cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 1 (2023): April" : 24 Documents clear
Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga dengan Alat Biokomposter Sederhana I Made Merta Wiryawan; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Sumiyati Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p13

Abstract

Abstrak Sampah rumah tangga dapat diolah menjadi kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi campuran yang baik antara sampah rumah tangga dan sekam padi yang menghasilkan kualitas kompos sesuai SNI dan menentukan biokomposter mana yang paling cepat menghasilkan kompos. Untuk menghasilkan kompos, sampah rumah tangga ditambahkan sekam padi untuk menentukan perbandingan komposisi bahan yang terbaik dan untuk mencapai standar Indonesia dalam bahan kompos yaitu SNI 19-7030-2004. Perbandingan sampah rumah tangga dan sekam padi untuk A1, A2, dan A3 berturut-turut adalah (1:0), (1:1) dan (1:2). Proses pengomposan dilakukan selama 60 hari dan menggunakan dua model biokomposter yang berbeda yaitu biokomposter termodifikasi dan biokomposter lama. Suhu, pH dan kadar air diukur setiap hari sedangkan bahan organik, konduktivitas listrik (EC) dan rasio C/N diukur pada awal pengomposan dan pada akhir pengomposan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu akhir dan pH akhir pada semua biokomposer tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Untuk kadar air terbaik dihasilkan dengan perlakuan A1 (1:0) pada masing-masing bio komposter. Komposisi campuran terbaik dihasilkan pada rasio A1 (1:0) karena limbah rumah tangga yang diperoleh atau bahan baku awal telah memenuhi rasio C/N bahan baku kompos yaitu 45,81. Semua biokomposer memiliki kemampuan menghasilkan kompos dalam waktu 60 hari. Semua bio komposter mencapai suhu termofilik pada hari ke 25 dan semua bio komposter mengalami penurunan suhu pada hari ke 45, karena penambahan air setiap 7 hari selama proses pengomposan. Abstract Household waste can be processed into compost. The purpose of this research is to obtain a good mix composition between household waste and rice hulls that produce compost quality according to SNI and determine which biocomposter produces the fastest compost. In order to produce compost, the household waste was added with rice hulls to determine the best material composition ratio and to achieve Indonesian standar in compost material i.e SNI 19-7030-2004. The comparison between household waste and rice hulls for A1, A2, and A3 is (1:0), (1:1) and (1:2) respectively. The composting process was carried out for 60 days and used two different biocomposter models, namely modified biocomposter and old biocomposter. Temperature, pH and water content were measured daily while organic matter, electrical conductivity (EC) and C/N ratio were measured at the beginning of composting and at the end of composting. The results showed that the final temperature and final pH in all bio composters did not show a significant difference. For the best water content produced by treatment A1 (1:0) on each bio composter. The best composition of the mixture produced in the ratio A1 (1:0) because the household waste obtained or the initial raw material has met the C/N ratio of compost raw materials, which is 45.81. All biocomposters have the ability of producing compost within 60 days. All bio composters reached a thermophilic temperature on day 25 and all bio composters run into a decrease in temperature on day 45, due to the addition of water every 7 days during the composting process.
Rancang Bangun Tempat Sampah Terintegrasi dengan Dinding Transparan dalam Upaya Pemilahan Sampah Made Ari Witarsa; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p15

