Articles
21 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017"
:
21 Documents
clear
TINGKAT KEPENTINGAN FAKTOR–FAKTOR PRODUKTIVITAS PEKERJA BERDASARKAN TINGKAT PENGARUH DAN TINGKAT FREKUENSI
Albertus Andhika;
Alfonso Wijanalto;
Andi Andi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (729.687 KB)
Produktivitas pekerja konsruksi telah menjadi salah satu kata kunci atau topik yang paling sering dicari. Di berbagai negara, biaya pekerja konstruksi mencapai 30-60% dari biaya total proyek dan merupakan faktor yang sangat menentukan profitabilitas suatu proyek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepentingan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas pekerja berdasarkan tingkat pengaruh dan tingkat frekuensinya menurut staf kontraktor dan pekerja. Untuk mencapai tujuan ini, maka diambil representatif dari 3 proyek di Surabaya yang terdiri dari 30 staf kontraktor dan 65 pekerja untuk mengisi kuesioner yang ada. kuesioner terdiri dari 36 faktor produktivitas, yang terbentuk dari 4 kelompok utama yaitu: (1) manajemen; (2) teknologi desain; (3) pekerja; dan (4) eksternal. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya faktor-faktor dengan tingkat kepentingan tertinggi menurut staf adalah: (1) change order; (2) gangguan kerja akibat kontraktor lain; (3) hujan; (4) pekerjaan lembur, (5) respon yang lambat terhadap permintaan informasi mengenai desain dan faktor-faktor dengan tingkat kepentingan tertinggi menurut pekerja adalah: (1) hujan; (2) angin kencang; (3) kekurangan material atau bahan; (4) cuaca panas, dan (5) program keselamatan kerja yang buruk.
PANDANGAN KONTRAKTOR TERHADAP KLAUSUL-KLAUSUL KONTRAK PADA PROYEK KONSTRUKSI
Theodorus Bryan;
Yosua S. Sidarta;
Andi Andi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (272.171 KB)
Pada proyek konstruksi yang berfokus pada bangunan high-rise, atau dengan skala besar, kontrak konstruksi sudah menjadi kewajiban. Salah satu komponen penting dalam proyek konstruksi adalah kontrak, dalam kontrak diatur semua hal yang akan mempengaruhi berjalannya suatu proyek, kontrak sangat penting karena bersifat mengikat baik itu antara pengguna jasa, kontraktor, subkontarktor, pekerja, dan komponen komponen lain dalam proyek konstruksi. Tujuan dari penelitian kami adalah mengetahui seberapa penting klausul-klausul kontrak yang terdapat dalam suatu kontrak proyek konstruksi di Indonesia dan menghetahui seberapa detail klausul-klausul kontrak yang diatur dalam kontrak proyek konstruksi di indonesia. Kami berfokus kepada bentuk kontrak konvensional, maka dari itu kami menggunakan FIDIC sebagai acuan untuk perbandingan kami terhadap para responden, Penulis menggunakan kuisioner dengan sistem skala likert untuk mengetahui indicator tingkat kepentingan dan tingkat kedetailan. Dari hasil analisis data dengan menggunakan perhitungan mean akan didapatkan rata-rata skala kepentingan dan kedetailan tiap klausul di kuisioner yang kami berikan. Dari hasil pengumpulan data dan pengolahan data didapati bahwa semua klausul kontrak konstruksi dalam proyek di surabaya sudah cukup penting dan detail. Tidak ada klausul yang terbengkalai. Semua sudah ditulis di dalam kontrak dengan jelas dan detail.
