cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005" : 26 Documents clear
AKUNTABILITAS DISEMINASI TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN DAN PENGKAJIAN OLEH BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN Hendayana, Rachmat
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dissemination is an important step of agricultural technology distribution. This paper aimed to investigateaccountability of agricultural technology dissemination carried out by the Assessment Institutes for AgriculturalTechnology (AIAT) during three years (1998 –2000), based on case studies in 12 provinces of ParticipatoryAssessment of Agricultural Technology Project (PAATP). Data collection was conducted through direct interview andfield observation using questionnaires and the respondents were researchers and agricultural extension workers. Datawere analyzed using qualitative and quantitative approaches. The results showed: (a) technology dissemination carriedout by the AIATs was relatively limited and it depended on appreciation of AIATs’top management, (b) continuedand new technology disseminations were relatively the same with moderate value of 285,2 to 292,9, and (c) toimprove dissemination accountability the AIATs need to focus on indicators of inputs, outputs, benefits, outcomes andimpacts.Key words: Assessment Institutes for Agricultural Technology, dissemination accountability; specific location Diseminasi merupakan tahapan penting dalam upaya menyebarluaskan teknologi hasil penelitian danpengkajian pertanian Makalah ini bertujuan membahas akuntabilitas diseminasi teknologi hasil penelitian danpengkajian oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dalam kurun waktu tiga tahun (1998 –2000), kasus di12 provinsi PAATP. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapanganmenggunakan panduan pertanyaan. Informasi dikumpulkan dari peneliti dan penyuluh pertanian di tiap BPTP contoh.Melalui pembahasan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif diperoleh gambaran berikut: (a) Kegiatan diseminasioleh BPTP masih relatif rendah. Hal ini erat kaitannya dengan apresiasi pimpinan BPTP terhadap kegiatandiseminasi, (b). Keragaan diseminasi yang baru dan lanjutan relatif sama yaitu termasuk dalam kategori nilai cukupdengan kisaran nilai rata-rata 285,2 –292,9, (c) Untuk meningkatkan akuntabilitas diseminasi ini sebaiknyapembinaan difokuskan pada aspek-aspek yang ada dalam masing-masing indikatornya meliputi unsur masukan,keluaran, keuntungan, manfaat dan dampak.Kata kunci : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, akuntabilitas diseminasi, lokasi spesifik
DAMPAK TEKNOLOGI SISTEM USAHA PERTANIAN PADI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI DI JAWA TIMUR Santoso, Pudji; Suryadi, Agus; Subagyo, Herman; Viktor Latulung, Beny
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment was carried out in the areas of the rice-based farming system assessment, namely in Lamongan,Nganjuk, Jombang, Blitar and Malang regencies lasting from 1997 until September, 2000. Technology packageapplied in those areas were: (1) use of improved varieties and seed, (2) planting method, (3) rational fertilization, and(4) weed control. Data collection was done using a survey method since July to September, 2002. This assessmentaimed (1) to get information on the stage of technology adoption and diffusion of the rice-based farming systemtechnology, and (2) to find information on impacts of the activities of the rice-based farming system assessmentrelated with dissemination of new improved varieties, application of double-row planting (jajar legowo) method,numbers of adopting farmers, planted areas, yields, and farmers’ income. The results showed that adoption anddiffusion of recommended technology package on rice by the farmers in the assessment areas were high, especiallyon the method of planting and use of new improved varieties. Rice-based farming system technology conducted infive regencies gave positive impacts to (1) new improved varieties diffusion, (2) use of jajar legowo planting method,(3) number of adopting farmers, and planted areas, and (4) yields and farmers’ income. Training and extensionthrough farmers’ groups are necessary to sustain the program.Key words: technology impacts, farming system, oryza sativa, yield, incomeKajian dampak teknologi SUP padi ini dilakukan di wilayah yang sama dengan kegiatan SUP padi, yaitu diKabupaten Lamongan, Nganjuk, Jombang, Blitar dan Malang. yang dilakukan pada tahun 1997 sampai 2000. Rakitanteknologi yang diterapkan pada saat kegiatan tersebut meliputi : (1) penggunaan varietas dan bibit unggul, (2) caratanam, (3) pemupukan rasional dan (4) pengendalian gulma. Kajian dampak ini menggunakan metode survai dandilakukan pada bulan Juli – September 2002. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan primer. Tujuan daripengkajian adalah (1) diperolehnya informasi tingkat adopsi dan difusi teknologi SUP padi dan (2) diperolehnyainformasi dampak kegiatan SUP padi terhadap penyebaran varietas unggul baru, cara tanam jajar legowo, jumlahpetani adopter dan luas areal tanam, serta produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil kajian menunjukkan bahwaadopsi dan difusi paket teknologi yang dianjurkan pada SUP padi oleh petani di kabupaten tersebut cukup tinggi,terutama dalam hal cara tanam dan penggunaan varietas unggul baru. Pengkajian SUP padi yang telah dilakukan dilima kabupaten telah berdampak positif terhadap ; (1) penyebaran varietas unggul baru, (2) cara tanam jajar legowo,(3) jumlah petani adopter dan luas areal tanam, serta (4) produktivitas dan pendapatan usahatani. Agar supayakegiatan adopsi teknologi SUP tersebut berlanjut, maka kegiatan bimbingan dan pembinaan melalui kelompok taniperlu selalu dilakukan.Kata kunci : dampak teknologi, sistem usaha pertanian, padi, produksi, pendapatan
KERAGAAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM TANAM LEGOWO-2 PADA PADI SAWAH DI KECAMATAN BANYURESMI, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Bachrein, Saeful
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sustaining productivity growth because of low efficiency of rice production is crucial issue. The asymmetricwide-space (legowo-2) planting system is an alternative. Research results showed that legowo-2 spacing system usingborder effect significantly and consistently increased (12 - 26,9%) average grain yield compared to traditionalsymmetric planting system (tegel). Wider space among rows facilitates faster weeding and fertilizer application. Suchcondition reduces costs of labor for weeding and fertilization. Increase in yield, and time and labor savings makelegowo-2 planting system both economically and socially attractive. In general, cooperating and non-cooperatingfarmers’ responses to legowo-2 planting system and participation of extension workers and local offices in supportingimplementation of the introduced technology were very good. Survey results indicated that more than 95 percent offarmers deemed legowo-2 planting system as good or acceptable technology. Responses of the farmers applying thelegowo-2 planting system were indicated by high values of acceptability indices (50 and 30 in wet season of2000/2001, and 85 in dry season of 2001). Even though these values were only evaluation of technology acceptabilityof the farmers and not a measure of “acceptance” indicating adoption or impact, but a high value of acceptabilityindex was useful to predict a high rate of adoption. In 2003, legowo-2 planting system was promoted on a larger scaleof planted areas.Key words : planting system, asymmetric wide-space and symmetric, productivity, efficiency, dissemination.Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan selama beberapa tahun terakhirini menghadapi masalah terutama dengan rendahnya efisiensi usahatani. Untuk itu diperlukan suatu terobosanteknologi yang mampu meningkatkan efisiensi usahatani padi. Salah satu alternatif teknologi adalah melaluipenerapan sistem tanam legowo-2 yang telah dikaji dalam jangka waktu panjang (empat tahun). Hasil pengkajianmenunjukkan bahwa dengan tersedianya ruangan luas yang memanjang ke satu arah, maka legowo-2 dibandingkandengan sistem tegel, memberikan beberapa keuntungan diantaranya: peningkatan produksi secara nyata dan konsistendengan kisaran 12-26,9 dan memudahkan serta mengurangi biaya produksi yang disebabkan karena berkurangnyawaktu dan biaya tenaga kerja untuk penyiangan gulma dan pemupukan. Respons petani (95% dari petani) terhadapsistem tanam legowo dan dukungan penyuluh serta petugas lapang lainnya terhadap penerapannya di tingkat petanisangat positif. Dengan demikian teknologi ini layak baik secara teknis, ekonomi, maupun sosial untuk dikembangkansecara luas. Respons tersebut didukung oleh nilai indeks penerimaan yang tinggi, yaitu 50 dan 30 pada MH 2000/2001dan kemudian meningkat menjadi 85 pada musim berikutnya (MK 2001). Meskipun nilai-nilai tersebut bukanmerupakan suatu ukuran dari adopsi teknologi, tetapi nilai yang sangat tinggi dapat digunakan sebagai indikatorbahwa teknologi tersebut mempunyai peluang yang tinggi untuk diadopsi petani secara luas. Pada tahun 2003, dengandukungan aparat pemerintah daerah, sistem tanam legowo telah dikembangkan baik di wilayah pengkajian maupunkabupaten lainnya.Kata kunci : cara tanam: Legowo-2, tegel, produktivitas, efisiensi, diseminasi
