cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pertambangan
ISSN : 24424234     EISSN : 29863910     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2015)" : 16 Documents clear
PENENTUAN ZONASI PERIZINAN PERTAMBANGAN MINERAL NON LOGAM DAN BATUAN DI KABUPATEN BLORA BAGIAN SELATAN PROVINSI JAWA TENGAH Dodi Bagus Widodo; Budiarto Budiarto; Abdul Rauf
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Blora (bagian selatan), Provinsi Jawa Tengah memiliki sumberdaya mineral bukan logam dan batuan cukup besar, sehingga perlu dilakukan zonasi perizinan pertambangan mineral bukan logam dan batuan untuk membantu pemerintah maupun investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Blora.Sumberdaya yang diteliti pada penelitian ini adalah pasirbatu, batugamping, dan gypsum. Mineral Pasir Batu, Batugamping dan Gypsum yang berada di Kabupaten Blora berada pada Kecamatan Cepu, Kec Randublatung, Kec Kedungtuban, Kec Jati, Kec Kradenan. Dengan total sumberdaya :  Pasir Batu : 2.199.000 m³  Batugamping : 99.960.000 m³  Gypsum : 4.820 m³Pada Penentuan Zonasi Perizinan Pertambangan Mineral Pasir Batu, Batugamping dan Gypsum pada Kabupaten Blora dilakukan dengan cara pertampalan (overlay). Adapun sektor-sektor terkait yang dapat di lakukan dengan cara pertampalan (overlay) ini berjumlah 11 parameter yaitu Ketinggian lahan, Kemiringan lahan, Rawan Bencana, Ketebalan tanah penutup, Air Tanah, Sungai dan Bangunan, Mata Air dan Peresapan Air, Hutan dan Perkebunan, Pariwisata, Pemukiman, Penggunaan Lahan Pertanian.Kemudian akan dibahas potensi sumberdaya pasirbatu, batugamping, dan gypsum pada daerah mana saja di Kabupaten Blora bagian selatan. Selanjutnya akan dibahas pula penentuan secara umum mengenai peraturan – peraturan dalam penambangan sumberdaya tersebut. Lebih jauh lagi akan dibahas mengenai teknik penambangan pada masing-masing sumberdaya dengan spessifik daerha masing – masing. Kata Kunci : Zonasi, mineral bukan logam dan batuan, Kabupaten Blora.
KAJIAN GEOTEKNIK TERHADAP RANCANGAN PENAMBANGAN BATUBARA BAWAH TANAH METODE SHORTWALL DI CV. ARTHA PRATAMA JAYA, KECAMATAN MUARA JAWA,KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Faisal Akbar Putra; Singgih Saptono; Peter Eka Rosadi
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CV. Artha Pratama Jaya (CV. APJ) merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pertambangan batubara yang berlokasi di Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Hasil eksplorasi lanjutan tahun 2012 menunjukan bahwa terdapat seam batubara yang prospek untuk ditambang secara tambang bawah tanah. Metode penambangan yang diterapkan oleh CV. APJ adalah metode shortwall dengan sistem mundur (retreating). Penambangan batubara dengan metode shortwall memiliki resiko yang besar terhadap keruntuhan atap lubang bukaan dan panel penambangan. Dengan adanya permasalahan tersebut diperlukan suatu kajian geoteknik terhadap kestabilan lubang bukaan (main incline shaft (MIS), main vent shaft (MVS), dan panel entries), kestabilan pillar (chain pillar dan barrier pillar), dan sistem penyangga yang digunakan.Parameter material properties didapat dari hasil pengujian laboratorium terhadap batuan utuh (intact rock). Analisis kestabilan lubang bukaan menggunakan metode elemen hingga (FEM) dengan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb (1779). Geometri MIS dan MVS berbentuk tapal kuda dengan geometri lebar 3 m, tinggi 2,8 m, jari-jari lengkungan 1,5 m. Panel entry terdiri dari main gate dan tail gate dengan bentuk trapezoidal, dengan ukuran lebar atas 2 m, lebar bawah 3 m, dan tinggi 3 m. Hasil analisis MIS secara keseluruhan dikategorikan aman (FK>1,5), hanya pada dinding kanan FK 1,5 kritis. MVS