cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015" : 16 Documents clear
KOMUNITAS BURUNG BAWAH TAJUK DI HUTAN PERBATASAN, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Irham, Muhammad
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian komunitas burung bawah tajuk telah dilakukan di hutan perbatasan Indonesia-Malaysia, yaitu Tau Lumbis (Kabungolor dan Kabalob) dan Simenggaris. Satu lokasi lainnya tidak berada di perbatasan, yaitu Hutan Wisata KM.8 Malinau. Tujuannya adalah untuk mengetahui komunitas burung dari segi kekayaan jenis dan kelompok relung mencari makan (feeeding guild). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jaring kabut. Penelitian ini mendapatkan 44 spesies dari 13 famili dengan jumlah individu sebanyak 186 ekor. Keanekaragaman tertinggi dijumpai di Kabungolor (28 jenis, indeks Shannon-Wiener: 3,10) dan daerah yang paling sedikit jenis ada di Hutan Wisata KM.8 Malinau (11 jenis, indeks Shannon-Wiener: 2,16). Sedangkan untuk komunitas feeding guilds, Kabalob didominasi oleh insectivore frugivore dan flycatching insectivore; Kabungolor memiliki lebih banyak spesies untuk kelompok insectivore frugivore dan shrub-foliage gleaning insectivore; komposisi guilds untuk Simenggaris hampir sama namun cenderung pada flycatching insectivore, insectivore frugivore dan shrub-foliage gleaning insectivore. Komunitas burung di KM.8 Malinau cenderung melimpah untuk insectivore frugivore dan nectarivore. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman burung bawah tajuk cenderung menurun sejalan dengan tingkat kerusakan habitat. Selain itu perubahan kondisi mikrohabitat memberikan pengaruh kepada komposisi burung dimana feeding guilds cenderung berubah dari kelompok insectivore ke kelompok frugivore dan nectarivore.
KEANEKARAGAMAN TUNGAU FAMILI MACROCHELIDAE (ACARI: GAMASIDA) PADA BEBERAPA TIPE PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG, SUMATERA Hartini, Sri
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.15 KB)

Abstract

Empat belas spesies tungau dari famili Macrochelidae yang terdiri dari empat genus (Glyptholaspis, Holostaspella, Macrocheles, dan Neopodocinum) dikoleksi di Pesawaran, Lampung, Sumatera. Koleksi tungau Macrochelidae dilakukan dengan menggunakan “human dung trap”, dimana kumbang perombak kotoran yang berasosiasi dengan tungau terperangkap pada trap dikoleksi dan dipreservasi dengan 70 % alkohol. Sembilan spesies tungau Macrochelidae merupakan catatan baru untuk Sumatera, yaitu Macrocheles entetiensis, M. jabarensis, M. kalimantanensis, M. nidus, M. persimilis, M. sukabumiensis, Holostaspella bifoliata, Glyptholaspis asperrima, dan Neopodocinum sp. 1. Kumbang kotoran yang berasosiasi dengan tungau Macrochelidae tercatat tiga genus yaitu: Catharsius, Onthophagus dan Paragymnopleurus.
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN PEPIJA Harpadon nehereus (Hamilton, 1822) DI PERAIRAN PULAU TARAKAN, KALIMANTAN UTARA Laga, Asbar; Affandi, Ridwan; Muchsin, Ismudi; Kamal, Muhammad Mukhlis
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan pepija merupakan ikan demersal dengan penyebaran di perairan estuaria dan laut dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji distribusi spasial dan temporal ikan pepija di perairan P. Tarakan. Penelitian dilakukan dari Februari 2013 sampai dengan Februari 2014. Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan pukat hela (trawl) dengan ukuran panjang sayap 7 meter dengan besar mata jaring pada sayap, badan dan kantong masing-masing berukuran 2,2 dan 1 inch. Pengoperasian jaring trawl pada masing-masing lokasi stasiun dilakukan “zig zag” dengan 2 kali masa penarikan pukat hela (towing) selama 30 menit. Ikan yang tertangkap ditimbang seluruhnya. Hasil tangkapan bervariasi saat waktu pengamatan dan antara satu stasiun dengan stasiun lainnya. Laju tangkap tertinggi pada bulan Desember dan Januari sebesar 75.56 dan 77.37 kg/jam dan terendah pada bulan April sebesar 7.41 kg/jam. Ikan pepija melakukan migrasi harian dari Tanjung Simaya (tanggal 7 kalender Hijriah), tanggal 8 di perairan Tanjung Selayu, tanggal 9 antara perairan Tanjung Selayu dan Tanjung Juata, dan tanggal 10 pada penanggalan Hijriah di perairan Tanjung Juata. Berdasarkan data tangkapan tersebut terungkap bahwa distribusi ikan pepija di perairan Pulau Tarakan berkaitan dengan pasang surut, ikan ini hanya ditemukan pada saat pasang perbani pada tanggal 7, 8, 9 dan 10 bulan Hijriah.
STRUKTUR KOMUNITAS MAMALIA DI CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Maharadatunkamsi, Maharadatunkamsi; Prakarsa, Tatag Bagus Putra; Kurnianingsih, Kurnianingsih
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.34 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah. Untuk menjamin kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia berbagai upaya telah ditempuh, antara lain dengan ditetapkannya berbagai kawasan konservasi. Salah satunya adalah Cagar Alam Leuweung Sancang yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk mengelola kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang diperlukan berbagai informasi, termasuk data akurat tentang komunitas mamalia di berbagai habitat di dalamnya. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk melengkapi kebutuhan akan data dasar sebaran mamalia di berbagai habitat dalam cagar alam ini. Kombinasi antara pengamatan langsung dan penangkapan di hutan primer Sancang Timur, hutan sekunder Cijeruk dan belukar Mas Sigit berhasil mencatat sebanyak 21 jenis mamalia. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk ketiga plot pengamatan adalah 2,02 (Mas Sigit), 2,66 (Sancang Timur) dan 3,04 (Cijeruk). Rata-rata indeks similaritas Jaccard adalah 32% menunjukkan tingkat similaritas yang rendah di antara ketiga plot pengamatan. Analisis kluster berdasarkan keberadaan jenis mamalia pada setiap plot pengamatan dan sebaran jenis mamalia menunjukkan konsistensi adanya
INVENTARISASI JENIS AMFIBI DAN REPTILIA DI KAWASAN HUTAN POHUWATO, GORONTALO, SULAWESI Subasli, Dadang Rahadian
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.667 KB)

Abstract

Inventarisasi herpetofauna telah dilakukan di hutan bekas tebangan di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sulawesi sebagai bagian dari restorasi program hutan. Sebanyak 23 jenis yang terdiri dari 7 jenis amfibi (4 famili) dan 16 jenis reptil (6 famili) telah dikoleksi dari seluruh lokasi survei. Jumlah jenis dan anak jenis tersebut termasuk 4 jenis yang merupakan endemik Sulawesi, yaitu: Limnonectes modestus, Hylarana celebensis, Ingerophrynus celebensis, Coelognathus erythrurus celebensis dan 2 jenis yang tercatat masuk ke dalam Apendiks II CITES, yaitu: Varanus salvator dan Malayopython reticulatus reticulatus. Jumlah jenis herpetofauna terbanyak berasal dari lokasi Doyong (17 jenis), disusul oleh Tulidu dan Panianggata (masing-masing 12 jenis) dan Dulamahe (10 jenis). Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) yang signifikan diantara lokasi pengamatan (Doyong, Tulidu, Panianggata dan Dulamahe) untuk amfibi, reptilia dan herpetofauna. Indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) amfibi pada lokasi Doyong (H’= 1,68, E= 0,67), Tulidu (H’= 1,43, E= 0,89), Panianggata (H’= 1,09, E= 0,59), dan Dulamahe (H’= 0,99, E= 0,80), tidak berbeda signifikan. Begitu juga untuk spesies reptilia, Indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) reptilia pada lokasi Doyong (H’= 1,90, E= 0,98), Tulidu (H’= 1,50, E= 1,00), Panianggata (H’= 1,10, E= 1,00), dan Dulamahe (H’= 1,33, E= 0,83), tidak berbeda signifikan. Hal yang sama juga untuk herpetofauna, Indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) herpetofauna pada lokasi Doyong (H’= 1,99, E= 0,70), Tulidu (H’= 1,78, E= 0,72), Panianggata (H’= 1,41, E= 0,58), dan Dulamahe (H’= 1,53, E= 0,68), tidak berbeda signifikan.
HABITAT DAN PERBEDAAN UKURAN TUBUH BURUNG KERAKBASI BESAR (Acrocephalus orientalis) PADA AWAL DAN AKHIR MASA MIGRASI DI INDONESIA Haryoko, Tri; Solihin, Dedy Duryadi; Prawiradilaga, Dewi Malia
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.427 KB)

Abstract

Acrocephalus  orientalis termasuk burung migran pengunjung  di Indonesia, yang berbiak di Asia Timur yaitu Siberia Selatan, Mongolia, Cina, Korea dan  Jepang. Penelitian dilakukan di Danau Tempe (Sulawesi Selatan) dan Tanjung Burung (Tangerang, Banten) pada bulan Oktober- Desember 2008 dan Mei-Juli 2009. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menggambarkan tipe  habitat yang digunakan Acrocephalus orientalis 2) menjelaskan perbedaan  ukuran tubuh pada awal dan akhir masa migrasi di Indonesia.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Danau Tempe dan Tanjung Burung merupakan wilayah di Indonesia yang menjadi  tempat singgah dan tujuan migrasi. Selama waktu penelitian sebanyak 256 ekor  burung Acrocephalus orientalis yang berkunjung pada kedua daerah tersebut berhasil ditangkap dan dilepaskan kembali. Jumlah burung yang tertangkap pada awal musim migrasi adalah 152 ekor dan pada akhir migrasi 104 ekor. Hasil Analysis of Variance (ANOVA) dengan SPSS 16.0 terhadap ukuran tubuh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P<0.05)  antara burung pada awal dan akhir masa migrasi terhadap berat badan, panjang tarsus, panjang ekor, panjang total dan rentang sayap
Zoo Indonesia Juli 2015 Indonesia, Zoo
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

