cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2009)" : 23 Documents clear
Peran Pemeriksaan Barium Enema pada Penderita Megacolon Congenital (Hirschprung Diseases) Ana Majdawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1606

Abstract

Hircshprung diseases (HD) occurred in a ratio of1:5000 live births with the objective of this literature review mortality of infant 80%, while that handled can reduce up to 30%. This Literature review have goal to early diagnose of HD with introduce sign and symptom, the apperance of HD in imaging radiology examination. HD diagnosis is confirmed by signs and symptoms, i.e. the fail use of issuing meconium at a newborn more than 24 hours, followed by bilious vomit, abdominal distention, and advanced condition or for older infant undergo irritable, grunting, and because of abdominal distention with Darm contour, Darm Steifung appearances. Result of the study indicates that the supporting examination with a role of directing the HD diagnosis was radiological imaging. In the smooth photographs of anteroposterior- supine, lateral-erect, and left lateral decubitus (LLD) positions, luminal dilatation of the colon appeared, while intestinal air was not seen at pelvic region with obstructive signs of low position. The barium enema examination was a selected one for HD with a diagnostic accuracy of approximately 90%. The exercise of HD diagnosis was made as a scoring system of eight radiological signs on the Barium enema examination. A scoring of the scoring system in the determination of HD diagnoses was: 1) scores 1-3, possibility of HD was 40% with low assessment criteria; 2) scores 4-5: possibility of HD 66% with moderate assessment criteria; and 3) scores 6-8: possibility of HD 100% with high assessment criteria. It is concluded that HD diagnosis was made as a scoring system of eight radiological signs on the Barium enema examination can reduce morbidity and mortality rate.Hirschprung diseases (HD) adalah kelainan kongenital tidak adanya sel-sel saraf parasimpatetik, yaitu aganglion intramural dan submucosa yang umumnya terjadi pada bagian distal colon yaitu rectum dan sebagian colon sigmoid. HD terjadi 1 kasus pada 5000 kelahiran hidup dengan angka mortalitas pada bayi yang tidak ditangani segera berkisar 80%, sedang yang ditangani dapat menurun sampai 30%. Tujuan penulisan literature review ini adalah mempelajari tanda dan gejala HD dan menentukan gambaran radiologi HD dari penelusuran beberapa jurnal penelitian, Penegakan diagnosis HD dari tanda dan gejala klinik yaitu kegagalan pengeluaran meconeum pada bayi baru lahir lebih 24 jam diikuti muntah bilous, distensi abdomen dan pada keadaan lanjut atau pada bayi yang lebih tua dapat berakibat iritable, nafas cepat (grunting) karena adanya distensi abdomen dengan gambaran Darm contour, Darm Steifung. Pemeriksaan penunjang yang berperan untuk mengarahkan diagnosis HD adalah pencitraan radiologi. Foto polos abdomen posisi anteroposterior-supine, Lateral-errect dan Left Lateral Decubitus (LLD), tampak dilatasi lumen colon dan tak tampak udara usus pada regio pelvic dengan tanda-tanda obstruksi letak rendah. Pemeriksaan barium enema merupakan pemeriksaan pilihan pada HD dengan akurasi diagnostik sekitar 90%. Penelitian tahun 1996 oleh A.N.O’Donovan, et al penegakan diagnosis HD dibuat sistem skoring dari 8 tanda radiologi pada pemeriksaan Barium enema, yaitu: 1). zona transisional, 2). kontraksi irreguler, 3). index rectosigmoid ( lebar maximum rectum dibagi lebar maximum sigmoid ; abnormal jika kurang dari 1, 4). spasmus, 5). adanya gambaran cobble stone mukosa pada WSCE (Water Soluble Contrast Enema), 6). mukosa irreguler, 7). mukosa yang bergerigi dan 8). retensi kontras (evakuasi lambat setelah 24 jam). Penilaian sistem skoring dalam menentukan diagnostik HD adalah: 1). Nilai 1-3 : kemungkinan HD 40% dengan kriteria penilaian rendah; 2). Nilai 4-5 : kemungkinan HD 66% dengan kriteria penilaian sedang; 3). Nilai 6-8 : kemungkinan HD 100% dengan kriteria penilaian tinggi. Kesimpulannya bahwa penegakan diagnosis HD dengan mengenali tanda dan gejala serta gambaran pemeriksaan barium enema dengan sistem skoring dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian penderita HD.
Hubungan antara Prevalensi Stroke Akut pada Wanita Perokok Pasif dari Anggota Keluarga dan Lingkungan Tri Wahyuliati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1597

