Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 42, No 1 (2004)"
:
20 Documents
clear
l'āda Ṣiyāghah Manhaj al-Dirāsah Lishuʻbati al-Lughati al 'Arabiyyati wa Ādābihā bi al-Jāmi'āt: Muqtariḥun li-Manḥaj al-Dirāsati al- Qāimi' ‘alā al'Kafā'-āti Ṭabqan li-Mutaṭallibāt al ‘Aṣr
Aḥmad Fuad Afandī
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.223-246
The Globalization and Industrialization era demand a high quality graduate in relevant competen with people's demand, including working world. In order to answer the challenge, a curriculum formulation for Arabic language and literature in University is necessary which is oriented to increasing a quality of graduate and based on the result of people's demand analysis, beside main topics of Arabic study analysis. This curriculum should be flexible which is possible to elaborate some competence options based on people demand and interest / talent of student. It is consists of (1) Scientific Materials (linguistic, literature and culture of Arab), (2) Language skills (listening, speaking, readings, writing), (3) Main expertise / profession ( 4) Support expertise / profession and (5) Religion and social.
Maṣlaḥah Mursalah in the Thought of Muḥammmad 'Abduh and Rashīd Riḍa
Nazly Hanum Lubis
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.133-152
Artikel ini membahas konsep maṣlaḥah mursalah (salab satu metode istinbāṭ hukum Islam) yang dikembangkan oleh Muhammad ‘Abduh dan muridnya Rashīd Riḍa. Konsep yangn mereka kembangkan berbeda dengan apa yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu, yang memberikan beberapa syarat yang ketat dalam pengaplikasian maṣlaḥah. Menyadari bahwa maṣlaḥah dapat dijadikan sebagai media dalam memformulasikan hukum Islam, kedua reformis ini mengadopsi konsep ini dalam mengantisipasi perubahan sosial tanpa memberikan persyaratan ketat sebagai yang telah ada sebelumnya. Mereka lebih menekankan kemampuan akal dalam memahami syari'at, dilandasi atas kepercayaan bahwa Islam merupakan agama rasional dan, dengan demikian, menuntut peran akal yang besar dalam memahami ajarannya. Pendekatan yang dirumuskan oleh ‘Abduh dan Riḍā sesungguhnya mampu mengantisipasi perubahan sosial, namun pada saat yang sama ia secara tidak langsung dapat berakibat kepada sekularisasi hukum Islam itu sendiri.
The Puppet Caliphs and the Titular Heads of State: the 'Abbasid Caliphate Under the Buyids' Reign
Fauzan Saleh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.1-33
Kekhalifahan Abbasiyah yang berlangsung selama lima abad lebih telahmengalammi masa pasang surut dengan dinamika yang tinggi. Di masakejayaannya, kekhalifahan Abbasiyah merepresentasikan zamankeemasan Islam dengan kemajuan peradabannya. namun dalam masasurutnya, Abbasiyah telah jatuh dalam dominasi penguasa asing,termasuk amir al-umara' dari dinasti Buyid. Para penguasa militer yangmestinya tunduk kepada khalifah ini justru telah memainkan peran yangjauh lebih menentukan, bahkan lebih berkuasa dari khalifah sendiri.Hal ini terjadi karena lemahnya posisi khalifah, sehingga hampir seluruhhak dan kewenangannya di ambil alih oleh penguasa militer tersebut.Dalam kondisi seperti itu menurut al-Mawardi,khalifah seperti itu tidak berhak lagi mendudukijabatannya dan ia harus diturunkan. Namun, meskipun para khalifahAbbasiyah telah kehilangan kekuasaan eksekutifnya, mereka ternyatamasih dapat mempertahankan kedudukan mereka, bahkan hingga jauhsetelah kekuasaan dinasti Buyid itu sendiri hancur. Bagi kaum Sunni,seperti apapun bentuknya, keberadaan khalifah harus tetapdipertahankan sebagas simbol pemerintahan yang sah dan sebagaimanifestasi dari kesatuan seluruh amat Islam.
Hisab Hakiki Model Muhammad Wardan: Sebuah Penelusuran Awal
Susiknan Azhari
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.153-176
This article tries to study about calculation (ḥisāb) model developed by Muhammad Wardan to formulate a National Hijriyah Calendar. Muhammad Wardan is one of the designer of the concept of wujūdul hilāl. This concept was built by combining normative and empirical level (middle way) between the system of hisab ijtima' qabla al-ghurūb and imkān al-ru'yah. This combination was also named as middle way between pure hisab and pure rukyat. Due to this type of concept, be renewal thought of Mubammad Wardan to decide the beginning of Qamariyah month was quite original at that time. Therefore, Wardan's theory of wujudūl hilāl is still used until nowadays especially by Muhammadiyah people. However, it is significant to note that the thought of Wardan does not perfectly answer the problem of National Hijriyah Calendar, I.e., to decide the Westest and Eastest points of a region or country to start or end the month of Ramadlan.
Khaṣāiṣ al-Amthāl fī al-Qurān wa Aghrāḍuhā wa al-Mauḍū'āt allatī' ‘Ālajathā
Muhammad Chirzin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.199-222
The Qur'an, as a guidance for human being, consists of some metaphors (amthal) which can be used by those who would think of it. Metaphor is a means of the Qur'an to convey its ideas related to any things which lead human being to a better life. Metaphor is able to describe Islamic values better and, even, as it is happened to human's daily life. Therefore, a number of Islamic scholars have studied metaphors in the Qur'an deeply and seriously as carried out by al-Hakīm al-Tarmizī, al-Mawardī, ibn Qayyim al-Jawziyya, Az Zarkaszī, as-Suyūtī and others. Knowledge about metaphor in the Qur'ān is very significant. Therefore, it is not an exaggeration when ash-Shāfi’ī states that a mujtahid should know about metaphor of the Qur'ān. This article tries to explore some opinions of Muslim scholars about metaphor in the Qur’ān with abroad view of its meaning, purposes and characteristics.
The Veil at the Crossroads: Muḥammad Saʻīd al-‘Ashmāwī and The Discourse on the Ḥijāb in Egypt
Mohamad Abdun Nasir
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.89-131
Jilbab telah menjadi isu kontroversial yang mengakibatkanp perdebatan sengit di kalangan feminis, Islamis maupun kelompok Liberal-sekuralis di Mesir. Muḥammad Saʻīd al-Ashmāwi melihat jilbab telah dibelokkan arah oleb kelompok Islam radikal dari masalah agama ke masalah politik untuk mencap kafir wanita Muslim yang menolak jilbab. Inilah yang menjadikan ketidaksetujuan ‘Ashmā-wī. Kelompok lslam radikal dianggap telah memanipulasi agama demi tercapai kepentingan-kepntingan idiologis politik mereka. Dari situ Ashmāwī kemudian membuat counter discourse tentang jilbab. Menurutnya jilbab tidak wajib. Bagi dia tidak semua ayat-ayat al-Qur'an bersifat umurn, dan sebagian dari mereka bersifat spesifik yang terkait dengan kondisi tertentu. Ayat-ayatt tentang jilbab masuk dalam kategori ini dan interpretasi terhadap ayat-ayat tersebut harus dikaitkan dengan konteks sebab turunnya ayat (asbāb al nuzūl).
Cultural and Intellectual Exchange Between the Ottoman Egypt and the Rest of the Arab Muslim World in the Eighteenth - Early Nineteenth Century
Svetlana Kirillina
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.35-39
Tulisan ini membabas tentang pertukaran kultur dan intelektual yang terjadi di Mesir Usmani dan beberaba bagian dunia Muslim Arab pada abad ke-l8 M -awal abad ke-19 M, yang digambarkan oleh sebagian peneliti sebagai 'Abad Kegelapan" di mana terjadi "stagnasi", "degradasi"dan "anabiosis" dalam kehidupan sosial di Timur Tengah dan Mesir khususnya. Menarut penulisnya, penggambaran yang menyedihkan dan tanpa harapan tentang masyarakat Mesir itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan atau suatu pendekatan yang terlalu menyederhanakan persoalan tentang sejarah bangsa Mesir. Padahal selama periode tersebut, telab terjadi hubangan yang intensif di antara Mesir Usmani dan dunia Muslim lainnya. Berlandaskan pada sumber data historis yang berupa kronik-kronik bangsa Mesir Usmani, didukung oleh ringkasan-ringkasan hagiografis dan bibliografs, dapat dibuktikan bahwa telah terjadi pertukaran kultural dan intelektual yang intensif di pusat-pusat pendidikan terkenal di Istanbul, Damaskus, Jerusalem, Tunisia, Algeria, Maroko, Mekkah, Madinah dan Mesir.
Salik Buta: Aliran Tasawuf Aceh Abad XX
Misri A Muchsin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.177-198
This article examines the Sufi movement in Aceh by looking at its continuity since the 16th -17th century, as its golden age, to the 20th century. Based on the fact that Abdullah Ujong Rimba's explanation is considered representative, his books are taken as primary sources while others are secondary. Based on Abdullah Ujong Rimba's explanation, Salik Buta is a sect of Sufism in Aceh in the 20th century. This sect is practiced in several of center in Aceh. Historically, the doctrine of this sects is continuation and modification of Wahḍat al-Wujūd's doctrines established since 16th century. The doctrine of Salik Buta are different from those of popular Sufism. Thus, Salik Buta is considered heterodox and criticized by ulama, as Abdullah Ujong Rimba. From Abdullah Ujong RImba's criticism, it can be conclude that his thought based on syari'at or Fiqih orientation, instead of the perspective of Sufism.
Islamic Radicalism in Southeast Asia: With Special Reference to the Alleged Terrorist Organization, Jamā'ah Islāmiyah
Akh Muzakki
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2004.421.61-87
Pemboman WTC 11 September 2001 telah melahirkan sebuah stigmaterhadap Islam, yaitu teroris dan al-Qaeda sebagai tertaduh. Di AsiaTenggara, kasus bom Bali juga mengidentifikasi adanya jaringan al-Qaedayang kemudian dikenal dengan nama Jama'ah Islamiyah. Banyak teori yangdikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan di berbagai belahan dunia tentangfenomena radikalisme Islam ini. Di antara teori tersebut mengatakanbahwa radikalisme agama yang terjadi di berbagai belahan duniamerupakan resistensi agama terhadap lsu modernisasi dunia. Di AsiaTenggara, munculnya radikalisme Islam lebib dipicu oleh sikap sikappermerintah terhadap umat Islam. Walaupun demikian, Jama'ah Islamiyahtetap merupakan misteri; eksistensinya tidak bisa dibuktikan, namunfenomenanya ada di mana-mana. Banyak pihak akhirnya mengaitkankeberadaan Jama'ah Islamiyah dengan keberadaan berbagai pesantrengaris keras di Indonesia. Artikel ini berusaha untuk mengidentifikasihubungan antara keberadaan organisasi Jama'ab Islamiyab dengatkelompok-kelompok teroris yang akhir-akhir ini telah memperburuk citraIslam.