cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2023): September" : 25 Documents clear
Analisis Rasio Prestasi Manajemen (RPM) pada Distribusi Air Irigasi Subak Gede Kedewatan I Made Bayu Suweta; I Wayan Tika; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p29

Abstract

Abstrak Rasio Prestasi Manajemen (RPM) dijabarkan sebagai hasil bagi antara debit yang diberikan dengan debit yang dibutuhkan di setiap lahan pertanian. Sistem subak di Bali didasari konsep sosio-teknis-religius dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai RPM dan sebarannya serta mengetahui strategi distribusi air irigasi agar kinerja irigasi menjadi “cukup” hingga “baik” di Subak Gede Kedewatan Wilayah Kabupaten Gianyar. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan analisis kuantitatif melalui survey dan pengukuran langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan persentase sebaran RPM kriteria “baik” sebanyak 5 subak (18,52%), “cukup” 4 subak (14,81%), “kurang” 9 subak (33,33%), dan “sangat kurang” 9 subak (33,33%). Nilai RPM subak di daerah hulu seluruhnya berada pada kriteria “sangat kurang” dengan nilai RPM 1, 85. Subak di daerah tengah seliruhnya berada dikriteria “kurang” dengan nilai RPM 1,45. Di hilir, subak yang berada di daerah ini memiliki kriteria yang “cukup” dan “baik” dengan sebaran nilai RPM 0,64 – 1,05. Subak yang mendapatkan air berlebih, kemudian sisa air irigasinya disalurkan menuju ke pangkung, yang akan menjadi sumber air utama untuk subak-subak natak tiyis (sadap tiris). Abstract The Management Performance Ratio (MPR) is a comparison between the water flowrate given and the water flowrate requirement for each agricultural land. The subak system in Bali is based on socio-technical-religious and economic concepts. This study aims to calculate the MPR value and its distribution as well as find out the irrigation water distribution strategy so that irrigation performance becomes "adequate" to "good" in Subak Gede Kedewatan, Gianyar Regency. This research was carried out using a quantitative analysis approach through surveys and direct measurements in the field. The result showed that percentage distribution of MPR criteria for "good" was 5 subaks (18.52%), "adequate" 4 subaks (14.81%), "poor" 9 subaks (33.33%), and "very poor" 9 subaks (33 ,33%). The MPR value of subak in the upstream area is entirely in the "very poor" criterion with an MPR value of 1.85. Followed by subak in the central region, all of them are in the "low" criterion with an MPR value of 1.45. In contrast to the downstream, the subaks in this area have the criteria of "adequate" and "good" with a distribution of RPM values ??of 0.64 - 1.05. Subaks that get excess water, then the rest of the irrigation water is channeled to the pangkung, which will be the main water source for subak natak tiyis (tapping taps).
Efisiensi Penggunaan Air Irigasi pada Saluran Sekunder di Daerah Irigasi Tungkub Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Made Darmayasa
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p23

Abstract

Abstrak Distribusi air irigasi yang baik akan menghasilkan produksi yang baik dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Efisiensi sebagai faktor yang sangat penting dalam skema irigasi karena menentukan kinerja jaringan irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan efisiensi penggunaan air irigasi di DI Tungkub pada saluran sekunder. Penelitian ini mengambil data debit langsung di 11 titik di saluran sekunder. Data iklim diperolah dari NASA POWER dan BMKG Wilayah III Denpasar. Data curah hujan dari 3 stasiun hujan (tibubeneng, kapal, dan mengwi gede). Luas areal sawah yang diamati adalah seluas 416 Ha (Hulu), 349 Ha (Tengah), dan 164 Ha (Hilir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zona A memiliki tingkat efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 68% terjadi di Mei I dan terendah 14,1% di Maret I. Zona B memiliki efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 100% (terjadi di periode April I, April II, Juni II, dan Juli I) dan terendah 0% pada periode Mei I dan Mei II. Zona C memiliki efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 100% terjadi pada Juni I dan Juni II, sedangkan efisiensi penggunaan yang terendah terjadi di Maret I sebesar 35%. Abstract Good distribution of irrigation water will produce abundant harvests. It will improve the welfare of farmers. The efficiency of water utilization is important in irrigation schemes because it determines the performance of the irrigation network. This research aims to obtain the efficiency of irrigation water in DI Tungkub in secondary channels. This research took direct debit data at 11 points in the secondary channel. Climate data was obtained from NASA POWER and BMKG Region III Denpasar. Rainfall data was obtained from 3 rain stations (Tibubeneng, Kapal, and Mengwi Gede). The area of ??rice fields observed was 416 Ha (Upstream), 349 Ha (Central), and 164 Ha (Downstream). The research results show that Zone A has the highest usage efficiency level of 68% which occurred in May I and the lowest 14.1% in March I. Zone B has the highest usage efficiency of 100% (occurring in the periods April I, April II, June II, and July I), and the lowest was 0% in the May I and May II periods. Zone C had the highest usage efficiency of 100% which occurred in June I and June II, while the lowest usage efficiency occurred in March I at 35%.
Analisis Efisiensi Flash Dryer Mesin Tipe Rak Pada Proses Pengeringan Daun Ungu (Graptophylum pictum Griff) Nurwahyuningsih Nurwahyuningsih; Putu Tessa Fadhila; Ade Galuh Rakhmadevi; Siti Djamila
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p25

