cover
Contact Name
Dr. rer.nat. Muldarisnur
Contact Email
-
Phone
+6282387463421
Journal Mail Official
jfu@sci.unand.ac.id
Editorial Address
Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas ,Kampus Unand Limau Manis Padang 25163
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Fisika Unand
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23028491     EISSN : 26862433     DOI : https://doi.org/10.25077/jfu
Makalah yang dapat dipublikasikan dalam jurnal ini adalah makalah dalam bidang Fisika meliputi Fisika Atmosfir, Fisika Bumi, Fisika Intrumentasi, Fisika Material, Fisika Nuklir, Fisika Radiasi, Fisika Komputasi, Fisika Teori, Biofisika, ataupun bidang lain yang masih ada kaitannya dengan ilmu fisika.
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 3 (2017)" : 30 Documents clear
Pengaruh Temperatur Sintering Terhadap Suseptibilitas Magnetik dan Struktur Stronsium Ferit (SrFe12O19) Pasir Besi Batang Sukam Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat Helfi Syukriani; Arif Budiman; Dwi Puryanti
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.177 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.3.225-231.2017

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang sintesis magnet ferit menggunakan metode metalurgi serbuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur sintering terhadap suseptibilitas magnetik dan struktur stronsium ferit (SrFe12O19). Stronsium ferit dibuat dengan mencampurkan hematit hasil oksidasi magnetit pasir besi Batang Sukam dan stronsium karbonat. Campuran tersebut kemudian dikalsinasi pada temperatur 800°C, dikompaksi dan disintering pada temperatur 800 °C, 900 °C dan 1000 °C. Bartington MS2 Magnetic Susceptibility Meter digunakan untuk mengukur nilai suseptibilitas magnetik dan XRD (X-Ray Diffractometer) digunakan untuk menentukan struktur sampel yang meliputi perubahan fasa, struktur dan ukuran kristal. Hasil menunjukkan bahwa sampel yang disintering memiliki nilai suseptibilitas magnetik berturut-turut sebesar 975,2000×10-8 m3/kg, 339,2228×10-8 m3/kg dan 209,0273×10-8 m3/kg. Nilai suseptibilitas magnetik menurun seiring dengan peningkatan temperatur sintering. Hasil XRD menunjukkan bahwa pada sampel telah terbentuk fasa stronsium ferit tetapi belum dalam bentuk fasa tunggal. Temperatur sintering yang semakin meningkat menghasilkan fasa stronsium ferit semakin mendekati fasa tunggal. Stronsium ferit yang dihasilkan mempunyai struktur kristal heksagonal. Sampel yang disintering pada temperatur 800 °C, 900 °C dan 1000 °C dihasilkan stronsium ferit dengan ukuran kristal sebesar 39,63 nm, 26,31 nm dan 42,10 nm.Kata kunci: perubahan fasa, sintering, stronsium ferit, struktur kristal, suseptibilitas magnetik.
Karakterisasi I-V Semikonduktor CuO Didoping TiO2 sebagai Sensor Gas Hidrogen Sinta Maiyeni; Elvaswer Elvaswer
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.79 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.3.263-269.2017

Abstract

Telah dilakukan karakterisasi sensor gas hidrogen berupa pelet dengan bahan utama CuO yang didoping dengan TiO2. Pelet sensor gas hidrogen dibuat dengan variasi doping TiO2 0%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% terhadap bahan utama CuO. Sensor gas hidrogen dibuat dengan metode reaksi keadaan padat. Sensor gas hidrogen diuji pada temperatur ruang dengan melihat karakteristik I-V, sensitivitas, konduktivitas, waktu respon, dan kristalinitas. Karakteristik I-V menunjukkan bahwa sampel dengan doping TiO2 sebanyak 6% mol memiliki sensitivitas tertinggi yaitu 2,80 pada tegangan operasional 9 Volt. Nilai konduktivitas tertinggi dimiliki sampel CuO doping 6% mol TiO2 yaitu 19,65 x 10-5/Ωm pada lingkungan hidrogen. Waktu respon, konduktivitas dan ukuran kristal dari sampel yang memiliki sensitivitas tertinggi akan diukur. Waktu respon sampel CuO didoping 6% mol TiO2 adalah 42 s pada tegangan 9 Volt. Hasil XRD menunjukkan ukuran kristal CuO didoping 6% mol TiO2 yaitu 143,40 nm lebih besar dibandingkan dengan bahan CuO tanpa doping yaitu 128,21. Sensor gas hidrogen telah mampu membedakan kondisi di lingkungan hidrogen dengan kondisi di lingkungan udara, dengan sensitivitas yang tinggi dan waktu respon yang singkat. Sensor yang paling optimal digunakan adalahCuO didoping 6% mol TiO2. Kata kunci : sensor gas hidrogen, CuO, TiO2, sensitivitas, konduktivitas, waktu respon
Rancang Bangun Alat Transmisi Data Temperatur Gunung Api Menggunakan Transceiver nRF24L01+ Muhammad Shadri; Wildian Wildian
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.934 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.3.195-201.2017

