cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 47, No 2 (2023): December" : 7 Documents clear
The Shifting Paradigm in Maqāsidi Discourse: A Case of Modern Islamic Bioethics Juhri, Muhammad Alan; Hariani, Hidayah
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.25957

Abstract

The advancement of contemporary biomedical issues has brought forth two distinct responses among Muslim scholars. The traditional view, which strictly adheres to the Quran and tradition, tends to find it difficult or even outright rejects modern biomedical practices as they may conflict with religious texts. On the other hand, the rationalist perspective tends to be more open and accommodating towards modern biomedical practices as it relies on independent reasoning detached from revelation. While acknowledging the existence of the traditionalist viewpoint in the modern era, this paper focuses on the rationalist perspective, discussing how biomedical decisions are made. By examining rationalist views on several modern biomedical issues such as organ transplantation, in vitro fertilization, and blood trading, the researcher argues that the flexibility of the maqāsid al-sharīʿah principles has become the framework in the development of this biomedical field. The researcher highlights a shift in the maqāsid paradigm from a theocentric paradigm – interpreting religion with the narrow goal of 'defending God' – to an anthropocentric paradigm – interpreting religion to defend human beings and their rights. Using discourse analysis methodology, this study argues that the paradigm shift towards an anthropocentric maqāsid has integrated Sharia with human subjectivity influenced by interests. Consequently, modern biomedical issues, which address the interests of safeguarding human life, are prioritized. Finally, although such maqāsid may potentially lead to a liquid Islamic law, the researcher concludes that an anthropocentric maqāsid paradigm will be more humane, dynamic, accommodating, and responsive to the demands of human life development. Abstrak: Kemajuan isu-isu biomedis kontemporer saat ini telah memunculkan dua aliran respon yang berbeda di mata para cendekiawan muslim. Pandangan tradisional, yang dengan ketat berpedoman pada Al-Qur’an dan tradisi, cenderung sulit atau bahkan tidak menerima sama sekali praktik-praktik biomedis modern karena bertentangan dengan nash-nash agama. Sementara pandangan rasionalis cenderung lebih terbuka dan akomodatif menerima praktik-praktik biomedis modern karena berpedoman pada penilaian akal sendiri yang terlepas dari wahyu. Terlepas dari mendiskusikan keberadaan pandangan pertama (tradisionalis) di era modern ini, makalah ini akan fokus pada pandangan kedua (rasionalis) dengan mendiskusikan bagaimana putusan-putusan biomedis dikeluarkan. Dengan mengkaji pandangan-pandangan rasionalis terhadap beberapa isu biomedis modern, seperti transplantasi organ, bayi tabung, dan jual beli darah, peneliti berargumen bahwa fleksibilitas prinsip-prinsip maqāsid al-syarīah telah menjadi framework dalam pengembangan bidang biomedis ini. Di sini, peneliti menyoroti adanya pergeseran maqāsid dari paradigma teosentris; menjalankan agama dengan tujuan ‘membela Tuhan’ dalam pengertian yang sempit, ke paradigma antroposentris; menjalankan agama untuk membela manusia dan hak-haknya. Dengan menggunakan metode analisis wacana, penelitian ini berargumen bahwa pergeseran paradigma maqāsid menuju antroposentris telah menjadikan syari’ah menyatu dengan subjektivitas manusia yang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan. Karenanya, isu-isu biomedis modern, yang menjawab kepentingan menjaga jiwa manusia, adalah diutamakan. Terakhir, meskipun maqāsid seperti ini berpotensi mengarah pada liquid Islamic law, peneliti berkesimpulan bahwa paradigma maqāsid antroposentris akan lebih humanis, dinamis, akomodatif, dan responsif terhadap tuntutan perkembangan kehidupan manusia.
Gender Bias in the Book “Syarh 'Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain” by Nawawi Al-Bantani Alma'arif, Alma'arif; Muhajir, Muhajir
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.24992

Abstract

 This article aims to prove that the book “Syarh ‘Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain,” which is studied in many Islamic boarding schools, has indications of gender bias and proves that the book ‘Uqudul Lujain is a legitimizing tool in perpetuating the construction of gender bias. This proof is very important in the midst of the movement for gender equality and justice. This understanding and awareness is very important in the midst of the struggle for gender equality and justice. The method used in this research is an intertextual, dynamic, and interactive method. The intertextual method is used to interpret existing texts and utterances from the intellectual being studied (Nawawi Al-Bantani) and find meanings by tracing the relationships between texts and utterances in the discourse. The dynamic method involves placing synchronic conditions in a diachronic context, and the interactive method involves revealing and depicting the movement of a person or group's intellectual development as a result of dynamic struggles between past and present, between and within various political and intellectual traditions, as well as between various arenas of power relations. The results of the research prove that the book ‘Uqudul Lujain by Nawawi Al-Bantani is a book that spreads gender bias (discrimination and subordination towards women) in two forms: subordination and stereotype. Nawawi Al-Bantani belongs to the category of Muslim scientists with a monodisciplinary paradigm. The monodisciplinary paradigm is in conflict with other scientific paradigms that are increasingly developing.  Abstrak: Artikel ini bertujuan membuktikan bahwa kitab “Syarh ‘Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain” yang dipelajari di banyak pesantren terindikasi bias gender serta membuktikan bahwa kitab ‘Uqudul Lujain menjadi alat legitimasi dalam melestarikan konstruksi bias gender. Pembuktian ini menjadi sangat penting di tengah gerakan kesetaraan dan keadilan gender. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode intertekstual, dinamis dan interaktif. Metode intertekstual dengan cara menginterpretasikan teks-teks yang ada dan ujaran-ujaran dari intelektual yang diteliti (Nawawi Al-Bantani) serta menemukan makna-makna dengan melacak relasi-relasi antar teks dan ujaran-ujaran yang ada dalam diskursus. Metode dinamis dengan cara menempatkan kondisi-kondisi sinkronik dalam sebuah konteks yang diakronis, dan metode interaktif dengan cara mengungkap dan melukiskan gerak perkembangan intelektual seseorang atau kelompok sebagai akibat dari pergulatan dinamis antara masa lalu dan masa kini, antar dan di dalam beragam tradisi politik dan intelektual, serta antara beragam arena relasi kuasa. Hasil penelitian membuktikan bahwa kitab ‘Uqudul Lujain karya Nawawi Al-Bantani itu adalah kitab yang menyebarkan dan mendoktrin paham bias gender (diskriminasi dan subordinasi terhadap kaum perempuan) dalam dua bentuk; subordinasi dan stereotype. Nawawi Al-Bantani termasuk kategori ilmuwan muslim yang berparadigma monodisiplin. Paradigma monodisiplin bertentangan dengan paradigma keilmuan lain yang semakin berkembang. 
Women Within the Circle of Doctrine and Profession: A Study on the Analysis of Women's Professions in Desa Klumpit, Kudus, Central Java Afifah, Anisa Nurul
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.26305

