cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Furnace
ISSN : 25551801     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2015)" : 10 Documents clear
PENGARUH PROSES AGING PADA PADUAN Co-Cr-Mo TERHADAP KEKERASAN DAN KETAHANAN KOROSI UNTUK APLIKASI BIOMEDIS vicky dewayanto
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.18 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang  aging pada paduan berbasis kobalt. Penelitian ini menggunakan paduan Co-Cr-Mo (ASTM F75) hasil invesment casting dengan memvariasikan penambahan karbon 0,15 dan 0,25%C serta penambahan nitrogen 0,2%N. Paduan Co-Cr-Mo kemudian dilakukan solution treatment pada temperatur 1250 OC selama 6 jam. Kemudian material dilakukan proses aging dengan temperatur 600OC dengan waktu tahan aging 0, 2, 6, 12, dan 24 jam secara berturut turut dan kemudian di quench dengan media air. Setelah proses aging, material dilakukan pemeriksaan metalografi untuk mengetahui evolusi mikrostruktur hasil aging. Selajutnya material dilakukan uji kekerasan dengan metode Rockwell C. Untuk analisa fasa yang terbentuk dilakukan proses XRD dengan metode electrolytic extracted dengan menggunakan larutan H2SO4 10% , hasil ekstrak kemudian di saring dengan menggunakan membran saring dalam keadaan vakum untuk mendapatkan presipitatnya. Material selanjutnya dilakukan pengujian korosi dengan menggunakan alat CMS (Corrosion Measurement System) dengan metode Tafel untuk mengetahui laju korosi tiap material. Presipitat yang terbentuk selama proses  aging yakni fasa karbida (Cr23C6). Paduan Co-Cr-Mo dengan kandungan karbon yang tinggi menyebabkan tingkat kelarutan presipitat yang semakin rendah, hal tersebut dikarenakan fasa karbida Cr23C6 terbentuk karena adanya karbon dalam paduan yang menyebabkan presipitat yang terbentuk lebih sulit terlarut. Kadar karbon juga mempengaruhi kekerasan, nilai kekerasan tertinggi pada paduan Co-Cr-Mo dengan kadar karbon 0,25 %C waktu tahan aging 6 jam sebesar 38,9 HRC. Kadar karbon juga mempengaruhi nilai ketahanan korosi, laju korosi yang paling rendah juga terjadi pada paduan Co-Cr-Mo dengan kadar karbon 0,25 %C waktu tahan aging 12 jam sebesar 0,005649 mpy.
Proses Roasting Pasir Monasit dari Kepulauan Bangka Belitung dengan NaOH Padat Menggunakan Muffle Furnace Nurly, Hasfi Fajrian
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.635 KB)

Abstract

Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth (RE) adalah salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Logam tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan baku dalam industri elektronik, otomotif, dan militer. Monasit merupakan salah satu bentuk mineral logam tanah jarang yang ketersediannya di alam sangat melimpah di Kepulauan Bangka Belitung yaitu 1.564.707.280 ton (sumber daya tereka) dan 3.100.000 ton (cadangan terkira). Pasir monasit diklasifikasikan sebagai mineral fosfat. Fosfat sangat mengganggu pada proses ekstraksi selanjutnya, oleh karena itu dekomposisi fosfat dilakukan sebagai pre-treatment sebelum tahapan ekstraksi. Pre-treatment dilakukan dengan roasting yang ditambahkan NaOH padat selama 120 menit. Pelarutan kalsin hasil roasting dilakukan untuk melarutkan fosfat dengan aquades pada temperatur 800C selama 60 menit. Bahan baku pasir monasit dilakukan analisa morfologis permukaan. Perhitungan persen dekomposisi melalui hasil perbandingan analisa fosfat terkandung bahan baku awal dengan filtrat. Analisa persen kadar menggunakan data identifikasi bahan baku awal dengan residu hasil pelarutan menggunakan XRF. Hasil percobaan menunjukkan bahwa persen dekomposisi fosfat paling baik pada temperatur 4000C dengan klasifikasi ukuran butir -200#. Sedangkan persen kadar LTJ adalah 65,52% . Semakin kecil ukuran partikel dan semakin tinggi temperatur fosfat terdekomopisi semakin tinggi dan terjadi peningkatan kadar kandungan LTJ. Hasil tinjauan secara termodinamika reaksi roasting tersebut dapat berlangsung secara spontan pada (Ce) ΔG0298 = -1977,71 kJ/mol. Tinjauan secara kinetika reaksi lajudikendalikan secara intermediet dengan Energi aktivasi -4,9 kkal/mol.
PENGARUH TEMPERATUR DAN NITROGEN HASIL HOT ROLLING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADUAN Co-Cr-Mo UNTUK APLIKASI BIOMEDIS akhmad mardhani
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.926 KB)

