cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER" : 7 Documents clear
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Seksualitas Mahasiswa di salah satu Fakultas Kedokteran Swasta Jakarta Tahun 2020 Simanungkalit, Bona
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.3186

Abstract

Abstrak Kesehatan Reproduksi menurut World Health Organization (WHO) merupakan status kesehatan fisik, mental, dan sosial; meliputi semua aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya, termasuk bebas dari penyakit dan cacat. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja adalah faktor berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku seksualitas remaja. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan 8% remaja laki-laki dan 2% remaja perempuan yang belum menikah pernah melakukan hubungan seksual pada usia 20-24 tahun. Mahasiswa berada pada masa transisi antara berakhirnya masa remaja dan berawalnya kedewasaan, pada usia 18 - 25 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran seksualitas mahasiswa di salah satu Fakultas Kedokteran Swasta Jakarta mengenai seksualitas pada era saat ini. Desain penelitian ini deskriptif kuantitatif. Pengambilan data penelitian ini menggunakan kuesioner, pengambilan sampel dengan teknik cluster random sampling, dengan jumlah sampel 295 orang. Pengetahuan mahasiswa tentang seksualitas rendah (92,5%), mahasiswa memiliki sikap negatif tentang seksualitas (96,9%), mahasiswa yang memiliki perilaku seksualitas kurang aman (49,5%), dan tidak aman (38,3). Sebagian besar mahasiswa memiliki pengetahuan rendah tentang seksualitas (92,5%), hampir seluruh mahasiswa memiliki sikap negatif mengenai seksualitas (96,9%), Sebagian mahasiswa memiliki perilaku seksual kurang aman (49,2%), dan tidak aman (38,3%). Kata Kunci : Seksualitas, Mahasiswa, Pengetahuan, Sikap, Perilaku.
Hubungan Penggunaan Gadget dengan Keluhan Subjektif Computer Vision Syndrom (CVS) pada Mahasiswa Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Simanungkalit, Bona; Siagan, Forman E
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.3188

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan karena penggunaan komputer. Gejala yang paling umum terjadi terkait CVS adalah mata tegang, sakit kepala, pandangan buram, mata kering, dan sakit pada leher serta bahu. Computer Vision Syndrome (CVS) dapat muncul segera setelah pemakaian gadget dalam jangka waktu lama atau lebih dari 4 jam namun, terdapat beberapa orang yang mengalami CVS beberapa hari kemudian. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Penggunaan Gadget dengan Keluhan Subjektif Computer Vision Syndrom (CVS). Metode: Metode penelitian ini merupakan survey analitik dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan data digunakan dengan menggunakan kuesioner dan pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik non random sampling, yaitu purposive sampling yang dipilih berdasarkan kriteria ekslusi dan kriteria inklusi. Hasil: Dari 245 responden didapatkan sebagian besar responden tidak mengalami Computer Vision Syndrome (CVS) sebanyak 209 responden (85,3%) dan sebanyak 36 responden (14,7%) mengalami Computer Vision Syndrome (CVS), didapatkan sebagian besar responden menggunakan hadphone / tablet, komputer/laptop sebanyak 226 responden (92,2%) dan 19 responden (7,8%) hanya menggunakan handphone / tablet terdapat hubungan penggunaan gadget terhadap keluhan subjektif Computer Vision Syndrome. Kesimpulan: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa durasi penggunaan gadget berpengaruh terhadap timbulnya keluhan subjektif Computer Vision Syndome sebesar 17,3%. Kata kunci: Computer Vision Syndrome (CVS), gadget, durasi.
Beban Candida dalam Saluran Cerna Anak Hardi Hutabarat; Ida B. E. U. Wija Wija; Forman E. Siagian; Retno Wahyuningsih
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.3361

