cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2012)" : 6 Documents clear
Teknologi Peningkatan Efisiensi Pemupukan K pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Dedi Nursyamsi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air, yaitu lebih dari 2,12 juta ha (Vertisol sekitar 2,12 juta ditambah Inceptisol dan Alfisol yang bersubgrup vertik). Tanah ini umumnya mengandung K total tinggi tapi hanya sebagian kecil K tanah dapat segera tersedia untuk tanaman sehingga efisiensi pemupukan K masih rendah. Makalah ini membahas beberapa teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan K pada tanah tersebut. Salah satu aspek penting dalam upaya peningkatan efisiensi pemupukan K adalah pemanfaatan K yang terdapat dalam tanah untuk mengurangi kebutuhan pupuk K yang harus ditambahkan dari pupuk. Cara ini cukup efektif terutama untuk tanah-tanah yang didominasi oleh mineral liat smektit karena umumnya tanah ini mengandung K total tinggi tapi tanaman masih tetap mengahadapi masalah kekahatan K. Penggunaan tanaman yang akarnya banyak mengeluarkan eksudat asam organik dan pupuk yang mengandung kation NH4+, Na+, dan Fe3+ merupakan teknologi yang sesuai dan efektif meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk K untuk tanah-tanah tersebut. ABSTRACT. Distribution of smectitic soils in Indonesia is quite large, i.e. more than 2.12 million ha consisting of about 2.12 million ha of Vertisols and some vertic subgroup of Alfisols and Inceptisols. The soils commonly contain high amount of total K, however it’s availability is still low so that the efficiency of K fertilizer in the soils is low as well. The paper discuss several technologies which could increase the efficiency of K fertilizer in smectitic soils. The use of potential K occuring in soils is one alternative to increase the efficiency of K in order to reduce K requirement from fertilizer. This attempt is quite effective for smectitic soils because they already contain high amount of total K but the plants still suffer K deficiency problem. Use of plants with their roots can produce a lot of organic acid exudates as well as fertlizer containing NH4+, Na+, and Fe3+ cations are the suitable and effective technologies to increase the efficiency of K fertilizer in smectitic soils. 
Perencanaan Penggunaan Lahan di Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk Batutegi untuk Mengurangi Sedimentasi Nani Heryani; Nono Sutrisno
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Waduk memiliki berbagai fungsi diantaranya sebagai sumber air untuk irigasi dan domestik, sebagai pembangkit tenaga listrik dan sebagai tempat wisata. Mengingat pentingnya fungsi waduk, pengelolaan terhadap daerah tangkapan air dari waduk tersebut harus dilakukan dengan tepat. Perubahan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap kondisi waduk. Hal umum yang sering terjadi pada saat pengelolaan lahan tidak sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian lahan, dan tidak terdapat upaya konservasi tanah dan air, maka erosi permukaan meningkat dan berdampak terhadap tingginya sedimentasi di waduk. Tulisan ini menyajikan tinjauan tentang perencanaan penggunaan lahan di Sub DAS Way Jantan yang merupakan salah satu daerah tangkapan air (DTA) waduk Batutegi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan merupakan faktor utama yang dapat menentukan sedimen yang terangkut sungai dan masuk kedalam waduk. Peningkatan curah hujan dan erosivitas hujan (EI30) dapat meningkatkan besarnya aliran permukaan (runoff) dan sedimen di waduk Batutegi. Sedangkan perubahan penggunaan lahan dari semak belukar, kebun campuran, dan kebun kopi menjadi hutan dapat menurunkan sedimen waduk. Untuk mengurangi sedimentasi waduk Batutegi, perencanaan penggunaan lahan yang diusulkan yaitu 13-16% dari total luas Sub DAS Way Jantan berupa 79% tanaman tahunan (kopi), 5% sawah, 8% semak belukar, masing-masing 4% pemukiman dan hutan. Model prediksi untuk mengetahui perubahan aliran permukaan, sedimen, dan erosi akibat perubahan penggunaan lahan dapat dijadikan dasar dalam perencanaan penggunaan lahan di DTA waduk.ABSTRACT. Reservoir has various functions such as water sources for irrigation and domestic, hydro electrical power plant and a tourism. Given the importance of reservoir function, management of catchment areas of reservoirs should be done properly. Land use changes will greatly affect the condition of the reservoir. Common problems that often occur when land use is not based on land capability and suitability, and there is no soil and water conservation efforts, were increased surface erosion resulting the high sedimentation in the reservoir. This paper presented an overview of land use planning in Way Jantan Sub Watershed as a reservoir Batutegi catchment area.The results showed that land use is a major factor that determine the transported sediment into rivers and reservoirs. The increase of precipitation and rainfall erosivity (EI30) can increase the amount of runoff and sediment in the Batutegi reservoir. While the land use change of shrubs, mix garden, and coffee plantations into forests can reduce sediment in reservoirs. To reduce reservoir sedimentation of Batutegi, the proposed land use planning that is 13-16% of the total area of Way Jantan sub watershed such as 79% of annual crops (coffee), 5% of rice field, 8% of shrubs, 4% of forest and settlements respectively. Prediction models to assess surface runoff, sediment, and erosion attributed by land use changes can be used as basis for land use planning in the catchment area of reservoir.