secara keseluruhan dikategorikan aman (FK>1,5), hanya pada atap (roof) FK 1,12 failure. Main gate untuk ketiga level penambangan secara keseluruhan aman (FK>1,3), hanya pada bagian dinding kanan dan kiri  FK failure disebabkan karena terjadi undercut pada lapisan batubara. Tail gate untuk ketiga level penambangan seluruhnya dikategorikan aman (FK>1,3). Karena terdapat beberapa bagian yang failure, maka disarankan menggunakan penyangga untuk memperkuat lubang bukaan dan mengantisipasi keruntuhan.Analisis chain pillar menggunakan rumusan Obert dan Duvall (1967), dan Bienieawski (1983). Hasil analisis chain pillar didapat lebar chain pillar (Wp) minimum dan faktor keamanan tiap level, yaitu level 1 (5,94 m dan FK 1,65), level 2 (6,97 m dan FK 1,34), dan level 3 (7,01 m dan FK 1,34). Secara keseluruhan lebar chain pillar yang digunakan oleh CV. APJ adalah 9 m dan berdasarkan nilai FK dikategorikan aman (FK>1,3). Analisis barrier pillar menggunakan rumusan Ashley (1930). Hasil analisis didapat lebar minimum level 1 (52,4 m), level 2 (57,3 m), dan level 3 (58,2 m). Lebar barrier pillar yang digunakan CV. APJ untuk seluruh level 40 m, kondisi tidak aman sehingga lebar barrier pillar harus disesuaikan dengan hasil analisis.Hasil analisis penyangga kayu menggunakan kayu kelas I jenis Ulin tegangan geser dan lentur yang dianalisis tidak melebihi yang diizinkan yaitu 66 kg/cm2 dan 660 kg/cm2.  Analisis penyangga rigid steel arches menghasilkan nilai section modulusW sebesar 34 cm3 dengan menggunakan spesifikasi GI 70 profile I-beams DIN 21541 dengan nilai Wx sebesar 35,7 cm3, maka dapat dikategorikan aman.Kata kunci : Pillar,  lubang bukaan, dan faktor keamanan
PENYELIDIKAN GEOMAGNET UNTUK PENDUGAAN BIJIH BESI PT BERKAH ALAM SEMESTA DI DESA BANA KECAMATAN BONTOCANI, KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN Winda Winda; Herianto Herianto; Untung Sukamto
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Berkah Alam Semesta (PT. BAS) melakukan eksplorasi guna mengetahui keberadaan bijih besi di daerah izin usaha pertambangan yang dimiliki. Metode yang dapat memberikan gambaran lokasi penyebaran terdapatnya bijih besi secara tidak langsug yaitu menggunakan metode geofisika. Bijih besi adalah benda logam yang memiliki sifat kemagnetan sehingga metode geofisika yang paling cocok digunakan adalah Geomagnet  Penyelidikan dengan menggunakan geomagnet bermanfaat untuk mengetahui keberadaan benda magnetik di bawah permukaan bumi dengan menangkap intensitas magnetik total.Tujuan Penelitian ini adalah mendapatkan data anomali magnetik dari setiap lintasan pengukuran yang telah diukur, sehingga dapat menduga penyebaran bijih besi pada daerah tersebut.Pengambilan data Geomagnet menggunakan Magnetometer G-816 dan GEM SYSTEM 19-T dan pengolahan data menggunakan dan pengolahan data menggunakan program surfer 10 dan Magpick untuk mengetahui penyebaran bijih besi serta program Mag2dc untuk estimasi kedalaman bijih besi.Setelah di lakukan pengambilan, pengolahan dan interpretasi data maka dapat diketahui . Lintasan yang dianggap prospek untuk diteliti lebih lanjut dengan metode geolistrik adalah lintasan S9,T1,L berada di sebelah Barat lokasi penelitian dan lintasan M,N,O,P berada di sebelah Timur Laut lokasi penelitian. Hal ini bisa dilihat pada peta penampang anomali magnetik. Hasil dari pengolahan menggunakan program mag2dc kedalaman bijih besi diperkirakan pada kedalaman 40-50m dari permukaan.KataKunci  :Geofisika, Geomagnet, software ; surfer 10, magpick, dan mag2dc
OPTIMALISASI PRODUKSI FINISHED COAL DENGAN MENGURANGI DOWN TIME PADA CRUSHING PLANT DI PT. TRUBAINDO COAL MINING, MELAK, KAB. KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR Rendy Julianto William; Dwi Poetranto; Eddy Winarno
