cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2020)" : 54 Documents clear
ANALISA KELAYAKAN EKONOMI: STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN KUWIL KAWANGKOAN Pradany, Ahmad Dwiki; Juwono, Pitojo Tri; Andawayanti, Ussy
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan Kuwil Kawangkoan dibangun di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara dan terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano. Tujuan dari pembangunan bendungan ini adalah memasok air baku, menyediakan energi listrik, dan mengendalikan banjir. Membangun sebuah bendungan membutuhkan modal yang sangat besar, oleh karena itu perlu dilakukan pertimbangan dalam aspek kelayakan ekonomi. Oleh sebab itu, studi ini bertujuan untuk menganalisa potensi energi listrik, kebutuhan air baku, biaya pembangunan, kelayakan ekonomi, dan sensitivitas dari bendungan tersebut. Hasil dari studi ini menunjukan bahwa potensi energi listrik sebesar 10.676,55 MWh dalam satu tahun, kebutuhan air baku sebesar 274.551,70 m3 /hari, dan biaya pembangunan sebesar Rp.1.835.277.893.220,12. Sedangkan hasil analisa kelayakan ekonomi menunjukan bendungan ini layak secara ekonomi berdasarkan parameter Net Present Value (NPV), Benefit-Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Kemudian hasil dari analisa sensitivitas menunjukan untuk perubahan usia guna sebesar 20% terjadi penurunan NPV energi listrik 50,28%, air baku 49,39%, dan pengendalian banjir 5,54%.Kuwil Kawangkoan Dam is located in Tondano Watershed, Minahasa Utara Regency, North Sulawesi Province. The purpose of this dam is to supply electrical energy form hydropower plant, clean water supply, and flood control. However, building a dam requires huge amount of money for both initial investment and operating costs. Therefore, we should take economic feasibility into account. The objective of this study is to analyze the potential of energy generated, forecasting clean water demand, calculating initial investment costs, analyzing economic feasibility, and sensitivity analysis. Result from this study shows that this dam could generate 10.676,55 MWh in a year, the peak clean water demand is 274.551,70 m3 /day, and initial investment costs to build is Rp.324.864.370.824,93. Result from economic feasibility analysis shows that economically feasible by NPV, BCR, IRR, and PP metrics. Result from sensitivity analysis showing for 20% reduction in project lifetime, the NPV for electrical energy drop to 50.28%, clean water supply 49.39%, and flood control 5.54%. 
ANALISIS PENENTUAN NILAI PARAMETER ALFA MODEL HIDROGRAF SATUAN SINTETIS NAKAYASU PADA DAS KAMPILI PROVINSI SULAWESI SELATAN Rini, Firda Agustiya; Limantara, Lily Montarcih; Wahyuni, Sri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besarnya debit banjir dalam analisis hidrologi merupakan faktor penting dalam menentukan resiko dan nilai ekonomis suatu bangunan air. Pengembangan model Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) telah banyak digunakan dalam mengestimasi banjir, salah satunya HSS Nakayasu. Seiring berjalannya waktu, penerapan model HSS Nakayasu semakin meluas di berbagai DAS Indonesia. Hal tersebut dikarenakan para praktisi di Indonesia menganggap penggunaan HSS Nakayasu sebagai model paling praktis. Namun pada kenyataannya, penerapan model tersebut masih memerlukan kalibrasi beberapa parameter mengingat perbedaan karakteristik, kondisi, dan pola hujan antara DAS di Indonesia dengan daerah dimana model HSS dikembangkan. HSS Nakayasu bergantung pada parameter α (alfa) yang berpengaruh pada ordinat hidrograf satuan dan waktu dasar hidrograf. Parameter α dapat menunjukkan karakteristik suatu DAS. Pada studi ini, parameter α terpilih yang sesuai dengan kalibrasi antara HSS Nakayasu dan hidrograf satuan pengamatan Collins adalah 0,839. Tingkat keakuratan model hasil kalibrasi didapatkan dari hasil validasi diantaranya adalah nilai kesalahan relatif sebesar 33,47 % dengan tingkat korelasi yang sangat baik yaitu R = 0,9805 dan determinasi (R2) = 0,9613. Selain itu hasil validasi menunjukkan nilai RMSE = 0,198; nilai MAE = 0,545; dan nilai NSE = 0,846. Hasil validasi tersebut menunjukkan kesesuaian model hidrograf terhadap hidrograf pengamatan sehingga parameter alfa yang didapat mewakili karakteristik DAS.   