree/year. Each of fertilizer application was conducted in a single study, respectively. The results showed that pummelo recommended fertilizing of N, P and K in low nutrient status, namely: 475.30 g N, 582.24 g P2O5 and 495.75 g K2O/tree/year or equal to 1.03 kg urea, 1.62 kg SP-36 and 0.83 KCl kg/tree/year. Based on the calculation of cost, revenue, and profit with 20% of discount factor, it was obtained B/C value of 3.9, NVP with positive value and IRR value that exceeds the standard of DF. It means that pummelo farming system is profitable and feasible for investment. Keywords: NPK Fertilizer, nutrient status, pummelo farming systemABSTRAK Jeruk pameloPangkep mempunyai kelebihan dibanding jeruk pamelo lain, rasanya spesifik, manis berair, daging buah merah jambu, tekstur daging sedang, beraroma lembut dan hampir tidak berbiji. Tujuan penelitian ialah untuk (i) mengetahui pengaruh dosis pupuk N,P dan K terhadap produksi jeruk pamelo (ii) membangun rekomendasi pemupukan berdasarkan analisis jaringan daun dan menetapkan tingkat kecukupan hara serta dosis pupuk optimum pada tanaman jeruk pamelo, (iii) analisis kelayakan untuk mengetahui keuntungan usahatani tanaman jeruk pamelo. Penelitian diawali dengan observasi, dan lapangan yang disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan setiap perlakuan terdiri atas enam ulangan. Masing-masing pupuk (N, P dan K) sebanyak 90 pohon tanaman jeruk produktif umur kurang lebih 7 tahun yang dipilih dengan tingkat relatif seragam dan sehat.Perlakuan dosis pupuk N terdiri dari: 0, 100, 200, 300, 400 N; P: 0, 100, 200, 300, 400 P2O5; K: 0, 150, 300, 450, 600 K2O/tanaman/tahun. Aplikasi pupuk N, P dan K masing-masing dilakukan dalam penelitian tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekomendasi pemupukan N, P dan K tanaman jeruk pamelo pada status hara rendah, yaitu: 475.30 g N, 582.24 g P2O5 dan 495.75 g K2O/tanaman/tahun atau setara dengan 1.03 kg Urea, 1.62 kg SP-36 dan 0,83 kg KCl/tanaman/tahun. Berdasarkan perhitungan biaya, penerimaan, dan keuntungan usahatani jeruk pamelo dengan discount factor 20% diperoleh hasil B/C 3,9, NVP positif dan persentase IRR melebihi DF yang berlaku, yang berarti usahatani jeruk pamelo sangat menguntungkan dan memenuhi kelayakan investasi. Kata kunci: Jeruk pamelo, kelayakan usahatani, pemupukan NPK, status hara
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN TANAMAN PADI PRODUK REKAYASA GENETIK DI JAWA BARAT DAN JAWA TIMUR Puspita Deswina; Rizal Syarief; Latief M Rachman; M Herman
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Sustainability Analysis of Genetically Engineered Rice Management in West Java and East Java Province. Bt rice genetically engineered plants (GEPs) having endurance to stem borer insect was developed by the Research Center for Biotechnology LIPI. Compared to conventional plants, the GEP has to obtain a certificate of biosafety and food safety before being released and used by public. It is necessary to study the sustainability of GEP based on indications of sustainable development. The research objective was to determine the sustainability of Bt rice plant based on attributes that construct the dimensions of ecological, economic, social, technological and institutional law. Analysis of the data used Multi Dimensional Scaling (MDS), and the results were expressed in the index form of sustainable management of GEP. Results of the study showed that the sustainability of multidimensional GEP Bt rice corresponds to the criteria of fair with the value 58.99%, except for the technological dimension with the value of 46.71%, which was classified as less sustainable. In addition, lists of value for other dimensions are: 73.02% for environmental dimension, 69.3% for economic dimension, 51.22% for social dimension, 54.74% for institution and law dimension, and 46.71% for technology dimension that was on less sustainable value. The results also showed ten leverage factors that might affect the increasing the sustainability index of all dimensions. These factors are: environmental dimensions (possibility of crossing genetic materials from GE crops to non-GE crops), economic dimensions (farmers dependency to GE crops, affordable price of GEP seed), social dimensions (informations of GEP, public perception and acception, public participation in decision