cover
Contact Name
Nia Kurniasih
Contact Email
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sosioteknologi, Labtek VII, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sosioteknologi
ISSN : 18583474     EISSN : 2443258X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Sosioteknologi is a journal that focuses on articles that discuss results of an intersection of research fields of science, technology, arts, and humanities as well as the implications of science, technology, and arts on society. It is published three times a year in April, August, and December. Jurnal Sosioteknologi is a collection of articles that discuss research results, conceptual ideas, studies, application of theories, and book reviews. Jurnal Sosioteknologi has been indexed by Google Scholar and Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474 Jurnal Sosioteknologi adalah jurnal yang memfokuskan pada tulisan berupa penelitian interseksi bidang ilmu sains, teknologi, seni, dan ilmu kemanusiaan serta implikasi sains teknologi dan seni terhadap kehidupan masyarakat. Terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Jurnal Sosioteknologi berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Jurnal Sosioteknologi telah terindeks oleh Google Scholar, Citerseerx, dan Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 18 No. 1 (2019)" : 11 Documents clear
Budaya Populer sebagai Kekuatan Produktif Muhamad Adji
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 1 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas pandangan John Fiske yang berkaitan dengan budaya populer. Pandangan John didasarkan atas pandangan tentang budaya populer pada umumnya bermuara pada dua cara pandang. Cara pandang pertama memiliki kesangsian terhadap budaya populer sehingga muncul pertanyaan kritis: dapatkah budaya populer dijadikan sarana untuk melakukan wacana tanding terhadap budaya elit? Pandangan ini muncul karena para pemikir tersebut menganggap bahwa budaya populer tidak lebih sebagai budaya yang menjadi tunggangan kapitalisme sehingga mengharapkan budaya populer memiliki sikap kritis adalah hal yang utopis. Pandangan kedua memiliki harapan positif terhadap budaya populer karena memandang bahwa budaya populer merupakan arena yang terbuka bagi pertarungan ideologis. Oleh karena itu, budaya populer dapat dijadikan alat perjuangan melawan kelas elite. Dalam kapasitas tertentu, secara politis budaya populer dapat dijadikan kekuatan produktif untuk melawan sistem kekuasaan yang opresif.

Page 2 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2019 2019