Forum Geografi
Forum Geografi, Indonesian Journal of Spatial and Regional Analysis (For. Geo) is an open access, peer-reviewed journal that will consider any original scientific article for expanding the field of geography. The journal publishes articles in both physical and human geography specialties of interest to spatial analysis and regional analysis in (but not limited) Indonesia by applying GIS and/or remote sensing techniques.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 1 (1994): July 1994"
:
12 Documents
clear
Beberapa Implikasi Perkembangan Kota pada Rural Urban Fringe
Musiyam, Muhammad
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4816
Persentase penduduk Indonesia yang bertempat tinggal di perkotaan sejak tahun 1920 sampai 1990 telah meningkat dengan cukup pesat. Pada tahun 1920 persentase penduduk kota sebesar 5.8 persen, pada tahun 1990 meningkat menjadi 30.97 persen, dan perkiraan tahun 2000 menjadi 38.3 persen. Implikasi utama dari persoalan diatas semakin meningkatnya permintaan akan ruang untuk menampung fungsi-fungsi baru di perkotaan. Sedang dipihak lain persediaan lahan dikota semakin terbatas. Oleh karena itu pemekaran fungsi-fungsi kota ke daerah pinggiran kota menjadi keniscayaan. Semakin meningkatnya intensitas pemekaran kota ke daerah pinggiran kota menimbulkan beberapa persoalan. Pertama, munculnya fenomena "under bounded city" yang tak jarang memicu munculnya "goal conflict" dalam perencanaan tata ruang antar wilavah yang berdekatan. Kedua, untuk kota-kota di pulau Jawa. Pemekaran kota yang semakin meningkat sedikit banyak akan mengancam prestasi swa sembada beras yang telah diraih, karena sebagian besar lahan potensial untuk pertanian dan suplai beras di Indonesia dihasilkan dari Pulau jawa. Dengan mempertimbangkan sektor pertanian dan pengembangan kota maka disarankan dua strategi yang berbeda untuk pengembangan kota-kota di jawa dan luar jawa. Pengembangan kota-kota di jawa disarankan lebih menekankan strategi yang berorientasi pertanian dengan cara memproteksi lahan pertanian potensial di pinggiran kota. Sedangkan pengembangan kota-kota di luar jawa disarankan menerapkan strategi yang berorientasi kekotaan, dengan memberi prioritas pada pengembangan fungsi kota.
Mencari Paradigma Baru untuk Perencanaan Permukiman: Acuan Khusus untuk Program Transmigrasi
Yunus, Hadi Sabari
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4817
Makalah ini bermaksud untuk mengemukakan pemikiran yang berkaitan dengan upaya pemerintah dalam memindahkan penduduk dari daerah- daerah tertentu ke daerah-daerah permukiman baru. Pada umumnya perhatian pemerintah selalu tertuju pada daerah-daerah tujuan saja, tidak banyak memikirkan kondisi wilayah asal para pemukim. Ketimpangan ini jelas akan menimbulkan dampak negatif terhadap tingkat kemapanannya. Beberapa model pemukiman dengan mempertimbangkan daerah asal dan tujuan pemukiman menjadi sorotan utama makalah ini. Dari pemahaman konsep pemukiman inilah diharapkan terkondisinya paradigma baru untuk perencanaan pemukiman, sehingga program transmigrasi dapat dilaksanakan dengan baik.
Pendekatan Hidrologi untuk Penilaian Kegiatan Pengeloiaan DAS
Anna, Alif Noor
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4818
Dalam evaluasi sumber daya air sasaran wilayahnya adalah daerah aliran sungai (DAS), karena pada DAS merupakan satu kesatuan sistem aliran energi, di dalamnya terdapat input, (berupa hujan), prosesor (kondisi DAS) dan output (limpasan bersama suspensinya). Disamping itu pemantauan hasil proses yang berhubungan dengan ekosistem akan lebih mudah dilakukan. Karakter DAS ditentukan oleh kondisi lingkungan fisik, biologik dan peradaban manusia pada kawasan tersebut. Karena DAS merupakan satu sistem dimana bila ada prosesor terdapat suatu perubahan, maka akan didapatkan hasil yang berbeda pada outputnya. Dengan kata lain satu lingkungan DAS terjadi perubahan, maka segera diikuti perubahan lingkungan yang lain. Dengan dasar pemikiran di atas, maka debit aliran sebagai keluaran bersama air, desimen dan unsur hara dapat dipakai untuk mengevaluasi kondisi DAS pada saat bersangkutan. Oleh karena itu pendekatan hidrologi dapat digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan DAS. Indikator yang biasa dipakai adalah indeks Water Regime, koefisien aliran, sediment yield dan unsur kimia bersama unsur hara yang menyertainya. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti Sri Mulat Y (1984), Sarwono (1986), M. Fachrudin (7986) dan Maryono (1990). Dari peneliti tersebut ternyata tidak semua parameter hidrologi digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan DAS, hanya beberapa yang digunakan, namun dalam evaluasinya menggunakan data seri dengan cara melihat trend (kecenderungan) masing-masing parameter dari tahun ke tahun berikutnya. Dari hasil yang didapatkan ternyata parameter hidrologi mempunyai kecenderungan yang menurun setelah dilakukan pengelolaan DAS. Dari bukti diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan hidrologi dapat digunakan sebagai salah satu cara evaluasi pelaksanaan pengelolaan DAS. Namun pendekatan ini tidak dapat menunjukkan lokasi mana yang menghasilkan debit bersama suspensi dan unsur hara yang paling potensial. Di samping itu belum ada suatu kriteria yang baku guna menilai kondisi DAS, sehingga masih menyulitkan dalam analisanya.
Pola Keruangan Kriminalitas Perkotaan
Dilahur, D
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4814
Masalah kejahatan cenderung meningkat secara kualitatif maupun kuantitatif bersama dengan semakin kompleknya kehidupan manusia. Jenis kejahatan bervariasi demikian pula dengan factor-faktor penyebabnya. Penggolongan jenis kejahatan dan teorinya bervariasi dari berbagai ahli dan disiplin ilmu. Geografi mengkaji kejahatan dari segi keruangan, lingkungan dan kewilayahan. Dari segi keruangan akan diperoleh persebaran berbagai jenis kejahatan baik asal pelaku maupun tempat peristiwa kejahatan terjadi serta asosiasi keruangannya dengan faktorfaktor sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan. Tidak semua jenis kejahatan mempunyai pola keruangan yang jelas. Geografi dapat memberi sumbangan terhadap pemecahan masalah kejahatan di perkotaan dengan pendekatan keruangan, lingkungan dan wilayah tersebut.
Kualitas Air Hujan dan Faktor Lingkungan yang Mempengaruhinya
Sudarmadji, S
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4819
Hujan merupakan masukan dalam sistem hidrologi. Ditinjau dari kualitasnya dibandingkan dengan air aami lainnya, air hujan merupakan air paling murni dalam arti komposisinya hampir mendekati H2O. Namun demikian, pada hakekatnya tidak pernah dijumpai air hujan yang betul-betul hanya tersusun atas H2O saja, berbagai faktor lingkungan telah mempengaruhi kualitas air hujan tersebut. Pencemaran udara yang terjadi di kota-kota besar, baik yang berupa buangan gas maupun emisi dari kendaraan bermotor. Serta buangan gas dari pabrik telah mempengaruhi kualitas air hujan yang jatuh di daerah kota. Air hujan di daerah pantai juga terpengaruh oleh laut dengan segala aktifitas dan komposisi airnya. Di daerah gunung api yang masih aktif air hujan juga dipengaruhi oleh aktifitas tersebut. Masing-masing lingkungan tersebut di atas mempengaruhi komposisi air hujan. Kajian kualitas air hujan dilakukan dengan mengambil hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya di daerah pulau Jawa, namun demikian hasil penelitian yang dilakukan di luar negeri juga digunakan sebagai pembanding.
Yogya Utara=Bandung Utara? Dilema Tata Ruang Kawasan Resapan Air di DIY
Djaja, Dambung Lamuara
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4815
Secara umum pemanfaatan ruang dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sebagai kawasan budidaya (pertanian maupun non pertanian) dan kawasan non budidaya (lindung, daerah bahaya alam, dsb). Permasalahan yang muncul adalah sebaran kawasan-kawasan tersebut seringkali saling baur (campur), sehingga menambah rumit di dalam pengelolaannya, lebih-lebih pengelolaan dengan sistem pengendalian dan pengawasan yang belum jelas benar wewenangnya atau masih cenderung terlalu mudah untuk diintervensi oleh penguasa (tunggal) daerah dengan kebijakan "mudah diatur".
Beberapa Implikasi Perkembangan Kota pada Rural Urban Fringe
Muhammad Musiyam
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4816
Persentase penduduk Indonesia yang bertempat tinggal di perkotaan sejak tahun 1920 sampai 1990 telah meningkat dengan cukup pesat. Pada tahun 1920 persentase penduduk kota sebesar 5.8 persen, pada tahun 1990 meningkat menjadi 30.97 persen, dan perkiraan tahun 2000 menjadi 38.3 persen. Implikasi utama dari persoalan diatas semakin meningkatnya permintaan akan ruang untuk menampung fungsi-fungsi baru di perkotaan. Sedang dipihak lain persediaan lahan dikota semakin terbatas. Oleh karena itu pemekaran fungsi-fungsi kota ke daerah pinggiran kota menjadi keniscayaan. Semakin meningkatnya intensitas pemekaran kota ke daerah pinggiran kota menimbulkan beberapa persoalan. Pertama, munculnya fenomena "under bounded city" yang tak jarang memicu munculnya "goal conflict" dalam perencanaan tata ruang antar wilavah yang berdekatan. Kedua, untuk kota-kota di pulau Jawa. Pemekaran kota yang semakin meningkat sedikit banyak akan mengancam prestasi swa sembada beras yang telah diraih, karena sebagian besar lahan potensial untuk pertanian dan suplai beras di Indonesia dihasilkan dari Pulau jawa. Dengan mempertimbangkan sektor pertanian dan pengembangan kota maka disarankan dua strategi yang berbeda untuk pengembangan kota-kota di jawa dan luar jawa. Pengembangan kota-kota di jawa disarankan lebih menekankan strategi yang berorientasi pertanian dengan cara memproteksi lahan pertanian potensial di pinggiran kota. Sedangkan pengembangan kota-kota di luar jawa disarankan menerapkan strategi yang berorientasi kekotaan, dengan memberi prioritas pada pengembangan fungsi kota.
