cover
Contact Name
AGRIVITA Editorial Team
Contact Email
agrivita@ub.ac.id
Phone
+62341-575743
Journal Mail Official
agrivita@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Malang 65145 Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 01260537     EISSN : 24778516     DOI : https://doi.org/10.17503
Core Subject : Agriculture,
AGRIVITA Journal of Agricultural Science is a peer-reviewed, scientific journal published by Faculty of Agriculture Universitas Brawijaya Indonesia in collaboration with Indonesian Agronomy Association (PERAGI). The aims of the journal are to publish and disseminate high quality, original research papers and article review in plant science i.e. agronomy, horticulture, plant breeding, soil sciences, plant protection and other pertinent field related to plant production. AGRIVITA is published three times per year. The Journal has been indexed in SCOPUS, Scimago Journal Ranks (SJR), Emerging Source Citation Index ( ESCI-Web of Science), EBSCO, ProQuest, Google Scholar and others international indexing. AGRIVITA is accredited first grade (Sinta 1/S1) for five years (2018-2023) based on Decree No: 30/E/KPT/2018 by Ministry of Research, Technology and Higher Education (Ristek Dikti), The Republic of Indonesia. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never been published elsewhere, original and not under consideration for other publication.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 38, No 2 (2016): JUNE" : 12 Documents clear
ROLES OF CALCIUM AND MAGNESIUM AS SELECTION FACTORS IN SWEET CORN QUALITY IMPROVEMENT ON ACIDIC RED-YELLOW PODSOLIC SOIL Hikam, Saiful; Timotiwu, Paul B.
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 38, No 2 (2016): JUNE
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v38i2.552

Abstract

The cultivation of sweet corn (Zea mays L. spp. saccharata {Sturt.} Bailey) on acidic red-yellow podsolic (RYP) soil in Lampung, Indonesia was hampered by the low fertility and pH of the soil.  Soil amendment with Ca and Mg would improve growth and development of the sweet corn cultivars, as well as differentiating environments in selecting for adaptive cultivars. Aglime, dolomite, Portland cement, and a mixture of 3 aglime: 2 dolomite (w/w) were applied on LASS Yellow-Round (Y-R), LASS Yellow-wrinkle (Y-w), Bicolor and LAS Yellow-wrinkle (Y-w).  The results indicated that the kinds of Ca and the doses apllication were capable to differentiate the sweet corn cultivars.  Aglime 400 kg ha-1 was the best treatment to modify plant environment as selection factor followed by cement 400, dolomite 200 and aglime-dolomite mixture 400 kg ha-1. They improved the growth of the cultivars as well. The characters of interest of the cultivar had complied with those of commercial standard, except for plant height, ear diameter, and kernel-rows ear-1. However, since the genetic variation and broad-sense heritability values for those characters were essentially zero, the subsequent improvement would require genes from the outside populations.
Pacu Produksi panen tanaman kentang dengan aplikasi pupuk cair Yudi Anto
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 38, No 2 (2016): JUNE
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v38i2.3649

Abstract

Berapa produksi kentang granola per ha? Jika pertanyaan itu diajukan kepada Yuli Sungkowo, pekebun di Tosari, Kabupaten Pasuruan, langsung dijawab cepat: 70 ton. Itu 3 kali lipat dari rata-rata produksi pekebun lain di Indonesia yang cuma 20—25 ton per ha. Malahan Yuli yang mengelola 5 ha lahan dapat panen lebih cepat 45 hari ketimbang pekebun lain.Yuli Sungkowo tidak menanam kentang di lahan bukaan baru. Bukan. Pekebun kentang sejak 25 tahun lamnan itu membudidayakan Solatium tuberosum di lahan yang bertahun-tahun juga ditanami kentang. Lahannya di sentra Gunung Bromo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, di ketinggian 1.700 m dpi.Teknik budidaya kentang organik  serupa dengan pekebun kentang lain di Indonesia. Misalnya sebelum penanaman, tanah diolah, diratakan, dan dibuat guludan dengan lebar 75 cm. Jarak antarbedengan 30 cm. Setelah itu, guludan ditaburi 1,5 ton pupuk kandang dan 800 kg pupuk ponska per hektar. Tanah diaduk dan diratakan kembali dengan cangkul. Sebelum penanaman, Furada ditaburkan di lahan itu.Pupuk cairSatu hal yang membedakan cara budidaya itu adalah Yuli Sungkowo menambahkan pupuk cair. Itu dilakukan pekebun lain di sana. Kandungan pupuk cair yang berbahan baku ikan mujair itu berupa nitrogen 3,12%, fostat 0,25%, kalium oksida 3,04%. Nutrisi itu juga mengandung unsur mikro seperti besi, mangan, tembaga, khlorin, dan sulfat.Pupuk cair itu dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:4. Untuk satu hektar, Yuli perlu 576 liter larutan hasil pencampuran 12 botol berisi masing-masing 12 cc. Penyemprotan pertama saat anggota famili Solanaceae itu berumur 12 hari dengan interval 8 hari dan frekuensi 5 kali. Dampak pemberian pupuk itu tampak ketika tanaman berumur sebulan. Saat itu Januari 2006, tanaman milik pekebun-pekebun lain luluh lantak akibat derasnya hujan. Kentang di kebun Yuli tetap vigor.Ketika berumur sebulan, tanaman kentang tampak subur. Itu terlihat dari sosok tanaman yang lebih rimbun dibanding tanaman pekebun lain. Oleh karena itu ia pun berencana memanennya pada umur 70 hari untuk dimanfaatkan sebagai bibit. Pada 20 Maret 2006, ia memanen kerabat tomat itu. Hasilnya membuat ia terbelalak. Sebab, ukuran umbi amat besar layaknya untuk konsumsi, mencapai 100—500 g. Padahal, bobot umbi untuk bibit rata-rata 60—80 gram.Meski umur tanaman baru 70 hari, daging umbi lebih padat dan layak konsumsi. Itu diukur dari bobot per karung ukuran 75 cm x 60 cm yang biasanya memuat 54—64 kg, kini menjadi 60—70 kg. Artinya, selain mendongkrak produktivitas, Yuli juga berhasil memangkas waktu produksi yang biasanya 115—120 hari, kini hanya 70—75 hari.Total jenderal volume panen perdana mencapai 35 ton dari lahan 0,5 ha dengan populasi 45.000 tanaman “Ini luar biasa” ujarnya. Ia memang mengelola 5 ha lahan,tetapi panen dilakukan bertahap. Panen periode berikutnya berlangsung pada akhir April 2006 sehingga volume panen belum diketahui. Artinya produksi rata-rata sekitar 70 ton per ha. Jika memanen untuk bibit, biasanya ia hanya mengangkut 12 ton dari lahan 0,5 hektar atau 24 ton per hektar. Peningkatannya hingga 23 ton.Untung besarDari total produksi 35 ton, 70% atau sekitar 24,5 ton kentang bermutu A yang dijual Rp2.200 per kg. Cirinya bobot umbi lebih dari 100 g. Sedangkan kentang bermutu B bobot 60—100 g, hanya 25% (8,75 ton). Namun, ia tidak menjualnya. “Saya simpan untuk bibit,” kata Yuli. Kentang berkualitas rendah alias apkir sekitar 1,75 ton, dijual Rpl.000 per kg.Total jenderal, Yuli meraup omzet Rp55-juta atau untung sekitar Rp44- juta dari lahan 0,5 hektar. Jika dijual seluruhnya (termasuk kentang mutu B, red), Yuli bisa mendapatkan tambahan keuntungan Rpl5,75-juta. Menurut ayah 2 anak itu, biaya penanaman kentang 0,5 hektar Rp 10.942.000. Jumlah itu tidak jauh berbeda dengan biaya produksi pada musim tanam sebelumnya. “Saya hanya menambah biaya Rp252.000 untuk membeli tambahan pupuk cair,” ujar pria 46 tahun itu.Menurut Ir Gustaaf A Wattimena PhD, guru besar bidang hortikultura dan kultur jaringan Institut Pertanian Bogor, hasil yang dicapai Yuli sangat fantastis. Biasanya, kentang berumbi pada umur 45—60 hari. Setelah itu, pekebun bisa memanen 600 kg umbi per hari selama 60 hari berturut-turut dari lahan 1 ha. Total volume produksi 36 ton per hektar.Keberhasilan Yuli mendongkrak produksi kentang, belum dapat diklaim akibat pupuk cair yang ia gunakan. “Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas tanaman,” kata Wattimena. Faktor-faktor itu antara lain rendahnya serangan hama dan penyakit, kondisi tanah, ketersediaan air, serta iklim. “Kalau pun kondisinya sangat ideal, produksi kentang maksimal 40 ton per hektar,” ujar ahli mikrobiologi itu.Dosen Fakultas Pertanian IPB itu mengungkapkan, meski umbi jumbo, belum tentu berkualitas prima. “Umbi besar tapi kandungan airnya tinggi, tetap saja tidak bermutu. Kualitas diukur dari bobot kering umbi,” kata peraih doktor hortikultura University of Wisconsin, Amerika Serikat itu.Untuk kentang granola, bobot kering minimal 14% dari bobot total umbi. Sedangkan untuk kentang industri pengolahan minimal 20%. Memang kualitas umbi yang dihasilkan Yuli belum teruji kualitasnya. Meski begitu, toh Yuli telah meraup untung hingga berlipat-lipat. Itulah sebabnya, pekebun-pekebun lain di Pasuruan kini mengikuti jejak Yuli: menambahkan pupuk cair.

Page 2 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 48, No 1 (2026) Vol 47, No 3 (2025) Vol 47, No 2 (2025) Vol 47, No 1 (2025) Vol 46, No 3 (2024) Vol 46, No 2 (2024) Vol 46, No 1 (2024) Vol 45, No 3 (2023): IN PRESS Vol 45, No 3 (2023) Vol 45, No 2 (2023) Vol 45, No 1 (2023): IN PRESS Vol 45, No 1 (2023) Vol 44, No 3 (2022) Vol 44, No 2 (2022) Vol 44, No 1 (2022) Vol 43, No 3 (2021) Vol 43, No 2 (2021): ARTICLE IN PRESS Vol 43, No 2 (2021) Vol 43, No 1 (2021) Vol 42, No 3 (2020) Vol 42, No 2 (2020) Vol 42, No 1 (2020) Vol 41, No 3 (2019) Vol 41, No 2 (2019) Vol 41, No 1 (2019) Vol 40, No 3 (2018): OCTOBER Vol 40, No 2 (2018): JUNE Vol 40, No 1 (2018): FEBRUARY Vol 39, No 3 (2017): OCTOBER Vol 39, No 2 (2017): JUNE Vol 39, No 1 (2017): FEBRUARY Vol 38, No 3 (2016): OCTOBER Vol 38, No 2 (2016): JUNE Vol 38, No 1 (2016): FEBRUARY Vol 37, No 3 (2015): OCTOBER Vol 37, No 2 (2015): JUNE Vol 37, No 2 (2015) Vol 37, No 2 (2015): JUNE Vol 37, No 1 (2015): FEBRUARY Vol 37, No 1 (2015) Vol 36, No 3 (2014) Vol 36, No 3 (2014) Vol 36, No 2 (2014) Vol 36, No 2 (2014) Vol 36, No 1 (2014) Vol 36, No 1 (2014) Vol 35, No 3 (2013) Vol 35, No 3 (2013) Vol 35, No 2 (2013) Vol 35, No 2 (2013) Vol 35, No 1 (2013) Vol 35, No 1 (2013) Vol 34, No 3 (2012) Vol 34, No 3 (2012) Vol 34, No 2 (2012) Vol 34, No 2 (2012) Vol 34, No 1 (2012) Vol 34, No 1 (2012) Vol 33, No 3 (2011) Vol 33, No 3 (2011) Vol 33, No 2 (2011) Vol 33, No 2 (2011) Vol 33, No 1 (2011) Vol 33, No 1 (2011) Vol 32, No 3 (2010) Vol 32, No 3 (2010) More Issue