cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2020): September" : 24 Documents clear
Pengaruh Waktu Pelayuan dan Suhu Pengeringan terhadap Karakteristik Teh Daun Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata BUSE-KURZ) I Nyoman Cakra Lagawa; Pande Ketut Diah Kencana; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.216 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p05

Abstract

Teh merupakan minuman herbal yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Pengolahan daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata BUSE-KURZ) menjadi teh merupakan upaya untuk memanfaatkan senyawa yang ada di dalamnya yang mampu memberikan karakter tersendiri untuk hasil produk teh nantinya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan hasil dan karakteristik teh daun bambu tabah dari perlakuan waktu pelayuan dan suhu pengeringan yang berbeda. Penelitian ini telah dilaksanaka pada mulai bulan Mei 2019 sampai dengan bulan Juli 2019 di Laboratorium Pasca Panen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, Laboratorium Biokimia dan Nutrisi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana dan Laboratorium Analisis Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yang digunakan dalam rancangan penelitian ini adalah waktu pelayuan dan faktor kedua yaitu suhu pengeringan. Faktor pertama terdiri dari tiga taraf yaitu (P1) : pelayuan 8 jam, (P2) : pelayuan 10 jam, dan (P3) : pelayuan 12 jam. Faktor kedua terdiri dari tiga taraf yaitu (T1): suhu 50 °C, (T2): suhu 60 °C, dan (T3): suhu 70 °C. Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air, pH, total asam, total fenol, total flavonoid dan uji organoleptik terdiri dari warna air seduhan,aroma, dan rasa pada daun teh yang diseduh. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan fenol tertinggi terdapat pada perlakuan waktu pelayuan 12 jam dengan suhu pengeringan 70 oC yaitu 114,5664 mg/100g. Untuk total flavonoid yang terbaik pada perlakuan waktu pelayuan 12 jam dengan suhu pengeringan 70 oC yaitu 27.1697 mg/100g. Tea is herbal drink that is consumed by many people. The processing of tabah bamboo leaves (Gigantochloa nigrociliata BUSE-KURZ) into tea is an effort to utilize the compounds in it that are able to give a distinctive character to the results of tea products later. This research was conducted with the aim of determining the yield and characteristics of tabah bamboo leaf tea from different treatment time withering and drying temperatures. This research has been carried out from May 2019 to July 2019 in the Post Harvest Laboratory of the Faculty of Agricultural Technology, Udayana University, Biochemical and Nutrition Laboratory, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University and the Food Analysis Laboratory, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University. This study uses a Completely Randomized Design (RAL) consisting of two factors, the first factor used in the design of this study is the duration of withering and the second factor is the drying temperature. The first factor consists of three levels, namely (P1): 8 hour withering, (P2): 10 hour withering, and (P3): 12 hour withering. The second factor consists of three levels, namely (T1): temperature 50 ° C, (T2): temperature 60 ° C, and (T3): temperature 70 ° C. The parameters observed in the study consisted of chemical analysis including water content, pH, total acid, total phenol, total flavonoids and organoleptic tests consisting of the color of the brewing water, aroma, and taste in the brewed tea leaves. The results showed that the best phenol content was found in the treatment of 12 hours withering time with a drying temperature of 70 oC, 114.5664 mg / 100g. For the best total flavonoids in the treatment time withering time of 12 hours with a drying temperature of 70 oC is 27.1697 mg / 100g.
Rancang Bangun Alat Pemanen Buah Salak Sederhana Dewa Bagus Putu Prabha Diptaya; Ida Bagus Putu Gunadnya; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.356 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p16

Abstract

ABSTRAK Salak (Salacca edulis, Reinw) yang buahnya dikenal sebagai snake fruit adalah sejenis tanaman palem yang tumbuh di dataran tinggi. Pohon buah ular memiliki batang dengan banyak duri dan memiliki batang yang panjang dan berduri. Tandan buahnya dekat dengan pohon, jadi tidak mudah untuk memanen dan mendapatkan tandan buah yang utuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang pemanen sederhana dan dioperasikan secara manual sehingga dapat mempercepat waktu panen operator. Alat ini memiliki pisau pemotong berbentuk sabit dan jaring untuk menangkap di bawahnya. Pegangan pemotong dan pegangan terbuat dari bahan pipa aluminium. Alat ini secara fungsional memotong satu tandan buah ular dan tandan terasa tepat di jaring sehingga kerusakan tandan buah dapat diminimalkan dan mempersingkat waktu panen. Pemanen diuji oleh 5 operator yang masing-masing memanen 10 pohon. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif dan hasilnya menunjukkan bahwa alat panen yang dirancang bekerja dengan baik dengan efektivitas tandan buah utuh yang dipanen adalah 84,0% dan dengan waktu panen rata-rata 8,31 menit. ABSTRACT Salak (Salacca edulis, Reinw) known as snake fruit . This fruit is a species of palm trees that grows in the highlands. The tree has thorny trunks and long stalks. Its fruit bunches are closed to the tree, so it is not easy to harvest and to get intact fruit bunches. The purpose of this research was to design a simple and manually operated harvester so that it can speed up the harvesting time. This tool had a sickle-shaped cutting knife and a net underneath to catch the fruit. The handle of the cutter and handrail sticks were made of aluminum pipe. This tool cut a snake fruit bunch and the bunch would fall exactly in the net so that the damage of the fruit bunch could be minimized and shortened the harvesting time. Harvester was tested by 5 operators that harvesting 10 trees each. Collected data was analyzed by using descriptive method and the results showed that the designed harvesting tool worked well with the effectiveness of intact harvested fruit bunch was about 84,0% and with average harvesting time of 8,31 minutes.
Pengaruh Variasi Suhu dan Ketebalan Irisan Kunyit Pada Proses Pengeringan Terhadap Sifat Fisik Tepung Kunyit Ni Putu Intan Oktavia Fitriani; Ni Luh Yulianti; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.418 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p10

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) untuk mengetahui pengaruh variasi suhu dan ketebalan irisan kunyit terhadap kualitas tepung kunyit yang dihasilkan dan (2) untuk mengetahui perlakuan terbaik yang menghasilkan tepung kunyit dengan kualitas yang baik. Penelitian ini menggunakan uji bnt (beda nyata terkecil) masing-masing terdiri dari enam perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan menggunakan suhu pengeringan 50oC dan ketebalan 0,5cm, perlakuan menggunakan suhu pengeringan 50oC dan ketebalan 1cm, perlakuan menggunakan suhu pengeringan 50oC dan ketebalan 1,5cm, perlakuan menggunakan suhu pengeringan 60oC dan ketebalan 0,5cm, perlakuan menggunakan suhu pengeringan 60oC dan ketebalan 1cm, perlakuan menggunakan suhu pengeringan 60oC dan ketebalan 1,5cm. Data pengaruh suhu dan ketebalan irisan kunyit yang diperoleh diolah menggunakan program komputer Microsoft Excel dan dilanjutkan menggunakan Analisis of Variance (ANOVA). Parameter yang diamati yaitu kadar air, sudut curah, indeks keseragaman, rendemen butiran, kerapatan curah, warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perlakuan ketebalan irisan kunyit 0,5 cm menghasilkan kadar air 11,5% dan suhu pengeringan 60oC menghasilkan kadar air sebesar 10,5%Bb. Nilai sudut curah terkecil dihasilkan pada ketebalan irisan kunyit 0,5 cm yaitu sebesar 36,2o dan suhu pengeringan 60oC menghasilkan sudut curah sebesar 36,2o. Nilai kerapatan curah pada perlakuan ketebalan 1 cm dan suhu pengeringan 60oC yaitu sebesar 484kg/m3. Rendemen butiran tertinggi dihasilkan pada perlakuan ketebalan irisan kunyit 1 cm dan suhu pengeringan 60oC (T2S2) yaitu sebesar 25,3%. The purposes of this research were (1) to determine the effect of variations in temperature and thickness of turmeric slices on the quality of turmeric flour produced and to determine the best treatment that produces turmeric flour with good quality. This study uses the bnt test (the smallest significant difference) each consisting of six treatments and three replications, namely treatment using a drying temperature of 50oC and a thickness of 0,5cm, drying temperature of 50oC and thickness of 1cm, drying temperature of 50oC and a thickness of 1,5cm, treatment using a drying temperature of 60oC and a thickness of 0,5cm, treatment using a drying temperature of 60oC and a thickness of 1cm, treatment using a drying temperature of 60oC and a thickness of 1,5cm. Data on the influence of temperature and thickness of turmeric slices obtained were processed using a Microsoft Excel computer program and continued using Analysis of Variance (ANOVA). The parameters observed were water content, bulk angle, uniformity index, grain yield, bulk density, color. The results showed that the treatment of turmeric sliced ??thickness of 1 cm produced a water content of 12,5%Wb and a drying temperature of 60oC produced a moisture content of 10.5%Wb. The smallest bulk angle value produced at the thickness of turmeric slices 0,5 cm is equal to 36.2o and the drying temperature of 60oC produces a bulk angle of 36.2o. The value of bulk density in the treatment of 1 cm thickness and 60oC drying temperature is 484 kg/m3. The highest yield of flour was produced in the treatment of 1 cm turmeric slice thickness and a drying temperature of 60oC , which was 25.3%.
Efek Daya Lampu Sinar UV C dan Lama Penyinaran Terhadap Perubahan pH dan Total Padatan Terlarut Nira Aren Selama Penyimpanan Hary Kurniawan; Sukmawaty Sukmawaty; Murad Murad; Ansar Ansar; Rahmat Sabani; Kurniawan Yuniarto
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p20

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daya lampu sinar ultraviolet (UV C) dan lama penyinaran terhadap perubahan pH dan total padatan terlarut pada nira aren selama penyimpanan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu perlakuan daya lampu UV C dan lama penyinaran. Parameter yang diukur yaitu pH dan brix dan pengukuran diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diberi perlakuan sinar UV C memiliki laju perubahan pH yang lebih rendah dibandingkan kontrol. Semakin tinggi daya lampu UV C yang digunakan mampu memperlambat laju perubahan pH nira aren. Faktor kekeruhan, buih, kandungan asam organik maupun zat yang tersuspensi pada nira aren diketahui menjadi faktor lama penyinaran tidak berjalan efektif dikarenakan transmisi sinar UV yang rendah. Efek daya lampu UV C dan lama penyinaran diketahui mampu menjaga kestabilan kandungan total padatan terlarut pada nira aren.

Page 3 of 3 | Total Record : 24