cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Global Strategis
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19079729     EISSN : 24429600     DOI : -
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis" : 11 Documents clear
Microsoft’s Strategic Transformation through Data Center Development in Indonesia Hapsari, Karina Erdian; Hakiki, Falhan
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.221-244

Abstract

The Covid-19 pandemic has benefitted technology corporations due to the urgent need for large-scale digital transformation. Microsoft, for instance, collaborated with the Indonesian government in the development of its first data center in the country. This case is particularly notable, as Microsoft was able to assert its presence amid the uncertainty caused by the pandemic. This qualitative approach uses the main theory of corporate-state alliance and technology-driven as supporting theory to demonstrate the need for both actors to survive in the pandemic era and the shift in Microsoft’s development. Two key findings emerge. First, there is a balance of needs between the two actors. Second, there is an economic variable. The balance of needs reflects the equally strong positions of the state and the corporation, while the economic variable refers to the mutual economic benefits gained by both parties. This article concludes that the crisis could be a “turning point” for Microsoft and the Indonesian government to achieve greater profits, particularly in terms of business potential compared to normal situations.Keywords: Corporate-State Alliance, Covid-19 Pandemic, Microsoft, Indonesian Government, Data Center Development Pandemi Covid-19 telah menguntungkan korporasi yang bergerak di bidang teknologi karena kebutuhan mendesak akan transformasi digital secara masif. Microsoft, misalnya, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia terkait dengan pembangunan pusat data pertama di Indonesia. Hal tersebut cukup unik karena Microsoft mampu menunjukkan eksistensinya dalam ketidakpastian akibat pandemi. Tulisan dengan pendekatan kualitatif ini menggunakan teori utama aliansi korporasi-negara dan teori technology driven sebagai pendukung untuk menunjukkan adanya kebutuhan bertahan kedua aktor di era pandemi serta adanya pergeseran perkembangan Microsoft. Terdapat dua temuan penting, yaitu pertama, ada keseimbangan kebutuhan kedua aktor dan kedua, adanya variabel ekonomi. Keseimbangan kebutuhan korporasi-negara menggambarkan posisi kedua aktor tersebut yang sama kuat. Sementara itu, variabel ekonomi mengarah pada keuntungan ekonomi yang diperoleh kedua pihak. Tulisan ini berkesimpulan bahwa situasi krisis bisa menjadi “titik poin” bagi Microsoft dan pemerintah Indonesia untuk mendapatkan keuntungan lebih, khususnya dalam potensi bisnis dibandingkan saat situasi normal.Kata-kata Kunci: Aliansi Korporasi-Negara, Pandemi Covid-19, Microsoft, Pemerintah Indonesia, Pembangunan Pusat Data
The Hegemon in Denial? China’s Reluctant Hegemony, BRICS and Southern Leadership Alyaa, Nisriinaa; Azis, Aswin Ariyanto
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.149-170