PENELITIAN MENGENAI SNI 1726:2012 PASAL 7.2.5.1 TENTANG DISTRIBUSI GAYA LATERAL TERHADAP KEKAKUAN DAN KEKUATAN PADA STRUKTUR BAJA SISTEM RANGKA BRESING EKSENTRIS
Joseph Kurniawan;
Kevin Gunawan;
Hasan Santoso;
Pamuda Pudjisuryadi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (381.129 KB)
Perencanaan struktur terhadap gempa di Indonesia mengacu pada SNI 1726:2012. Pada pasal 7.2.5.1 mengenai sistem ganda, mengharuskan rangka pemikul momen khusus mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa desain dengan distribusi yang proporsional terhadap kekakuannya. Namun FEMA 451 memiliki perbedaan isi yang mengatakan distribusi proporsional didesain terhadap kekuatan. Karena perbedaan tersebut, maka diadakan penelitian apakah peraturan yang mensyaratkan proporsi kekakuan dapat diterjemahkan seperti halnya FEMA 451 (2006) dalam pengaplikasiannya menggunakan kekuatan. Dari penelitian sebelumnya oleh Wijaya dan Nico (2016) didapat bahwa bangunan disarankan didesain berdasarkan proporsi kekuatan, dikarenakan performa bangunan hampir sama dengan proporsi kekakuan, tetapi dengan persentase berat yang lebih ringan. Maka dari itu diteliti lebih lanjut apakah bangunan struktur baja dengan Sistem Rangka Bresing Eksentris (SRBE) yang lebih tinggi dan diperhitungkan secara 2 arah, akan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan penelitian sebelumnya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bangunan memiliki perilaku yang hampir sama dengan penelitian sebelumnya dimana performa bangunan S2 lebih buruk daripada S1; begitu pula berat bangunan S2 lebih ringan daripada S1. Namun karena perbedaan performa yang dihasilkan S1 dan S2 tidak jauh berbeda, maka kedua skenario masih dapat diperhitungkan sebagai pilihan dalam mendesain untuk menentukan hasil desain mana yang lebih hemat.
PENGARUH POLYPROPYLENE FIBRES PADA KEKUATAN DAN MODULUS ELASTISITAS SILINDER BETON BERLUBANG
Christian Tjandra;
Daniel Eka Prasetya;
Gogot Setyo Budi;
Hurijanto Koentjoro
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (700.686 KB)
Beton dapat dimanfaatkan sebagai material struktur bangunan seperti pada balok, pelat, kolom, dan pondasi. Beton yang digunakan dalam pondasi dapat berbentuk kotak atau tiang spun pile. Pembuatan spun pile yang dilakukan di pabrik menggunakan metode spinning untuk proses pemadatan, sehingga kekuatan tekan kemungkinan tidak merata antara di bagian dalam dan bagian luar. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan serat polypropylene dalam hal peningkatan kekuatan dan modulus elastisitas beton berlubang akibat dari proses pemadatan yang menggunakan metode spinning. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm yang pemadatannya menggunakan metode spinning sehingga silinder beton berongga pada bagian tengahnya sebesar 5 cm. Kadar serat polypropylene yang dimasukkan ke dalam campuran beton bervariasi yaitu 0,1%, 0,2%, dan 0,3% dari volume beton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh kekuatan maupun modulus elastisitas yang signifikan pada sampel benda uji pada umur 7 hari. Sedangkan modulus elastisitas benda uji yang diuji pada umur 28 hari menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan dengan bertambahnya kadar serat polypropylene. Benda uji yang ditambahkan serat polypropylene menunjukkan pola keruntuhan vertikal.
TANTANGAN DAN HAMBATAN PENERAPAN KONSEP SUSTAINABLE CONSTRUCTION PADA KONTRAKTOR PERUMAHAN DI SURABAYA
Alfonsus Dwiputra W;
Yulius Candi;
Ratna S Alifen
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (544.509 KB)
Proses pembangunan perumahan sebagai kebutuhan pokok manusia menggunakan material-material yang jumlahnya tidak sedikit dari sumber daya alam. Banyaknya pemakaian material membuat sampah material dari proyek juga menumpuk, sehingga dapat merusak alam. Konsep pembangunan yang menciptakan lingkungan yang nyaman berdasarkan efisiensi sumber daya alam dan desain yang ramah lingkungan disebut dengan konsep Sustainable Construction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Tantangan” dan “Hambatan” dalam menerapkan konsep Sustainable Construction pada proyek perumahan, dengan penyebaran kuesioner ke perusahaan-perusahaan kontraktor. Data-data yang sudah terkumpul akan dianalisa dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisa memperlihatkan “Tantangan” yang sudah dilakukan oleh kontraktor dan tindakan yang menjadi “Hambatan” di lapangan.