Abstract

This study discusses women in all professions (occupations) and their relevance in today's times from an Islamic perspective. In a patriarchal culture, women are initiated to work as housewives. Women are considered inferior and are always positioned below men without being allowed to fight for their rights. However, along with the times, many figures gave rise to the feminist movement so that women began to be able to fight for their rights. The purpose of this article is to narrate religious teachings related to women and aspects that can be reached by women in their profession according to Islamic teachings.  This paper uses a qualitative-phenomenological method that observes the lives of women in Klumpit Village, Kudus. It also uses field research by interviewing two religious leaders and a factory worker's mother. This article uses Fatima Mernissi's gender theory which states that freedom of human rights to work is shared by all genders. In addition, it also uses the theory of Abraham Maslow which states that needs are a primary aspect of human life to fulfil life standards. This article concludes that in Klumpit Village, Kudus, women have the main duty as housewives, but women are also not prohibited from having professions other than housewives. Islam doctrinally also does not prohibit women from being active in the public sphere. Through the application of Islamic law that has been determined and then practised in accordance with the times, it should be a solution for women so that they can make efforts to reduce the negative impacts arising from the profession they do and of course still get pleasure, blessings, and benefits. Abstrak: Kajian ini membahas tentang perempuan dengan segala profesi (pekerjaan) dan relevansinya di zaman sekarang dalam perspektif Islam. Dalam budaya patriarki perempuan diinisiasi berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Perempuan dianggap rendah dan selalu diposisikan paling bawah dari laki-laki tanpa boleh memperjuangkan haknya. Namun seiring perkembangan zaman banyak tokoh yang memunculkan gerakan feminisme sehingga perempuan mulai dapat memperjuangkan hak-haknya. Tujuan artikel ini ialah menarasikan ajaran agama terkait perempuan dan aspek yang bisa dijangkau perempuan dalam berprofesi sesuai ajaran Islam. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif-fenomenologis yang mengamati kehidupan perempuan di Desa Klumpit, Kudus. Selain itu juga melalui penelitian lapangan dengan mewawancarai dua tokoh agama dan ibu karyawan pabrik. Artikel ini menggunakan teori gender Fatima Mernissi yang menyatakan bahwa kebebasan hak asasi bekerja itu dimiliki oleh semua gender. Disamping itu juga menggunakan teori dari Abraham Maslow yang menyatakan bahwa kebutuhan merupakan aspek primer dalam kehidupan manusia untuk memenuhi hajat hidup. Artikel ini menyimpulkan bahwa masyarakat Desa Klumpit, Kudus, perempuan mempunyai tugas utama sebagai ibu rumah tangga, namun perempuan juga tidak dilarang untuk berprofesi selain ibu rumah tangga. Islam secara doktrinal juga tidak melarang perempuan untuk beraktivitas di ranah publik. Melalui penerapan syariat Islam yang sudah ditentukan kemudian dipraktikkan sesuai dengan zaman, hendaknya menjadi solusi perempuan agar dapat melakukan upaya untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari profesi yang dikerjakan dan tentunya tetap mendapat ridha, berkah, dan manfaat.
Urgency of the Malay Wedding Reception in Kepulauan Riau Based on Al-Maṣlaḥah Asy-Syathibi Perspective Saiin, Asrizal; Umar, M. Hasbi; Badarussyamsi, Badarussyamsi; Radiamoda, Anwar M.
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.25600

