cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2017)" : 50 Documents clear
ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BAWANG MERAH DI DESA BANJAREJO KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG Ubu Weking, Maria Magdalena Prasedis; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Suwasono, Son
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red onion is used as cooking spice and its role can not yet be replaced by other types of crops so that onion farming is profitable for farmers but farmers still experience constraints on marketing the results. The issue of onion marketing is inseparable from the farmer institution that has not functioned optimally and the capital institution has not been reached for the farmers. The purpose of this study is to analyze the cost of production, marketing channels, profit middlemen and the efficiency of onion marketing. Research location in Banjarejo Village, Ngantang District, Malang Regency. The method used in this study is purposive sampling with a sample of 70 people, data analysis techniques used in this study that is, calculate the marketing margin, share price. The research data was collected by distributing questionnaires. The conclusion of this study the amount of cost incurred by each marketing agency have an effect on the price determination of onion, marketing channel of shallots used by farmers are Farmers - Consumers, Farmers - Wholesalers - Retailers - Consumers, Farmers - Wholesalers - Wholesalers - Retailers Intercity - Consumers, Farmers who directly sell the results of onion farming to consumers get more benefits than using other marketing channels. The marketing channels II and III as a whole are not efficient yet, but as an alternative farmers can use marketing channel II, considering separately the share price of farmers exceeds the minimum minimum efficient. Bawang merah digunakan sebagai bumbu masakan dan perannya belum dapat digantikan oleh jenis tanaman lainnya sehingga usahatani bawang merah menguntungkan bagi petani akan tetapi petani masih mengalami kendala pada pemasaran hasil. Permasalahan pemasaran bawang merah tidak terlepas dari kelembagaan petani yang belum berfungsi secara optimal dan lembaga permodalan belum terjangkau bagi petani. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis biaya produksi, saluran pemasaran, keuntungan tengkulak dan efisiensi pemasaran bawang merah. Lokasi penelitian di Desa Banjarejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan sampel sebanyak 70 orang, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni, menghitung marjin pemasaran, share harga. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menyebarkan angket. Kesimpulan dari penelitian ini besarnya biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran berpengaruh terhadap penentuan harga jual bawang merah, Saluran pemasaran bawang merah digunakan oleh petani adalah Petani ? Konsumen, Petani ? Tengkulak ? Pengecer ? Konsumen, Petani ? Tengkulak ? Pedagang Besar ? Pengecer Antarkota ? Konsumen, Petani yang langsung menjualkan hasil pertanian bawang merah ke konsumen mendapatkan keuntungan lebih besar daripada menggunakan saluran pemasaran lain. Saluran pemasaran II dan III secara keseluruhan belum efisien, namum sebagai alternatif petani dapat menggunakan saluran pemasaran II, mengingat secara terpisah share harga petani melampui batas minimum efisien.