making), technology dimensions (number of GE plants from internal R&D, capacity building in research and assessment of GEP), institutions and law dimensions (implementation of regulations, GEP labelling). Keywords: Genetically Engineered Plants (GEPs), biosafety, sustainability, Bt Rice  ABSTRAK Tanaman padi Bt Produk Rekayasa Genetik (PRG) memiliki sifat ketahanan terhadap hama penggerek batang kuning, hasil pengembangan Puslit Bioteknologi LIPI. Berbeda dengan tanaman konvensional, tanaman PRG harus memperoleh sertifikat keamanan hayati dan keamanan pangan sebelum dilepas dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kajian keberlanjutan PRG berdasarkan indikasi pembangunan berkelanjutan telah dilakukan menggunakan metode expert survey dan pemilihan responden dari kalangan pakar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah mengetahui keberlanjutan tanaman Padi Bt PRG berdasarkan atribut-atribut yang menyusun dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi serta hukum kelembagaan. Analisis data yang digunakan adalah Multi Dimensional Scaling (MDS) yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks keberlanjutan terhadap setiap dimensi yang dikaji. Hasil kajian terhadap multidimensi keberlanjutan tergolong pada kriteria cukup berkelanjutan dengan nilai 58,99%, kecuali untuk dimensi teknologi dengan nilai 46,71% yang tergolong kurang berkelanjutan. Nilai keberlanjutan untuk dimensi lingkungan 73,02%, dimensi ekonomi 69,30%, dimensi sosial 51,22% dan dimensi hukum kelembagaan 54,74%. Diperoleh sepuluh faktor pengungkit (leverage factor) yang dapat mempengaruhi peningkatan indeks keberlanjutan yaitu dari dimensi ekologi (Kemungkinan terjadinya perpindahan (crossing) material genetik dari tanaman PRG ke tanaman non-PRG), dimensi ekonomi (Ketergantungan petani pada tanaman PRG, Harga beli benih PRG yang terjangkau), dimensi sosial (persepsi dan penerimaan masyarakat, keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan), dimensi teknologi (jumlah tanaman PRG hasil litbang sendiri, kemampuan SDM melakukan riset dan pengujian tanaman PRG) serta dimensi hukum kelembagaan (implementasi peraturan dan undang-undang, labeling terhadap PRG).Kata kunci: Produk Rekayasa Genetik (PRG), keamanan hayati, keberlanjutan (sustainability), padi Bt
PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN PENJARANGAN BUAH TERHADAP PRODUKTIVITAS SALAK GULA PASIR I Nyoman Adijaya; I Made Rai Yasa
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT The Effects of Organic Fertilizer and Fruit Thinning on the Productivity of Balinese Snake-Fruit. The study aims to determine Knowing the effect of organic fertilizers to increase productivity and fruit thinning to improving the quality (grade) of fruits sugar, analyze farming application of organic fertilizers and fruit thinning, performance Gapoktan and income of rice farming for the recipient PUAP, as well as production problems bark sugar among others, the management of particular plants fertilization and thinning fruit that has not been applied properly, so the productivity is low.Study of fertilizing and fruit thinning was conducted in farmers group “Amerta Pala” in Pajahan village, Pupuan District, Tabanan-Bali. The study used productive plant aged 5-7 years. The reseach used a factorial randomized block design with two factors. The first factor is the dose of manure: PK0: without fertilizing, PK1: 5 kg of manure/plant, PK2: 10 kg of manure/plant and PK3: 15 kg of manure/plant. The second factor is fruit thinning: PB0: no thinning, PB1: thinning 10% in a bunch, PB2: thinning 20% in abunch and PB3: thinning 30% in a bunch. The results showed that there is no interaction between fertilizer and fruit thinning. Increasing doses of manure up to 10 kg/plant increased the productivity. Increasing fruit thinning to 30% in a bunch was followed by decreasing fruit harvested per plant and increasing a weight per fruit at the peak harvest and at the first interval of harvest. Increasing doses of manure up to 10 kg/plant increased farm profits, however, the profit could decline at a dose of 15 kg/plant. Nevertheless, an increase in fruit thinning up to 30% in a bunch would increase the profit. An increase in the dose of organic fertilizer could improve the soil’s chemical properties (organic-C and total-N) but that was