KAJIAN TEKNOLOGI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH Krismawati, Amik; Firmansyah, M. A.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Corn as a second food crop after rice was very important due to its utilization as feed and raw material forindustries. Central Kalimantan has potency for increasing national corn production with its 14.63 million hectares ofdryland. AIAT Palangkaraya conducted corn-based farming system assessment during rainy season of 1998/1999 indryland area of Batuah Village, Dusun Tengah District, Barito Selatan Regency. The assessment consisted of 2.5 haarea and 10 cooperating farmers. This study aimed to increase corn and seed yields, and farmers’ income. The studyconsisted of two activities, namely super-imposed study covering 0,45 hectare of dry land area and the second was theimplementation of technology package of Bisma variety. Split Plot Design was used for super imposed study with themain plot consisiting of five corn varieties, namely V1 = Bisma, V2 = Lagaligo, V3 = Semar 2, V4 = CP-1, and V5 =white corn. Treatments for each the main plot consisted of five levels of fertilizers application, namely P1 = 300 kgUrea/ha + 175 kg SP-36/ha + 125 kg KCl/ha, P2 = 275 kg Urea/ha + 150 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha, P3 = 250kg Urea/ha + 125 kg SP-36/ha + 75 kg KCl/ha, P4 = 225 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha dan P5 = 200kg Urea/ha + 75 kg SP-36/ha + 25 kg KCl/ha. The results showed that Bisma variety using fertilizer dosage P3 hadthe yield of 5.61 tons /ha and R/C ratio of 2.92 in the super imposed, and Bisma variety planted using fertilizerdosage P3 had the yield of 4.07 tons/ha and R/C ratio of 2.35 in the package technology. Corn farming in that regionwas profitable due to its R/C ratio of more than one. However, the government needs to guarantee supply of inputsand the farm gate price to sustain corn production in this region.Key words : zea mays, corn farming system, dry land, Central KalimantanJagung merupakan komoditas pangan yang penting kedua setelah padi, karena berfungsi sebagai makananpokok dan pakan ternak serta bahan baku industri. Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yangberpeluang besar dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional, karena masih memiliki lahan kering seluas14,63 juta hektar. Salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP Palangkaraya dalam peningkatan produksi jagungadalah melaksanakan Pengkajian Teknologi Usahatani Berbasis Jagung di Lahan Kering dengan tujuan dapatmeningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pengkajian dilaksanakan pada musim hujan dengan luashamparan 2,5 hektar yang melibatkan 10 petani kooperator. Pengkajian dilaksanakan di Desa Batuah, KecamatanDusun Tengah, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah pada MH 1998/1999. Pengkajian dilaksanakan terdiridari Pengkajian Utama dan Pengkajian Super Imposed yang merupakan inti pengkajian seluas 0,45 hektar. PengkajianUtama ditanam jagung varietas Bisma dengan menerapkan dosis pemupukan sesuai anjuran dari Dinas TanamanPangan. Pengkajian Super Imposed menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan Varietas sebagai petak utamadan dosis pupuk sebagai anak petak. Varietas terdiri dari lima level yaitu Bisma, Lagaligo, Semar-2, CP-1 dan jagungputih. Dosis pupuk terdiri dari lima level yaitu P1 = 300 kg Urea/ha + 175 kg SP-36/ha + 125 kg KCl/ha, P2 =275 kg Urea/ha + 150 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha, P3 = 250 kg Urea/ha + 125 kg SP-36/ha + 75 kg KCl/ha, P4 =225 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha dan P5 = 200 kg Urea/ha + 75 kg SP-36/ha + 25 kg KCl/ha. Hasilpengkajian Utama menunjukkan produktivitas jagung 4,07 ton/ha dan R/C-ratio sebesar 2,35. Pada Pengkajian SuperImposed menunjukkan bahwa dosis pupuk P3 dan varietas Bisma memberikan hasil tertinggi dengan produktivitas5,61 ton/ha dengan R/C rasio sebesar 2,92. Teknologi usahatani tersebut secara ekonomis menguntungkan petani40Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 39-54karena menunjukkan R/C rasio lebih besar dari satu. Hal ini dapat berkelanjutan apabila sarana produksi tersedia danada kestabilan harga serta jaminan pasar yang jelas dengan didukung oleh pemerintah, swasta atau KUD.Kata kunci : jagung,sistem usahatani, lahan kering, Kalimantan Tengah