Abstract

China’s rising global influence marks a shift in how power operates on the world stage. While traditional theories like Hegemonic Stability Theory (HST) associate leadership with dominance and order maintenance, China challenges this model. Rather than replacing the U.S. as the sole global leader, China is strengthening its structural power through platforms like BRICS, projecting itself as a cooperative, non-imposing actor. This study employs qualitative analysis of strategic norms, pragmatic interests, and institutional projection to evaluate whether existing hegemonic frameworks remain adequate. This paper argues that HST, as a classical framework, is no longer sufficient to capture the evolving nature of hegemony in a fragmented world order. In response, this study introduces the concept of “reluctant hegemony” to explain how China fulfills key hegemonic functions while simultaneously resisting being labeled as a hegemon. The novelty of this research lies in its effort to reconceptualize hegemony through China’s alternative approach: one that neither mirrors U.S. primacy nor entirely rejects leadership, but instead redefines it in accordance with its own strategic principles and normative preferences. These insights contribute to current debates on multipolarity and the reimagining of global governance beyond Western-centric paradigms. Keywords: BRICS, China, Global Governance, Leadership, Reluctant Hegemony Meningkatnya pengaruh global Tiongkok menandai pergeseran dalam cara kekuasaan beroperasi di panggung dunia. Sementara teori tradisional seperti Teori Stabilitas Hegemoni (TSH) menghubungkan kepemimpinan dengan dominasi dan tanggung jawab untuk menjaga ketertiban, Tiongkok menantang model ini. Alih-alih menggantikan AS sebagai satu-satunya pemimpin global, Tiongkok memperkuat kekuatan strukturalnya melalui platform seperti BRICS, memproyeksikan dirinya sebagai aktor yang kooperatif dan tidak memaksakan. Studi ini menggunakan analisis kualitatif terhadap kepentingan pragmatis, norma strategis, dan proyeksi kelembagaan untuk mengevaluasi apakah kerangka kerja hegemonik yang ada masih memadai. Tulisan ini berpendapat bahwa TSH sebagai kerangka kerja klasik tidak lagi cukup untuk menangkap sifat hegemoni yang terus berkembang dalam tatanan dunia yang terfragmentasi. Sebagai tanggapan, studi ini memperkenalkan konsep “hegemoni yang enggan” untuk menjelaskan bagaimana Tiongkok memenuhi fungsi hegemonik utama dan pada saat yang sama menolak diberi label sebagai hegemon. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya untuk mengonseptualisasi ulang hegemoni melalui pendekatan alternatif Tiongkok: pendekatan yang tidak mencerminkan keutamaan AS atau sepenuhnya menolak kepemimpinan, tetapi mendefinisikannya kembali sesuai dengan prinsip strategis dan preferensi normatifnya sendiri. Temuan ini berkontribusi pada perdebatan terkini tentang multipolaritas dan penataan ulang tata kelola global di luar paradigma yang berpusat pada Barat. Kata-kata Kunci: BRICS, Tiongkok, Tata Kelola Global, Kepemimpinan, Hegemoni yang Enggan
Localization of Global Environmental Norm in Lamalera Whaling Tradition Putri, Penny Kurnia; Nugraha, Anak Agung Bagus Surya Widya
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.193-220

Abstract

This research aims to examine the power relations among actors in the process of localizing global environmental norms and species protection, which clashes with traditional values.  The research uses a qualitative approach, drawing on primary data collected through structured discussions, in-depth interviews, and field observations. The analysis focuses on norm localization stages, framed within global environmentalism perspective, contextualized through aboriginal subsistence whaling and communal culture concepts. The findings suggest that the emergence of local resistance is a phase of norm localization theory that offers a framework for negotiating shared understandings. The tension between whaling tradition and marine conservation norms can be mediated through the alignment of global environmental objectives with subsistence-based cultural practices. The whaling tradition in Lamalera may be permitted, provided it adheres to subsistence-based criteria, including hunting periods, cetacean population, types of tools, and local consumptions. This recognition has implications for the exclusion of Lamalera waters from conservation zoning. Through mutual compromise, modified norms are then implemented via customary, local, and national regulatory mechanisms. Furthermore, Indonesian government has enacted Leva Nuang as a national intangible cultural heritage, affirming the legitimacy of Lamalera's traditions within a broader framework of sustainable cultural practices. Keywords: Conservation, Environmentalism, Lamalera, Norm-localization, Whaling Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi kuasa antaraktor dalam proses lokalisasi norma lingkungan dan pelindungan spesies yang berbenturan dengan norma tradisional. Pendekatan penelitian dilakukan secara kualitatif dan didukung oleh data primer, berupa diskusi terstruktur, wawancara mendalam, serta observasi lapangan. Pembahasan berfokus pada dinamika tahap lokalisasi norma yang dikaji secara teoritis melalui perspektif environmentalisme global, serta didukung oleh konsep aboriginal subsistence whaling dan konsep budaya komunal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi masyarakat yang muncul merupakan bagian proses lokalisasi norma untuk menciptakan ruang negosiasi. Benturan antara norma perburuan paus dengan norma konservasi laut kemudian dapat dikompromikan antarpihak melalui keselarasan kajian lingkungan global dan budaya subsisten. Tradisi masyarakat Lamalera dapat dilakukan selama praktiknya tetap sesuai dengan variabel kajian subsisten, meliputi periode waktu, kondisi mamalia laut, jenis alat yang digunakan, dan pola distribusi hasil. Pengakuan budaya subsisten atas tradisi ini berbanding lurus dengan kompromi pembebasan zona konservasi perairan. Masing-masing pihak mengompromikan normanya sehingga tercipta modifikasi norma yang disepakati dan dijalankan bersama melalui penerapan aturan atau sanksi adat, lokal, maupun nasional. Untuk menjaga komitmen sekaligus melestarikan budaya setempat, pemerintah Indonesia juga mengeluarkan kebijakan yang menetapkan Leva Nuang sebagai warisan budaya tak benda nasional. Kata-kata kunci: Environmentalisme, Konservasi, Lamalera, Lokalisasi Norma, Perburuan Paus
Assessments of the Sister City Partnership between Baubau, Indonesia and Seoul, South Korea Susiatiningsih, Rr. Hermini; Alfian, Muhammad Faizal; Setiyaningsih, Dewi
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.125-148