not followed by an increase in the physical properties of the soil. Keywords: Cow manure, fruit thinning, productivity, balinese snake-fruit ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui Mengetahui pengaruh pemupukan organik terhadap peningkatan Penelitian bertujuan untuk mengetahui Mengetahui pengaruh pemupukan organik terhadap peningkatan produktivitas dan pengaruh penjarangan buah terhadap peningkatan kualitas (grade) buah salak gula pasir; menganalisis usahatani penerapan pemupukan organik dan penjarangan buah, kinerja Gapoktan, pendapatan usahatani padi bagi penerima PUAP, dan serta permasalahan produksi salak gula pasir antara lain manajemen pengelolaan tanaman khususnya pemupukan dan penjarangan buah yang belum diterapkan secara baik, sehingga produktivitasnya rendah.Kajian pemupukan dan penjarangan buah salak gula pasir ini dilakukan di Kelompok Amerta Pala Desa Pajahan Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Kajian dilakukan pada tanaman salak yang telah berproduksi (umur 5-7 tahun).Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama dosis pupuk kandang sapi yaitu: Pk0: tanpa pemupukan, Pk1: 5 kg pupuk kandang/tanaman, Pk2 : 10 kg pupuk kandang/tanaman dan Pk3: 15 kg pupuk kandang/tanaman. Faktor kedua penjarangan buah yaitu: Pb0: tanpa penjarangan, Pb1: Penjarangan 10% dalam satu tandan, Pb2: Penjarangan 20% dalam satu tandan dan Pb3: Penjarangan 30% dalam satu tandan. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi interaksi antara perlakuan dosis pupuk kadang sapi dan penjarangan buah.Peningkatan dosis pupuk kandang sapi sampai 10 kg/tanaman meningkatkan produktivitas salak gula pasir. Peningkatan penjarangan buah sampai 30% dalam satu tandan tidak menurunkan hasil tanaman. Peningkatan penjarangan buah sampai 30% dalam satu tandan diikuti oleh penurunan jumlah buah panen per tanaman dan peningkatan berat per buah pada panen raya dan sela I. Peningkatan dosis pupuk kandang sapi sampai 10 kg/tanaman meningkatkan keuntungan usahatani, namun terjadi penurunan keuntungan pada dosis 15 kg/tanaman, akan tetapi peningkatan penjarangan buah sampai 30% dalam satu tandan diikuti oleh peningkatan keuntungan usahatani. Terjadi peningkatan sifat kimia tanah (C-organik dan N-total tanah) akibat peningkatan dosis pemupukan organik yang diberikan, namun tidak diikuti oleh peningkatan sifat fisik tanah. Kata kunci: pupuk kandang sapi, penjarangan buah, produktivitas, salak gula pasir
PEMUPUKAN TERPADU DAN PADI VARIETAS UNGGUL DENGAN KONDISI MACAK-MACAK PADA LAHAN SAWAH BUKAAN BARU DI KABUPATEN POSO SULAWESI TENGAH Syafruddin ,; Andi Irmadamayanti; Irwan Sulukpadang; Hawalina ,; Saidah ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Integrated Fertilizing and High Yield Variety of Rice on the Submerged Irrigation System in the Initial Wetland at Poso Regency Central Sulawesi. The initial wetland, generally, has low productivity. The effort of increasing productivity requires improvement of soil condition, both physical and chemical, through providing organic and an-organic fertilizer. The study was conducted in Poso Regency, Central Sulawesi during May – August 2013. The research used a factorial block randomized design with three replications. The first factor was fertilizer combinations consisting of five levels. The second factor was rice varieties consisting of six varieties. Each plot of the experimental unit sized about 10 m x 25 m. The analysis on soil condition showed that the land is less fertile, less macro nutrients, less organic content, but in contrast, it contains high iron. The study found that there was an interaction between fertilizing and varieties toward unhusked rice, the weight of 1000 seeds and the number of productive shoots. The effect of single factor (fertilizers or varieties) was highly significant to all parameters: plant height, number of productive shoots, number of filled husk per panicle, weight of 1000 seeds and husk yield. However, the fertilizers did not affect to plant heigth. Moreover, it was found that the application of organic compound about 5 tons per ha combined with the recommendation of NPK or three-quarter of the NPK recommendation yielded the highest production (more than 7 tons per ha) or 26% higher than those using the NPK recommendation without organic compound. Thus, two varieties, Banyuasin