Abstract

A wedding reception in the Malay wedding tradition absolutely must be carried out by the Malay community in the Kepulauan Riau, because there are moral sanctions if someone does not follow the applicable customary law. Apart from that, there is a doctrine for the Malay community in Kepulauan Riau, that a wedding reception is important to hold, if a wedding reception is not held, then one's wedding procession will not be complete. Complexity in these problems often divert the value of the relationship between custom and religion, especially Islam, within the scope of sharia. Starting from the idea that in Islam, everything must be seen for its benefit, this research uses an approach al-Maṣlaḥah Ash-Shatibi. This research uses a type of field research with the nature of descriptive qualitative research. In this research the data used is primary data and secondary data. Primary data comes from data obtained through observation, interviews and documentation. Meanwhile, secondary data comes from internet sites, literature and other media. At the data processing stage there are three activities carried out, namely: editing, coding and tabulation. The results of this research show that if viewed based on al-Maṣlaḥah perspective, Malay wedding reception in Kepulauan Riau is something special taḥsiniyyah. This is because the traditional Malay wedding procession in Kepulauan Riau is only a support for a person's advancement in society and is simply a form of obedience. Abstrak: Resepsi pernikahan dalam tradisi perkawinan melayu mutlak harus dilaksanakan oleh masyarakat melayu di Kepulauan Riau, karena adanya sanksi moral apabila seseorang tidak megikuti hukum adat yang berlaku. Selain itu juga, terdapat doktrin bagi masyarakat melayu di Kepulauan Riau, bahwa resepsi pernikahan menjadi penting untuk dilaksanakan, jika resepsi pernikahan tidak dilaksanakan, maka belum sempurna prosesi pernikahan seseorang. Kompleksitas di dalam problematika tersebut sering kali mengalihkan nilai keterkaitan antara adat dan agama khususnya Islam dalam lingkup syariah. Berangkat dari pemikiran bahwa dalam Islam, segala sesuatu harus dilihat kemaslahatannya, dalam penelitian ini dengan pendekatan al-Maṣlaḥah asy-Syathibi. Penelitian ini menggunakan jenis studi lapangan (field research) dengan sifat penelitian kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder bersumber dari situs internet, kepustakaan dan media lainnya. Pada tahap pengolahan data ada tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu: penyuntingan (editing), pengkodean (coding) dan tabulasi (tabulating). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa jika ditinjau berdasarkan perspektif al-Maṣlaḥah, resepsi pernikahan melayu di Kepulauan Riau merupakan sesuatu yang bersifat taḥsiniyyah. Hal ini karena prosesi pernikahan adat Melayu Kepulauan Riau, hanya menjadi suatu penunjang peningkatan seseorang dalam pergaulannya di masyarakat dan sebagai bentuk kepatuhan semata.
Qur’anic Curriculum: Development of an Islamic Religious Education Curriculum with Makkiyah-Madaniyah Theory Afwadzi, Benny; Wahyuni, Esa Nur; Sulalah, Sulalah
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.27610

Abstract

The Islamic Religious Education (IRE) curriculum encounters many challenges. One of the challenges is the inferiority of Muslims in developing an IRE curriculum based on Islamic tradition and only relying on the development of educational theories from the West. For this reason, this article examines the development of the IRE curriculum using the makkiyah-madaniyah theory. The purpose is to present an overview of IRE curriculum development using Islamic traditions that are often forgotten. This article uses a qualitative approach with the library research method. After understanding the makkiyah-madaniyah discourse, this article concludes that IRE curriculum development has two models: attention to psychological and sociological aspects. In psychological aspects, IRE educators at the primary level must pay attention to the context of the Makkiyah period, such as the editorial verses of the Qur'an tend to be short and rhyming so that learning and evaluation material should be delivered using a short and rhyming strategy. Emphasis on reward and punishment, aqeeda and moral learning content; and the use of storytelling and illustration (tamtsil) methods should also be a concern in the IRE at this level. Meanwhile, at the secondary level, educators can use the madaniyah model, namely, more extended learning and evaluation material and emphasizing the content of Islamic jurisprudence learning. The sociological aspect applies contextually because of the differences in social conditions between the Prophet Muhammad and us today. The focus of the sociological aspect is divided into two, namely, the sociology of students and the needs of society. Contextual is an approach suitable to be applied in this sociological aspect.Abstrak: Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) menemui banyak tantangan. Salah satu tantangannya adalah inferioritas Muslim dalam mengembangkan kurikulum PAI berdasarkan khazanah Islam dan hanya mengandalkan perkembangan teori-teori pendidikan dari Barat. Dengan alasan itulah, artikel ini mengkaji pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dengan teori makkiyah-madaniyah, yang disebut oleh penulis sebagai kurikulum Qur’ani. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan gambaran pengembangan kurikulum PAI dengan tradisi keislaman yang acapkali terlupakan. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Setelah memahami diskursus makkiyah-madaniyah, artikel ini menyimpulkan bahwa ada dua model pengembangan kurikulum PAI: perhatian terhadap aspek psikologis dan sosiologis. Dalam aspek psikologis, pendidik PAI pada tingkatan dasar harus memperhatikan konteks pada periode makkiyah seperti redaksi ayat Al-Qur’an yang cenderung pendek dan berima sehingga materi pembelajaran dan evaluasi sebaiknya disampaikan dengan strategi pendek dan berima. Penekanan pada reward dan punishment; penekanan pada konten pembelajaran akidah dan moral; dan penggunaan metode bercerita dan ilustrasi (tamtsil) juga seharusnya menjadi perhatian dalam kurikulum PAI di tingkatan dasar. Sementara itu, pada tingkatan menengah, pendidik dapat memakai model madaniyah, yakni materi pembelajaran yang lebih panjang sebagaimana redaksi ayat-ayat madaniyah yang cenderung panjang dan penekanan pada konten pembelajaran hukum fikih yang memang agak sulit dipahami oleh peserta didik. Adapun aspek sosiologis berlaku secara kontekstual, sebab perbedaan kondisi sosial antara Nabi Muhammad saat Al-Qur’an diturunkan dengan kondisi umatnya pada masa sekarang. Fokus aspek sosiologis terbagi menjadi dua, yakni sosiologi peserta didik dan kebutuhan masyarakat. Kontekstual adalah pendekatan yang cocok diaplikasikan dalam aspek sosiologis ini.
The Values of the Qur'an in the Tradition of Beghanyut Selawat in the Perkumpulan Sholawat Laut Indonesia, Bengkalis Regency, Riau Mujtahidah, Siti Barika; Arni, Jani; Bakar, Abu
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.24741