Abstract

AbstrakMikrobiota terbesar pada tubuh manusia terdapat pada saluran cerna (70%).Mikrobiota normal saluran cerna tersusun atas komposisi mikroorganisme yang unik dan berada dalam keadaan seimbang, didalamnya termasuk Candidaspp., yang hidup sebagai komensal. Data tentang keberadaan Candida dalam usus terutama berasal dari orang dewasa, sedangkan data pada anak sangat jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman spesies Candida dan bebannya pada saluran cerna anak. Untuk menghitung beban jamur, sebanyak 0,2 g tinja ditanam pada agar sabouraud dekstrosa (ASD). Beban jamur dihitung berdasarkan koloni yang tumbuh dan disesuaikan menjadi per gram tinja (colony forming unit – CFU/g tinja). Identifikasi Candida dilakukan berdasarkan koloni yang tumbuh pada medium CHROMagar Candida (Paris, France). Populasi penelitian adalah anak umur 0-18 tahun (sesuai kriteria WHO). Sampel berasal dari RT 10 dan 11, Kampung Pluis, Jakarta Selatan dan RT 4, 6 dan 9, Kelurahan Cawang. Sebanyak 61 sampel tinja ditanam pada medium, dan didapat 72 isolat dari 43 pertumbuhan yang berasal dari 54 anak sehat dan tujuh anak sakit, yang dirawat di Departemen Kesehatan Anak RS UKI dengan berbagai sebab. Isolat yang didapat terdiri atas Candida tropicalis, Candida albicans, Candida parapsilosis, dan Candida glabrata. Beban jamur 1-50 CFU ditemukan pada 18 pasien, diikuti oleh beban jamur 151-200 CFU pada tujuh pasien. Selain itu, ditemukan infeksi campuran (dua spesies) pada sembilan sampel dan 3 spesies pada tujuh sampel. Tinja anak sakit didominasi C. tropicalis, empat sampel memiliki campuran C. tropicalis dengan C. albicans, dan C. tropicalis dengan C. parapsilosis. Kata Kunci: Candida, spesies, CFU, beban jamurCandida Load in the Children’s Gastrointestinal TractAbstractThe largest microbiota in the human body is found in the digestive tract (70%). The microbiota in the digestive tract is normally composed of a unique composition of microorganisms and is in a balanced state, including Candida spp., which live as commensals. Data on the presence of Candida in the intestine, especially coming from an adult, while the data in children are very rare. This study aims to determine the diversity of Candida species and fungal burden on the children’s digestive tract. To calculate the fungal load, 0.2g of faeces were planted on sabouraud dextrose agar (ASD). The fungal load was calculated based on the growing colonies and adjusted to be per gram of faeces (colony forming unit - CFU/g of faeces). Candida identification was carried out based on the colonies that grew on the CHROMagar Candida medium (Paris, France). The study population was children aged 0-18 years (according to WHO criteria). Samples came from RT 10 and 11, KampungPluis, South Jakarta and RT 4, 6 and 9, Cawang. A total of 61 stool samples were planted on the medium, and obtained 72 isolates from 43 growths from 54 healthy children and seven children who were treated at the Children’s Health Department of UKI Hospital for various reasons. The isolates obtained consisted of Candida tropicalis, Candida albicans, Candida parapsilosis, and Candida glabrata. 1-50 CFU fungal burden was found in 18 patients, followed by 151-200 CFU fungal burden in seven patients. In addition, there were mixed infections (two species) in nine samples and three species in seven samples. The stool of the sick children was predominantly C. tropicalis, four samples had a mixture of C. tropicalis with C. albicans, and C. tropicaliswith C. parapsilosis.Keywords: Candida, species, CFU, fungal burden
Tatalaksana Trauma Wajah dengan Panfasial Fraktur Lina Marlina; Bambang S.R. Utomo; Fransiskus H. Poluan
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.3362

Abstract

AbstrakFraktur pada wajah dapat menyebabkan defisit fungsional dan estetika jika tidak ditangani dengan baik. Tatalaksana akut yang tepat dari fraktur wajah harus didasarkan pada evaluasi cepat dan menyeluruh. Keberhasilan rekontruksi wajah merupakan keadaan darurat yang perlu dievaluasi dalam waktu 24 jam dari trauma. Berbagai jenis reduksi dan fiksasi tergantung pada fungsi, lokasi, jenis fraktur, dan usia pasien. Kasus ini diajukan untuk memperlihatkan keberhasilan tatalaksana trauma akut maksilofasial. Dilaporkan seorang laki-laki 37 tahun dengan panfasial fraktur yang dilakukan reduksi dan fiksasi 3 hari setelah trauma dengan pemasangan plat dan sekrup, serta fiksasi mukoginggival kombinasi antara arch bardan quickfix. Reduksi, reposisi dan fiksasi dilakukan setelah edema mukosa hebat disertai kombinasi antara arch bar dan quickfix pada mukoginggival merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi risiko perdarahan dan memudahkan reposisi.Kata kunci: fraktur wajah, panfasial fraktur,edema mukosa.Management of Maxillofacial Traumawith Panfacial FractureAbstractFacial fractures can cause functional and aesthetic deficits if not treated properly. Appropriate acute management of facial fractures should be based on a rapid and thorough evaluation. Successful facial reconstruction is an emergency that needs to be evaluated within 24 hours of trauma. Different types of reduction and fixation depend on the function, location, type of fracture, and the age of the patient. This case is presented to demonstrate the success of acute maxillofacial trauma management. Reported a 37-year-old man with a facial fracture who underwent reduction and fixation 3 days after trauma with plate and screw installation, and combination mucogingival fixation between arch bar and quickfix. Reduction, reposition and fixation performed after severe mucosal edema accompanied by a combination of arch bar and quickfix on the mucogingival is an alternative to reduce the risk of bleeding and facilitate repositioning.Keywords: facial fracture, panfacial fracture, mucosal edema.
The Role of GAD65 Autoantibodies in the development of Type-1 Diabetes Sri R. Prasetyo
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.3363

