cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2013)" : 6 Documents clear
Dinamika Besi pada Tanah Sulfat Masam yang Ditanami Padi Ani Susilawati; Arifin Fahmi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Tanah sulfat masam mempunyai potensi dan berpeluang besar bagi pengembangan usaha tani padi. Sebagian besar tanah sulfat masam terletak pada daerah rawa yang mendapat pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari pasang surutnya air laut sehingga kondisi basah dan kering tanah dapat menyebabkan perubahan sifat kimia tanah seperti kondisi redoks tanah, konsentrasi besi (Fe) dan pH tanah serta terakumulasinya asam-asam organik. Aktivitas budidaya padi sawah menunjukkan suatu pola dinamika Fe yang berubah-ubah sebagai akibat dari interaksi faktor-faktor lingkungan (pH tanah, kondisi redoks, jenis mineral, bahan organik) dan mikroorganisme tanah.Abstract. Acid sulphate soil has a potential and great opportunity for the development of rice farming. Most acid sulphate soils are located in swampy areas that receive direct or indirect influence of the flow of sea water, so that the wetting and drying soil condition can cause chemical changes in soil properties such as soil redox conditions, the iron (Fe) concentration, pH and the accumulation of organic acids. Rice farming practice showed a changing pattern of Fe dynamics as a result of the interaction between environmental factors (soil pH, redox conditions, types of minerals, organic matter), and soil microorganisms.
Evaluasi Kesesuaian Lahan Mineral dan Gambut untuk Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit (Studi Kasus pada Beberapa Kebun Plasma di Provinsi Riau) I Gusti Putu Wigena; D. Subardja; Andriati Andriati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Kesesuaian lahan sangat berkaitan dengan potensi perkebunan kelapa sawit plasma yang mampu berproduksi secara optimum dan berkelanjutan sehingga sangat diperlukan baik untuk pembangunan kebun baru maupun peremajaan (replanting). Untuk itu, dilakukan penelusuran kegiatan karakterisasi lahan mineral dan gambut serta evaluasi kesesuaiannya untuk peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif di beberapa kebun plasma selama periode 3 tahun dari 2007-2009. Semua kebun bermitra dengan PTPN 5 yaitu kebun plasma Sei Pagar Kabupaten Kampar Kiri dengan agroekosistem gambut dangkal (<300 cm), Sei Galuh Kabupaten Kampar Kanan dengan agroekosistem gambut dalam (500-1200 cm), dan Sei Tapung Kabupaten Rokan Hulu dengan agroekosistem tanah mineral kering masam, Provinsi Riau. Gambut dangkal mendominasi kebun kelapa sawit plasma di Sei Pagar, memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr) dengan produktivitas rata-rata > 24 t tbs ha-1 th-1. Selain itu, ditemui juga lahan berbahan induk alluvial masam bergambut yang memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas ketersediaan unsur hara rendah dan retensi unsur hara (ns,nr), dengan produktivitas rata-rata >20 t tbs ha-1 th-1. Gambut dalam terdapat di kebun plasma Sei Galuh, memiliki kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas perkembangan perakaran, ketersediaan unsur hara rendah, dan retensi unsur hara (rc,ns,nr) dengan produktivitas rata-rata <12 t tbs ha-1 th-1. Kebun kelapa sawit plasma di Sei Tapung didominasi oleh tanah mineral kering masam dengan topografi datar-berbukit, ada hubungan antara persentase lereng dengan kelas kesesuaian dan produktivitas kelapa sawit. Pada topografi datar (lereng 0-3%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr), dengan produktivitas rata-rata >20,43 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berombak-bergelombang (lereng 3-8%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara dan bahaya erosi ringan (nr,eh), dengan produktivitas rata-rata >17,21 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berbukit (lereng>15%), kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas bahaya erosi, perkembangan perakaran, dan retensi unsur hara (eh,rc,nr) dengan produktivitas rata-rata <16,44 t tbs ha-1 th-1.Abstract. Land suitability evaluation has a significant correlation with the potential of smallholder oil palm plantation for optimum and sustainable production so that this activity become a prerequisite for both development of new plantation and replanting. Based on this reason, a review on the charachterization of mineral and peatland and its suitability evaluation for replanting of oil palm plantation on several smallholder oil palm plantation were conducted for the periode of 3 years, from 2007-2009. All plantation are under PTPN 5 partnership collaboration, namely Sei Pagar, Kampar Kiri Regency with shalow peat agroecosystem, Sei Galuh Kampar Kanan Regency with deep peat agroecosystem, and Sei Tapung Rokan Hulu Regency with mineral soil agroecosystem, Riau Province. The plantation areas are in Sei Pagar, dominated by shalow peatlands (<300 cm) with moderate suitability status (S2), and nutrients retention as a constraint (nr) and the average productivity is >24 t fruit bunches ha-1year-1. There is also found acidic clay alluvial as parent materials with moderate suitability status (S2), and root condition and nutrients retention (rc,nr) as constraints, and the average producitivity is >20 t fruit bunches ha-1 year-1. Deep peatlands (500-1200 cm) are located at Sei Galuh with marginal suitability status (S3), and root condition, nutrients supply, and nutrients retention as the constraint (rc, ns,nr), and average productivity <12 t fruit bunches ha-1year-1. Sei Tapung areas are dominated by upland acid mineral soils with plain-highly topography. In this location, and there is a significant correlation between slope degrees and land sutaibility status and oil palm productivity. On the plain topography (slope 0-3%), land suitability is a moderate (S2) and nutrients retention (nr) as constraint with average productivity >20,43 t fruit bunches/ha/year. The lands with undulating-rolling tofographiq (slope degree 3-8%), land suitability status was moderate suitable (S2), nutrients retention and slighty erosion hazard (nr,eh) as the constraints and average productivity is >17,21 t fruit bunches ha-1year-1. On the hilly topography areas (slope >15%), the lands are marginal suitability status (S3) with heavy erosion hazard, root condition, and nutrients retention as constraints, and average oil palm productivity is <16,44 t fruit bunches ha-1year-1.
Perkembangan dan Permasalahan Sistem Klasifikasi Tanah di Indonesia Sukarman Sukarman; Kusumo Nugroho; Yiyi Sulaeman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Penelitian tanah di Indonesia dimulai sejak tahun 1817 namun secara resmi penelitian klasifikasi tanah di Indonesia dimulai pada tahun 1905. Klasifikasi tanah pertama di Indonesia disusun oleh E. C. J. Mohr pada tahun 1910 yang bekerja di Bodemkundig Instituut. Klasifikasi tanah ini berdasarkan prinsip genesis dan tanah-tanah yang diklasifikasikan diberi nama atas dasar warna. Klasifikasi tersebut mengalami beberapa kali perbaikan diantaranya pada tahun 1910, 1916, 1922, dan 1933. Pada tahun 1972 Mohr bersama van Baren dan Schuylenborgh menerbitkan buku mengenai tanah-tanah di daerah tropika dengan judul "Tropical Soil, A comprehensive study of their genesis". Klasifikasi tanah selanjutnya adalah klasifikasi White yang mulai dikembangkan pada tahun 1931. Dalam sistem klasifikasi White, sifat klasifikasi tanah didasarkan kepada geologi dan tipe pelapukan, namun nama-nama tanah masih terlalu panjang dan rumit. Pada tahun 1938 di tanah Deli telah disusun klasifikasi tanah Druif yang digunakan untuk pemetaan tanah di daerah perkebunan tembakau Deli. Hasil-hasil penelitian Druif secara rinci telah dilaporkan dalam 3 seri buku De Bodem van Deli. Sistem klasifikasi tanah yang dianggap cukup maju, karena berdasarkan morfometrik, adalah sistem klasifikasi Dudal dan Soepraptohardjo (1957, 1961). Sistem klasifikasi ini digunakan dalam pemetaan sumberdaya tanah di Indonesia pada tingkat tinjau dan eksplorasi. Pada tahun 1983, Pusat Penelitian