KAJIAN KELAYAKAN EKONOMI RAKITAN TEKNOLOGI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN GAMBUT Manti, Ishak; Hendayana, Rachmat
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to assess feasibility of maize farming system on peat soil agroecosystem using hybrid maizeseed, spesific fertilizer application, and drainage. Assesment was conducted in 2002 in Sukasari village, Sukarajadistrict, South Bengkulu Province. Data were collected through a Participation Rural Appraisal (PRA) approach. Datawere analyzed using a partial budget analysis and the parameters were R/C, MBCR, BEP , and sensitivity analysis.The results indicated that (a) performance of maize farming system introduction in peat soil was better off than that ofexisting farmer technology, (b) introduced technology was able to increase maize yield by 2.5 point, i.e., 5.46 tons/hacompared with 2 tons/ha, (c) introduced technology could improve profit value added by Rp 1,598,000 per ha withMBCR of 3.1, (d) introduced technology had BEP less than 15 percent (of input price) and 25 percent (of outputprice), respectively, compared to existing technlogy. To accelerate technology innovation, it needs supply ofaffordable inputs close to the farm areas, direct supervision, and periodic monitoring.Key words: peat soil, zea mays, specific fertilizer application, economic feasibililityMakalah ini bertujuan membahas kelayakan ekonomi usahatani jagung di lahan gambut dengan inovasipenggunaan benih jagung hibrida, pemupukan khusus, dan pengaturan drainase. Pengkajian dilaksanakan pada tahun2002 di Desa Sukasari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bengkulu Selatan. Sumber data menggunakan data primeryang dikumpulkan dengan pendekatan PRA. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatifmenggunakan analisis anggaran parsial, dengan parameter ekonomi R/C, MBCR, TIP, TIH dilanjutkan dengananalisis sensitivitas. Hasil pengkajian menunjukkan : (a) Tampilan komponen hasil jagung pada introduksi teknologirelatif lebih baik dari pada pola petani, (b) Introduksi teknologi menghasilkan produktivitas jagung 2,5 kali lipat dariproduktivitas pola petani yakni 5,46 ton berbanding 2 ton/ha, (c) Penerapan paket teknologi usahatani jagung di lahangambut mampu meningkatkan tambahan keuntungan usahatani sebesar Rp 1598000/ha dengan nilai MBCR 3,1, (d)Survival technology usahatani jagung masih mampu bertahan dalam kondisi peningkatan harga input dan penurunanharga produk jagung dalam batas peningkatan harga input tidak lebih dari 15 persen dan penurunan harga produktidak lebih dari 25 persen. Untuk kelancaran penerapan inovasi teknologi, diperlukan dukungan sarana produksi dekatlokasi usahatani dengan harga yang terjangkau disertai pendampingan dan monitoring secara periodik.Kata kunci : lahan gambut, jagung, pemupukan spesifik, kelayakan ekonomi
ANALISIS KEUNGGULAN KOMPETITIF BEBERAPA TANAMAN PALAWIJA DI LAHAN PASANG SURUT KALIMANTAN TENGAH Ramli, Rachmadi; K S. Swastika, Dewa
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Palawija crops are the second important crops after rice. Tidal swamp areas are the potential land in CentralKalimantan where farmers are growing palawija, in addition to rice. This analysis of competitive advantage onpalawija crops is carried out to identify: (1) competitive advantage of palawija crops on tidal swamp, and (2)supporting factors for development of palawija farming system. Uisnga purposive smapling method, the assessmentwas conducted through a farm survey in four villages, namely Lamunti and Dadahup resettlements in Kapuas Murungdistrict, Talio Hulu in Pandih Batu district, and Kanamit in Maliku district, Kapuas regency. A number of 15 farmersper village were randomly selected. Results of the assessment showed that: (1) soybean, corn, groundnut and sweetpotatoes farmings were financially profitable in all of the villages study area; (2) soybean, corn, groundnut and sweetpotatoes farmings would still be profitable even if their yields were below the current yields, (3) in Dadahup andLamunti, corn farming was competitive over soybean and groundnut if its yields were more than 1.033 kg/ha and1.362 kg/ha, respectively; while in Talio Hulu and Kanamit the minimum yield for corn to be competitive oversoybean was 1.081 kg/ha and over groundnut was 1.552 kg/ha. The main problems faced by the farmers in these areaswere transportation and credit facilities. Therefore, roads development and