and Mendawak, are more prospective to be developed at the areas of initial wetlands. Keywords: integrated fertilizing, rice, initial wetland ABSTRAKUntuk meningkatkan produktivitas lahan sawah bukaan baru yang pada umumnya memiliki produktivitas rendah, diperlukan perbaikan sifat fisik dan kimia tanah melalui pemberian bahan organik dan pupuk anoraganik. Kajian dilakukan di Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah pada bulan Mei – Agustus 2013 dengan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Fakktor pertama adalah perlakuan pemupukan (kombinasi kompos jerami dan pupuk NPK) yang terdiri atas lima taraf. Faktor kedua adalah perlakuan varietas padi yang terdiri atas enam varietas.Ukuran petak percobaan 10 m x 25 m. Analisis tanah lokasi penelitian tergolong kurang subur kandungan hara makro rendah - sangat rendah, bahan organik rendahdan kadar besi tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat interaksi pemupukan dan varietas terhadap hasil gabah, bobot 1000 biji dan jumlah anakan produktif. Pengaruh faktor tunggal (pupuk dan varietas) sangat nyata mempengaruhi semua sifat yang diamati (tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah isi permalai, bobot 1000 biji dan hasil gabah, kecuali tinggi tanaman tidak dipengaruhi oleh faktor pupuk. Lebih lanjut ditemukan bahwa pemberian pupuk organik (kompos jerami) 5 t/ha yang dikombinasikan dengan pupuk NPKsesuai rekomendasi atau dosis pupuk NPK ¾ dari rekomendasi memberikan hasil tertinggi (>7 t/ha) atau rata-rata 26% lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk NPKsesuai dengan dosis rekomendasi, tetapi tanpa kompos jerami.Varietas Banyuasin dan Mendawak lebih prospektif untuk dikembangkan di lahan sawah bukaan baru diwilayah kajian. Kata kunci: Pemupukan terpadu,  padi, sawah bukaan baru
KELAYAKAN USAHATANI TEBU DENGAN SISTEM TANAM JURING GANDA DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH Lintje Hutahaean; Q Dadang Ernawanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT                The Feasibility of Sugar Cane Farming with Double Row Cropping System in East Java and Central Java. Technology innovation of double rows cropping system in sugar cane farming, as the so called “Juring Ganda” is a breaktrough by IAARD to improve the productivity aimed to support sugarcane self-sufficiency as well as to increase farmers’ income. This assessment aimed to analyze the financial feasibility of the double rows cropping system and to compare the differences of income between double and single cropping system. The research has been conducted in Central Java Province (Pati, Karang Anyar, Pekalongan, Klaten, Tegal Regency) and East Java Province (Pamekasan Regency) in 2013. Data were collected using survey to 15 farmers for each cropping system who were selected randomly. The types of data collected were: sugar cane farming characteristics (variety, cultivation, production, rendemen taxation, sugarcane prediction yield, etc); financing structures (cost for seedling, fertilizer, labours, sugar’s price), and structure of farmer’s income per hectare. Data were analyzed using losses and gains approach reflected by the marginal benefit cost ratio (MBCR), and using t test (t-student) for incomes differences. The results showed that: (a) the double row cropping system of sugar cane farming in the assessment locations was feasible, (b) additional costs of Rp 2.61 million per hectare in double rows cropping system led to additional revenue of Rp 4.67 million per hectare with MBCR value of 1.79, and (c) statistically, farmer’s income from double row system was significantly different from single row. Thus, it can be implied that double rows cropping system of sugarcane farming is an alterantive to be developed. Keywords: Sugarcane, double rows cropping, feasibility ABSTRAKTeknologi budidaya juring ganda pada tebu merupakan salah satu terobosan inovasi Balitbangtan untuk meningkatkan produktivitas tebu rakyat dalam upaya mendukung produksi gula nasional, sekaligus meningkatkan pendapatan petani tebu. Pengkajian yang bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usahatani tebu sistem tanam juring ganda (JG) dan menguji perbedaan pendapatannya dibandingkan dengan sistem tanam juring tunggal (JT). Pengkajian telah dilakukan di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Pati, Karang