Abstract

This study examines the sister city partnership between Baubau, Indonesia, and Seoul, South Korea, with a focus on evaluating its alignment across cultural, educational, economic, and governance dimensions. The partnership was founded in 2009 with the goal of adopting Hangeul, Korea's phonetic writing system, to preserve the endangered Ciacia language. Although there are no historical or genealogical connections between the two cities, the partnership is the result of a calculated effort that has produced significant cultural and educational results. Through interviews with key stakeholders, document analysis, and field observations, the study employs six evaluative indicators ranging from cultural influence to community engagement to assess the partnership's impact. The resulting compatibility score of 17 indicates a moderate alignment, highlighting strengths in cultural revitalization and grassroots participation. However, the study identifies imbalances in cultural exchange and limited economic cooperation, suggesting a risk of cultural asymmetry and underutilized development potential. This paper provides the contention that though the partnership is a prime example of soft power diplomacy, it also requires evaluated approaches for ensuring equal representation and its continued viability. The results highlight how crucial reciprocal participation and contextual awareness are to subnational international cooperation, especially when working with groups that have different linguistic and cultural identities. Keywords: Sister City, Baubau-Seoul Cooperation, Cultural Diplomacy, Subnational in International Relations Penelitian ini mengkaji kemitraan sister city antara Baubau, Indonesia, dan Seoul, Korea Selatan, dengan fokus pada evaluasi kesesuaiannya dalam dimensi budaya, pendidikan, ekonomi, dan tata kelola. Kemitraan ini didirikan pada tahun 2009 dengan tujuan mengadopsi Hangeul, sistem penulisan fonetik Korea, untuk melestarikan bahasa Ciacia yang terancam punah. Meskipun tidak terdapat hubungan historis atau genealogi antara kedua kota, kemitraan ini merupakan hasil dari upaya strategis yang menghasilkan dampak signifikan dalam bidang budaya dan pendidikan. Melalui wawancara dengan para pemangku kepentingan utama, analisis dokumen, dan observasi lapangan, studi ini menggunakan enam indikator evaluatif, mulai dari pengaruh budaya hingga partisipasi komunitas, untuk menilai dampak dari kemitraan ini. Skor kompatibilitas sebesar 17 menunjukkan keselarasan yang moderat, dengan kekuatan pada revitalisasi budaya dan keterlibatan akar rumput. Namun, studi ini juga menemukan ketidakseimbangan dalam pertukaran budaya serta keterbatasan kerja sama ekonomi, yang mengindikasikan potensi risiko asimetri budaya dan peluang pembangunan yang belum dimaksimalkan. Artikel ini berargumen bahwa meskipun kemitraan ini mencerminkan praktik diplomasi soft power, dibutuhkan strategi yang dikalibrasi ulang untuk menjamin representasi yang adil dan keberlanjutan jangka panjang. Temuan ini menekankan pentingnya sensitivitas kontekstual dan keterlibatan timbal balik dalam kerja sama internasional subnasional, terutama ketika melibatkan komunitas dengan identitas linguistik dan budaya yang khas. Kata-kata Kunci: Sister City, Kerjasama Baubau-Seoul, Diplomasi Budaya, Kerja sama Hubungan Internasional Subnasional
Contesting, Negotiating, or Enforcing? How Local Actors in Indonesia’s Palm Oil Value Chain Respond to the EU Deforestation Regulation (EUDR) Zainuddin, Sriwiyata Ismail; Yayusman , Meilinda Sari; Mappatunru, A.; Karman, Lalu Ladeva Alfusa’idu
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.95-124