Abstract

Abstrak Pemilahan sampah sangat penting dilakukan karena dapat meningkatkan kesehatan lingkungan, masyarakat dan melindungi sumber daya alam. Tujuan penelitian ini untuk merancang tempat sampah yang terintegrasi serta transparan dalam usaha pemilahan sampah dan menguji kelayakan dan keefektifan rancang bangun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan kuesioner dan metode kuantitatif menggunakan perhitungan pada desain serta analisis kekuatan rangka. Warna tempat sampah ini menggunakan warna hitam serta transparan pada bagian depan dan samping. Konstruksi rangka dinyatakan aman karena dapat menopang beban sampah seberat 75 kg dengan tegangan (?) tarik rangka 57,119 N/ yang lebih kecil dari tegangan (?) ijin bahan yaitu 88,630 N/ . Dimensi tempat sampah terintegrasi serta transparan yaitu 120x40x138 cm, dengan tiga unit transparan berbahan akrilik yaitu unit organik, anorganik dan botol kaca serta kaleng (terintegrasi). Bagian tambahan yaitu bagian penutup tiga unit transparan, atap, roda dan bagian penyimpanan plastik sampah. Tempat sampah ini dinyatakan layak karena hasil pengujian menggunakan kuesioner masyarakat menyatakan setuju dengan perolehan skor yaitu 74% - 91%. Hasil pengujian keefektifan rancang bangun tempat sampah terintegrasi serta transparan yaitu efetif karena sebagian besar masyarakat dikategorikan cepat dan sesuai dalam melakukan pemilahan sampah. Abstract Waste segregation is important for improving the environment's health, and society also protects natural resources. The purpose of this study is to design an integrated and transparent trash bin to sort waste and test the feasibility and effectiveness of the design. The design of the trash bin is based on functional and structural design. Questionnaire data were obtained from testing the feasibility and effectiveness design. The black color is used in this trash bin because it is identic to hummus. The frame construction is declared safe because it can support a garbage load of 75 kg per unit with frame tensile stress (?) of 57.119 N/mm2, smaller than the allowable stress (?) of the 88.630 N/mm2. The integrated and transparent trash dimensions were 120x40x138 cm, with three acrylic units, namely organic, inorganic, and glass bottles and cans. Additional parts are the cover of the three transparent units, the roof, the wheels, and the plastic waste storage section. This trash bin was declared feasible because the test results stated that they agreed with the design results score of 74% - 91%. The results of testing the effectiveness of the integrated and transparent design of the trash bin, that is, most of the respondents were categorized as fast and appropriate in sorting waste.
Modifikasi Keranjang Biokomposter Sederhana untuk Sampah Organik Rumah Tangga I Komang Gede Habi Wijaya; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p14

Abstract

Abstrak Modifikasi keranjang biokomposter sederhana dilakukan karena masih terdapat kekurangan yaitu tiang penyangga tidak kuat menopang jaring, jaring yang digunakan tidak kokoh, lubang jaring terlalu besar dan tidak adanya alas dudukan. Tujuan dari penelitian ini untuk memodifikasi keranjang biokomposter hasil rancangan sebelumnya, menguji kinerja keranjang biokomposter sederhana skala rumah tangga. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap memodifikasi bagian rangka dengan penambahan tiang penyangga, alas dudukan pada bagian bawah, selanjutnya mengganti jaring. Tahap kedua yaitu uji kinerja dengan pengomposan yang dilakukan selama 60 hari. Sampah organik rumah tangga dan sekam padi sebagai bahan baku dengan perlakuan: A1 (1:0), A2 (1:1), A3 (1:2). Kontruksi rangka dinyatakan aman karena dapat menopang beban kompos seberat 32 kg dengan tegangan (?) tarik rangka yaitu 0,275 N/mm2 yang lebih kecil dari tegangan (?) ijin bahan yaitu 48,1 N/mm2. Hasil modifikasi yaitu, memperkokoh rangka dengan menambah tiang penyangga sebanyak 4 buah, mengganti jaring dengan ukuran 0,5 mm, menambah alas dudukan berukuran 10 cm dari permukaan tanah. Berdasarkan hasil kinerja keranjang biokomposter hasil modifikasi menunjukkan bahwa ke 6 keranjang memiliki kinerja yang sama, untuk komposisi kompos yang paling baik dihasilkan pada perbandingan A1 (sampah rumah tangga tanpa campuran), karena bahan baku sampah rumah tangga sudah memenuhi syarat C/N rasio dari awal hingga akhir pengomposan. Abstract Modification of a simple biocomposter basket was carried out because there were still shortcomings i.e. the support poles were not strong enough to support the net, the net used was not sturdy, the net hole was too large and there was no seat base. The purpose of this study was to modify the previously designed biocomposter basket, to test the performance of a simple household-scale biocomposter basket. The research was carried out in two stages, namely the stage of modifying the frame with the addition of support poles, the base of the seat at the bottom, then replacing the net. The second stage is a performance test with composting carried out for 60 days. Household organic waste and rice hull as raw materials were treated with: A1 (1: 0), A2 (1: 1), and 3 (1: 2). The frame construction is declared safe because it can support a compost load of 32 kg with tensile stress (?) of the frame, which is 0.275 N/mm2 which is smaller than the allowable stress (?) of the material, which is 48.1 N/mm2. The result of the modification is to strengthen the frame by adding 4 support poles, replacing the net with a size of 0.5 mm, and adding a seat base measuring 10 cm from the ground. Based on the results of the performance of the modified biocomposter basket, it shows that the 6 baskets have the same performance, for the best compost composition is produced at a ratio of A1 (household waste without mixture) because the raw materials for household waste have met the requirements of the C/N ratio from the beginning to the end of composting.
Pengaruh Pelapisan Emulsi Minyak Wijen dan Minyak Sereh terhadap Karakter Fisik dan Kimia Buah Cabai Merah Besar (Capsicum annum L.) selama Penyimpanan Nyoman Yoga Pradana; I Made Supartha Utama; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p20

Abstract

Abstrak Cabai merah besar merupakan salah satu sayuran hortikultura yang mudah rusak setelah dipanen. Kerusakan terjadi akibat proses pascapanen seperti kerusakan fisiologis, mekanis maupun mikrobiologis. Salah satu cara untuk mengurangi kerusakan dan memperpanjang masa simpan buah tersebut adalah menggunakan edible coating. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelapisan emulsi minyak wijen dan minyak sereh terhadap karakteristik fisik dan kimia buah cabai merah besar (Capsicum annum L.) serta untuk memperoleh kombinasi perlakuan minyak wijen dan minyak sereh yang dapat memperlambat kerusakan fisik dan kimia buah cabai merah besar selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah minyak wijen (W) terdiri dari 3 level konsentrasi, yaitu: 0%, 0,5% dan 1% serta faktor kedua adalah minyak sereh (S) yang terdiri dari 3 level konsentrasi: 0%, 0,5% dan 1% dengan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 27unit percobaan. Keragaman data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis keragaman dan apabila perlakuan berpengaruh terhadap parameter yang diamati maka dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh pemberian emulsi minyak wijen dan sereh berpengaruh terhadap nilai susut bobot, intensitas kerusakan, kadar vitamin C dan total padatan terlarut buah cabai merah besar selama penyimpanan. Perlakuan kombinasi minyak wijen dan minyak sereh dengan konsentrasi masing-masing 0,5% (W1S1) merupakan perlakuan yang menghasilkan nilai terbaik yaitu nilai susut bobot 50,7%, intensitas kerusakan sebesar 43,33%, kadar vitamin C sebesar 8,9 mg/100g dan total padatan terlarut 3,27 °Brix. Abstract Big red chili pepper is one of the horticultural vegetables susceptible to damage after harvesting. The damage occurs due to postharvest processes such as physiological, mechanical, and microbiological damage. One way to reduce the fruit damage and extend the shelf life of the fruit is to use an edible coating. This study aims to determine the effect of the emulsion coating on the physical and chemical characteristics of large red chili (Capsicum annum L.) and to obtain a combination of sesame oil and citronella oil treatment that could slow the physical and chemical damage of red chilies while in storage. This study used a factorial Complete Randomized Design (CRD) with two factors. The first factor is sesame oil (W) consisting of 3 concentration levels: 0%, 0.5% and 1%. The second factor is citronella oil (S) which consists of 3 concentration levels: 0%, 0.5%, and 1%, with three replications resulting in 27 experimental units. The uniformity of data was analyzed using uniformity analysis; and Duncan's test. The results showed that the effect of sesame and lemongrass oil emulsions affected fruit weight loss, damage intensity, vitamin C levels, and total soluble solids while in storage. The combination treatment of sesame and lemongrass oil with each concentration of 0.5% (W1S1) showed the best results, namely the weight loss value of 50.7%, damage intensity by 43.33%, vitamin C 8.9 mg /100g, and total dissolved solids 3.27 °Brix.
Pengaruh Intensitas Musik Jazz terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) dalam Ruangan Elsafania Kristiani; I Made Anom Sutrisna Wijaya; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p16

Abstract

Abstrak Sistem budidaya indoor (plant factory) merupakan pertanian dalam ruang tetutup yang berkembang karena banyak terjadinya konversi lahan pertanian. Getaran bunyi bisa merangsang stomata daun terbuka lebih lebar, stomata yang lebar akan menyerap air dan CO2 lebih banyak sehingga mampu memaksimalkan fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan berapa intensitas musik jazz yang baik untuk membantu pertumbuhan dan produksi tanaman pakcoy. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan menggunakan Musik jazz Dave Valentine & GRP (OASIS) pada frekuensi 86 – 21189 Hz. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, luas kanopi, jumlah helai daun, jumlah kandungan klorofil (SPAD value), berat segar panen, biomassa dan panjang akar. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan intensitas musik jazz berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah kandungan klorofil, berat segar panen, biomassa akar, dan panjang akar. Intensitas (75-80 dB) menunjukan hasil terbaik terhadap perumbuhan yaitu, jumlah kandungan klorofil (41,3 unit) dan pada produksi yaitu berat segar panen akar (1,1 g) dan biomassa tajuk dan akar (0,9 g dan 0,11 g). Selain itu perlakuan intensitas (95-100 dB) juga menunjukan hasil terbaik terhadap pertumbuhan yaitu tinggi (17,1 cm) dan luas kanopi (225,7 cm2) dan pada produksi yaitu berat segar tajuk (18,8 g) dan panjang akar (27,8 cm). Dapat disimpulkan bahwa intensitas musik jazz 75-80 dB dan 95 -100 dB mempunyai pengaruh nyata. Abstract The indoor cultivation (plant factory) is an indoor agriculture system that is developing due to the conversion of the farming field. sound vibrations can stimulate leaf stomata to open wider, wide stomata will absorb more water and CO2 to maximize photosynthesis. This research will focus on the influence of and find out the ideal intensity of jazz music in helping the growth and the production of bok choy. This research would use a completely randomized design through 5 groups of intensity used Dave Valentine & GRP (Oasis)’s song with a frequency of 86-21,189 Hz. The observed parameter included the plant’s height, canopy area, the number of leaves, SPAD Value, fresh weight, root length, and biomass. ANOVA results indicated that the intensity of jazz-influenced the height, chlorophyll amount, fresh weight, root length, and biomass. The 75-80 dB intensity showed the best result for the growth, in which the chlorophyll amount was 41,3 units and the fresh weight of harvesting root was 1,1g and the crown and root’s biomass was 0,9 g and 0,11 g respectively. Furthermore, the 95-100 dB also showed the best result for the growth with 17,1 cm of height and 225,7 cm2 of the canopy area and the fresh weight of the crown production was 18,8 g and the root length was 27,8 cm. It can be concluded that the intensity of 75-80 dB and 95-100 dB have shown a good result.
Pengaruh Diameter Pipa Inlet pada Pompa Hidram (Hydraulic Ram) terhadap Kemampuan Menaikan Air I Wayan Eko Candra Deva; I Putu Surya Wirawan; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p21

Abstract

Abstrak Indonesia memiliki beberapa sumber air yang berada di bawah pemukiman masyarakat, sehingga menyebabkan sulitnya pendistribusian air. Salah satu teknologi sederhana yang digunakan untuk menaikkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi adalah pompa hidram. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh diameter pipa inlet terhadap ketinggian tempat dan waktu untuk menaikan air. Metode penelitian menggunakan rancangan fungsional dan uji kinerja alat dengan tiga buah pipa inlet berukuran 2,54 cm, 3,175 cm dan 3,81 cm. ketinggian inlet masing-masing 80 cm, 110 cm dan 140 cm. Hasil penelitian menunjukkan diameter pipa inlet berpengaruh terhadap ketinggian tempat dan waktu untuk menaikan air. Pipa inlet terbaik berukuran 2,54 cm dapat menghasilkan debit air dengan ketinggian inlet 80 cm, 110 cm, dan 140 cm. Rasio perbandingan debit masuk dan keluar sebesar 5:1, sedangkan Rasio ketinggian maksimal pemompaan sebesar 1:5. Debit air yang dihasilkan di Subak Bunut adalah 0,00831 liter/detik dengan jarak tempuh 20 meter dan ketinggian maksimal 470 cm. Abstract Indonesia has several water sources under community settlements, making difficult water distribution. The simple technology used to raise water from a lower place to a higher one is a hydraulic ram pump. This study aims to obtain the inlet diameter pipe concerning the height of the place and the time to raise the water. The research method uses a functional design and tool performance test with three inlet pipes measuring 2.54 cm, 3.175 cm, and 3.81 cm. the inlet heights are 80 cm, 110 cm, and 140 cm, respectively. The results showed that inlet diameter affected the height of the place and the time to raise the water. The best inlet pipe measuring 2.54 cm can produce water discharge with inlet heights of 80 cm, 110 cm, and 140 cm. The ratio of the inlet and outlet discharge ratio is 5:1, while the maximum pumping height ratio is 1:5. The water discharge produced in Subak Bunut is 0.00831 liter/second with a distance of 20 meters and a maximum height of 470 cm.
Pengaruh Pemberian Konsentrasi Cuka Apel dan Ketebalan Kemasan Plastik Polypropylene Berperforasi terhadap Mutu Sawi Hijau (Brassica Juncea L.) selama Penyimpanan Suhu Dingin Rachmad Dwi Putra; I Wayan Widia; Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p19

