Articles
24 Documents
Search results for
, issue
"1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT"
:
24 Documents
clear
SIPENMARU : RIWAYAT YANG SEGERA TAMAT
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (116.047 KB)
      Dari rapat kerja nasional (rakernas) Depdikbud yang berlangsung di Jakarta sejak tgl 12 Juli 1987 yang lalu diperoleh khabar bahwa sistem penerimaan mahasiswa baru yang selama ini berbentuk seleksi, baik yang berupa ujian tulis maupun non-tulis (PMDK) secara bertahap akan digantikan dengan sistem ujian masuk yang kriterianya disusun oleh masing-masing lembaga pendidikan penerima calon yang bersangkutan.        Itu semua berarti bahwa pola Sipenmaru, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru sebentar lagi akan tamat riwayatnya.        Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir ini sistem penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menggunakan dua macam pola seleksi; masing-masing adalah pola seleksi ujian tulis Sipenmaru serta pola seleksi panduan/pembinaan PMDK, Pembinaan Minat dan Kemampuan.        Pada perkembangannya calon yang diterima melalui pola Sipenmaru jumlahnya mencapai sekitar tigaperempat  atau 75% dari seluruh mahasiswa baru PTN, sedangkan selebihnya diterima melalui pola PMDK.
HASIL EBTANAS DAN FAKTOR NONAKADEMIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (126.61 KB)
          Seperti yang telah banyak diduga dan diperhitungkan sebelumnya oleh sementara pengamat pendidikan, maka hasil Ebtanas --evaluasi belajar tahap akhir yang dilakukan secara nasional-- pada tingkat SMTA untuk tahun ini ternyata masih belum memuaskan; untuk tidak mengatakan sebagai masih memprihatinkan.          Jumlah peserta Ebtanas itu sendiri secara nasional untuk tingkat SMTA tahun ini adalah lebih dari satu juta orang, atau tepatnya 1.011.977 orang; yang terdiri dari siswa SMTA umum atau SMA sebanyak 662.488 orang (65,46%), dan siswa SMTA Kejuruan sebanyak 349.489 orang (34,54%). Jumlah ini tentunya amat besar bila dibanding dengan daya tampung perguruan tinggi yang masih sangat terbatas.          Belum memuaskannya hasil Ebtanas ini sudah banyak diduga sejak sebelum kegiatan evaluasi ini dilaksanakan; hal ini dihitung atas dasar ditemuinya kenyataan masih relatif banyaknya sekolah atau lembaga pendidikan yang proses belajar mengajar didalamnya masih harus selalu ditingkatkan efektivitasnya, disamping juga berdasar pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana hasil Ebtanas belum pernah memuaskan.          Ketika pertama kali Ebtanas dilaksanakan (84/85), bahkan hasilnya benar-benar jauh dari harapan. Di samping rata-rata Nilai Ebtanas Murni (NEM)-nya yang demikian minim, juga vareasi nilainya yang sangat heterogen.
MENGANALISIS TANGGUNG JAWAB SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.38 KB)
      Hubungan antara sekolah dengan dunia kerja dewasa ini menjadi topik pembicaraan lagi. Dalam kerja perkenal lan dengan Komisi IX DPR RI baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Fuad Hasan mengemukakan bahwa tak mungkin sekolah dapat menjamin pekerjaan bagi para lulusannya.      "Bagaimana mungkin kalau memilih sekolah saja tidak diurus oleh sekolah kok memilih lapangan pekerjaan harus diurus oleh sekolah.Persepsi ini perlu diluruskan, sebab sangat membebani para guru dan pendidik, lebih-lebih bila sekolah dianggap menghasilkan penganggur", demikian apa yang dikemukakan oleh Mendikbud dalam pertemuan tersebut (Kompas 13/11/87).      Adalah sebuah mission impossible apabila sekolah harus bertanggung jawab terhadap para lulusannya yang tidak memperoleh pekerjaan dalam artian tugas untuk mencarikan pekerjaan menjadi tanggung jawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Demikian kira-kira inti materi yang dikemukakan oleh beliau.      Lebih lanjut Mendikbud menyodorkan ilustrasi, apabila seseorang mengetahui bahwa lulusan dari pabrik itu bakal meng-anggur maka yang bersangkutan tidak perlu lagi masuk pabrik itu. Contoh lainnya diberikan, kini banyak SMEA diberbagai tempat, meskipun lulusannya tidak bisa bekerja setempat, arus peminat terus datang juga. Kalau nantinya mereka tidak mendapat pekerjaan masakan Departemen P dan K harus bertanggung jawab.
DILEMA "MUATAN LOKAL" DALAM KURIKULUM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.802 KB)
      Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Fuad Hassan, baru-baru ini mengkomunikasikan gagasannya untuk mengembangkan potensi masing-masing daerah yang akan dimanifestasikan menjadi "muatan lokal" dalam kurikulum.      Yang dimaksud dengan "muatan lokal" ialah merupakan kelompok mata pelajaran dalam struktur kurikulum yang oleh suatu daerah dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian para pelajar dari masing-masing daerah akan mempunyai kesempatan yang terstruktur dan terorganisir dalam mempelajari potensi daerahnya.      Lebih lanjut Mendikbud memberikan ilustrasi pelajar di Bali akan menerima kurikulum tentang seni ukir, pelajar di daerah yang potensi utamanya adalah perikanan juga akan menerima kurikulum yang mempelajari masalah-masalah perikanan, dsb.      Sasaran dari gagasan ini adalah siswa sekolah dasar dan menengah, di seluruh tanah air tentunya. Sementara realisasinya akan dimulai pada awal tahun Pelita Kelima yang akan datang.
SISTEM LATIHAN KERJA NASIONAL, TEROBOSAN SIMPATIK DEPNAKER
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.327 KB)
      MASALAH ketenagakerjaan di negara kita makin lama terasa semakin kompleks; bukan saja karena bertambahnya tenaga kerja dari tahun ke tahun yang jumlahnya kian membengkak, akan tetapi kuga dikarenakan tuntutan disiplin ketrampilan dari lapangan kerja yang semakin lama semakin "canggih" saja.      Dari segi jumlah, setiap tahun tidak kurang dari dua juta pencari kerja yang berupaya dan berebut tempat untuk mengisi pos-pos kerja yang sangat terbatas jumlahnya. Tentu saja tidak akan mengejutkan kalau angka ini makin lama akan semakin membengkak jumlahnya, karena terbatasnya daya tampung lembaga pendidikan untuk setiap jenjang (kecuali pendidikan dasar) secara langsung telah berakibat pada meningkatnya pertumbuhan tenaga kerja.      Sedangkan dari segi disiplin ketrampilan, pada umumnya tenaga kerja kita belum memiliki disiplin ketrampilan yang kualitatif terhadap tuntutan lapangan kerja. Salah satu indikator yang pantas dipresentasikan adalah banyaknya tenaga kerja terpaksa "ditampik" oleh para pengguna karena kualifikasi dan relevansi disiplin ketrampilannya yang diragukan.      Untuk mengatasi masalah ini Depnaker, Departemen Tenaga Kerja mengadakan terobosan baru yang cukup "simpatik" dalam bentuk sistem latihan kerja nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas ketrampilan yang dimiliki oleh para pekerja kita yang pada umumnya masih tergolong "minim".
KOMPUTER MASUK SEKOLAH DAN PROBLEMATIKNYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.473 KB)
      Masalah masuknya "si kotak pintar" komputer ke sekolah-sekolah, khususnya sekolah menengah kini telah mendapatkan perhatian dari para pakar; baik yang generic sebagai pakar pendidikan, maupun yang spesific sebagai pakar dibidang perkomputeran.      Seorang ahli komunikasi, Dr. Alwi Dahlan bahkan berpendapat sejak SD anak-anak harus sudah mulai diperkenalkan dengan komputer. Mata pelajaran komputer sudah waktunya dimasukkan dalam kurikulum SD dan SMP apabila Indonesia tidak ingin ketinggalan lagi dalam usaha-usaha mengembangkan teknologinya (KR, 12 Juli 87).      Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa penerapan mata pelajaran tersebut (komputer) dalam kurikulum pendidikan tingkat SD dan SMP merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan dewasa ini; meskipun dilain pihak juga diakui olehnya bahwa penerapan mata pelajaran komputer akan banyak menelan sumber daya dan dana.      Pak Alwi nampaknya pintar melihat kenyataan bahwa dewasa ini mulai muncul kelompok profesionalis tertentu yang sudah begitu akrab dengan dunia komputer, sementara lapisan masyarakat lainnya masih begitu asing terhadap jenis teknologi ini. Apabila hal ini terus berkelanjutan maka dikhawatirkan akan muncul dua lapisan sosial; ialah lapisan yang menguasai dan yang dikuasai. Tentu hal ini tidak menguntungkan bagi perkembangan bangsa kita.
PERLUKAH SD SWASTA SEGERA DITUTUP ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (131.532 KB)
          Dalam hal pelayanan pendidikan dasar kepada warga masyarakat, khususnya dalam penyediaan gedung Sekolah Dasar (SD) kiranya Yogyakarta pantas dimasukkan di dalam kelompok daerah "nomer satu" di seluruh Indonesia.          Yogyakarta di samping telah mampu menyediakan ribuan gedung sekolah dasar yang sanggup memenuhi kebutuhan daya tampung murid SD, juga telah mampu mendistribusikan pembangunan gedung-gedung ini sampai ke pelosok-pelosok desa sehingga lebih memudahkan masyarakat dalam menerima pelayanan pendidikan.          Akhir-akhir ini ternyata muncul sebuah fenomena yang dapat mengcounter kebanggaan atas keberhasilan tersebut diatas, ialah fenomena tentang "merosotnya" jumlah murid SD itu sendiri.          Sebagaimana yang pernah diberitakan oleh KR edisi 23 April 87. Jumlah murid SD di DIY dari tahun ke tahun semakin merosot. Jumlah SD yang mempunyai murid dengan standar "A" yakni murid diatas 180 anak hanya 15 persen saja. Banyak SD, baik swasta maupun negeri yang setiaptahun ajaran baru hanya menerima murid baru dibawah 10-15 anak saja.      Â
MENGGAPAI BANTUAN DANA PENDIDIKAN MANCA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.409 KB)
      Indonesia tercinta ini adalah termasuk salah satu negara yang sangat memperhatikan pendidikan rakyatnya; karena telah terjadi semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa keterdidikan rakyat adalah merupakan kunci untuk memajukan negara dengan sistem kemasyarakatannya.      Sebagai manifestasi besarnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan rakyat adalah dana yang dialokasikan kepada sektor pendidikan senantiasa menunjukkan deretan angka yang relatif "panjang".      Dari komposisi pendistribusian anggaran atau dana dalam RAPBN dapat dicatat, sejak tahun 82/83 yang lampau dana atau anggran untuk sektor pendidikan nampak mulai menonjol apabila dibandingkan dengan sektor pembangunan yang lainnya. Setidak-tidaknya selalu masuk dalam kelompok "the best four", bahkan tak jarang menduduki posisi teratas dalam hal jumlah penerimaan dana ini.      Tahun anggaran 1987/1988 ini sektor pendidikan menerima lebih dari seribu milyar rupiah dari sebanyak 22,7 trilyun rupiah yang disediakan oleh pemerintah. Apabila kita tulis dengan angka maka bilangan seribu milyar tentu akan mempunyai deretan yang cukup panjang; karena seribu milyar bukanlah jumlah yang sedikit.
BERBAGAI KENDALA PENELITIAN PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.993 KB)
      Memang ada benarnya: wajah pendidikan di negara kita dewasa ini sedang "pucat", bahkan beberapa "coreng-moreng" masih nampak disana-sini. Kurikulum, efektivitas pembelajaran, evaluasi pengajaran, birokrasi sekolah, pemantaban silabi untuk mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi, kualitas dan kuantitas guru, optimalisasi media, dsb adalah merupakan problematika "rumah tangga" klasik yang hampir tidak pernah mendapatkan penyelesaian secara tuntas.      Problematika "rumah tangga" ini terasa kian pelik manakala masing-masing para yang berkepentingan mencoba menawarkan ide atau alternatif dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sulitnya membuat keterpaduan antara ide atau alternatif yang satu dengan yang lainnya telah berakibat pada semakin kompleksnya persoalan-persoalan intern lembaga pendidikan di negara kita. Sementara itu masalahnya itu sendiri seringkali justru tidak sempat mendapatkan "jalan keluar" atau penyelesaian yang "apik" dan tuntas.      Keadaan tersebut diatas tentunya tidak mengurangi "hormat" kita terhadap para ahli, pengamat dan birokrat akademik yang senantiasa berusaha keras untuk memajukan dunia pendidikan di tanah air.      Tidak pernah terselesaikannya secara tuntas masalah-masalah pendidikan ini sebenarnya juga sesuai dengan sifat pendidikan itu sendiri yang merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai (never ending process).
GURU BESAR DI ATAS KUALIFIKASI AKADEMIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.618 KB)
      Dalam karikatur, seorang guru besar atau profesor sering dilukiskan sebagai orang tua yang berkepala botak dan berkacamata, memakai baju yang berdasi dengan sebuah tas besar yang berisikan buku-buku ditangannya. Didalam "kepala"nya dilukiskan penuh dengan rumus-rumus matematika, formula-formula, serta persoalan-persoalan ilmiah lainnya.      Itulah gambaran "kebesaran" dari seorang guru besar di perguruan tinggi.      Karikaturis lain melukiskan seorang guru besar atau profesor dengan penampilan yang hampir sama, tetapi didalam "kepala"nya berisi sebuah tanda tanya besar yang melukiskan bahwa dia sebenarnya seorang pelupa. Demikian getolnya sang profesor tersebut menekuni masalah-masalah ilmiah di laboratorium sehingga dia lupa terhadap persoalan "sederhana" sehari-hari.      Karena takut kehujanan seorang profesor terpaksa bermalam dirumah kawannya. Ketika tuan rumah tidur, sang profesor pulang kerumahnya untuk mengambil buku meski ha rus berhujan-hujan untuk memenuhi kebiasaannya membaca buku menjelang tidur. Setelah mengambil buku sang profesor kembali lagi kerumah kawannya untuk meneruskan acara "bermalam"nya. Tentu saja hal ini membuat tuan rumah men jadi terheran-heran ketikan bangun.