Abstract

The European Union (EU) has strengthened its commitment to the European Green Deal (EGD), which aims to achieve a sustainable, carbon-neutral economy by 2050. The EU Deforestation Regulation (EUDR) embodies this agenda, focusing on transparency and sustainable management of seven key commodities: cattle, cocoa, coffee, palm oil, rubber, soybeans, and timber. Since its introduction, the EUDR has sparked varied responses from producer countries, such as Indonesia, particularly concerning palm oil. This study examines whether the EUDR functions as a regulatory mechanism that aligns value chain governance with EU priorities and how actors within the palm oil value chain respond to it. By analyzing these responses, the study aims to map the opportunities and challenges posed by the EUDR’s upcoming anti-deforestation due diligence requirements. The findings will shed light on its implications for Indonesia’s palm oil industry and the broader context of global environmental governance. Keywords: EUDR, Global Value Chain, Governance, Palm Oil, Power Uni Eropa (UE) telah memperkuat komitmennya terhadap European Green Deal (EGD) yang bertujuan untuk mewujudkan ekonomi berkelanjutan dan netral karbon pada tahun 2050. Regulasi Antideforestasi Uni Eropa (EUDR) merupakan wujud konkret dari agenda ini, dengan fokus pada transparansi dan pengelolaan berkelanjutan terhadap tujuh komoditas utama: ternak sapi, kakao, kopi, kelapa sawit, karet, kedelai, dan kayu. Sejak diperkenalkan, EUDR telah memicu beragam respons dari negara-negara produsen seperti Indonesia, khususnya terkait dengan komoditas kelapa sawit. Studi ini mengeksplorasi apakah EUDR berfungsi sebagai kekuatan regulatif yang menyelaraskan tata kelola rantai nilai dengan prioritas UE, serta menganalisis bagaimana para aktor dalam rantai nilai kelapa sawit merespons regulasi tersebut. Melalui analisis terhadap respons-respons tersebut, studi ini bertujuan memetakan peluang dan tantangan yang ditimbulkan oleh ketentuan due diligence anti-deforestasi dalam EUDR yang akan datang. Temuan penelitian ini akan memberikan pemahaman mengenai implikasinya terhadap industri kelapa sawit Indonesia dan, dalam konteks yang lebih luas, terhadap tata kelola lingkungan global. Kata-kata Kunci: EUDR, Rantai Nilai Global, Tata Kelola, Kelapa Sawit, Kekuasaan
Indonesia’s Foreign Policy on Palestine and the Rohingya: Affective Solidarity and Strategic Ambivalence Prabandari, Atin; Darmawan, Arief Bakhtiar
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.71-94

