cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016)" : 10 Documents clear
Diversitas, Pemetaan, dan Persepsi Masyarakat terhadap Herpetofauna Diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu, Kabupaten Banyuwangi Firdaus, Anggun Sausan; Rahmawati, Alifah Nur; Wardani, Erintha Eka; Putri, Mulyadiane Meishinta; Yanuwiyadi, Bagyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.532 KB)

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu berada di kawasan hutan Petak 8, Forest Resort Songgon, Hutan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Rowo Bayu berada pada ketinggian 630 meter diatas permukaan laut dan memiliki 3 sumber air dan rowo, sehingga menjadikan wilayah tersebut memiliki kelembaban udara yang tinggi.Kondisi tersebut memungkinkan untuk beberapa jenis hewan dapat hidup, terutama kelompok herpetofauna. Sampai saat ini, belum banyak penelitian tentang herpetofauna di kawasan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap konservasi herpetofauna, mendeskripsikan diversitas, memetakan persebaran dan deskripsi habitat, serta menentukan karakteristik herpetofauna diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara semi terstruktur, morfometri,Visual Encounter Survey (VES), dan fences trap.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 titik lokasi penting ditemukannya berudu yaitu Rowo Bayu, Sumber Kamulyan, Sumber Dewi Gangga, dan Sumber Kaputren,  serta 1 titik yang merupakan mikrohabitat Microhyla. Spesies yang didapatkan dari fences trap adalah Huia masonii(Boulenger, 1884). Famili yang didapatkan darimetode VES yaitu 3 famili dari kelas anura yaitu Microhylidae, Ranidae, dan Dicroglossidaedan 4 famili dari kelas reptil yaituScincidae, Agamidae, Colubridae, dan Natricidae. Kawasan Wana Wisata Rowo Bayu didominasi oleh berudu dari genus Microhyla. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan ciri karakteristik Eutropismultifasciata adalah Snout Vent Length (SVL), ciri karakteristik Hylarana rufipes adalah Hind Limb Length (HLL), tetapi ciri karakteristik Microhyla achatina tidak diketahui karena ukuran tubuh sangat kecil. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden mendukung upaya konservasi dengan cara tidak merusak atau mengganggu habitat herpetofauna.
Diversitas Arthropoda Tanah sebagai Bioindikator Lahan Perkebunan dan Hutan Sekunder di Wana Wisata Rawa Bayu, Desa Bayu, Banyuwangi Fikri, Galih El; Yanuwiadi, Bagyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.388 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman jenis Arthropoda tanah dan karakteristik Arthopoda tanah, memetakan diversitas hewan tanah di lahan perkebunan dan hutan sekunder   dan mengetahui  presepsi  masyarakat  sekitar  Wana  Wisata  Rawa  Bayu  tentang arthropoda tanah. Hal ini perlu dilakukan karena belum ada penelitian tentang Arthropoda tanah di Rawa Bayu. Penelitian ini dilakukan pada 15-17 Oktober   2015, di Wana wisata Rawa Bayu, Kecamatan Sanggon,  Kabupaten Banyuwangi. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga tempat yang berbeda yaitu agroforestri sederhana (kebun ketela pohon), agroforestri kompleks (hutan pinus), hutan sekunder dengan metode pitfall trap dan handsorting. Setiap metode dilakukan   di tiga lokasi dan untuk  masing-masing  lokasi  dilakukan  tiga  ulangan.    Analisis data  keanekaragaman  Arthropoda dengan mencari data kelimpahan, frekuensi, indeks nilai penting (INP) dan Indeks Shannon-Wiener (H) yang dilakukan di Laboratoriun Ekologi dan Diversitas Hewan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 taxa yang ditemukan dalam penelitian kali ini dengan karakteristik taxa dominan, selanjutnya persebaran 22 taxa tersebut tidak merata yang ditunjukkan dengan hasil pemetaan. Family paling dominan adalah Formicidae. Hasil analisis cluster menunjukan pada indeks kesamaan tidak ada yang lebih dari 0,8.  terdapat  dominasi  dan  kodominasi  untuk  masing-masing  tempat  dan  masing-masing metode.
Kualitas Diversitas, Struktur Vegetasi di Area Hutan Sekunder dan Beberapa Agroforestri di Kawasan Wana Wisata Rawa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi Gunanjar, Aris Candra; Faruq, Muhammad Khalid; Putra, Yandha Carbela; Yusuf, Muhammad; Arisoesilaningsih, Endang
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.404 KB)

Abstract

Wana Wisata Rawa Bayu Banyuwangi merupakan bagian dari Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Rogojampi petak 8 Hutan Songgon, KPH Banyuwangi Barat. Masyarakat terlibat dalam pengelolaan hutan di sekitar wana wisata menggunakan sistem Hutan Kemasyarakatan (HKM) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa melupakan upaya konservasi lahan. Di kawasan wana wisata ini terdapat dua jenis HKM yaitu agroforestri sederhana (AFS) dan kompleks (AFK). Namun, hingga saat ini belum pernah ada publikasi tentang perbedaan kualitas diversitas dan struktur vegetasi di dua agroforestri asal hutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis vegetasi untuk membandingkan kualitas diversitas dan struktur vegetasi antara dua agroforestri tersebut dengan hutan sekunder (HS), karakter tiap lokasi dan morfologi spesies dominan, serta survey sosial untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan masyarakat terhadap berbagai jenis dan manfaat tumbuhan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi spasial pada struktur dan kualitas diversitas di masing-masing lokasi. Taxa richness dan H’ pancang, tiang, dan pohon pada HS lebih tinggi dibandingkan AFK maupun AFS, kecuali pada semai. Masing-masing lokasi memiliki keunikan dan karakter morfologi yang berbeda-beda. Masyarakat  mengenal  jenis-jenis tumbuhan di agroforestri dan hutan sekunder, serta ada beberapa masyarakat yang mengetahui jenis-jenis tumbuhan lokal, serta mengetahui manfaatnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Evaluasi Kualitas Air Berdasarkan Struktur Komunitas Makroinvertebrata Bentos dan Persepsi Masyarakat tentang Pengelolaan Perairan di Wilayah Rawa Bayu, Songgon, Banyuwangi Wahyudi, G I; Hidayatullah, M H; Putra, N.N R.; Arisoesilaningsih, Endang
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.965 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas perairan di sekitar Rawa Bayu berdasarkan struktur komunitas makroinvertebrata bentos (MIB),  membuat peta persebaran MIB, menentukan ukuran beberapa MIB dengan INP tertinggi, dan menentukan persepsi masyarakat tentang pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu. Pengambilan sampel MIB menggunakan jaring Surber dan hand net pada tiga stasiun (hulu, tengah, hilir) dengan dua sampai tiga kali pengulangan spasial. MIB dengan INP tertinggi pada tiap lokasi dilakukan pengukuran morfometri. Penggalian informasi terkait pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu dilakukan berdasarkan wawancara semi terstruktur dengan warga setempat. Kemudian, dilakukan analisis data untuk mendapatkan nilai Indeks nilai penting (INP), kekayaan taksa, H (Indeks Diversitas Shannon-Wiener), dan FBI (Family biotic index). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai H>2 dan FBI<4.99, semua stasiun masih belum tercemar bahan toksik dan bahan organik. Akan tetapi, stasiun hilir memiliki kualitas air terbaik ditunjukkan oleh kekayaan taksa terbanyak, yakni 28 taksa, dan nilai FBI terendah, yakni 3,8. Terdapat kodominasi di stasiun hulu antara Heptageniidae, Thiaridae, dan Hydropsychidae. Pada stasiun tengah juga terdapat kodominasi, yaitu antara Heptageniidae, Hydropsychidae, dan Hirudinae, sedangkan stasiun hilir didominasi oleh Hydopsychidae. Heptageniidae dewasa pada stasiun hulu berukuran 9,8 mm, sedangkan pada stasiun tengah berukuran 10,4 mm. Pada stasiun hilir Hydropsychidae berukuran 12,8 mm. Air dari sumber di sekitar Rawa Bayu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Jenis hewan air yang sering dijumpai dan dimanfaatkan warga di Rawa Bayu dan alirannya adalah Oreochromis mossambicus, Puntius binotatus, Corbicula fluminea, Channa striata, Nemacheilus fasciatus, Cyprinus carpio, dan Macrobrachium rosenbergii.
Diversitas Aves Diurnal di Agroforestry, Hutan Sekunder, dan Pemukiman Masyarakat sekitar Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi El-Arif, Aulia Rahman; Suastika, Ngakan Made; Abinurizzaman, Rakhmad; Arisoesilaningsih, Endang
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.806 KB)

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.
Diversitas Aves Diurnal di Agroforestry, Hutan Sekunder, dan Pemukiman Masyarakat sekitar Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi Aulia Rahman El-Arif; Ngakan Made Suastika; Rakhmad Abinurizzaman; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.
Diversitas, Pemetaan, dan Persepsi Masyarakat terhadap Herpetofauna Diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu, Kabupaten Banyuwangi Anggun Sausan Firdaus; Alifah Nur Rahmawati; Erintha Eka Wardani; Mulyadiane Meishinta Putri; Bagyo Yanuwiyadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu berada di kawasan hutan Petak 8, Forest Resort Songgon, Hutan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Rowo Bayu berada pada ketinggian 630 meter diatas permukaan laut dan memiliki 3 sumber air dan rowo, sehingga menjadikan wilayah tersebut memiliki kelembaban udara yang tinggi.Kondisi tersebut memungkinkan untuk beberapa jenis hewan dapat hidup, terutama kelompok herpetofauna. Sampai saat ini, belum banyak penelitian tentang herpetofauna di kawasan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap konservasi herpetofauna, mendeskripsikan diversitas, memetakan persebaran dan deskripsi habitat, serta menentukan karakteristik herpetofauna diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara semi terstruktur, morfometri,Visual Encounter Survey (VES), dan fences trap.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 titik lokasi penting ditemukannya berudu yaitu Rowo Bayu, Sumber Kamulyan, Sumber Dewi Gangga, dan Sumber Kaputren,  serta 1 titik yang merupakan mikrohabitat Microhyla. Spesies yang didapatkan dari fences trap adalah Huia masonii(Boulenger, 1884). Famili yang didapatkan darimetode VES yaitu 3 famili dari kelas anura yaitu Microhylidae, Ranidae, dan Dicroglossidaedan 4 famili dari kelas reptil yaituScincidae, Agamidae, Colubridae, dan Natricidae. Kawasan Wana Wisata Rowo Bayu didominasi oleh berudu dari genus Microhyla. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan ciri karakteristik Eutropismultifasciata adalah Snout Vent Length (SVL), ciri karakteristik Hylarana rufipes adalah Hind Limb Length (HLL), tetapi ciri karakteristik Microhyla achatina tidak diketahui karena ukuran tubuh sangat kecil. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden mendukung upaya konservasi dengan cara tidak merusak atau mengganggu habitat herpetofauna.
Diversitas Arthropoda Tanah sebagai Bioindikator Lahan Perkebunan dan Hutan Sekunder di Wana Wisata Rawa Bayu, Desa Bayu, Banyuwangi Galih El Fikri; Bagyo Yanuwiadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman jenis Arthropoda tanah dan karakteristik Arthopoda tanah, memetakan diversitas hewan tanah di lahan perkebunan dan hutan sekunder   dan mengetahui  presepsi  masyarakat  sekitar  Wana  Wisata  Rawa  Bayu  tentang arthropoda tanah. Hal ini perlu dilakukan karena belum ada penelitian tentang Arthropoda tanah di Rawa Bayu. Penelitian ini dilakukan pada 15-17 Oktober   2015, di Wana wisata Rawa Bayu, Kecamatan Sanggon,  Kabupaten Banyuwangi. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga tempat yang berbeda yaitu agroforestri sederhana (kebun ketela pohon), agroforestri kompleks (hutan pinus), hutan sekunder dengan metode pitfall trap dan handsorting. Setiap metode dilakukan   di tiga lokasi dan untuk  masing-masing  lokasi  dilakukan  tiga  ulangan.    Analisis data  keanekaragaman  Arthropoda dengan mencari data kelimpahan, frekuensi, indeks nilai penting (INP) dan Indeks Shannon-Wiener (H') yang dilakukan di Laboratoriun Ekologi dan Diversitas Hewan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 taxa yang ditemukan dalam penelitian kali ini dengan karakteristik taxa dominan, selanjutnya persebaran 22 taxa tersebut tidak merata yang ditunjukkan dengan hasil pemetaan. Family paling dominan adalah Formicidae. Hasil analisis cluster menunjukan pada indeks kesamaan tidak ada yang lebih dari 0,8.  terdapat  dominasi  dan  kodominasi  untuk  masing-masing  tempat  dan  masing-masing metode.
Kualitas Diversitas, Struktur Vegetasi di Area Hutan Sekunder dan Beberapa Agroforestri di Kawasan Wana Wisata Rawa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi Aris Candra Gunanjar; Muhammad Khalid Faruq; Yandha Carbela Putra; Muhammad Yusuf; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rawa Bayu Banyuwangi merupakan bagian dari Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Rogojampi petak 8 Hutan Songgon, KPH Banyuwangi Barat. Masyarakat terlibat dalam pengelolaan hutan di sekitar wana wisata menggunakan sistem Hutan Kemasyarakatan (HKM) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa melupakan upaya konservasi lahan. Di kawasan wana wisata ini terdapat dua jenis HKM yaitu agroforestri sederhana (AFS) dan kompleks (AFK). Namun, hingga saat ini belum pernah ada publikasi tentang perbedaan kualitas diversitas dan struktur vegetasi di dua agroforestri asal hutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis vegetasi untuk membandingkan kualitas diversitas dan struktur vegetasi antara dua agroforestri tersebut dengan hutan sekunder (HS), karakter tiap lokasi dan morfologi spesies dominan, serta survey sosial untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan masyarakat terhadap berbagai jenis dan manfaat tumbuhan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi spasial pada struktur dan kualitas diversitas di masing-masing lokasi. Taxa richness dan H’ pancang, tiang, dan pohon pada HS lebih tinggi dibandingkan AFK maupun AFS, kecuali pada semai. Masing-masing lokasi memiliki keunikan dan karakter morfologi yang berbeda-beda. Masyarakat  mengenal  jenis-jenis tumbuhan di agroforestri dan hutan sekunder, serta ada beberapa masyarakat yang mengetahui jenis-jenis tumbuhan lokal, serta mengetahui manfaatnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Evaluasi Kualitas Air Berdasarkan Struktur Komunitas Makroinvertebrata Bentos dan Persepsi Masyarakat tentang Pengelolaan Perairan di Wilayah Rawa Bayu, Songgon, Banyuwangi G I Wahyudi; M H Hidayatullah; N.N R. Putra; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas perairan di sekitar Rawa Bayu berdasarkan struktur komunitas makroinvertebrata bentos (MIB),  membuat peta persebaran MIB, menentukan ukuran beberapa MIB dengan INP tertinggi, dan menentukan persepsi masyarakat tentang pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu. Pengambilan sampel MIB menggunakan jaring Surber dan hand net pada tiga stasiun (hulu, tengah, hilir) dengan dua sampai tiga kali pengulangan spasial. MIB dengan INP tertinggi pada tiap lokasi dilakukan pengukuran morfometri. Penggalian informasi terkait pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu dilakukan berdasarkan wawancara semi terstruktur dengan warga setempat. Kemudian, dilakukan analisis data untuk mendapatkan nilai Indeks nilai penting (INP), kekayaan taksa, H (Indeks Diversitas Shannon-Wiener), dan FBI (Family biotic index). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai H>2 dan FBI<4.99, semua stasiun masih belum tercemar bahan toksik dan bahan organik. Akan tetapi, stasiun hilir memiliki kualitas air terbaik ditunjukkan oleh kekayaan taksa terbanyak, yakni 28 taksa, dan nilai FBI terendah, yakni 3,8. Terdapat kodominasi di stasiun hulu antara Heptageniidae, Thiaridae, dan Hydropsychidae. Pada stasiun tengah juga terdapat kodominasi, yaitu antara Heptageniidae, Hydropsychidae, dan Hirudinae, sedangkan stasiun hilir didominasi oleh Hydopsychidae. Heptageniidae dewasa pada stasiun hulu berukuran 9,8 mm, sedangkan pada stasiun tengah berukuran 10,4 mm. Pada stasiun hilir Hydropsychidae berukuran 12,8 mm. Air dari sumber di sekitar Rawa Bayu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Jenis hewan air yang sering dijumpai dan dimanfaatkan warga di Rawa Bayu dan alirannya adalah Oreochromis mossambicus, Puntius binotatus, Corbicula fluminea, Channa striata, Nemacheilus fasciatus, Cyprinus carpio, dan Macrobrachium rosenbergii.

Page 1 of 1 | Total Record : 10