Anyar, Pekalongan, Klaten, Tegal) dan Provinsi Jawa Timur (Pamekasan) pada tahun 2013. Pengumpulan data dilakukan melalui survey menggunakan daftar pertanyaan terhadap 15 orang petani tebu sistem JG dan 15 orang petani tebu dengan sistem JT yang terpilih sebagai responden secara acak sederhana. Jenis data yang dikumpulkan utamanya meliputi karakteristik usahatani tebu (penggunaan varietas tebu, penggunaan pupuk, produksi, taksiran rendemen gula dan produksi gula per hektar), struktur pembiayaan (pembelian bibit, pupuk, upah kerja, harga gula), dan pendapatan usahatani tebu per hektar. Kelayakan usahatani tebu sistem tanam juring ganda dianalisis menggunakan “losses and gains” yang direfleksikan dalam marginal benefit cost ratio (MBCR), dan untuk menguji perbedaan pendapatan JG dengan JT digunakan uji beda dengan Uji t (t student). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (a) Penerapan sistem tanam juring ganda pada usahatani tebu layak secara finansial, (b) Penambahan biaya sebesar Rp2,61 juta per hektar dapat menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp4,67 juta per hektar, dengan nilai MBCR 1,79, dan (c) Pendapatan usahatani tebu sistem tanam juring tunggal tersebut terbukti berbeda nyata dibandingkan pendapatan petani tebu juring tunggal. Implikasinya, usahatani tebu sistem juring ganda dapat menjadi pilihan untuk dikembangkan. Kata kunci: Tebu, juring ganda, kelayakan 
DETERMINASI PERILAKU PETANI DALAM PENYULUHAN PERTANIAN DI MALUKU Rahima Kaliky; Sunarru Samsi Hariyadi; Sri Peny Wastutiningsih; P. Wiryono Priyotamtomo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACT Determinant Factors of Farmers’ Behavior on Agricultural Extension in Maluku Province. In Maluku, the farmers lived in a specific circumstance with based on capital social and human capital, so this condition was expected to affect the farmer’s behavior in the implementation of agricultural extension. This study aims to assess the determinant factors in the implementation of agricultural extension. The assessment was conducted in 2010 covering 18 villages of 6 subdistricts which were included into two districts in Maluku. A survey was applied as the research method involving 270 farmers as respondent selected using multistage random sampling. The data analysis applied Structural Equation Modeling (SEM) approach using Analysis of Moment Structure (AMOS). The results showed that the prominent farmer’s behavior in Maluku reflected in the use of seeds/seedlings, the treatments on crops, plantations and livestock. The highest influence of farmers behavior was the social capital, although is not statistically significant. Other related factors are extension activities, human capital and farmer’s accessibility. Human capital is significantly influenced by the implementation of extention. Moreover, the human capital has significant effect on accessibility, but did not give the same effect on farmer’s behavior. To encourage farmer’s behavior in the future, more accommodate for the role of social capital in the local area as facilitating the empowerment.Keywords: Extention, farmer’s behavior, social capital, human capitalABSTRAKPetani di Maluku berada di lingkungan masyarakat yang memiliki landasan modal sosial dan modal manusia yang spesifik, sehingga perilaku petani dalam penyelenggaraan penyuluhan di Maluku diduga terkait dengan lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti determinasi perilaku petani dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian. Penelitian dilaksanakan di Provinsi Maluku, fokus di dua kabupaten meliputi enam kecamatan dan 18 desa pada 2010. Pengumpulan data dilakukan melalui survei terhadap 270 orang petani contoh yang terpilih sebagai responden menggunakan metode penarikan contoh acak banyak tahap (multistage random sampling). Data yang terkumpul dianalisis dengan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model-SEM) dan penyelesaian menggunakan AMOS (Analysis of Moment Structure). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petani yang menonjol dalam penyuluhan pertanian di Maluku tercermin pada penggunaan benih/bibit, dan perawatan pada tanaman pangan dari pada perkebunan dan peternakan. Pengaruh yang paling besar mendorong motivasi perilaku petani adalah kondisi modal sosial, namun pengaruhnya tidak nyata. Unsur lainnya yang terkait adalah penyelenggaraan penyuluhan, modal manusia dan aksesibilitas petani. Modal manusia secara signifikan dipengaruhi penyelenggaraan penyuluhan, dan modal manusia berpengaruh nyata terhadap aksesibilitas namun tidak berpengaruh terhadap perilaku petani. Untuk lebih mendorong perilaku petani ke depan, perlu lebih mengakomodasi peran modal sosial yang ada di daerah setempat sebagai fasilitasi pemberdayaannya.Kata kunci: Penyuluhan, perilaku, modal sosial, modal manusia