Teknologi Peningkatan Produktivitas Lahan Endapan Volkanik Pasca Erupsi Gunung Merapi Abdullah Abas Idjudin; Mas Dedy Erfandi; Sutono Sutono
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Material piroklastik hasil erupsi Gunung Merapi (Oktober-November 2010) mengakibatkan kerusakan fisik sumberdaya lahan (tanaman, air, ternak) dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di daerah bencana. Penanganan perbaikan dan pemulihan lahan-lahan yang terkena erupsi perlu dilakukan secara bertahap dan komprehensif yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dan dukungan pemerintah. Peranan teknologi dan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya perbaikan produktivitas lahan endapan volkanik pasca erupsi Gunung Merapi. Abu volkan yang jatuh ke permukaan tanah, mengalami proses sementasi dan mengeras, menyebabkan berat jenis (BD) tanah meningkat, sedangkan Ruang Pori Total (RPT) dan permeabilitas tanah menurun. Pengendalian erosi (penanaman Flemingia congesta, C. Calotirtus, dan glirisidia searah kontur), dan stabilisasi lahar dengan penanaman rumput Bahia dan Flemingia congesta sekaligus untuk mereklamasi lahan pasir eks lahar Gunung Merapi. Teknologi peningkatan produktivitas lahan volkanik dapat dilakukan dengan cara teknik konservasi vegetatif (penggunaan rumput raja, guatemala, dan gajah; dibarengi tanaman legum glirisidia) dapat mengendalikan erosi di bawah ambang batas erosi terbolehkan. Dengan semakin terkendalinya erosi tanah, berdampak terhadap peningkatan mutu lahan, produksi tanaman semusim dan pengadaan rumput pakan serta populasi ternak ruminansia.ABSTRACT. Pyroclastic materials derived from Merapi volcano eruption caused physical damage on land resources (crops, water, and livestock) and socio-economic life of communities in the affected areas. Solving problems and restoration of land affected by the eruption should be performed gradually and comprehensively based on community ability and government support. The role of technology and the existing research results could be considered as one of the alternatives to improve productivity of land covered by Merapi eruption deposits. Volcanic ash falling on land surfaces experienced cementation and hardness and caused high soil bulk density (BD), while the total pore space (RPT) and soil permeability decreased. Erosion control by growing Flemingia congesta, C. calotirtus, and Gliricidia in a manner that parallel to contour line. In addition, Bahia grass and bamboo plants are used to stabilize sandy land and reclamation of the former Merapi lahar. The technology for increasing the productivity of volcanic land can be done by planting animal feed grass on the ridge or riser. This is also useful to control soil erosion, increase land quality, crop production, and livestock feed.
Cover Jurnal Sumberdaya Lahan Vol.6(1) Juli 2012 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

Cover Luar dan Cover Dalam
Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa Berkelanjutan: Studi Kasus Kawasan Ex PLG Kalimantan Tengah Didi Ardi Suriadikarta
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air (saturated water), atau tergenang (waterlogged). Luas lahan rawa Indonesia ± 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13,4 juta ha. Lahan pasang surut yang telah direklamasi 3,84 juta ha yang terdiri atas 0,94 juta ha oleh pemerintah dan sisanya oleh swadaya masyarakat lokal.Pada lahan rawa umumnya dijumpai tanah mineral dan tanah gambut. Teknologi pengelolaan lahan rawa antara lain adalah teknologi pengelolaan tanah dan air (tata air mikro, dan penataan lahan), teknologi ameliorasi tanah dan pemupukan, penggunaan varietas yang adaptif, teknologi pengendalian hama dan penyakit, pengembangan Alsintan, serta pemberdayaan kelembagaan petani. Kawasan Lahan Gambut satu juta ha eks PLG di kalimantan Tengah, mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya pertanian, dan kawasan konservasi. Kawasan budi daya pertanian dilaksanakan pada kawasan gambut < 3 m, yang dapat dikembangkan untuk lahan sawah, perkebunan, perikanan, dan hutan tanaman industri (HTI), berdasarkan kepada kriteria kesesuaian lahan. Kawasan konservasi berada pada wilayah gambut dengan ketebalan > 3 m dan juga daerah-daerah tertentu yang mempunyai keanekaragaman hayati (flora dan fauna), dan di bawah gambut lapisan sulfidik dan atau pasir kuarsa. Pembukaan lahan gambut harus dilakukan melalui perencanaan yang matang, dan hati-hati, dan perlu ditunjang dengan analisa dampak lingkungan yang handal serta pemahaman terhadap kondisi sosial budaya masyarakat lokal.ABSTRACT. Swampy areas is a land which is prolong or periodically saturated with water or waterlogged each year. The tidal swamp areas in Indonesia occupied approximately 33.4 millions ha consisting of 20 millions ha brackish water tidal land and 13,4 millions ha fresh water tidal land. In swampy areas peat and mineral soils normally found. The reclaimed tidal swampy area amounted to 3.84 million ha consisting of 0.94 million ha reclaimed by government and the remainder by local communities. Technologies for managing swampy areas included soil and water management, soil ameliorant, fertilization, adaptive crop varieties, pest and diseases management control, and mechanic development and empowerment of farmer’s organization. The former peatland soil project of one million ha in Central Kalimantan has potential areas to be developed as agricultural cultivation and conservation area. The area for agricultural practices should be directed to peatland with < 3 m depth and used for paddy field, estate crops, fishery, and agroforestry. Conservation areas were directed to peatland with thickness of more than 3 m, areas having biodiversity, and areas underlain by pyrite or quartz. Land clearing on peatland should follow thorough planning and supported by reliable analysis of environmental impact and social conditions of local community.
Teknologi Nano untuk Pertanian: Aplikasi Hidrogel untuk Efisiensi Irigasi Setyono Hari Adi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Hidrofilik gel atau hidrogel adalah jaringan makromolekul yang dapat menyerap dan melepaskan air tergantung pada rangsangan eksternal, seperti pH, kelembaban, suhu, dan tekanan lingkungan sekitarnya. Tergantung pada pemilihan material dan teknik sintesisnya, hidrogel termasuk ke dalam produk teknologi nano dengan ukuran rongga permukaan antara 50-200 nm (SEM) dan luas permukaan ~300 m2/gram (BET). Aplikasi hidrogel di bidang pertanian telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, yang juga mampu menurunkan erosi. Dalam makalah ini, teknologi yang berhubungan dengan proses produksi hidrogel, seperti jenis material, aplikasi secara umum, metode sintesis, pengujian dan karakterisasi, akan ditinjau dengan pertimbangan penggunaan material yang memiliki biokompatibilitas terhadap lingkungan dan teknik sintesis dan pengujian yang sederhana dan ramah lingkungan.ABSTRACT. Hydrophilic gels or hydrogels is a macromolecular network which is able to reversibly absorb and release water, depending on the external stimuli such as: pH, temperature, humidity, and pressure of its application medium. Depending on the based material and the synthesize technique, hydrogel can be a nano product with the structural cavity size is in between 50-200 nm (SEM) and surface area of ~300 m2/gram (BET). Application of hydrogel for agriculture has been proven to increase water use efficiency, and decrease erosion dramatically. In this paper, technology related to production process of hydrogel, such as the based materials, potential application in general, the synthesize, testing and characterization methods will be reviewed, in which low cost technique and biocompatibility are to be considered. 

Page 1 of 1 | Total Record : 6