cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER" : 12 Documents clear
Hubungan Kadar Antioksidan Superoxide Dismutase (SOD) dengan Indeks Bakterial (IB) pada Pasien Kusta Baru Tipe Multibasiler (MB) tanpa Reaksi Maria Ulfa Sheilaadji; M. Yulianto Listiawan; Evy Ervianti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.176 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.100-109

Abstract

Latar Belakang: Kusta merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M. leprae).  Tubuh memiliki beberapa mekanisme pertahanan untuk menghadapi infeksi bakteri M. leprae, diantaranya melalui scavenging dari radikal bebas, antioksidan enzimatik merupakan garis pertahanan pertama melawan reactive oxygen species (ROS). Superoxide dismutase (SOD) adalah salah satu enzim antioksidan utama yang menangkal radikal bebas. Terdapat perburukan status antioksidan pada pasien kusta yang berkorelasi dengan indeks bakterial (IB) dan spektrum kusta. Tujuan:  Mengevaluasi hubungan antara kadar SOD dengan IB pada pasien kusta baru tipe multibasiler (MB) tanpa reaksi. Metode: Penelitian ini merupakan rancangan penelitian analitik observasional potong lintang yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar SOD dengan IB pada pasien kusta baru tipe MB tanpa reaksi. Hasil: Rerata kadar SOD pada semua pasien 86,02±17,89. Kadar SOD pada IB negatif lebih rendah dibandingkan kadar SOD pada IB +1 sampai +3. Kadar SOD tertinggi didapatkan pada IB +1, dengan median IB 0 = 82,20, IB +1 = 92,10, IB +2 = 85,75 dan IB +3 = 82,94. Hasil uji korelasi menunjukkan tingginya kadar SOD tidak disertai dengan rendahnya nilai IB sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar SOD dengan berbagai nilai IB dengan p = 0,909 (p>0,05) r= -0,022. Simpulan: Hasil uji korelasi menunjukkan tingginya kadar SOD tidak disertai dengan rendahnya nilai IB dan penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar SOD dengan nilai IB.
Konsep Patomekanisme Erupsi Obat Terkini Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.79 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.136-141

Abstract

Latar Belakang: Erupsi obat terjadi sekitar 30-45% dari adverse drug reaction (ADR) dengan peningkatan angka kejadian di negara berkembang sebesar 2-5 %. Erupsi obat dapat menimbulkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga diperlukan pemahaman mengenai patomekanisme erupsi obat, yang akan bermanfaat pada pencegahan dan penatalaksanaannya. Tujuan: Memahami perkembangan terkini konsep patomekanisme erupsi obat. Telaah Kepustakaan: Erupsi obat merupakan respons yang tidak diinginkan terhadap pemberian obat dengan dosis normal pada manusia. Angka kejadian ADR di rumah sakit adalah 6,5% dengan  bentuk terbanyak berupa erupsi obat dengan lesi pada kulit. Konsep patomekanisme pada erupsi obat terus berkembang. Obat dapat menstimulasi sistem imun dengan membentuk hapten-carrier complex, yaitu pada konsep hapten-prohapten. Obat juga dapat menstimulasi sistem imun melalui sifat farmakologisnya, melalui ikatan nonkovalen dengan reseptor imun, yaitu T cell receptor (TCR) atau human leukocyte antigen (HLA), yang terdapat pada p-i concept (pharmacologic interaction). Ikatan obat pada molekul HLA dapat mempunyai 2 akibat. Bila obat dapat memodifikasi molekul HLA, akan terbentuk peptida yang berbeda (altered peptide model). Walaupun demikian, perubahan peptida tidak diperlukan untuk membuat peptide-HLA complex bersifat imunogenik; bila obat berikatan dengan HLA, maka gabungan dari altered  HLA dan peptida normal dapat bersifat imunogenik dan menstimulasi sel T (altered pHLA model). Selain itu, konsep patomekanisme erupsi obat berdasarkan dasar genetik (keterkaitan dengan HLA) dapat bermanfaat pada pembuatan data dasar genetika. Simpulan: Perkembangan konsep patomekanisme erupsi obat dapat menjadi dasar pada perkembangan pencegahan serta penatalaksanaannya.
Angka Kejadian Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi pada Pasien Akne Vulgaris Sedang Tipe Kulit IV-V yang Diterapi Gel Benzoil Peroksida 2,5% Uji Klinis, Acak, Buta Ganda Irma Bernadette S. Sitohang; Putu Siska Virgayanti; Shannaz Nadia Yusharyahya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.995 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.71-77