Abstract

Paduan kobalt merupakan paduan logam yang banyak digunakan untuk mengganti tulang pinggul dan lutut yang rusak. Paduan ini memiliki ketahanan terhadap korosi, sifat mekanik yang sesuai dengan kekuatan tulang manusia dan memiliki ketahanan aus yang tinggi, sehingga baik dipergunakan sebagai material implan. Penelitian ini dilakukan pada paduan Co-28Cr-6Mo-0,25C-(0-0,2)N dengan tujuan untuk mengetahui fasa yang terjadi, struktur mikro, dan kekerasan dari paduan setelah rol panas dengan 90% reduksi pada berbagai temperature proses. Karakterisasi meliputi analisa struktur fasa menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), metalografi, dan kekerasan dengan metoda Vicker’s untuk as cast paduan, paduan setelah homogenisasi, dan setelah hot rolling pada beberapa temperature proses. Hasil XRD dan metalografi menunjukkan terdapat 3 fasa yang terbentuk yaitu fasa M12C, fasa CoCr, dan fasa M23C6, dimana fasa M23C6 merupakan fasa yang dominan dibanding fasa yang lain. Sementara hasil uji kekerasan menunjukkan peningkatan kekerasan dari setiap temperaturnya dan mengalami penurunan setelah homogenisasi yang disebabkan karena adanya penyeragaman butir
PENGARUH NITROGEN TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADUAN IMPLAN Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni YANG MENGANDUNG KARBON HASIL PROSES HOT ROLLING kafi kalam
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.79 KB)

Abstract

Paduan Co-Cr-Mo adalah logam paduan yang diaplikasikan sebagai logam implan sesuai dengan standar ASTM F75 yang memiliki sifat biokompatibilitas yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari kandungan karbon dan nitrogen dalam paduan Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni terhadap nilai kekerasan dan struktur mikro yang terbentuk. Ingot paduan Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni dipotong ukuran 30 x 20 x 10 mm dengan variasi komposisi kimia: Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,08C; Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,08C0,2N; Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,15C; Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,15C-0,2N; Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni0,25C; Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,25C-0,2N. Paduan Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni dihomogenisasi pada T=1200o C selama 6 jam, kemudian dipanaskan pada T=1200°C selama 90 menit dan di-hot-rolling dengan persen reduksi sebesar 90%, lalu didinginkan dengan media air. Hasil pengujian kekerasan material hot rolling menunjukkan bahwa paduan dengan kandungan C terkecil yaitu Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni -0,08C  (tanpa adanya N) memiliki nilai kekerasan rata-rata terendah sebesar 42,36 HRC, sedangkan nilai kekerasan tertinggi adalah dalam paduan Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,25C-0,2N dengan rata-rata nilai kekerasan 50,8 HRC. Pengujian XRD dilakukan pada material powder yang dibuat melalui proses ekstrak secara elektrolisis. Fasa yang dominan pada paduan Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,08C adalah fasa σ, sedangkan pada paduan Co28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni-0,25C-0,2N didominasi oleh presipitat M23X6. Meningkatnya kadar karbon menyebabkan jumlah presipitat M23X6 bertambah, sedangkan penambahan unsur C-N menekan terbentuknya fasa σ.
Karakterisasi Berbagai Jenis Batu Bara Menggunakan Teknik Kapasitansi Desiani Desiani
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.205 KB)

