cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
METAMORFOSA Journal of Biological Sciences
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23025697     EISSN : 26558122     DOI : -
METAMORFOSA is an electronic scientific journal published periodically by the Master of Biology Udayana University, which includes scientific works in the field of Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2022)" : 22 Documents clear
Pengaruh Lama Penyimpanan Dengan Pemberian Perasan Jeruk Nipis Terhadap Jumlah Angka Bakteri Pada Daging Ayam Kampung Nadya Treesna Wulansari; AA Istri Mas Padmiswari; Ni Wayan Sukma Antari
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p04

Abstract

The study aims to identify effect of length of storage by giving lime juice on the number of bacterial in domestic chicken meat. Experiments with a completely randomized design model were used in this study. The results is indicated that there was an effect of length of storage by giving lime juice on the number of bacteria in domestic chicken meat. The content of organic acids, citric acid, essential oils and limonene contained in lime juice affects the total bacteria found in domestic chicken meat. Domestic chicken meat with lime juice which was stored at <40C for 12 days tended to have an increasing in the number of bacteria contaminants. However, the total number of bacterial plates in domestic chicken meat did not exceed the quality standard limit of the microbial contamination level issued by the Indonesian National Standardization Agency, which is 1 x 106 CFU / g. The number of bacteria in domestic chicken meat based on the length of the storage will tend to increase Keyword: length of storage, lime juice, bacteria, domestic chicken meat
POTENSI Gracilaria canaliculata SEBAGAI PENGHASIL BIOETANOL ASAL PANTAI MENGANTI KEBUMEN DAN PANTAI KARANG BOLONG CILACAP Rizal Berlian Novella; Dwi Sunu Widyartini; Romanus Edy Prabowo
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p09

Abstract

Seaweed is a source of foreign exchange and a source of income for coastal communities. Besides being used as food, drink, and medicine, seaweed which is rich in cellulose is very useful to become bioethanol. Bioethanol is used as a raw material for the manufacture of ethanol derivatives. The research objective was to sea the biomass and bioethanol content in Gracilaria canaliculata seaweed from Karang Bolong Beach, Cilacap, and Menganti Beach, Kebumen. Analysis of bioethanol data was carried out using the T-test with the SPSS program to determine whether there were differences in the bioethanol content of Gracilaria canaliculata from Menganti Beach, and Karang Bolong Beach, while the environmental monitoring test with biomass used the PRIMER 7 program for the most influential environmental factors. The results of the study showed there is evidence of environmental factors at Menganti Kebumen Beach and Gracilaria canaliculata biomass, the most influential of which are nitrate. The results of the test to maintain environmental factors of Menganti with Gracilaria canaliculata seaweed biomass using the BIOENV Primer 7 program analysis showed a fixed value on the nitrate display with a value of 0.852 while in the waters of Karang Bolong the value was recorded at 0.79. The T-test results showed no significant difference in the bioethanol content of Gracilaria canaliculata from Menganti Beach, Kebumen, and Karang Bolong Beach, Cilacap. Gracilaria canaliculata from Menganti Beach, Kebumen, produced an average bioethanol content of 7.07%, while those from Karang Bolong Beach Cilacap produced an average bioethanol content of 7.21%.
Penyembuhan Luka Sayat Pada Kulit Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diberi Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata) Maria Lorita Amfotis; Ni Made Rai Suarni; Ni Luh Arpiwi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p14

Abstract

Daun kirinyuh (Chromoelana odorata) merupakan tanaman yang secara tradisional digunakan masyarakat untuk menyembuhkan luka. Daun kirinyuh mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, triterpenoid dan tanin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kirinyuh terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit tikus putih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap, terdiri dari lima perlakuan dan masing-masing perlakuan terdapat enam ulangan. Digunakan 30 ekor tikus putih dengan kisaran berat badan 200-250 g. Tikus dibagi dalam lima perlakuan yaitu K- (diberi aquades), K+ (diberi povidone iodine 10%), perlakuan (P1, P2, P3) yang diberikan ekstrak daun kirinyuh 10%, 20%, 30%. Pengamatan secara makroskopis dilakukan pada hari ke-3, 6 dan 9 terhadap hiperemis, kontraksi luka, granulasi, krusta dan produksi pus. Pembuatan sediaan untuk pengamatan secara secara mikroskopis (ketebalan epidermis, jumlah fibroblas dan jumlah kolagen) dilakukan pada hari ke 10. Data makroskopis selain kontraksi luka dianalisa secara deskriptif. Data kontraksi luka, ketebalan epidermis, jumlah fibroblas dan jumlah kolagen dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05) dan bila terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil pengamatan terhadap penyembuhan luka secara makroskopis menunjukkan bahwa konsentrasi 20% paling optimal dalam menurunkan hiperemis dan kontraksi luka. Sedangkan konsentrasi 10% paling optimal dalam pembentukan granulasi, mencegah krusta dan produksi pus. Hasil pengamatan terhadap penyembuhan luka secara mikroskopis menunjukkan bahwa konsentrasi 20% (P2) paling optimal dalam meningkatkan ketebalan epidermis, meningkatkan jumlah fibroblas dan jumlah kolagen. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kirinyuh dapat menyembuhkan luka secara optimal dengan konsentrasi yang berbeda-beda pada setiap tahap penyembuhan. Kata kunci: Chromoelana odorata, metabolit sekunder, penyembuhan luka, Rattus norvegicus.
Aplikasi Spora Endomikoriza, Kompos Dan Trichoderma Spp. Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) Tadzkia Hanifah Akbar; Meitini Wahyuni Proborini; Made Ria Defiani
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p05

Abstract

Pembibitan kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan agroforestri dan menjaga fungsi hutan. Penelitian bertujuan menganalisis kombinasi antara jamur endomikoriza, kompos, dan Trichoderma spp. terhadap pertumbuhan bibit kakao serta menentukan konsentrasi yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kakao. Penelitian dilakukan di laboratorium taksonomi tumbuhan (mikologi) dan green house Persemaian Permanen Suwung, Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Hutan Anyar. Perlakuan disusun secara RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 5 perlakuan yang terdiri dari 5 ulangan dan 3 unit tanaman untuk setiap ulangan. Perlakuan pertama menggunakan tanah steril (kontrol negatif), perlakuan kedua dengan tanah steril + kompos 10 g + Trichoderma spp 10 mL (kontrol positif), perlakuan ketiga dengan tanah steril dan inokulasi endomikoriza Glomus sp 100 butir + kompos 10 gram + Trichoderma spp. 10 mL, perlakuan keempat dengan tanah steril dan inokulasi endomikoriza Glomus sp 150 butir + kompos 10 g + Trichoderma spp. 10 mL, dan perlakuan kelima dengan tanah steril dan inokulasi endomikoriza Glomus sp 200 butir + kompos 10 g+ Trichoderma spp. 10 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kelima (200 spora endomikoriza, 10 mL Trichoderma spp., dan 10 g kompos) merupakan kombinasi terbaik untuk pertumbuhan bibit kakao dilihat dari nilai parameter tinggi tanaman sebesar 29,03 cm, berat kering tanaman 3,55 g, berat kering akar 1,83 g, dan persentase kolonisasi endomikoriza sebesar 6,33 %. Kata kunci: Green house, Glomus sp., agroforestri, persentase kolonisasi
Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-off Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dan Minyak Atsiri Serai Wangi (Cymbopogon nardus L. Rendle) Erlina Adhayanti; Ni Luh Arpiwi; Ni Nyoman Darsini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p10