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Trubaindo Coal Mining (PT. TCM) merupakan salah satu anak perusahaan dari PT. Indo Tambangraya Megah Group (ITMG) sebagai perusahaan tambang batubara yang terletak di Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, Propinsi Kalimantan Timur. PT. Trubaindo Coal Mining telah mengoperasikan crushing plant sebagai tempat proses peremukan batubara hasil penambangan untuk menghasilkan finished coal.Berdasarkan data yang didapat dari lapangan, down time pada bulan Januari sampai Maret 2013 (kuartal pertama) yaitu 647,84 jam dengan total produksi finished coal sebesar 1.773.918 ton. Berdasarkan data sampling dari laboratorium masih banyak terdapat batubara yang berukuran lebih dari 50 mm hasil peremuk kedua. Metode yang digunakan untuk mencari faktor – faktor penyebab down time ini dengan menggunakan pemantauan pada proses produksi finished coal dan untuk hasil peremukan kedua dilakukan analisa ukuran produk batubara dari dari data sampling untuk menentukan setting peremuk yang baru.Dari hasil pengamatan dilapangan maintenance time merupakan down time terbesar yaitu 289,89 jam (44,75%), idle time merupakan down time terbesar kedua yaitu 284,3 jam (43,88%) dan delay time sebesar 73,65 jam (11,37%). Untuk analisa distribusi ukuran batubara hasil peremukan kedua agar tidak terdapat batubara yang berukuran lebih besar dari 50 mm didapatkan setting 21 sampai 38 mm dari hasil analisa 9 data dari 3 kualitas batubara dan masih terdapat perlakuan terhadap finished coal di mine stockyard.Untuk mengoptimalkan produksi finished coal, dapat dilakukan dengan cara menggunakan setting terbaru untuk peremuk kedua. Setting terbaru antara 21 sampai 38 mm menghasilkan batubara yang lolos screen 50 mm. Perusahaan dapat mempertimbangkan untuk menerapkan setting 28 mm untuk 3 kualitas batubara. Setting 28 mm ini merupakan nilai yang keluar pada 9 data analisa ukuran produk peremuk kedua dan setting ini tidak menghasilkan batubara dengan ukuran yang lebih besar dari 50 mm. Sedangkan untuk mengurangi down time dapat dilakukan dengan cara pengumpanan secara kontinu, mengurangi waktu perbaikan dikarenakan kerusakan unit, dan mengatasi masalah logam yang masuk ke unit peremuk.Kata kunci : Crushing Plant, Down time, Finished Coal, Setting
KAJIAN RADIUS AMAN ALAT GALI MUAT TERHADAP FLYROCK PELEDAKAN PADA PIT 4500 BLOK 12 PT TRUBAINDO COAL MINING KUTAIBARAT KALIMANTAN TIMUR Arif Usman; Sudarsono Sudarsono; Indah Setyowati
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. TCM (Trubaindo Coal Mining) merupakan perusahaan tambang batubara yang terletak di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Pembongkaran lapisan overburden dilakukan dengan metode pengeboran dan peledakan dengan radius jarak aman untuk alat 300 m dan jarak aman manusia 500 m. Seiring dengan kemajuan penambangan, luas pit menjadi lebih sempit serta lokasi peledakan yang banyak dan menyebar pada Pit 4500 Blok 12. Kondisi tersebut mengakibatkan perpindahan alat muat terlampau jauh ketika dilakukan evakuasi sebelum peledakan dilakukan. Oleh karena itu, jika pada kondisi saat ini akan dilakukan penurunan radius jarak aman terhadap alat, maka diperlukan kajian terhadap flyrock dari kegiatan peledakan tersebut apakah radius aman tersebut dapat dikurangi atau tetap seperti keadaan saat ini. Penelitian dilakukan dengan menghitung lemparan flyrock terjauh dari lokasi peledakan baik secara teoritis maupun aktual di lapangan. Pengambilan data dilakukan sebanyak 13 kali pada kondisi lubang ledak basah dan 11 kali pada kondisi lubang ledak kering. Berdasarkan dari pengambilan data tersebut didapatkan