Abstract

Setiap jenis batu bara memiliki komposisi dan sifat yang berbeda, yang digunakan untuk menentukan peringkat dan kualitas batu bara. Salah satu metode baru untuk menentukan peringkat batu bara adalah dengan pengukuran kapasitansi. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi berbagai jenis batu bara berdasarkan metode pengukuran kapasitansi, sehingga diketahui faktor yang paling berpengaruh terhadap sifat dielektrik batu bara. Sampel yang digunakan berupa batu bara jenis lignite, subbituminous, bituminous, dan anthracite yang telah dilakukan preparasi dan sampel dipisahkan dalam fraksi ukuran -10+18#, -18+40#, -40+60#, -60+80#, dan -80#. Sampel tersebut telah dilakukan pengujian analisis proksimat untuk mengetahui kandungan moisture, volatile matter, ash, dan fixed carbon. Pengukuran nilai kapasitansi dilakukan menggunakan DAS 2-channel pada frekuensi 2,5 MHz dan LCR meter dengan variasi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kapasitansi dari tiap jenis batu bara berbeda-beda. Nilai konstanta dielektrik diperoleh dari perhitungan nilai kapasitansi sehingga didapatkan nilai konstanta dielektrik lignite, subbituminous, bituminous, dan anthracite. Hasil yang berbeda dipengaruhi oleh kandungan moisture pada batu bara. Semakin tinggi peringkat batu bara maka semakin kecil konstanta dielektriknya karena kandungan moisture dalam batu bara yang semakin kecil sesuai kenaikan peringkat batu bara. Untuk ukuran fraksi batu bara tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai kapasitansi batu bara. Pengukuran kapasitansi maksimal diukur pada frekuensi 2,59 – 3,2 MHz.
Rekayasa Sifat Termal Komposit Epoksi Berpengisi Nano Partikel Fe-Ni dengan Variabel Konsentrasi dan Temperatur Curing Ichwan Rizkiyandi
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.478 KB)

Abstract

Epoxy adalah jenis polimer thermosetting yang dapat digunakan sebagai bahan pelapis pada sirkuit terpadu. Penambahan partikel nano pada komposit diketahui dapat memperbaiki sifat termal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat termal Fe-Ni-epoksi sebagai nanokomposit dengan variasi komposisi pengisi dan pengawetan suhu. Karakterisasi termal nanokomposit menggunakan DSC dan TGA. Transisi kaca suhu (Tg) meningkat nanokomposit dengan penambahan nanopartikel Fe-Ni dalam epoksi. Pada hasil ini, optimum Tg adalah 46,83 º C dengan komposisi pengisi 1% dan suhu 90 o C. Td mengalami penurunan kehadiran nanopartikel. Td optimal diperoleh pada komposisi filler 0,01% dengan suhu curing 30ºC dengan nilai Tg 372,75ºC. Yang diamati menemukan bahwa efek pengeringan suhu relatif stabil terhadap sifat termal.
KETAHANAN AUS PADUAN Co-Cr-Mo DENGAN VARIASI KARBON HASIL HOT WORKING UNTUK APLIKASI BIOMEDIS Dizzy Agni
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan atau material yang sering digunakan untuk aplikasi biomaterial yang berguna untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak adalah logam contohnya adalah paduan logam berbasis Cobalt (Co). Paduan Co-Cr-Mo hasil pengecoran memiliki sejumlah presipitat yang tersebar di dalam matriks. Sifat ketahanan aus dan korosi paduan Co-Cr-Mo sangat dipengaruhi oleh jumlah, jenis fasa, ukuran dan distribusi presipitat yang tersebar di dalam matriks Co. Untuk mengetahui jumlah material yang terabrasif dalam siklus tubuh manusia maka dilakukan penelitian perbandingan ketahanan aus terhadap proses hot rolling yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses perlakuan panas terhadap struktur mikro dan ketahanan aus dalam paduan Co-Cr-Mo. Pada paduan Co-Cr-Mo hasil hot rolling terdeteksi adanya fasa dalam bentuk presipitat yang mempengaruhi karakteristik paduan. Sampel paduan Co-Cr-Mo dilakukan proses homogenisasi pada temperatur 12000C selama 6 jam lalu dilakukan annealing 12000C selama 2 jam, kemudian di-rolling dengan persen reduksi 10%, 30% dan 50%. Sampel selanjutnya diekstrak menggunakan larutan H2SO4 10% dan diuji menggunakan XRD untuk mengetahui presipitat yang terbentuk. Uji ketahanan aus dilakukan dengan metoda pin on disc. Paduan Co-Cr-Mo sebagai pin dan alumina sebagai disk dilakukan dalam 1% asam laktat. Hilangnya massa dan elusi ion diamati setelah pengujian ketahanan aus dengan menggunakan ICP. Hasil pengujian kekerasan dengan menggunakan indentor Vickers menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan karbon dan persen reduksi maka nilai kekerasan yang didapat pun meningkat. Pengamatan metalografi menunjukkan struktur mikro dan presipitat yang terbentuk dari proses hot rolling sampel Co-Cr-Mo, dimana fasa yang terbentuk dapat diamati.
Monitoring Fixed Carbon Menggunakan ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography) Aditya Pahlawan Munthe
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.49 KB)

Abstract

Menganalisa kandungan batu bara pada bidang industri saat ini memerlukan keterampilan teknis khusus dan membutuhkan waktu yang lama, sebagian besar kandungan batu bara dan kualitasnya dapat berubah karena lamanya proses analisa tersebut yang dapat merugikan hasil produksi. Diperlukan proses analisa yang cepat dan tidak memerlukan keterampilan khusus serta dapat mengetahui hasil analisanya secara real time. Dengan tujuan tersebut, ECVT digunakan untuk dapat menganalisa kandungan batu bara khususnya fixed carbon dan nilai kalori berdasarkan nilai kapasitansinya sehingga tidak terjadi perubahan kandungan batu bara karena lamanya proses analisa. Ekperimen dilakukan dengan memasukkan batu bara ke dalam sensor kapasitif.  Alat yang digunakan antara lain osciloscope dan signal generator, capacitometer dan sistem ECVT 12-Channel dengan sensor kapasitif yang digunakan berupa sensor kapasitif 2-channel dengan elektroda plat sejajar dan sensor kapasitif 12-channel dengan elektroda persegi. Dari eksperimen didapat data berupa nilai kapasitansi batu bara serta model matematis hubungan antara nilai kapasitansi dengan kadar fixed carbon dan nilai kalori batu bara. Analisa data yang dilakukan menggunakan metode cross correlation dengan nilai korelasi sebesar 0.99996. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem ECVT dapat dijadikan alat ukur untuk dalam membedakan jenis batu bara berdasarkan kadar fixed carbon dan nilai kalorinya.
KETAHANAN AUS PADUAN Co-Cr-Mo DENGAN VARIASI KARBON HASIL HOT WORKING UNTUK APLIKASI BIOMEDIS Dizzy Agni
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.862 KB)

Abstract

Bahan atau material yang sering digunakan untuk aplikasi biomaterial yang berguna untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak adalah logam contohnya adalah paduan logam berbasis Cobalt (Co). Paduan Co-Cr-Mo hasil pengecoran memiliki sejumlah presipitat yang tersebar di dalam matriks. Sifat ketahanan aus dan korosi paduan Co-Cr-Mo sangat dipengaruhi oleh jumlah, jenis fasa, ukuran dan distribusi presipitat yang tersebar di dalam matriks Co. Untuk mengetahui jumlah material yang terabrasif dalam siklus tubuh manusia maka dilakukan penelitian perbandingan ketahanan aus terhadap proses hot rolling yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses perlakuan panas terhadap struktur mikro dan ketahanan aus dalam paduan Co-Cr-Mo. Pada paduan Co-Cr-Mo hasil hot rolling terdeteksi adanya fasa dalam bentuk presipitat yang mempengaruhi karakteristik paduan. Sampel paduan Co-Cr-Mo dilakukan proses homogenisasi pada temperatur 12000C selama 6 jam lalu dilakukan annealing 12000C selama 2 jam, kemudian di-rolling dengan persen reduksi 10%, 30% dan 50%. Sampel selanjutnya diekstrak menggunakan larutan H2SO4 10% dan diuji menggunakan XRD untuk mengetahui presipitat yang terbentuk. Uji ketahanan aus dilakukan dengan metoda pin on disc. Paduan Co-Cr-Mo sebagai pin dan alumina sebagai disk dilakukan dalam 1% asam laktat. Hilangnya massa dan elusi ion diamati setelah pengujian ketahanan aus dengan menggunakan ICP. Hasil pengujian kekerasan dengan menggunakan indentor Vickers menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan karbon dan persen reduksi maka nilai kekerasan yang didapat pun meningkat. Pengamatan metalografi menunjukkan struktur mikro dan presipitat yang terbentuk dari proses hot rolling sampel Co-Cr-Mo, dimana fasa yang terbentuk dapat diamati
PENGARUH TEMPERATUR AUSTENISASI DAN WAKTU TAHAN TERHADAP SIFAT MEKANIK, TEBAL SCALE DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA PADUAN Ni-Cr-Mo Indah Hardiyanti
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.883 KB)

Abstract

Aplikasi produk baja telah banyak digunakan dan berbagai penelitian terus dikembangkan untuk mencari kualitas baja yang baik dan sesuai dengan kebutuhan serta dapat diproduksi di dalam negeri tanpa harus dilakukan impor, misalnya baja paduan yang terus dikembangkan salah satunya adalah baja paduan Ni-Cr-Mo dengan paduan unsur nikel, kromium dan molibdenum yang dapat meningkatkan kekerasan, kekuatan tarik, keuletan serta ketangguhan baja. Efek selama proses produksi adalah pada saat dilakukannya proses pemanasan yang menimbulkan terbentuknya lapisan oksida besi (scale) dan menyebabkan baja akan kehilangan berat. Oleh karena itu, pemilihan metode dan teknik perlakuan panas sangat diperlukan untuk meningkatkan sifat mekanik yaitu kekerasan, kekuatan tarik, dan ketangguhan namun dengan scale yang <5% berat baja. Penelitian yang dilakukan yaitu perlakuan panas pada temperatur austenisasi dengan temperatur 800°, 850° dan 900° C dengan waktu tahan  20, 40 dan 60 menit, kemudian dilakukan pendinginan cepat (quenching) sehingga dapat meningkatkan sifat mekanik yaitu kekerasan. Pada penelitian kali ini dilakukan pengujian sifat mekanik yaitu pengujian kekerasan dan pengujian impak, selanjutnya adalah pengamatan metalografi yang terdiri dari pengamatan struktur mikro dan pengamatan ketebalan scale. Struktur mikro yang dihasilkan dari proses perlakuan panas adalah martensit karena hasil dari pendinginan cepat (quenching) yang merubah fasa austenit menjadi martensit secara cepat. Data hasil kekerasan tertinggi pada temperatur 850°C waktu tahan selama 60 menit yaitu 588,35 HVN dengan energi impak dan tebal scale yaitu 8,5 Joule dan 91,5 μm. Sedangkan data hasil kekerasan terendah adalah pada temperatur 800°C yaitu 539,34 HVN dengan energi impak dan tebal scale yaitu 5 Joule dan 47,81 μm.

Page 1 of 1 | Total Record : 10