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK KASCING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI RAWIT (Capsicum frutescents L.) Sapri, Sapri; Indawan, Edyson; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chilli pepper (Capsicum frutescens L.) is vegetables with high economic value and suitable to be developed, and has a relatively high nutrient. Vermicompost is an organic fertilizer produced from digestion in the intestines and feces discharged as a worm that has been fermented and dried as solid fertilizer. destination of research to study and determine the effect of organic fertilizers vermicompost on the growth and yield of chilli pepper. Research conducted at the Business Incubation Courses in Tlogomas, Lowokwaru District, Malang Regency, during from May until September 2016, by using a randomized block design Single (RAK) Factorial ie the dose of organic fertilizer Vermicompost (K). Date were analyzed by analysis of variance (ANOVA). the observation results showed that the organic fertilizer with a dose Vermicompost at 2500 gram/plant to treatment (K5) is dose optimal for plant growth while the chili on the plant height variable 17,18 cm and leaf 40,75 (sheet) at age 49 days after planting. Giving dose 2500 gram/plant to treatment (K5), can increase the amount of fruit as much as 19,17 fruit at age 49 days after planting, and weight fruit/plant 5,88 ons/plant equal to 166,69 gram/plant (3,22 ton/ha). Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan jenis sayuran yang bernilai ekonomi tinggi dan cocok dikembangkan, serta memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Kascing adalah pupuk organik yang dihasilkan dari proses pencernaan dalam tubuh cacing dan dibuang sebagai kotoran cacing yang telah terfermentasi dan dikeringkan sebagai pupuk padat. Tujuan penelitian untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik Kascing terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit. Penelitian dilaksanakan di Inkubasi Bisnis Lapangan di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Malang, Jawa Timur, Berlangsung sejak bulan Mei sampai dengan September 2016, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Tunggal (RAK) Faktorial yaitu dosis pupuk organik Kascing (K). Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis of varians (ANOVA). Hasil pengamatan menunjukan bahwa Pemberian pupuk organik Kascing dengan dosis 2500 g/tanaman pada perlakuan (K5) merupakan dosis yang optimal untuk sementara bagi pertumbuhan tanaman cabai rawit pada variabel tinggi tanaman 17,18 cm dan daun 40,75 (helai) pada umur 49. Pemberian dosis 2500 g/tanaman pada perlakuan (K5), adalah dosis yang optimal untuk sementara terhadap hasil jumlah bunga sebanyak 5,92 bunga/tanaman pada umur 63 hst. Pemberian dosis 2500 g/tanaman pada perlakuan (K5), dapat meningkatkan jumlah buah sebanyak 19,17 buah pada umur 91 hst, dan berat buah/tanaman 5,88 ons/tanaman setara dengan 166,69 g/tanaman (3,22 ton/ha).
PROPORSI TEPUNG SUWEG (Amorphophallus campanulatus B1) TERMODIFIKASI DENGAN JAGUNG PULUT PADA PEMBUATAN MIE INSTAN SERTA ANALISA USAHANYA Memet, Antonius; Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the best treatment proportion of modified Suweg flour with sticky corn in the manufacture of instant noodles. This research use dan experimental design of Completely Randomized Design (CRD) with one factor. The factor wasthe proportion of modified Suweg flourwith sticky corn, M1 = 90% Suweg starch + 10% sticky corn, M2 = 80% Suweg starch + 20% sticky corn, M3 = 70% Suweg starch + 30% sticky corn, M4 = 60% Suweg starch + 40% sticky corn, M5 = 50% Suweg starch + 50% sticky corn. The results of this study showed that the best treatment contained was in M3 proportion (70% modiefied Suweg starch : 30% sticky corn) with water content of 14,15%, ash content of 1,68%, a broken power (elasticity) of 0,76 N. Tujuan penelitian ini untuk menentukan perlakuan terbaik proporsi tepung umbi suweg termodifikasi dengan jagung pulut dalam pembuatan mie instan. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, faktornya yaitu proporsi tepung umbi suweg termodifikasi dengan jagung Pulut, M1 = 90% tepung umbi suweg + 10% jagung pulut, M2 = 80% tepung umbi suweg + 20% jagung pulut, M3 = 70% tepung umbi suweg + 30% jagung pulut, M4 = 60% tepung umbi suweg + 40% jagung pulut, M5 = 50% tepung umbi suweg + 50% jagung pulut. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan terbaik pada proporsi M3 (70% Tepung umbi suweg termodifikasi : 30% jagung pulut) dengan kadar air 14,15%, kadar abu 1,68%, daya patah 0,76 N.
