cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL TASAMUH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021)" : 5 Documents clear
ETIKA GURU DALAM MENGAJAR ( PERSPEKTIF AKSIOLOGIS ) Achlis Afriyanto Achlis Afriyanto
TASAMUH Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

guru adalah sebagai pengarah, pendidik dimana setiap perilakunya akan dicontoh oleh peserta dan seorang guru bukan hanya memiliki kualitas keilmuan dan akademik saja, namun lebih pada akhlaknya
Manunggaling Kawulo Gusti Kearifan budaya Bernuansa Islami Sebagai Konsep Pedidikan Manusia seutuhnya sakdul dullah
TASAMUH Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah kebudayaan adalah milik bersama anggota masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebaran dan pewarisan kepada anggota-anggotanya yakni kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak,termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh mereka. Manunggaling kawulo gusti merupakan bagian dari unsur-unsur kebudayaan jawa yang sangat masyhur di kalangan masyarakat jawa. Manunggaling kawulo gusti adalah konsep keyakinan yang diwariskan oleh para leluhur. Konsep keyakinan ini bukanlah menyatunya antara Dzat Tuhan sebagai Gusti dengan dzat manusia yang berkedudukan sebagai kawulo, melainkan sebagai gambaran puncak pengabdian dan ibadah manusia kepada tuhannya. Proses untuk mencapai puncak ibadah ini harus melalui latihan atau lelakon yang intinya melakukan pembersihan diri dan jiwa, mensucikan niat hanya mengabdi kepada gusti. Essensi dari konsep pembersihan diri, pembersihan hati, pembersihan jiwa ini dapat diaplikasikan kedalam konsep Pendidikan untuk membangun raganya dan membangun jiwanya. Inilah konsep Pendidikan manusia seutuhnya.
meningkatkan profesionalisme guru fiqih di era digital Achmad Choirul
TASAMUH Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah Negara kaya yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah, namun sayang sumber daya yang melimpah tersebut tidak dibarengi dengan sumber daya manusia. Sehingga pertumbuhan Negara tidak bisa optimal. Karena sumber daya manusia adalah pendukung utama dalam pembangunan Nasional. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting didalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Didalam pendidikan manusia akan belajar untuk memahami hidup dan mampu merencanakan kehidupannya di masa yang akan datang. Pendidikan membantu seseorang untuk mau bertindak sebagai manusia dan tidak bertindak secara instinktif saja. Pihak yang terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran adalah guru. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan kualitas anak didiknya. Oleh karena itu peranannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Proses pendidikan dikatakan berhasil apabila kualitas sumber daya manusia meningkat. Untuk itu guru harus meningkatkan kapabilitasnya di dalam dunia pendidikan, agar kualitas anak didiknya meningkat, guru juga harus meningkatkan kemampuan profesionalnya di dalam mendidik.
Implementasi Pendidikan Sufistik Dengan Konsep Ma’rifat Syekh Siti Jenar Dalam Pendidikan Karakter Siswa Muslikhatun Nadiyah
TASAMUH Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is a summary of the literature research on the Manunggaling Kawulo-Gusti Concept Book in Higher Education Management written by Mahmutarom HR. This book discusses a leader who can protect and protect his subordinates by using the concept of Sufism Shaykh Siti Jenar, namely Manunggaling Kawulo-Gusti, which can be interpreted as a single leader (gusti) with kawulo (people) who egalitarian has the same position, only roles, tasks , and just a different function. Manunggaling Kawulo Gusti is only a dialectic, that the unity of leadership must be vertical as well as horizontal. The study of this book uses content analysis relating to Sufism education. The concept has similarities with the teachings of Sufism including Ibn Arabi, Al Ghazali and others. The concept of sufistic education is finally brought to be applied in character education for students. Because seeing from the conditions of the times that the moral crisis is increasingly rooted in society. To overcome this, sufistic education is very much needed besides spiritual education. Keywords: Manunggaling Kawulo Gusti, Sufisic Education, Character Education Of Students
EPISTEMOLOGI ISLAM: INTEGRASI AGAMA DAN FILSAFAT; PERSPEKTIF IBNU RUSYD anwar rozak
TASAMUH Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibnu Rusyd berusaha mempertemukan antara wahyu, rasio, dan realitas, atau antara epistemologi bayani, irfani dan burhani atau dikenal juga dengan program islamisasi atau integrasi antara agama dan filsafat. Selain usaha dari Ibnu Rusyd tersebut, juga karena adanya keinginan para ilmuwan muslim saat ini untuk mengkaji ulang warisan (turats) keilmuan Islam klasik sebagai upaya membangun peradaban Islam modern. Wahyu atau nas atau teks syariah bersifat terbatas, selesai dan peristiwa/kenyataan baru yang bersifat tak terbatas akan terus berdatangan dan tak aka nada habisnya. Muncul kenyataan baru yang tak terbatas itu dapat terjadi karena konteks ruang dan waktu yang baru yang berbeda dengan konteks di saaat nabi masih hidup. Apalagi di jaman sekarang muncul pertanyaan yang belum pernah terjadi di jaman Rasul, seperti bagaimana puasanya orang di daerah kutub, atau di daerah sebagian Eropa yang saat tertentu, siangnya bisa sampai 19-20 jam. Dari beberapa hal tersebut tentunya kita menyadari pentingnya perpaduan antara wahyu, rasio dan realitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 5