Abstract

The potentially harmful health effects of environment tobacco smoke have received considerable attention in recent years. Unfortunately, education about the health consequences is still limited in Indonesia. The purpose of reseach as to determine the association between smoking by family member and environment with the prevalence of acute stroke among nonsmoker women in Stroke Unit of Sardjito General Hospital - Yogyakarta The study included 62 cases of passive smoker women with acute stroke matched to 62 free controls in sex and group of age to determine odds ratio. Compare with other sources of environment tobacco smoke, exposed by husbands have the most potentially risk to increase the incident of acute stroke among passive smoker women. The adjusted odds ratio for acute stroke among women passive smokers by husbands was 5,814 (95% CI, 2,645-12,776) ; by children was 3,526 (95% CI, 1,284-9,681); by brothers was 1,000 (95% CI, 0,061-16,353 ); by other persons out of house member and co-worker was 1,000 (95% CI, 0,274-3,643). The study showed a strongest positive association between passive smoking and acute stroke in women exposed to environment tobacco smoke by husband compare with the other source of pollutans.Dampak buruk terhadap kesehatan akibat polusi asap rokok banyak mendapat perhatian pada beberapa tahun terakhir. Sayangnya, di Indonesia pengetahuan tentang dampak buruk ini masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan hubungan antara pajanan asap rokok oleh anggota keluarga dan lingkungan dengan stroke akut pada wanita bukan perokok di Unit Stroke RS. Sardjito - Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan 62 kasus stroke akut pada wanita yang terpajan asap rokok dan 62 kontrol, yang dilakukan pencocokan dalam hal jenis kelamin dan kelompok umur, untuk menentukan Odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan wanita bukan perokok dan bukan perokok pasif, odds ratio untuk menderita stroke akut pada wanita perokok pasif yang terpajan oleh suami adalah sebesar 5,814 (95% CI, 2,645-12,776) ; oleh anak atau menantu sebesar 3,526 (95% CI, 1,284-9,681); oleh saudara dan anggota keluarga selain anak 1,000 (95% CI, 0,061¬16,353 ), oleh orang lain diluar rumah atau teman kerja 1,000 (95% CI, 0,274-3,643 ). Penelitian ini menunjukkan adanya suatu hubungan positif yang paling kuat antara wanita perokok pasif dari suami dengan angka kejadian stroke akut, dibandingkan dari sumber polusi asap rokok yang lain.
Terapi Kognitif dan Perilaku pada Gangguan Obsesif Kompulsif Warih Andan Puspitosari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1607

Abstract

The prevalence of Obsessive Compulsive Disorder about 2-3%, mostly happened on male teenagers. The causes are multifactors including biological, behavior and psychosocial factor, so the treatment needs farmacotherapy and psychotherapy. The combination of SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) and Cognitive Behavioral Therapy is the first choice to manage Obsessive Compulsive disorder. The aim of this case report is to reporting the treatment of Obsessive Compulsive disorder by using the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy. A patient, male, 18th years old was brought by his mother to the Psychiatry outpatient department for doing something repeatedly. It was annoyed him and other person. The mental status examination showed that he always thought repeatedly and did something, so that he will felt released. His neurological and psysical status were within normal limite. After he was treated with the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy for 5 sessions, he is getting better.Prevalensi Gangguan ObsesifKompulsif berkisar antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor biologi, perilaku dan psikososial, sehingga penatalaksanaannya memerlukan farmakoterapi dan psikoterapi. Kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku merupakan pilihan pertama. Terapi kognitif perilaku memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan, berdasarkan pengalaman praktek yang terjadi di Indonesia, sulit dilakukan karena terlalu lama, rumit, dan faktor biaya. Dicoba modifikasi untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil penatalaksanaan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi. Seorang pasien, laki-laki, berusia 18 tahun diantar oleh ibunya ke poliklinik jiwa karena sering mengulang-ulang suatu perbuatan, yang sudah mengganggu pasien dan orang lain. Pemeriksaan status mental didapatkan adanya pikiran berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega. Pada status internus dan status neurologikus belum ditemukan adanya kelainan. Setelah dilakukan penatalaksanaan dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi, pasien mengalami perbaikan gejala klinis.

Page 3 of 3 | Total Record : 23


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue