cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER" : 7 Documents clear
Penggunaan Statin pada Pasien Hiperkolesterolemia Meisy Handayani; Abraham Simatupang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakHiperkolesterolemia ditandai kadar kolesterol total di dalam darah melebihi batas normal (>200 mg/dL). PedomanNational Cholesterol Education Program (NCEP), Adult Treatment Panel III (ATP III) merekomendasikanpenggunaan statin sebagai pilihan pertama pengobatan untuk menurunkan kadar kolesterol total dan LDL dalamdarah. Tujuan penelitian ini untuk melihat perubahan kadar kolesterol total, LDL, HDL dan trigliserida pasiensetelah pengobatan golongan statin. Pengambilan data dari rekam medik sejak Januari 2015 - Januari 2017 didua rumah sakit. Terdapat 58 kasus memenuhi kriteria inklusi, 42 perempuan dengan usia rata-rata 59 ± 9 dan16 laki-laki dengan usia rata-rata 60 ± 9. Statin yang digunakan di dua rumah sakit adalah simvastatin (70,7%)dan atorvastatin (29,3%). Terdapat 23 pasien dengan kadar kolesterol tinggi yang dapat mencapai nilai optimalsesuai NCEP ATP III. Hal tersebut dipengaruhi beberapa hal diantaranya ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan;pertimbangan biaya obat sebagian pasien; evaluasi atau monitoring pengobatan tidak dilakukan secara berkala;pemeriksaan kadar kolesterol tidak dilakukan secara konsisten sehingga tingkat keberhasilan terapi yang dijalanitidak diketahui atau perlunya penyesuaian dosis atau jenis statin yang diberikan. Sebab itu monitoring dan evaluasiterapi hiperkolesterolemia perlu dilakukan.Kata Kunci: hiperkolesterolemia, statin. AbstractHypercholesterolemia is a condition of cholesterol levels in the blood beyond the normal limits (>200 mg/dL).National Cholesterol Education Program (NCEP) Adult Treatment Panel III (ATP III) Guidelines recommends theuse of statins as the first-choice drug to decrease total cholesterol and LDL levels in the blood. The purpose ofthis study was to looking changes in total cholesterol, LDL, HDL and triglyceride levels of patients after statintreatment. Data collection from medical records from January 2015 - January 2017 in two hospitals. There were 58cases of hypercholesterolemia fulfilling the inclusion criteria, 42 women with mean age 59 ± 9 and 16 men withmean age 60 ± 9. Statin used in both hospitals were simvastatin (70.7%) and atorvastatin (29.3%). Only 23 patientswith high cholesterol levels reached optimal levels regarding NCEP ATP III. This happened due to several things,imcompliance of patients with treatment; consideration of drug costs for some people; treatment evaluation ormonitoring is not performed regularly; examination of cholesterol levels is not done consistently so that the successrate of therapy is unknown or required adjustment of dose or type of statins selected. Therefore, monitoring andevaluation of hypercholesterolemia therapy needs to be improved.Keywords: hypercholesterolemia, statin.