Abstract

Latar belakang: Akne vulgaris (AV) merupakan peradangan kronis folikel pilosebasea dengan manifestasi klinis berupa komedo, papul, pustul, nodus dan pseudo kista yang bersifat swasirna. AV digolongkan atas tiga kategori, yaitu akne vulgaris ringan (AVR), sedang (AVS) dan berat (AVB). Rekomendasi Global Alliance dalam penanganan AVS meliputi antibiotik, asam retinoat, dengan atau tanpa benzoil peroksida (BPO). Kombinasi antibiotik dan BPO direkomendasikan untuk mengatasi masalah tersebut meskipun pada tipe kulit IV-V, hiperpigmentasi pasca inflamasi merupakan masalah yang sering dikeluhkan pada penggunaan BPO. Tujuan: Membandingkan efektivitas, efek samping dan kejadian hiperpigmentasi pasca inflamasi (HPI) pada penggunaan BPO sebagai paduan terapi lini pertama AVS pada tipe kulit IV-V Fitzpatrick. Metode: Penelitian analitik dengan desain uji klinis acak tersamar ganda membandingkan dua sisi wajah yang diberikan paduan terapi lini pertama. Sisi wajah perlakuan diberikan gel BPO 2,5% sedangkan kelompok kontrol gel plasebo. Hasil: Pada minggu ke-2,4,6,8 didapatkan penurunan persentase total lesi sebesar 51,47%, 71%, 75%, 82,84% pada kelompok BPO dan 30%, 53,75%, 62,28, 71%  pada kelompok plasebo (p<0,001) Efek samping dan kejadian HPI pada minggu ke 2,4,6 dan 8 tidak berbeda bermakna. Simpulan: Penggunaan BPO sebagai bagian dari paduan terapi lini pertama AVS lebih efektif, tidak meningkatkan efek samping ataupun kejadian HPI.
Kualitas Hidup Pasien Dewasa Muda dengan Akne Vulgaris Derajat Sedang di Indonesia Diah Mira Indramaya; Menul Ayu Umborowati; Amanda Gracia Manuputty; Ridha Ramadina Widiatma; Eva Lydiawati; Trisniartami Setyaningrum; Rahmadewi Rahmadewi
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.802 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.110-115

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) adalah penyakit inflamasi kronik yang menyerang unit pilosebasea yang paling banyak menyerang pasien dewasa muda di hampir seluruh negara. Pasien dengan akne vulgaris dapat mengalami tekanan psikologis sehingga memengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan: Mengevaluasi kualitas hidup pasien akne vulgaris derajat sedang. Metode: Merupakan penelitian potong lintang observasional dengan menggunakan kuesioner yang melibatkan pasien AV derajat sedang yang mendapatkan terapi AV standar dan penambahan fototerapi sinar biru pada periode Desember 2017 hingga Februari 2018 di Divisi Kosmetik Medik Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Hasil: Sejumlah 40 pasien berusia 16 – 25 tahun dengan rata-rata 19,22 ± 2,76 tahun. Subjek merasakan AV berefek berat terhadap kualitas hidupnya (65%), diikuti dengan yang merasakan berefek sedang (20%), berefek ringan (10%), berefek sangat berat (2,5%), dan tidak ada efek terhadap kualitas hidup (2,5%). Skor total kuesioner Dermatology Life Quality Index (DLQI) dianalisis korelasi dengan variabel lama sakit dan usia subjek menggunakan uji Spearman’s rho. Analisis tersebut menunjukkan adanya korelasi yang bermakna antara skor DLQI total dengan lamanya subjek menderita AV (p = 0,037; CI 95%). Kekuatan korelasi antar kedua variabel (r) negatif lemah. Hal tersebut berarti semakin lama durasi menderita AV maka semakin kecil skor DLQI total. Skor DLQI total dikatakan tidak berkorelasi dengan usia subjek (p = 0,318; CI 95%). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan penurunan kualitas hidup pada pasien akne derajat sedang, dan kualitas hidup berkorelasi dengan lama durasi menderita AV.
A Case of Tinea Incognito: A Misuses of Steroid Diah Mira Indramaya; Abdul Karim; Zahruddin Ahmad
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.831 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.142-147

