cover
Contact Name
Y. Andi Trisyono
Contact Email
anditrisyono@ugm.ac.id
Phone
+62274-523926
Journal Mail Official
jpti.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : 14101637     EISSN : 25484788     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2015)" : 8 Documents clear
Peran Tumbuhan Berbunga sebagai Media Konservasi Artropoda Musuh Alami Nia Kurniawati; Edhi Martono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.776 KB) | DOI: 10.22146/jpti.16615

Abstract

Flowering plants are plants with the ability to attract a lot of insects and other plant-loving organisms, as they possess various functions for these organisms, for instance as feed sources, ovipositions’ sites, or hiding places out of danger (refugia). Their varied functions make flowering plants to play important roles as special habitats for insects and other organisms. Their presence needs to be considered especially in agricultural land where the dominant planting pattern is monoculture, such as rice fields. The presence of flowering plants themselves will invite many different organisms playing their parts not only as herbivores, but also as natural enemies, pollinators and other ecologically important organisms. The faunal diversity stimulated by flowering plants will create more stable ecosystem, which in turn will keep the ecosystem components’ balance in check. The presence of flowering plants are therefore essential to the conservation of natural enemies in some particular ecosystem, such as agroecosystem. INTISARITumbuhan berbunga merupakan tumbuhan yang berkemampuan memikat banyak serangga dan jasad pemanfaat tumbuhan lainnya, dan memiliki banyak manfaat bagi jasad-jasad ini, misalnya sebagai sumber pakan maupun tempat perhentian (untuk meletakkan telur atau menyembunyikan diri dari bahaya). Fungsi yang beragam ini menyebabkan pentingnya memperhatikan tumbuhan berbunga sebagai habitat khusus bagi serangga dan jasad lainnya, terutama di pertanaman yang selama ini dominan sebagai ekosistem monokultur, misalnya pertanaman padi. Adanya tumbuhan berbunga akan mengundang berbagai jenis jasad yang dalam ekosistem tersebut memiliki bermacam-macam peran selain sebagai herbivora, misalnya sebagai musuh alami, polinator atau fungsi ekologis lainnya. Keberagaman fauna karena adanya tanaman berbunga akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, yang pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem. Kehadiran tumbuhan berbunga dengan demikian sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem. 
Obituari: Prof. (Riset) Dr. Ir. Ika Mustika, S.U. Siwi Indarti
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17544

Abstract

-
Deteksi Molekuler Penyebab Penyakit Kuning (Tomato chlorosis virus dan Tomato infectious chlorosis virus) pada Tanaman Tomat Resti Fajarfika; Sedyo Hartono; Sri Sulandari; Susamto Somowiyarjo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17250

Abstract

This research was aimed to detect the ToCV and TICV caused yellowing disease on tomatoes by molecular detection. Leaf samples of symptomatic plants were taken from Ketep (Magelang), then the leaves were identified by reverse transcription-polymerase chain reactions (RT-PCR) using specific primer ToCV-CF/ToCV-CR (360 bp) and TICVCF/TICV-CR (416 bp). The result of nucleotide sequence analysis, amino acid and PCR product phylogenetic sequences were verified as TICV, it showed that TICV from Magelang belongs to the same group with TICV from Japan, North America and Europe, France, Italy, and USA. INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan ToCV dan TICV penyebab penyakit kuning pada tanaman tomat. Daun bergejala diambil dari Desa Ketep (Magelang), selanjutnya diuji denganreverse transcription-polymerase chain reactions(RT-PCR) menggunakan primer spesifik ToCV-CF/ToCV-CR (360 bp) dan TICV-CF/TICV-CR (416 bp). Hasil analisis sekuen nukleotida, asam amino, dan filogenetik produk PCR teridentifikasi sebagai TICV yang menunjukkan bahwa TICV isolat Magelang berada dalam satu kelompok dengan isolat TICV asal Jepang, Amerika Utara dan Eropa, Perancis, Italia, dan USA. 
Utilization of Arbuscular Micorrhizal Fungi to Control Fusarium Wilt of Tomatoes Theodorsius Pedai; Bambang Hadisutrisno; Achmadi Priyatmojo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17255