RESPON TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) TERHADAP PUPUK BOKASHI DAN NPK Jumadi, Jumadi; Astutik, Astutik; Sutoyo, Sutoyo
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the fertilization combination effect of Bokashi and NPK on growth and yield of peanut. The research was conducted on land Gading Kulon village,Dau Subdistrict, Malang District in July to September 2014. The study was conducted using a randomized block design (RAK), which consists of two factors: 1) Factor 1 Type Bokashi: B1 = Bokashi chicken manure and B2 = Bokashi husk, 2) factor 2 dose NPK: D0 = Without NPK, D1 = 50 kg / ha of NPK and D2 = 100 kg / ha NPK. There were six combinations of treatments, each treatment was repeated 4 times, so there were 24 experiments. The variables measured were plant height, leaf number, number of branches, biomass plants, pods, pods wet weight, dry weight of pods. Each plot experiment was observed 5 plants. The results showed that there were an interaction between Bokashi type and NPK fertilizer on the plant height age of 21 days, the number of leaves 14 days old, 14 days old branch number and weight of pods wet and dry peas weight. Separately, NPK fertilizer effect on plant height age of 21 days while Bokashi fertilizer effect on plant biomass. The best result of Peanut yield (pod wet, dry pods) is obtained at treatment Bokashi chicken manure with NPK 50 kg / ha (B1D1) and did not differ with Bokashi husk without NPK (B2D0) and Bokashi rice husk with NPK 100 kg / ha (B2D2 ). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pemupukan bokashi dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di lahan Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang pada bulan Juli sampai bulan September 2014. Penelitian dilakukan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor yaitu: 1) Faktor 1 Jenis Bokashi:B1 = Bokashi kotoran ayam dan B2 = Bokashi arang sekam, 2) Faktor 2 Dosis NPK: D0 = Tanpa NPK, D1 = 50 kg/ha NPK dan D2 = 100 kg/ha NPK. Jadi terdapat 6 kombinasi perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 24 perlakuaan.Variabel yang diamati, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, biomassa tanaman, jumlah polong, bobot polong basah, bobot polong kering. Setiap petak percobaan diamati 5 tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi antara jenis bokashi dan pupuk NPK terhadap tinggi tanaman umur 21 hari, jumlah daun umur 14 hari, jumlah cabang umur 14 hari, berat polong basah dan berat polong kering. Secara terpisah pupuk NPK berpengaruh terhadap tinggi tanaman umurn 21 hari sedangkan pupuk bokashi berpengaruh terhadap biomassa tanaman.Hasil kacang tanah (polong basah dan polong kering) terbaik diperoleh pada bokashi kotoran ayam dengan NPK 50 kg/ha (B1D1) dan tidak berbeda dengan bokashi arang sekam tanpa NPK (B2D0) maupun dengan NPK 100 kg/ha (B2D2).
RESIDU PUPUK N,P,K DAN BIOCHAR PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MUSIM TANAM KEDUA Nababan, Candro Borsak; Adisarwanto, Titis; Widowati, Widowati
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is a continuation of research of maize plant in the first planting season. This study determined the residual effects of biochar on growth and yield of corn crops of the second growing season. Research using Factorial Random Block Design (RAK Factorial) which consists of two factors, namely factor 1: biochar consisting of rice husks, coconut shell, and wood (sono). Factor 2: the biochar dose consisted of four levels: 0 t ha-1, 15 t ha-1, 30 t ha-1, 45 t ha-1. There are 8 combinations of treatments, each repeated 3 times so that there are 24 plots. While in the second planting season there are 12 treatment combinations, each repeated 3 times so that there are 36 plots. The results showed that, biochar residue of 15 tons ha-1 showed better results than control and residues of rice husk biochar, coconut shell, wood, did not affect the growth and yield of corn crops. The result of this research can be concluded that biochar residue 15 ton ha-1 showed better result than control and residue of biochar husk rice, coconut shell, wood, no effect to growth and yield of corn crop. Penelitian ini merupakan lanjutan penelitian tanaman jagung pada musim tanam pertama. Penelitian ini menentukan efek residu biochar pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung musim tanam kedua. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial) yang terdiri dari dua faktor yaitu, faktor 1: biochar yang terdiri dari sekam padi, tempurung kelapa muda, dan kayu(sono). Faktor 2 : dosis biochar terdiri atas empat level yaitu, 0 t ha-1, 15 t ha-1, 30 t ha-1, 45 t ha-1. Terdapat 8 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 24 petak. Sedangkan pada musim tanam kedua terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 36 petak. hasil penelitian menunjukan bahwa, residu biochar 15 ton ha-1 menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan control dan residu jenis biochar sekam padi, tempurung kelapa, kayu, tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, residu biochar 15 ton ha-1 menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan control dan residu jenis biochar sekam padi, tempurung kelapa, kayu, tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.