Abstract

Background: Tinea incognito (TI) is a dermatophytic infection which has lost its typical clinical appearance because of improper use of steroids. Topical steroids in Indonesia are often used without prescription. The misuses of steroids has led to the emergence of TI. Clinical diagnosis of TI is still a challenge even by dermatologists, thus lead to a delay treatment. Purpose: To report a case of TI in child. Case: A 10-year-old girl presented with itchy ill defined erythematous patches on the face. The patch had appeared since 2 months before. The patient had already got topical and systemic corticosteroid but there were no improvement. Physical examination showed multiple papules on ill defined scaly erythematous patches on facial region. Potassium hydroxide examination revealed arthroconidia and septate hyphae, while from culture isolation Microsporum gypseum were identified. Diagnosis of TI was successfully made and the patient was treated with griseofulvin two times 125 mg per day orally for four weeks. The patient showed good result. Discussion: TI lesions usually lose their classic annular appearance thus the disease is likely to be confused with other diseases. It is important for dermatologist to consider fungal infection as differential diagnosis of prolong erythematous scaly lesions unresponsive to steroids or calcineurin inhibitors, and encourage of laboratory tests for mycological evaluation. Conclusion: Discontinuance of steroid and adminisration antifungal therapy promoted lesions improvement clinically and mycologically. It is important to regulate the topical steroid distribution and to educate primary care doctors about superficial dermatophytosis to reduce the increasing case of TI.
Efektivitas Lactobacillus plantarum terhadap Serum Imunoglobulin E Total dan Indeks Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD) Pasien Dermatitis Atopik Dewasa laissa Bonita; Cita Rosita Sigit Prakoeswa; Afif Nurul Hidayati
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.663 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.78-84

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis Atopik (DA) dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan sel T-helper (Th) 1 dan Th2 yang diduga memengaruhi kadar imunoglobulin (Ig) E, yang juga memengaruhi indeks Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD). Studi mengenai efek terapi probiotik pada DA telah dilakukan, namun hanya sedikit dilakukan pada dewasa dan hasilnya bervariasi. Lactobacillus plantarum IS-10506 (LP IS-10506) adalah probiotik indigenous asal Indonesia yang telah diuji secara in vitro maupun in vivo. Tujuan: Mengevaluasi efek terapi probiotik LP IS-10506 terhadap serum Ig E total dan indeks SCORAD dalam pengobatan DA. Metode: Uji klinis acak terkontrol tersamar ganda terhadap 30 pasien, dilakukan randomisasi untuk mendapatkan probiotik atau plasebo selama 8 minggu. Kadar serum Ig E total dan indeks SCORAD dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Lima belas subjek kelompok probiotik dan 15 subjek kelompok plasebo telah menyelesaikan studi. Tidak didapatkan perbedaan bermakna rerata kadar Ig E total kelompok probiotik dan plasebo pada akhir studi, masing-masing 470,833 + 751,329 IU/ml dan 222,826 + 181,681 IU/ml (p=0,350). Rerata penurunan indeks SCORAD pada kelompok probiotik lebih besar dibandingkan plasebo dengan perbedaan bermakna pada akhir studi, masing-masing 9,6133 + 2,552 dan 13,133 + 5,029 (p= 0,022). Simpulan: Tidak didapatkan perbedaan bermakna pemberian probiotik dalam hal penurunan kadar serum Ig E total dibandingkan kelompok kontrol. Penurunan indeks SCORAD bermakna pada kelompok probiotik dibandingkan kelompok kontrol.
Peran Sinar Matahari terhadap Derajat Keparahan dan Progresivitas Penyakit Vitiligo Tuntas Rayinda; Prasta Bayu Putra; Sunardi Radiono; Yohanes Widodo Wirohadidjojo
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.846 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.116-121

Abstract

Latar belakang: Peran sinar matahari dalam vitiligo belum sepenuhnya dipahami. Terapi ultraviolet merupakan salah satu terapi yang efektif untuk vitiligo. Akan tetapi, teori lain mengatakan bahwa peningkatan reactive oxygen species (ROS) yang diinduksi oleh paparan sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan tirosinase dan sensitisasi sel T. Simple 1-week sun exposure recall (S1WSER) merupakan kuesioner yang telah digunakan untuk memprediksi sirkulasi 25-hidroksivitamin D pada ras Kaukasia dengan menghitung jumlah paparan sinar matahari harian. Tujuan: Mengevaluasi peran sinar matahari pada derajat keparahan dan progresivitas penyakit vitiligo. Metode: Sebanyak 22 pasien vitiligo yang menjalani narrow band ultraviolet-B (NBUVB) seluruh tubuh diminta untuk menilai jumlah paparan sinar matahari harian menggunakan S1WSER. Progresivitas penyakit didapatkan dari perbedaan antara nilai Self Assessed Vitiligo Area Severity Index (SAVASI) berdasar kondisi kulit sebelum memulai fototerapi dan kondisi lesi kulit saat ini (ΔSAVASI). Keparahan penyakit didapatkan dari skor Vitiligo Area Scoring Index (VASI) yang dinilai oleh dokter. Hasil: Jumlah area tubuh yang terpapar oleh sinar matahari atau Total Body Areas Exposed by Sunlight (TBAES) dan total skor S1WSER lebih tinggi pada kelompok pasien vitiligo, yang menunjukkan perbaikan setelah foterapi NBUVB dibandingkan kelompok yang tidak mengalami perbaikan (p<0.05). Korelasi negatif ditemukan antara TBAES dan ΔSAVASI (p<0,05, r=-0,457), meskipun demikian total skor S1WSER dan jumlah waktu terpapar sinar matahari Total Time Exposed by Sunlight (TTES) tidak berkorelasi dengan ΔSAVASI (p>0.05). Tidak didapatkan  korelasi yang signifikan antara skor VASI dan skor total S1WSER, TBAES, atau TTES (p>0.05). Simpulan: Sinar  matahari memperlambat progresifitas penyakit vitiligo. Derajat keparahan vitiligo tidak berkorelasi dengan jumlah dan waktu paparan sinar matahari.
Psoriasis Vulgaris in Human Immunodeficiency Virus Infected Patient: A Case Report Rahmadewi Rahmadewi; Maya Wardiana
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.145 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.148-152

Abstract

Background: Psoriasis vulgaris (PV) is a chronic inflammatory skin disease characterized by erythematous thick scaly plaques. PV in human immunodeficiency virus (HIV) infected patient can give severe clinical features and challenging to treat since the treatment are immunosuppressive drugs. Purpose: To report a case of psoriasis vulgaris in HIV infected patient. Case: A 39 year-old man complained about scaly redness patches on his back and elbow that spread accompanied by burning sensation. From physical examination, on almost all over his body there were erythematous plaques sharply marginated with thick scales. Histopathologic examination from skin biopsy revealed parakeratosis, acanthosis, with psoriasiform hyperplasia and Munro’s microabscesses consistent to PV. The patient was treated with methotrexate tablets. After 8 days hospitalization, white plaque appeared on his tongue. Potassium hydroxide examination (KOH) 10% and 3 methods HIV test was done with positive result. Because of HIV positive methotrexate was stopped. Antiretroviral therapy (ART) was given and its combination with desoximetasone 0.25% cream after 10 days gave a good result for the PV. Discussion: The pathophysiology of PV in HIV infected patient seems to be conflicting due to the involvement of T cell lymphocyte in both diseases. Treatment for PV in HIV infected patient should consider the probability of the immunosuppressive effect of the drugs that can worsen the HIV infection. ART is recommended as the treatment for PV. Conclusion: Psoriatic lesion in this patient responded well to ART and desoximetasone 0.25% cream. PV in HIV infected patient requires certain management considering immunological status and immunosuppressive treatment. Early diagnosis of these comorbid condition help to determine appropriate management.
Efek Pemberian Lactobacillus plantarum IS-10506 terhadap Indeks Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD) Pasien Dermatitis Atopik Dewasa Derajat Ringan-Sedang: Uji Klinis Acak Terkontrol, Tersamar Ganda Abdul Karim; Trisniartami Setyaningrum; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.415 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.85-92