Abstract

Peel-off gel masks are practical masks, because it can be removed without rinsing with water. Peel-off gel mask useful for clean and tighten facial skin. Moringa leaves and citronella essential oil can be used as masks cause have antioxidant and antibacterial activities that act as anti-aging and anti-acne. The purpose of this study was to determine the combination of citronella essential oil and concentration of moringa leaf extract that produced the best mask. Essential oil was extracted by steam distillation, moringa leaves were extracted by maceration using 96% ethanol. Mask was formulated with 0, 1, 2, and 3% moringa leaf extract. The yield of citronella leaf essential oil was 0.36%±0.07 % w/w. The organoleptic test results showed that all mask formulas were stable during storage. The results of the physical properties test of the mask showed that the F3 formula (combination of 1% Moringa leaf extract and 0.30% lemongrass essential oil) produced the best mask preparation. All mask formulas had homogeneous results and met the standards on the viscosity, pH and dispersibility test, but the F1 formula (positive control) on the adhesion test and the F1 formula (positive control) and the F2 formula (negative control) on the drying time test did not meet the requirements good standard of mask. The F3 mask formula is preferred by probandus and all mask formulas do not cause irritation to the skin. Keywords: Cymbopogon nardus L. Rendle, gel, mask, Moringa oleifera Lam., Peel-off
Analisis Keanekaragaman, Indeks Nilai Penting dan Index of Cultural Significance Tumbuhan Upacara Ngaben Berdasarkan Tri Mandala di Desa Penglipuran, Bali. Ida Bagus Made Bramasta Wirabumi; Eniek Kriswiyanti; Anak Agung Ketut Darmadi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p22

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Keankearagaman Tumbuhan Upacara Ngaben pada Tri Mandala Desa Penglipuran, Bangli. 2) Dominansi Tumbuhan Upacara Ngaben di Desa Penglipuran, Bangli berdasarkan Tri Mandala 3) Index of Cultural Significance (ICS) Tumbuhan Upacara Ngaben di Desa Penglipuran, Bangli berdasarkan Tri Mandala. Metode pengumpulan data dilapangan dilakukan dengan menggunakan kuadrat sedangkan peletakan plot dilakukan dengan metode stratified random sampling dengan jenis Petak tunggal. Data dianalisis dengan menggunakan Indeks Shannon- Wienner, Dominansi Simpson dan ICS Turner. Hasil penelitian ini menunjukkan, 1)Nilai Keanekaragaman Tumbuhan Upacara Ngaben di Desa Penglipuran, Bali berdasarkan Tri Mandala adalah Keanekaragaman Tinggi dengan skor 2,5302; 2) Indeks Dominansi spesies tumbuhan Upacara Ngaben di Desa Penglipuran, Bangli berdasarkan Tri Mandala tergolong tinggi dengan nilai sebesar 0,994214; 3) Nilai ICS tertinggi diperoleh oleh tumbuhan Kelapa (Cocos nucifera) dengan skor 232; Cabai (Capsicum frustecens) dengan skor 80; Biu (Musa paradisiaca) dengan skor 70;
Tumbuhan Pewarna Alami Dan Pengolahannya Pada Tenun Ikat Amarasi Di Desa Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Fransiska Nitti; Junita Hardini; Made Pharmawati
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p17

Abstract

This study aims to identify the types of plants, its parts that are used and the processing methods for amarasi weaving fabrics. Data collection in this study were carried out in of the village of Tunbaun, West Amarasi Sub-district, Kupang District, East Nusa Tenggara as one of the centers for the production of amarasi woven fabrics. Qualitative method was used in this study with interview, observation, documentation and literature study techniques. The results showed that the weaving craftsmen in Tunbaun village, used four types of plants as natural dye for weaving including noni root bark (Indigofera tinctoria L., Fabaceae), indigo leaves (Indigofera tinctoria L., Fabaceae), young teak leaves (Tectona grandis L.f., Lamiaceae) and turmeric rhizome (Curcuma domestica Val., Zingiberaceae). Processing of ground noni root bark, then boiled in water to get a red color. Indigo leaves are soaked for 2x24 hours, added lime and let with solution and allowed to stand for 24 to obtain a blue indigo paste. Young teak leaves are boiled in water until they get a purple color. While the turmeric rhizome is grated and then boiled in water to get a yellow color. Keywords: Amarasi, Natural Dyes, Weaving
Uji Kompatibilitas Persilangan Interspesies dan Resiprok Anggrek Dendrobium Reza Priski Dwi Jayanti; Tintrim Rahayu; Gatra Ervi Jayanti
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The compatibility of a cross is indicated by the formation of fruit. The compatibility of an interspecies cross or a cross between different orchid species is used to increase diversity. To compare and determine the power of compatibility, it is necessary to cross back and forth (reciprocal). The purpose of this study was to determine the compatible crosses between interspecies and reciprocals of Dendrobium orchids and to observe the growth of fruit from these crosses. The research procedure was to cross pollen on one orchid flower species to the stigma of another orchid species, then the variables observed were the time of fruit formation (days after pollination / DAP), sepal and petal wilting day (DAP), fruit length and diameter (cm) for two days. months of observation, cross compatibility, and fruit/flower fall. The data obtained were analyzed using quantitative descriptive analysis. The results of this study showed that the sepal and petal wilting days varied from 10-22 days. Formation of fruit from day 7-16. Days of fruit formation vary greatly depending on the species crossed. The shape of the fruit is determined by the female parent, while the size of the fruit depends on the nutrients contained in the plant. The compatibility of this cross is 75% and it can be said that the breeds used are compatible. Keywords: Crosses, Interspecies, Reciproc, Dendrobium, Compatibility.
Perbanyakan Klonal Galur Jeruk Siam Kintamani (Citrus nobilis Lour) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Puji Wahyu Lestari; Made Ria Defiani; Mia Kosmiatin
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p20