EVALUASI KEINDAHAN LANSKAP PANTAI BALEKAMBANG DI DESA SRIGONCO KABUPATEN MALANG Putra, Anshori Andy; Djoko, Riyanto; Budiyono, Debora
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coast landscape is one of the region that have resources being diverse and the potential that beautiful .One of several shores visual having a beautiful coast is Balekembang which is located in the Village Srigonco , Districts Bantur , Malang district. Research aims to 1 ) determine and assess the quality of visual landscape tourism area based on the coast of Balekembang prediction beauty. 2 ) determine landscape zone the beauty of the coastal zone Balekembang perceptions of respondents . 3 ) make recommendations model landscape design the arrangement coast tourist Balekambang prediction based on the quality of visual. The research was done in the coastal Balekembang, Village Srigonco, Districts Bantur , Malang district , East Java. The time of this study was conducted for 6 months namely months November-may 2016. The quality of visual prediction carried out through a method of SBE? = (Z?? ? Z?o)X100. From the results of questionnaire done inputing data in the form of scoring tabulation respondents. Using distribution of the value of 1-10 rating. Intervals the values been divided into three class beauty ( high , being , and low ). Analysis undertaken , known that the total amount of SBE is highest in landscape 1 , 37 , 12 , 50 , 36 , 44 , 34 , 51 , 52 , 47 , 8 , 43 , 33 , 41 , 53 , 6 , 35 , and 54 the average value of between 97-64 .The category of visual being is found in a landscape 17 , 56 , 40 , 49 , 5 , 13 , 39 , 55 , 45 , 32 , 46 , 48 , 21 , 9 , 27 , 28 , and 25 63-32 with a value of .The category of visual low landscape is found in 29 , 42 , 19 , 11 , 38 , 31 , 16 , 3 , 26 , 18 , 14 , 10 , 20 , 4 , 22 , 15 7 , 23 , 2 , 30 , and 24 with a value of 31-0 . Lanskap pantai merupakan salah satu kawasan yang memiliki sumber daya yang beragam dan potensi yang indah. Salah satu pantai yang memiliki visual yang indah adalah Pantai Balekambang yang berada di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menentukan dan menilai kualitas visual lanskap kawasan wisata Pantai Balekambang berdasarkan pendugaan keindahan. 2) Menentukan zona keindahan lanskap kawasan Pantai Balekambang berdasarkan persepsi responden. 3) Membuat rekomendasi model desain penataan lanskap wisata pantai Belekambang berdasarkan pendugaan kualitas visual. Penelitian dilakukan di kawasan Pantai Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Waktu penelitian dilakukan selama 6 bulan yaitu bulan November-bulan Mei 2016. Pendugaan kualitas visual dilakukan melalui metode SBE? = (Z?? ? Z?o)X100. Dari hasil kuesioner dilakukan inputing data dalam bentuk tabulasi scoring responden menggunakan sebaran nilai rating 1-10. Interval nilai tersebut dibagi menjadi 3 kelas keindahan (tinggi, sedang, dan rendah). Analisis yang dilakukan, diketahui bahwa nilai SBE tertinggi terdapat pada lanskap 1, 37, 12 , 50, 36, 44, 34, 51, 52, 47, 8, 43, 33, 41, 53, 6, 35, dan 54 dengan nilai rata-rata antara 97-64. Kategori kualitas visual sedang terdapat pada lanskap 17, 56, 40, 49, 5, 13, 39, 55, 45, 32, 46, 48, 21, 9, 27, 28, dan 25 dengan nilai 63-32. Kategori kualitas visual rendah terdapat pada lanskap 29, 42, 19, 11, 38, 31, 16, 3, 26, 18, 14, 10, 20, 4, 22, 15 7, 23, 2, 30, dan 24 dengan nilai 31-0.