Tanah telah menerbitkan sistem klasifikasi tanah yang ditujukan untuk pemetaan tanah semi detail di calon lokasi transmigrasi. Klasifikasi tersebut didasarkan kepada morfogenetik dan merupakan penyempurnaan dari sistem klasifikasi Dudal dan Soepraptohardjo (1961). Definisi-definisi terutama pada tingkat Macam tanah sebagian besar mengambil definisi dari Legenda Soil Map of the World (FAO/UNESCO, 1974) dan disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Sistem klasifikasi tanah lain yang digunakan di Indonesia adalah sistem klasifikasi taksonomi tanah yang mulai dipublikasikan pada tahun 1975. Sampai saat ini sistem klasifikasi ini masih digunakan dengan mengacu kepada buku Keys to Soils Taxonomy edisi ke kesebelas (Soil Survey Staff, 2010). Sistem klasifikasi lain yang sering digunakan adalah sistem Satuan Peta Tanah Dunia dari FAO/UNESCO (1974). Sampai dengan tahun 2013, Indonesia belum mempunyai sistem klasifikasi tanah nasional, meskipun beberapa kali Kongres Nasional Himpunan Ilmu Tanah Indonesia telah mengamanatkan untuk menyusun klasifikasi tanah nasional. Upaya yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian berhasil menyusun konsep klasifikasi tanah nasional yang mulai diperkenalkan pada tahun 2013, namun konsep ini masih memerlukan penyempurnaan dan pengakuan dari para pakar genesis dan klasifikasi tanah di seluruh Indonesia.Abstract. Soil research in Indonesia began in 1817 but officially soils classification research began in 1905. The first soil classification of soils in Indonesia was prepared by E. C. J. Mohr in 1910 at Bodemkundig Instituut. Soils classification is based on the principle of genesis and soils classified are named on the basis of color. This classification was updated several times in 1910, 1916, 1922, and 1933. In 1972 Mohr with van Baren and Schuylenborgh published a book on soils in the tropics with the title "Tropical Soil, A comprehensive study of their genesis". Further soil classification is White classification which was developed in 1931. In the White classification system, the nature of the soil classification is based on geology and type of weathering, but the names of the soil is still too long and complicated. In 1938 in Deli soil classification was prepared by Druif for soil mapping in the area of tobacco plantation. Druif research results have been reported in detail in 3 series of book De Bodem van Deli. Soil classification system considered advanced, based on morphometric, is a classification system of Dudal and Soepraptohardjo (1957, 1961). This classification system is used in the soil mapping resources in Indonesia at the level of semi detail and exploration. In 1983, the Centre for Soil Research has published a soil classification system intended for semi-detailed soil mapping for transmigration program. The classification is based on the morphogenetic and a refinement of the classification system of Dudal and Soepraptohardjo (1961). Various definitions various especially at great group level is mostly using the definition of the Legend of the Soil Map of the World ( FAO / UNESCO, 1974) and adapted to the soil classification in Indonesia. Other soil classification system used in Indonesia is the soil taxonomy classification system which was began to be published in 1975. This soil classification system is still used to refer to the book of Keys to Soils Taxonomy, eleventh edition (2010). Other soil classification system is a World Soil Map Unit of the FAO/UNESCO (1974). Up till 2013, Indonesia does not have a national soil classification system, although several times of the National Congress of Soil Science Society of Indonesia has mandated to formulate a national soil classification. The efforts made by the Indonesia Center for Agricultural Land Resources Research and Development is successful to draft national soil classification which was introduced in 2013, but this concept still requires improvement and recognition from experts soil genesis and classification throughout Indonesia.
Cover JSL Vol.7(2) 2013 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Cover JSL
Diseminasi Teknologi Konservasi Tanah Berbasis Web untuk Perencanaan Implementasi Sistem Usahatani Konservasi di Lahan Kering Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan Setiari Marwanto; Ali Jamil; Irawan Irawan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Pengelolaan lahan kering secara berkelanjutan memiliki peran sangat strategis dalam mendukung swasembada pangan di Indonesia. Lemahnya implementasi teknologi konservasi tanah di lapangan menjadi salah satu kendala dalam mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan kering. Tanpa tindakan konservasi tanah, lahan kering akan rentan terhadap erosi yang mengakibatkan degradasi lahan. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, diantaranya melalui kegiatan diseminasi yang efektif dan terus-menerus mengenai teknologi konservasi tanah sehingga kegiatan pertanian yang dilakukan dapat bersifat ramah lingkungan. Pengemasan alat diseminasi yang menarik dan mudah dicerna akan menentukan keberhasilannya. Sistem pengambilan keputusan (decision support system) diperlukan oleh pelaku pertanian untuk melakukan penilaian potensi erosi dan pemilihan teknik konservasi tanah yang tepat secara mandiri. Sistem ini telah dibuat oleh Balai Penelitian Tanah pada tahun 2007 dan diberi nama program SPLaSH (Sistem Pengelolaan Lahan Sesuai Harkat) tetapi masih memiliki kelemahan dalam proses diseminasinya karena masih berbasis komputer tunggal (desktop). Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi internet dan web sebagai basis bagi sistem pengambilan keputusan menjadi pilihan terbaik saat ini. Data spasial tersedia yang memiliki atribut lengkap akan memberikan kemudahan aplikasinya. Perbedaan skala menyebabkan fasilitas perubahan tetap diperlukan agar pelaku pertanian dapat mengisi variabel data sehingga lebih sesuai dengan kondisi lahan sebenarnya. Dukungan basis data yang kuat serta akses jaringan internet yang luas dan handal akan menentukan keberhasilan proses diseminasi selanjutnya. Sistem pengambilan keputusan berbasis web yang diberi nama “Sistem Informasi Pengelolaan Lahan” ini diharapkan dapat mempermudah pelaku pertanian untuk mengakses informasi teknologi konservasi tanah yang tepat secara spesifik lokasi agar produktivitas lahan meningkat sekaligus menjaga keberlanjutannya.Abstract. Sustainability of upland management has a very strategic role in supporting food-self sufficiency in Indonesia. Weak implementation of soil conservation technology in the field is one of constraint factors in maintaining and increasing the productivity of upland. Without soil conservation measures, upland soil would be vulnerable to soil erosion which leads to land degradation. There are many ways to overcome these constraint including effective and continuously dissemination of soil conservation technologies to support environmentally friendly agriculture. Interesting and user friendly dissemination package will determine its success. Decision support system is needed by agricultural stakeholders and smallholders to assess the potential of their land to soil erosion and the selection of appropriate soil conservation techniques. This system has been created by Indonesian Soil Research Institute in 2007 and named as SPLaSH (Sistem Pengelolaan Lahan Sesuai Harkat). The program has a weakness in dissemination effort because it is still based on single computer personal unit (desktop). Therefore, the use of internet and web technologies as a basis for decision-making system are the best choice at this time. Spatial data availability with full attributes will provide ease of its application. However, the differences in scale by alteration on this default values still needed, so that users can fill data that are better suited to the actual conditions of their agricultural land. Database support system and broader reliable internet access will determine the future of success of dissemination. It is expected that within this web-based decision support system stakeholders and smallholders can easily access the information on the appropriate soil conservation technologies in specific sites in order to increase land productivity as well as maintaining land sustainability.
Peranan Arang Aktif dalam Mitigasi Residu Pestisida pada Tanaman Komoditas Strategis E. Srihayu Harsanti; A.N. Ardiwinata; Mulyadi Mulyadi; A. Wihardjaka
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Pestisida memegang peranan penting dalam mempertahankan hasil tanaman tinggi. Namun penggunaannya yang tidak tepat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Akumulasinya di dalam tanah, air, dan produk pertanian yang melebihi kadar batas maksimum residu akan menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu upaya mitigasi residu pestisida adalah ameliorasi dengan menggunakan arang aktif yang bahannya dapat berasal dari limbah pertanian. Arang aktif efektif menurunkan residu pestisida dalam tanah dan produk pertanian, baik pestisida organoklorin, organofosfat, ataupun karbamat. Pemberian arang aktif dari tempurung kelapa dan tongkol jagung baik dengan atau tanpa diperkaya mikroba konsorsia efektif menurunkan kadar residu lindan dan aldrin di tanaman sawi.Abstract. Pesticide plays an important role in maintaining high crop yields. However, its inappropriate use affects negative impact on the environment. Its accumulation in soil, water, and agricultural products that exceed the maximum residue limit will reduce environmental quality and human health. Amelioration using activated charcoal is one of efforts to mitigate pesticide residues. Activated charcoal materials can be derived from agricultural wastes. Activated charcoal effectively reduces pesticide residues in soil and agricultural products, either organochlorine pesticides, organophosphates, or carbamates. Application of activated charcoal from coconut shell and corn cob with or without enrichment with microbial consortia effectively reduce the levels of lindane and aldrin residues in vegetable plants such as mustard.

Page 1 of 1 | Total Record : 6