Abstract

Abstrak Sawi hijau merupakan salah satu tanaman hortikultura yang mudah mengalami penurunan kualitas mutu yang diakibatkan berlangsungnya proses respirasi dan transpirasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian cuka apel dan ketebalan kemasan plastik PP berperforasi terhadap mutu sawi hijau selama penyimpanan suhu dingin untuk mendapatkan perlakuan terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor: konsentrasi cuka apel (3%, 6%, dan 9%) dan ketebalan kemasan plastik PP berperforasi (0,02 mm dan 0,04 mm). Lubang peforasi yang digunakan sebanyak 8 lubang berdiameter 5 mm serta ukuran plastik 20 x 45 cm. Pada penelitian ini sawi hijau disimpan selama 12 hari dengan suhu 6±2oC dan perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, total padatan terlarut, color difference, tekstur, dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian cuka apel, ketebalan kemasan plastik PP dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap mutu sawi hijau selama penyimpanan suhu dingin pada hari ke-12, namun pada interaksi keduanya pada parameter total padatan terlarut tidak berpengaruh signifikan pada hari ke-12. Perlakuan terbaik didapat dari perlakuan konsentrasi cuka apel 6% dan ketebalan kemasan plastik PP 0,04 mm dengan nilai susut bobot 5,20%, tekstur 3,76 N, total padatan terlarut 7,33 %Brix, color difference 40,05 ?E, dan uji organoleptik kesegaran mutu visual dengan skor 4,22. Abstract Caisim is one of the horticultural plants that easily experience quality degradation due to the ongoing process of respiration and transpiration. Purpose of this study is to determine the effect of apple cider vinegar and the thickness of perforated PP plastic packaging on the quality of caisim during cold storage to get the best treatment. This study used a completely randomized design with two factors: the concentration of apple cider vinegar (3%, 6%, and 9%) and the thickness of the perforated PP plastic packaging (0.02 mm and 0.04 mm). The perforation holes used were 8 holes with a diameter of 5 mm and a plastic size of 20 x 45 cm. In this study, caisim were stored for 12 days at a temperature of 6±2oC and the treatment was repeated 3 times. Parameters observed included weight loss, total dissolved solids, color difference, texture, and organoleptic. The results showed that the use of apple cider vinegar, thickness of PP plastic packaging, and their interaction had a significant effect on the quality of caisim during cold storage on the 12th day, but the interaction of both on the total dissolved solids parameter had no significant effect on the 12th day. The best treatment was obtained from the concentration of 6% apple cider vinegar and 0.04 mm thickness of PP plastic packaging with a weight loss value of 5.20%, texture 3.76 N, total dissolved solids 7.33 %Brix, color difference 40.05 ?E, and organoleptic test of visual quality freshness with a score of 4.22.
Pengaruh Konsentrasi dan Jenis Tepung terhadap Karakteristik Kimia Pasta Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) Yayang Sartika Nevianto Tanjung; I Wayan Widia; Mentari Kinasih
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p23

