cover
Contact Name
Iqbal Bafadal
Contact Email
iqbalbafadal@uinmataram.ac.id
Phone
+62818362124
Journal Mail Official
jurnal.qawwam@uinmataram.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming
ISSN : 19789378     EISSN : 25809644     DOI : https://doi.org/10.20414/qawwam.v13i2.1729
Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming has been enlisted with p-ISSN: 1978-9378 and e-ISSN: 2580-9644 and published per semester on January-June and July-December by Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) of Universitas Islam Negeri Mataram (Mataram State Islamic University). This Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming focuses on gender mainstreaming, women empowerment, child and familily, and other actual issues relevant to the focus and scope of journal.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 2 (2019): Gender Mainstreaming" : 5 Documents clear
GUGAT CERAI: MEMBEBASKAN PREMPUAN DARI PENDERITAAN Nurmala Fahriyanti
QAWWAM Vol. 13 No. 2 (2019): Gender Mainstreaming
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/qawwam.v13i2.1468

Abstract

In Mataram West Nusa Tenggara, people is lives are regulated on daily basis by religious law, traditional (adat) law and state law. To understand these complex cultural and religious processes as they affect women in particular, I will examine the issue of divorce, also known as sue divorce. This tipe of divorce is socially-sanctioned. I will focus my examination in Mataram, an city of Lombok West Nusa Tenggara. In Lombok society marriage constitutes an important part of the life cycle. Someone is not considered an adult until marriage. Marriage is not only united two individual, but also united two families. However this dream canot be realized over the long term. If family problems arise and there are no suitable solutions, people may choose to divorce. For instance, if a wife unable to fulfill her obligations as a wife, her husband can divorce her by verbal means alone, according to any of the three existing legal systems (religious customary or state law). By contrast, if her husband unable to fulfill her obligations as a husband his wife can divorce him in only one way by making an application to Islamic Court to do divorce. In marriage available successful couple builds the family that sakinah, mawaddah and warahmah. But then available also that unsuccessful and end with separate or divorce. Separate constitutes a thing that often happens deep good human life divorce the initiating from the husband and also divorce the initiating from the wife, that its cause islamic law puts attention that adequately significant to that thing. It can appear if understand about islamic law, undoubtedly will find both of previous thing and its terminological islamic law. There is no divorce without started by marriage. But upon that aim not attained, therefore divorce constitutes last way out that must been sailed through. Divorce can't be done but there is grounds which corrected by religion, adat and state law. In islamic law, that divorce grounds experience developing according to social development. Basically islamic law establishes that divorce reason which is wrangle which really culminates and jeopardize the so called soul safety with “ syiqaq ”. Intention is if worried a couple its happening dispute (dispute not only means wrangle among husband or wife can also distinctive principle and opinion) therefore delegate a someone of its husband family and a someone of wife family. And if both of wife and husband will goodness and they can make resolution and look for the solution, but if there are suitable solution wife or husband can do divorce.
REPRESENTASI PEREMPUAN MUSLIM DALAM KANCAH POLITIK Bira Farida Nurul Layli; Muna Erawati
QAWWAM Vol. 13 No. 2 (2019): Gender Mainstreaming
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/qawwam.v13i2.1663

Abstract

Realitas politik yang menunjukkan masih rendahnya keterwakilan perempuan di DPRD yaitu masih berada di bawah proporsi. Hal ini menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan dalam kehidupan politik kurang diperhatikan. Tuntutan kesetaraan gender juga semakin digencarkan sehingga pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 dan Peraturan KPU yang beberapa pasalnya mengatur mengenai 30% keterwakilan perempuan. Kondisi seperti ini juga terjadi di DPRD Kota Salatiga. Pemilu pada tahun 2004, jumlah perempuan yang duduk di kursi legislatif mencapai lima orang. Tahun 2009 menjadi tujuh orang dan tahun 2014 masih mencapai tujuh orang. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimana representasi perempuan muslim di DPRD Kota Salatiga; kedua, bagaimana para legislatif perempuan muslim membangun dan mengembangkan komunikasi politik dengan konstituen dan pemerintah serta tantangan dan hambatan apa saja yang telah dilalui. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif yang terdiri dari pertama, pengumpulan data, kedua, reduksi data, ketiga, penyajian data, dan keempat, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh orang perempuan (28%) yang terpilih sebagai anggota DPRD Kota Salatiga pada periode 2014-2019. Hal ini mengindikasikan bahwa keterwakilan perempuan muslim dalam politik sudah cukup baik, hanya saja kiprah dan kontribusinya belum maksimal.
STABILITAS EMOSI PELAKU PERNIKAHAN DINI DALAM MENDIDIK ANAK BALITA Syamsul Hadi
QAWWAM Vol. 13 No. 2 (2019): Gender Mainstreaming
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/qawwam.v13i2.1709

