cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009" : 12 Documents clear
PERANAN PSIKOTERAPI PADA PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR N, Hanati
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.336 KB)

Abstract

Penyalahgunaan zat atau ketergantungan zat bukan merupakan sindrom tunggal tetapi merupakan gabungan berbagai sindrom patologis seperti depresi, kompulsivitas bahkan menyerupai psikosis dan cedera kepribadian. Dibutuhkan pemeriksaan dengan wawancara psikodinamik dan penanganan psikoterapi. Untuk mengetahui peran psikoterapi pada pasien  Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) di RSUP Sanglah Denpasar diadakan penelitian dengan membandingkan pasien yang menggunakan metadon yang mendapatkan psikoterapi dan pasien yang mendapatkan konseling obat. Penelitian ini merupakan studi klinis eksperimental. Pasien di kategorikan menjadi 2 kelompok. Sebanyak 142 orang yang terdiri dari 78 orang kelompok psikoterapi dan 64 orang kelompok konseling obat diamati dalam jangka waktu 6 bulan. Analisis data dilakukan dengan uji t-test. Hasil menunjukkan bahwa pasien yang mendapat psikoterapi hasil urinalisis opiate yang negatif lebih tinggi pada bulan VI dibandingkan dengan pasien yang mendapat konseling obat (p< 0,05), dosis rata-rata metadon yang dibutuhkan kelompok psikoterapi lebih rendah dibanding kelompok konseling obat (p<0,05), pasien dengan gejala psikiatri pada taraf gangguan yang berat menunjukkan perbaikan dibanding kelompok konseling obat(p<0,05). Disimpulkan bahwa psikoterapi berperan dalam pengurangan pemakaian opiate,  menekan kebutuhan dosis methadone, perbaikan hasil pada pasien dengan gejala gangguan psikiatri pada taraf berat.[MEDICINA 2009 ;40 :32-7].  
KEJADIAN KOLONI JAMUR PADA PENDERITA OTORE DENGAN BERBAGAI PENYEBAB DI POLIKLINIK THT RUMAH SAKIT PENDIDIKAN UNHAS R, Sedjawidada; Savitri, Eka; Kadir, Abdul; Djamin, Riskiana
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.336 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian survey dengan pendekatan deskriptif tentang Kejadian Koloni Jamur pada Penderita Otore dengan Berbagai Penyebab di Poliklinik THT Rumah Sakit Pendidikan Unhas. Sampel yang diteliti adalah eksudat yang diambil dari liang telinga luar setiap telinga yang menderita Otitis eksterna superfisialis basah, Otitis media supuratif akut perforasi, Otitis media supuratif kronik benigna aktif. Dari total sampel sejumlah 103 yang dipilih secara consecutive sampling didapatkan adanya koloni jamur pada otitis eksterna superfisialis basah sebesar 57,8% dengan jenis jamur Aspergillus niger 17,9%, Candida albicans 13,3% dan Aspergillus fumigatus 8,9%. Koloni jamur pada OMSA perforasi sebesar 44,4% dengan jenis jamur Aspergillus fumigatus 11,1%, Candida albicans 11,1% dan Aspergillus niger 5,6%. Koloni jamur pada OMSK benigna aktif sebesar 25% dengan jenis jamur Apergillus fumigatus 17,5%, Aspergillus niger 2,5% dan Candida albicans 2,5%.[MEDICINA 2009;40:21-6].
ANCANG-ANCANG 11 LANGKAH LEBIH BAIK DARI 7 DAN 15 LANGKAH PADA NOMOR LOMPAT JAUH Sandi, I Nengah
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.062 KB)