agricultural credit with low interest rate areurgently required.Key words: competitive advantage, palawija, tidal swamp, Central Kalimantan.Di Kalimantan Tengah, palawija merupakan komoditas terpenting kedua setelah padi. Lahan pasang surutyang luas merupakan potensi yang besar bagi pengembangan tanaman palawija di provinsi ini. Analisis keunggulankompetitif beberapa tanaman palawija di Kalimantan Tengah, bertujuan untuk; (i) mengetahui tingkat keunggulankompetitif dari usahatani beberapa tanaman palawija (kedelai, jagung, kacang tanah dan ubi jalar) di lahan pasangsurut, (ii) mengetahui faktor-faktor pendukung yang diperlukan untuk mengembangkan usahatani komoditas ini.Kegiatan pengkajian dilaksanakan dengan metode survai. Daerah pengkajian ditentukan secara purposive, di empatdesa yaitu Lamunti dan Dadahup (Kecamatan Kapuas Murung), Talio Hulu (Kecamatan Pandih Batu) dan Kanamit(Kecamatan Maliku), semuanya di Kabupaten Kapuas. Dari masing-masing desa dipilih secara acak 15 petani yangmengusahakan palawija. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa; (1) usahatani kedelai, jagung, kacang tanah dan ubijalar pada tingkat produksi aktual secara finansial menguntungkan di semua daerah pengkajian: (2) usahatani kedelai,jagung, kacang tanah dan ubi jalar masih menguntungkan bila produktivitas pada tingkat minimal, walaupun di bawahproduktivitas aktual; (3) usahatani jagung di Desa Lamunti dan Dadahup kompetitif terhadap usahatani kedelai dankacang tanah bila produktivitas mencapai minimal 1.033 kg/ha (terhadap kedelai) dan 1.362 kg/ha (terhadap kacangtanah). Sedangkan di Desa Talio Hulu dan Kanamit produksi jagung minimal 1.081 kg/ha kompetitif terhadap kedelaidan 1.552 kg/ha kompetitif terhadap kacang tanah. Terbatasnya sarana transportasi dan rendahnya akses petaniterhadap sumber modal merupakan masalah yang memerlukan pemecahan. Implikasinya ialah bahwa pembangunanjaringan transportasi dan penyediaan kredit murah untuk meningkatkan kemampuan petani dalam menerapkanteknologi baru perlu mendapat prioritas.Kata kunci : keunggulan kompetitif, palawija, pasang surut, Kalimantan Tengah.
KAJIAN SISTEM PENANAMAN TUMPANGSARI KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI LAHAN DATARAN TINGGI RANCABALI, KABUPATEN BANDUNG Sutrisna, Nana; Sastraatmadja, Suwalan; Ishaq, Iskandar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment on intercropping system of potato was conducted during the dry season (May-September) in2001 in Alamendah village, Rancabali district, Bandung regency, with the altitude of 1,400 m above sea level.Randomized block design was used with three replications of five cropping system treatments, namely (1) potato; (2)potato + celery; (3) potato + welsh onion; (4) welsh onion; and (5) celery. The tested varieties were Granola forpotato, Papak Kuningan for welsh onion, and Bamby for celery. The plant spacing used for the two potato systemswere as follows: 70 cm x 30 cm monoculture, 70 cm x 50 cm for intercropping. The plant spacing of celery and welshonion both planted in intercropping and monoculture methods were each of 20 cm x 20 cm. The areas of all treatmentswere each of 60 m2 . Results of assessment showed that: (1) average plant heights of potato were not significantlydifferent between those intercropping systems of potato-celery and potato-welsh onion; (2) average number of shootsper plant and visually observed plant vigor of welsh onion and celery were greater for monoculture system than that ofintercropping; (3) yields of both potato intercropped with celery and welsh onion were lower than those ofmonoculture, but when yield of the intercropping was made equivalent to potato, the land productivity would begreater if intercropped with potato-celery or potato-welsh onion with highest land equivalent ratio (NKL) of more thanone and the highest land equivalent ratio obtained by potato + celery intercropping was 1.19; (4) intercropping systemof potato + celery was able to lessen attack intensity of thrips (44%) and Myzus persicae (55,6%); and (5)intercropping potato-celery was the most profitable with marginal return level of 81,45 percent.Key words: solanum tuberosum L., intercropping, highland, income, Bandung Pengkajian sistem penanaman tumpangsari kentang pada lahan dataran tinggi telah dilaksanakan di DusunCibodas, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Bandung pada musim kemarau (MK) 2001, mulai bulan Mei-September 2001. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut. Penelitian menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan sistem penanaman dan tiga ulangan. Kelima perlakuantersebut terdiri dari: (1) kentang monokoltur, (2) tumpangsari kentang + seledri, (3) kentang + bawang daun, (4)bawang daun monokultur, dan (5) seledri monokultur. Varietas kentang yang digunakan adalah Granola, bawang daunvarietas Papak Kuningan, sedangkan seledri varietas Bemby. Jarak tanam kentang monokultur 70 x 30 cm, kentangtumpangsari 70 x 50 cm, sedangkan seledri dan bawang dan baik yang ditanam tumpangsari maupun monokultur 20 x20 cm. Luas plot masing-masing perlakuan 60 m2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tinggi tanaman kentangyang ditanam secara tumpangsari dengan bawang daun lebih tingi dari pada yang ditumpangsarikan dengan seledrinamun hampir sama dengan yang ditanam monokultur, (2) Jumlah tunas tanaman bawang daun maupun seledri lebihbanyak pada sistem monokultur dibandingkan dengan sistem tumpangsari, (3) Hasil kentang sistem penanamantumpangsari baik dengan seledri maupun bawang daun lebih rendah dari pada secara monokultur, namun jika hasiltanaman yang ditumpangsarikan disetarakan dengan kentang, maka produktivitas lahan lebih tinggi diperoleh dengansistem penanaman tumpangsari kentang seledri atau bawang daun di mana nilai kesetaraan lahan (NKL) > 1. NKLtertinggi diperoleh pada tumpangsari kentang + seledri, yaitu 1,19, (4) Tumpangsari kentang + seledri dapatmenurunkan serangan hama daun Trips sebesar 44 persen dan hama kutu daun Myzus persicae sebesar 55,6 persenpada tanaman kentang, dan (5) Sistem penananam tumpangsari kentang + seledri secara finansial palingmenguntungkan, dengan tingkat pengembalian marginal 81,45 persen.Kata kunci: kentang, tumpangsari, dataran tinggi, pendapatan, Bandung
POPULASI DAN SERANGAN PENGGEREK DAUN (Phyllocnistis citrella Staint) PADA TANAMAN JERUK DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA Depparaba, Fredrik; Mamesah, Denny
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Observation on population and attack of meneerder (PDJ) and its natural enemies was conducted since Julyto September 2002 in Winowanga village, Lore Utara district, and Poso regency, Central Sulawesi, at 1,200 m abovesea level. This study aimed to evaluate population and attack of PDJ and its natural enemy to set an integrated pestmanagement (IPM) program on citrus. Observation was conducted at the four models of cropping patterns as thetreatments and three location as the replication using a randomized block design. Average population of the pest was2.75 rear/plant and rate of attack was of 19 percent. Natural enemies’ population of the large black ant in thecropping pattern of Arjuna corn variety with local tomato variety among citrus plants was 2.1 heads/plant and that ofspider was 2.0 heads/plant. In the Cropping patern of corn with kidney bean local variety among citrus plants theaverage population of this pest was 1.66 heads/plant and rate of attack was 20.83 percent on the leaves. Naturalenemies’ population of the large black ant was 1.50 heads/plant and that of spider was 1.70 heads/plant. In thecropping pattern of corn among citrus plants the average population of this pest was 1.33 heads/plant and rate ofattack was 9.16 percent. Natural enemyies’ population of the large black ant was 130 heads/plant and that of spiderwas 1.40 heads/plant. In the citrus monoculture cropping pattern the average population of this pest was 2.0 was/plantand rate attack was 18.66 percent. Natural enemies’ population of the large black ant was 1.60 heads/plant and that ofspider was 1.90 heads/plant. These cropping patterns could increase farmers’ income and could be classified as IPMcomponents as long as pests monitoring is carried out every five days.Key words : phylocnistis citrella, population, rate of attack, citrus Pengamatan populasi dan serangan penggerek daun jeruk (PDJ) telah dilaksanakan sejak bulan Juli sampaiSeptember 2002 di Desa Winowanga, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso Sulawesi tengah, pada ketinggian 1200m di atas permukaan laut. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui populasi PDJ dan musuh alami serta seranganhama tersebut pada tanaman jeruk, sebagai dasar untuk menyusun program pengendalian hama terpadu PDJ.Pengamatan dilakukan pada empat model pola tanam sebagai perlakuan dan tiga lokasi sebagai ulangan. Data-datadari hasil pengamatan tersebut kemudian dianalisis menggunakan rancangan kelompok. Hasil pengamatanmenunjukan bahwa populasi dan serangan PDJ beserta musuh alami pada empat pola tanam tersebut adalah sebagaiberikut : (1) Pola tanam jagung varietas Arjuna dengan tomat varietas lokal diantara tanaman jeruk varietas keprok.Rata-rata populasi hama tersebut adalah 2,75 ekor/tanaman dan serangan 19 persen. Musuh alami semut hitam danlaba-laba masing-masing sekitar 2 ekor/tanaman; (2) Pola tanam jagung dan kacang merah varietas lokal diantaratanaman jeruk varietas keprok. Rata-rata populasi hama PDJ adalah 1,6 ekor/tanaman dan serangan 20,0 persen.Musuh alami jenis Dolichoderus sp rata-rata 1,5 ekor/tanaman dan laba-laba 1,7 ekor/tanaman; (3) Pola tanam jagungvarietas arjuna diantara jeruk varietas keprok. Rata-rata populasi hama PDJ 1,3 ekor/tanaman dan serangan sekitar19,0 persen. Musuh alami Dolichoderus sp 1,30 ekor/tanaman dan laba-laba 1,4 ekor/tanaman; (4) Monokultur jeruk.Rata-rata populasi PDJ 2,0 ekor/tanaman dan serangan 18,0 persen. Musuh alami Dolichoderus sp 1,60 ekor/tanamandan laba-laba 1,9 ekor/tanaman. Model pola tanam tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani dan dapattergolong komponen-komponen PHT, dengan syarat monitoring hama harus dilakukan intensif setiap lima hari gunamembatasi serangan hama tersebut.Kata kunci : phyllocnistis citrella, populasi, serangan, jeruk keprok
KAJIAN SISTEM USAHATANI BUAH KESEMEK (Diosphyros kaki L.f) DAN PERMASALAHANNYA DI KABUPATEN GARUT – JAWA BARAT Ridwan, Hilmi; Ishaq, Iskandar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was conducted at Barusuda and Giriawas Villages (Cikajang District), and Cisurupan Village(Cisurupan District), Garut Regency, West Java Province from September to October 2002. Data collection wascarried through a survey using semi-structure questionnaires from 50 respondents (producing-farmer, persimmonhome industry owners, intermediate sellers, local community, and agricultural officers). The research aimed toidentify the persimmon agribusiness system. Persimmon farming was carried out in a simple manner characteristizedby: (1) minimum maintenance (without fertilizer and plant protection effort), (2) manual harvest, and (3) diversifiedplants spacing, cultivars and ages of the tress. Yileds of persimmon varied from 25 –200 kg/tree, and yeild of Kapascultivar was higher than that of Reundeu. Average farmer’s tree ownership was 101 trees/farmer. Post-harvestactivities were carried by local intermediate sellers. Benefits of the producing-farmers were 1/43 of thoseagroindustries’owners (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 98,942,500.00/year), and 1/34 times benefit of the localintermediatae-sellers (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 77,931,00.00/year). The producing-farmers were lack of extensionin plants practice. The intermediate sellers and owners of persimmon home industry were lack of knowledges onharvest and post-harvest processes, and processed-fruit products diversification.Key word : Diospyros kaki, farming system, post-harvest, home industry, GarutPenelitian ini di laksanakan di Desa Barusuda dan Desa Giriawas (Kecamatan Cikajang), serta DesaCisurupan (Kecamatan Cisurupan), Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Bulan September sampai dengan Oktober 2002,dengan metode survai menggunakan kuesioner semi terstruktur pada 50 responden : (petani-produsen; pengrajinindustri pengolahan kesemek; pedagang-pengumpul; tokoh masyarakat; dan petugas pertanian) untuk dua kecamatan.Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara; pengamatan langsung, dan pengukuran. Tujuanmengidentifikasi sistem budidaya pada tingkat petani dan sistem pemasarannya, serta permasalahan dan upayapenanggulangannya. Hasil penelitian menunjukan, bahwa budidaya kesemek di tingkat petani masih dilakukan secarasederhana, dengan karakteristik : (1) pemeliharaan minimum (tanpa pupuk dan upaya proteksi tanaman); (2)pemanenan dengan cara manual (dipetik), serta (3) jarak tanam, kultivar dan umur tanaman beragam. Hasil kesemek25-200 kg/ph, kultivar Kapas lebih tinggi dibandingkan kultivar Reundeu. Pemilikan pohon petani rata-rata 101,3ph/org, Penanganan fungsi pascapanen sudah ada, namun dilakukan oleh pedagang-pegumpul (Bandar Lokal) danpengrajin industri pengolahan bukan oleh petani-produsen. Keuntungan petani-produsen setara dengan 1/43keuntungan pengrajin industri pengolahan sale (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio 3,40 vs Rp 98.942.500,00/th-B/C rasio2,14), dan 1/34 dari keuntungan pedagang-pengumpul desa/kecamatan (Bandar Lokal) (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio3,40 vs Rp 77.931.000,00/th-B/C rasio 0,94). Permasalahan pada petani-produsen adalah kurangnya upaya pembinaanpetugas dalam teknik budidaya, terutama dalam rangka peningkatan kuantitas hasil panen dan produksi. Sedangkanpada pedagang-pengumpul dan pengrajin industri pengolahan umumnya mengharapkan bimbingan dan introduksiteknologi alat dan proses pada aspek panen dan pascapanen, serta diversifikasi produk olahan kesemek. Upayapelatihan tentang berbagai aspek dari sistem produksi kesemek juga diperlukan bagi petugas lingkup pertaniansetempat.Kata kunci : kesemek, usahatani, pascapanen, industri pengolahan, Garut