Hubungan antara Parameter Demografik dan Demensia pada Lansia Ajeng Damarianti; Dwi Karlina
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakPeningkatan prevalensi kasus demensia dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya meningkatnya usia seseorang(di atas 65 tahun), jenis kelamin genetik/keturunan, trauma kepala, tingkat pendidikan, lingkungan (keracunanalumunium), ketiadaan pasangan hidup, penyakit-penyakit tertentu (hipertensi sistolik, sindrom down, stroke,dan lain-lain), serta gangguan imunitas, dan lain–lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antaradimensia dan faktor usia, jenis kelamin, status pernikahan dan tingkat pendidikan pada lansia di Sasana TresnaWerda Karyabakti Ria Pembangunan Cibubur. Desain penelitian ini adalah cross sectional selama bulan Agustussampai November 2016. Responden berusia 60 tahun ke atas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakankuesioner Mini Mental State Examination (MMSE). Analisis data dilakukan dengan chi square. Hasil penelitianmenujukkan bahwa lansia yang lebih banyak mengalami demensia adalah perempuan (63,3%) dengan p=0,035;kelompok usia 75-89 (43,3,%) dengan p=0,049; kelompok dengan tingkat pendidikan rendah (73,3%) denganp=0.001; dan kelompok dengan status janda/duda (76,7%) dengan p=0,027. Disimpulkan bahwa usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan, dan status pernikahan berhubungan bermakna dengan dimensia.Kata Kunci: demensia, umur, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan AbstractIncreased prevalence of dementia cases are affected by several factors, such as aging (over 65 years), sex, genetics/ heredity, head trauma, level of education, the environment (toxicity of aluminum), the absence of a spouse, certaindiseases (hypertension systolic , down syndrome, stroke, etc.), as well as immune disorders, etc. This research aimto know the association between age, sex, marital status and education level with dementia of the elderly in theSasana Tresna Werda Karyabakti Ria Pembangunan Cibubur. This research used cross sectional design and wasconducted from August until November 2016. Respondent aged 60 years and older. Data was collected usingquestionnaires and MMSE form. Data analysis perfomed using univariate analysis and bivariate analysis.The resultshowed that dementia was more prevalent among females (63.3%) with p-value=0.035; group aged 75-89 years old(43.3%) with p–value=0.049, low education levels (73. 3%) with p = 0.001 and with the status of widows/widowers(76.7%) with p value= 0.027. We concluded there were significant associations between age, sex, marital status andeducation level with dementia.Keywords: dementia, age, sex, marital status, education level
Aktivitas Antifungal Kitosan Rajungan dan Udang terhadap Candida albicans Komariah -; Latifah -
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakKitosan merupakan hasil deasetilasi kitin dan banyak ditemukan pada cangkang hewan avertebrata laut berkulitkeras (Crustacea). Kitosan merupakan suatu amina polisakarida yang berperan dalam menghambat pertumbuhanbakteri dan jamur, termasuk Candida albicans. Pada penelitian ini digunakan kitosan rajungan (Portunus pelagicus)dengan derajat deasetilasi (DD) 89% dan kitosan udang (Penadeus monodon) dengan derajat deasetilasi (DD) 93%.Tujuan penelitian ini untuk menguji daya hambat kitosan tersebut terhadap pertumbuhan C. albicans. Candidaalbicans termasuk flora normal di dalam rongga mulut dan bersifat saprofit namun dapat menjadi patogen bilaterdapat faktor predisposisi pada tubuh pejamu. Efek antifungal yang dihasilkan kitosan DD 89% dan kitosan DD93% terhadap pertumbuhan C. albicans diuji dengan metode difusi cakram. Konsentrasi kitosan yang dipakai padauji adalah 0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%, dan 1,25% (b/v). Zona hambat yang terbentuk pada masing-masing kelompokkonsentrasi berbeda. Diameter zona hambat terbesar yaitu 8 mm dan terdapat pada konsentrasi kitosan udang1,25%. Sedangkan diameter zona hambat terkecil yaitu 4 mm terdapat pada konsentrasi kitosan rajungan 0,25%.Kata kunci: Kitosan, Candida albicans, derajat deasetilasi, zona hambat AbstractChitosan can be formed from deacetylation of chitin from marine invertebrate shells (Crustacea). It is aminopolysaccharide dan it has antibacterial and antifungal activity. In this study, we used chitosan from Portunuspelagicus (89% deacetylation degree) and Penadeus monodon (93% deacetylation degree). The aim of this studyis measure of inhibition Candida albicans with chitosan, because that bacteria is normal flora in the mouth andsaprophytic. However, it can become pathogenic if there is a predisposing factor in the host. We used diffusiondisc method in this study with several concentrations of chitosan (0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%, 1,25% w/v). Theresults showed, the chitosan has antifungal activity. The highest antifungal activity was showed in 1,25% P. mondonchitosan with 8 mm of inhibition zone. The lowest antifungal activity was showed in 0,25% P. pelagicus chitosanwith 4 mm inhibtion zone.Keywords: chitosan, Candida albicans, deacetylation degree, inhibition zone
Faktor Risiko Pasien Stroke Iskemik dan Hemoragik Khanza Othadinar; Muhammad Alfarabi; Viola Maharani
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakStroke merupakan penyakit yang disebabkan karena gangguan peredaran darah otak dengan salah satu gejala klinisberupa adanya penurunan fungsi motorik. Saat ini prevalensi stroke di Indonesia cukup tinggi. Stroke memilikibanyak faktor risiko seperti hipertensi, diabetes mellitus, merokok, dan hiperkolesterolemia. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui profil faktor risiko pasien stroke dan hubungannya dengan pemulihan peningkatanfungsi motorik di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional tahun 2016-2017. Metode yang digunakan pada penelitian iniadalah metode deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah semua pasien stroke iskemik maupun hemoragik yangsedang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional tahun 2016-2017. Hasil penelitian menunjukkanbahwa jenis stroke terbanyak adalah stroke iskemik (82.2%) dengan faktor risiko terbanyak adalah diabetes melitus(86.1%). Diperlukan waktu kurang dari 1 bulan sampai tercapai peningkatan fungsi motorik.Kata kunci: stroke, hipertensi, diabetes melitus, peningkatan fungsi motorik. AbstractStroke is a disease caused by circulatory disorders of the brain with decreased motoric function as clinical symptoms.At present, the prevalence of stroke in Indonesia is high. Stroke has many risk factors such as hypertension, diabetesmellitus, smoking, and hypercholesterolemia. This study aims to profiling risk factors of stroke patients and correlatewith increasing motoric function at the Rumah Sakit Pusat Otak Nasional in 2016-2017. The method used in thisstudy is descriptive. The sample in this study was all patients with ischemic and hemorrhagic stroke who wereundergoing rehabilitation at the Rumah Sakit Pusat Otak Nasional in 2016-2017. The results showed that the mosttypes of stroke were ischemic stroke (82.2%), with a history of diabetes mellitus (86.1%). Requiring less than 1month until an increase in motoric function is achieved.Key words: stroke, hypertension, diabetes mellitus, increase in motoric function.
Penjeratan dengan Gambaran Bintik Pendarahan Mata pada Korban Hidup Theza E. A. Pellondo’u.P; Sigid K. L. Bhima Bhima
