cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2014)" : 14 Documents clear
Clinical Outcome of Cytomegalovirus Infection on Low Birth Weight Infants Ali Usman; Abdurachman Sukadi; Johanes Cornelius Mose
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2459.088 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1536

Abstract

Cytomegalovirus (CMV) is a DNA virus and a marker of the herpes virus groups. This virus was found only in human and the infection occurs for a long time. The transmission of CMV infection to fetus/neonates is via congenital infections or perinatal infections. Clinical manifestation of symptomatic CMV infection of the fetus has two presentations, early and second early manifestations. Diagnosis of neonatal CMV infection may be done by serologic test based on detection of IgM of CMV infection. The objective of this study is to asses clinical outcome of CMV infection of low birth weight infants delivery with long term sequelae. An observational study was conducted since March 2010 until December 2011 in Advent and Hermina Pasteur Hospital, all subjects were low birth weight infants (LBWI). The inclusion criterias are all LBWI who were delivered in those hospital or were a referred neonates. The exclusion criterias are major congenital defect, which is not related to congenital CMV infection and neonates’ death before one week of life. Every neonate was examine both their physical and peripher blood count, glucose, Ca. Liver function test done for neonates with acute hepatitis and titre IgG and IgM CMV serial, head ultrasound serial and head CT scan/MRI used for babies with intracranial bleeding and hydrocephaly.  During the period of this study there were 50 cases of LBWI, consisted of 41 preterm babies, and 30 small for gestational age babies. Clinical manifestation of acute hepatitis were found in 20% subjects, all of them with the  elevation of liver function test. Microcephaly which occured in the first untill three weeks of life were 8%. Ventricular dilatation were 10% in the first week of life and increased up to 48% after three weeks. Cases with intracranial haemorrhage were found in 6% and 10% with cerebral calcification on head while sensorineural hearing loss were 8%. All of LBWI have 100% serorespon immune IgG. IgM CMV reactive only in 12% cases but after 3 weeks increased up to 32%. During neonatal up to infancy period, the prevalence of CMV infection in Bandung is high (12+32%:44%) with long term sequelae which are serious and can be fatal. It is urgent and important to give information about this disease to new couples, every mother and healthcare providers in fetomaternal fields to prevent  CMV infection. KELUARAN KLINIS INFEKSI CYTOMEGALOVIRUS PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH Cytomegalovirus (CMV) adalah virus DNA dan termasuk dalam kelompok virus herpes. Virus ini hanya menyerang manusia dan infeksinya berlangsung lama. Penularan CMV pada janin/neonatus dapat melalui infeksi kongenital atau infeksi perinatal. Manifestasi Infeksi CMV pada janin terdiri dari dua bentuk yaitu manifestasi awal dan lanjut. Diagnosis infeksi CMV neonatal ditegakkan dengan tes serologis berdasarkan deteksi IgM CMV. Tujuan penelitian ini adalah menilai keluaran klinis infeksi CMV pada bayi berat lahir rendah dengan gejala sisa. Penelitian observasional telah dilakukan sejak Maret 2010 sampai dengan Desember 2011 di RS Advent dan RS Hermina Pasteur pada semua bayi berat lahir rendah (BBLR). Kriteria inklusi adalah semua BBLR yang lahir di kedua RS maupun merupakan pasien rujukan. Kriteria eksklusi adalah adanya kelainan kongenital mayor yang tidak berhubungan dengan infeksi CMV kongenital dan bayi yang meninggal dalam minggu pertama. Setiap bayi dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium (hitung darah tepi, kadar glukosa dan kalsium), tes fungsi hati dilakukan pada bayi yang menderita hepatitis akut, pemeriksaan kadar IgG dan IgM CMV serial, USG kepala dan CT-scan/MRI kepala pada kasus hidrosefalus dan perdarahan intrakranial. Selama penelitian terdapat 50 kasus BBLR yang terdiri atas 41 bayi prematur, 30 bayi kecil masa kehamilan. Hepatitis akut ditemukan sebanyak 20% yang semuanya disertai peningkatan tes fungsi hati. Mikrosefali yang terjadi sampai usia 3 minggu sebanyak 8%. Dilatasi ventrikular lateralis sebesar 10% pada minggu pertama dan meningkat sebanyak 48% setelah 3 minggu. Perdarahan intrakranial sebanyak 6% dan kalsifikasi serebral 10%. Gangguan pendengaran sebanyak 8%. IgG (+) pada semua BBLR (100%). IgM CMV reaktif hanya 12% tetapi meningkat sebesar 32% setelah usia 3 minggu. Simpulan, prevalensi infeksi CMV di Bandung cukup tinggi dengan gejala sisa neurologis yang berat dan fatal selama 6 bulan postnatal, sehingga perlu diberikan informasi mengenai penyakit ini kepada pasangan baru, setiap ibu, dan petugas kesehatan di bidang fetomaternal untuk mencegah infeksi ini.
Socio Cultural Factors in the Treatment of Pulmonary Tuberculosis: a Case of Pare-Pare Municipality South Sulawesi Titik Respati; Aisyah Sufrie
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3204.954 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1532

