cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016" : 10 Documents clear
IDEOLOGI PEMBANGUNAN ORDE BARU DALAM SASTRA ANAK BALAI PUSTAKA TAHUN 80-AN Partiningsih, Partiningsih
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.014 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.120.29-44

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi munculnya karya sastra anak terbitan Balai Pustaka tahun 1980-an yang berisi gagasan pembangunan Orde Baru. Di era ini juga muncul berbagai sastra lain baik yang mendukung dan yang berbeda dengan estetika sastra Orde Baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui topik atau isi karya sastra anak Balai Pustaka dan mengungkap strategi kuasa Orde Baru dalam menghegemoni dunia kesastraan. Teori yang digunakan adalah teori hegemoni Gramsci. Objek material yang digunakan adalah karya sastra anak Balai Pustaka tahun 80-an. Objek formalnya adalah ideologi Orde Baru dalam sastra anak Indonesia era 80-an. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra anak Balai Pustaka menjadi alat untuk mendoktrin kekuasaan Orde Baru dalam pikiran anak-anak melalui gagasan dan konsep pembangunan Indonesia. Selain itu, Orde Baru membuat konsep estetika sastra untuk mencegah berkembangnya estetika yang lain, seperti realisme sosialis ataupun Islam. Selanjutnya, kuasa Orde Baru menjalankan doktrin ideologinya dengan cara menguasai bacaan anak di Indonesia. Kata-Kata Kunci: sastra anak Balai Pustaka, hegemoni, kuasa Abstract: The background of this research is that children literatures Balai Pustaka in the 80s contains the development idea of New Order. In this era, there appeared other children literatures which either supported or opposed the New Order aesthetic concepts of literature. The phenomenon shows the conflict and hegemonic strategy in aesthetic children literature, especially by Balai Pustaka. The problem is the topic of children literatures Balai Pustaka in the 80s and the strategy of New Order to dominate and control the literature aesthetic to legitimate their power. The research uses Gramscian hegemony concepts. The object of this research is the children literatures published Balai Pustaka in the 80s and the hegemonic strategy by New Order in children literatures. The result of this research is that the children literatures Balai Pustaka in the 80s had become an instrument of New Order indoctrination. The discourse of the development of Indonesia was used to legitimate the New Order power. The New Order banned the other aesthetic concepts, like social realism or ?Islamic literature aesthetic?. The power of New Order implemented their ideology indoctrination by dominating and controlling the Indonesian children literature. Key Words: hegemony, power, Balai Pustaka children literatures
KEKERASAN TERHADAP TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM NOVEL KINANTI KARYA MARGARETH WIDHY PRATIWI Werdiningsih, Yuli Kurniati
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.803 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.41.102-115

Abstract

Tujuan penulisan makalah ini adalah mendeskripsikan kekerasan yang dialami oleh tokoh utama perempuan dalam novel Kinanti karya Margareth Widhy Pratiwi. Sebagai pengarang perempuan, Margareth memiliki sensitivitas tinggi dalam menggambarkan perasaan seorang perempuan yang mengalami kekerasan. Metode yang digunakan untuk mengungkap kekerasan dalam novel ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, dan wacana yang memuat unsur kekerasan terhadap perempuan. Teori yang digunakan adalah feminisme dengan fokus pada kekerasan terhadap perempuan dan upaya perempuan menghadapi kekerasan tersebut. Hasil penelitian ini adalah terdapat tiga jenis kekerasan yang dialami oleh tokoh utama perempuan dalam novel Kinanti, yakni kekerasan psikologis; fisik; dan seksual. Pelaku kekerasan terhadap perempuan tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Kelemahan secara struktur biologis yang dimiliki oleh perempuan dimanfaatkan oleh para pelaku kekerasan. Kekerasan terhadap perempuan dalam novel Kinanti merepresentasikan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat Jawa. Upaya Kinanti menghadapi kekerasan merupakan bagian dari kuasa perempuan Jawa dalam mempertahankan hidupnya. Kata-KataKunci: kekerasan, perempuan, novel Abstract: The aims of this study is describing the abused female main character in Margareth Widhy?s novel, Kinanti. As a female writer, Margareth uses her high sensitivity to express the feeling of an abused female main character. This descriptive qualitative study used words, phrases, sen-tences, and discourse to express the abuse in the novel. This paper used a feminist theory focusing on violence towards women. The result of the study shows that there are three kinds of abuse suffered by the main female charachter in Kinanti. The doers of the abuse towards women are not only men, but also women. The weakness of female biological structure has become the benefit for the abusers. The abuse toward women in Kinanti represents the abuse toward women happening in Javanese society. Key Words: abuse, women, novel
APPENDIX ATAVISME VOL. 19 NO.1 santosa, anang
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.425 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.224.%p