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakSeorang perempuan berusia 32 tahun datang ke IGD RS E setelah mengalami penjeratan. Pasien mengaku dijeratdari arah belakang kanan, mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri. Sebelumnya pasien mendapatkan penanganandarurat di RS S. Hasil pemeriksaan menunjukkan keadaan umum tampak sakit, kesadaran berkabut, tekanan darah110/70 mmHg, frekuensi nadi 90 per menit dan teratur, frekuensi napas 16 per menit tidak teratur, dan suhu 39OC. Tampak bintik perdarahan di kelopak mata kanan dan kiri, pipi kanan dan kiri yang meluas sampai ke matakiri. Tampak sebuah jejas jerat di leher melingkar tidak penuh, dasar jejas kulit, warna kecoklatan, perabaan kasar,di sekitar jejas terlihat sedikit memar. Tampak sebuah luka lecet di pergelangan tangan kiri bagian depan, tepitidak teratur, batas tidak tegas. Permukaan luka ditutupi oleh serum yang mengering, warna merah kecokelatan danperabaan kasar. Pemeriksaan radiologis leher tidak menunjukkan kelainan. Hasil laboratorium darah menunjukkangolongan darah: O+, hemogblobin: 11,9 g/dL, eritrosit: 4,94 juta/µL, trombosit: 340 ribu/µL, hematokrit: 37,1%,leukosit: 8430/µL, dengan hitung jenis: eosinofil: 2%, basofil: 0%, netrofil: 51%, limfosit: 39%, monosit: 6%.pH darah: 7,41, tekanan parsial oksigen: 98 mmHg, tekanan parsial karbondioksida: 39 mmHgm, bikarbonat: 22mEq/L, base excess: -0,5 mEq/L, dan saturasi oksigen: 95%. Bintik perdarahan di daerah wajah biasa ditemukanpada korban meninggal yang disebabkan oleh jeratan di leher akibat pecahnya kapiler karena peningkatan tekananpembuluh darah. Korban tidak meninggal dan pemeriksaan penunjang menunjukkan hasil yang cenderung normalkemungkinan besar dikarenakan oleh cepatnya pertolongan yang diterima korban.Kata kunci: penganiayaan, jeratan, bintik perdarahan AbstractA 32 year old female came to ER of E Hospital with history of strangulation. Patient confessed that she wasstrangled from rear right, causing the patient to fell unconscious. Prior to arriving at E Hospital the patient hasreceived emergency medical care in S Hospital. Physical examination indicated that the patient appeared to be inpain, clouding of consciousness, blood pressure 110/70 mm Hg, pulse 90 beat per minute regular, respiration 16 perminute irregular, and temperature 39O C. Petechiae was found in right and left palpebrae, right and left cheeks to lefteye. An incomplete strangulation wound was found on the neck, with features base of wound skin, brownish, rough,and some bruises on the perimeter of the wound. A laceration was found on front side of left wrist, with irregularedge, undefined border. Wound was covered in dried serum, brown-reddish in colour and rough to the touch. Neckradiology examination showed no anomalies. Haematology examination showed blood type O+, haemoglobin 11,9g/dL, erythrocyte 4,94 milionl/µL, thrombocyte 340 thousand/µL, haematocrit 37,1%, leucocyte 8430/µL, withdifferential blood count as follows: eosinophile 2%, basophile 0%, neutrophile 51%, lymphocite 39%, monocyte6%. Blood pH 7,41, oxygen partial pressure 98 mmHg, carbondioxide partial pressure 39 mmHgm, bicarbonate 22mEq/L, base excess -0,5 mEq/L, and oxygen saturation 95%. Facial petechiae commonly found on victim deadfrom neck strangulation caused by capillary burst due to increased blood vessel pressure. Patient, however, did not die and examinations showed rather normal results most likely because she had received proper and immediatemedical care.Keywords: assault, strangulation, petechiae
Review: Refluks Gastroesofageal pada Bayi Prematur Putri M. T. Marsubrin; Kamajaya Mulyana; Rosalina D. Roeslani
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakRefluks gastroesofageal merupakan fenomena fisiologis pada bayi prematur yang dapat menjadi penyakit jika terjadikomplikasi seperti esofagitis, kesulitan minum, kegagalan penambahan berat badan, gangguan tidur, gangguanpernapasan, pendarahan saluran cerna, atau apnea. Prevalensi refluks gastroesofageal 22% lebih tinggi pada bayiprematur. Diagnosis umumnya ditegakkan berdasarkan penilaian klinis. Refluks gastroesofageal menjadi sebuahfenomena klinis penting di neonatal intensive care unit (NICU) akibat memanjangnya lama rawat di rumah sakit dannaiknya biaya perawatan. Tata laksana non-medikamentosa merupakan terapi lini pertama pada bayi dengan refluksgastroesofageal fisiologis dan penyakit refluks gastroesofageal tanpa komplikasi. Tatalaksana non-medikamentosamencakup posisi tubuh dengan left lateral positioning (LLP) atau pronasi, strategi pemberian minum lebih seringdengan volume lebih sedikit, thickened feeding, pemilihan extensively-hydrolyzed formula, transpyloric feedings,dan penurunan feeding flow rates. Tata laksana medikamentosa bayi dengan penyakit refluks gastroesofagealdipertimbangkan saat penanganan konservatif tidak berhasil. Dalam beberapa tahun terakhir terdapat penggunaanluas obat-obatan anti-refluks empiris pada bayi, termasuk bayi prematur. Obat-obatan anti-refluks meliputi acidbuffering agents, Histamine-2 (H2) receptor blockers, proton pump inhibitors (PPIs), agen prokinetik, dan baklofen.Belum banyak penelitian yang mendukung penggunaan terapi medikamentosa pada bayi prematur dengan refluksgastroesofageal. Pendekatan yang cermat untuk menilai risiko dan manfaat untuk setiap obat harus dipertimbangkansebelum memulai pengobatan.Kata kunci: refluks gastroesofageal, bayi prematur, neonatus AbstractGastroesophageal reflux which is a physiological phenomenon in preterm infants can become a disease whencausing complications such as esophagitis, feeding difficulties, failure to gain weight, sleep disturbances, respiratoryproblems, gastrointestinal bleeding, or apnea. The prevalence of gastroesophageal reflux is 22% higher in preterminfants. Diagnosis is generally made by clinical judgment. Gastroesophageal reflux is an important phenomenonin the neonatal intensive care unit (NICU) due to the length of stay in hospital and high cost of care. Non-medicalmanagement is the first-line therapy in infants with physiological gastroesophageal reflux and uncomplicatedgastroesophageal reflux disease. Non-medical management includes left lateral positioning (LLP) or pronation,more frequent with less volume feeding, thickened feeding, selecting extensively-hydrolyzed formulas, transpyloricfeedings, and decreasing thefeeding flow rates. Medical management of infants with gastroesophageal reflux diseaseis considered when conservative treatment is unsuccessful. There has been widespread use of empirical anti-refluxdrugs in infants, including in preterm infants. Anti-reflux drugs include acid-buffering agents, Histamine-2 (H2)receptor blockers, proton pump inhibitors (PPIs), prokinetic agents, and baclofen. There are few studies that supportthe use of medical therapy in preterm infants with gastroesophageal reflux. Careful approach for each drug must beconsidered before starting the treatment.Keywords: gastroesophageal reflux, reflux, preterm infants; neonates
Neurosistiserkosis Sebagai Akibat Infeksi Parasit pada Susunan Saraf Pusat Edho Yuwono
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 3 (2019): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakNeurosistiserkosis merupakan infeksi parasit cacing pita Taenia solium di susunan saraf pusat. Penyakit inimenyebabkan angka kesakitan dan kematian pada beberapa negara yang endemis salah satunya di Indonesia.Penyebab terinfeksinya manusia dengan penyakit ini karena secara tidak sengaja menelan makanan atau minumanyang terkontaminasi telur cacing T. solium. Di Amerika Serikat penyakit ini termasuk satu dari lima penyakit parasityang terabaikan sehingga menimbulkan angka kesakitan dan kematian. Dengan mengetahui bagaimana siklus hidupcacing pita T.solium sampai penegakkan diagnosis maka neurosistiserkosis dapat diobati untuk menekan angkakesakitan dan kematian.Kata kunci: telur cacing, T.solium, penyakit parasit yang terabaikan, diagnosis, pengobatan AbstractNeurocysticercosis is parasite infection of Taenia solium in central nervous system. This disease is causing morbidityand mortality in several endemic country, as Indonesia. Human can be infected by this disease because ingestionof food or water that being contaminated by worm eggs. In the United States of America, neurocysticercosis isconsidered as one of five neglected parasitic infections that cause morbidity and mortality. By knowing the life cycleof Taenia solium until diagnosis, neurocysticercosis can be treated for lowering morbidity and mortality.Key words: eggs worm, T . Solium, neglected parasitic infection, diagnosis, treatment

Page 1 of 1 | Total Record : 7