cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies)
ISSN : 2339191X     EISSN : 24069760     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Recently, the value of arts studies in higher education level is often phrased in enrichment terms- helping scholars find their voices, and tapping into their undiscovered talents. IJCAS focuses on the important efforts of input and output quality rising of art education today through the experiences exchange among educators, artists, and researchers with their very own background and specializations. Its primary goals is to promote pioneering research on creative and arts studies also to foster the sort of newest point of views from art field or non-art field to widely open to support each other. The journal aims to stimulate an interdisciplinary paradigm that embraces multiple perspectives and applies this paradigm to become an effective tool in art higher institution-wide reform and fixing some of biggest educational challenges to the urban imperative that defines this century. IJCAS will publish thoughtprovoking interdisciplinary articles, reviews, commentary, visual and multi-media works that engage critical issues, themes and debates related to the arts, humanities and social sciences. Topics of special interest to IJCAS include ethnomusicology, cultural creation, social inclusion, social change, cultural management, creative industry, arts education, performing arts, and visual arts.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2021): June 2021" : 6 Documents clear
Site Visit vs Mental Visualization on Lanna Architecture: A Study on Working Memory in Young Adult Tawipas Pichaichanarong
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.4926

Abstract

The rise of modern architecture styles has strongly impacted the younger generation globally in the current century. This research is designed to study the performance of working memory on understanding Lanna architecture with young adults at a large university in northern Thailand, that of Mae Fah Luang University in Chiang Rai Province, Thailand. In this study, the research focuses on studying the effectiveness of young adults’ working memory to discern Lanna architecture through site visits and mental visualization. The outcomes of this research can help improve architecture pedagogy in the future. For the methodology, questionnaires were used by collecting data from 412 university students from a university in northern Thailand. The data then were analyzed using mean, standard deviation, and p-value. This study concludes that the performance of working memory on the comprehension of Lanna architecture through site visits and mental visualization for young adults was positive. Kunjungan Situs vs Visualisasi Mental pada Arsitektur Lanna: Studi tentang Memori Kerja pada Anak Muda Abstrak Kemunculan gaya arsitektur modern memberi pengaruh kuat pada generasi muda di penjuru duina pada abad ini. Penelitian ini dirancang untuk mempelajari kinerja Memori kerja saat memahami arsitektur Lanna di kalangan anak muda pada sebuah universitas besar di Thailand utara, yaitu Universitas Mae Fah Luang di Provinsi Chiang Rai, Thailand. Dalam studi ini, penelitian berfokus pada bagaimana mempelajari efektivitas memori kerja anak muda untuk membedakan arsitektur Lanna melalui kunjungan situs dan visualisasi mental. Hasil dari penelitian ini dapat membantu meningkatkan pedagogi arsitektur di masa depan. Untuk metodologinya, kuesioner dikumpulkan dari 412 mahasiswa dari sebuah universitas di Thailand utara. Data kemudian dianalisis melalui rata-rata, standar deviasi, dan p-value. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja Memori kerja pada pemahaman arsitektur Lanna melalui kunjungan situs dan visualisasi mental pada anak muda memberi hasil yang positif.
Local Wisdom in Yogyakarta International Airport Febriansyah Ignas Pradana
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.4479

Abstract

The mega construction of Yogyakarta International Airport aims to increase global interaction in Yogyakarta. The existence of an airport in a region should be important. Furthermore, the airport is also able to show the identity of a region itself. The airport can also be a landmark, which is able to represent the cultural values of people in a region. The Special Region of Yogyakarta, which is broadly known as a cultural and educational province, has thousand of cultural values in its local wisdom. This research aims to describe (1) the local wisdom contained in Yogyakarta International Airport, and (2) the values of that local wisdom. Earlier, we have identified the condition of Yogyakarta International Airport, in order to create a research plan for this research. However, we found the main data, namely local wisdom in the airport’s building. From that fact, we formed research questions and set the main theory to classify and analyze them. We collect the data under the method of Simak Catat. According to the data, we set Haryanto (2014) theory as the main theory. In order to collect valid and reliable data, we also conduct a deep interview with Andika as an interviewee from PT. Angkasa Pura I is the coordinator of Yogyakarta International Airport. The results show that there are eighteen local pearls of wisdom in Yogyakarta International Airport, and the values of that local wisdom are triggered by the socio-cultural aspect. Kearifan Lokal di Yogyakarta International AirportAbstrakPembangunan Bandar Udara Yogyakarta International Airport bertujuan untuk meningkatkan hubungan global yang selama ini telah dilaksanakan di Yogyakarta. Keberadaan dari sebuah bandar udara Internasional di Yogyakarta menjadi sangat vital. Bandar udara selain sebagai pusat dalam kegiatan penerbangan, turut menjadi identitas dari suatu daerah tempat bandar udara tersebut berada. Bandar udara dapat menjadi landmark bagi wilayah karena merepresentasikan kehidupan dan nilainilai budaya yang terkandung di dalam masyarakat. Daerah Istimewa Yogyakarta, yang juga dijuluki kota budaya, memiliki beragam kearifan lokal yang mampu menunjukkan identitas budaya pada sebuah bandar udara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kearifan lokal yang terdapat di bandar udara Yogyakarta International Airport, dan (2) nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut. Data utama dalam penelitian ini adalah kearifan lokal yang terdapat pada bandar udara Yogyakarta International Airport. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak catat. Pada proses analisis data yang turut mencakup proses pengklasifikasian data, selanjutnya data iklasifikasikan berdasarkan teori Haryanto (2014) yang membagi kearifan lokal dalam bentukbentuk atau kategori tertentu. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan mixed-method yaitu pendekatan yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam satu waktu. Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi titik awal bagi terciptanya sarana dan prasarana yang tepat guna di sebuah bandar udara Internasional.
Aesthetics of Virtual: The Development Opportunities of Virtual Museums in Indonesia Ayu Soraya; Yusup Sigit Martyastiadi
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.5346

Abstract

The Covid-19 pandemic requires us to carry out physical and social distancing. It is undeniable, this also has an impact on government policy to close tourist destinations, including museums. Currently, sophisticated 3D visualization technology provides the potential for the development of virtual museums. The virtual museums were developed for giving the experience of the visiting museum in the digital world as a distance learning. This application can provide immersion through interactivity while exploring virtual museums. Basically, this article explains the aesthetic investigations in some virtual museums. The researchers describe the aesthetic of each sampled virtual museums projects. The literature synthesis of several virtual museums projects is expected to be able to give an idea of the potential development of virtual museums in Indonesia. The aesthetics of virtual elements could be used as a recommendation for museum conservator for the development of prospective Indonesian virtual museums. Furthermore, the aesthetics of virtual in digital museums provide opportunities to present virtual museums exploration experiences. Estetika Virtual: Peluang Perkembangan Museum Virtual di IndonesiaAbstrakPandemi Covid-19 mengharuskan kita melakukan jarak fisik dan sosial. Tak bisa dipungkiri, hal ini juga berdampak pada kebijakan pemerintah untuk menutup destinasi wisata, termasuk museum. Saat ini, teknologi visualisasi 3D yang canggih memberikan potensi untuk pengembangan museum virtual. Museum virtual dikembangkan untuk memberikan pengalaman mengunjungi museum di dunia digital sebagai pembelajaran jarak jauh. Aplikasi ini dapat memberikan immersion melalui interaktivitas sambil menjelajahi museum virtual. Pada dasarnya, artikel ini menjelaskan investigasi estetika di beberapa museum virtual. Para peneliti mendeskripsikan estetika dari setiap proyek museum virtual yang dijadikan contoh. Sintesis literatur dari beberapa proyek museum virtual diharapkan dapat memberikan gambaran tentang potensi perkembangan museum virtual di Indonesia. Estetika unsur virtual dapat dijadikan sebagai rekomendasi bagi konservator museum untuk pengembangan museum virtual Indonesia yang akan datang. Selain itu, estetika virtual dalam museum digital memberikan peluang untuk menghadirkan pengalaman eksplorasi museum virtual.
Non-Random Samples as a Data Collection Tool in Qualitative Art-Related Studies Eslam Y Khalefa; Sri Nurhayati Selian
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.5184

Abstract

ABSTRACT Non-random sampling as a tool in data collection has widely become a prominent issue in art-related phenomena and is more complicated than ever due to the heterogeneity of the study population. However, the foremost justification of this paper was the identification of several gaps of literatures in the selection of samples that usually lead to misunderstanding. This is because literatures mostly are not related to arts. The misunderstanding includes sample design and representative sample selected size determination. Nevertheless, there is a wide variety of techniques, different styles and trends that influence the field of contemporary art. Confusion is created when many researchers rely on a random sampling strategy that relies heavily on artists rather than works of art. The aim of this study is to explain how to select a representative sample of a heterogeneous population in art-related research. The investigation provided a new vision to select samples of artists, art works and art lovers. This study used an inductive approach through reading books, articles, newspapers, and opinions of philosophers and scholars in the field of research methodology. The most important result of this paper is that non-random sampling is better and more effective than random sampling strategy in art-related studies as it provides beneficial results for heterogeneous populations especially with regard to artists, works of art and art lovers. Sampel Tidak Acak sebagai Alat Pengumpulan Data dalam Studi Terkait Seni Kualitatif ABSTRAKPengambilan sampel tidak acak sebagai alat dalam pengumpulan data telah menjadi isu yang menonjol dalam fenomena yang berkaitan dengan seni dan lebih rumit dari sebelumnya dikarenakan heterogenitas populasi penelitian. Namun justifikasi utama dari makalah ini adalah identifikasi beberapa gap literatur dalam pemilihan sampel yang biasanya menimbulkan kesalahpahaman. Hal ini karena kebanyakan literatur tidak berkaitan dengan seni. Kesalahpahaman mencakup desain sampel dan penentuan ukuran sampel yang dipilih secara representatif. Namun demikian, ada berbagai macam teknik, gaya dan tren berbeda yang mempengaruhi bidang seni rupa kontemporer. Kebingungan tercipta ketika banyak peneliti mengandalkan strategi pengambilan sampel acak yang sangat bergantung pada seniman daripada karya seni. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana memilih sampel yang representatif dari populasi yang heterogen dalam penelitian yang terkait dengan seni. Investigasi memberikan visi baru untuk memilih sampel seniman, karya seni dan pecinta seni. Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif melalui membaca buku, artikel, surat kabar, dan pendapat filsuf dan sarjana dalam bidang metodologi penelitian. Hasil terpenting dari makalah ini adalah pengambilan sampel tidak acak lebih baik dan lebih efektif daripada strategi pengambilan sampel secara acak dalam studi terkait seni karena memberikan hasil yang bermanfaat bagi populasi yang heterogen terutama yang berkaitan dengan seniman, karya seni dan pecinta seni.
Re-Actualization Balinese Gamelan Harmony for Renewal Knowlegde of the Balinese Music I Ketut Ardana
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.5514

Abstract

Balinese music has a variety of gamelan that develops in the community. Balinese gamelan is a central object in the development of Balinese musical knowledge. One of the most problematic is the harmony system. In the context of Balinese music knowledge, the harmony system is an element that is often discussed its existence. The 'harmony system' has been recognized through the dualistic concept. This concept is the source of the technique for playing the Balinese Gamelan. Knowledge of the harmony system with this dualistic concept is based on the object of research by Gamelan Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar is indeed very closely related to the dualistic system. However, this system is not relevant to several other Balinese Gamelan, one of which is the Gamelan Gambang. Therefore, knowledge of the harmony system in Balinese music needs to be updated. This update is an actualization of knowledge about gamelan harmony. The problems discussed in this article are what is Balinese Gamelan harmony, what is the roles of Balinese Gamelan harmony and the concept of Balinese musical harmony. This reaserch uses a mix method, namely qualitative and quantitative methods. Musicology approach as a qualitative method while sound physics as a quantitative method. Re-aktualisasi Harmoni Gamelan Bali untuk Pembaruan Pengetahuan Musik Bali Abstrak Karawitan Bali memiliki ragam gamelan yang berkembang di masyarakat. Gamelan Bali merupakan objek sentral dalam pengembangan pengetahuan karawitan Bali. Salah satu yang paling bermasalah adalah sistem harmoni. Dalam konteks pengetahuan karawitan Bali, sistem harmoni merupakan unsur yang sering dibicarakan keberadaannya. Sistem harmoni terepresentasi melalui konsep dualistik. Konsep inilah yang menjadi sumber teknik memainkan Gamelan Bali pada umumnya. Pengetahuan sistem harmoni dengan konsep dualistik ini berdasarkan objek penelitian Gamelan Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar memang sangat erat kaitannya dengan sistem dualistik. Namun sistem ini tidak relevan dengan beberapa Gamelan Bali lainnya, salah satunya Gamelan Gambang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang sistem harmoni dalam karawitan Bali perlu dimutakhirkan. Pembaruan ini merupakan aktualisasi pengetahuan tentang harmoni gamelan. Permasalahan yang dibahas dalam artikel ini adalah apa yang dimaksud dengan harmoni Gamelan Bali, batasan harmoni Gamelan Bali dan model harmoni secara musikal gamelan Bali. Penelitian ini menggunakan mixmethode , yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan musikologi sebagai metode kualitatif sedangkan fisika bunyi sebagai metode kuantitatif.
The Art Form of Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) Angga Kusuma Dawami; Martinus Dwi Marianto; Suwarno Wisetrotomo
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.5375

Abstract

Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) has become one of the most popular visual arts in Indonesia since Wedha Abdul Rasyid decided on this style in 2010. A decade later, WPAP became part of visual arts in Indonesia, used by many millennial designers, sheltered by the chapter community in regions; Jakarta chapter, Jogjakarta chapter, Surabaya chapter, etc. Visual arts-based on faces is a strong characteristic of WPAP. Only a few have achieved the WPAP form in accordance with the art form that Wedha first brought up. Economic motives became the biggest influence on the change in orientation from WPAP art to commodity. Therefore, the art form in WPAP tends to follow market trends. This paper tries to define the existing art in WPAP, with the formulation of the problem: what is the art form in WPAP in Indonesia? The formal approach to art is an important part of knowing art in WPAP. Through descriptive-analytic, an explanation of the art form in WPAP according to the Wedha’s experience is presented in this paper. The analysis is using an analysis of interactions between members of the WPAP community in several chapters which already have a "chapter" community. The art form in WPAP has almost the same characteristics as Wedha's work in the early appearance of WPAP. Wedha had a past that grapples with artwork; making illustrations, making magazine covers, making comics, and so on. The makers of WPAP in the WPAP community also have an art form in WPAP that is the same in pattern, because it is based on WPAP that was initiated by Wedha at the beginning of its appearance. The art form in WPAP has characteristics in color and line drawing. Bentuk Seni dari Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) Abstrak Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) menjadi salah satu seni visual yang banyak digemari sejak Wedha Abdul Rasyid memutuskan gaya ini pada tahun 2010. Satu dekade berikutnya, WPAP menjadi bagian dari seni visual di Indonesia, digunakan oleh banyak desainer milenial, dinaungi oleh komunitas chapter yang ada di wilayah-wilayah; chapter Jakarta, chapter Jogjakarta, chapter Surabaya, dll. Seni visual berbasis pada wajah, menjadi ciri khas yang kuat pada WPAP. Hanya sedikit yang mencapai bentuk WPAP yang sesuai dengan bentuk seni yang Wedha munculkan pertama kali. Motif ekonomi menjadi pengaruh terbesar pada perubahan orientasi dari seni WPAP menjadi komoditi. Sehingga bentuk seni dalam WPAP cenderung untuk mengikuti tren pasar. Tulisan ini mencoba untuk mendefinisikan seni yang ada dalam WPAP, dengan rumusan masalah: Bagaimana bentuk seni dalam WPAP menurut komunitasnya di Indonesia? Pendekatan formal seni menjadi bagian penting untuk mengetahui seni dalam WPAP. Melalui diskriptif-analitik, penjelasan tentang bentuk seni dalam WPAP menurut komunitasnya disajikan dalam tulisan ini. Analisis yang digunakan adalah analisis interaksi antar anggota komunitas WPAP di beberapa chapter yang telah memiliki komunitas “chapter”. Bentuk seni dalam WPAP memiliki ciri khas yang hampir sama dengan karya Wedha pada awal-awal kemunculan WPAP pertama kali. Wedha memiliki masa lalu yang bergulat dengan pekerjaan seni; membuat ilustrasi, membuat cover majalah, membuat komik, dan lain sebagainya. Pembuat WPAP di komunitas WPAP juga memiliki bentuk seni dalam WPAP yang sama secara pola, karena memang berbasis pada WPAP yang dicetuskan oleh Wedha pada awal kemunculannya. Bentuk seni dalam WPAP memiliki ciri khas dalam warna, tarikan garis, pemilihan pallet, konstruksi wajah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6