Articles
22 Documents
Search results for
, issue
"1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT"
:
22 Documents
clear
PERSPEKTIF ANGKA KREDIT GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (137.453 KB)
      Semenjak dikeluarkannya Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No: 26/MENPAN/1989 tanggal 2 Mei 1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) maka kita boleh menaruh harap terhadap pengingkatan kualitas pendidikan di Indonesia pada masa-masa yang akan datang melalui sektor manusianya.      Para guru sendiri umumnya banyak yang menyambut positif dan penuh harap atas kehadiran SK tersebut; meskipun banyak di antara mereka yang sebenarnya belum memahami materi SK-nya secara operasional.      Barangkali banyak di antara kita yang bertanya-tanya: dari dimensi mana dapat ditarik korelasi antara SK Menpan yang mengatur angka kredit jabatan guru dengan peningkatan kualitas pendidikan di negara kita?      Jawabnya tidak terlalu sulit! Salah satu komponen yang menentukan kualitas pendidikan di negara kita ialah faktor keberhasilan guru dalam mendidik para siswanya; jadi kalau SK Menpan tersebut dapat memotivasi guru sehingga mampu meningkatkan keberhasilan mendidiknya maka secara otomatis akan meningkatkan kualitas pendidikan, betapa pun kecilnya nilai peningkatan itu.      Dalam Surat Edaran bersama antara Mendikbud dan Kepala BAKN No:57686/MPK/1989 dan No: 38/SE/1989 secara eksplisit diterangkan bahwa penetapan angka kredit bagi jabatan guru adalah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui pening-katan mutu dan prestasi guru.
MENEROPONG MUTU PTS DI YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.485 KB)
Mengurus perguruan tinggi negeri, PTN, itu memang bukan pekerjaan yang gampang, penuh romantika akademik yang cukup rumit; meskipun demikian lebih rumit mengurus perguruan tinggi swasta, PTS, karena di samping romantika akademiknya sendiri sudah rumit maka seringkali harus dihadapkan pada romantika nonakademik yang tidak kalah rumitnya.      Hipotesis tersebut di atas memang masih perlu dikaji secara mendalam lagi tentang kebenaran empiriknya; akan tetapi sampai sekarang ini hampir tidak pernah ada pakar pendidikan yang berani "mengcounternya", termasuk para pengelola PTN dan PTS itu sendiri.      Oleh karena rumitnya mengurus lembaga pendidikan tinggi "nonpemerintah" tersebut, maka banyak cara yang ditempuh oleh para yang berkepentingan (dari tingkat lem baga, yayasan, Kopertis sampai pengambil kebijakan pada Depdikbud) untuk "menyiasati" hal itu.      Apa yang dilakukan oleh Kopertis Wilayah V dengan "mengancam" beberapa PTS di wilayahnya yang tidak mengalami kemajuan akademik yang berarti (baca: KR, 4/4/1989) kiranya juga merupakan bagian dari cara atau upaya untuk memajukan PTS. Meskipun suatu ketika pihaknya terpaksa harus menutup PTS yang sulit berkembang namun saya melihat "ancaman" Kopertis tersebut dari dimensi positif.
OGAH BELAJAR DI PTN, GEJALA POSITIF ?!
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.368 KB)
      Ada sementara pengamat dan birokrat pendidikan di negara kita, khususnya para pengelola perguruan tinggi negeri (PTN), yang masih merasa "pusing" atau tidak habis mengerti: mengapa begitu banyak calon mahasiswa baru yang telah dinyatakan "welcome" oleh PTN ternyata "rela" melepaskan kesempatan emasnya tersebut.      Seperti kita ketahui bersama baru-baru ini telah terjadi suatu "kejanggalan" di dalam salah satu komponen dari sistem pendidikan kita; yaitu relatif banyaknya kan didat mahasiswa baru yang telah dinyatakan diterima pada PTN tetapi tidak melaksanakan pendaftaran ulang, artinya mereka melepaskan kesempatan emasnya untuk belajar pada PTN. Pada hal kesempatan emas seperti ini sangat sulit untuk mendapatkannya.      Di IKIP Negeri Semarang dan di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang misalnya, ratusan kandidat mahasiswa yang telah dinyatakan "lulus" UMPTN ternyata tidak melaksanakan pendaftaran ulang. Itu berarti bahwa mereka kehilangan (sengaja menghilangkan) haknya untuk menjadi warga "elite" PTN.      Peristiwa tersebut di atas ternyata juga terjadi pada PTN-PTN lain di negara kita, baik PTN di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa, meski dengan kapasitas yang bervariasi.
BERIKAN âNAFASâ PADA SEKOLAH PERALIHAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.747 KB)
      Peristiwanya telah serta sungguh-sungguh terjadi; meskipun demikian sama sekali saya tidak bermaksud untuk mengirimkannya pada rubrik Sungguh-Sungguh Terjadi di pojok kanan-bawah halaman satu "milik" surat kabar yang tengah kita baca ini.      Peristiwa apa itu ....? Yeach, bayangkan! Sekolah yang sudah mempunyai gedung dan fasilitas yang memadai, memiliki guru tetap dan tenaga administrasi yang memadai pula, status formalnya pun diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), bahkan lembaga ini pernah "mengakar" di hati masyarakat, tiba-tiba saja harus mengalami "musibah": sekolah itu hanya diminati oleh kurang dari 10 (baca: sepuluh) orang siswa baru.      Persoalannya adalah, apakah cukup efektif penyelenggaraan pendidikan yang diikuti oleh kurang dari 10 siswa; pada hal penyediaan sarana, fasilitas dan gurunya dapat dikonsumsi oleh lebih dari 100 siswa.      Itu hanya sebagian persoalan saja, masih banyak lagi persoalan lainnya yang lebih kompleks; antara lain bagaimana suatu sekolah tingkat SMTA dapat mempertahakan eksistensi dan perikehidupan akademisnya dengan "hanya" mengandalkan kurang dari 10 siswa. Banyak hal yang akan terpengaruhi oleh sedikitnya siswa itu: motivasi mengajar gurunya, kegiatan ekstra institusionalnya, dsb.
BENARKAH PENDIDIKAN KELUARGA TERABAIKAN ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.32 KB)
      Pemerintah dan masyarakat boleh saja membangun gedung-gedung sekolah yang megah, boleh saja mengisinya dengan per-alatan yang serba sophisticated, boleh saja mempekerjakan guru-guru yang profesional, dan juga boleh saja membuat sistem pendidikan yang serba canggih; akan tetapi tidak boleh dilupakan bahwa pusat pendidikan yang paling utama bagi sang anak adalah keluarga.       Oleh karena begitu pentingnya pendidikan keluarga bagi sang anak maka seharusnya pendidikan keluarga dapat dilaksanakan seefektif mungkin.       Konsep pendidikan keluarga yang "disodorkan" oleh tokoh pendidikan nasional kita Ki Hadjar Dewantara, yang seandainya beliau masih "sugeng" maka tanggal 2 Mei 1989 ini usianya genap satu abad, telah diakui oleh para pakar pendidikan kita; bahkan oleh para pakar pendidikan dari berbagai manca negara.      Interaksi antar personal di dalam sebuah keluarga memang bersifat spesifik: bersifat emosional (dalam konotasi positif), akrab, tidak formal, tidak birokratis, namun penuh harapan. Situasi yang demikian telah memikat sekaligus mengikat sang anak untuk mengembangkan potensi dan kepribadiannya.
PENDEKATAN GOTONG ROYONG DALAM KB MANDIRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.867 KB)
      Bahwa Indonesia telah diakui dunia sebagai negara yang berhasil menjalankan program-program kependudukan melalui gerak-an KB-nya sudahlah menjadi kenyataan; namun kemudian muncul tantangan baru, yaitu bagaimana mengalih kelolakan program pelayanan KB dari pemerintah pada masyarakat. Tujuannya: agar KB sepenuhnya menjadi "milik" masyarakat, bukan "subsidi" pemerintah.      Untuk merealisasikan tujuan tersebut maka dikenal kanlah istilah KB Mandiri dengan lambang lingkaran biru yang cukup terkenal itu.      Pada dasarnya KB Mandiri merupakan suatu proses perubah-an sikap (attitude) dan perilaku (behavior) seseorang kearah pelembagaan dan pembudayaan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera berdasarkan kemampuan serta kesadarannya sendiri.      Secara historis KB Mandiri tersebut sesungguhnya sudah ada sejak dulu, yaitu terjadi pada golongan masyarakat yang menyadari benar manfaat KB agar kebutuhan keluarganya, terutama anak-anaknya, dapat terpenuhi hingga dapat menjadi manusia yang berkualitas dan berguna bagi keluarga, masyarakat, serta negara. Golongan inilah yang sebenarnya merupakan perintis KB Mandiri di Indonesia.
DOSEN KITA MALAS MENULIS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (93.525 KB)
      Salah satu kritik tajam terhadap perguruan tinggi di negara kita dewasa ini adalah ketidakmampuan menulis secara produktif di kalangan mahasiswa maupun dosennya. Hal ini sesungguhnya lebih merupakan problematika klasik yang belum dapat terpecahkan hingga kini.      Kritik tersebut tidaklah keliru; banyak mahasiswa dan dosen yang kurang mempunyai pengalaman dan kemampuan pada bidang tulis-menulis, baik menulis ilmiah, populer, maupun ilmiah-populer. Lebih dari itu, ironisnya, cukup banyak dosen perguruan tinggi yang hampir tidak memiliki pengalaman menulis sama sekali; dalam artian menulis untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan dikonsumsikan kepada orang lain.      Mau bukti ....? Marilah kita mencoba menampilkan contoh-contoh kasus untuk membuktikan kebenaran "hipotesis" tersebut di atas.      Baru-baru ini Kopertis Wilayah V Yogyakarta menyelengga-rakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bagi para mahasiswa di wilayah kerjanya. Dari 53 PTS yang ada ternyata hanya lima PTS saja yang sanggup mengirimkan karya tulis para mahasiswanya; dan dari puluhan ribu mahasiswa di wilayah Kopertis V ternyata hanya tujuh (kelompok) mahasiswa yang mampu menampilkan karya tulisnya.
DIY PALING SIAP MENYONGSONG WAJIB BELAJAR SMTP
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.936 KB)
      Sebagaimana yang telah "diinstruksikan" oleh GBHN Tahun 1988 maka sekarang ini pemerintah tengah berusaha keras agar pada akhir Pelita V nanti dapat merealisasikan cita-cita nasional, yaitu melaksanakan wajib belajar (wajar) pada jenjang SMTP, sekolah menengah tingkat pertama, di seluruh Indonesia.      Salah satu persyaratan akademis untuk dapat dilaksanakannya wajar tersebut adalah daya tampung SMTP itu sendiri sudah mendekati angka ideal; secara teoretis di atas angka 90%. Hal ini berarti bahwa pemerintah (bersama-sama masyarakat) setidak-tidaknya telah mampu menyediakan lebih dari 90 kursi belajar dari setiap 100 lulusan sekolah dasar.       Mengapa persyaratan daya tampung tersebut menjadi begitu mengikat? Atau, apakah persyaratan daya tampung tersebut tidak dapat dihindari?      Sampai saat ini nampaknya memang belum ada aturan atau hukum internasional yang mengeksplisitkan persyaratan daya tampung tersebut, apalagi yang menyebut-nyebut angka 90%; akan tetapi menurut etika akademik maka setiap birokrasi pemerintah yang "berani" mewajib-belajarkan rakyatnya maka kepada mereka dituntut menyediakan sarana dan fasilitas belajar yang memadai.      Tentang hal tersebut di atas kita bisa melihatnya di Jepang, Amerika Serikat, atau negara-negara lain yang telah mewajib-belajarkan rakyatnya; meski sampai jenjang pendidikan yang berbeda-beda.
TEORI AWAL TUMBUHNYA WAWASAN KEBANGSAAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.897 KB)
      Kali ini saya berbahagia memperoleh "kehormatan" dari Ramanda H. Karkono Kamajaya Partokusumo, seorang budayawan yang saya hormati. Tulisan saya yang berjudul "Tumbuhnya Wawasan Kebangsaan Indonesia" (KR, 17/02/89) telah ditanggapi beliau melalui artikelnya yang bertitel "Wawasan Kebangsaan Indonesia Berarti Amanat Penderitaan Rakyat" (KR, 08/03/89).       Tanggapan tersebut di atas sekaligus menunjukkan bahwa beliau benar-benar telah mengikuti dan mencermati tulisan-tulisan saya di berbagai media, setidak-tidaknya tulisan saya tentang wawasan kebangsaan tersebut.      Sebuah koreksi tentang tidak boleh berkurangnya tekanan wawasan anti kolonialisme, anti imperalisme, dan anti penjajahan dalam membangun wawasan kebangsaan pasca kemerdekaan ini, dengan senang hati saya dapat menyetujuinya. Memang saya tidak bermaksud mengabaikan wawasan anti kolonialisme, anti imperalisme, dan anti penjajahan dalam membangun wawasan kebangsaan kita.      Lepas dari itu, seandainya artikel saya dicermati kembali secara komprehens, saya mencoba menekankan bahwa pada masa pasca kemerdekaan ini sudah selayaknya wawasan pembangunan dan wawasan kerja sama internasional mendapat posisi strategis dalam wawasan kebangsaan Indonesia. Hal ini sesuai dengan tuntutan prosesi tumbuh mantapnya wawasan kebangsaan Indonesia itu sendiri.
"MORAL RESTRAINT" UNTUK GENERASI MENDATANG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.728 KB)
      Dahulu orang tidak begitu percaya bahwa bumi ini begitu cepat dipadati oleh makhluk yang bernama manusia; tetapi ketidakpercayaan itu akhirnya menjadi kenyataan. Seorang pakar kependudukan, Ida Bagus Tantra, melukiskan bahwa "dunia baru" sudah mulai tidak sanggup menampung jumlah penduduk yang bertambah tak henti-hentinya. Tiap minggu lebih dari satu juta bayi lahir di dunia, hal ini berarti bahwa satu juta lagi "mulut" manusia yang harus diberi makan.      Kalau kemudian kita menanyakan dari mana asal makanan yang diperlukan oleh manusia, dan makhluk-makhluk lain di muka bumi ini, tentu jawaban yang paling tepat adalah dari hasil eksploatasi alam. Apakah sumber alam tak akan habis kalau dieksploatasi secara terus menerus? Disitulah masalahnya!      Thomas R. Malthus yang hidup pada tahun 1766 s/d 1834 pernah membuat ramalan, bahwa jumlah penduduk akan melampaui jumlah persediaan bahan pangan yang dibutuhkan. Hipotesis yang diajukan: pertumbuhan penduduk bila tidak dilakukan pembatasan akan cenderung berkembang menurut deret ukur, bahkan diperkirakan jumlah penduduk akan berlipat dua setiap deret 25 tahun, sementara itu pertambahan bahan makanan hanya mengikuti deret hitung.