Abstract

AbstractThe finding of the autoantibodies to islet cells (ICAs) in type-1 diabetes patients is important for developing the fine tuning of individualized therapy. Antibody to Glutamate decarboxylase 2 (GAD65Ab) is the most reliable sign, since it has the most stable sensitivity as diagnostic tool for detecting type-1diabetes. As a key enzyme in gamma-Aminobutyric acid (GABA) synthesis, GAD65 damage caused by GAD65 antibodies (GAD65Abs) would lead to decrease in the amount of GABA vesicles released by b-cells. Decrease of GAD65 induced by GAD65Ab may endanger the paracrine or autocrine function of GABA, that mediated by γ-aminobutyric acid type A receptors (GABAAR) would depolarized the b-cells. The depolarization then increases intracellular Calsium (Ca2+) concentration that is needed for insulin release. The effect of GABA on b-cells is also important for proliferation and anti-apoptosis of b-cells. Moreover, decrease in GABA release also impairs the inhibiting effect of GABA on T-cell proliferation and inflammatory cytokines release that may end up with escalation of GAD65 damage.Keywords: Type-1 diabetes, autoantibody, GAD65Peran Autoantibodi GAD65 dalam Perkembangan Diabetes Tipe-1AbstractPenemuan autoantibodi terhadap sel pulau atau islet cells (ICA) pada pasien diabetes tipe-1 penting untuk mengembangkan penyesuaian terapi individual. Antibodi terhadap Glutamat dekarboksilase 2 (GAD65Ab) adalah tanda yang paling dapat diandalkan, karena memiliki sensitivitas yang paling stabil sebagai alat diagnostik untuk mendeteksi diabetes tipe-1. Sebagai enzim kunci dalam sintesis asam gamma-aminobutirat (GABA), kerusakan GAD65 yang disebabkan oleh antibodi GAD65 (GAD65Abs) akan menyebabkan penurunan jumlah vesikel GABA yang dilepaskan oleh sel. Penurunan GAD65 yang diinduksi oleh GAD65Ab dapat membahayakan fungsi parakrin atau autokrin GABA, yang dimediasi oleh reseptor asam γ-aminobutirat tipe A (GABAAR) akan mendepolarisasi sel. Depolarisasi kemudian meningkatkan konsentrasi kalsium (Ca2+) intraseluler yang diperlukan untuk pelepasan insulin. Efek GABA pada sel beta juga penting untuk proliferasi dan anti-apoptosis sel beta. Selain itu, penurunan pelepasan GABA juga merusak efek penghambatan GABA pada proliferasi sel T dan pelepasan sitokin inflamasi yang mungkin berakhir dengan peningkatan kerusakan GAD65.Kata kunci: Diabetes tipe-1, autoantibodi, GAD65
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Teh Hijau dan Teh Hitam (Camellia sinensis) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Evy S. Arodes; Ivan A. Hasudungan
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.4828