Abstract

Traditional healers still play an important part in the daily life of people in Pare-pare municipality. This study was to examine the cultural model for the implementation of tuberculosis control program.This study used qualitative research methods. Semi structured in-depth interview were used to collect the data. Respondents of this study were traditional healer, community leader and TB patients. The findings of the study suggest that traditional healers can play an important part in the tuberculosis program, because people tend to visit them the first instance for health care. The understanding and knowledge about tuberculosis of traditional healers is very limited, they believe God caused it, and only God can cure the disease. Based on the findings of the study, recommendations were made for enhancing the problem by including socio cultural factors that influence tuberculosis control program in Parepare municipality. They are strengthening the understand and knowledge about tuberculosis, providing health education with a view to balancing traditional beliefs and eradicating harmful beliefs, improving referrals to health clinics, providing health education and better communication in the community. FAKTOR SOSIO KULTURAL PADA TERAPI TUBERKULOSIS PARU: KASUS DI KOTAMADYA PARE-PARE SULAWESI SELATANDukun tradisional masih memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Pare-pare. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan model budaya dalam implementasi program pencegahan tuberkulosis (TB). Penelititan ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara terstruktur. Responden pada penelitian ini adalah dukun, tokoh masyarakat, dan penderita TB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukun dapat memegang peran sangat penting dalam program pencegahan TB karena masyarakat biasanya datang ke dukun sebagai penolong pertama untuk orang sakit. Pengertian dan pengetahuan dukun mengenai TB sangat terbatas. Mereka beranggapan bahwa Tuhan yang menjadi penyebab penyakit dan hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa rekomendasi perlu diperhatikan untuk meningkatkan program pencegahan dan pemberantasan TB dengan mengikutsertakan faktor sosial budaya dalam aktivitasnya. Beberapa di antaranya adalah dengan memperkuat pengetahuan dan pengertian dukun tenang TB, memberikan edukasi dengan memperhatikan pandangan kepercayaan lokal, dan menghilangkan kepercayaan yang membahayakan. Selain itu, akses terhadap pelayanan kesehatan serta komunikasi dengan petugas kesehatan perlu ditingkatkan.
Perbandingan Fungsi Paru Juru Parkir Basement dengan Juru Parkir Ruang Terbuka di Kota Bandung Galih Trissekti; Mia Kusmiati; Budiman Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3347.322 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1533