The value of flood discharge in hydrology analysis is an important factor which the value determines of risk and economic value of water structure. The development of Synthetic Unit Hydrograph (HSS) models has been widely used to estimate flood, one of them is HSS Nakayasu. Over time, the applied of Nakayasu HSS model is more widely in various watersheds of Indonesia. It is caused by practitioners of Indonesia who assume HSS Nakayasu usage as the most practical model. Although in fact, the application of this model still requires calibration of several parameters that remember about differences in characteristics, conditions and rainfall patterns between watersheds in Indonesia and the regions where HSS model was developed. HSS Nakayasu depends on the parameter α (alpha) which affects the ordinate unit hydrograph and base time hydrograph. The parameter α can indicate the characteristics of watershed. On this study, the α parameter was selected that according to the calibration between the HSS Nakayasu and the Collins observation unit hydrograph is 0,839. The accuration level of model calibration obtained from the validation results include the relative error value is 33,47% with a very good correlation level which R = 0,9805 and determination (R2) = 0,9613. furthermore, the validation results indicate the value of RMSE = 0,198; the value of MAE = 0,545; and the value of NSE = 0,846. The validation results can indicate about conformity of model hydrograph to the observation hydrograph so that alpha parameters can represent the characteristics of watershed.
ANALISIS NILAI EVAPORASI WADUK KARANGKATES MENGGUNAKAN PENDEKATAN EMPIRIS DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK (ANN) Akbar, Wan Nazli; Wahyuni, Sri; Dermawan, Very
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola operasi pada waduk merupakan faktor penting untuk mengatur kebutuhan air dengan kondisi ketersediaan air yang ada. Pola operasi waduk tidak terlepas dari proses evaporasi. Evaporasi berperan penting dalam pola operasi waduk, namun tidak semua waduk memiliki alat untuk mengukur evaporasi yang terjadi. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui evaporasi pada Waduk Karangkates sebagai perbandingan sekaligus referensi untuk menghitung evaporasi yang terjadi pada waduk dengan menggunakan rumus empiris Penman dan DeBruin – Keijman, serta pemodelan Artificial Neural Network (ANN). Hasil dari evaporasi dengan rumus empiris dan pemodelan Artificial Neural Network kemudian dibandingkan dengan evaporasi pengamatan dengan uji kalibrasi untuk mendapatkan metode terpilih. Uji kalibrasi menggunakan parameter Nash–Sutchliffe Efficiency (NSE), Mean Absolute Error (MAE), Koefisien Korelasi (R), Koefisien Determinasi (R2), dan Kesalahan Relatif (KR). Berdasarkan uji kalibrasi, didapatkan evaporasi hasil pemodelan Artificial Neural Network merupakan metode terpilih dengan nilai NSE 0,825, nilai MAE 0,111, nilai R 0,917, nilai R2 0,840, dan nilai KR 3,792%. Kemudian dilakukan uji verifikasi dan disimpulkan pasangan data 16 tahun kalibrasi – 1 tahun verifikasi mendapatkan hasil verifikasi terbaik dengan nilai NSE 0,672, nilai MAE 0,232, nilai R 0,888, nilai R2 0,788, dan nilai KR 7,271%.Operation pattern of reservoir is an important factor to manage water demand with existing water availability conditions. Operation pattern of reservoir cannot be separated from evaporation process. Evaporation plays an important role in operation pattern of reservoir, however not all reservoirs have a tool to measure evaporation. The purpose of this research is to find the evaporation value in Karangkates Reservoir for comparison and reference to calculate evaporation in reservoir using empirical formula of Penman and DeBruin – Keijman, and using Artificial Neural Network modeling. The result of evaporation using empirical formulas and Artificial Neural Network modeling then compared with observational evaporation with calibration test to obtain chosen method. The calibration test uses parameters Nash–Sutchliffe Efficiency (NSE), Mean Absolute Error (MAE), Correlation Coefficient (R), Determination Coefficient (R2), and Relative Error (KR). Based on calibration test, obtained evaporation result of Artificial Neural Network modeling is selected method with value of NSE is 0,825, value of MAE is 0,111, value of R is 0,917, value of R2 is 0,840, and value of KR is 3,792%. Then the verification test was carried out and it was concluded that the data pair of 16 years of calibration – 1 year of verification obtained the best verification results with value of NSE 0,672, value of MAE 0,232, value of R 0,888, value of R2 0,788, and value of KR 7,271%.
KAJIAN HIDROLIKA PELIMPAH BENDUNGAN JRAGUNG KABUPATEN SEMARANG JAWA TENGAH DENGAN UJI MODEL FISIK 1:50 Putra, Kresna Wisika; Dermawan, Very; Sumiadi, Sumiadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu permasalahan yang terdapat di beberapa wilayah Kabupaten Semarang serta Demak adalah meluapnya Sungai Jragung yang menyebabkan banjir di daerah tersebut pada saat musim penghujan. Salah satu pekerjaan untuk menyempurnakan dan memantapkan perencanaan Bendungan Jragung adalah melalui uji model fisik hidrolika. Hasil pengujian debit rencana Q100th, Q1000th, dan QPMF dapat dialirkan dengan baik. Pada saluran Peluncur dilakukan analisa kavitasi dan aliran getar,dengan analisa diperoleh adanya aliran getar pada Q100 dan adanya indikasi tekanan negatif yang dapat menimbulkan gejala kavitasi dan Peredam tipe endsill efektif untuk meredam energi variasi debit rancangan.One of problem in several district in Semarang and Demak is overflow of Jragung River that makes flood in that places when rains come. One of requirement for accomplish and complete Jragung Dam design is hydraulics physical model test. The result of Q100, Q1000, and QPMF is can be streamed well. In Chuteway carried out an analysis of Cavitation and Flow Vibrate, with the result are any flow vibrate in Q100 and any indicator of negative pressure that can make cavitation and for Stilling Basin type Endsill is effective for reduce energy from all of variant debit.
STUDI PERUBAHAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI (DEBIT PUNCAK DAN WAKTU PUNCAK) AKIBAT PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI BEBERAPA SUB DAS JENEBERANG PROVINSI SULAWESI SELATAN Alamsyah, Muhammad Bayu; Limantara, Lily Montarcih; Wahyuni, Sri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan tata guna lahan pada DAS akan sangat mempengaruhi karakteristik hidrologi suatu kawasan, karakteristik hidrologi meliputi debit puncak dan waktu puncak pada sungai. Permasalahan yang diperkirakan ada pada perubahan tata guna lahan ini adalah meningkat atau menurunnya aliran permukaan yangaberpengaruh terhadap besar kecilnya debit puncak pada outlet DAS. Penelitian ini diharapkan untuk mengetahui apakah perubahan tata guna lahan pada sekitaran DAS Jeneberang berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan karakteristik hidrologi DAS Jeneberang. Kebutuhan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder seperti pasangan data curah hujan jam-jaman dan data debit (2008-1017), peta rupa bumi dan peta tematik berupa peta wilayah administrasi, peta penggunaan lahan dan peta topografi. Analisis perhitungan yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan 2 (dua) alat bantu software yaitu MS. Excel untuk melakukan perhitungan statistik dan ArcGIS 10.3 untuk melakukan pengolahan data peta. Hasil penelitian diperoleh penggunaan lahan pada DAS Jeneberang adalah agrikebun, agriladang, agrisawah, hutan, pemukiman, rawa/tambak dan semak belukar. Dari hasil pengolahan diketahui perubahan kawasan semak belukar menjadi kawasan hutan menjadi perubahan paling besar. Hasil perubahan ini sejalan dengan prinsip dasar hidrologi dikarenakan rerata debit yang dihasilkan dari perhitungan menggunakan Hidrograf Satuan Pengamatan (HSP) cara Metode Collins dengan perbandingan tahun awal dan tahun akhir mengalami penurunan.Land use changes in the watershed will greatly affect the hydrological characteristics of an area, hydrological characteristics including peak discharge and peak times in rivers. The problem that is predicted to exist in this land use change is an increase or decrease in surface runoff so that it affects the size of the peak discharge at the watershed outlet. This study aims to determine whether changes in land use around the Jeneberang watershed have a significant effect on changes in the hydrological characteristics of the Jeneberang