cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
agrivet@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jalan SWK 104 (Lingkar Utara) Condongcatur, Yogyakarta 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Agrivet
ISSN : 14103796     EISSN : 27226018     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrivet (ISSN: 1410-3796) adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian dan ulasan mengenai berbagai aspek yang terkait dengan Agronomi dan bidang pertanian yang terkait (Budidaya Tanaman, Pemuliaan Tanaman, Hama Penyakit Tanaman dan Sumber Daya Lahan). Agrivet diterbitkan oleh Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Yogyakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET" : 5 Documents clear
PERTUMBUHAN JAMUR Beauveria bassiana YANG DIPERBANYAK PADA BERBAGAI KOMPOSISI DAN MACAM MEDIA TERHADAP Hyphotenemus hampei Chimayatus Solichah; R.R. Rukmowati Brotodjojo; Danar Wicaksono; Waluya Waluya
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.4345

Abstract

kopi Hypothenemus hampei. Pengendalian hayati H. hampei yang sedang ditingkatkan pengembangannya di Indonesia adalah dengan memanfaatkan jamur Beauveria bassiana. Jamur ini mudah dibiakkan dengan media buatan yang kaya bahan organik.yang akan mempengaruhi efektifitasnya dalam mengendalikan H. hampei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui macam dan komposisi media perbanyakan jamur B. bassiana yang paling efektif untuk mengendalikan hama penggerek buah kopi H. hampei. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Hayati Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor. Adapun macam perlakuannya adalah macam media perbanyakan jamur B. bassiana (Bekatul; Beras; Jagung; Kacang Tanah; Kedelai; Kacang Merah; Bekatul+Kacang Tanah; Bekatul+Kedelai; Bekatul+Kacang Merah; Beras+Kacang Tanah; Beras+Kedelai; Beras+Kacang Merah; Jagung+Kacang Tanah; Jagung+Kedelai; dan Jagung+Kacang Merah). Sebagai pembanding digunakan 2 kontrol yaitu Aquades (kontrol negatif) dan Insektisida Kimia Berbahan Aktif Lamda Sihalotrin 25 EC (kontrol positif); Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Insektisida  kimia Lamda Sihalotrin 25 EC menyebabkan mortalitas 100% pada 4 hari setelah aplikasi (hsa). Jamur B. bassiana yang ditumbuhkan pada media kedelai menyebabkan mortalitas H. hampei tertinggi yaitu sebesar 60% pada 7 hsa dan mortalitas 100% pada 10 hsa. B. bassiana yang dibiakkan pada media kedelai, kacang tanah, bekatul+kedelai menyebabkan waktu kematian total yang tercepat dibanding yang dibiakkan pada media lainnya. B. bassiana yang dibiakkan pada media kedelai, kacang tanah, bekatul+kedelai menyebabkan daya makan H. hampei nyata lebih rendah dibandingkan yang dibiakkan pada media lainnya.
Resistance of ten chili varieties againts Fusarium wilt diseases Ayu Lestiyani; Suryanti Suryanti; Arif Wibowo
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.3874

Abstract

Kendala utama dalam budidaya cabai salah satunya adalah penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxyporum. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui varietas cabai tahan terhadap penyakit layu Fusarium dilakukan dengan mengukur persentase tanaman sakit dan menentukan kriteria ketahanan. Sepuluh varietas cabai masing-masing adalah King chili, TM999, Red sable, Hot chili, Big chili, KB-2, Inko99, KB-1, HP 1072N dan Lado. Penelitian ini menggunakan isolat F. oxysporum dengan no isolate SMS4 dan umur cabai 1 bulan, pengamatan dilakukan setiap minggu selama 8 minggu dengan rancangan acak lengkap dan apabila beda nyata dilanjutkan uji DMRT 5%. Hasil uji tingkat ketahanan pada 10 varietas tanaman cabai menunjukkan bahwa King chili, TM999, Red sable dan Hot chili termasuk sangat rentan, Big chili dan KB-2 rentan; Inko99, KB-1 dan HP 1072N berkriteria moderat; seangkan Lado berkriteria tahan. Penelitian lebih lanjut yang dilakukan multi lokasi dan dalam beberapa musim dirasa sangat diperlukan.
PERLAKUAN BENIH TOMAT DENGAN Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens UNTUK MENEKAN SERANGAN Fusarium oxysporum PENYEBAB PENYAKIT LAYU FUSARIUM Wiwit Rahayu; R.R. Rukmowati Brotodjojo; Nurngaini Nurngaini
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.4010

Abstract

Produksi tanaman tomat mempunyai kendala yang sering terjadi yaitu serangan penyakit layu Fusarium. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas dari jamur agensia hayati Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens pada penyalutan benih tomat untuk pencegahan penyakit layu Fusarium. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2020 di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman (LPHPT), Pandak, Bantul, DIY. Penelitian dilakukan menggunakan uji in vitro dan in vivo yang disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan yaitu kontrol tanpa perlakuan, Fusarium, Trichoderma harzianum, Gliocladium virens, Fusarium + T.harzianum, Fusarium + G.virens dan kombinasi Fusarium +T.harzianum+ G.virens. Data dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf α=5% dan untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf α=5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kombinasi T.harzianum+ G.virens efektif dalam menekan penyakit layu Fusarium. Uji in vitro menunjukkan bahwa Trichoderma harzianum, Gliocladium virens, atau kombinasi Fusarium +T.harzianum+ G.virens dapat menghambat pertumbuhan jamur F.oxysporum. Uji in vivo menunjukkan kombinasi T.harzianum+ G.virens menghasilkan indeks vigor, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar akar, bobot kering akar nyata paling tinggi dan persen tanaman yang terserang layu Fusarium nyata paling rendah.
KAJIAN TINGKAT DEKOMPOSISI SERASAH DAUN DENGAN MEMANFAATKAN AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH Oktavia Sarhesti Padmini; R.R. Rukmowati Brotodjojo; Dyah Arbiwati
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.3994

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengkaji dampak tingkat dekomposisi serasah daun dan agen pengendali hayati+NPK terhadap pertumbuhan hasil cabai merah. Percobaan menggunakan split plot, disusun menurut Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Sebagai Main plot adalah Dekomposisi serasah daun dengan rasio C/N 28,52 dan dekomposisi serasah daun dengan rasio C / N 16,57. Sub plot adalah jenis agen pengendali hayati dengan enam perlakuan sebagai berikut: 1) Hanya menggunakan NPK dosis rekomendasi (500 kg.ha-1), 2) Kombinasi Trichoderma + 50 % dosis NPK, 3) Kombinasi Mikoriza + 50 % dosis NPK, 4) Kombinasi PGPR + 50 % dosis NPK, 5) Lem pengendalian hama, 6) Stimulant. Data dianalisis varians diikuti oleh Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekomposisi serasah daun dengan rasio C / N 16,57 secara signifikan memperbaiki tinggi tanaman pada hari ke umur 3 MST, jumlah cabang umur 5 MST dan 7 MST serta jumlah buah dan  bobot buah panen pertama dan kedua dibandingkan dengan cabai yang diberi perlakuan dekomposisi serasah daun dengan rasio C / N 28,52. Tanaman lebih tinggi pada penyemprotan stimulan+50% dosis NPK, tetapi tidak diikuti oleh pertumbuhan cabang, serta jumlah dan bobot buah. Kombinasi agen pengendali hayati  jenis Trichoderma sp, Mikoriza sp. dan PGPR + dosis 50% NPK meningkatkan jumlah cabang serta menghasilkan jumlah dan bobot buah, namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara ketiga jenis agen pengendali hayati. Pertumbuhan tanaman yang diberi pupuk NPK memiliki pertumbuhan tanaman paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
PENGARUH KEMIRINGAN PIPA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS PAKCOY (Brassica rapa L.) PADA SISTEM HIDROPONIK NFT (Nutrient Film Technique) Annisa Nur Triana; Khavid Faozi; Begananda Begananda
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.4012

Abstract

Pipa nutrisi pada sistem hidroponik NFT harus dipasang miring agar terjadi aliran mengikuti gravitasi. Tingkat kemiringan pipa akan berkorelasi dengan kecepatan aliran nurtisi dari ujung yang lebih tinggi posisinya. Penelitian bertujuan untuk (1) mengetahui interaksi antara tingkat kemiringan pipa dan varietas yang sesuai pada budidaya pakcoy dengan sistem hidroponik NFT, (2) mengetahui pengaruh kemiringan pipa terhadap pertumbuhan dan hasil pakcoy pada sistem hidroponik NFT, dan (2) mengetahui perbedaan pertumbuhan dan hasil tiga varietas pakcoy pada sistem hidroponik NFT. Penelitian dilaksanakan di rumah plastik, stasiun percobaan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto dengan ketinggian tempat 110 meter di atas permukaan laut, mulai bulan Mei sampai Agustus 2020. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan petak terbagi (split plot) dengan rancangan lingkungan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor. Petak utama yaitu tingkat kemiringan pipa (K1= 4%, K2=7%, dan K3= 10%) dan anak petak yaitu varietas pakcoy meliputi V1= Nauli F1, V2=Green Fortune, dan V3= Green Fut Choy. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapatinteraksi antara tingkat kemiringan pipa dengan varietas pakcoy terhadap semua variabel pengamatan, tingkat kemiringan pipa 4% pada sistem hidroponik NFT paling sesuai bagi pertumbuhan pakcoy berdasarkan variabel tinggi tanaman, bobot brangkasan segar, dan bobot tajuk segar. Varietas Nauli F1 pertumbuhannya paling tinggi menurut variabel jumlah daun, bobot brangkasan segar dan kering maupun bobot tajuk segar dan kering.

Page 1 of 1 | Total Record : 5