Abstract

Latar belakang: Efek terapi probiotik pada dermatitis atopik (DA) telah dibuktikan, namun hanya beberapa studi pada populasi dewasa dan hasilnya masih tidak konsisten. Ketidakseimbangan sel T-helper (Th)1 dan Th2 diduga memengaruhi kadar imunoglobulin (Ig) E, yang juga memengaruhi indeks Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD). Penatalaksanaan standar yang telah ada hanya mengurangi gejala DA. Lactobacillus plantarum (LP) IS-10506 merupakan probiotik yang diisolasi dari dadih, suatu fermentasi susu kerbau tradisional asli Indonesia yang diharapkan akan memperbaiki gejala DA karena efek imunomodulator. Tujuan: Mengevaluasi perbaikan indeks SCORAD setelah pemberian LP IS-10506 pada DA dewasa derajat ringan-sedang. Metode: Uji klinis acak terkontrol tersamar ganda terhadap 30 pasien DA dewasa derajat ringan-sedang dirandomisasi untuk mendapatkan LP (dosis: 2x1010 cfu/hari) atau plasebo selama 8 minggu di Divisi Alergi Imunologi Instalasi Rawat Jalan (IRJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Indeks SCORAD dievaluasi sebelum, minggu ke-4, dan sesudah intervensi (minggu ke-8). Hasil: Sebesar 15 sampel pada kelompok LP dan 15 sampel pada kelompok plasebo dapat menyelesaikan studi. Nilai SCORAD pada kelompok LP lebih rendah dibanding plasebo dengan rerata selisih yang berbeda bermakna pada minggu ke-4 (p = 0,040) dan minggu ke-8 (p = 0,022). Simpulan: Pemberian LP IS-10506 dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada DA dewasa derajat ringan-sedang karena memiliki efek imunomodulator.
Profil Pasien Urtikaria Aulia Rafikasari; Deasy Fetarayani; Trisniartami Setyaningrum
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.607 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.122-127

Abstract

Latar Belakang: Sebanyak 15-20% manusia pernah mengalami episode urtikaria satu kali selama hidupnya. Urtikaria adalah erupsi pada kulit, berwarna merah, berbatas tegas, dan memutih bila ditekan. Prevalensi urtikaria di dunia berkisar antara 0,3%-11,3% tergantung besar populasi yang diteliti. Tujuan: Mengevaluasi profil dan gambaran umum pasien baru urtikaria. Metode: Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Jalan Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin dan Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2015-2017. Metode yang digunakan adalah deskriptif retrospektif dengan mengevaluasi rekam medis pasien berupa umur, jenis kelamin, klasifikasi International Classification of Diseases (ICD) urtikaria, durasi urtikaria, dan pengobatan. Hasil: Didapatkan 463 pasien urtikaria. Pasien didominasi oleh rentang umur antara 12-25 tahun. Diagnosis terbanyak adalah urtikaria alergi sebanyak 36% pada tahun 2015, 34% tahun 2016, dan meningkat menjadi 40% pada tahun 2017. Pengobatan yang paling sering dilakukan adalah golongan obat antihistamin H1 generasi kedua. Kombinasi antihistamin H1 dan H2 juga masih banyak digunakan untuk terapi urtikaria. Simpulan: Pasien urtikaria di RSUD Dr. Soetomo tidak mengalami banyak perubahan bila dibandingkan dengan data profil urtikaria yang dilakukan tahun sebelumnya. Pengobatan urtikaria yang dilakukan kurang sesuai dengan guideline urtikaria terbaru tahun 2014.

Page 1 of 2 | Total Record : 12