PENGARUH PUPUK CAIR DAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TERONG UNGU (Solanum melongena L.) Saru, Senodosius Samson; Adisarwanto, Titis; Hamzah, Amir
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plant purple eggplant (Solanummelongena L.) is one of the vegetables that are consumed by many people and developed because it has a high nutritional ingredient. Efforts to increase the production of one of them is to pemumpukan. The study aims to determine the effect of liquid and inorganic fertilizers on growth and yield of eggplant purple. The research was conducted from December to March 2016, using a randomized block design (RAK) factors consist of two factors. Factor 1 is a type of liquid fertilizer, control (K0), 3 cc / 200 cc water / tan (N1), 3 g / 200 cc water / tan (G2), 2 cc / 200 cc water / tan (H3). The second factor is the dose of fertilizer Phonska there are 4 levels, control (P0), 5 g / tan (P1), 10 g / tan (P2), 15 g / tan (P3). There are 16 combinations of each treatment repeated 3 times. Variable observations include: plant height, number of flowers, leaf number, total number of fruits per plant, harvest fruit weight (g). The results showed that the liquid fertilizer (PC) has no effect on growth and yield of eggplant purple. Separately fertilizers Phonska 150 kg / hadapat promote plant growth aged 30, 40, 50 (HST), number of leaves aged 30, 40, 50 (HST), the amount of interest the age of 40, 50 (HST), the amount of fruit age 60 (hst ). Phonska fertilizer does not affect the fruit weight sega. Tanaman terong ungu (solanum melongena L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan dikembangkan karena mempunyai kandungannya gizi yang cukup tinggi. Upaya untuk meningkatkan produksi salah satunya adalah dengan pemumpukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk cair dan anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong ungu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember sampai Maret 2016, menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktor terdiri dari 2 faktor. Faktor 1 adalah jenis pupuk cair yaitu kontrol (K0), 3 cc/200 cc air/tan (N1), 3 gr/200 cc air/tan (G2), 2 cc/200 cc air/tan (H3). Faktor kedua adalah dosis pupuk phonska terdapat 4 taraf yaitu kontrol (P0), 5 gr/tan (P1), 10 gr/tan (P2), 15 gr/tan (P3). Terdapat 16 kombinasi perlakuan masing-masing di ulang 3 kali. Variabel pengamatan meliputi : tinggi tanaman, jumlah bunga, jumlah daun, jumlah total buah per tanaman, berat buahpanen (gr). Hasil penelitian menunjukan bahwa pupuk cair (PC) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil terong ungu. Secara terpisah dosis pupuk phonska 150 kg/hadapat meningkatkan pertumbuhan tanaman umur 30, 40, 50 (hst), jumlah daun umur 30, 40, 50 (hst), jumlah bunga umur 40, 50 (hst), jumlah buah umur 60 (hst). Pupuk phonska tidak berpengaruh terhadap berat buah sega.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN BUBUK KACANG HITAM TERFERMENTASI DENGAN KAPANG RHIZOPUS SP. Abdullah, Jamal; Mushollaeni, Wahyu; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Black bean (Cajanus sp.) is one kind of the Leguminosae class that can grow throughout the year and resistant to dry condition.Black bean is very potential as a source of nutrients, but until now has never been used in food and analyzed the feasibility.Fermentation is one of the treatment process that uses microbes help to improve the nutritional quality of a food product.Therefore, this study aimed to calculate the feasibility of black bean processing. The study was conducted by calculating the value of Cost of Goods (HPP), Break Even Point (BEP), dan Revenue Cost Ratio(RCR).The results showed that the capacity of 20 kg of black bean per day obtained a capital investment of 8,035,650 IDR, with operating expenses of 89,730,000 IDR per year. HPP point is 2,232,22 IDR per pack and net income (25% of HPP) is 55,806 IDR per day, and also the value of BEP is 107,865,168 IDR. Processing of fermented black bean powder business is visible with RCR value of 1.25. Kacang hitam (Cajanus sp.) merupakan salah satu