Mencari Paradigma Baru untuk Perencanaan Permukiman: Acuan Khusus untuk Program Transmigrasi
Hadi Sabari Yunus
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4817
Makalah ini bermaksud untuk mengemukakan pemikiran yang berkaitan dengan upaya pemerintah dalam memindahkan penduduk dari daerah- daerah tertentu ke daerah-daerah permukiman baru. Pada umumnya perhatian pemerintah selalu tertuju pada daerah-daerah tujuan saja, tidak banyak memikirkan kondisi wilayah asal para pemukim. Ketimpangan ini jelas akan menimbulkan dampak negatif terhadap tingkat kemapanannya. Beberapa model pemukiman dengan mempertimbangkan daerah asal dan tujuan pemukiman menjadi sorotan utama makalah ini. Dari pemahaman konsep pemukiman inilah diharapkan terkondisinya paradigma baru untuk perencanaan pemukiman, sehingga program transmigrasi dapat dilaksanakan dengan baik.
Pendekatan Hidrologi untuk Penilaian Kegiatan Pengeloiaan DAS
Alif Noor Anna
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4818
Dalam evaluasi sumber daya air sasaran wilayahnya adalah daerah aliran sungai (DAS), karena pada DAS merupakan satu kesatuan sistem aliran energi, di dalamnya terdapat input, (berupa hujan), prosesor (kondisi DAS) dan output (limpasan bersama suspensinya). Disamping itu pemantauan hasil proses yang berhubungan dengan ekosistem akan lebih mudah dilakukan. Karakter DAS ditentukan oleh kondisi lingkungan fisik, biologik dan peradaban manusia pada kawasan tersebut. Karena DAS merupakan satu sistem dimana bila ada prosesor terdapat suatu perubahan, maka akan didapatkan hasil yang berbeda pada outputnya. Dengan kata lain satu lingkungan DAS terjadi perubahan, maka segera diikuti perubahan lingkungan yang lain. Dengan dasar pemikiran di atas, maka debit aliran sebagai keluaran bersama air, desimen dan unsur hara dapat dipakai untuk mengevaluasi kondisi DAS pada saat bersangkutan. Oleh karena itu pendekatan hidrologi dapat digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan DAS. Indikator yang biasa dipakai adalah indeks Water Regime, koefisien aliran, sediment yield dan unsur kimia bersama unsur hara yang menyertainya. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti Sri Mulat Y (1984), Sarwono (1986), M. Fachrudin (7986) dan Maryono (1990). Dari peneliti tersebut ternyata tidak semua parameter hidrologi digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan DAS, hanya beberapa yang digunakan, namun dalam evaluasinya menggunakan data seri dengan cara melihat trend (kecenderungan) masing-masing parameter dari tahun ke tahun berikutnya. Dari hasil yang didapatkan ternyata parameter hidrologi mempunyai kecenderungan yang menurun setelah dilakukan pengelolaan DAS. Dari bukti diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan hidrologi dapat digunakan sebagai salah satu cara evaluasi pelaksanaan pengelolaan DAS. Namun pendekatan ini tidak dapat menunjukkan lokasi mana yang menghasilkan debit bersama suspensi dan unsur hara yang paling potensial. Di samping itu belum ada suatu kriteria yang baku guna menilai kondisi DAS, sehingga masih menyulitkan dalam analisanya.
Pola Keruangan Kriminalitas Perkotaan
D Dilahur
Forum Geografi Vol 8, No 1 (1994): July 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/forgeo.v8i1.4814
Masalah kejahatan cenderung meningkat secara kualitatif maupun kuantitatif bersama dengan semakin kompleknya kehidupan manusia. Jenis kejahatan bervariasi demikian pula dengan factor-faktor penyebabnya. Penggolongan jenis kejahatan dan teorinya bervariasi dari berbagai ahli dan disiplin ilmu. Geografi mengkaji kejahatan dari segi keruangan, lingkungan dan kewilayahan. Dari segi keruangan akan diperoleh persebaran berbagai jenis kejahatan baik asal pelaku maupun tempat peristiwa kejahatan terjadi serta asosiasi keruangannya dengan faktorfaktor sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan. Tidak semua jenis kejahatan mempunyai pola keruangan yang jelas. Geografi dapat memberi sumbangan terhadap pemecahan masalah kejahatan di perkotaan dengan pendekatan keruangan, lingkungan dan wilayah tersebut.