Abstract

Abstrak Daun ungu (Graptophyllum pictum L griff) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Masyarakat pada umumnya menggunakan tanaman daun ungu sebegai tanaman herbal. Bagian dari tanaman daun ungu yang sering digunakan adalah daunnya. Berbagai macam olahan produk daun ungu sudah dikembangkan, salah satunya sebagai minuman herbal daun ungu yang dapat diseduh seperti teh. Dalam pembuatan produk tersebut diperlukan proses pengeringan duan ungu, yaitu proses penurunan kadar air bahan basah hingga pada nilai kadar air tertentu. Penggunaan mesin pengering mampu mempercepat proses pengeringan, tidak tergantung pada cuaca, terjaminnya mutu, produk lebih higienis, hasil proses pengeringan lebih seragam, dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Pada penelitian kali ini digunakan flash dryer tipe rak dengan berbahan bakar gas LPG dan menambahkan kipas untuk memperoleh efek konveksi paksa, dimana udara panas dialirkan oleh kipas secara merata di dalam ruang pengering. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh sebaran suhu pada ruang pengering, menghitung efisiensi mesin pengering, dan mengetahui nilai kadar air akhir bahan dari proses pengeringan. Kesimpulan penelitian ini menunjukka bahwa mesin pengering flash dryer sangat efisien dalam proses pengeringan daun ungu nilai kadar air terendah terdapat pada rak 2 (bagian tengah) rata-rata sebesar 7.47% dengan besar energi yang digunakan sebesar 38,246.55 kJ. Serta efisiensi mesin pengering mencapai 90.62%. Persebaran suhu yang terjadi dalam ruang pengering selama 4 jam proses penngeringan cukup merata dan memiliki rata-rata suhu 50oC. Abstract Purple leaves (Graptophyllum pictum L griff) is a plant that has many benefits. People generally use purple leaves plants as herbal plants. The part of this plant that is often used is the leaves. Various kinds of processed purple leaf products have been developed, one of which is a purple leaf herbal drink that can be brewed like tea. In the manufacture of these products, a purple leaves drying process is required, namely the process of reducing the moisture content of the wet material to a certain moisture content value. The use of a dryer is able to speed up the drying process, not dependent to the weather, quality guarantee, more hygienic product, homogenic result, and it does not require a large area. In this study, a rack-type flash dryer was used with LPG fuel and added a fan to obtain a forced convection effect, in which hot air is circulated evenly by the fan in the drying chamber. The purpose of this study is to determine the effect of temperature distribution in the drying chamber, calculate the efficiency of the drying machine, and determine the final moisture content of the material from the drying process. The conclusion of this study shows that the flash dryer is very efficient in the process of drying purple leaves, the lowest water content is found on shelf 2 (middle part) with an average of 7.47% with a large amount of energy used of 38,246.55 kJ. And the efficiency of the dryer reaches 90.62%. The temperature distribution that occurs in the drying chamber for 4 hours of the drying process is quite even and has an average temperature of 50oC.
Aplikasi Plasma Dingin pada Produk Segar Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843//JBETA.2023.v11.i02.p19

Abstract

Plasma non-termal adalah gas terionisasi yang terdiri dari molekul netral, atom tereksitasi, dan molekul bermuatan. Beberapa molekul sangat reaktif sehingga bereaksi dengan cepat terhadap bahan organik atau non-organik. Karena sifatnya, plasma baru-baru ini diterapkan untuk mendekontaminasi produk pertanian dari berbagai kontaminan. Dalam produk segar seperti buah dan sayuran, plasma non-termal digunakan untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme lain yang menempel pada permukaan produk, atau untuk mendegradasi residu pestisida yang melapisi produk. Kontaminan ini mempengaruhi kualitas produk dengan cara tertentu sehingga dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh produsen, penangan, dan penjual. Beberapa mekanisme yang menjelaskan bagaimana plasma non-termal mengurangi tingkat kontaminan telah diusulkan oleh para peneliti. Intinya adalah spesies reaktif merusak dinding sel mikroorganisme sehingga tidak dapat hidup atau rusak, dan mereka juga dapat bereaksi terhadap senyawa pestisida dan mendegradasinya menjadi senyawa yang tidak terlalu berbahaya. Namun, spesies reaktif yang sama tidak hanya bereaksi terhadap materi target tetapi juga bereaksi terhadap jaringan produk di sekitar plasma yang diaplikasikan dan mempengaruhi kualitas produk yang diolah. Makalah ini mengulas pengaruh plasma non-termal terhadap kualitas produk segar dari sudut pandang fisik, fisiologis, kimia, dan mikrobiologis. Non-thermal plasma is ionized gas which comprised of neutral molecules, excited atom, and charged molecules. Some of the molecules are so very reactive that react rapidly to almost organic or non-organic matter. Due to its properties, plasma is recently applied to decontaminate agricultural products from various contaminants. In the case of fresh produce such fruit and vegetable, non-thermal plasma is used to kill bacteria and other microorganisms attached to a product’s surface, or to degrade the pesticide residues coating the product. These contaminants affect product quality in a certain way thus, they could reduce the profit gain by producers, handlers, and sellers. Some mechanisms explained how non-thermal plasma reduce the level of contaminant have been proposed by researchers. The point are the reactive species damage the cell wall of microorganisms making them non-viable or damaged, and they could react to pesticide compounds as well and degrade them to less harmful compounds. However, the same reactive species not only react to target-matter but also react to product tissues around the plasma applied and affect the quality of the treated product. This paper reviews the effect of non-thermal plasma on fresh product quality from physical, physiological, chemical, and microbiological viewpoints.
Analisis Kinerja Distribusi Air Irigasi pada Temuku di Subak I Wayan Tika; Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p27

Abstract

Abstrak Gangguan distribusi air juga kadang-kadang disebabkan oleh adanya sampah dan faktor pemias (penyusutan debit) serta mengabaikan aliran numbak (aliran lurus) dan ngerirun (aliran berbelok). Dengan pemahaman seperti itu maka petani (krama subak) yang lahannya terletak di hilir cendrung mendapatkan kuota air yang kurang dari seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja manajemen distribusi air irigasi sesuai nilai dan kriteria RPM pada subak tradisional dan subak semi teknis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitaif yang menjelaskan peristiwa berdasarkan nilai RPM dari 30 bangunan bagi (temuku) pada subak di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan 30% memiliki kinerja distribusi air irigasi yang sangat kurang, 30% dengan kriteria kinerja kurang, 13% dengan kriteria kinerja cukup, dan 27% dengan kriteria kinerja baik. Dari hasil tersebut juga dapat diperoleh dimensi baru dari bangunan bagi pada subak dengan pendekatan formula proporsional yang melibatkan variabel luasan subak yang diberikan air irigasi, luasan subak di hilir, serta koefisien gangguan aliran air sekitar 1,05 sampai 1,1. Abstract Disturbances in water distribution are also sometimes caused by the presence of rubbish and biasing factors (decreased discharge) also ignoring the flow of numbak (straight flow) and ngerirun (curved flow). With this understanding, farmers (krama subak) whose land is located downstream tend to get less water quota than they should. This research aims to determine the performance of irrigation water distribution management according to RPM values ??and criteria in traditional subak and semi-technical Subak. This research uses a descriptive-quantitative method that explains events based on the RPM values ??of 30 buildings for (temuku) in Subak in Gianyar Regency. The research results showed that 30% had very poor irrigation water distribution performance, 30% had poor performance criteria, 13% had sufficient performance criteria, and 27% had good performance criteria. From these results, it is also possible to obtain a new dimension of the subak building using a proportional formula approach involving variables of the area of ??the subak provided with irrigation water, the area of ??the subak downstream, as well as a water flow disturbance coefficient of around 1.05 to 1.1.

Page 3 of 3 | Total Record : 25