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian perbedaan ancang-ancang (AA) lompat jauh 7 langkah (lk), 11 lk dan 15 lk pada siswa usia 11 tahun. Sampel diambil dari siswa SD 7 Pedungan dan dipilih sebanyak 29 orang secara acak sederhana dan dibagi menjadi 3 kelompok. Kemudian setiap kelompok diberikan 3 perlakuan yang dialokasikan secara cross over yaitu: AA 7 lk (± 10m), AA 11 lk (± 15m) dan AA 15 lk (± 20m) selama tiga hari berturut-turut. Pada hari pertama kelompok-1 dengan  AA 7 lk, kelompok-2 11 lk dan kelompok-3 15 lk, pada hari kedua kelompok-1 dengan AA 11 lk, kelompok-2 15 lk dan kelompok-3 7 lk, sedangkan pada hari ketiga kelompok-1 dengan AA 15 lk, kelompok-2 7 lk dan kelompok-3 11 lk. Uji One Way Anova dengan Least Significant Differencs (LSD) dipakai untuk menganalisis data pada tingkat kemaknaan 0,05.  Beda hasil lompatan antara AA 11 lk dengan AA 7 lk dan antara AA 11 lk dengan AA 15 lk berturut-turut 0,16m dan 0,18m dengan nilai p berturut-turut 0,05 (p ? 0,05) dan 0,03 (p < 0,05). Jadi lompatan terjauh dihasilkan dari AA 11 lk, yang beda bermakna (p ? 0,05) dengan AA 7 lk dan AA 15 lk.  Untuk itu disarankan kepada siswa usia 11 tahun menggunakan AA 11 lk dalam berlatih.[MEDICINA 2009;40:5-10].
PERBEDAAN NILAI FUNGSI PARU PENGELAS PADA AWAL SHIFT KERJA DAN CROSS-WEEK DI DENPASAR SELATAN TAHUN 2008 I M, Muliarta
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada proses pengelasan dihasilkan gas, fumes dan bahan kimia toksik seperti partikel logam yang dilepaskan ke dalam atmosfer. Baik nitrogen dioksida, ozon, dan beberapa fumes dari logam bersifat sebagai oksidan/radikal bebas sehingga dihasilkan berbagai jenis Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS). ROS dan RNS dapat mempengaruhi fungsi paru secara akut. Paparan berbagai hazard yang menghasilkan ROS/RNS dapat mempengaruhi fungsi paru secara akut. ROS/RNS  dapat secara langsung merusak epitel alveoli atau merangsang inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan fungsi paru pengelas pada awal shift kerja dan cross-week di Denpasar Selatan. Penelitian ini merupakan studi cohort dengan 26 subjek penelitian. Pada penelitian didapatkan hasil adanya perbedaan (penurunan) nilai FEV1 sebesar 0,28 ± 0,25 liter, FVC 0,31 ± 0,24 liter, dan %FVC 6,5 ± 4,0% pada cross-week dibandingkan dengan awal shift kerja (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan nilai %FEV1 pengelas cross-week dibandingkan dengan awal shift kerja. Simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan (penurunan) nilai FEV1, FVC, dan %FVC  pengelas pada cross-week dibandingkan dengan awal shift kerja. Disarankan untuk dilakukan pengukuran kadar berbagai bahan kimia di lingkungan kerja bengkel las.[MEDICINA 2009;40:38-42].  
KORIOKARSINOMA PASCAABORTUS Gede Budiana, I Nyoman
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.012 KB)

Abstract

Dilaporkan kasus, seorang wanita berusia 30 tahun dengan diagnosis tumor tropoblas gestasional klinis risiko rendah. Diagnosis ini didasarkan pada keluhan perdarahan abnormal pervaginam selama 1 ½ bulan, dimulai sejak kuretasi oleh karena abortus terhadap kehamilannya yang keempat. Pada pemeriksaan didapatkan pembesaran uterus, konsistensi lunak. Kadar ?-hCG serum tinggi. Penderita selanjutnya mendapatkan kemoterapi tunggal metotreksat 20 mg/hari IM selama 5 hari dengan interval 2 minggu. Setelah pemberian kemoterapi 1 seri, terjadi penurunan kadar  ?-hCG serum secara drastis. Setelah pemberian kemoterapi seri kedua, penderita lost to follow-up dan 7 bulan kemudian hamil, namun kembali mengalami abortus. Setelah kuretasi didapatkan kadar ?-hCG serum sangat tinggi, selanjutnya penderita memutuskan untuk dilakukan histerektomi. Hasil PA menunjang diagnosis penyakit tropoblas ganas dengan kesimpulan koriokarsinoma dengan sel-sel ganas masih aktif. Penderita selanjutnya diberikan kemoterapi tunggal dengan monitoring kadar ?-hCG serum. Setelah pemberian kemoterapi metotreksat 20 mg/hari IM sebanyak 5 seri dengan interval 2 minggu didapatkan respon klinis dan laboratorium baik dengan kadar ?-hCG serum normal. Kemoterapi after course dilanjutkan sebanyak 2 seri. Penderita dinyatakan mengalami remisi.[MEDICINA 2009;40:65-72].  
BAHAYA RADIASI DAN CARA PROTEKSINYA P, Badunggawa; IN, Sandi; IW, Merta
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.128 KB)

Abstract

Radiasi yang kita terima setiap saat, termasuk radiasi untuk tujuan kedokteran, mempunyai dampak positif dan negatif terhadap keselamatan manusia dan lingkungan. Dampak positif dari radiasi terhadap keselamatan manusia diantaranya adalah digunakan sebagai pengobatan dan dampak negatifnya adalah tergantung dari besar dosis yang diterima diantaranya adalah mulai dari mual, muntah, pusing-pusing, rambut rontok, menyebabkan kanker, diturunkan secara genetik, dan yang lebih berbahaya lagi adalah menyebabkan kematian. Oleh karena itu kita harus berhati-hati terhadap bahaya yang ditimbulkannya, baik terhadap pekerja radiasi maupun masyarakat umum termasuk pasien. Perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan radiasi ini dikenal dengan istilah proteksi radiasi. Sehingga dosis yang diterima pertahun oleh pekerja atau masyarakat umum tidak melebihi batas dosis yang ditetapkan oleh Bapeten. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalkan bahaya tersebut sehingga pekerja dan pasien merasa aman melakukan dan dikenai tindakan medik.[medicina 2009;40:47-51].  
PROFILAKSIS RABIES NM, Susilawathi; AA, Raka Sudewi
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.607 KB)

Abstract

Rabies merupakan penyakit ensefalitis akut yang disebabkan oleh virus RNA, famili Rhabdoviridae, genus lyssavirus. Anjing adalah reservoir utama penularan rabies, puluhan ribu kematian per tahun disebabkan oleh gigitan anjing rabies. Bila seseorang menunjukkan gejala rabies, biasanya selalu fatal.  Profilaksis terhadap rabies merupakan tindakan efektif dan aman. Mencuci luka dan vaksinasi segera setelah kontak dengan hewan tersangka rabies dapat mencegah timbulnya rabies hampir 100%. Strategi yang paling efektif untuk mencegah rabies adalah mengurangi penularan rabies pada anjing melalui vaksinasi.[MEDICINA 2009;40:55-9].
PENGARUH PEMBERIAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam) TERHADAP KADAR VITAMIN E PLASMA HEWAN MODEL PREEKLAMPSIA N, Arcana; W, Sugiritama
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.255 KB)

Abstract

Banyak penelitian membuktikan bahwa wanita dengan preeklampsia memiliki kadar antioksidan yang rendah. Karena itu, dengan memberikan sumber antioksidan eksogen, akan memberikan harapan untuk dapat meningkatkan kadar antioksidan pada wanita hamil dan mencegah timbulnya preeklampsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian minyak buah merah yang banyak mengandung antioksidan vitamin E dan betakaroten terhadap kadar  antioksidan vitamin E plasma pada hewan tikus putih  strain Wistar betina model preeklampsia. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the randomized pre and post test control group design. Hasil penelitian menunjukkan pemberian minyak buah merah dapat mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah dan proteinuria pada kelompok II, III, IV. Kelompok I mengalami peningkatan tekanan darah dan proteinuria. Minyak buah merah dapat meningkatkan kadar vitamin E plasma kelompok  II, III, IV. Terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) kadar vitamin E plasma antara kelompok I dengan kelompok II, III, IV, dan antara kelompok IV dengan kelompok I, II, III. Pengujian korelasi bivariat mendapatkan adanya hubungan negatif (p<0,01) antara vitamin E plasma dengan gejala preeklampsia, sehingga disimpulkan bahwa buah merah berperan mencegah terjadinya gejala preeklamsia pada hewan percobaan.[MEDICINA 2009;40:27-31].    
MALE TERM NEONATE WITH BLADDER EXSTROPHY–EPISPADIAS COMPLEX Utami Budha, Made Indah Nastiti; Retayasa, I Wayan; Kardana, I Made; *, Bowolaksono; Kawiyana, Ketut Siki
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.43 KB)

Abstract

Bladder exstrophy is a malformation of the bladder, in which the bladder and related structures are turned inside out. Bladder exstrophy affects one in approximately 50,000 livebirths. Male to female ratio is 2.3 : 1. Epispadias is commonly seen with exstrophy of the bladder. The cause and nature of the faulty development is not yet clear. The diagnosis is generally immediately apparent. Bladder exstrophy is a surgical correctable birth defect. In this case, bladder exstrophy–epispadias complex founded in male term neonate. On inspection was founded bladder everted through a midline lower abdominal wall defect, widening of the pubic symphisis and epispadias. Urology ultrasound revealed absent of the right kidney at right fossa renalis or in pelvic cavity, slight hydronephrosis of left kidney, no appearance of bladder in pelvic cavity. Patient underwent surgery during hospitalized in Sanglah Hospital - Denpasar. This patient was referred to the Congenital Anomaly Team in Dr. Soetomo Hospital - Surabaya because there was wound dehiscence during post operation care.[MEDICINA 2009;40:60-4].
THE EFFICACY OF FORK TYPE HOE AND SINGLE BLADE HOE FOR HOEING WET RICE FIELD LAND IN POH MANIS VILLAGE, DENPASAR MUNICIPALITY N, Adiputra; DP, Sutjana
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.757 KB)

Abstract

Balinese farmer in doing their daily activities in agricultural work still relay on their hand tools. One of the hand tools used is the hoe. In fact there are two type of hoe, fork type and single blade hoe.  The single blade hoe is very rare used for hoeing in wet rice field. Farmer chose the fork type one. Therefore, a study was conducted to compare the efficacy of those two hoes. Twenty farmers were participated voluntarily. They were divided into two groups evenly. The first group hoeing using the fork type hoe, and the second group using the single blade one. They hoeing in the same area of rice field (wet rice field) from 07.00 until 12.00. The parameter measured were resting and working heart rate, product and productivity, musculoskeletal disorders, and the deep of soil hoed. The student-t test was applied to analyses the results. The results found are: a) the working heart rate, the product and productivities were 111.1 ± 14.66 bpm; 127.74 ± 9.15 m2; 0.54 ± 0.00 and 110.2 ± 13.88 bpm; 126.88 ± 8.79 m2; 0.54 ± 0.00  for first group and second group, respectively. The MSD and the deep of soil hoed were 4.50 ± 1.97; 30.0 ± 2.54 cm and  4.45 ± 2.03; 29.64 ± 1.75 cm for both groups. There are no significant different found statistically. Therefore, it is concluded that the efficacy of single blade hoe is similar to the fork type hoe for hoeing the wet rice field in the tropic. For further study it is recommended to use these two hoes for hoeing in the dry soil.[MEDICINA 2009;40:43-6].

Page 1 of 2 | Total Record : 12