lemparan flyrock terjauh secara teoritis menurut Adrian J. Moore dan Alan B. Richard pada lubang ledak basah, face burst: 177,49 m, cratering: 374,98 m, sedangkan pada lubang ledak kering, face burst: 141,53 m, cratering: 70,93 m. Lemparan aktual di lapangan didapatkan lemparan batuan terjauh pada kondisi lubang ledak basah: 277,18 m sedangkan pada kondisi lubang ledak kering: 96,96 m. Berdasarkan data tersebut maka diperlukan peninjauan kembali pada kondisi lubang ledak basah jika akan dilakukan penurunan radius jarak aman alat. Untuk mendekati lemparan batuan aktual pada pit 4500 blok 12 maka dilakukan rekomendasi isian dan stemming berdasarkan teori skala pengisian (scaled depth of burial) dari Livingston (1956) yang dikembangkan oleh PT. Orica Mining Service dan prediksi kontrol flyrock berdasarkan Adrian J. Moore & Alan B. Richard (2005). Sesuai teori tersebut, maka didapatkan range pada lokasi lubang ledak kondisi basah sebagai berikut: • Kedalaman 3 m, isian 0,5-0,8 m dan stemming 2,2 – 2,5 m. • Kedalaman 4 m, isian 1,5-1,7 m dan stemming 2,3 – 2,5 m. • Kedalaman 5 m, isian 2,5-2,7 m dan stemming 2,3 – 2,5 m. • Kedalaman 6 m, isian 3,3 m dan stemming 2,7 m. • Kedalaman 7 m, isian 3,8 m dan stemming 3,2 m. • Kedalaman 8 m, isian 4,5 m dan stemming 3,5 m. Berdasarkan dari rekomendasi dan pendekatan tersebut, maka didapatkan lemparan batuan secara teoritis pada kondisi lubang ledak basah, face burst: 24,61 m, cratering: 77,84 m dan lemparan batuan aktual terjauh pada saat trial: 80,7 m sehingga rekomendasi jarak aman evakuasi alat gali muat dapat diturunkan menjadi 200 m.Kata kunci: Peledakan, Flyrock, Scaled Depth of Burial, Penurunan Jarak Aman Alat.
DETERMINATION OF INITIAL LAG AND MAXIMUM LAG DISTANCE OF SEMIVARIOGRAM ON RESERVES CALCULATION OF GOLD VEIN Nur Ali Amri; Abdul Aziz Jemain; Abdul Rauf
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The resources calculation is one of the early stages before the mining operation, which begins with the samples prediction. Ordinary kriging is a part of the kriging method that operated by semivariogram parameters. The calculation of these parameters based on several things, including the determination of lag distance and the fitting model. This paper based on the determination of the maximum lag distance of 500 and 800 where the lag distance for both, respectively 15, 25 and 35 with WLS and OLS fitting models. The six combinations can be concluded that increasing of maximum lag distance adds to a large of sill and extend the range. OK prediction shows that the largest gold grade mean (5.032) occurs in the kriging using WLS fitting models, in which the maximum lag distance semivariogram is 500 and the distance of each lag is 35.Keywords: Lag distance, semivariogram, fitting, kriging.  AbstrakPerhitungan sumberdaya merupakan salah satu tahapan awal sebelum operasi pertambangan, yaitu aktivitas yang dimulai dari pensampelan. Ordinary kriging adalah bagian dari metode kriging, yang dapat bekerja dengan parameter utama semivariogram. Perhitungan semivariogram ini didasarkan pada beberapa hal mencakup penentuan jarak lag dan fitting model. Tulisan ini mendasarkan kepada penentuan jarak maksimum lag 500 dan 800, dimana masing-masing jarak lagnya adalah 15, 25 dan 35 dan fitting menggunakan model WLS dan. Enam kombinasi diperoleh, bahwa penurunan jarak lag maksimum berakibat pada penambahan sill dan range. Prediksi OK memperlihatkan bahwa rata-rata grade terbesar adalah 5,032, dan berlaku pada kriging yang menggunakan fitting model WLS,dimana jarak maksimum lag adalah 500 dan jarak masing-masing lag adalah 35.Katakunci: Jarak lag, semivariogram, fitting, kriging.

Page 2 of 2 | Total Record : 16