Abstract

Indonesia’s foreign policy has long carried a language of solidarity, especially toward oppressed Muslim communities such as the Palestinians and the Rohingya. While existing scholarship tends to explain Indonesia’s foreign policy through normative, religious, or strategic orientations, it has largely neglected the role of emotions in shaping foreign policy orientation. The article employs a post-positivist analytical lens—Affective Foreign Policy Analysis—to examine Indonesia's emotions in two case studies: the Palestinian Case and the Rohingya Crisis. The emotions considered are solidarity, compassion, pride, and ambivalence. In the Palestinian case, Indonesia has consistently taken a firm stance, drawing on its own parallelism and the emotional resonance of Islamic solidarity. In contrast, Indonesia has displayed a more ambivalent stand over the Rohingya crisis: strong affective mobilization at the societal level and yet restrained and selective humanitarianism at the state level, limited by sovereignty concerns and Indonesia’s non-signatory status to the 1951 Refugee Convention. Through comparative case studies analysis, the article argues that emotions sustain Indonesia’s foreign policy discourse while exposing gaps between solidarity and strategy within institutional constraints. The article concludes that understanding Global South foreign policy requires taking the role of emotions seriously as central mediators between ideals and interests. Keywords: Indonesia’s foreign policy, Palestine, Rohingya, Affective solidarity, Strategic ambivalence. Kajian yang ada kerap merasionalisasi kebijakan luar negeri Indonesia dengan komitmen normatif, identitas agama, atau kepentingan strategis pragmatisnya, pembahasan terhadap peran emosi dalam membatasi pilihan nasional masih terlalu minim. Artikel ini menggunakan lensa analitis pasca-positivis—analisis kebijakan luar negeri afektif—untuk membaca emosi dalam tanggapan Indonesia terhadap dua studi kasus, yaitu Palestina dan krisis Rohingya. Ada perbedaan sikap yang ditunjukkan Indonesia dalam kasus Palestina, lantaran adanya emosi yang bersifat paralel dan menggetarkan solidaritas Islam. Sebaliknya, Indonesia cenderung ambivalen terhadap krisis Rohingya. Melalui analisis komparatif, artikel ini berasumsi bahwa emosi dapat menjadi pendorong kuat bagi narasi kebijakan luar negeri Indonesia, sekaligus mengungkap kesenjangan antara solidaritas dan strategi dalam batasan kelembagaan. Artikel ini menyimpulkan bahwa dalam memahami kebijakan luar negeri Selatan-Selatan, diperlukan tanggapan serius terhadap emosi sebagai mediator utama antara cita-cita dan kepentingan. Kata-kata Kunci: Kebijakan luar negeri Indonesia, Palestina, Rohingya, Solidaritas afektif, Ambivalensi strategis.
Comparing Political Leadership and Community Participation in Waste Governance in Banyumas, Indonesia and Alappuzha, India Mahayasa, Dias Pabyantara Swandita; Saadah, Kholifatus; Utami, Arum Tri
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.47-70

Abstract

This study compares waste governance in Banyumas, Indonesia, and Alappuzha, India, two cities in the Global South that faced similar public health and environmental crises caused by waste accumulation and had access to comparable waste management technologies. Both cities received international recognition for their community-based systems, yet their policy trajectories diverged. Banyumas experienced stagnation, while Alappuzha achieved sustained progress. Using a most similar systems design (MSSD) framework, this paper highlights two variables that shape reform outcomes, political continuity and the institutionalization of community participation. In Alappuzha, stable political leadership and the Kudumbashree women’s cooperative transformed protests into formalized community participation. In contrast, Banyumas remained dependent on individual leadership and fragmented community groups, with weak institutionalization leaving reforms fragile and vulnerable to political turnover. These findings suggest that although both cities began from similar conditions, political capacity and community participation ultimately determine whether waste governance results in progress or stagnation. Keywords: Alappuzha, Banyumas, Community Participation, Political Leadership, Waste Management   Tulisan ini membahas perbandingan tata kelola sampah di Banyumas, Indonesia, dan Alappuzha, India, dua kota di Global South yang sama-sama berangkat dari krisis lingkungan dan kesehatan akibat akumulasi sampah serta memiliki akses pada teknologi pengelolaan yang relatif sebanding. Kedua kota sama-sama pernah mendapatkan penghargaan internasional terkait sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas lokal. Namun, trayektori kebijakannya berbeda. Banyumas mengalami stagnansi, sedangkan Alappuzha mengalami progresi. Dengan kerangka most similar systems design (MSSD), tulisan ini menyoroti dua aspek yang membentuk trajektori kebijakan, yaitu political continutiy dan institusionalisasi partisipasi komunitas. Berdasarkan hal tersebut, Alappuzha berhasil menjadikan krisis sebagai momentum reformasi berkelanjutan dengan mengandalkan kepemimpinan politik yang stabil dan koperasi perempuan Kudumbashree, yang mampu mentransformasi protes warga menjadi partisipasi yang lebih formal. Sebaliknya, Banyumas mengalami stagnasi karena reformasi kebijakan masih bergantung pada kepemimpinan politik individual dan partisipasi komunitas yang masih terfragmentasi. Minimnya pelembagaan membuat capaian mudah terhenti. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun titik awal serupa, kapasitas politik dan partisipasi menentukan apakah reformasi menghasilkan progresi atau stagnasi. Kata-kata Kunci: Alappuzha, Banyumas, Partisipasi Komunitas, Kepemimpinan Politik, Pengelolaan Sampah
Brexit’s Ramifications on the UK Border-making: The Windsor Framework for Northern Ireland Korwa, Johni R.V.
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.171-192

Abstract

Despite a growing body of scholarship on Brexit and the Windsor Framework, little attention has been given to how the framework functions within the broader context of border-making. This article seeks to fill this gap by arguing that the Windsor Framework is not just a technical instrument in the post-Brexit period, but it also represents a novel approach to reconfiguring the UK’s borders across three conceptual domains: power, shared sovereignty, and international relations. These three elements are interrelated in the operation of the Windsor Framework. The UK’s exercise of power in Northern Ireland depends on negotiating and sharing power with the EU, illustrating a situation of shared sovereignty. This framework expands into international relations, as it shapes the way in which the UK manages its post-Brexit relationship with the EU and asserts its global position. By developing this analysis, this paper reveals that ‘border-making’ serves as a conceptual lens for examining the UK itself, the so-called “motherland” of colonialism. It therefore challenges existing border studies, which often consider the process of border-making only in countries considered former colonies or peripheral territories (e.g., Africa, Southeast Asia, the Americas). Keywords: Brexit, Border-making, Northern Ireland, Windsor Framework, International Relations Meskipun banyak kajian tentang Brexit (British exit) dan ‘Kerangka Kerja Windsor’, masih sedikit perhatian yang diberikan pada bagaimana kerangka kerja tersebut berfungsi dalam konteks pembentukan perbatasan yang lebih luas. Artikel ini berupaya mengisi kesenjangan ini dengan berargumen bahwa Kerangka Kerja Windsor bukan sekadar instrumen teknis pasca-Brexit, tetapi juga merupakan pendekatan baru untuk mengkonfigurasi ulang perbatasan Inggris Raya dalam tiga ranah konseptual: kekuasaan, kedaulatan bersama, dan hubungan internasional. Ketiga elemen ini saling terkait dalam pengoperasian Kerangka Kerja Windsor. Pelaksanaan kekuasaan Inggris di Irlandia Utara bergantung pada negosiasi dan pembagian kekuasaan dengan Uni Eropa, yang menggambarkan situasi kedaulatan bersama. Kerangka kerja ini meluas ke dalam hubungan internasional karena membentuk cara Inggris Raya mengelola hubungan pasca-Brexit dengan Uni Eropa dan menegaskan posisi globalnya. Dengan mengembangkan analisis ini, artikel ini mengungkapkan bahwa ‘pembentukan perbatasan’ berfungsi sebagai lensa konseptual untuk mengkaji Inggris Raya itu sendiri, yang disebut sebagai ‘tanah air’ kolonialisme. Oleh karena itu, artikel ini menantang studi perbatasan yang ada, yang sering kali mempertimbangkan proses pembentukan perbatasan hanya terjadi di negara-negara yang dianggap bekas koloni atau wilayah pinggiran (misalnya Afrika, Asia Tenggara, Amerika). Kata-kata Kunci: Brexit, Pembuatan perbatasan, Irlandia Utara, Kerangka Kerja Windsor, Hubungan Internasional
China’s Pragmatic Appropriation of Global South Narrative Fachrurreza, Ahmad Mujaddid; Ningsih, Sabda; Yunazwardi, Muhammad Iqbal
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.23-46

Abstract

The revival of Global South studies in International Relations signifies a major transformation in contemporary global dynamics. This article addresses the question of how China appropriates the Global South narrative and how this shift reflects both coloniality of power and heterarchy of power. Using a discourse analysis approach, the study examines official speeches, policy documents, and global initiatives such as the Belt and Road Initiative (BRI), BRICS, and the G77+China. The findings demonstrate that China employs South-South solidarity rhetoric to position itself as the leader of the Global South, yet in practice reproduces coloniality by creating new forms of dependency. Furthermore, the contemporary Global South reveals a heterarchical structure, where emerging powers such as China dominate smaller states. This indicates a shift in the meaning of the Global South: from the Bandung Spirit’s emancipatory ethos of anti-imperialism toward a pragmatic economic-political bloc driven by national interests. Thus, the revival of the Global South is paradoxical: it offers new opportunities for multipolarity among developing countries, while simultaneously undermining the emancipatory ideals of solidarity and equality that once defined the Bandung Spirit. Keywords: Global South; Bandung Spirit; China; Coloniality of Power; Heterarchy of Power Kebangkitan kembali kajian Global South dalam studi Hubungan Internasional menandai transformasi penting dalam dinamika global kontemporer. Artikel ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana China mengapropriasi wacana Global South dan bagaimana pergeseran makna ini mencerminkan kolonialitas dan heterarki kuasa. Dengan menggunakan metode analisis wacana, penelitian ini menelaah pidato resmi, dokumen kebijakan, serta inisiatif global seperti Belt and Road Initiative (BRI), BRICS, dan G77+China. Temuan pada penelitian menunjukkan bahwa China menggunakan retorika solidaritas selatan untuk memosisikan dirinya sebagai pemimpin Global South, namun praktiknya mereproduksi logika kolonialitas dengan menciptakan relasi ketergantungan baru. Selain itu, Global South kontemporer memperlihatkan struktur heterarki emerging powers seperti China menempati posisi dominan atas negara-negara kecil. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran makna Global South: dari spirit emansipatoris Bandung yang menolak imperialisme, menuju blok ekonomi-politik pragmatis yang sarat kepentingan nasional China. Dengan demikian, kebangkitan Global South bersifat paradoksal: membuka ruang multipolaritas baru bagi negara-negara berkembang, tetapi sekaligus mengikis nilai-nilai emansipasi dan kesetaraan yang menjadi fondasi Bandung Spirit. Kata-kata Kunci: Global South; Bandung Spirit; China; Kolonialitas Kekuasaan; Heterarki Kekuasaan
Social Justice in the Global South: the Cosmopolitanism Dimension of Indonesian Humanitarian Aid Anabarja, Sarah; Farah Fadhilla, Nadya
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.245-268

Abstract

In recent years, humanitarian aid has increasingly been executed including but not limited to social media activism, volunteering, and crowd-funding. Rather than being framed by the state or its agents, the discourse of social justice in delivering foreign aid has been reiterated along with solidarity as a driving force to help vulnerable target communities. Thus, we choose cases of humanitarian aid delivered to address the crises faced by the Rohingya and Palestinian peoples to represent the humanitarian crisis in the Global South. Through literature review and analysis of advocacy by civil society and government policy, this article finds that the activism of Indonesian Islamic NGOs is proven to be one of the determinant factors of Indonesian humanitarian aid in the Global South. The NGOs channel the voices and sentiments of their community toward their humanitarian aid activism. We develop the argument by examining the contributions of the prominent Islamic NGOs’ activism in mobilizing humanitarian aid as their interpretation of social justice norms in vulnerable societies in the Global South.  Keywords: Social Justice, Global South, Islamic NGOs, Cosmopolitanism, Indonesian Humanitarian aid.  Bantuan kemanusiaan adalah salah satu komponen penting dalam interaksi antar masyarakat internasional. Dalam perkembangannya, bentuk bantuan kemanusiaan semakin banyak dilangsungkan melalui beragam cara, termasuk ativisme sosial yang digerakkan oleh sukarelawan. Bergeser dari perspektif negara, ide terkait keadilan sosial dalam penyaluran bantuan kemanusiaan juga tercermin dari bentuk solidaritas yang ditujukan pada komunitas yang rentan secara transnasional. Artikel ini menilik kasus bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia bagi masyarakat Rohingya dan Palestina sebagai representasi krisis kemanusiaan di “Global South”. Melalui tinjauan literatur dan analisis pada aktivitas advokasi masyarakt sipil dan kebijakan pemerintah, artikel ini menemukan bahwa aktivisme Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Islam di Indonesia terbukti menjadi salah satu faktor penentu bantuan kemanusiaan Indonesia. Penulis mengembangkan argumen ini dengan melihat kontribusi aktivisme LSM Islam terkemuka dalam memobilisasi bantuan kemanusiaan sebagai interpretasi mereka terhadap norma-norma keadilan sosial pada masyarakat rentan di “Global South”. Kata kunci: Keadilan Sosial, Global South, LSM Islam, Kosmopolitanisme, Bantuan Kemanusiaan Indonesia

Page 1 of 2 | Total Record : 11