watershed. The data requirements in this study use secondary data such as pairs of hourly rainfall data and discharge data (2008-1017), earth maps and thematic maps in the form of administrative area maps, land use maps and topographic maps. Analysis of calculations carried out in this study using 2 (two) software tools, namely MS. Excel for performing statistical calculations and ArcGIS 10.3 for processing map data. The results showed that land uses in the Jeneberang watershed were agriculture, forests, settlements, swamps/ponds and shrubs. From the results of processing, it is known that the changes in scrub areas to forest areas is the biggest changes. The results of this changes are in line with the basic principles of hydrology because the average discharge resulting from calculations using the Hydrograph of the Unit of Observation (HSP) method of the Collins Method with the comparison of the initial year and the final year has decreased.
STUDI PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN RAINFALL ANOMALY INDEX (RAI) UNTUK MENGESTIMASI KEKERINGAN PADA DAS BONDOYUDA, KABUPATEN LUMAJANG Aprianto, Kukuh Ardian; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekeringan merupakan bencana alam yang dipengaruhi fenomena El Nino – Southern Oscillation (ENSO). Mitigasi kekeringan dapat dilakukan dengan menghitung indeks kejadiannya. Penelitian ini menghitung nilai indeks kekeringan pada DAS Bondoyuda Kabupaten Lumajang. Analisa kekeringan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Rainfall Anomaly Index (RAI). Analisa kesesuaian menggunakan korelasi determinan untuk membandingkan Southern Oscillation Index (SOI) dengan indeks terhitung. Data yang diperlukan yaitu curah hujan, peta topografi dan administrasi wilayah, serta SOI. Perhitungan indeks kekeringan menggunakan defisit 6 bulanan dikarenakan mengikuti trend musim kemarau dan penghujan. Indeks kekeringan terpilih dipetakan dengan Arcgis 10.5 menggunakan interpolasi Kriging untuk mendapatkan sebaran kekeringannya. Hasil indeks SPI didapatkan kekeringan terparah pada tahun 2013 sebesar -3,936, sedangkan RAI pada tahun 2012 sebesar -3,418. Kesesuaian korelasi determinan kedua indeks dengan SOI pada kriteria sangat lemah sampai cukup, sehingga diperlukan grafik data hujan sebagai variabel pembanding alternatif. Hubungan grafik data hujan dengan RAI menunjukkan kesesuaian trend pada lembah dan bukit yang terbentuk. Selama pengamatan didapatkan rata – rata kekeringan setiap tahunnya melanda 31 desa selama 20 tahun (1999 – 2018).Drought is a natural disaster influenced by the El Nino – Southern Oscillation (ENSO) phenomenon. Drought mitigation can be done by calculating the occurrence index. This study calculates the drought index value in the Bondoyuda watershed in Lumajang Regency. Drought analysis uses the Standardized Precipitation Index (SPI) and Rainfall Anomaly Index (RAI) methods. Suitability analysis uses correlation determinants to compare the Southern Oscillation Index (SOI) with calculated indices. The data required are rainfall, topographic maps, and regional administration, as well as SOI. The drought index calculation uses a 6 – month deficit because it follows the trend of the dry and rainy seasons. The selected drought index was mapped with Arcgis 10.5 using Kriging interpolation to get drought distribution. The SPI index results obtained worst drought in 2013 of -3,936, while the RAI in 2012 was -3,418. The suitability of correlation determinants of the two indexes with SOI on the criteria is very weak to sufficient so that a rain data chart is needed as an alternative comparative variable. The relationship between the rain data charts the RAI shows the suitability of trend in the formed valleys and hills. During the observation, it was found that the average drought each year hit 31 villages for 20 years (1999 - 2018). 