Abstract

RESISTENSI PEREMPUAN TERHADAP WACANA RATU RUMAH TANGGA DALAM CERPEN INTAN PARAMADITHA Kurnianto, Ery Agus
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.945 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.188.88-101

Abstract

Tulisan ini membahas masalah resistensi perempuan terhadap konstruksi budaya yang telah dibumikan oleh kaum patriarkat dalam cerpen karya Intan Paramaditha yang berjudul ?Mak Ipah dan Bunga-Bunga? dan ?Sejak Porselin Berpipi Merah Itu Pecah?. Tujuan tulisan ini adalah menunjukkan dan mendeskripsikan resistensi yang dilakukan oleh kaum perempuan terhadap kemapanan konstruksi budaya patriarkat, khususnya tentang wacana ratu rumah tangga. Metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Teori yang digunakan adalah teori kritik sastra feminis. Hasil analisis terhadap cerpen ini adalah tokoh perempuan yang dimunculkan dalam cerpen ini merupakan bentuk perempuan yang selama ini terbungkam oleh sistem budaya yang dikonstruksi oleh kaum patriarkat. Teks digunakan oleh pengarang untuk meresistensi mitos ratu rumah tangga yang ?dibumikan? oleh kaum patriakat. Kata-Kata Kunci: resistensi, wacana, ratu rumah tangga. Abstract: This study is discussing women's resistance against cultural construction that has been proposed by the patriarchal community in Intan Paramaditha?s short stories: ?Mak Ipah dan Bunga-Bunga? and ?Sejak Porselin Berpipi Merah itu Pecah?. This paper is aimed at showing and describing women?s resistance against the established patriarchal culture construction, particularly on a discourse of women as the queen of the house. Descriptive method was applied in this study. The theory applied in this study was feminist literary criticism. The conclusion of the analysis on the two short stories was that a female character presented in these short stories was representing the women voice that had been silenced by a cultural system of patriarchal construction. Texts were employed by the author to resist against a myth of women as the queen of the house 'proposed' by the patriarchal community. Key Words: resistance, discourse, queen of the household
ALTERNATIF SOLUSI KONFLIK SEPARATISME DALAM CERITA “CALON ARANG” Sukatman, Sukatman; Siswanto, Siswanto
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.965 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.176.116-129

Abstract

Penelitian ini bertujuan memaparkan (a) cerita Calon Arang sebagai mitos otonomi, (b) konteks historis cerita Calon Arang, (c) tradisi otonomi ?Duplang Kamal-Pandak? zaman kerajaan, dan (d) implikasi cerita Calon Arang bagi solusi konflik separatisme pada abad modern. Penelitian dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan sastra lisan. Sasaran penelitian ini adalah konsep otonomi dalam cerita ?Calon Arang? dan relevansinya dengan situs sejarah Rajegwesi-Blambangan kuno di Lawang Seketheng dan situs ?Duplang Kamal-Pandak? di Arjasa Jember. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode (a) dokumentasi, (b) observasi, dan (c) wawancara bebas-mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode heuristik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat ?Calon Arang? merupakan mitos ilmu pengetahuan tentang cara mengatasi konflik separatisme di Jawa pada zaman dahulu. Situs Duplang di Arjasa Jember merupakan bukti solusi konflik yang terjadi pada zaman pemerintahan raja Airlangga dengan otonomi daerah. Pengetahuan tentang otonomi dalam cerita Calon Arang relevan untuk dipertimbangkan sebagai solusi alternatif dalam menyelesaikan konflik separatisme. Kata-Kata Kunci: separatisme, otonomi, cerita ?Calon Arang? Abstract: This study aims to explain (a) Calon Arang as a myth of autonomy, (b) the historical con-text of Calon Arang, (c) the tradition of ?Duplang Kamal-Pandak autonomy, and (d) the implica-tions of Calon Arang as a solution to overcome separatist conflict in the modern age. This research was conducted by applying the oral literature approach. The target of this research is the concept of autonomy in the story of "Calon Arang" and its relevance to the historical sites of Rajegwesi in Lawang Seketheng and "Duplang Kamal-Pandak" in Arjasa Jember. The data were collected by (a) documentation, (b) observation, and (c) in-depth interviews. Data analysis was performed using heuristic methods. The results showed that ?Calon Arang folklore? is a scientific myth on how to solve the separatist conflict in Java. ?Duplang Kamal-Pandak?in Arjasa Jember is a proof how to solve conflict that occurred during King Airlangga era using regional autonomy approach. Auto-nomy approach in ?Calon Arang? is relevant to be considered as a solution in solving the separatist conflict. Key Words: separatism, autonomy, story of "Calon Arang?
MASALAH TANAH DAN KRISIS LINGKUNGAN DI BALI DALAM ANTOLOGI PUISI DONGENG DARI UTARA KARYA MADE ADNYANA OLE Hardiningtyas, Puji Retno
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.22 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.180.45-59