Abstract

Angka pernikahan dini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang disebabkan oleh faktor ekonomi, faktor internal keluarga, dan faktor pergaulan. Kebanyakan pelaku pernikahan dini masih SMP dan SMA yang belum memiliki stabilitas emosi yang baik dan cenderung melakukan segala yang diinginkan tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi. Banyak dari pelaku pernikahan dini telah memiliki anak, dimana dalam mendidik anak terutama ibu dengan nikah dini secara tidak sadar menerapkan pola pendidikan permisif. Keadaan pribadi dan sikap setiap anak yang berbeda, menjadikan tugas mendidik menjadi berat untuk dilaksanakan, dan berpengaruh pada keadaan emosi orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kestabilan emosi pelaku pernikahan dini dalam mendidik anak belum baik, hal ini dikarenakan pelaku pernikahan dini masih mudah terpengaruh emosi negatif yang dapat dilihat dari respon emosi yang ditunjukkan. Respon emosi berlebihan tidak sesuai dengan pengertian stabilitas emosi, yaitu keadaan emosi yang tetap, tidak mudah berubah, dan respon yang ditunjukkan tidak berlebihan. Dalam meredakan emosi negatif dan menyelesaikan permasalah yang terjadi, pelaku pernikahan dini lebih sering menyerahkan pada keadaan dengan anggapan bahwa emosi tersebut akan hilang jika dibiarkan, tanpa ada usaha untuk mencari jalan keluar atau metode penyelesaian masalah yang sesuai. Meski pelaku pernikahan dini belum memiliki stabilitas emosi yang baik, namun beberapa pelaku pernikahan dini telah mampu untuk menjaga stabilitas emosi mereka dengan cara menenangkan diri terlebih dahulu dan menyelesaikan permasalahan yang menjadi sumber emosi.
SIKAP AMBIGU MAHASISWA TENTANG KESEMPATAN PEREMPUAN MENGEJAR PENDIDIKAN DAN KARIR Ros Mayasari
QAWWAM Vol. 13 No. 2 (2019): Gender Mainstreaming
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/qawwam.v13i2.1729

Abstract

Kecenderungan sikap menerima kesetaraan dan keadilan gender di Indonesia sudah berkembang dengan baik. Namun demikian, masih terdapat sikap yang ragu-ragu dan bahkan tidak setuju dengan isu-isu tertentu dalam wacana kesetaraan dan keadilan gender khususnya tentang kesempatan perempuan mengejar pendidikan dan berkarir. Sikap menolak ini ada di kalangan generasi milinela sekarang ini yang tidak lepas dengan maraknya wacana bahwa perempuan hanya bisa mulia jika menjadi Ibu atau menjadi istri shaleha. Bagaimana mahasiswa menanggapi wacana tersebut? Berdasarkan isian angket dan wawancara kepada 310 mahasiswa ditemukan bahwa responden tetap setuju perempuan melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya dan berkarir. Namun demikian, masih terdapat syarat tertentu bagi perempuan jika sudah menikah dan mempunyai anak. Namun syarat ini tidak ditujukan kepada laki-laki-laki etika ia menjadi suami atau ayah. Usaha pengarusutaman gender di perguuan tinggi menjadi salah satu usaha agar ke depan lebih banyak mahasiswa bersikap adil gender.
SEKS PRANIKAH DAN PENANGANANNYA PERSFEKTIF BEHAVIOR DAN KONSELING ISLAM Dwi Widarna Lita Putri; Riska Sanaputri
QAWWAM Vol. 13 No. 2 (2019): Gender Mainstreaming
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/qawwam.v13i2.1730

Abstract

Seks pranikah yang terjadi dikalangan remaja saat ini yang semakin hari semakin memprihatinkan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana penanganan seks pranikah persfektif behavior dan konseling islam yang dilakukan di Desa Tepas Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Artinya data yang dikumpulkan bukan dari berupa angka-angka melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya. Teknik yang digunakan adalah teknik behavior dan konseling islami. Teknik behavior berupa model assesment fungsional, eksposure terapi, asestion traning, dan self management. Sedangkan teknik konseling islami yang digunakan yaitu pendekatan sepritual dan menjalin kasih sayang. Hasilnya dari beberapa teknik diatas, teknik yang sangat berpengaruh dan bisa membuat para konseli atau korban merasa nyaman dan terelepas dari segala beban ialah teknik konseling islam yang pendekatan secara spritual karena para korban merasa lebih dekat dengan Sang Peciptanya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5