Abstract

AbstrakResistensi mikroba terhadap antibiotik klasik dan perkembangannya yang cepat telah menimbulkan perhatian serius dalam pengobatan penyakit menular. Baru-baru ini, banyak penelitian diarahkan untuk menemukan solusi yang menjanjikan untuk mengatasi masalah ini. Fitokimia telah mengerahkan aktivitas antibakteri potensial terhadap patogen sensitif dan resisten melalui mekanisme aksi yang berbeda. Beberapa tanaman berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengobatan infeksi bakteri S. aureus. Salah satunya termasuk tanaman dari genus Camellia sinensis yaitu teh hijau dan teh hitam. Teh yang mengandung berbagai senyawa antara lain katekin polifenol, saponin, alkaloid, tannin bersifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri dari ekstrak methanol teh hijau dan teh hitam dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus menggunakan dengan metode difusi cakram Kirby Baurer. Konsentrasi setiap perlakuan ekstrak teh hijau mempengaruhi diameter zona hambat bakteri. Diameter antar perlakuan menunjukkan bahwa diameter zona hambat dari kontrol positif gentamisin lebih tinggi yaitu 26,67 mm dibandingkan dengan perlakuan ekstrak teh hijau dan teh hitam. Konsentrasi ekstrak 100 mg/ml memiliki zona hambat sebesar 16 mm pada teh hijau, sedangkan pada pada teh hitam sebesar 20 mm. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan ekstrak teh hijau dan teh hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Kata kunci: Staphylococcus aureus, Camellia sinensis, teh hijau, teh hitam, aktivitas antibakteri. AbstractMicrobial resistance to classical antibiotics and their rapid development have given rise to serious attention in the treatment of infectious diseases. Recently, a lot of research has been directed towards finding a promising solution to this problem. Phytochemicals have exerted potential antibacterial activity against sensitive and resistant pathogens through different mechanisms of action. Several plants have the potential to be developed as a treatment for S. aureus bacterial infection. One of them includes plants from the genus Camellia sinensis, namely green tea and black tea. Tea which contains various compounds including polyphenol catechins, saponins, alkaloids, and tannins are antibacterial. This study aims to determine the antibacterial effectiveness of methanol extract of green tea and black tea in inhibiting the growth of S. aureus bacteria using the Kirby baurer disk diffusion method. The concentration of each green tea extract treatment affected the diameter of the bacterial inhibition zone. The diameter between treatments showed that the diameter of the inhibition zone of the gentamicin positive control was 26.67 mm higher than that of the green tea and black tea extracts. The extract concentration of 100 mg/ml had an inhibitory zone of 16 mm in green tea, while in black tea it was 20 mm. Based on these data, it can be concluded that green tea and black tea extracts are effective in inhibiting the growth of S. aureus bacteria.Keywords: Staphylococcus aureus, Camellia sinensis, green tea, black tea, antibacterial activity
Pengaruh Desinfektan Pembersih Lantai Terhadap Perkembangan Larva Ascaris lumbricoides Bryant Leonardo; Kevin C. Sembiring; Yesika R. H. Siagian; Chyncia Vriesca; Made S. Primandita; Ronny; Retno Wahyuningsih
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.4829

Abstract

AbstrakPenyakit kecacingan merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan kurang mendapat perhatian (neglected disease) dan prevalensi askariasis menjadi yang tertinggi di Indonesia. Desinfektan pembersih lantai merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mencegah infeksi kecacingan. Desinfektan yang digunakan pada penelitian ini adalah; kombinasi alkohol etoksilat-natrium lauril eter sulfat, karbol-pine oil, benzalkonium klorida-etoksilat fatty alcohol, dan benzalkonium klorida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh desinfektan dengan konsentrasi yang berbeda terhadap perkembangan telur A. lumbricoides. Bahan dan cara pada penelitian ini menggunakan telur A. lumbricoides yang berasal dari feses penderita askariasis. Kemudian feses diubah menjadi suspensi melalui proses sedimentasi dan sentrifugasi. Penelitian ini didapatkan bahwa seluruh desinfektan dengan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap perkembangan larva A. lumbricoides. Kata kunci: Alkohol Etoksilat, Natrium Lauril Eter Sulfat, Karbol-Pine Oil, Benzalkonium Klorida-EtoksilatFatty Alcohol AbstractWorm disease is still a public health problem and has received less medical attention (neglected disease) and ascariasis become the highest prevalence of worm disease in Indonesia. Floor cleaning disinfectant is one of the tools that is used to prevent worm infections. The disinfectants used in this study were; combination of alcohol ethoxylatesodium lauryl ether sulfate, carbol-pine oil, benzalkonium chloride-ethoxylate fatty alcohol, and benzalkonium chloride. The purpose of this study is to determine the effect of disinfectants with different concentrations on the development of A. lumbricoides eggs. Materials and methods in this study used A. lumbricoides eggs derived from the feces of ascariasis patients. Then the feces were converted into the suspense through the process of sedimentation and centrifugation. The results of this study showed that all disinfectants with different concentrations had no effect on the development of A. lumbricoides larvae.Keywords: Ethoxylate alcohol, Sodium lauryl ether sulfate, Carbol-pine oil, Benzalkonium chlorid-ethoxylate fatty alcohol

Page 1 of 1 | Total Record : 7