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendekripsikan masalah tanah dan krisis lingkungan di Bali dalam antologi puisi Dongeng dari Utara. Sumber data penelitian ini adalah sepuluh puisi bertema masalah tanah dan krisis lingkungan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pustaka dengan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah interpretasi dan pemahaman dengan teknik analisis konten. Teori yang digunakan adalah teori konflik dan ekokritik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik lingkungan di Bali berkembang sebab faktor pariwisata yang menggerus lahan pertanian di Bali. Sementara itu, krisis lingkungan di Bali merupakan masalah pokok dalam pemanfaatan lingkungan dan upaya pelestarian tanah sebagai unsur alam. Dengan demikian, kehadiran sastra, khususnya puisi, merupakan potret sosial tentang kondisi lingkungan yang terjadi di Bali. Kata-Kata Kunci: puisi, masalah tanah, krisis, lingkungan Abstract: This study aims to describe the land problem and the environment crisis in Bali in the anthology Dongeng dari Utara. The data sources of this research were ten poems themed on the land problem and environmental crisis. The data were collected through library method using recording technique. The data were analyzed by interpretation and understanding using content analysis technique. The theory used was the theory of conflict and ecocriticism. The result indicates that tourism is gradually destroying agricultural soils in Bali and therefore causing the number of environmental conflicts in Bali to grow. Meanwhile, the environmental crisis in Bali is the central issue in the use of the environment and the conservation of soil as a natural element. Thus, the presence of literature, especially poetry, is a social portrait of the environmental condition existing in Bali. Key Words: poetry, land problem, crisis, environment
IDENTITAS KEINDONESIAAN DALAM DRAMA INDONESIA DI ERA PUJANGGA BARU (1930—1942) Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.174.60-74

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeskplorasi konstruksi manusia Indonesia yang ideal menurut subjek terjajah dan mengeskplorasi dampaknya secara politis dan ideologis atas konstruksi identitas yang ditawarkan dalam drama di era Pujangga Baru. Penelitian ini menggunakan sudut pandang kajian pascakolonial, terutama mengenai konsep identitas dalam masyarakat kolonial atau subjek terjajah dan bagaimana mereka mengartikulasikan identitas mereka. Data yang digunakan dalam penelitian adalah struktur drama (isi teks), latar sosial, dan gagasan di era drama itu. Sumber data penelitian ini adalah drama Sandhyakala ning Majapahit (yang terbit pertama kali tahun 1932) karya Sanusi Pane, Lukisan Masa (yang terbit pertama kali tahun 1937) karya Armijn Pane, dan Gadis Modern (yang terbit pertama kali tahun 1941) karya Adlin Affandi serta berbagai pustaka yang relevan dengan topik penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi identitas keindonesiaan dibangun atas dasar tradisi yang diadaptasikan dengan perubahan zaman. Subjek terjajah melakukan resistensi yang bersifat ambivalen sekaligus menunjukkan gagasan mimikri. Kata-Kata Kunci: identitas subjek terjajah, drama Pujangga Baru, kolonialisme Abstract: This research aims to explore the identity construction of ideal Indonesian, as well as colonial subject. In addition, the research also aims to explore the political and ideological implications of the identity construction. The identity construction is played by the Pujangga Baru?s plays. This research uses postcolonialism criticism especially the identity concept in the colonial society and how the colonial subject represents his/her identity. The research uses text structures, the ideas and concepts in those eras and the discourse of thinking as data. The data source is Sandhyakala ning Majapahit (1932) by Sanusi Pane, Lukisan Masa (1937) by Armijn Pane, and Gadis Modern (1941) by Adlin Affandi and other books relevant to this topic. The result of this research is that Indonesian identity construction is based on tradition adapted with the social changes or spirits of the ages. The colonial subject demonstrates resistance and ambivalence. Key Words: identity of colonial subject, Pujangga Baru?s plays, colonialism
PEMBONGKARAN EKSISTENSI TOKOH UTAMA DALAM PEELING KARYA PETER CAREY Leiliyanti, Eva
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.179.1-14

