cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2008)" : 6 Documents clear
BUKAAN SEBAGAI SUMBER PENCAHAYAAN DAN VENTILASI ALAMI PADA RUKO Liawati Liawati; Nindya Mahesaputri
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractShophouse is a great idea how to blend working space and dwelling in the urban life. Natural condition was needed to support those functions instead of land tipology, also city environment (morphology) where that building is.Banceuy Permai shophouse was built by developer with open plan system in a grid pattern in Banceuy area, center of Bandung city. Shophouse's arrangement has a border that close with their back, and represent two shopshouses tipology; center shophouse and corner shophouse. Shophouse's open plan layout can't support these natural condition because it's interior so compact. Inadequate open space, causes opening (doors, windows) in the middle and back of building can't get natural ventilation and lighting.Dimension of their opening is so minimal. Shophouse's condition depend on their opening in the front (in center shophouse) also from side of the building (corner shophouse). [to control natural lighting and ventilation on entire interior of the building]. Opening (doors, windows) placed in the front and side of the building clash with transition space caused natural ventilation and lighting can't be optimalized.Keywords: opening, natural ventilation and lighting, Banceuy Permai shophouse.AbstrakRuko merupakan gagasan tepat yang menggabungkan kegiatan usaha dan tempat tinggal di perkotaan. Pengkondisian alami diperlukan untuk mendukung kedua fungsi tersebut selain tipologi lahan maupun tata lingkungan kota (morfologi) tempat bangunan itu berada.Ruko Banceuy Permai dibangun oleh pengembang dengan sistem open plan dalam pola grid di kawasan Banceuy, pusat kota Bandung. Tatanan ruko memiliki batas kapling yang berhimpit dengan batas kapling di belakangnya sehingga menghadirkan dua buah tipologi ruko, yaitu ruko kapling tengah dan ruko kapling sudut. Tata ruang ruko yang open plan tidak dapat mendukung pengkondisian ruang dalam secara alami karena tata ruang dalam ruko rapat memenuhi kaplingnya. Ruang terbuka yang luasannya tidak memadai mengakibatkan bukaan (pintu, jendela) di tengah dan belakang kapling tidak mungkin dapat memperoleh pencahayaan dan ventilasi alami.Bidang pada bukaan ruko Banceuy Permai dapat dikatakan sangat minim. Pengkondisian ruko, sangat bergantung pada bukaan di muka (pada ruko kapling tengah) serta dari Sisi bangunan (pada ruko kapling sudut). [Untuk mengontrol Pencahayaan dan ventilasi alami pada seluruh ruang dalam]. Bukaan (pintu, jendela) yang ditempatkan di muka dan sisi bangunan bersinggungan dengan ruang antara sehingga kurang memperoleh pencahayaan dan ventilasi alami.Kata kunci: bukaan, sumber cahaya dan ventilasi, rumah toko Banceuy Permai.
KAJIAN PROYEK DESAIN RUMAH SUSUN SEWA PADA PEREMAJAAN KAWASAN JATINANGOR BERDASARKAN PROFIL CALON PENGHUNINYA Dickie A. Wizmar; Albert Albert
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractJatinangor area has changed from rural, to crowded urban city, with high density, almost 120 person/Ha and dominated with middle low economic level people. The consequences from that condition were the growth of slums.This condition motivates government to build some flats for middle low income. The design accomodates the owners activity, and their social economic condition, in order to make better housing quality.The main target to live in flats is worker, and university student. The target market affected the building design which is suited to the owners professions.Another thing which influence the design are dimension of each unit, and activity circulation. A good quality of basic housing conditions to be considered too in the building design are distance among flats, dimension, access and circulation, in order to obtain ultimate comfort for the people who lived there. Keywords: multistorey housing, revitalize Jatinangor area, user's profile.AbstrakPerubahan kawasan Jatinangor yang semula berupa pedesaan menjadi perkotaan yang padat dan ramai, dengan tingkat kepadatan hampir 120 jiwa/ha dan didominasi oleh kalangan menengah ke bawah. Akibatnya, terjadi area kumuh yang cukup besar di kawasan Jatinangor.Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memproyeksikan pembangunan rumah susun sewa yang diperuntukkan bagi mereka yang berada di kalangan menengah ke bawah. Karakteristik pembangunannya disesuaikan dengan penghuninya, pola aktivitasnya, dan kondisi sosial-ekonominya sehingga diharapkan kualitas hunian yang baik pun akan tercapai.Penghuni yang menjadi prioritas sebagai pengguna rumah susun sewa ini sebagian besar dari kalangan buruh pabrik, dan mahasiswa, hal ini berpengaruh desain rumah susun yang akan direncanakan, sesuai dengan mata pencaharian, dan profesi dari penghuninya.Hal lain yang juga harus diperhitungkan adalah kondisi umum yang menjadi standar pembangunan rumah susun yang layak guna, seperti jarak antar bangunan, dimensi ruangan, akses dan sirkulasi, sehingga kenyamanan penghuni tetap menjadi prioritas dalam pembangunan rumah susun sewa ini.Kata kunci: rumah susun, peremajaan kawasan Jatinangor, profil penghuni.
PENERAPAN RUANG GERAK MINIMAL TERHADAP TATANAN PERABOT PADA UNIT HUNIAN TIPE 21 Yuliana Yuliana; Sherly Mellisa
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe dimension of human dwelling is very related to space for them, which appropriate with what people needs who live in, although existing dimension are very limited and minimum.The dimensions of space that happened in each dwelling unit depended from placing and quantity of furniture which were owned by dweller.The dimensions of space that happened in each dwelling unit become too narrow or small because the mistake from dweller in location of furniture and too much furniture. While other mistake there is also on the side of organizer permitting rights rent at dweller owning family more than 3 head (husband, wife, and children above five year old). From entire existing room, which is generally felt to narrow, only WC size measure fulfilling standard.Keywords: dimension of human, furniture arrangement, low cost multistorey housingAbstrakBesaran suatu unit hunian yang layak huni sangat terkait erat dengan ruang gerak bagi manusia, yang sesuai dengan kebutuhan manusia yang tinggal di dalamnya, walaupun besaran ruang yang ada sangatlah terbatas dan minim.Ukuran-ukuran ruang gerak yang terjadi pada setiap unit hunian tergantung dari perletakkan dan jumlah perabot yang dimiliki oleh para penghuni.Ukuran ruang gerak yang terjadi pada setiap unit hunian menjadi sempit atau kecil karena kesalahan dari para penghuni dalam penempatan perabot dan terlalu banyaknya perabot yang dimiliki. Sedangkan kesalahan lainnya ada juga pada pihak pengelola yang mengijinkan hak sewa pada penghuni yang memiliki keluarga lebih dari 3 jiwa (suami, istri, dan anak-anak di atas balita). Dari seluruh ruang yang ada, yang umumnya dirasakan sempit, hanya ukuran WC yang memenuhi standar.Kata kunci: dimensi manusia, tatanan perabot, rumah susun
KAJIAN RUANG TERBUKA DAN MASSA BANGUNAN APARTEMEN MARINA SEBAGAI BANGUNAN DI KAWASAN TEPI LAUT Fransisca Gunawan; Alvin Alvin
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe demand of housing supply in North Jakarta increases in each years, therefore made BPL Pluit must do the reclamation of North Jakarta shore area to be prepared as housing area. Through the vertical housing concept to respond the housing demand, the developer tries to speculate with the condition of north Jakarta area and built Marina apartment in seashore.As an apartment in seashore, the developer tries to use waterfront concept for building design that so far has been used in advanced country such as Japan and America. This article made to analyze wheter or not the Marina apartment is an waterfront building as its concept. The study enclose the open space ordering and also building mass concept that next will be compared with the literature about some design criterias and elements that must be watched in apartment planning and waterfront concept.A building can be said as a waterfront building not only from the location in seashore but also the optimal using from the sea area and orientation of the sea around it. After the analysis progress, we can say that Marina apartment is not a building with waterfront concept because there is no optimal using of the sea around it that represent an important element in waterfront concept building.AbstrakTuntutan penyediaan permukiman di kawasan Jakarta Utara semakin meningkat setiap tahunnya sehingga menyebabkan pihak BPL Pluit harus melakukan reklamasi wilayah pantai Utara Jakarta untuk dikembangkan menjadi area permukiman. Dengan menerapkan konsep hunian vertikal untuk menjawab kebutuhan akan permukiman, maka pihak pengembang mencoba berspekulasi dengan kondisi yang ada di Jakarta Utara dengan mendirikan sebuah apartemen di tepi laut, yaitu apartemen Marina.Sebagai apartemen yang berlokasi di tepi laut, pihak pengembang mencoba menerapkan konsep desain bangunan waterfront yang selama ini sudah banyak digunakan di berbagai negara maju seperti Jepang dan Amerika. Tulisan ini dibuat untuk mengkaji apakah apartemen Marina sesuai dengan konsep desain bangunan waterfront. Pengkajian meliputi tatanan ruang terbuka serta desain massa bangunan yang kemudian dibandingkan dengan literatur mengenai berbagai kriteria desain dan elemen-elemen yang pertu diperhatikan dalam perencanaan apartemen serta konsep waterfront. Sebuah bangunan dapat dinyatakan sebagai bangunan waterfront bukan hanya berdasarkan lokasinya yang berada di tepi laut, tetapi adanya pemanfaatan optimal dan orientasi dari perairan itu sendiri. Setelah melalui proses analisa, dapat disimpulkan bahwa apartemen Marina temyata bukan merupakan bangunan yang menggunakan konsep waterfront dikarenakan tidak mengoptimalkan pemanfaatan laut di sekitamya dimana hal tersebut merupakan elemen utama dalam sebuah konsep bangunan waterfront.
KAJIAN EKOLOGIS DALAM DESAIN ARSITEKTUR Objek studi : Rumah Tinggal di Jalan Metro Alam 11/17 Jakarta Cloudia Treisye; Gina Perris
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study examines architecture design by ecological view. At the beginning of architecture history, Vitruvius wrote about relation between built environment and natural environment. Vitruvius' approach focused on human while nature only be seen as sources to accomplish human needs. This approach has not much change for two millennium. The appearance of Ecological Architecture begins with the observation about renewable natural resources, oil crisis, and World Environmental Summit at Rio de Janeiro. Then the nature has been seen as an important thing for human life and the natural environment concerns arise.In Ecological Architecture, architecture has been seen by ecosystem concept where architecture not only be seen by a abiotic components, but also biotic components which related in one defined system. Architecture has been seen as a solution to environmental problems which causes by human intervention and activities. To preserve natural environmental and ecosystem does not mean that human intervention to it is not allowed, but how to put human's activities in the environment with minimal effects. Ecological Architecture does not tend to determine what should be happened in architecture because there is no specific condition as standard or certain rules. Instead of that, ecological architecture will influence architecture form. Ecological architecture is about balancing between human and natural environment.Keywords: ecology, architecture, house's design.AbstrakStudi ini mengkaji tentang desain arsitektur dari sudut pandang ekologis. Pada awal sejarah arsitektur, Vitruvius menulis mengenai hubungan antara lingkungan binaan dan lingkungan alam. Pendekatan Vitruvius ini berpusat pada manusia dimana alam hanya dilihat sebagai sumber-sumber yang harus atau dapat memenuhi kebutuhan manusia. Pendekatan ini tidak berubah banyak selama dua milenia ini. Awal abad ke-19 ada usaha menghijaukan lingkungan binaan namun secara fundamental alam tetap dilihat sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia. Munculnya konsep arsitektur-ekologis diawali oleh penelitian akan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, krisis minyak, dan pertemuan isu lingkungan di Rio de Janeiro. Setelah itu alam mulai dipandang sebagai sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan muncul kesadaran akan lingkungan alam.Dalam arsitektur-ekologis, arsitektur dilihat dari konsep ekosistem dimana arsitektur tidak hanya dilihat dari komponen abiotiknya melainkan juga komponen biotiknya yang bekerjasama sebagai suatu sistem yang utuh. Arsitektur dianggap sebagai pemecahan terhadap masalah-masalah lingkungan yang disebabkan campur tangan dan aktivitas manusia dan mengakibatkan multiple effects. Menjaga lingkungan dan ekosistem tidak berarti tanpa campur tangan manusia sama sekali, tetapi bagaimana menghubungkan aktivitas manusia dan lingkungan dengan dampak negatif seminimal mungkin. Arsitektur-ekologis tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam arsitektur karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau aturan baku. Walau demikian, prinsip-prinsip arsitektur-ekologis pada akhimya akan mempengaruhi bentuk arsitektur. Arsitektur-ekologis mencakup keselarasan antara manusia dengan lingkungan alamnya.Kata kunci: ekologi, arsitektur, perancangan rumah tinggal.
EFEKTIVITAS SIRKULASI PEJALAN KAKI TERHADAP PENCAPAIAN APARTEMEN BRAGA CITY WALK Willy Atmaja; Vina Agustina Royana
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThese days the needs of housings and dwellings grow very high. Every year many housings and dwellings are planned and built in downtown area, urban area and even in villages. For unfolding time, human never felt satisfied with their ordinary places for living and tried new ideas for their houses that can fill all of their needs.The idea is a new concept for human space in one area with mixed use function. In this area human can get their needs daily, even for relaxing time, They can get all of this need just near their housing/ dwellings.There are differences of need from each functions in one building can be caused new problems. Problems that can be infected each function especially for circulation where as any functions have their needs on their own with many ways.The effectivity of the circulation for this research is measured from length, duration for walking from one function to the entrance of apartment, activities, capacity and density on the path that the circulation might have.The conclusion for the circulation research is telling us ineffectively in entrance positions every function caused intervention for each functions.Keywords: effectivity, pedestrian circulation, Braga City WalkAbstrakDewasa ini tuntutan akan perumahan dan permukiman di Indonesia meningkat sangat pesat. Perumahan dan permukíman baru didirikan setiap tahunnya baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan guna memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam perkembangannya manusia merasa tidak cukup hanya dengan tempat tinggalnya saja dan mereka mencoba suatu bentukan permukiman baru yang dapat mengakomodir semua kebutuhan tersebut.Pada masa kini telah hadir sebuah konsep baru dalam hal membangun suatu kawasan, yakni bangunan dengan fungsi mixed-use, dimana kebutuhan manusia akan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan akan rekreasi dapat diperoleh dengan mudah tanpa harus pergi jauh.Adanya perbedaan kepentingan dari masing-masing fungsi dalam satu bangunan sangat berpotensi untuk melahirkan masalah yang akan saling mempengaruhi satu fungsi dengan fungsi lainnya. Khususnya dalam hal sirkulasi, dimana tiap fungsi memiliki tuntutan yang berbeda-beda.Efektivitas pada penelitian ini dinilai dari jarak, waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai entrance satu fungsi menuju apartemen. Aktivitas yang dapat ditampung jalur sirkulasí yang digunakan untuk mencapai apartemen, kapasitas dan densitas yan dimiliki oleh satu jalur sirkulasi.Pada kesimpulannya didapatkan bahwa jalur sirkulasi yang digunakan untuk mencapai apartemen pada kawasan Braga City Walk ini masih kurang efektif. Perletakkan entrance masing-masing fungsi masih kurang baik, sehingga masih sering terjadi intervensi antara satu fungsi dan fungsi yang lainnya.Kata kunci: efektivitas, sirkulasi pejalan kaki, Braga City Walk

Page 1 of 1 | Total Record : 6