KEUNTUNGAN PEMBESARAN SAPI PERANAKAN SIMMENTAL MELALUI PERBAIKAN PAKAN DI KABUPATEN SEMARANG Dewi Sahara; Muryanto ,; Subiharta ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Profit of Fattening on Simmental-Crossed Breed Cattles through to Feed’s Improvement in Semarang Regency, Central Java. Most of cattle management in Central Java is traditional farms with low meat production. One of the efforts to increase meat production is improvement of feed formulation for calves. This study aimed to determine the average daily gains (ADG) and profitability of cattle rearing with the improvement of feed formulation compared to the traditional one by farmers. The study was conducted in the Polosiri village, Bawen sub-district, Semarang regency from October to December 2012. A total of sixteen heads of Simmental-crossed breed of 6-8 months old were divided into two groups: one group was given feed improvement (elephant grass, fermented rice straw and concentrates) and another with farmer's feed formulation (elephant grass, rice straw, cassava and rice bran). ADG was calculated by subtracting the initial weight from the final weight divided by the period of rearing. The profit was calculated by financial feasibility using Benefit and Cost Ratio (BCR) formula, meanwhile, the difference of profit between two group was calculated by Marginal Benefit and Cost Ratio (MBCR). The results showed that ADG from feed improvement model was 0.66 + 0.17 kg/head/day which is higher than the farmer's feed models that accounted for 0.43 + 0.39 kg/head/day. The BCR analyses for feed improvement model and farmer’s model were 0.13 and 0.09, respectively, with the profit of Rp7.733.500 and Rp4.999.650, respectively. Different feeding model yielded MBCR value of 1.40. It can be concluded that fattening on Simmental-crossed breed cattle with feed improvement model in the form of elephant grass, fermented rice straw, and concentrates is able to improve ADG. Keywords: fattening, feed improvement, gain, profit  ABSTRAK Usaha peternakan sapi di Jawa Tengah merupakan usaha ternak sapi rakyat dengan sistem pemeliharaan tradisional sehingga produktivitas daging rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi daging sapi ialah membesarkan pedet melalui perbaikan pakan. Pengkajian dilaksanakan dengan tujuan mengetahui Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) dan keuntungan usaha pembesaran sapi yang mendapatkan perbaikan pakan dibandingkan pakan model peternak. Pengkajian dilakukan di Desa Polosiri, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, dari bulan Oktober–Desember 2012, menggunakan 16 ekor sapi peranakan Simmental umur 6–8 bulan yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapatkan perbaikan pakan (rumput gajah, jerami fermentasi dan konsentrat dengan jumlah sesuai dengan bobot badan) dan kelompok model peternak (rumput gajah, jerami, ubi kayu dan bekatul.  PBBH dihitung dengan mengurangi bobot badan akhir dan bobot badan awal dibagi waktu pembesaran. Keuntungan didekati dengan kelayakan finansial usaha dianalisis dengan membandingkan keuntungan dan biaya (BCR) dan rasio perubahan keuntungan dan biaya (MBCR). Hasil kajian menunjukkan bahwa PBBH pada pembesaran anak sapi yang mendapat perlakuan perbaikan pakan sebesar 0,66 + 0,17 kg/ekor/hari lebih tinggi dibandingkan model peternak 0,43 + 0,39 kg/ekor/hari. Hasil analisis BCR memperoleh nilai 0,13 dan 0,09 untuk pemberian pakan  perbaikan dan pakan peternak dengan keuntungan masing-masing Rp7.733.550 dan Rp4.999.950. Perbedaan pemberian pakan menghasilkan nilai MBCR = 1,40. Dapat disimpulkan bahwa pembesaran sapi peranakan Simmental dengan pemberian pakan perbaikan berupa rumput gajah, jerami fermentasi dan konsentrat mampu meningkatkan PBBH. Kata kunci: Pembesaran pedet, pakan perbaikan, bobot badan, keuntungan 