Abstract

This article discusses the reception of the community towards the tradition of Selawat Benghanyut in the Perkumpulan Sholawat Laut Indonesia in Bengkalis Regency, Riau. The tradition of Selawat is performed by the Bengkalis community with the aim of preserving the village. The people of Bengkalis refer to it as "bele kampung," but now this tradition is known as "Selawat Beghanyut." Selawat Beghanyut is a salawat activity performed on boats. It is called Selawat Beghanyut because it involves floating with boats moving along the river or sea currents. This tradition is interesting to explore further because it contains the values of the Qur'an, conceptually known as the study of the living Qur'an. This field research employs a descriptive-qualitative method with a phenomenological approach. Data collection involves observation, interviews, and documentation. The results of the research indicate that the tradition of Selawat Beghanyut is a cultural behavior resulting from the reception of Muslims towards the Qur'an, especially Surah Al-Ahzab verse 56. This verse contains the command to send blessings upon the Prophet Muhammad (peace be upon him), and this command is implemented by the community in the form of Selawat Beghanyut. Furthermore, the tradition of Selawat Beghanyut also embodies religious and social values. The religious values include constant reminders to worship Allah, have faith in the Prophet, and adhere to the Qur'an. As for the social values, this tradition fosters brotherhood and serves as a platform for fostering relationships among all members of the community. Abstrak: Artikel ini membahas tentang resepsi masyarakat pada tradisi Selawat Benghanyut pada Perkumpulan Sholawat Laut Indonesia di Kabupaten Bengkalis, Riau. Tradisi selawat dilakukan oleh masyarakat Bengkalis bertujuan untuk memelihara kampung. Masyarakat Bengkalis menyebutnya dengan istilah “bele kampung”, namun sekarang tradisi ini dikenal dengan “Selawat Beghanyut”. Selawat Beghanyut adalah suatu kegiatan berselawat yang dilakukan di atas perahu. Dinamakan dengan Selawat Beghanyut karena diambil dari istilah berhanyut dengan perahu yang bergerak mengikuti arus sungai atau laut. Tradisi ini menarik untuk dikaji lebih mendalam karena memuat nilai-nilai Al-Qur’an atau secara konseptual dikenal dengan kajian living Qur’an. Penelitian dengan jenis penelitian lapangan ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Selawat Beghanyut merupakan hasil perilaku kultural dari resepsi umat Islam terhadap Al-Qur’an, khususnya surat Al-Ahzab ayat 56. Ayat tersebut berisi tentang perintah ber-selawat kepada Nabi Muhammad Saw, perintah tersebut diimplementasikan oleh masyarakat dengan bentuk Selawat Beghanyut. Selain itu, tradisi Selawat Beghanyut juga memuat nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai sosial. Nilai keagamaan  yaitu senantiasa mengingatkan untuk selalu beribadah kepada Allah, beriman kepada Nabi, serta agar selalu berpegang kepada Al-Qur’an. Adapun nilai-nilai sosial dalam tradisi ini yaitu memuat nilai persaudaraan serta ajang silahturahmi seluruh anggota masyarakat.
The Moderation of Islamic Lecturing in Da’wa Movements: A Case Study of Maos Community in Cilacap, Central Java Mujamil, Ashari; Fatimah, Siti
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.25352

Abstract

The role of Islamic movements (ormas) as da’wa institutions contributes significantly to efforts to build a civil society. As observed in Maos Lor Village, Cilacap, Central Java, there are five types of Islamic movements conducting da’wa activities side by side, including Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jamaah Muslimin (Hizbullah), and Salafi. The aim of this research is to understand and analyze the socio-historical dialectics institutionally among these Islamic movements, the types of da’wa activities, and their impact on the social construction of society in creating religious moderation. This paper is a qualitative study employing field research with social construction theory as the analytical tool, particularly focusing on three stages of social construction: externalization, objectivation, and internalization. The findings reveal that in the stages of externalization and objectivation, each organization experiences periodic dynamics in its history, characterized by ideological and attitudinal friction. This is marked by the initial construction dynamics where only two Islamic movements, NU and Muhammadiyah, with traditionalist and modernist ideologies, were present. Subsequent turmoil occurred with the emergence of other Islamic movements from the 1970s to the 1990s, namely the Jamaah Muslimin (Hizbullah), LDII, and Salafi groups. Until the 2000s, there were religious attitude frictions such as mosque disputes, and congregation shifts from one organization to another. However, once a moderate stance emerged, marked by the internalization stage involving da’wa activities of each organization along with openness and tolerance, it demonstrated that even in small rural communities, religious moderation could be experienced and exemplified in nation-building efforts. Abstrak: Peran organisasi masyarakat (ormas) Islam sebagai lembaga dakwah dalam upaya membangun masyarakat madani memiliki sumbangsih yang penting. Sebagaimana yang terdapat di Desa Maos Lor, Cilacap, Jawa Tengah terdapat lima  macam organisasi masa (ormas) Islam yang melakukan aktivitas dakwah secara berdampingan, diantaranya yaitu, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jamaah Muslimin (Hizbullah), dan Salafi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis dialektika sosio-historis secara institusional ormas Islam tersebut, jenis kegiatan dakwah, serta dampaknya terhadap konstruksi sosial masyarakat dalam menciptakan moderasi beragama. Tulisan ini merupakan penelitian kualitatif berjenis studi lapangan dengan teori konstruksi sosial sebagai alat analisis, khususnya tigatahapan dialektika konstruksi sosial yaitu eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi. Hasilnya, dalam tahap eksternalisasi dan objektivikasi, masing-masing ormas memiliki dinamika secara periodik dalam sejarahnya berupa gesekan ideologi dan sikap. Hal ini ditandai dengan dinamika yang terjadi pada konstruksi awal yang hanya terdapat dua ormas Islam NU dan Muhammadiyah dengan ideologi tradisionalis dan modernis. Gejolak selanjutnya terjadi seiring munculnya ormas Islam lain mulai tahun 1970-an sampai tahun 1990-an, yaitu kelompok Jamaah Muslimin (Hizbulah), LDII, dan Salafi. Hingga tahun 2000-an, terjadi gesekan sikap dalam beragama seperti perebutan masjid sampai dengan perpindahan jemaah dari satu ormas ke yang lainnya. Namun, saat sudah muncul sikap moderat yang ditandai dengan tahap internalisasi berupa aktivitas dakwah masing-masing ormas serta keterbukaan dan toleransi. Hal ini membuktikan bahwa dalam ranah masyarakat kecil di pedesaan sekalipun, moderasi beragama dapat dirasakan sekaligus dijadikan percontohan dalam berbangsa dan bernegara.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue