Articles
25 Documents
Search results for
, issue
"1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT"
:
25 Documents
clear
SKRIPSI JIPLAKAN : AWAL KEMUNAFIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.639 KB)
      Skripsi jiplakan! Dan inilah berita yang sangat aktual pada akhir-akhir ini dalam dunia pendidikan kita. Berita yang benar-benar dapat menjadi "nila dua titik" di dalam "belanga susu" pendidikan kita.      Akhir-akhir ini disinyalir banyak mahasiswa yang melakukan kegiatan "kurang sehat". Skripsi atau karya ilmiah yang diatas namakan dirinya ternyata merupakan jiplakan dari karya orang lain, entah karya dosennya, karya temannya yang lebih senior atau karya penulis lainnya. Padahal seperti telah kita ketahui bahwa skripsi merupakan karya memorial yang dapat menghantarkan seseorang untuk meraih predikat sarjana.      Berita tentang jiplak-menjiplak ini rupanya tidak sekedar basa-basi saja. Universitas Jendral Sudirman (Unsoed) Purwokerto benar-benar telah "kecolongan" dalam hal ini, demikian pula dengan beberapa perguruan tinggi yang lain.      Lima buah skripsi sarjana yang disusun oleh lima mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsoed Purwokerto diketahui merupakan hasil jiplakan. Skripsi jiplakan tersebut ditemukan secara bertahab. Di mana yang dua buah ditemukan sebelum pendadaran sehingga penyusunnya terpaksa gagal meraih sarjana, akan tetapi yang tiga lainnya ditemukan setelah wisuda sarjana Unsoed pada tanggal 16 Januari 1986 yang lalu dan penyusunnya sudah terlanjur diwisuda untuk meraih sarjana penuh.
JEPANG LEBIH PINTAR DARI AMERIKA ?!
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.199 KB)
      Baru-baru ini Amarika Serikat (AS) "geger", banyak di antara anggota masyarakatnya yang seperti kebakaran jenggot. Pasalnya dimulai dari sebuah "kesembronoan" yang dibuat oleh Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone, yang mengatakan bahwa keanekaragaman bangsa AS telah menyebabkan aikyu rata-rata bangsa AS lebih rendah dari bangsa Jepang.      Banyak koran mengutip bagian pidato selama 30 menit di hadapan anggota Partai Demokrat Liberal yang kini sedang berkuasa di Jepang, Nakasone mengatakan, "Jepang telah menjadi masyarakat yang berpendidikan tinggi dan intelegen. Amerika kalah jauh dalam hal ini bila ditarik ukuran rata-rata. Di Amerika tingkat intelegensi jauh lebih rendah dari Jepang karena di sana terlalu banyak orang kulit hitam, Puerto Rico, serta Meksiko". Yang dimaksud Amerika adalah AS.      Karena potongan pidato Nakasone tersebut dipublikasikan secara meluas di Amerika maka di negara Paman Sam tersebut terjadi semacam kemarahan rasial yang meng-hebat sehingga menjurus pada krisis diplomatik antar ne-gara.      Rakyat AS banyak yang marah mendengar ucapan Nakasone tersebut dan mereka menuntut agar Perdana Menteri Jepang tersebut menarik kembali ucapannya dan kemudian meminta maaf secara terbuka kepada rakyat AS. Sementara lainnya ada yang mengancam agar AS mengadakan "pemboi-kotan ekonomi" terhadap Jepang andaikata Nakasone enggan minta maaf kepada rakyat AS.
PENDEKATAN KUA-RELEVANSITAS POLITEKNIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (97.15 KB)
            Kunjungan kerja dari Menteri Pendidikan dan Riset Kerajaan Denmark, Mr. Bertel Haarder selama enam hari di negara kita beberapa waktu yang lalu ternyata bisa membawa "keajuan" yang cukup berarti, khusus dalam dunia pendidikan kita.      Beberapa kesepakatan telah dihasilkan. Diantaranya adalah pemerintah Denmark sepakat untuk memberikan bantuan studi kelayaan terhadap delapan politeknik baru yang menurut rencana akan dibangun di Indoneseia bagian Timur. Kedelapan politeknik itu meliputi lima untuk bidang engeneering serta tiga untuk bidang pertanian.      Kiranya perlu untuk dicatat bahwa pembangunan fisik lembaga politeknik memerlukan dana atau beaya yang cukup aduhai jumlahnya. Untuk satu unit politeknik saja, berikut dengan mesin-mesin dan peralatan lainnya diperkiran akan menyerap dana sekitar 7,5 milyard rupiah. Belum lagi dana yang harus dikeluarkan untuk "maintenanc" dan managemennya.       Disamping itu untuk kalangan perguruan tinggi pemerintah Denmark telah menyetujui diadakannya kerja sama pada bidang bioteknologi dengan beberapa universitas dan institut. Sedangkan untuk pendidikan menengah juga telah diadakan kerja sama dibidang pendidikan kejuruan.
DICARI PAHLAWAN SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.101 KB)
      Dalam beberapa tahun terakhir ini sekolah kejuruan tengah mengalami "trauma akademis" yang cukup serius. Nasibnya seperti sulit dipegang ujung pangkalnya, dan secara perlahan tetapi pasti pamor akademisnya merosot dan semakin merosot.       Fenomena tentang keadaan ini sebenarnya telah di mulai sejak semakin sulitnya mencari pekerjaan bagi lulusan sekolah kejuruan tersebut. Seperti kita ketahui orientasi sekolah kejuruan adalah mempersiapkan para lulusannya untuk memasuki dunia kerja. Namun begitu adanya "pembatasan" Depdikbud bagi lulusan sekolah kejuruan dalam hal kelanjutan studi yang dieksplisitkan dalam peraturan kiranya ikut memberikan andil yang cukup besar.       Ketika para lulusan sekolah menengah atas, baik umum maupun kejuruan, saling berlomba untuk mencari tempat guna melanjutkan studinya ke perguruan tinggi maka keluarlah peraturan dari Dirjen Dikti Nomer: 212/D/Q/ 1983 tentang persyaratan meneruskan kuliah bagi para lulusan sekolah menengah tingkat atas.       Khusus bagi lulusan SMTA Kejuruan, mereka diperkenankan mendaftar di perguruan tinggi apabila telah memenuhi persyaratan batas nilai rata-rata minimal dalam Surat Tanda Tamat Belajar (yang relatif tinggi), atau telah bekerja dalam bidangnya minimal dua tahun terhitung sejak tamat, dan harus disertai dengan tanda bukti.
MENGHITUNG INOVASI GAYA HABIBIE
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.353 KB)
      Sistem pendidikan di Indonesia sudah tiba saatnya harus segera diubah. Demikian diungkapkan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr. B.J. Habibie, dalam sebuah rapat kerja dengan Komisi X DPR.      Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seharusnya ditingkatkan jumlahnya dan juga sedini mungkin disampaikan kepada anak didik, sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) bisa dikurangi jam pelajarannya. Selain itu cara ujian di sekolah dengan jalan memilih jawaban juga harus segera diubah, karena hal itu dapat membahayakan mental anak didik yang akan menjadi penerus bangsa.      Sekarang ini mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) banyak dikorbankan untuk pelajaran IPSK.      Lebih lanjut Menristek memberikan ilustrasi bahwa idealnya lulusan teknik yang dibutuhkan masyarakat seki-tar 35 s/d 40 persen, sedangkan lulusan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan sebesar 26 s/d 35 persen dari jumlah lulusan seluruhnya.
PROFESIONALISASI ORGANISASI PROFESI PGRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (116.992 KB)
      Tanggal 25 November adalah bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), atau sering pula disebut dengan hari guru. Empatpuluhsatu tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 November 1945 lahirlah sebuah organisasi yang berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi para "pahlawan tanpa tanda jasa" ini.      Berbeda dengan setahun yang silam, peringatan hari guru kali ini menurut rencana dilaksanakan secara se-derhana tetapi cukup khidmat.      Peringatan hari guru yang ke-40 tahun yang lalu dipusatkan di kota Surakarta dengan berbagai acara yang semarak, dan selain Bpk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu hadir pula Bpk Wakil Presiden. Tentu saja tidak ketinggalan para pengurus PGRI serta para guru dari berbagai daerah.      Meskipun peringatan kali ini tidak semeriah tahun lalu, tetapi peringatan kali ini diwarnai dengan suasana yang cukup berkesan.      Ketua umum Pengurus Besar PGRI, H. Basyuni Suraamiharja mengatakan bahwa peringatan hari ulang tahun PGRI yang ke-41 kali ini secara nasional diwarnai suasa-na bahagia, sebab salah satu dari idaman para guru untuk mempunyai Gedung Guru yang bersifat monumental dan fung-sional akan segera terwujud.
MENGERLING HASIL EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (99.665 KB)
      Saat ini beberapa sekolah sudah mulai menggunakan hasil EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir tingkat Nasional) setelah dalam beberapa hari yang terakhir sebagian besar civitasnya (kepala sekolah, guru, karyawan dan para siswa) saling menyimpan rasa dan "berharap".      Hal ini tentu saja dapat dimengerti. Bagi kepala sekolah dan karyawan maka kesuksesan EBTANAS disamping membawa nama harum sekolah juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat pada sekolah maupun para pengelolanya. Bagi para pamong atau guru hasil EBTANAS dapat dijadikan tolokukur keberhasilan pengajaran serta pendidikan yang telah dijalaninya selama ini.      Sedangkan bagi para siswa sangatlah jelas. Keberhasilan atau kegagalan EBTANAS akan banyak membawa dampak, baik yang secara khusus berkaitan dengan kontinuitas studi maupun yang berkaitan dengan masa depannya.      Hasil EBTANAS untuk tingkat SMTA biasanya mendapat perhatian yang lebih serius. Hal ini disebabkan karena "perhitungan nasib" seseorang yang berkaitan dengan masa depannya mulai nampak jelas, sekalipun harus tetap disadari bahwa sebuah formula eksakta tak pernah dapat diterapkan.
SEKOLAH SWASTA TERNYATA YANG TERBAIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.82 KB)
      Terdapat 25 Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) yang termasuk dalam kategori terbaik di Indonesia. Dari 25 SMTA tersebut seluruhnya berlokasidi Pulau Jawa, dan ternyata hanya empat yang merupakan SMTA Negeri. Yang Selebihnya, ialah sebanyak 21 SMTA ternyata merupakan sekolah-sekolah yang dikelola oleh swas-ta, alias SMTA Swasta.      Data tersebut diatas menurut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, diperoleh berdasarkan pemantauan Dirjen Dikti terhadap hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru versi perguruan tinggi negeri, atau yang lebih dikenal dengan SIPEN-MARU, tahun 1986/1987 beberapa waktu yang lalu. Disamping didasarkan pada data SIPENMARU 86/87 juga terdukung oleh data-data sebelumnya.      Dengan melihat data seperti tersebut diatas maka bagi pengelola SMTA Swasta baik bagi para pengelola "kebijaksanaan" yayasan maupun yang langsung terjun secara operasional di sekolah, kiranya dapat berbesar hati sejenak. Bagi para siswa SMTA Swasta juga dapat menghilangkan perasaan minder dan rendah diri, karena selama ini seolah-olah ada anggapan tak tertulus dari masyarakat bahwa kualitas sekolah swasta hampir selalu lebih jelek bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah negeri.      Kenyataan menunjukkan bahwa dari 25 SMTA terbaik maka didalamnya hanya terdapat sekolah negeri, selebihnya adalah sekolah swasta. Dengan angka prosentase maka dari 25 SMTA yang termasuk dalam kategori terbaik tersebut 84% merupakan SMTA Swasta dan 16% merupakan SMTA Negeri. Perbandingan tsb diatas juga merupakan prestasi tersendiri bagi kalangan swasta sebagai hasil ke-tekunan dan perjuangannya dalam mengisi pembangunan pendidikan di negara kita.
MENINGKATKAN RESPONSIBILITAS SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.408 KB)
      Adalah benar apabila pendidikan harus senantiasa berorientasi kedepan, sebab sesungguhnya pendidikan mempunyai suatu konsep yang sangat sederhana; pendidikan adalah upaya untuk menyesuaikan sikap dan perilaku manu-sia agar senantiasa siap untuk menghadapi hari esok (baca: Supriyoko, "Tugas Perguruan Tinggi", MM Depdikbud, September 1983).      Kemarin, hari ini dan esok mempunyai karakteris-tik yang spesifik, atau dengan kata lain setiap terjadi pergeseran waktu tentu akan membawa perubahan-perubahan. Meskipun perubahan forma (fisik) seringkali tidak tidak nampak di permukaan, akan tetapi perubahan tata nilai tidak jarang menyertai. Untuk itulah maka kontinuitas proses pendidikan sangat diperlukan eksistensinya.      Timbullah kemudian suatu konsep belajar seumur hidup (life long education) sesuai dengan sifat pendidikan itu sendiri yang merupakan proses yang tidak mengenal batas akhir (never ending process).      Agar manusia bisa menyesuaikan sikap dan perilakuagar senantiasa siap menghadapi hari esok maka manusia dituntut mempunyai tiga macam keterampilan,masing-masing adalah "keterampilan kognitif" yang terintegrasikan da-lam sebuah profesi manusia. Sedangkan salah satu bentuk profesi yang paling gampang teramati adalah pekerjaan. Itulah sebabnya maka antara pendidikan dan pekerjaan mempunyai korelasi dan inter-depensi dengan signifikansi yang cukup tinggi.
CAKRAWALA PENDIDIKAN 1986
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.817 KB)
      Sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya maka perjalanan pendidikan di negara kita tahun 1986 diwarnai dengan berbagai kebijakan, baik kebijakan yang diterima dengan mulus oleh para yang berkepentingan maupun yang sempat mengundang polemik.      Pada awal tahun 1986 sebuah "coreng moreng" dalam dunia pendidikan masih terasa membekas, bahkan masih sempat mengundang respon yang cukup banyak; ialah terbongkarnya kasus skripsi jiplakan. Beberapa mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di Jawa ini diduga telah melakukan tindakan yang tidak terpuji, ialah melakukan "penipuan ilmiah" berupa menjiplak karya ilmiah orang lain untuk diatasnamakan dirinya sendiri.      Peristiwa ini mampu "membangunkan" kaum akademisi untuk lebih selektif dalam membimbing penulisan ilmiah para mahasiswa-nya. Tetapi bagi masyarakat peristiwa ini mampu menimbulkan kecurigaan baru, bahwa penjiplakan karya ilmiah milik orang lain ini juga terjadi pada perguruan tinggi lainnya, baik negeri maupun swasta.      Meski akhirnya kasus tersebut sempat dibantah oleh "top-birokrat" lembaga yang bersangkutan, sebagian masyarakat sudah terlanjur meyakini bahwa peristiwa penjiplakan skripsi dan karya ilmiah lainnya adalah benar-benar telah terjadi. "Pembelaan" yang dilakukan oleh pemimpin lembaga dianggap sebagai kebiasaan untuk sekedar menjaga nama baik lembaga.