EVALUASI POLA PEMANFAATAN SUMBERDAYA LAHAN DI ANTARA KELAPA DENGAN TANAMAN SELA BERDASARKAN KAJIAN ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN KONSERVASI LAHAN Hasni, Husen
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intercropping between coconut trees with other crops has been implemented for a long time. These croppingpatterns do not produce maximal yields due to sosio-economic and land conservation aspects. Evaluating thoseaspects will lead to specific patterns and sustainable farm practices. The study aimed (1) to evaluate intercroppingpatterns between cooconut and other crops based on social-economic and land conservation aspect; (2) to get thespecific intercropping patterns which result in maximal income and minimal environmental degradation. The studywas carried out in Minahasa Regency, North Sulawesi Province, using a survey method with a purposive sampling of120 respondents from two districts, namely Tombatu and Wori. Based on social economic and land conservationaspects analysis, coconut + vanili in Tombatu is the best pattern with Compatible Comparative Value (NKK) of 92.10percent, and the best intercropping pattern in Wori District was coconut + banana with NKK of 92.90 percent. Thosetwo intercropping patterns (vanili and banana) had no limited factors because of god social response, more benefits,and less ecological destruction. The other intercropping patterns with NKK of more than 60 percent had limitedfactors in terms of social economic and land conservation aspects.Key words : land resource conservation, coconut, economic social, North SulawesiProgram pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela di Sulawesi Utara sudahberlangsung lama, namun hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Faktor yang diduga menjadi hambatan adalah aspeksosial ekonomi dan konservasi lahan. Dengan evaluasi kedua aspek ini diharapkan ditemukan pola pemanfaatansumberdaya lahan di antara kelapa dengan tanaman sela yang spesifik lokasi dan berkelanjutan. Tujuan penelitianadalah (1) Mengevaluasi pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela berdasarkan kajianaspek sosial ekonomi dan konservasi lahan, (2) Mendapatkan pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapadengan tanaman sela yang memberikan nilai tambah pendapatan yang maksimal dengan kerugian ekologis yangminimal. Penelitian dilakukan di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan metode survai.Pengambilan sampel dilakukan secara tertuju (purposive sampling) sebanyak 120 sampel di dua kecamatan yaituKecamatan Tombatu dan Kecamatan Wori, masing-masing 60 petani disesuaikan dengan banyaknya polapemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela yang diusahakan petani. Data primer yangdikumpulkan adalah data sosial ekonomi petani dan konservasi lahan berupa pengukuran tingkat erosi sertapengambilan sampel tanah untuk mengetahui ketersediaan hara dari masing –masing pola usahatani tanaman seladiantara kelapa. Berdasarkan kajian aspek sosial ekonomi dan konservasi lahan diperoleh bahwa pola kelapa + vanilidi Kecamatan Tombatu merupakan pola yang yang terbaik untuk diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif(NKK) sebesar 92,10 persen. Untuk Kecamatan Wori, pola kelapa + pisang adalah pola yang terbaik untukdiusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif sebesar 92,90 persen. Kedua jenis tanaman sela ini adalah tanamansela yang hampir tidak mempunyai faktor pembatas karena secara sosial mendapat respon yang tinggi, secara ekonomilebih menguntungkan dengan kerugian ekologis terkecil. Pola kelapa + cengkeh, kelapa + tomat, kelapa + jagung, dankelapa + padi ladang, walaupun layak diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif lebih besar dari 60 persennamun masih mempunyai faktor pembatas baik dari aspek sosial ekonomi maupun konservasi lahan.Kata kunci : konservasi sumberdaya lahan, kelapa, sosial ekonomi, Sulawesi Utara

Page 1 of 3 | Total Record : 26


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue