Articles
13 Documents
Search results for
, issue
"Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015"
:
13 Documents
clear
ASPEK PSIKIATRI PADA PENYAKIT PARKINSON
Grantika, Putu Agus;
Westa, Wayan;
Samatra, DPG Purwa
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (198.244 KB)
Penyakit Parkinson merupakan suatu kelainan degeneratif sistem saraf pusat yang disebabkan olehaktivitas neuron dopaminergik yang sangat berkurang, terutama di daerah pars kompakta dari nigrasubstantia. Penyakit Parkinson menampilkan gejala motor dan gejala nonmotor yang meliputi berbagaidomain termasuk gejala-gejala di bidang psikiatri.Gejala psikiatri pada penyakit Parkinson seringterjadi bahkan pada tahap awal penyakit, dan memiliki konsekuensi penting terhadap kualitas hidupdan fungsi sehari-hari. Gejala psikiatri yang paling sering muncul pada penyakit Parkinson adalahpsikosis, depresi, dan kecemasan. Patofisiologi gangguan neuropsikiatri ini sangat kompleks danmultifaktorial, melibatkan proses neurodegeneratif, mekanisme psikologis dan efek yang berkaitandengan pengobatan farmakologis. [MEDICINA 2015;46:28-32].Parkinson?s disease is a degenerative disorder of the central nervous systemdue togreatly reduced ofthe activity of dopaminergic neurons, especially pars compacta area in the substantia nigra. Parkinson?sdisease show motor and non-motor symptoms that include a variety of domains, including psychiatricsymptoms. Psychiatric symptoms in Parkinson?s disease often occur in the early stages of disease, andhas important consequences for the quality of life and daily functioning. The most frequent psychiatricsymptoms appear in Parkinson?s disease are psychosis, depression, and anxiety. Pathophysiology ofneuropsychiatric disorders are complex and multifactorial, involving neuro degenerative processes,psychological mechanisms and associated with the effects of pharmacological treatment. [MEDICINA2015;46:28-32].
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN KISTA DUKTUS TIROGLOSUS
Mustika, I Made;
Nuaba, I Gde Ardika
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (187.252 KB)
Kista duktus tiroglosus merupakan massa leher kongenital yang paling sering dijumpai pada anak-anak namun dapat juga dijumpai pada orang dewasa. Kelainan ini terjadi oleh karena kegagalanobliterasi duktus tiroglosus selama masa embriologi. Pada laporan kasus ini dilaporkan seorangperempuan berusia 35 tahun dengan kista duktustiroglosus. Keluhan disadari sejak 2 bulan yanglalu. Pemeriksaan sitologi aspirasi jarum halus preoperasi suatu lesi kistik, gambaran morfologisesuai untuk kista duktus tiroglosus.Hasil tes fungsi tiroid dalam batas normal dan hasil ultrasonografi leher menunjukkan kesan suspek kista duktus tiroglosus, tiroid kanandankiri normal.Penatalaksanaan kasus ini adalah eksisi seluruh kista dan saluran duktus tiroglosus sampai foramensekum pada dasar lidah yang dikenal dengan teknik Sistrunk.Hasil histopatologi spesimenpembedahan menunjukkan kista duktus tiroglosus. Perkembang kasus ini menunjukkan hasilpenyembuhan yang baik dan 6 bulan pasca-tindakan eksisi tidak ditemukan adanya kekambuhan.[MEDICINA 2015;46:52-55].Thyroglossal duct cyst (TDC) is common congenital neck mass usually present in young children althoughcan be found in adult. TDC results from a failure in obliteration of the embryogenic duct formationduring thyroid migration. We report a case of a35 year-adult woman with TDC since 2 months ago. Fineneedle aspiration citologypreoperative shows cystic lesion, morphological views appropriate asthyroglossal duct cyst. Thyroid fuction test was normal and neck ultrasonography showedsucpectthyroglossal duct cyst, both of thyroid was normal.Management of this case wascomplete cystexcision until base of hyoid bone, removal of the central portion of the hyoid bone and excision of anyproximal thyroglossal duct as known as Sistrunk procedure.Histopathology finding of post operativespecimen showed thyroglossal duct cyst. Healing processinthiscasehas been shown goodresultsand6monthsafter excision there was norecurrences. [MEDICINA 2015;46:52-55].
GAY DALAM DRAMATARI ARJA MUANI
Wedastra, I Made;
Lesmana, Cokorda Bagus Jaya
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (151.864 KB)
Aktivitas seksual dimana pasangan seksual yang dipilih berasal dari sesama jenis yaitu sesamalaki-laki disebut gay. Gay dalam masyarakat menjadi perdebatan, penolakan dan diskriminasi yangmenyebabkan gay lebih banyak menjadi depresi, cemas, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Gayjuga terdapat pada salah satu budaya Bali yaitu arjamuani. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui pengaruh kesenian arja muani terhadap psikologis gay sebagai penari dan tanggapanmasyarakat sekitar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif terhadap penari arjamuaniyang gay dan masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan gay yang menjadi penari arja muanimampu mengeskpresikan diri mereka dan terbuka kepada masyarakat sekitar serta mengurangirasa cemas dan depresi. Masyarakat menerima keberadaan gay dalam arja muani karena arja muanimerupakan bagian dari kebudayaan Bali. [MEDICINA 2015;46:9-11].Sexual activity in which the sexual partner was selected from the same sex or both are male called gay.Gay in community became controversial, rejection and discrimination which made the gay more likelyto have depression, anxious and draw their self from social environment. Gays have been developed inBalinese culture that called arjamuani. The purpose of the study is to understand the influence of arjamuani art to the psychologies condition of the gay performers and community?s perspective. The studyheld by qualitative approach to the arjamuani performers who is a gay and the community aroundthem.The results show that arjamuani performers who are gay can express and open their self to thecommunity and also decrease feeling of depression and anxiety. The communities accept the gay inarjamuani, because it is a part of Balinese culture that must be continue. [MEDICINA 2015;46:9-11].
GANGGUAN MOOD PADA STROKE
Tantular, Gabriella;
Westa, Wayan;
Nuartha, AABN
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (165.87 KB)
Stroke adalah salah satu sindrom neurologi yang dapat menimbulkan kecacatan dalam kehidupanmanusia. Salah satu gejala yang dapat timbul setelah seseorang terkena stroke adalah gangguanmood. Gangguan mood berhubungan dengan disabilitas fisik, beratnya stroke dan gangguan kognitif.Gangguan mood yang ditemukan pada stroke adalah depresi, gangguan afektif bipolar dan mania.Gambaran gejala berhubungan dengan lesi anatomis stroke. Terapi yang diberikan dapat berupafarmakologis, psikoterapi, dan rehabilitasi. [MEDICINA 2015;46:33-36].Stroke is one of neurology syndrome that cause disability in human life. One of the symptoms thatappear after stroke was mood disorder. Mood disorder were related to physical disability, severity ofstroke and cognitive dysfunction. Mood disorder found in stroke was depression, affective bipolardisorder, and mania. Symptoms were associated with anatomical lesion. Treatment for this disorderare pharmacologic treatment, psychotherapy, and rehabilitation. [MEDICINA 2015;46:33-36].
TYPE IC CHOLEDOCHAL CYST PRESENTING AN EXTRAHEPATAL CHOLESTASIS IN A 3 YEAR OLD BOY
Reza, Muhammad;
Nesa, Nyoman Metriani;
Putra, I Gusti Ngurah Sanjaya;
Karyana, I Putu Gede;
Darmajaya, Made
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.928 KB)
Choledochal cyst is a rare congenital dilatation of the bile ducts, mostly diagnosed in childhood. Whenappropriate resection is not performed, cholangiocarcinoma may occur in a high incidence within thesecond decade of life. This report aims to present a rare case in experience of diagnosis and managementtype IC choledochal cyst in children. We present case of a 3-year-old boy who came with jaundice anditchy skin, abdominal pain, brownish urine, pales colored of stool. Abdominal ultrasonography andcomputed tomography scan revealed type IC choledochal cyst. Patient underwent complete cyst removalsurgery and bilioenteric anastomosis through Roux-en-y hepaticojejunostomy. Excision biopsy confirmedthe diagnosis of type IC choledochal cyst. Post surgical follow up shown good physical and laboratorycondition and there was no recurrence of symptoms. Early surgical procedure through Roux-en-yhepatojejunostomy, has been performed. Long term follow up also facilities good prognostic to thepatient. [MEDICINA 2015;46:56-60].Kista koledokus adalah merupakan penyakit saluran empedu bawaan yang jarang dijumpai danbanyak terdiagnosis pada saat usia anak-anak. Tindakan berupa reseksi kista adalah yang terpentingdilakukan, jika tidak segera dilakukan maka dapat meningkatkan resiko terjadinyacholangiocarcinoma dalam usia dekade kedua penderita dalam kehidupan. Tujuan kasus ini dilaporkanuntuk menggambarkan pengalaman dalam mendiagnosis dan tata laksana kista koledokal tipe ICyang jarang pada anak-anak. Laporan kasus ini pada anak laki-laki berumur 3 tahun dengan keluhankulit tampak kuning dan gatal, nyeri perut, urin berwarna kecoklatan, tinja yang pucat. Ultrasonografidan CT scan abdomen memperlihatkan adanya kista koledokus. Tindakan bedah eksisi kista dananastomosis bilioenterik dengan menggunakan tehnik hepatojejunostomi Roux-en-y. Diagnosa kistakoledokus tipe IC terkonfirmasi saat tindakan eksisi biopsi. Evaluasi setelah dilakukan tindakanbedah memperlihatkan hasil yang bagus, baik dari pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjangdan hilangnya keluhan yang ada sebelumnya. Walaupun prosedur tindakan hepatojejunustomi Roux-en-y secara dini telah dilakukan, penderita masih membutuhkan evaluasi dalam jangka waktu yanglama. [MEDICINA 2015;46:56-60].
HUBUNGAN ANTARA DIAMETER FOLIKEL DENGAN MATURITAS INTI OOSIT PADA SIKLUS ANTAGONIS FERTILISASI IN VITRO
Anggli, Fido;
Suwiyoga, Ketut;
Wardhiana, IPG
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (170.723 KB)
Salah satu tahap dalam fertilisasi in vitro (FIV) adalah seleksi inti oosit matur yang akan digunakandalam fertilisasi. Inti oosit yang matur tersebut ditandai dengan adanya polar body di dalamnya.Cara yang sederhana dan praktis dalam menentukan maturitas inti oosit adalah pengukuran diameterfolikel. Terdapat perbedaan pendapat mengenai diameter folikel yang berhubungan terhadap maturitasinti oosit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan antara diameterfolikeldenganmaturitasintioositpada program FIV.Rancangan penelitian ini observasional analitik(cross-sectional) yang dilaksanakan di Klinik Bayi Tabung Graha Tunjung, RSUP Sanglah, Denpasar.Sampel penelitian adalah folikel-folikel yang mengandung inti oosit (61 folikel), dilakukan dengancara consecutive sampling mulai 1 September 2011-31 Agustus 2012. Data dianalisismemakai ujiFisher Exact. Sebanyak 61 sampel diukur diameternya dengan menggunakan transvaginalsonography.Didapatkansebanyak 33folikeldengan diameter > 18 mm denganperincian 32mengandungoositmatur (96,97%) dan1 mengandungoositimatur (3,03%), sedangkandari 28folikeldengan diameter < 18 mm, didapatkansebanyak 21 folikelyang mengandungoositmatur (75%)dan 7 folikel yang mengandung oositi matur (30%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapathubungan antara diameter folikeldengan maturitas inti oosit pada siklus antagonis FIV secarabermakna (x2=4,63; P=0,019). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara diameter folikel denganmaturitas inti oosit pada siklus antagonis FIV. [MEDICINA 2015;46:12-15].One of the stages in in vitro fertilization (IVF) is the selection of mature oocyte nucleus. This matureoocyte nucleus is characterized by the presence of polar body inside. Simple and practical way todetermine the maturity of the oocytenucleus is the measurement of follicle?s diameter. There aredifferences of opinion on the follicle?s diameter associated with the maturity of the oocyte nucleus. Thisstudy is purposed to know the relationship between follicle?s diameter with oocyte nucleus maturity inantagonist cycle IVF. This study?s design is observational analytic study (cross-sectional). This studywas done at Graha Tunjung IVF Clinic, Sanglah Hospital. Sample from this study were follicles thathave oocyte nucleus (61 follicles). Samples were collected with consecutive sampling from September1st 2011?August 31st 2012. Datas were analyzed with Fisher Exact test. As many as 61 samplesmeasure follicle?s diameter was count by transvaginal sonography.We analyzed 34 follicles withdiameter > 18 mm which is consist of 32 mature oocytes (96.97%) and 1 immature oocyte (3.03%), thenfrom 28 follicles with diameter < 18 mm, we found 21 follicles withmature oocyte (75%) and 7 follicleswith immature oocyte (30%).This study?s design shows relationship between follicle?s diameter andoocyte nucleus maturation in antagonist cycle IVF significantly (x2=4.63; P=0.019). It is concluded thatthere is a relationship between follicle?s diameter with oocyte nucleus maturity in antagonist cycleIVF. [MEDICINA 2015;46:12-15].
A CHILD WITH TETRALOGY OF FALLOT PRESENTING WITH COMPLICATIONS OF INFECTIVE ENDOCARDITIS, CEREBRAL ABSCESS, AND UNDERNUTRITION
Yasmin, AA Ayu Dwi Adelia;
Gunawijaya, Eka
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (236.99 KB)
Tetralogy of Fallot (TOF) is a congenital heart disease that consists of four anatomical anomalies,namely ventricular septal defect, pulmonary stenosis or obstruction of the right ventricular outflowtract, right ventricular hypertrophy, and overriding aorta. Tetralogy of Fallot is frequently associatedwith complications that could affect morbidity and mortality because of its complex cardiac lesions.Good understanding of the natural history and complications of this disease is very important to guidethe management of patients. We reported a 4-year old girl with classic TOF with complications ofinfective endocarditis, cerebral abscess, and undernutrition. Despite optimal medical therapy, thepatient?s condition showed no satisfying improvement. Since the parents were refused to take moreaggressive measure by undergoing surgical therapy, so that patient care remains focused on supportiveand palliative aspects. [MEDICINA 2015;46:37-41].Tetralogy of Fallot (TOF) merupakan suatu penyakit jantung kongenital yang terdiri dari empat anomalianatomis, antara lain ventricular septal defect, pulmonary stenosis atau obstruksi pada right ventricleoutflow tract, hipertrofi ventrikel kanan, dan overriding aorta. Tetralogy of Fallot sering disertai denganberbagai komplikasi yang dapat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas karena kelainan inimerupakan kelainan kongenital kardiak yang kompleks. Pemahaman yang baik mengenai perjalananalamiah dan komplikasi penyakit ini sangat penting untuk mengetahui penatalaksanaan pasien.Kami melaporkan seorang anak perempuan berusia 4 tahun dengan TOF klasik yang juga menderitakomplikasi endocarditis infektif, abses serebral, dan gizi kurang. Walaupun telah memperoleh terapimedikamentosa yang optimal, kondisi pasien tidak menunjukkan perbaikan yang memuaskan.Orangtua pasien telah menolak pemberian tindakan yang lebih agresif, yaitu dengan terapipembedahan, oleh karena itu penatalaksanaan pasien lebih difokuskan pada aspek suportif danpaliatif. [MEDICINA 2015;46:37-41].
EVANS SYNDROME IN A 10 YEAR OLD GIRL
Ariputra, A.
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.926 KB)
Evans syndrome is a coexistence of simultaneous or sequential positive direct Coombs test in conjunctionwith immune-mediated thrombocytopenia with no known underlying etiology. The clinical course ischronic and relapsing, and the therapy is generally progressive. Recurrences of thrombocytopenia, anemiaand neutropenia are common, as well as episodes of hemorrhage and serious infections. Noncrossreactingautoantibodies are directed against red cells, platelets, and neutrophils antigens. Evans syndrome isa rare condition, no predilection is known and its exact prevalent is unknown. We report a case of Evanssyndrome in 10 years old girl with severe anemia and thrombocytopenia. Patient came with clinicalsymptoms of severe anemia. The laboratory evaluation showed severe anemia, increased reticulocytecount, anisopoikilocytosis erythrocyte, increased unconjugated bilirubin, positive direct Coombs testand thrombocytopenia. Patient was then managed with high doses of corticosteroids and showed goodresponse from both clinical and laboratory evaluations. [MEDICINA 2015;46:61-66].Sindrom Evans adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya hasil positif pada direct Coombstest dan trombositopenia yang diperantarai imun secara simultan atau sekuensial tanpa penyebabyang jelas. Perjalanan klinis umumnya bersifat kronis, sering mengalami relaps dan memerlukanterapi yang progresif. Kejadian trombositopenia, anemia, neutropenia, perdarahan dan episode infeksiberat berulang umum terjadi. Pada sindrom ini, terjadi reaksi autoantibodi spesifik terhadap antigensel darah merah, trombosit dan juga neutrofil. Sindrom Evans merupakan kasus yang jarang ditemukandan dengan predileksi serta prevalensi yang belum banyak diketahui. Kami melaporkan satu kasusSindrom Evans pada anak perempuan usia 10 tahun. Pasien dengan gejala klinis anemia berat dan padapemeriksaan laboratorium menunjukkan suatu anemia berat, peningkatan hitung retikulosit, gambaraneritrosit anisopoikilositosis, peningkatan kadar bilirubin yang tidak terkonjugasi, direct Coombs test yangpositif dan trombositopenia. Pasien kemudian diterapi dengan kortikosteroid dosis tinggi dandidapatkan respon yang baik pada evaluasi klinis dan laboratorium. [MEDICINA 2015;46:61-66].
HIGH MYELOPEROXIDASE LEVEL AS A PROGNOSTIC FACTOR CARDIOVASCULAR EVENTS AT SIX MONTH IN PATIENTS PRESENTING WITH ACUTE CORONARY SYNDROME
Budiana, I Putu Gede;
Wita, I Wayan;
Widiana, I Gede Raka
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (204.925 KB)
Cardiovascular disease (CVD) is the highest leading cause of death worlwide. Inflammation has beenimplicated in all stages in the evolution of atherosclerotic plaques. Myeloperoxidase (MPO) is anenzyme linked to both inflammation and oxidative stress. The aim of this study was to assess wetherhigh level of MPO is a prognostic factor of cardiovascular events at six month in patients presentingwith acute coronary syndrome (ACS). This study was a prospective cohort study, which took place atSanglah General Hospital Denpasar from 10 December 2011 until 10 December 2012. Subjects of thisstudy were 60 ACS patients which were enrolled by consecutive sampling. MPO levels was measuredat the first admission and the cardiovascular events during six month were observed. Sixty sampleswere involved in this study, 9 unstable patients (11%), 11 NSTEMI patients (18.3%), and 40 STEMIpatients (66.7%). In 6 months observation, there was 14 (23.3%) patients had cardiovascular events.Nine patients (15%) had high MPO levels and 51 patients (85%) had low MPO levels. The result of thisstudy were the ACS patients with high levels of MPO were tend to have more adverse cardiac events [hazard ratio (HR) 1.4; 95 % confidence interval (CI) 0.39 to 5.22; P = 0.591]. The relationship betweenMPO levels and incident cardiovascular event according to ARR (absolute risk reduction) was 11.76 %and NNT (number need to treat) was 8. High MPO levels gives benefit of long term prognostic inpatients with acute coronary syndrome. [MEDICINA 2015;46:16-21].Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia. Inflamasimemegang peranan pada stadium pembentukan plak aterosklerosis. Myeloperoxidase (MPO) adalahenzim yang berhubungan dengan inflamasi dan stres oksidative. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui kadar MPO yang tinggi sebagai faktor prognostik kejadian kardiovaskular dalam 6 bulanpada penderita sindrom koroner akut (SKA). Penelitian ini merupakan kohort prospektif, yangbertempat di RSUP Sanglah dari 10 Desember 2011 sampai 10 Desember 2012. Sampel penelitianadalah 60 orang yang diambil secara consecutive sampling. Sampel yang memenuhi kriteria inklusidiperiksa kadar MPO saat masuk rumah sakit dan diamati kejadian kardiovaskular (KKV) selama 6bulan. Enam puluh penderita SKA yang dilibatkan dalam penelitian ini terdiri dari 9 orang pasienAPTS (15 %), 11 orang pasien NSTEMI (18,3 %) dan 40 orang pasien STEMI (66,7 %). Dalam pengamatanselama 6 bulan, didapatkan sebanyak 14 (23,3 %) orang pasien yang mengalami KKV. Sebanyak 9orang (15%) dengan kadar MPO tinggi dan 51 orang (85%) dengan MPO rendah. Pada penelitian inididapatkan bahwa pasien SKA dengan kadar MPO tinggi memberikan outcome yang lebih tinggidibanding dengan kadar MPO yang rendah (HR 1,4; IK 95 % 0,39-5,22; P = 0,591). Besar efek dari MPOterhadap KKV yang diukur dengan ARR (absolute risk reduction) adalah 11,76 % dan NNT (numberneed to treat) sebesar 8. Kadar MPO yang tinggi memberikan manfaat dalam prognostik jangka panjangpada pasien SKA. [MEDICINA 2015;46:16-21].
DUCTAL STENTING IN PULMONARY ATRESIA NEONATES WITH MULTIPLE CONGENITAL ANOMALIES AND SEPTIC CONDITION
Wibisono, Laurentia Utari;
Gunawijaya, Eka;
Pradnyana, Bagus Ari
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (210.938 KB)
Neonates with pulmonary atresia usually appear normal at birth with pulmonary circulationmaintained by the presence of a patent ductus arteriosus (PDA). Rapid deterioration will suddenlyocccur if the duct close. Surgical shunt is still be used as a standard protocol in many centers as apalliative procedure. We report a 2 days-old, low birth weight, and mild cyanotic neonate with pulmonaryatresia and PDA accompanied by atresia ani, bladder and cloaca extropy, ambiguous genitalia andsepsis. We decided to perform PDA stenting because our patient have a high surgical shunt risk. Thisprocedure was very important to keep the duct remains open until patient ready for total surgicalcorrection. [MEDICINA 2015;46:42-45].Neonatus dengan atresia pulmonal biasanya tampak normal saat lahir dengan adanya patent ductusarteriosus (PDA) yang memelihara aliran darah paru. Kondisi neonatus akan segera memburuk jikaduktus menutup. Pembuatan shunt dengan pembedahan merupakan protokol standar yang masihdikerjakan di banyak pusat kesehatan. Kami melaporkan neonatus berusia 2 hari dengan berat badanlahir rendah dan sianosis ringan dengan diagnosis atresia pulmonal, PDA, atresia ani, ekstropi buli-buli dan kloaka, jenis kelamin ambigu, dan sepsis. Kami memutuskan untuk melakukan pemasanganstent pada PDA karena pasien kami memiliki risiko yang tinggi untuk pembedahan (pembuatan shunt).Tindakan ini sangat penting untuk menjaga duktus tetap terbuka sampai pasien siap untuk dilakukanoperasi koreksi. [MEDICINA 2015;46:42-45].