cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
BERITA BIOLOGI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 5 (2001)" : 27 Documents clear
PEMBAHASAN Saragih, Bungaran
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.955 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1473

Abstract

Menurut pendapat saya seharusnya NTT bisa lebih makmur daripada yang ada sekarang ini, tetapi sangat sayang sekali rupanya sumber daya alam yang sangat penting di sana itu tidak digunakan secara baik atau tidak dikelola secara baik. Oleh karena itu tidak bisa menyumbang untuk Pembangunan Daerah padahal altematif yang lain barangkali sangat sulit untuk ditawarkan. Kalau saya dengar tadi penjelasan, masalah yang pokok dari tanaman Cendana ini adalah bukan pada masalah teknis biologis; masalahnya adalah policy, kebijakan. Pemerintah Daerah melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Pemerintahan Kolonialdan tidak memperbaikinya. Apa yang dibuat Pemerintahan Kolonial sudah bagus; bagus untuk mereka, bagus untuk kepentingan negara yang menjajah. Tetapi setelah kita merdeka konteks tidak kita pelajari, kita lakukan hal yang sama dan akibatnya seperti sekarang. Kalau tadi Bapak Kepala Dinas Kehutanan Propinsi mengatakan "semuanya tidak ada lagi biaya dinas", saya melihat dengan begitu cemasnya, jangan-jangan Cendana sudah akan punah. Seharusnya NTT bisa memiliki monopoli internasional terhadap cendana, tetapi itu tidak dimungkinkan lagi dan orang (negara) lain sudah mulai mencari alternatif, menanam. Cendana India yang asalnya dari Timor sekarang sudah lebih terkenal dari Cendana Timor sendiri, seperti yang dikatakan Bapak Hartono (Pembicara, Pengusaha dari PT Tropical Oil, Red.). Intinya adalah bahwa komoditi itu terlalu diregulasi oleh Pemerintah; dan tidak hanya diregulasi tapi dimonopoli, dan merampas hak rakyat untuk melakukan bisnis ini.
KAJIAN BOTANI, EKOLOGI DAN PENYEBARAN POHON CENDANA (Santalum album L.) Riswan, Soedarsono
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.831 KB) | DOI: 10.14203/bb.v5i5.1464

Abstract

Cendana (Santalum album L.) yang merupakan flora maskot Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pohon yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis pohon ini tumbuh secara alami di propinsi ini dan terutama berasal dari Pulau Timor dan P. Sumba. S. album merupakan salah satu jenis dari marga Santalum dan termasuk dalam suku Santalaceae. Sejarah mencatat bahwa Cina merupakan negara utama yang membeli kayu cendana ini. Perdagangan kayu cendana dari P. Timor dan P. Sumba ini telah berjalan sejak abad ke-3.Dalam tulisan ini akan dibahas asal dan penyebaran, botani, ekologi dan sejarah perdagangan pohon cendana.
PENGELOLAAN DAN PEMBUDIDAYAAN CENDANA Tapatab, Cornells
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.115 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1455

Abstract

Masa lalu cendana dihiasi dengan perannya dalam kisah raja-raja, perekonomian antarbangsa, panggung religi maupun PAD Propinsi.Namun peran ini hampir punah oleh berbagai kebijakan yang kurang tepat,yang tidak jarang dilakukan oleh pemerintah sendiri. Pemikiran dan saran untuk mengembalikan cendana berperan kembali seperti di zaman keemasannya dikemukakan.
MENYELAMATKAN CENDANA DENGAN PARADIGMA ATUR-DIRI-SENDIRI Soemarwoto, Otto
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.301 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1446

Abstract

-
POTENSI CENDANA SEBAGAI AND ALAN OTONOMI DI NUSA TENGGARA TIMUR Boroh, Palulun
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.234 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1469