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP DEGRADASI LAHAN DAN PENDAPATAN PETANI DI DAS WANGGU SULAWESI TENGGARA La Ode Alwi; Sitti Marwah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Impact Analysis on The Change of Land Utilization toward Land Degradation and Farmers’ Income in Wanggu Watershed of South East Sulawesi. Objectives of the study were: (1) to assess the impact of the changes of land use in Wanggu watershed toward erosion, land degradation, ratio discharge (Qmax / Qmin), and farmer incomes; (2) to analyze land utilization and agro-technological model to improve soil infiltration capacity and water availability as well as to reduce the ratio discharge (Qmax / Qmin), the rate of erosion and land degradation; and (3) to formulate land-use and agrotechnological planning in sustainable watershed management. The research was conducted in July 2013-December 2013. The assessment on land degradation and watershed hydrological conditions of Wanggu was based on the data of land use changes, soil physical, erosion, run off coefficient, and river discharge. This study used survey methods and experimental plots to collect the data. Data on biophysical land including: climate, topography, soil type and land use derived from the results of the previous studies. The farmer’s income was calculated based on total production, total revenue and total cost. The results showed that the changes of land use caused land degradation, which might occur on: (i) upland agriculture, bushes, human settlements with the erosion > ETol with 36.3>21.0; 21.4>14.9 and 19.5>18 t/ha/yr and its slopes >8%, (ii) the ratio of river discharge (Qmax/Qmin> 30), land productivity and farmers' income (around IDR11.500.000/ha/th in upland, while in agroforestry about IDR21.500.000/ha/year < the standard of living allowance IDR22.000.000/year/hh). The land use and agrotechnological model from the scenario 5 could prevent land degradation, reduce the ratio of discharge (Qmax / Qmin <30), enhance soil productivity and increase income of farmers reaching for about IDR22.340.000–IDR25.730.000 ≥ IDR27.200.000/ha/year/hh. Those would meet the minimum requirement of living standard in South East Sulawesi.   Keywords: Land use, Wanggu Wathersed, impact, erosion, farming system ABSTRAKTujuan penelitan adalah (1) menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan di DAS Wanggu Ds terhadap erosi, run off dan fluktuasi debit air, (2) mengkaji model penggunaan lahan dan agroteknologi yang mampu meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, menurunkan run off, fluktuasi debit air sungai dan laju erosi serta pendapatan petani, dan (3) merumuskan model perencanaan penggunaan lahan dan agrotekonologi yang tepat dalam pengelolaan DAS Wanggu berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013–Desember 2013. Degradasi lahan dan kondisi hidrologi DAS Wanggu dinilai berdasarkan terhadap perubahan penggunaan lahan, fisik tanah, erosi dan koefisien aliran permukaan serta debit sungai dengan menggunakan metode survei dan percobaan plot. Data biofisik lahan mencakup: data iklim, topografi, jenis tanah dan penggunaan lahan yang diperoleh dari hasil-hasil berbagai penelitian. Pendapatan petani dihitung berdasarkan pada produksi total, pendapatan dan biaya total yang dkeluarkan petani. Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya telah menyebabkan degradasi lahan umumnya pada: (i) pertanian lahan kering, semak-belukar, pemukiman dengan erosi > ETol secara berurutan 36,3 > 21,0; 21,4 >14,9 dan 19,5 >18 t/ha/th) pada kemiringan lereng > 8%, (ii) peningkatan Qmax/Qmin 36,8  > 30), (iii) produktivitas lahan dan pendatan petani adalah rendah (pertanian lahan kering Rp11.500.000/ha/th, dan kebun campuran/agroforestry Rp21.500.000/ha/th < standar kebutuhan hidup layak (KHL) Rp22.000.000/th/KK. Model penggunaan lahan dan agroteknologi Skenario 5 dapat mencegah degradasi lahan, menurunkan Qmax/Qmin 15,2 < 30), erosi < ETol (3,5–14,5 t/ha/th < 10,6–20,0 t/ha/th), meningkatkan produktivitas tanah dan pendapatan petani yang mencapai Rp22.340.000 – Rp25.730.000 ≥ Rp22.000.000/ha/th/KK yang memenuhi standar kebutuhan hidup layak di Sulawesi Tenggara. Kata kunci: Penggunaan lahan, DAS Wanggu, dampak, erosi, sistem pertanian

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue