cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2024): April 2024" : 7 Documents clear
“Wening”: Towards a Contemplation of Javanese Women’s Self-Identity in The Painting of Dyan Anggraini Rais through an Art Criticism Approach Handayani, Ayu Puji; Marianto, Martinus Dwi
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.11080

Abstract

This article discusses the artwork of Indonesian Woman Artist Dyan Anggraini Rais in The International Art Exhibition Dewantara Triennale 2023 #2 “Social Engagement & Sustainability at Jogja Gallery entitled “wening” as a medium for contemplation of the form of representation of Javanese Women’s self-identity through the Art Criticism approach as a form of appreciation and evaluation of the artwork through reading the interpretation of the visual semiotic code on the artwork. It is found that the Contemplation of Javanese Women’s Self Identity in Wening painting represents the character of Javanese Women’s identity which is seen as a meek figure, good character, nrima, manut, not messing around, but also firm and principled. This is visualized in the symbolization of the meaning of Dewi Sekartaji’s mask. These values have also been exemplified by Kartini’s struggle through women’s emancipation to demand justice for women through the realm of the public sector, especially in the field of education. These noble values should remain inherent and become a living representation for women in contemporary times, where at this time it is very possible for women’s accessibility to be able to enter the public sector to express themselves and build their identity through the various potentials that exist in women to continue to develop and be appreciated. The artwork “Wening” by Dyan Anggraini Rais is a form of self-reflection needed by each individual in this era, especially women, to get to know themselves better and realize the social construction that has shaped them so far. Artikel ini membahas karya seni lukis Perupa Perempuan Indonesia Dyan Anggraini Rais dalam Pameran Seni Rupa Internasional Dewantara Triennale 2023 #2 “Social Engangement & Sustainability di Jogja Gallery yang berjudul “wening” sebagai media perenungan bentuk representasi identitas diri Perempuan Jawa dengan menggunakan pendekatan Kritik Seni (Art Criticism) sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi terhadap karya seni tersebut dengan cara membaca pemaknaan terhadap kode semiotika visual pada karya seni lukis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kontemplasi Identitas Diri Perempuan Jawa dalam lukisan Wening merepresentasikan karakter jati diri perempuan Jawa yang dipandang sebagai sosok yang lemah lembut, berbudi pekerti luhur, nrima, manut, tidak main-main, namun juga tegas dan berprinsip. Hal ini divisualisasikan dalam simbolisasi makna topeng Dewi Sekartaji. Nilai-nilai tersebut juga telah dicontohkan oleh perjuangan Kartini melalui emansipasi wanita untuk menuntut keadilan bagi kaum perempuan melalui ranah sektor publik, khususnya di bidang pendidikan. Karya seni “Wening” karya Dyan Anggraini Rais merupakan salah satu bentuk refleksi diri yang dibutuhkan oleh setiap individu di era ini, khususnya perempuan, untuk lebih mengenal dirinya sendiri dan menyadari konstruksi sosial yang telah membentuk dirinya selama ini.
The Role of Nyi Ageng Serang in Guerilla Strategy of Diponegoro War: An Inspiration for Choreography Work Martono, Hendro; Pertiwi, Jasmin Aulia
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.11036

Abstract

One of the female heroines from Central Java who are less well known nationally apart from Cut Nyak Din, Maria Tinahahu and Kartini is Nyi Ageng Serang or Kustiah Wulaningsih Retno Edi. She was known as female war tacticians belonging to the Yogyakarta and Diponegoro palaces. Kustiah inherited warrior spirit from his father, Panembahan Notoprojo, commander and comrade in arms of P. Mangkubumi who led him to become Sultan Hamenku Buwana I. Kustiah also joined Bregada Nyai and received military education at Yogyakarta palace. While staying at the palace, she read a lot of ancient manuscripts in the library and married to Raden Sundoro, the crown prince. She felt that living in the palace was felt boring, so that when her father died, Kustiah returned to Serang to lead the struggle against the Dutch. She attained her knowledge about war tactics from both ancient texts and her battle experience. Her belief as Muslim descendant of Sunan Kalijaga believing Al-Qur’an also led her to be brave. at the age of 73, Nyi Ageng Serang withdrew from the battlefield and died in 1828. She was buried in Serang, then moved to Kulonprogo. Nyi Ageng Serang’s struggle based on intelligence and Islamic beliefs has inspired the choreographer to choreograph a dance revealing the secrets of Nyi Ageng Serang’s becoming expert of guerrilla war strategy. The moves come from Javanese dance which is soft but heroic and agile. The work involves 3 dancers, one as Nyi Ageng Serang while the other 2 dancers as soldiers. The dance music is composed based on contemporary Javanese sampled via MIDI and the makeup is also Javanese style during Islamic era. The scenography is in the form of a wide white backdrop cloth which can express the metaphor of the war atmosphere in silhouette combined with an animated video. This choreography was recorded by using long take and one shot techniques and carried out on a proscenium stage equipped with lighting. The duration of the video dance is around 8 minutes. Pahlawan wanita dari Jawa Tengah yang kurang dikenal secara nasional seperti pahlawan wanita Cut Nyak Din, Maria Tinahahu dan Kartini yaitu Nyi Ageng Serang atau Kustiah Wulaningsih Retno Edi. Tercatat dalam sejarah sebagai wanita ahli siasat perang yang dimiliki kraton Yogyakarta dan Diponegoro. Kustiah mewarisi darah pejuang dari ayahanda Panembahan Notoprojo, panglima sekaligus sahabat seperjuangan P. Mangkubumi yang menghantarkan hingga menjadi Sultan Hamenku Buwana I. Kustiah juga sempat bergabung pada Bregada Nyai mendapat pendidikan kemiliteran di keraton Yogyakarta, selama di keraton banyak membaca naskah kuno di perpustakaan. Saat di keraton bertemu dan sempat menikah dengan Raden Sundoro putra mahkota, namun hidup di keraton terasa membosankan dan dikekang oleh peraturan, maka pada saat ayahnya wafat Kustiah punya alasan untuk kembali ke Serang memimpin perjuangan melawan Belanda. Pengetahuan tentang taktik perang banyak diperoleh dari naskah kuno yang dibaca selain dari pengalamannya terjun ke medan laga. Ditambah keyakinannya sebagai umat Islam keturunan Sunan Kalijaga, bahwa semua penindasan terhadap manusia secara keji tidak sesuai dengan ayat suci Al- Quran yang menjadi pegangan hidup Kustiah. Maka penjajah harus nusnah di atas bumi. Nyi Ageng Serang di usia 73 tahun mundur dari medan perang dan pada tahun 1828 wafat dimakamkan di Serang, kemudian dipindah ke Kulonprogo. Perjuangan yang didasari kecerdasan dan penguasaan syariat Islam Nyi Ageng Serang mengilhami koreografer untuk mengkoreografikan sebuah garapan tari yang mengungkap rahasia sehingga mampu menjadi ahli strategi perang gerilya. Geraknya bersumber dari tari Jawa yang lembut namun bernuansa heroik, tangkas dan trengginas. Ditarikan oleh 3 penari, yang satu sebagai Nyi Ageng Serang sedang 2 penari lainnya sebagai prajurit. Musik tari dikomposisikan berdasar kontemporer Jawa yang disampling melalui MIDI. Rias Busana juga masih bernuansa Jawa pada zaman Islam. Skenografi berupa kain backdrop warna putih lebar yang bisa mengekspresikan metafor suasana perang secara siluet yang di padukan dengan video yang imajinatif. Koreografi ini divideokan dengan teknik long take dan one shot untuk untuk dramatika serta estetika bahasa gambar. Perekaman video dilakukan di proscenium stage yang dilengkapi tata cahaya. Durasi tari video sekitar 8 menit.
Divorce Representation in Hindia’s Video Clip Version of “Alexandra” Jastisia, Irenia
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.10860

Abstract

In the growing digital age, video clips serve as a promotional tool for music and can also be used to deliver complex social messages to audiences. Through their video clip titled “Alexandra”, Hindia describes how divorce affects the psychological condition of children to adulthood. The problem formulation of this study is how the child’s representation as a victim of divorce in Hindia’s video clip “Alexandra” is characterized by a qualitative descriptive method. Through Roland Barthes’ semiotic theory approach, non-verbal signs can be used to see a picture of the feelings and emotions of a character in a divorce story and reveal how hidden messages are represented through visual composition in a video clip. The commercial is interesting to be thorough because it features a social reality. The current issue of divorce is that of a child as a victim. The symbols are then examined along with the study of literature so that they can produce understandable interpretations. The conclusion of this study is to educate the public on the social issues of divorce so that it can encourage them to have critical thinking and move social action. Dalam era digital yang semakin berkembang, video klip tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi musik semata, tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan sosial yang kompleks kepada audiens. Hal tersebut dilakukan oleh salah satu musisi Indonesia, Hindia. Melalui video klipnya yang berjudul “Alexandra”, Hindia menggambarkan bagaimana dampak perceraian terhadap kondisi psikologis anak hingga dewasa. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana representasi anak sebagai korban perceraian dalam video klip Hindia versi “Alexandra” yang dikupas dengan metode deskriptif kualitatif. Melalui pendekatan teori semiotika Roland Barthes, tanda-tanda non-verbal dapat diungkap untuk melihat gambaran perasaan serta emosi dari karakter dalam kisah perceraian serta mengungkap bagaimana pesanpesan tersembunyi direpresentasikan melalui komposisi visual dalam video klip. Iklan ini menarik untuk teliti karena menampilkan realitas sosial terkini, yaitu isu perceraian yang dikemas dari sudut pandang anak sebagai korban. Simbol-simbol di dalamnya kemudian dikaji bersama dengan studi literatur sehingga dapat menghasilkan interpretasi yang dapat dipahami. Kesimpulan penelitian ini adalah untuk menyadarkan masyarakat mengenai isu sosial perceraian sehingga dapat mendorong mereka untuk memiliki pemikiran kritis serta menggerakkan tindakan sosial.
Awareness Campaign Through Art Exhibition (Case Study: Kala Kali Incognito – Heri Dono) Puri, Litya Ainunning; Handriyotopo, Handriyotopo; Salma, Muthiah Anas
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.10974

Abstract

This research aims to analyze art exhibitions as an awareness campaign through metaphorical symbols in the artworks. One of art’s functions is as a medium of awareness because artists deliver paradigm waves through their art. Kala Kali Incognito is an exhibition held by Heri Dono. Through this exhibition, Heri Dono presents his paradigm on the condition of Indonesians during the COVID-19 breakout. This research has contributed knowledge to society about art. Art is not only about aesthetics but also as a signifier of issues in society. Moreover, this research can be used as an alternative idea for the next curation of an exhibition, especially for understanding societal issues through art. This study uses a descriptive approach and interpretative analysis by reading about the social situation during the exhibition. The result showed that the Kala Kali Incognito’s Exhibition by Heri Dono was held as a reflection of COVID-19 issues and played a role in awareness and reflection for society in 2020. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pameran seni rupa sebagai upaya penyadaran melalui simbol-simbol metafora dalam karya seni. Salah satu fungsi seni rupa adalah sebagai media penyadaran karena seniman menyampaikan gelombang paradigma melalui karya seninya. Kala Kali Incognito merupakan pameran yang diselenggarakan oleh Heri Dono. Melalui pameran ini, Heri Dono memaparkan paradigmanya tentang kondisi masyarakat Indonesia di tengah merebaknya COVID-19. Penelitian ini telah memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat tentang seni rupa. Seni rupa tidak hanya tentang estetika, tetapi juga sebagai penanda berbagai isu dalam masyarakat. Selain itu, penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif ide untuk kurasi pameran selanjutnya, khususnya untuk memahami berbagai isu sosial melalui seni rupa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis interpretatif dengan membaca situasi sosial selama pameran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pameran Kala Kali Incognito karya Heri Dono diselenggarakan sebagai refleksi atas isu-isu COVID-19 dan berperan dalam penyadaran dan refleksi bagi masyarakat pada tahun 2020.
Cityscapes in Sound: Tracing Urban Perceptions in Pop Music’ Lyrics and Sentiments Across Decades Manifesty, Odilia Renaningtyas
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.12676

Abstract

This study examines the representation of urban environments in popular music, analyzing how songs within similar eras depict particular perceptions of cities. The methodology consists of two main stages: systematic song selection from the mid-20th century to the present based on explicit urban references, followed by detailed song analysis using Python-based Natural Language Processing to measure urban theme strength, Pearson correlation analyses, and thematic assessments with TF-IDF and NMF techniques. Findings reveal a shift from mid-20th century idealistic views of urban life to more complex and nuanced representations reflecting contemporary social and economic realities. This evolution underscores pop music’s role as a mirror of urban experiences, capturing the vibrancy, challenges, and contradictions of city life. Limitation of the study includes the reliance on popularity metrics, as these may not fully capture a song’s cultural significance due to demographic biases and the influence of streaming algorithms. Nonetheless, this research contributes to urban studies and musicology by highlighting the intricate relationship between cultural expressions and urban perceptions. It suggests that utilizing pop songs as a methodological tool offers a novel way of understanding urban perception, providing an alternative to traditional studies that primarily focus on individual experiences. Penelitian ini mengkaji representasi lingkungan perkotaan dalam musik populer, menganalisis bagaimana lagu-lagu dalam era yang serupa menggambarkan persepsi tertentu tentang kota. Metodologi yang digunakan terdiri dari dua tahap: pemilihan lagu sistematis dari pertengahan abad ke-20 hingga saat ini berdasarkan referensi perkotaan yang eksplisit, diikuti dengan analisis lagu terperinci menggunakan Pemrosesan Bahasa Alami berbasis Python untuk mengukur kekuatan tema perkotaan, analisis korelasi Pearson, dan penilaian tematik dengan teknik TF-IDF dan NMF. Temuan mengungkapkan pergeseran dari pandangan idealistik kehidupan perkotaan di pertengahan abad ke-20 menjadi representasi yang lebih kompleks, mencerminkan realitas sosial dan ekonomi kontemporer. Evolusi ini menegaskan peran musik pop sebagai cermin pengalaman perkotaan, menangkap kehidupan kota yang penuh semangat, tantangan, dan kontradiksi. Keterbatasan studi ini termasuk ketergantungan pada metrik popularitas, karena ini mungkin tidak sepenuhnya menangkap signifikansi budaya sebuah lagu karena bias demografis dan pengaruh algoritma streaming. Namun demikian, penelitian ini memberikan kontribusi kepada studi perkotaan dan musikologi dengan menyoroti hubungan rumit antara ekspresi budaya dan persepsi perkotaan, membentuk bagaimana kehidupan kota dialami dan dipahami. Makalah ini menyarankan bahwa menggunakan lagu pop sebagai alat metodologis menawarkan cara baru untuk memahami persepsi perkotaan, menyediakan alternatif untuk studi tradisional yang kebanyakan berfokus pada pengalaman individu.
Metal Conservation Method in The Infinity Statue by Dunadi Ratnaningtyas, Yohana Ari; Purwanto, Tambak Sihno; R, Luna Chantiaya; T, Geminisya Aldeana
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.11224