Abstract

Jeruk siam Kintamani disukai oleh konsumen karena memiliki rasa manis, harum, dan daging buahnya lunak. Namun jeruk ini memiliki biji relatif banyak dan warna kulit kurang menarik sehingga kalah bersaing dengan jeruk yang diproduksi oleh negara lain. Alternatif untuk meningkatkan kualitas buah jeruk adalah melalui induksi mutasi in vitro menggunakan sinar gamma. Tunas putative mutan jeruk siam diperbanyak secara in vitro sehingga diperoleh duplikat dari masing-masing mutan. Penggunaan jenis media dan zat pengatur tumbuh pada konsentrasi yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam kultur jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memacu multiplikasi tunas dari eksplan buku. Bahan yang digunakan yaitu plantlet jeruk siam Kintamani hasil iradiasi sinar gamma dengan dosis 0, 4,5, 5, dan 5,5 Gy. Penelitian multiplikasi tunas secara in vitro menggunakan eksplan buku dengan perlakuan 7 jenis media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan media MS VMW + BAP2 + GA2 mampu memperbanyak jumlah tunas, sedangkan media MS VMW mampu meningkatkan jumlah daun dan perbanyakan jumlah akar. Kata kunci : putative mutan, karakterisasi, multiplikasi, mutasi
Aktivitas Bertelur dan Frekuensi Pendaratan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Pangumbahan Sukabumi Riska Rismawati; Diana Hernawati; Diki Muhamad Chaidir
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i01.p21

Abstract

Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan salah satu hewan yang dilindungi yang memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan di laut. Pantai Pangumbahan adalah salah satu habitat bertelur penyu hijau di Indonesia yang terdiri dari enam stasiun pendaratan dengan panjang 2,3 Km. Keberhasilan peneluran penyu hijau sangat dipengaruhi oleh kondisi habitat dan aktifitas yang terdapat didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pendaratan penyu hijau (Chelonia mydas) di setiap stasiun dan mendeskripsikan aktivitas bertelur penyu hijau di Pantai Pangumbahan. Metode yang digunakan adalah observasi, dengan penentuan titik penelitaian menggunakan purposive sampling. Aktifitas bertelur penyu hijau terdiri dari sepuluh tahapan dimulai dari muncul di bibir pantai, kemudian merangkak naik ke pesisir pantai, mencari tepat bertelur yang sesuai, membuat lubang (body fitt), memadatkan lubang badan, membuat lubang kecil untuk meletakan telur, sampai bertelur, kemudian setelah bertelur penyu hijau menutup lubang yang dibuatnya dan membuat lubang kamuflase sebelum kembali ke laut. Jumlah penyu hijau yang mendarat selama bulan Maret adalah sebanyak 47 ekor. Hasil analisis frekuensi pendaratan penyu hijau tertinggi terdapat di stasiun 2 dan staisun 3 yaitu 35,48% termasuk kedalam kategori jarang. Kemudian frekuensi stasiun 1 19,35%, frekuensi stasiun 4 yaitu 16,13%, frekuensi staisun 5 yaitu 22, 58% dan frekuensi staisun 6 yaitu 0% termasuk kedalam kategori sangat jarang. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi tambahan dalam upaya pegelolaan konservasi penyu hijau (Chelonia mydas).

Page 2 of 3 | Total Record : 22