Abstract

Cendana merupakan tanaman yang mempunyai daya tarik tersendiri karena baunya harum dan banyak kegunaannya, bahkan sudah menjadi komoditi perdagangan sejak jaman dahulu. Kondisi iklim NTT yang kering dan tanah berkapur (pH 5-8) merupakan habitat yang optimum untuk menghasilkan kayu berkualitas dengan kandungan santalol yang tinggi. Penanaman cendana di daerah lain misalnya 1 Gunung Kidul terbukti tidak dapat menghasilkan kayu yang wangi seperti daerah aslinya (NTT). Secara alami habitat cendana tersebar di 7 kabupaten yaitu Kupang, TTS, TTU, Belu, Sumba Barat, Sumba Timur dan Solor; oleh karena itu pengembangan cendana menjadi satu kelas sebaiknya diprioritaskan di 7 kabupaten tersebut. Pengembangan cendana di NTT mengalami banyak kendala yang disebabkan terutama oleh faktor non-teknis antara lain peraturan daerah, sistem dan mekanisme pengelolaan, pemasaran dan pengelolaan hasil yang tidak terkoordinasi dan dominasi Pemerintah. Perizinan perdagangan global mengakibatkan maraknya penebangan secara sembarangan sampai pohon-pohon yang belum berteraspun ditebang habis. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa populasi cendana menurun sangat drastis, bahkan dewasa ini sumber benih sudah mulai langka dan sangat sulit dijumpai. Kegiatan yang mendesak adalah penunjukan pohon induk sebagai kebun benih, terutama varietas berdaun kecil yang sangat berkualitas. Untuk pengelolaan dengan asas lestari dan hasil yang maksimum perlu perencanaan dalam satu Kelas Perusahaan Cendana di dalam kawasan hutan dan Hutan Rakyat untuk pengembangan di lahan milik ulayat. Dengan jumlah penduduk NTT sekitar 3,5 juta, jika tiap jiwa menanam 2 pohon maka diperkirakan setelah 50 tahun akan diperoleh hasil panen sekitar Rp. 7,5 trilyun. Analisa potensi cendana dapat diperhitungkan sebagai berikut: dengan daur 50 tahun dan areal Kelas Perusahaan Cendana 3000 ha maka setiap KK dapat menikmati hasil Rp. 4.500.000/ tahun. Potensi cendana yang sangat prospektif sebagai sumber pendapatan daerah dan petani dapat terwujud jika dikelola dengan baik, jujur dan profesional serta ada kerja sama dari semua pihak. Pengembangan cendana selain sangat menjanjikan dari segi ekonomi juga lebih ramah lingkungan dan NTT adalah satu-satunya kawasan yang merupakan habitat cendana secara alami.
POTENSI SUMBER DAYA HAYATI SEBAGAI PENUNJANG PEMBANGUNAN DAERAH YANG BERKELANJUTAN Sugandhy, Aca
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.491 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1451

Abstract

Konsep perabangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia selatna ini belum diimplementasikan sebagaimana mestinya.Pembangunan yang dijalankan selama ini masih menitikberatkan pada aspek ekonomi dan meninggalkan aspek konservasi jauh di belakang. Akibatnya adalah menurunnya kualitas lingkungan hidup yang terjadi di mana-mana, termasuk degradasi lahan, penurunan fiingsi dan produktivitas lahan serta meningkatnya berbagai bentuk bencana alam. Untuk itu kebutuhan manusia dan kegiatannya haras diselaraskan dengan pemeliharaan keanekaragaman hayati. Pendekatan keterpaduan ini dijabarkan dalam pengelolaan bioregional yang mewadahi dan menitikberatkan konservasi keanekaragaman hayati dan peran serta masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam.
Tanggapan atas Makalah Frans Seda dan Aca Sugandhy Redaksi, Redaksi
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.89 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1474

Abstract

-

Page 3 of 3 | Total Record : 27


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 3 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 2 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 1 (2022) Vol 21, No 3 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 2 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 1 (2021) Vol 19, No 3B (2020) Vol 19, No 3A (2020) Vol 19, No 2 (2020) Vol 19, No 1 (2020) Vol 18, No 3 (2019) Vol 18, No 2 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 1 (1997) Vol 3, No 9 (1989) Vol 3, No 8 (1988) Vol 3, No 7 (1987): (Supplement) Vol 3, No 7 (1987) Vol 3, No 6 (1986) Vol 3, No 5 (1986) Vol 3, No 4 (1986) Vol 3, No 3 (1985) Vol 3, No 2 (1985) Vol 3, No 1 (1985) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 8 (1984): (Supplement) Vol 2, No 8 (1984) Vol 2, No 7 (1983) Vol 2, No 6 (1981) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 4 (1979) Vol 2, No 3 (1979) Vol 2, No 2 (1977) Vol 2, No 1 (1977) Vol 1, No 4 (1974) Vol 1, No 3 (1971) Vol 1, No 2 (1968) Vol 1, No 1 (1968) More Issue