Abstract

The Infinity Sculpture by Dunadi is a media representation of the idea of the eternal function of bicycles over time. The infinity statue is primarily made of ferrous metal, so it has the potential for damage in the form of patina and rust, especially when exposed to direct sunlight, rainwater, oxygen, and other substances that accelerate corrosion growth. The current condition of the infinity statue by Dunadi could be better because most of the paint has peeled off, and rust has grown on the entire surface of the metal that is not covered with paint. This article discusses the application of modern metal conservation methods to Dunadi’s Infinity Sculpture. This study’s contemporary metal conservation method compares several synthetic chemicals to clean rust on metal and then apply it to Dunadi’s Infinity Statue. The synthetic chemicals used are some of the rust-cleaning agents available. Synthetic chemicals are available because they are easy to obtain and relatively safe. We tested Several brands of rust cleaners available on the market on metal objects similar to the material for making infinity statues. As a result, the most effective rust- cleaning chemicals contain hydrochloric acid. Patung Infinity karya Dunadi merupakan representasi media dari gagasan tentang fungsi abadi sepeda dari waktu ke waktu. Patung infinity utamanya terbuat dari logam besi, sehingga berpotensi mengalami kerusakan berupa patina dan karat, terutama jika terkena sinar matahari langsung, air hujan, oksigen, dan zat lain yang mempercepat pertumbuhan korosi. Kondisi patung infinity karya Dunadi saat ini bisa lebih baik karena sebagian besar catnya sudah terkelupas, dan karat sudah tumbuh di seluruh permukaan logam yang tidak dilapisi cat. Artikel ini membahas penerapan metode konservasi logam modern pada Patung Infinity karya Dunadi. Metode konservasi logam kontemporer dalam penelitian ini membandingkan beberapa bahan kimia sintetis untuk membersihkan karat pada logam lalu mengaplikasikannya pada Patung Infinity karya Dunadi. Bahan kimia sintetis yang digunakan merupakan beberapa bahan pembersih karat yang tersedia. Bahan kimia sintetis tersedia karena mudah diperoleh dan relatif aman. Kami menguji beberapa merek pembersih karat yang tersedia di pasaran pada benda logam yang mirip dengan bahan untuk membuat patung infinity. Hasilnya, bahan kimia pembersih karat yang paling efektif mengandung asam klorida.
Photography Poetry as A Hybrid Art Work Nugroho, Yulius Widi
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.11085

Abstract

Photography Poetry is a form of creative expression that combines literary and visual elements to create powerful and inspiring works of art. This research develops an art creation method using photography media to explore meaning directed towards poetry literary works, as a manifestation of the potential of poetry photography as a hybrid work of art. This creation aims to explore the process of making poetry photography, explore how to compose poetry words based on the visual elements of photography, and analyze how poetry photography works can be understood and enjoyed by the audience. Explore and develop methods used in creating hybrid works of art, using Roland Barthes’ theory of visual meaning. Producing unique and profound works of art, which are able to communicate meaning and emotion in a more complex way than words or images alone. An in-depth analysis of the results of the creation of this work reveals that poetry photography is a medium that allows artists to convey emotional and intellectual messages in a deeper and broader way. Poetic photography shows that hybrid art is a bridge between different types of creative expression, creating engaging experiences and changing the way we view art in a broader context. It is hoped that this research will become a basis for further development in the field of artistic and literary photography, as well as inspiring artists/researchers to continue exploring the boundaries of creativity in poetry photography. Fotografi Puisi merupakan bentuk ekspresi kreatif yang menggabungkan unsur-unsur sastra dan visual untuk menciptakan karya seni yang kuat dan menginspirasi. Penelitian ini mengembangkan metode penciptaan seni menggunakan media fotografi untuk menggali pemaknaan yang diarahkan untuk karya sastra puisi, sebagai wujud potensi fotografi puisi sebagai karya seni hibrida. Penciptaan ini bertujuan untuk menjelajahi proses pembuatan fotografi puisi, mengeksplorasi cara menyusun kata-kata puisi berdasarkan elemen visual fotografi, serta menganalisis bagaimana karya fotografi puisi dapat dipahami dan dinikmati oleh penonton. Menggali dan mengembangkan metode yang digunakan dalam menciptakan karya seni hibrida, menggunakan teori pemaknaan visual dari Roland Barthes. Menghasilkan karya-karya seni yang unik dan mendalam, yang mampu mengkomunikasikan makna dan emosi dengan cara yang lebih kompleks daripada kata-kata atau gambar sendiri. Analisis mendalam terhadap hasil penciptaan karya ini mengungkapkan bahwa fotografi puisi merupakan medium yang mampu memungkinkan seniman untuk menyampaikan pesan emosional dan intelektual dengan cara yang lebih mendalam dan luas. Fotografi puisi menunjukkan bahwa seni hibrida adalah jembatan antara berbagai jenis ekspresi kreatif, menciptakan pengalaman yang menarik dan mengubah cara kita melihat seni dalam konteks yang lebih luas. Diharapkan penelitian ini akan menjadi landasan untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang fotografi seni dan sastra, serta menginspirasi para seniman/peneliti untuk terus menggali batas-batas kreativitas dalam fotografi puisi.

Page 1 of 1 | Total Record : 7