MONITORING JADWAL SUATU PROYEK SEKOLAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPI DAN PPC
Vincent Sukiman;
Yohanes Yan;
Andi Andi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (602.197 KB)
Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi, jadwal pelaksanaan proyek konstruksi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pengendalian proyek demi tercapainya waktu pelaksanaan yang direncanakan akan tetapi ada pekerjaan di proyek kosntruksi yang tidak dapat selesai sesuai dengan jadwal rencana. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan monitoring jadwal proyek menggunakan metode SPI dan PPC. Studi kasus dilakukan pada proyek sekolah 5 lantai, untuk masing - masing area TK dan SD - SMP. Monitoring yang dilakukan hanya untuk pekerjaan struktur selama 14 minggu dari durasi rencana pekerjaan struktur sekitar 1 tahun lebih 2 bulan, setelah monitoring dilakukan selama 14 minggu didapatkan bahwa jadwal proyek tersebut mengalami keterlambatan dan memiliki hasil nilai SPI sebesar 79,214% dan hasil nilai PPC 52,117%. Keterlambatan tersebut disebabkan oleh faktor yang paling dominan selama 14 minggu pengamatan yaitu faktor material terutama pada area TK. Faktor ini muncul karena pekerjaan yang akan dilakukan tidak mendapat suplai material yang dibutuhkan
EVALUASI KINERJA BANGUNAN BERLUBANG DENGAN METODE DIRECT DISPLACEMENT-BASED DESIGN
Merline Sutandi;
Donovan Alfa Mboe;
Ima Muljati;
Benjamin Lumantarna
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (563.906 KB)
Banyak penelitian mengenai kinerja Direct Displacement Based Design (DDBD) dan Force Based Design (FBD) telah dilakukan sebelumnya. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa DDBD menghasilkan performa struktur yang lebih mendekati target desain. Namun, penelitian terhadap bangunan berlubang belum pernah dilakukan sebelumnya. Konfigurasi struktur dengan void memiliki kekakuan portal yang bervariasi diaman hal ini mempengaruhi distribusi gaya pada setiap portal. Distribusi gaya pada bagian yang memiliki void akan mengalami perpindahan yang lebih besar daripada bagian yang tidak memiliki void khususnya jika pelat lantai diasumsikan semi rigid. Penelitian ini membandingkan kinerja FBD dan DDBD pada bangunan yang didesain berlubang atau memiliki void dengan asumsi desain bangunan tanpa lubang dan gaya geser dasar didistribusikan secara merata. Penelitian akan dievaluasi terhadap wilayah beresiko gempa tinggi dan rendah di Indonesia. Struktur yang didesain diuji dengan analisis non-linear dinamis time history. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa struktur bangunan yang didesain dengan DDBD memberikan kinerja yang lebih baik daripada FBD baik dalam drift ratio ataupun failure mechanism. Selain itu, prosedur DDBD lebih efektif dan efisien karena hasil desain mendekati target desain dan durasi desain sangat singkat. Satu-satunya kelemahan dari DDBD adalah biaya yang lebih mahal karena hasil desain yang menggunakan lebih banyak material
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT IJUK TERHADAP STABILITAS CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN
Harry Zentino;
Oktavianus Danny Sivananda;
Paravita Sri Wulandari;
Harry Patmadjaja
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (813.147 KB)
Serat ijuk merupakan serat alami yang mudah ditemukan, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat ijuk terhadap stabilitas Campuran Aspal Emulsi Dingin (CAED). CAED adalah campuran antara agregat bergradasi menerus dan aspal emulsi sebagai bahan pengikat. Aspal emulsi adalah aspal berbentuk cair yang dihasilkan dengan mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi sehingga diperoleh partikel aspal yang bermuatan listrik positif atau negatif atau tidak bermuatan listrik. Pengujian Marshall dilakukan pada CAED tanpa dan dengan tambahan serat ijuk dengan waktu curing selama 0 dan 7 hari untuk mendapatkan nilai stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan semakin banyak kadar serat ijuk yang ditambahkan maka stabilitas meningkat. Stabilitas CAED dengan serat ijuk umur curing 0 hari meningkat pada kadar ijuk 0,1% - 0,3% lalu mengalami penurunan pada kadar ijuk 0,4%. Stabilitas kadar ijuk 0,3% lebih tinggi daripada CAED tanpa serat ijuk. Stabilitas CAED dengan serat ijuk umur curing 7 hari meningkat pada kadar ijuk 0,1% - 0,4% dan masih bisa terus naik. Stabilitas kadar ijuk 0,4% lebih tinggi daripada CAED tanpa serat ijuk. Panjang serat ijuk antara 0,1 – 0,25 cm. Waktu curing selama 7 hari meningkatkan stabilitas CAED tanpa dan dengan tambahan serat ijuk
PENGARUH PENAMBAHAN SABUT KELAPA TERHADAP STABILITAS CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN
Andhi Lim;
Rudy Hermanto;
Paravita Sri Wulandari;
Harry Patmadjaja
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.236 KB)
Di Indonesia penggunaan aspal emulsi sebagai bahan dasar aspal dalam pekerasan lentur masih sangat jarang dijumpai. Hal ini mengakibatkan sedikitnya penelitian tentang aspal emulsi. Untuk itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang aspal emulsi. Salah satu hasil alam yang berpotensi dapat digunakan sebagai bahan tambahan pada aspal adalah serabut yang berasal dari buah kelapa. Dalam penelitian ini, sabut kelapa dijadikan sebagai bahan tambahan pada Campuran Aspal Emulsi Dingin (CAED). Sabut kelapa dipotong dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan pada CAED. Kadar sabut kelapa yang dipakai beriksar antara 0,50 % - 1,50 % dari total berat aspal dengan panjang berkisar ± 5 mm. Pengujian awal dilakukan dengan pemeriksaan terhadap material yang akan dipakai dalam membuat benda uji. Pemeriksaan terhadap material dilakukan untuk mengetahui apakah material telah memenuhi spesifikasi apakah dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan benda uji. Pengujian Marshall dilakukan pada CAED dengan sabut kelapa dan tanpa sabut kelapa pada umur 0 hari dan 7 hari. Dari penelitian ini, didapatkan hasil bahwa kadar sabut kelapa optimum yang dapat ditambahkan pada CAED adalah sebesar 0,50 % dari total berat aspal pada umur 7 hari.
PENGGUNAAN BOTTOM ASH YANG TELAH DIOLAH UNTUK PEMBUATAN BETON HVFA MUTU MENENGAH
Yohanes Christian;
Andry Wirananda;
Antoni Antoni;
Djwantoro Hardjito
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (746.387 KB)
Bottom ash merupakan limbah pembakaran batu bara dari PLTU. Di Indonesia pemanfaatan bottom ash sebagai material konstruksi belum maksimal. Terdapat potensi penggunaan bottom ash sebagai pengganti agregat halus pada beton. Dalam penelitian ini, bottom ash akan diberikan treatment ayak dan tumbuk sebelum digunakan sebagai pengganti agregat halus pada beton high volume fly ash (HVFA). Pengujian awal dilakukan dengan menguji karakteristik dari pasir Lumajang dan bottom ash yang akan dipakai seperti water content, analisa ayakan, dan fineness modulus. Pengujian kuat tekan dan slump test dilakukan pada beton HVFA yang menggunakan pasir Lumajang dibandingkan dengan beton HVFA yang menggunakan bottom ash yang telah diberi treatment. Dari penelitian ini, didapatkan hasil bahwa semakin banyak persentase penggantian pasir Lumajang dengan bottom ash maka semakin banyak pula penurunan kekuatan dan workability dari beton HVFA. Penurunan workability dapat diatasi dengan memberikan treatment penumbukan pada bottom ash.