Abstract

Abstrak Semua jenis ikan pada dasarnya dapat diolah menjadi pasta ikan, akan tetapi belum tentu memiliki kualitas pasta yang terbaik. Penambahan bahan tambahan berupa tepung sangat diperlukan untuk meningkatkan tekstur, rendemen, daya ikat air, stabilitas saat disimpan beku, dan mengurangi berat susut akibat pemasakan pada pembuatan produk pasta ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi penambahan tepung terhadap kimia pasta ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 2 faktorial, dimana faktor I adalah jenis tepung yang terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu tepung terigu, maizena, tapioka, dan faktor II adalah konsentrasi tepung yang terdiri dari 4 taraf, yaitu 5%, 10%, 15%, dan 20%. Adapun parameter pengamatan terhadap sifat kimia pasta ikan mujair meliputi kadar air, derajat keasaman (pH), kadar protein, dan expressible moisture content (EMC). Data hasil pengamatan diolah menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan Kruskal-wallis, dan kemudian di uji lanjut Duncan bila terdapat pengaruh yang nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan jenis dan konsentrasi penambahan tepung berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan dengan kombinasi perlakuan yang terbaik adalah jenis tepung maizena dengan penambahan konsentrasi sebesar 10% dengan nilai kadar air 73,62%, kadar protein 16,82%; derajat keasaman (pH) sebesar 6,97; dan expressible moisture content (EMC) sebesar 27,70%. Abstract All types of fish can be processed into fish paste, but not necessarily the quality of pasta. The additional ingredients in the form of flour are needed to improve texture, yield, water holding capacity, stability when stored frozen, and reduce weight loss due to cooking in the manufacture of fish paste products. The aim of this study was to determine the effect of the type and concentration of flour addition on the chemistry of tilapia fish paste (Oreochromis mossambicus). This study used a 2-factorial completely-randomized design (CRD), where factor I was the type of flour consisting of 3 treatment levels, namely wheat flour, cornstarch, and tapioca, and factor II was flour concentration (5%, 10 %, 15%, and 20%). The parameters for observing the chemical properties of tilapia fish paste include water content, acidity (pH), protein content, and expressible moisture content (EMC). Observational data were processed using variance (ANOVA) and Kruskal-Wallis, and then Duncan further tested if there was a significant effect. The results showed that the interaction of treatment type and concentration of flour addition had a significant effect on all observation parameters. The best treatment combination is cornstarch with an additional concentration of 10% with a water content value of 73.62%, the protein content of 16.82%; a degree of acidity (pH) of 6.97; and expressible moisture content (EMC) of 27.70%.
Pengaruh Suhu Dan Waktu Pengeringan Terhadap Karakteristik Biji Kakao (Theobroma Cacao L.) Kering Dewa Ayu Tari; Pande Ketut Diah Kencana; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p24

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pengeringan terhadap karakteristik biji kakao kering serta mendapatkan kombinasi suhu dan waktu pengeringan terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor, yaitu suhu (50oC, 60oC dan70oC) dan waktu (15 dan 20 jam). Biji kakao dikumpulkan dan dilakukan proses fermentasi menggunakan kotak kayu albesia ukuran 26cm x 25cm x 23cm dengan ketebalan 2 mm selama 5 hari. Setelah fermentasi selesai, biji direndam dan dibersihkan menggunakan air mengalir. Pengeringan dimulai dengan memasukan biji ke dalam alat pengering dehydrator model ST-02. Hasil penelitian menunjukan suhu dan waktu pengeringan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap parameter kadar air, kadar kulit, uji belah setelah pengeringan, kadar lemak, uji organoleptik meliputi warna, rasa nibs, tekstur, aroma, dan penerimaan keseluruhan namun. Suhu dan waktu pengeringan tidak berpengaruh terhadap jumlah biji setiap 100 g. Kombinasi perlakuan terbaik perlakuan Suhu 60oC (S2) dan Waktu Pengeringan 20 jam (T2) dengan 7,56% kadar air, 10,75% kadar kulit, 3 % biji tidak terfermentasi, 7% biji setengah terfermentasi, 90% biji terfermentasi sempurna, 48,83% kadar lemak, 4,66 uji hedonik warna, 4,13 rasa keping, 4,13 tekstur, 4,33 aroma, dan 4,60 penerimaan keseluruhan. Abstract This research aims to determine the effect of temperature and drying time on the characteristics of dry cocoa beans and to obtain the best combination of temperature and drying time. This study used a completely randomized design (CRD) with two factors, there is temperature (50oC, 60oC, and 70oC) and time (15 and 20 hours). Cocoa beans were collected and fermented using an albesia wooden box measuring 26cm x 25cm x 23cm with a thickness of 2 mm until five days. After finished fermentation, the seeds are soaked and cleaned using running water. The drying stage begins by inserting the seeds into a dehydrator dryer model ST-02. The results showed that temperature and drying time had a significant effect (P<0.05) on the parameters (moisture content, skin content, split test after drying, fat content, and organoleptic tests color, taste of nibs, texture, aroma, and overall acceptance). Temperature and drying time did not affect the number of seeds per 100 g. The best treatment combination was 600C temperature (S2) and 20 hours of drying time (T2) with 7.56% moisture content, 10.75% skin content, 3% unfermented beans, 7% semi-fermented beans, 90% completely fermented beans, 48.83% fat content, 4.66 colors hedonic test, 4.13 chip taste, 4.13 texture, 4.33 aroma, and 4.60 total acceptance.
Rancang Bangun Sistem Kontrol Kelembaban Udara Greenhouse Menggunakan PWM (Pulse Width Modulation) Wily Goldramijaya; Ni Nyoman Sulastri; I Made Anom Sutrisna Wijaya; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p17

Abstract

Abstrak Sistem kontrol banyak diterapkan pada bidang pertanian seperti penggunaan mikrokontroler dalam mengontrol dan memantau kondisi kelembaban udara dalam greenhouse. Ketepatan pengkondisian kelembaban udara merupakan hal penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti microgreen. Kelembaban media tanam secara tidak langsung mempengaruhi kelembaban udara melalui penguapan, sehingga diperlukan sistem yang dapat mengontrol dan memantau kelembaban udara sekaligus kelembaban media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem kontrol kelembaban udara menggunakan PWM (Pulse Width Modulation) dalam greenhouse yang dilengkapi sistem monitoring dan pemberian irigasi otomatis. Rancang bangun sistem yang dihasilkan pada penelitian ini meliputi penggunaan Arduino UNO ATmega328P sebagai mikrokontroler yang terhubung dengan sensor DHT22 sebagai sensor kelembaban udara, capacitive soil moisture sensor sebagai sensor kelembaban media tanam, relay sebagai kontrol pompa misting dan irigasi, driver sebagai pengendali kipas DC dengan kontrol PWM, kipas DC sebagai pemberi aliran udara dan menurunkan kelembaban udara, dan LCD 16x2 sebagai sistem monitoring. Sistem menggunakan setting point kelembaban udara untuk microgreen yang dimasukan secara manual melalui coding. Sistem yang dirancang menghasilkan miniatur greenhouse bertipe lean-to yang dilengkapi oleh sensor DHT22 dengan nilai error kelembaban udara DHT22(1) 3,09% dan DHT22(2) 3,34%. Sistem berhasil membaca dan menampilkan data, dan memberikan output dengan response time sistem irigasi dan misting sebesar 78mS dan 145mS, dengan delay 2 detik. Kendali PWM kipas DC mampu menurunkan dan menjaga kelembaban udara tetap pada rentang optimal bagi pertumbuhan microgreen, dengan meningkatkan dan menurunkan nilai RPM kipas DC sesuai dengan nilai duty cycle nya. Abstract Control systems are widely applied in agriculture, such as using microcontrollers to control humidity in greenhouses. Lack of accuracy in conditioning the humidity in indoor farming affects plant growth and productivity, especially in microgreens. The humidity of the planting media indirectly affects the air humidity through evaporation. Therefore, a system is required to control and monitor air and planting media humidity. The purpose of this study was to design and build an air humidity control system using PWM (Pulse Width Modulation) in a greenhouse equipped with a monitoring and automatic irrigation system. The system control employed Arduino UNO ATmega328P as a microcontroller connected to the DHT22 sensor as an air humidity sensor, a capacitive soil moisture sensor as a humidity sensor for the planting media, relay to control misting and irrigation pump. The microcontroller was also connected to a driver as a DC fan control with PWM control, four DC fan as airflow suppliers and dehumidifiers, and LCD 16x2 as a monitoring system. The system used the air humidity setting points for microgreens which were entered manually through coding. The result of this research was a lean-to greenhouse prototype with a DHT22 sensor with air humidity error values of DHT22(1) 3.09% and DHT22(2) 3.34%. The system successfully read and displayed data and provided output with a response time of irrigation and misting systems of 78mS and 145mS, using a delay of 2 seconds. The PWM control of the DC fan was able to reduce and maintain the air humidity within the optimum range for microgreen growth by increasing as well as decreasing the DC fans’ RPM, which was based on its duty cycle value.

Page 2 of 3 | Total Record : 24