POLA PERTUMBUHAN DAN FAKTOR KONDISI IKAN LUMO Labiobarbus ocellatus (Heckel, 1843) DI SUNGAI TULANG BAWANG, LAMPUNG Yudha, Indra G; Rahardjo, M. F.; Djokosetiyanto, D; Lumban Batu, Djamar T.F.
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan faktor kondisi relatif (Kn) ikan Labiobarbus ocellatus di Sungai Tulang Bawang, Lampung. Ikan contoh dikumpulkan setiap bulan menggunakan jaring insang dari April 2013 hingga Maret 2014. Spesimen terdiri dari 690 ikan jantan dan 651 ikan betina. Ikan lumo jantan dan betina memiliki pertumbuhan allometrik positif. Persamaan hubungan panjang bobot ikan lumo jantan adalah log W=-5,652+3,284 log L, sedangkan ikan lumo betina memiliki persamaan log W=-5,607+3,272 log L. Persamaan pertumbuhan von Bertalanffy untuk ikan lumo jantan adalah Lt=265,65*[1-e-0,14(t+0,67)] dan pada ikan lumo betina Lt=255,15*[1-e-0,23(t+0,405)]. Nilai ratarata Kn ikan lumo adalah 1,02±0,03 (jantan) dan 1,02±0,04 (betina) yang mengindikasikan bahwa ikan-ikan tersebut dalam kondisi yang baik.
KOMUNITAS BURUNG BAWAH TAJUK DI HUTAN PERBATASAN, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Muhammad Irham
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i1.737

Abstract

Penelitian komunitas burung bawah tajuk telah dilakukan di hutan perbatasan Indonesia-Malaysia, yaitu Tau Lumbis (Kabungolor dan Kabalob) dan Simenggaris. Satu lokasi lainnya tidak berada di perbatasan, yaitu Hutan Wisata KM.8 Malinau. Tujuannya adalah untuk mengetahui komunitas burung dari segi kekayaan jenis dan kelompok relung mencari makan (feeeding guild). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jaring kabut. Penelitian ini mendapatkan 44 spesies dari 13 famili dengan jumlah individu sebanyak 186 ekor. Keanekaragaman tertinggi dijumpai di Kabungolor (28 jenis, indeks Shannon-Wiener: 3,10) dan daerah yang paling sedikit jenis ada di Hutan Wisata KM.8 Malinau (11 jenis, indeks Shannon-Wiener: 2,16). Sedangkan untuk komunitas feeding guilds, Kabalob didominasi oleh insectivore frugivore dan flycatching insectivore; Kabungolor memiliki lebih banyak spesies untuk kelompok insectivore frugivore dan shrub-foliage gleaning insectivore; komposisi guilds untuk Simenggaris hampir sama namun cenderung pada flycatching insectivore, insectivore frugivore dan shrub-foliage gleaning insectivore. Komunitas burung di KM.8 Malinau cenderung melimpah untuk insectivore frugivore dan nectarivore. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman burung bawah tajuk cenderung menurun sejalan dengan tingkat kerusakan habitat. Selain itu perubahan kondisi mikrohabitat memberikan pengaruh kepada komposisi burung dimana feeding guilds cenderung berubah dari kelompok insectivore ke kelompok frugivore dan nectarivore.
HABITAT DAN PERBEDAAN UKURAN TUBUH BURUNG KERAKBASI BESAR (Acrocephalus orientalis) PADA AWAL DAN AKHIR MASA MIGRASI DI INDONESIA Tri Haryoko; Dedy Duryadi Solihin; Dewi Malia Prawiradilaga
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i1.422

Abstract

Acrocephalus  orientalis termasuk burung migran pengunjung  di Indonesia, yang berbiak di Asia Timur yaitu Siberia Selatan, Mongolia, Cina, Korea dan  Jepang. Penelitian dilakukan di Danau Tempe (Sulawesi Selatan) dan Tanjung Burung (Tangerang, Banten) pada bulan Oktober- Desember 2008 dan Mei-Juli 2009. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menggambarkan tipe  habitat yang digunakan Acrocephalus orientalis 2) menjelaskan perbedaan  ukuran tubuh pada awal dan akhir masa migrasi di Indonesia.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Danau Tempe dan Tanjung Burung merupakan wilayah di Indonesia yang menjadi  tempat singgah dan tujuan migrasi. Selama waktu penelitian sebanyak 256 ekor  burung Acrocephalus orientalis yang berkunjung pada kedua daerah tersebut berhasil ditangkap dan dilepaskan kembali. Jumlah burung yang tertangkap pada awal musim migrasi adalah 152 ekor dan pada akhir migrasi 104 ekor. Hasil Analysis of Variance (ANOVA) dengan SPSS 16.0 terhadap ukuran tubuh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P<0.05)  antara burung pada awal dan akhir masa migrasi terhadap berat badan, panjang tarsus, panjang ekor, panjang total dan rentang sayap

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue