cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Pengembangan Inovasi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Pengembangan Inovasi Pertanian diterbitkan empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Majalah ini merupakan majalah ilmiah yang memuat naskah ringkas orasi dankebijakan pertanian dalam arti luas. Tulisan dan gambar dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2014): September 2014" : 5 Documents clear
MEWASPADAI LOGAM BERAT Plumbum, Kadmium, Merkuri, dan Arsenik TERHADAP KESEHATAN HEWAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA Bahri, Sjamsul
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 3 (2014): September 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n3.2014.143-153

Abstract

Logam berat Pb, Cd, Hg, dan As merupakan mineral yang bersifat toksik dalam jumlah relatif kecil sehingga dapat menyebabkan keracunan pada hewan/ternak apabila jumlahnya melampaui batas aman. Logam berat tersebut sangat potensial meracuni hewan/ternak akibat pencemaran dari industri maupun penggu-naan bahan kimia yang mengandung logam berat pada hewan/ternak, tanaman maupun pengendalian hama. Keracunan Pb, Cd, Hg, dan As pada hewan dapat terjadi di daerah industri yang menggunakan logam berat tersebut sebagai bahan baku, antara lain industri pestisida, pupuk, dan obat-obatan. Tempat pem-buangan akhir (TPA) sampah merupakan sumber pencemaran Pb dan logam berat lainnya sehingga penggembalaan hewan/ternak di TPA perlu dihindari. Apabila pakan ternak mengandalkan sampah di TPA, perlu pemisahan sampah organik dan sampah anorganik sehingga hanya sampah organik yang menjadi sumber pakan/bahan pakan ternak. Oleh karena itu, perlu kebijakan pemerintah untuk mewujudkan TPA sampah organik yang dapat menjadi tempat penggembalaan ternak. Penggunaan senyawa kimia untuk pertanian termasuk obat-obatan yang mengandung logam berat harus sesuai petunjuk. Demikian pula manajemen pemeliharaan hewan/ternak harus mengikuti konsep pemeliha-raan hewan/ternak yang baik.
INOVASI TEKNOLOGI BUDI DAYA TANAMAN DALAM PENERAPAN PRAKTIK PERTANIAN SEHAT (GOOD AGRICULTURAL PRACTICES) PADA LADA Dhalimi, Azmi
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 3 (2014): September 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n3.2014.105-114

Abstract

Permasalahan yang dihadapi oleh perkebunan lada rakyat di Indonesia ialah rendahnya produktivitas karena teknik budi daya masih sederhana serta kehilangan hasil masih tinggi akibat serangan hama dan penyakit. Untuk itu perlu penerapan Praktik Tanaman Sehat (PPS) atau Good Agricultural Practices (GAP). Praktik Tanaman Sehat bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, efisiensi dalam penggunaan sumber daya alam, dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Penerapan PPS dalam usaha tani lada mencakup penggunaan benih unggul, kultur teknis, penggunaan sarana produksi, dan proses produksi. Rendahnya produktivitas dan fluktuasi harga lada dapat diatasi dengan penerapan PPS. Penggunaan peta kesesuaian lahan dan iklim serta penyediaan bahan tanaman dari varietas unggul dan teknologi budi daya dapat mendukung penerapan PPS pada perkebunan lada.
INOVASI PEMULIAAN TANAMAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TEMBAKAU MADURA BERKADAR NIKOTIN RENDAH Suwarso, Suwarso
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 3 (2014): September 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n3.2014.115-124

Abstract

Tembakau memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai sumber penda-patan petani, bahan baku industri rokok, dan devisa negara. Nilai ekspor tembakau pada tahun 2011 mencapai USD 595,61 juta. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, tembakau dan rokok sering diperdebatkan karena adanya kandungan nikotin yang dikaitkan dengan kesehatan. Industri rokok telah mencoba meningkatkan produksi rokok ringan sampai 40% pada tahun 2013, tetapi biayanya mahal sehingga dibutuhkan bahan baku tembakau dengan nikotin rendah. Penurunan kadar nikotin tembakau madura dilakukan melalui pemuliaan secara konven-sional. Seleksi individu dilakukan pada 137 galur. Setelah diskrining, diperoleh 44 galur dan akhirnya tinggal sembilan galur yang memiliki indeks tanaman tinggi dan kadar nikotin rendah. Uji multilokasi menghasilkan dua galur yang kemudian dilepas pada tahun 2004 dengan nama Prancak N-1 dan Prancak N-2. Melalui sosialisasi, pada tahun 2012 kedua varietas telah dikembangkan pada area 3.000 ha di Kabupaten Sumenep dengan produktivitas masing-masing 700 dan 900 kg/ha. Kebijakan yang diusulkan agar petani tetap dapat membudidayakan tembakau ialah (1) peningkatan produktivitas tembakau berkadar nikotin rendah dengan memanfaatkan teknologi maju seperti genetika molekuler; (2) perimbangan alokasi dana pusat dan daerah, dan (3) penelitian pemanfaatan tembakau untuk produk lain.
TEKNOLOGI MULTIPLIKASI BIBIT BERMUTU UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN MUTU HASIL TANAMAN KAKAO Limbongan, Jermia
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 3 (2014): September 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n3.2014.125-134

Abstract

Kakao memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional sebagai sumber pendapatan bagi sekitar 1,71 juta kepala keluarga petani dan penghasil devisa USD 1,053 miliar pada tahun 2012. Produktivitas kakao baru mencapai 625 kg/ha/tahun, padahal potensinya lebih dari 2.000 kg/ha/tahun. Revitalisasi kakao memerlukan tambahan bibit 18 juta per tahun. Perbanyakan vegetatif dengan setek, okulasi, cangkok, penyambungan, dan somatik embriogenesis (SE) dapat digunakan dalam pengadaan bibit kakao. Teknik ini memiliki keunggulan, antara lain tanaman lebih cepat berkembang, dapat diaplikasikan untuk perbanyakan tanaman yang sulit menghasilkan bunga dan biji, tanaman cepat berbuah, menghemat biaya persemaian, buah yang dihasilkan batang bawah dapat dipanen sambil menunggu batang atas berbuah, serta homogenitas bibit tinggi. Tingkat keberhasilan penyam-bungan oleh petani berkisar antara 73% dan 97%. Aplikasi teknologi pengemasan entres dapat meningkatkan ketahanan entres dari 1 hari menjadi 5 hari dengan sambungan jadi meningkat dari 50% menjadi 90%. Beberapa klon introduksi maupun lokal dapat digunakan sebagai sumber entres. Teknologi sambung pucuk dan sambung samping yang didukung teknologi penyimpanan entres dan peningkatan daya gabung mampu menghasilkan bibit kakao berkualitas tinggi. Teknologi SE dapat diterapkan secara bertahap dan terbatas pada perkebunan besar yang memiliki modal, fasilitas, dan SDM profesional.
SWASEMBADA GULA: ANTARA POTENSI, KENYATAAN, DAN HARAPAN Soetopo, Deciyanto
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 3 (2014): September 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n3.2014.135-142

Abstract

Pemerintah Indonesia mencanangkan swasembada gula pada 2014, dimulai sejak 2009. Namun, produksi gula hingga musim giling 2013 belum menggembirakan sehingga sulit menggapai swasembada tepat waktu. Sebelum kemerdekaan, Indonesia pernah menjadi negara pengekspor gula, namun produksi gula terus menurun hingga akhirnya menjadi negara pengimpor gula terbesar kedua setelah Rusia. Pada tahun 2013, produksi gula sekitar 2,6 juta ton, mendekati posisi ketika Indonesia menjadi pengekspor gula pada tahun 1930-an dengan produksi 2,9 juta ton. Namun, pencapaian produksi saat ini lebih disebabkan oleh perluasan area tebu. Peningkatan produksi melalui perluasan area di masa depan sulit diandalkan karena adanya kendala terkait dengan kependudukan, kepemilikan/status lahan, dan alih fungsi lahan. Peningkatan produksi gula ke depan perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas, rendemen, efisiensi industri gula, dan rekayasa sosial. Pemanfaatan sumber daya genetik untuk mendapatkan varietas tebu dengan produktivitas >120 t/ha dan rendemen >12% masih sangat memungkinkan. Teknologi budi daya cukup tersedia, walaupun terjadi pergeseran usaha tani tebu dari lahan beririgasi ke lahan kering. Selain itu, posisi Indonesia sebagai negara tropis memungkinkan usaha tani tebu memperoleh hasil optimum dengan memanfaatkan intensitas cahaya secara maksimum. Saat ini yang diperlukan ialah motivasi yang tinggi, perencanaan yang baik dan fokus, dengan menghindari usaha yang cenderung instan untuk mewujudkan swasembada gula dalam waktu dekat.

Page 1 of 1 | Total Record : 5