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membongkar pengonstruksian eksistensi tokoh utama perempuan yang dilakukan oleh narator yang sekaligus bertindak sebagai tokoh utama laki-laki dan sebaliknya. Penelitian ini menggunakan metode dekonstruksi Jacques Derrida, dengan cara menelusuri permainan sistem penandaan (signifying practices). Penelitian ini menemukan paradoks yang bersirkulasi dan berantai dalam signifying practices menunjukkan ketidakstabilan (kontradiksi) makna yang mengindikasikan tidak hanya proses konstruksi monologis perempuan, hasrat erotis homoseksual terepresi tokoh utama laki-laki ataupun demitologisasi peran perempuan, tetapi juga cerita pendek bergenre dystopia ini (Peeling) memperlihatkan kekaburan demarkasi makna yang disebabkan asimetris jaringan penanda/petanda dalam lapisan misteri eksistensi kedua tokoh utama tersebut. Kata-Kata Kunci: eksistensi, dekonstruksi, signifying practices, kekaburan demarkasi. Abstract: This paper aims to deconstruct the existence of a main female character conducted by the male narrator agent and vice versa. This research employed Derrida s deconstruction method by way of tracing the signifying practices in Peeling. It is found that the paradox circulates and intertwines in the signifying practices demonstrating the instability (contradiction) of meanings that indicates not only the monologic construction of woman, repressed homo-erotic desire of the main male character, demythologisation of women s roles, but also that this dystopian short story shows the obscure demarcation of meaning due to the asymmetrical web of signifier/signified in the mystery of existence of both main characters. Key Words: existence, deconstruction, signifying practices, obscure demarcation
DAFTAR ISI DAN KATA PENGANTAR Santosa, M.Hum, anang
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.222.%p

Abstract

CORAK REALISME SOSIALIS DALAM HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN Suyatno, Suyono
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.175.75-87

Abstract

Selama ini ada anggapan bahwa dalam sejarah sastra Indonesia corak realisme sosialis hanya ada dalam masa Lekra (1950-1965), padahal novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen yang terbit sebelumnya (1920) telah menunjukkan corak realisme sosialis. Oleh karena itu, masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah corak realisme sosialis dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap corak realisme sosialis dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Dengan menggunakan metode deskripsi analitis dan teori sastra Marxis penelitian ini menemukan bahwa novel Hikayat Kadiroen sarat dengan propaganda ideologi Marxis dan propaganda ideologi Marxis dalam karya sastra adalah ciri yang melekat pada karya sastra yang bercorak realisme sosialis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tahun 1920 adalah awal munculnya realisme sosialis dalam sejarah sastra Indonesia. Kata-Kata Kunci: Hikayat Kadiroen, propaganda Marxis, realisme sosialis Abstract: All this time, there is a presumption that in the history of Indonesian literature, the socialist-realism pattern only existed in Lekra period (1950-1965), whereas Hikayat Kadiroen writ-ten by Semaoen published before (1920) had showed shades of socialist realism. Therefore, the issue that will be raised in this study is how the socialist realism pattern was described in Semaoen?s Hikayat Kadiroen? The aim of this study is to prove the shades of socialist realism in Hikayat Kadiroen. Using the analytical description method and Marxist literary theory, the study found out that Hikayat Kadiroen was full of Marxist ideology propaganda, and this Marxist ideology propaganda is the characteristic of literature with socialist realism shades. Thus, it can be concluded that 1920 was the beginning of the rise of socialist realism in the history of Indonesian literature. Key Words: Hikayat Kadiroen, Marxist propaganda, socialist realism

Page 1 of 1 | Total Record : 10