Abstract

Penelitian ini merancang bangun alat transmisi temperatur gunung api menggunakan sistem telemetri nirkabel sensor berbasis Arduino Uno R3. Perangkat keras sistem ini terdiri dari satu unit transmitter yang dilengkapi oleh sensor LM35 dan satu unit receiver yang terhubung dengan pemograman LabView pada PC. Semua unit dikendalikan dengan menggunakan Arduino Uno R3. Data temperatur dikirim oleh unit transmitter ke unit receiver menggunakan transceiver nRF24L01+ yang memanfaatkan gelombang radio sebagai media pengiriman. Hasil pengujian sensor LM35 meperlihatkan bahwa hubungan antara tegangan keluaran sensor dengan temperatur adalah linear dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9987. Pengujian transceiver nRF24L01+ pada kondisi tanpap enghalang atau line of sight (LOS) diperoleh jarak maksimum sebesar 1,1 km. Pengujian transceiver nRF24L01+ pada kondisi dengan penghalang atau non line of sight (NLOS) pada posisi datar diperoleh jarak maksimum 258 m. Pada posisi tak datar transceiver nRF24L01+ bekerja maksimum pada sudut kemiringan sebesar 7,30° yaitu dengan jarak transmisi 329,67 m. Pada sudut kemiringan lebih besar dari 7,30° maka jarak transmisi akan berkurang.Kata kunci: gunungapi, gelombang radio, LM35, telemetrinirkabel, transceiver nRF24L01+
Perancangan Fotobioreaktor Mikroalga Chlorella vulgaris untuk Mengoptimalkan Kosentrasi Oksigen (O2) Nadya Okta Biolita; Harmadi Harmadi
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.849 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.3.296-305.2017

Abstract

Telah dilakukan perancangan fotobioreaktor mikroalga Chlorella vulgaris untuk mengoptimalkan konsentrasi Oksigen (O2) menggunakan sumber cahaya dari lampu halogen dan LED biru. Pada perancangan ini digunakan cahaya matahari sebagai pembanding dari sumber cahaya buatan dan cahaya dengan intensitas 0 lux untuk kontrol perlakuan pada ruangan gelap. Sistem dilengkapi dengan alat kontrol temperatur menggunakan dua sensor LM35. Fotobioreaktor memiliki dua tabung, masing-masing tabung berisi 1250 ml mikroalga Chlorella vulgaris. Tabung pertama disuplai gas CO2 dengan kecepatan alir 0,5 L/min dan tabung kedua tidak disuplai gas CO2. Intensitas sumber cahaya lampu halogen divariasikan pada 1000, 3000 dan 5000 lux. Intensitas LED biru yang digunakan adalah 1065 lux. Pengontrolan temperatur berhasil mempertahankan temperatur fotobioreaktor pada rentang 25 – 35 °C. Konsentrasi maksimum gas O2 yang dihasilkan yaitu 21,7 % pada fotobioreaktor yang menggunakan lampu halogen 1000 lux dengan suplai gas CO2 dengan lama penyinaran 7 jam. Hasil ini sesuai dengan fotobioreaktor menggunakan sumber cahaya matahari dengan suplai gas CO2 pada jam 15.00 WIB. Kata kunci: fotobioreaktor, lampu halogen, LED biru, LM35, mikroalga Chlorella vulgaris.
Uji Kesesuaian Pesawat Fluoroskopi Intervensional merek Philips Allura FC menggunakan Detektor Unfors Raysafe X2 di Rumah Sakit Universitas Andalas Rika Susanti; Dian Milvita; Kri Yudi Pati Sandy
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.739 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.3.232-239.2017