jenis tanaman golongan Leguminosae yang mampu tumbuh sepanjang tahun dan tahan terhadap kondisi kering.Kacang hitam tersebut sangat berpotensi sebagai sumber zat gizi, namun hingga saat ini belum pernah dimanfaatkan dalam pangan dan dianalisa kelayakan usahanya. Fermentasi merupakan salah satu proses pengolahan yang memanfaatkan bantuan mikroba untuk meningkatkan kualitas gizi suatu produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kelayakan usaha pengolahan kacang hitam menjadi bubuk kacang hitam terfermentasi dengan kapang Rhizopus sp. Perhitungan kelayakan usaha dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai Harga Pokok Produksi (HPP), Break Even Point (BEP), dan Revenue Cost Ratio (RCR) dari usaha pengolahan kacang hitam tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan kapasitas bahan baku 20 kg kacang hitam per hari, membutuhkan modal investasi sebesar Rp. 8.035.650 dan biaya operasional sebesar Rp. 89.730.000 per tahun. Nilai HPP produk sebesar Rp 2.232 per kemasan dan laba bersih (25% dari HPP) adalah Rp 55.806 per hari. Nilai BEP didapatkan sebesar Rp. 107.865.168. Pengolahan usaha bubuk kacang hitam terfermentasi layak diusahakan dengan nilai RCR 1,25.
PERAN PENYULUH PERTANIAN TERHADAP MINAT PETANI PADA TANAMAN HORTIKULTURA DI KELOMPOK TANI GEMAH RIPAH DUA, DESA NGANTRU, KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG Bala, Paulus Aloysius; Arvianti, Eri Yusnita; Rofiatin, Umi
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hortikulture plants was most potensial plants that can be devolope at tropic culture like indonesia and had a good procpect in the future and also as a devisa source for indonesia.the most minim horticulture production were red chili, potatoes, and orange that the range is below 4.13% each years. The main comodities horticulture that had a good range and keep hight were chrysanthemum, salak and chili. But there was also horticulture komodities that had a range keep drop likes manggoes, orange, mangosteen and temulawak. The purpose of this was to determine the role of agricultural instructor to farmers' interest in horticultural crops in the village Ngantru, Ngantang, Malang. The method in this study was a qualitative method while the type of data analysis was descriptive analysis following with regression analysis. The population in this research were 83 members of farmers Gemah Ripah Dua and The numbers of samples in this study were 45 members of farmer group. From the results of statistical analysis were known that X1 can be seen from the t-count = 2445> t0,05 = 2.016. It means that the instructor as a motivator (X1) has a significant relationship to the interest of farmers in Horticultural Crops (Y). X2 can be seen from the t-count = 2,504> t0,05 = 2.018. It means that the instructor as an organizer and a dynamisator (X2) has a significant relationship to the interest of farmers in Horticultural Crops (Y). X3 can be seen from t-count = 3.996> t0,05 = 2.019. It means that the instructor as facilitator (X3) had a significant relationship to the interest of farmers in Horticultural Crops (Y). The statistical analysis showed a strong meaning. It can be seen from the value of R square of 0.697 or 69.7%. Meanwhile 0,303 or 30.3% are influenced by other factors that has not been studied before. From the results of statistical analysis known that the value of F = 5.769> value F0,05 = 4.20. This indicates that the independent variable has a significant relationship to the fixed variable (Y). Tanaman hortikultura merupakan komoditas pertanian pada iklim tropis yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan memiliki prospek yang cerah di masa mendatang sekaligus sebagai sumber perolehan devisa bagi Indonesia.Pertumbuhan produksi tanaman hortikultura terkecil yaitu pada cabe merah, kentang dan jeruk yang pertumbuhannya di bawah 4,13 % per tahun. Komoditas utama hortikultura yang mengalami peningkatan produktivitas yang tinggi diantaranya krisan, salak, dan cabe rawit. Namun demikian ada juga komoditi hortikultura yang mengalami penurunan produktivitas seperti mangga, jeruk, manggis dan temulawak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peran penyuluh pertanian terhadap minat petani pada tanaman hortikultura di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif sedangkan jenis analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan dilanjutkan dengan analisis regresi. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 83 anggota kelompok tani Gemah Ripah Dua dan sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu 45 anggota kelompok tani. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Random Sampling. Hasil analisis statistik diketahui bahwa X1 dapat dilihat dari thitung=2.445>t0,05=2,016 yang berarti bahwa Penyuluh Sebagai Motivator (X1) mempunyai hubungan yang signifikan terhadap Minat Petani Pada Tanaman Hortikultura (Y). Untuk X2 dilihat dari thitung=2,504>t0,05=2,018 yang berarti bahwa Penyuluh Sebagai Organisator dan Dinamisator (X2) mempunyai hubungan yang signifikan terhadap Minat Petani Pada Tanaman Hortikultura (Y). Untuk X3 dilihat dari thitung=3,996>t0,05=2,019 yang berarti bahwa Penyuluh Sebagai Fasilitator (X3) mempunyai hubungan yang signifikan terhadap Minat Petani Pada Tanaman Hortikultura (Y). Hasil analisis diketahui bahwa nilai R square sebesar 0,697 atau 69,7% sedangkan 0,303 atau 30,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang belum diteliti. Hasil analisis statistik diketahui bahwa nilai Fhitung=5,769>nilai F0,05=4,20 dapat dijelaskan bahwa variabel bebas mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variabel tetap.
ANALISIS KEBUTUHAN PAKAN DAN FEED CONVERTION RATIO (FCR) PADA USAHA KEMITRAAN BROILER WILAYAH NGANJUK (Studi Kasus Di Kemitraan Surya Mitra Farm Wilayah Nganjuk) Edin, Edin; Supartini, Nonok; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The goal of this research is to analysis of feed and Feed Conversion Ratio (FCR) on the broiler. The material used is broiler reared in the period of 2014 were age 1 to 36 days, ranging from DOC to age 36 days, with different populations of 9 breeder. The method of sampling used is the total sample of 9 (nine) breeders in Partnership Surya Mitra Farm Nganjuk Region. Data collection used in this research is data collection observation method using quisioner for every member of breeder of Partnership of Surya Mitra Farm Nganjuk Area. The results of the research on Broiler breeders in partnership Surya Mitra Farm Nganjuk Region can be concluded that the feed requirement analysis and Feed Convertion Ratio (FCR) of 9 plasma breeders have reached the standard of Core Company, especially in breeders Year 2014. Advice can be given feed and Feed Conversion Ratio (FCR) in Regional Nganjuk, then in this case the Company's core should still do a good cooperation, especially in terms of how to analyze the needs of feed and Feed Conversion Ratio (FCR), in order to more optimally and efficiently. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah analisis kebutuhan pakan dan Feed Convertion Ratio (FCR) pada broiler. Materi yang digunakan adalah broiler yang dipelihara dalam periode Tahun 2014 yaitu umur 1 sampai 36 hari, mulai dari DOC sampai umur 36 hari, dengan populasi yang berbeda dari 9 peternak. Metode dalam pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampel 9 (Sembilan) peternak di Kemitraan Surya Mitra Farm Wilayah Nganjuk. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi pengumpulan data memakai quisioner untuk setiap anggota peternak dari Kemitraan Surya Mitra Farm Wilayah Nganjuk. Hasil penelitian pada peternak broiler di kemitraan Surya Mitra Farm Wilayah Nganjuk dapat disimpulan bahwa analisis kebutuhan pakan dan Feed Convertion Ratio (FCR) dari 9 peternak plasma sudah mencapai standar kontrak Perusahaan Inti, khususnya pada peternak diperiode Tahun 2014. Saran untuk memperoleh analisis kebutuhan pakan dan Feed Convertion Ratio (FCR) yang baik oleh peternak plasma di Wilayah Nganjuk, maka Perusahaan Inti harus tetap melakukan kerjasama yang baik, terutama dalam hal bagaimana menganalisis kebutuhan pakan dan Feed Convertion Ratio (FCR), agar bisa lebih maksimal dan efisien.