Studi Erosi Menggunakan Model Agricultural Non-Point Source Pollution (AGNPS) pada DAS Kali Lamong Provinsi Jawa Timur Majid, Haidar Naufal; Sholichin, Moh.; Asmaranto, Runi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan tata guna lahan dari yang semula hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, maupun ladang berdampak pada tingginya laju erosi pada DAS Kali Lamong, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Studi ini bertujuan untuk memetakan kondisi existing persebaran laju erosi beserta tingkat bahaya erosi pada DAS Kali Lamong, sehingga kemudian dapat diberikan saran penanggulangan berupa skenario lahan baru. Perhitungan menggunakan model Agricultural Non-Point Source Pollution (AGNPS) diperoleh laju erosi rata-rata DAS sebesar 31,771 ton/ha/tahun. Hasil analisis tingkat bahaya erosi berdasarkan Indeks Bahaya Erosi oleh Hammer (1981) diperoleh indeks dengan tingkat rendah (indeks <1) seluas 460,8 km2, tingkat sedang (indeks 1-4) seluas 200,88 km2, tingkat tinggi (indeks 4-10) seluas 42,93 km2, dan tingkat sangat tinggi (indeks >10) seluas 63,27 km2. Berdasarkan perhitungan sediment delivery ratio (SDR), didapatkan hasil perkiraan sedimen sebesar 34.228,031 ton/tahun atau 28.532,231 m3/tahun. Skenario lahan baru disusun berdasarkan RLKT - Departemen Kehutanan. Dari hasil simulasi skenario lahan baru, tidak didapati indeks bahaya erosi pada tingkat tinggi maupun sangat tinggi. Hasil tersebut menunjukkan skenario lahan yang baru dapat mengurangi laju erosi dan tingkat bahaya erosi pada DAS Kali Lamong. The transformation of land-use from forestry into agricultures, plantations, and fields have an impact on the high-rate of erosion at Kali Lamong Watershed, Gresik Regency, East Java Province. This study is purposed to map the existing condition of the erosion rate and the erosion hazard level at Kali Lamong Watershed, so that it can be resolved in the form of a new land-use scenario recommendation. Based on the calculation by using the Agricultural Non-Point Source Pollution (AGNPS) model, it is obtained the watershed’s average erosion rate of 31,771 ton/ha/year. The analysis result of the  erosion hazard level using the Erosion Hazard Index by Hammer (1981), shows that the index at low level (index <1) in an area of 460,8 km2, medium level (index 1-4) in an area of 200,88 km2, high level (index 4-10) in an area of 42,93 km2, and very high level (index >10) in an area of 63,27 km2. Based on the calculation of the sediment delivery ratio (SDR), it is obtained the sediment value of 34.228,031 ton/year or 28.532,231 m3/year. The new land-use scenario is arranged based on RLKT from the Indonesian Department of Forestry. From the simulation of the new land-use scenario result, it is not obtained the erosion hazard index at either high or very high level. The result shows that the new land-use scenario can reduce the erosion rate and the erosion hazard level at Kali Lamong Watershed. 
Analisa Neraca Air pada Waduk Sutami berdasarkan Data Pengukuran dan Data Satelit Berlian, Ramadhan Sangsang; Wahyuni, Sri; Sisinggih, Dian
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan air yang meningkat sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan manusia maka dilakukan antisipasi terhadap ketersediaan air dengan melakukan analisis terhadap ketersediaan air waduk sutami. Ketersediaan air yang dipengaruhi oleh besarnya curah hujan dan evaporasi. Ketersediaan data pengukuran yang kurang memadai menjadi salah satu permasalahan. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memanfaatkan data satelit. Namun, data satelit harus dilakukan uji kesesuaian data terlebih dahulu untuk mengetahui kecocokan antara data pengukuran dan data satelit. Metode uji kesesuaian data  yang digunakan yaitu, Root Mean Squared Error (RMSE), Nash Sutchliffe Efficiency (NSE), Koefisien Korelasi, dan Uji Kesalahan Relatif (KR). Uji kesesuaian data dilakukan dengan dua perhitungan, yaitu uji kesesuaian dara tidak terkoreksi dan uji kesesuaian data terkoreksi. Hasil analisis menunjukkan uji kesesuain data terkoreksi  memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan data tidak terkoreksi. Sedangkan untuk hasil analisis neraca air dengan menggunakan data pengukuran dan data satelit memiliki pola trend yang sama. Dan dapat disimpulkan bahwa data satelit yang digunakan dapat dijadikan sebagai alternatif data pengukuran. The increasing of water demand is coherent with population growth and also the increasing of human activities, so it is imoortant to give an anticipation of water availability by analyzing the Sutami Reservoir water. Water availability is affected by the amount of rainfall and evaporation. The availability of inadequate measurement data is one of the problems. This problem can be solved by utilizing satellite data. However, satellite data must be tested in advance in order to determine the compatibility between measurement data and satellite data. Data suitability test methods used including, Root Mean Squared Error (RMSE), Nash Sutchliffe Efficiency (NSE), Correlation Coefficient, and Relative Error Test (KR). The data suitability test is carried out with two calculations, the uncorrected data suitability test and the corrected data suitability test. The analysis shows that the corrected data suitability test has a better value compared to the uncorrected data. As for the results of water balance analysis using measurement data and satellite data have the same trend pattern. And it can be concluded that the satellite data used can be used as an alternative measurement data. 
STUDI PENANGANAN TEKNIS BANJIR DI DAS KALI LAMONG, KABUPATEN GRESIK – JAWA TIMUR Indrajayatama, Ridho Satria; Sholichin, Moh.; Dermawan, Very
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kali Lamong merupakan salah satu sungai yang berada di Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Kali Lamong memiliki luas DAS sebesar kurang lebih 720 km2 dan panjang sungai sepanjang 103 km dengan 6 anak sungai utama. Perubahan tata guna lahan yang terjadi membuat tiap tahunnya terjadi banjir di Kabupaten Gresik akibat luapan Kali Lamong. Dibutuhkan upaya penanganan teknis guna menanggulangi banjir. Terdapat dua usulan teknis yang dianalisa yaitu perencanaan tanggul urugan dengan concrete sheetpile (CCSP) dan kolam retensi. Pada studi ini, dilakukan analisa hidrologi guna mendapatkan debit banjir rancangan pada lokasi studi. Selanjutnya akan dilakukan analisa hidrolika dengan program HEC-RAS 5.0.7. dengan debit banjir rencana Q25 tahun sebagai dasar perencanaan usulan teknis. Usulan pertama adalah perencanaan tanggul dengan tinggi 4,5 meter dan direkomendasikan menggunakan produk PT. Wika Beton (Persero) Tbk dengan tipe W-325. Tanggul ini memiliki efektifitas mereduksi banjir sebesar 100%. Sedangkan usulan teknis kedua adalah dengan 1 unit kolam retensi pada hulu Kali Lamong dengan tampungan total 409692 m3. Perencanaan inlet kolam retensi menggunakan pelimpah samping dan outletnya berupa pintu pengeluaran yang memiliki waktu pengurasan kolam selama 3 jam 6 menit. Kolam retensi memiliki efektifitas mereduksi banjir sebesar 11,4%. Berdasarkan efektifitas mereduksi banjir dari dua usulan teknis tersebut, penanganan teknis dengan tanggul yang dipilih guna menangani banjir di Kali Lamong. Kali Lamong is a river located in Gresik Regency, East Java Province. Kali Lamong has a watershed area of ​​approximately 720 km2 and a river length of 103 km with 6 main tributaries. Changes in land use that occur each year cause flooding in the Gresik Regency due to the overflow of Kali Lamong. It takes technical handling efforts to tackle flooding. There are two technical proposals analyzed, namely the embankment design with concrete sheet pile (CCSP) and retention ponds. In this study, a hydrological analysis was carried out to obtain the design flood discharge at the study location. Next, a hydraulic analysis will be carried out using the HEC-RAS 5.0.7 program. with the Q25 year plan flood discharge as the basis for planning technical proposals. The first proposal is to plan a dyke with a height of 4.5 meters and it is recommended to use PT. Wika Beton (Persero) Tbk with type W-325. This embankment has a flood reduction effectiveness of 100%. Meanwhile, the second technical proposal is a retention pond in the upper reaches of the Lamong River with a total storage capacity of 409692 m3. The retention pond inlet planning uses a side spillway and its outlet is a discharge gate that has a pool drainage time of 3 hours 6 minutes. The retention pond has the effect of reducing flooding by 11.4%. Based on the effectiveness of reducing floods from the two technical proposals, the technical handling with the embankment was chosen to handle flooding in Kali Lamong.
Studi Evaluasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur Pradana, Ravi; Haribowo, Riyanto; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Pandanrejo merupakan salah satu desa yang ada di Kota Batu, dimana desa tersebut telah menggunakan sistem IPAL Komunal untuk mengolah air limbah sebelum dibuang ke sungai dan effluennya dimanfaatkan untuk irigasi sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dari Instalasi Pengolahan Air Limbah  (IPAL) Desa Pandanrejo dengan membandingkan parameter air limbah dan untuk menemukan solusi jika kadar effluen melebihi baku mutu air limbah. Langkah awal dari penelitian ini adalah melakukan sampling pada 4 titik sesuai dengan HRT perencanaan dengan parameter yang digunakan adalah BOD, COD, dan TSS. Selanjutnya, membandingkan parameter yang didapat dengan baku mutu air limbah yang mengacu pada Keputusan Menteri Negara LH No. 112 Tahun 2003, Peraturan Menteri LHK No. 68 Tahun 2016, dan PP RI No. 82 Tahun 2001. Hasil sampling menunjukkan effluen tidak memenuhi baku mutu air limbah dan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja IPAL, maka dilakukan perencanaan perbaikan IPAL dengan proyeksi penduduk 10 tahun ke depan. Selain itu dilakukan evaluasi pada operasional dan pemeliharaan guna untuk menjaga kinerja pengolahan IPAL. Pandanrejo Village is one of the villages in Batu City, where the village has used the Communal IPAL system to treat wastewater before it is discharged into the river and the effluent is used for irrigation of rice fields. This study aims to evaluate the performance of the Pandanrejo Village Wastewater Treatment Plant (WWTP) by comparing wastewater parameters and to find a solution if the effluent level exceeds the wastewater quality standard. The initial step of this study was to conduct sampling at 4 points according to the planning HRT with parameters used were BOD, COD, and TSS. Furthermore, comparing the parameters obtained with the wastewater quality standard refers to the Keputusan Menteri Negara No. 112 Tahun 2003, Peraturan Menteri LHK No. 68 Tahun 2016, and PP RI No. 82 Tahun 2001. The results of the sampling show that the effluent does not meet the quality standards of wastewater and seeing the factors that affect the performance of WWTP, planning for WWTP improvement is carried out with population projections for the next 10 years. In addition, an evaluation of the operation and maintenance is carried out in order to maintain the performance of WWTP processing.