Abstract

Telah dilakukan uji kesesuaian pesawat fluoroskopi intervensional merek Philips Allura FC menggunakan detektor unfors raysafe x2 di instalasi radiologi rumah sakit Universitas Andalas. Jenis pengujian yang dilakukan diantaranya uji kualitas citra, uji kolimasi, uji akurasi tegangan, uji kualitas berkas sinar-X, uji laju dosis tipikal pasien, uji kebocoran tabung sinar-X dan uji laju dosis input image intensifier. Hasil yang didapatkan yaitu untuk uji kualitas citra ≥ 1,6 lp/mm; uji kolimasi : (1) uji kesesuaian selisih lapangan kolimasi dengan berkas sinar-X sebesar 0,077% dan 0,25%, (2) uji kesesuaian lapangan berkas sinar-X dengan image intensifier sebesar 0,797% dan 0,503%, (3) uji kesesuaian titik pusat image intensifier dengan monitor sebesar 0,173%; uji akurasi tegangan dengan % error sebesar 4,02%; uji kualitas berkas sinar-X sebesar 5,14 mmAl pada tegangan 80 kVp; uji dosis tipikal pasien sebesar 6,81 mGy/menit dan 11,87 mGy/menit; uji kebocoran tabung sinar-X sebesar 0,159 mG/jam dan uji laju dosis input image intensifier sebesar 69,54 μGy/menit dan 45,84 μGy/menit. Hasil uji dibandingkan dengan nilai lolos uji yang ditetapkan oleh Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 9 Tahun 2011. Hasil yang diperoleh yaitu pesawat fluoroskopi intervensional merek Philips Allura FC dalam kondisi andal.Kata kunci : Uji Kesesuaian, Fluoroskopi Intervensional, Unfors Raysafe X2
Rancang Bangun Alat Transmisi Data Temperatur Gunung Api Menggunakan Transceiver nRF24L01+ Shadri, Muhammad; Wildian, Wildian
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.6.3.195-201.2017

Abstract

Penelitian ini merancang bangun alat transmisi temperatur gunung api menggunakan sistem telemetri nirkabel sensor berbasis Arduino Uno R3. Perangkat keras sistem ini terdiri dari satu unit transmitter yang dilengkapi oleh sensor LM35 dan satu unit receiver yang terhubung dengan pemograman LabView pada PC. Semua unit dikendalikan dengan menggunakan Arduino Uno R3. Data temperatur dikirim oleh unit transmitter ke unit receiver menggunakan transceiver nRF24L01+ yang memanfaatkan gelombang radio sebagai media pengiriman. Hasil pengujian sensor LM35 meperlihatkan bahwa hubungan antara tegangan keluaran sensor dengan temperatur adalah linear dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9987. Pengujian transceiver nRF24L01+ pada kondisi tanpap enghalang atau line of sight (LOS) diperoleh jarak maksimum sebesar 1,1 km. Pengujian transceiver nRF24L01+ pada kondisi dengan penghalang atau non line of sight (NLOS) pada posisi datar diperoleh jarak maksimum 258 m. Pada posisi tak datar transceiver nRF24L01+ bekerja maksimum pada sudut kemiringan sebesar 7,30° yaitu dengan jarak transmisi 329,67 m. Pada sudut kemiringan lebih besar dari 7,30° maka jarak transmisi akan berkurang.Kata kunci: gunungapi, gelombang radio, LM35, telemetrinirkabel, transceiver nRF24L01+
Analisis Pengaruh Penambahan Parameter Medan Magnetik Terhadap Jumlah Dark Matter pada Kurva Rotasi Galaksi Bimasakti Wahyudi, Oqely; Zulfi, Zulfi; Wildian, Wildian
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.6.3.202-210.2017

Abstract

Telah dilakukan analisis pengaruh medan magnetik terhadap jumlah dark matter pada kurva rotasi dan dinamika rotasi galaksi Bimasakti. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan kurva rotasi dari model Sofue dkk (2008) dengan model Sofue (2014). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh medan magnetik terhadap jumlah dark matter di galaksi Bimasakti. Jumlah dark matter dianalisis melalui pencocokan kurva rotasi dari model dengan hasil pengamatan. Kurva rotasi model dikatakan cocok apabila memiliki nilai error yang paling kecil. Jumlah dark matter akhir yang dihasilkan adalah 33,1% lebih sedikit dari model Sofue (2014). Nilai ini berasal dari pengkoreksian parameter yang digunakan oleh Sofue (2014) sebesar 31,03% dan penambahan medan magnetik sebesar 2,07%. Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa dark matter berpengaruh besar dalam menjaga kestabilan rotasi galaksi. Kehilangan medan magnetik tidak terlalu mempengaruhi rotasi galaksi. Simulasi menunjukkan bahwa penambahan medan magnetik menyebabkan revolusi matahari berubah dari 241 juta tahun menjadi 242 juta tahun.Kata kunci: dark matter, kurva rotasi galaksi Bimasakti, medan magnetik
Karakteristik Arus-Tegangan Komposit dari Bahan Semikonduktor ZnO-TiO2 Sebagai Sensor Gas Hidrogen Riwanda, Rozi; Elvaswer, Elvaswer
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.6.3.211-216.2017

Abstract

Telah dilakukan karakterisasi sensor gas hidrogen berupa pelet dengan bahan ZnO-TiO2. Proses pembuatan sensor gas hidrogen diawali dengan pencampuran bahan menggunakan metode reaksi dalam keadaan padat. Sensor gas hidrogen diuji pada temperatur ruang dengan melihat karakteristik I-V, nilai sensitivitas, nilai konduktivitas, dan waktu respon. Berdasarkan karakteristik I-V diketahui bahwa sampel 70% mol ZnO + 30% mol TiO2 memiliki sensitivitas 6,67 pada tegangan 21 volt lebih tinggi daripada sampel 30% mol ZnO + 70% mol TiO2 sebesar4,5 pada tegangan 3 volt. Nilai konduktivitas sampel 70% mol ZnO + 30% mol TiO2 yaitu 2,15 x 10-3/Ωmlebih tinggi daripada sampel 30% mol ZnO + 70% mol TiO2 yaitu 1,34 x 10-3pada lingkungan hidrogen. Waktu respon dilakukan pada sampel yang memiliki sensitivitas yang lebih tinggi yaitu pada sampel 70% mol ZnO + 30% mol TiO2. Waktu respon pada sampel 70% mol ZnO + 30% mol TiO2 pada tegangan 21 volt adalah 48 sekon.Kata kunci: sensor gas hidrogen, ZnO-TiO2, konduktivitas, sensitivitas, waktu respon
Rancang Bangun Alat Ukur Kelembaban Udara Berbasis Mikrokontroler ATMega328 dengan Sensor Serat Optik Evanescent Menggunakan Film Gelatin Khairunnisa, Fitria; Harmadi, Harmadi
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.6.3.217-224.2017

Abstract

Telah dirancang alat ukur kelembaban udara dengan sensor serat optik evanescent. Cladding serat optik dikupas dan diganti dengan film gelatin. Variasi panjang pengupasan cladding serat optik adalah 1 cm, 2 cm, dan 3 cm. Kelembaban udara diukur dengan mengukur kelembaban udara di dalam humidity chamber. Alat ukur dirancang menggunakan sistem sensor yang terdiri dari laser dioda sebagai sumber cahaya, serat optik, fotodioda sebagai fotodetektor, dan mikrokontroler sebagai pengolah sinyal. Kelembaban diukur berdasarkan tegangan keluaran fotodioda. Semakin tinggi kelembaban udara maka semakin tinggi tegangan keluaran fotodioda. Hasil karakterisasi serat optik menunjukkan serat optik dengan panjang pengupasan 1 cm adalah yang paling optimum dalam mengindra kelembaban. Nilai sensitifitas sensor yang dirancang adalah 0,0186 V/%RH dengan koefisien determinasi R2 = 0,9457. Persentase rata-rata kesalahan alat ukur yang dirancang adalah 1,56% dibandingkan dengan alat ukur acuan (humidity meter).Kata kunci: kelembaban udara, alat ukur, sensor serat optik, evanescent.
Pengaruh Temperatur Sintering Terhadap Suseptibilitas Magnetik dan Struktur Stronsium Ferit (SrFe12O19) Pasir Besi Batang Sukam Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat Syukriani, Helfi; Budiman, Arif; Puryanti, Dwi
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.6.3.225-231.2017

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang sintesis magnet ferit menggunakan metode metalurgi serbuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur sintering terhadap suseptibilitas magnetik dan struktur stronsium ferit (SrFe12O19). Stronsium ferit dibuat dengan mencampurkan hematit hasil oksidasi magnetit pasir besi Batang Sukam dan stronsium karbonat. Campuran tersebut kemudian dikalsinasi pada temperatur 800°C, dikompaksi dan disintering pada temperatur 800 °C, 900 °C dan 1000 °C. Bartington MS2 Magnetic Susceptibility Meter digunakan untuk mengukur nilai suseptibilitas magnetik dan XRD (X-Ray Diffractometer) digunakan untuk menentukan struktur sampel yang meliputi perubahan fasa, struktur dan ukuran kristal. Hasil menunjukkan bahwa sampel yang disintering memiliki nilai suseptibilitas magnetik berturut-turut sebesar 975,2000×10-8 m3/kg, 339,2228×10-8 m3/kg dan 209,0273×10-8 m3/kg. Nilai suseptibilitas magnetik menurun seiring dengan peningkatan temperatur sintering. Hasil XRD menunjukkan bahwa pada sampel telah terbentuk fasa stronsium ferit tetapi belum dalam bentuk fasa tunggal. Temperatur sintering yang semakin meningkat menghasilkan fasa stronsium ferit semakin mendekati fasa tunggal. Stronsium ferit yang dihasilkan mempunyai struktur kristal heksagonal. Sampel yang disintering pada temperatur 800 °C, 900 °C dan 1000 °C dihasilkan stronsium ferit dengan ukuran kristal sebesar 39,63 nm, 26,31 nm dan 42,10 nm.Kata kunci: perubahan fasa, sintering, stronsium ferit, struktur kristal, suseptibilitas magnetik.

Page 2 of 3 | Total Record : 30