Abstract

Polusi udara bertanggung jawab atas 3,1 juta kematian seluruh dunia setiap tahunnya. Efek buruk dari polusi udara berdasarkan penelitian pada tiga lokasi berbeda di Beijing, Cina tahun 1986, menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi polusi udara sebesar 1 mikrogram/m3 mampu menurunkan forced expiratory volume in one second (FEV1) sebesar 35,6 mL. Populasi yang berisiko mengalami masalah pernapasan akibat terpapar asap kendaraan yang dapat terhirup setiap waktu ini secara jangka panjang, salah satunya adalah juru parkir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan fungsi paru juru parkir basement dengan juru parkir ruang terbuka di Kota Bandung periode Januari–Juni2014. Desain penelitian bersifat analitik kuantitatif dengan rancangan potong lintang terhadap masig-masing 33 subjek yang berprofesi sebagai juru parkir basement dan juru parkir ruang terbuka. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran data karakteristik fisik berupa usia (tahun) dan IMT (kg/m2), selanjutnya dilakukan pengukuran fungsi paru menggunakan parameter FEV1, forced vital capacity (FVC), dan FEV1/FVC dengan spirometri, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok juru parkir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai median FEV1 juru parkir basement (3.300 mL, range 2.600–4.400 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.000 mL, range 2.300–3.800 mL) dengan nilai p=0,011. Nilai FVC rata-rata juru parkir basement (3.587,88 ± 470,21 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.287,88 ± 478,77 mL) dengan nilai p=0,013. Nilai median FEV1/FVC juru parkir basement (0,94; range 0,79–0,98) dan juru parkir ruang terbuka (0,92; range 0,77–0,97) dengan nilai p=0,016. Simpulan hasil penelitian menunjukkan fungsi paru yang digambarkan dengan FEV1, FVC, dan FEV1/FVC pada juru parkir basement lebih baik daripada juru parkir ruang terbuka. THE COMPARISON OF LUNG FUNCTION BETWEEN BASEMENT PARKING AND STREET PARKING ATTENDANTS IN BANDUNG CITYAir pollutions responsible for 3.1 milion death in the world every years. The bad effect from it according to research in three different places of Beijing (1986) reveal that enhancement 1 microgram/m3 of air pollution concentration can cause reduction forced expiratory volume in one second (FEV1) about 35.6mL. Population with high risk to have respiratory disorder as consequence exposed to vehicle’s smoke that can inhaled anytime and long-term, one of which is parking attendants. This research is therefore conducted to obtain comparison of lung function between basement parking attendants and street parking attendants in Bandung city period January–June 2014. This research design is quantitative analysis with cross sectional method towards each 33 subjects that worked as basement parking attendants and street parking attendants. The demography characteristic such as age (years old) and BMI (kg/m2). Further performed test of lung function with parameters: FEV1, forced vital capacity (FVC), and FEV1/FVC by spirometer, furthermore compared between the two groups of parking attendants. The research result showed that FEV1 median score of basement parking attendants (3,300 mL, range 2,600–4,400 mL) and street parking attendants (3,000 mL, range 2,300–3,800 mL) with p=0.011. The FVC average score of basement parking attendants (3,587.88 ± 470.21 mL) and street parking attendants (3,287.88 ± 478.77 mL) with p=0.013. The FEV1/FVCmedian score of basement parking attendants (0.94; range 0.79–0.98) and street parking attendants (0.92; range 0.77–0.97) with p=0.016. In conclusion lung function described by FEV1, FVC, and FEV1/FVC in basement parking attendants are better than street parking attendants, with all score are significant.
Hubungan Jumlah Sel Limfosit dengan Usia dan Status Nutrisi pada Penderita Tuberkulosis Yura Pramesti Sahal; Apen Afghani; Rika Nilapsari
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2882.18 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1534

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi sistemik yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat memengaruhi sistem imunologi. Indikator perubahan sistem imunologi seseorang dapat dilihat dari perubahan jumlah sel limfosit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah limfosit dan status imunologi yang dilihat dari karakteristik usia dan status nutrisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan potong lintang yang dilakukan dengan menggunakan rekam medis. Pada penelitian ini menggunakan total sampling dan didapatkan 41 sampel penderita TB paru di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Bandung pada periode Januari-Mei 2013. Data yang didapatkan dilakukan uji statistika dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Hasil subjek yang didapatkan pada penelitian ini terdiri atas limfopenia 35 (85%) kasus dan normal 6 (15%) kasus. Setelah dilakukan uji statistik didapatkan tidak terdapat hubungan jumlah sel limfosit dengan usia pada penderita TB (p=0.692) dan tidak terdapat hubungan antara jumlah sel limfosit dengan status nutrisi penderita TB (p=0.996). Simpulan, tidak terdapat hubungan jumalh sel limfosit dengan usia dan status nutrisi. THE RELATIONSHIP OF LYMPHOCITE CELL COUNT WITH AGE AND NUTRITIONAL STATUS IN TUBERCULOSIS PATIENTSTuberculosis (TB) is systemic infection caused by bacteria of the Mycbacterium tuberculosis that influence immunological status. The indicator of immunological status changed is alteration of lymphocyte relative. The aims of this study is to investigate relationship between lymphopenia with immunological status in TB patients from characteristic of aged and nutritional status.  This research was using cross-sectional approach. This research was conducted using medical record sampling 41 pulmonary TB patient Al-Ihsan Hospital Bandung during January 2013-May 2013. The data were statistically analyzed using Kolmogorov Smirnov.  Subjects consisted of lymphopenia 35 (85.4%) cases and normal 6 (14.6%) cases. There was no significant relationship between lymphocyte cell count with aged group (p=0.692) and lymphocyte cell count with nutritional status in pulmonary TB (p=0.996). This research suggests to do further research with adequate sample and completed data.

Page 2 of 2 | Total Record : 14