Abstract

Tomato is a vegetable crop which is preferred by the Indonesian people. The problem encountered in tomato production is Fusarium wilt which is known as devastating disease. Studies have been done to solve the problem but effective and inexpensive control technique is still questioned. This study aimed to ascertain the ability of Arbuscular Mycorrhizal (AM) fungi as biological control agent in reducing tomato Fusarium wilt. Research was arranged in a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments and 10 replications. The treatments were untreated plants, Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici inoculated plants, AM fungi inoculated plants, AM fungi + F. oxysporum f.sp. lycopersici inoculated plants, F. oxysporum f.sp. lycopersici + benomyl inoculated plants. The results showed that plants which were inoculated with AM fungi had better growth compared to those which were not inoculated with AM fungi. Moreover, plants which were inoculated with AM fungi showed lower disease intensity compared to untreated plant and inoculated plant with F. oxysporum f.sp. lycopersici + benomyl application. Orthogonal contrast analysis showed plants treated with AM fungi significantly perform better growth and resistance towards infection compared with other treatments. Thus, it concluded that AM fungi had the potency as biological control agent. INTISARITomat merupakan tanaman sayuran yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Salah satu pengganggu utama pada tomat adalah penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici dan menimbulkan masalah yang serius. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut sangat besar sehingga perlu dicari cara pengendalian yang murah, efektif, dan aman. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan jamur mikoriza arbuskular (JMA) sebagai agens pengendali hayati dalam menekan penyakit layu Fusarium pada tomat ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan meliputi kontrol, inokulasi F. oxysporum f.sp. lycopersici, inokulasi JMA, inokulasi JMA dan F. oxysporum f.sp. lycopersici, inokulasi F. oxysporum f.sp. lycopersici dan aplikasi fungisida benomil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tomat yang diinokulasi JMA memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan yang tidak diinokulasi JMA. Intensitas penyakit pada tomat yang diinokulasi JMA lebih rendah, baik dibandingkan dengan kontrol maupun dengan perlakuan F. oxysporum f.sp. lycopersici dan aplikasi fungisida. Hasil analisis kontras orthogonal menunjukkan bahwa tomat bermikoriza berbeda nyata bila dibandingkan dengan yang tidak diinokulasi JMA maupun yang diaplikasi benomil. Terjadi peningkatan pertumbuhan tomat dan penekanan intensitas penyakit layu Fusarium, sehingga JMA berpotensi sebagai agens pengendali hayati (APH). 
Peranan Jamur Mikoriza Arbuskular terhadap Perkembangan Penyakit Daun Keriting Kuning Cabai Muhammad Imron; Suryanti Suryanti; Sri Sulandari
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17251

Abstract

Pepper yellow leaf curl disease caused by Begomovirus is a very important disease in chili plantation. The use of pesticides to control this disease has not yielded satisfactory results, so this study aimed to use arbuscular mycorrhiza fungus (AMF), to control curly leaf yellow disease of chili peppers. Pepper seeds were inoculated with AMF, i.e., T0 = seeds without AMF inoculation, T1 = seedlings inoculated with AMF at nursery, T2 = seedlings inoculated with AMF at transplanting, and T3 = seedlings inoculated with AMF at nursery and transplanting. Parameters observed every week were disease intensity and infection rate of yellow leaf curl disease. Results indicated that inoculation of AMF could delay Begomovirus infections and symptoms emergence of pepper yellow leaf curl disease. INTISARIPenyakit daun keriting kuning cabai disebabkan Begomovirus merupakan salah satu penyakit penting pada pertanaman cabai. Upaya pengendalian dengan menggunakan pestisida belum memberikan hasil yang memuaskan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA) dalam mengendalikan penyakit daun keriting kuning pada cabai. Penelitian dilaksanakan dengan menginokulasi bibit cabai menggunakan JMA dengan perlakuan T0= bibit tanpa inokulasi JMA, T1= bibit diinokulasi pada saat pembibitan, T2= bibit diinokulasi pada saat pindah tanam ke lahan pertanaman cabai, dan T3= bibit diinokulasi pada saat pembibitan dan pada saat pindah tanam ke lahan pertanaman cabai. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali dengan parameter pengamatan meliputi intensitas penyakit dan laju infeksi penyakit daun keriting kuning. Hasil penelitian menunjukkan kemunculan gejala penyakit daun keriting kuning cabai pada bibit yang diinokulasi dengan JMA lebih lambat dibandingkan bibit yang tidak diinokulasi dengan JMA.
Perkembangan Populasi Wereng Hijau dan Predatornya pada Beberapa Varietas Padi Wasis Senoaji; R. Heru Praptana
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17259

Abstract

The population of green leafhopper Nephotettix sp. from seedling until to the end of the vegetative phase needs to be controlled to avoid the incidence of tungro. Integrated pest management based on bioecological management of natural enemies has the potential to sustainable agroecosystems. The purpose of the study was to find out the population dynamics of green leafhopper and various species of predators on several rice varieties. Field study was conducted in a rainy season of 2013 at The Tungro Disease Research Station (Tundres), Lanrang, South Sulawesi. Observational methods were used to study development of the green leafhoppers population and their predators in five rice varieties: Inpari 4, Inpari 7, Inpari 9, IR 64, and TN1. The results showed that the population density of green leafhoppers increased during the vegetative stage and decreased in the generative stage. It was not affected by the resistance of varieties. Generally, the predators population density did not follow their prey. Shannon-Wienner (H’) diversity index of predators showed up to 0.91. It suggested that identifying predator functional traits improve opportunities of the practice of conservation biological control. INTISARIPopulasi wereng hijau Nephotettix sp. sejak persemaian hingga akhir fase vegetatif perlu dipantau dan dikendalikan untuk menghindari dan menekan insidensi tungro. Pengendalian hama terpadu yang berbasis bioekologi dengan menekan penggunaan pestisida, kesesuaian varietas dan pengelolaan musuh alami mempunyai potensi dalam membangun agroekosistem yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola perkembangan populasi wereng hijau dan berbagai jenis predatornya pada beberapa varietas padi sehingga menjadi informasi penting dalam penentuan jenis dan proporsi varietas, pemantauan kepadatan populasi wereng hijau dalam kaitannya dengan insidensi tungro. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Loka Penelitian Penyakit Tungro, Lanrang, Sulawesi Selatan pada musim hujan 2013, dengan mengunakan metode observasi untuk mengetahui keberadaan dan perkembangan populasi wereng hijau dan predatornya pada lima varietas padi yang berbeda umur (kegenjahan) dan ketahanannya terhadap wereng hijau, yaitu Inpari 4, Inpari 7, Inpari 9, IR 64, TN1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola populasi wereng hijau meningkat selama fase vegetatif (tiga hingga enam MST) dan menurun pada fase generatif (tujuh hingga delapan MST). Tingkat kepadatan populasi wereng hijau tidak dipengaruhi oleh ketahanan varietas. Secara umum, pola fluktuasi kepadatan populasi predator tidak mengikuti pola fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau di setiap varietas. Berdasarkan nilai indeks Shannon-wiener, keragaman predator berada diatas nilai indek 0,91 menunjukkan peluang konservasi musuh alami dalam pengendalian biologis dengan memfokuskan identifikasi tanggap fungsional predator terhadap hama sasaran. 
Tekanan Metarhizium anisopliae dan Feromon terhadap Populasi dan Tingkat Kerusakan oleh Oryctes rhinoceros Wtjaksono Witjaksono; Arman Wijonarko; Tri Harjaka; Irma Harahap; Wahyu Budi Sampurno
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17260

Abstract

Oryctes rhinoceros is one of the most serious pests in coconut palm tree. Biological control for controlling the pest is done by applying fungal entomopathogen Metarhizium anisopliae on its breeding sites to infect the larvae. Recent development for controlling Oryctes beetle was including the use of pheromone trap baited with ethyl-4-methyl octanoic which attract both male and female of the Oryctes beetle. This research was aimed to determine the effect of combination of both entomopathogen and pheromone application on the population dynamics of rhinoceros beetle, and the intensity of leaf damage on coconut tree. For this purpose, a research was conducted in local farmer coconut tree in the Bojong Village, Panjatan District, Kulon Progo from June 2009−January 2010. Observation including leaf damage intensity before and after application, the number of adult beetle trapped by pheromone, and the number infected larvae in the breeding site. The result showed that there were significant differences among all treatments in term of intensity of leaf damage, the number of trapped adult beetle, and the number of larvae at the breeding site. Leaf damage on control, pheromone application, and combined treatment were: 4.73%; 1.08% and 0.65%. The number of trapped Rhinoceros beetle by ferotrap was 101; in combined treatment was 52. The number of M. anisopliae infected grub were 265 out of 281 total observed grub. INTISARIKerusakan tanaman kelapa akibat serangan Oryctes rhinoceros terjadi mulai pada tanaman muda. Mengingat besarnya kerugian yang ditimbulkan, maka perlu diupayakan cara pengendalian yang efisien, efektif dan aman bagi sumber daya alam dan lingkungan. Salah satu cara pengendalian secara hayati adalah dengan menggunakan cendawan patogenik Metarhizium anisopliae. Selain menggunakan cendawan, upaya terkini dalam mengendalikan kumbang badak adalah dengan menggunakan perangkap berferomon. Feromon dengan bahan aktif Etil-4-metil oktanoat dapat memikat kumbang Oryctes jantan maupun betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gabungan feromon dan Metarhizium anisopliae terhadap dinamika populasi O. rhinoceros dan intensitas kerusakan pada tanaman kelapa. Penelitian ini dilaksanakan di kebun kelapa rakyat di Desa Bojong, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, dari bulan Juni 2009 sampai dengan Januari 2010. Parameter yang diamati adalah intensitas kerusakan sebelum dan setelah perlakuan, jumlah imago yang terperangkap oleh feromon, dan jumlah larva yang berada di breeding site. Analisis data menggunakan analisis varian dan dilanjutkan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beda nyata pada intensitas serangan, jumlah imago dan jumlah larva pada semua perlakuan. Intensitas serangan baru, yakni serangan yang terjadi setelah dilakukan pengendalian, secara berurut dari yang tertinggi adalah perlakuan kontrol, perlakuan perangkap berferomon, dan perlakuan gabungan yakni sebesar 4,73%; 1,08%; dan 0,65%. Jumlah imago yang terperangkap sebesar 101 ekor pada perlakuan ferotrap dan 52 ekor pada perlakuan gabungan. Larva yang terinfeksi M.anisopliae sebanyak 265 ekor dari total 281 ekor. 
Infeksi Ganda Begomovirus dan Crinivirus pada Tanaman Tomat di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Fitri Kusumaningrum; Sedyo Hartono; Sri Sulandari; Susamto Somowiyarjo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17542

Abstract

Since 2006, a yellowing disease has been observed in tomato (Lycopersicon esculentum) fields in Central Java, Indonesia. Epidemics of the diseases were mainly associated with populations of the whitefly Trialeurodes vaporariorum and Bemisia tabaci, the major whitefly pests in vegetable crops. The main symptoms were severe yellowing on lower leaves, and curling on upper leaves of plant. Total DNA was extracted from tomato leaves using CTAB methods, while total RNA was extracted using NucleoSpin RNA Plant extraction kit (Macherey-Nagel). Because of occurring mixed symptom on an individual plant, hereby it is important to detect the causal agent to manage of the disease. Samples from symptomatic plants were analyzed by polymerase chain reaction (PCR) and shown to be infected with Tomato infectious chlorosis virus (TICV) (family Closteroviridae, genus Crinivirus) and a virus species belongs to the genus Begomovirus, family Geminiviridae. The research result is the first report of Crinivirus and Begomovirus double infection in single tomato fields in Indonesia. INTISARIPenyakit kuning pada tanaman tomat (Lycopersicon esculentum) telah ditemukan sejak tahun 2006 di Jawa Tengah, Indonesia. Epidemi penyakit tersebut terutama berkaitan dengan keberadaan dua spesies whitefly (Trialeurodes vaporariorum dan Bemisia tabaci). Gejala utama yang ditemukan adalah daun-daun pada tanaman bagian bawah berwarna kuning sedangkan daun daun pada tanaman bagian atas menunjukkan gejala keriting. Adanya gejala campuran pada satu individu tanaman maka perlu dideteksi penyebabnya untuk pengelolaannya. DNA total diekstraksi dari daun tomat yang terinfeksi menggunakan metode CTAB, sedangkan total RNA diekstraksi dengan menggunaan NucleoSpin RNA Plant extraction kit (Macherey-Nagel). Analisis sampel tanaman sakit menggunakan teknik poymerase chain reaction (PCR) menunjukkan adanya infeksi Tomato infectious chlorosis virus (TICV) (famili Closteroviridae, genus Crinivirus) dan satu spesies virus anggota genus Begomovirus, famili Geminiviridae. Hasil penelitian ini merupakan laporan pertama kali adanya infeksi ganda kelompok Crinivirus dan Begomovirus pada satu individu tanaman tomat di Indonesia. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8